Thomas Webber, Masuk Islam Ketika Islam Disebut Agama Teroris

Serangan 11 September 2001 menjadi titik awal perang AS melawan teror di bumi-bumi Muslim. Invasi AS ke Irak dan Afghanistan membuat dunia percaya bahwa Islam dan Muslim identik dengan kekerasan dan terorisme. Tapi kampanye-kampanye negatif tentang Islam dan Muslim yang demikian gencar justeru membuat banyak non-Muslim di Barat yang tertarik mempelajari Islam dan tak sedikit diantara mereka yang akhirnya memilih menjadi seorang Muslim. Mereka berani mengucap dua kalimat syahadat karena yakin Islam sebenarnya adalah agama yang paling sempurna dan mengajarkan perdamaian.

Thomas Webber seorang pemuda Inggris, adalah salah satu orang yang tidak percaya begitu saja dengan kampanye hitam terhadap Islam yang dilakukan dunia Barat. Terlahir dari keluarga Kristen, Webber dan saudara-saudara kandungnya; satu orang kakak lelaki dan dua adik perempuan kembar, diwajibkan ikut sekolah Minggu oleh ibunya.

Sejak kecil, Webber memang sudah dikenal cerdas. Apa yang diajarkan di sekolah Minggu membuat Webber kecil bertanya-tanya mengapa Tuhan yang ia kenal penuh cinta kasih dan memiliki kekuatan seperti keyakinan dalam Kristen, harus membunuh anaknya untuk menanggung beban dosa-dosa manusia. Webber berpikir ajaran itu tidak masuk akal. Waktu terus berjalan, Webber pun beranjak remaja. Pada masa ini, Webber tidak lagi terlalu memikirkan konsep ketuhanan. Bagi Webber, hari-hari besar keagamaan adalah hari libur dimana ia bisa santai atau saatnya bagi-bagi hadiah. Dia memandang orang-orang yang percaya pada agama adalah orang-orang yang cara berpikirnya lemah atau bodoh, karena mereka tidak bisa membuktikan ajaran agama mereka seperti pembuktian dalam ilmu pengetahuan yang ia pelajari di sekolah.

Di ulangtahunnya yang ke-13, terjadi perubahan dalam diri Webber. Ia merasa mulai peduli lagi pada agama. Tapi bukan dalam artian ia kembali menjadi penganut Kristen yang religius. Tapi hanya meyakini bahwa ada satu kekuatan atas segala sesuatu yang ia tidak mampu melakukannya.

Webber pun mulai mempelajari bermacam-macam agama, kecuali Islam. Agama-agama yang ia pelajari membuatnya berpikir bahwa semua agama itu bertujuan untuk membuat orang menjadi lebi bermoral. Webber merasa masih ada sesuatu yang kurang dari beragam agama yang sudah ia pelajari. Pencarian atas kebutuhan jiwanya yang belum terpenuhi itupun terus ia lanjutkan.

Menemukan Kebenaran Islam
Tahun 2001, terjadilah serangan 11 September ke gedung kembar World Trade Center di New York yang membuatnya hampir tak percaya menyaksikan tragedi itu. Namun ramainya pemberitaan tentang peristiwa kelabu itu sama sekali tidak terlalu mempengaruhi kehidupannya. Perhatiannya mulai terusik ketika laporan-laporan tentang serangan itu mulai menyebut-sebut tentang teroris Islam, tindakan balasan terhadap Muslim dan dilanjutkan dengan laporan-laporan tentang serangan ke Afghanistan lalu ke Irak. Webber mulai mempertanyakan semua itu dan tergerak untuk mencari kebenaran tentang Islam.

“Saya tidak begitu saja percaya bahwa orang-orang Islam bisa menjadi teroris yang hanya bisa membunuh dan menimbulkan kebencian. Bagi saya itu sangat aneh, sehingga saya mengabaikannya. Tapi mungkin ini adalah saat ketika saya untuk pertama kalinya benar-benar merasa ingin untuk belajar agama,” kata Webber.

Di tahun keenam masa kuliahnya, Webber berkenalan dengan seorang Muslim. Dari sahabat Muslimnya itulah Webber menemukan menemukan bukti yang jelas dan nyata bahwa orang-orang Muslim adalah seperti penganut-penganut agama lain pada umumnya, dan bukan orang-orang yang brengsek dan hanya bisa melakukan kekerasan.

Sejak itu, Webber mulai serius belajar Islam. Ia diam-diam menggali berbagai informasi tentang Islam dari internet. Ia melakukannya saat sedang seorang diri, karena Webber mengaku belum siap jika ada orang yang melihatnya atau berpikir Webber sedangn mempertimbangkan masuk agama tertentu, apalagi memilih agama Islam. Tapi Webber meyakini apa yang ia baca tentang Islam, meski ia sedikit mengalami kebingungan yang membuat perjalanannya menuju Islam agak tersendat.

Pada suatu saat di Musim Panas, Webber merasa bahwa ia sudah hampir mantap untuk memilih Islam, meski masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang berseliweran di kepalanya dan ia tidak punya tempat untuk bertanya. Untunglah sahabat Muslimnya menelponnya dan butuh berjam-jam buat Webber untuk mengatakan bahwa ia bantuan sahabatnya itu.

Akhirnya, Webber berani mengatakan bahwa ia masih bingung tentang agama. Saat itu Webber masih belum mau mengatakan bahwa ia ingin masuk Islam sampai ia benar-benar yakin bahwa ia harus menjadi seorang Muslim.

Kesempatan itu akhirnya datang juga. Di ulangtahunnya yang ke-20 Webber memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, beberapa hari sebelum ia berangkat ke London untuk menghadiri Konferensi ”Global Peace and Unity”.

”Malamnya, saya berusaha tidur tapi yang terdengar di telinga saya hanya suara adzan. Itulah saat-saat terindah yang pernah saya rasakan,” tukas Webber menceritakan betapa gelisahnya ia menunggu detik-detik bersejarah dalam hidupnya, mengucapkan dua kalimat syahadat.

Setelah menjadi seorang Muslim, Webber masih harus berjuang keras agar ia bisa diterima oleh keluarganya. Perjuangannya tak sia-sia, karena keluarga sekarang sudah menerimanya menjadi seorang Muslim. Tapi perjalanan Webber sebagai mualaf masih panjang.

”Sekarang saya masih belajar hadist dan alQuran dan hal-hal lainnya tentang Islam,” tandas Webber. (ln/iol)

Sumber: indonesiaindonesia.com

Polwan AS: Allah Telah Mengirim Islam ke Rumah Saya

Linda (Widad) Delgado, terlahir sebagai seorang Kristiani dan sejak usia 9 tahun sudah rajin membaca Alkitab. Namun itu tidak menjadikannya percaya begitu saja pada agama Kristen yang dianutnya, oleh sebab itu sampai usia 52 tahun, Linda terus terus melakukan pencarian untuk menemukan kebenaran sejati tentang Tuhan.

Selama puluhan tahun, Linda yang tidak pernah menjadi anggota jamaah salah satu gereja, mempelajari ajaran agama Katolik, Protestan, Mormon, Yehovah sampai agama Yahudi. Namun Linda masih belum bisa menerima ajaran-ajaran agama tersebut.

“Hati saya berkata bahwa Yesus bukan Tuhan tapi hanya seorang nabi. Hati kecil saya berkata, Adam dan Hawa bertanggung jawab atas dosa-dosa mereka sendiri, dan bukan saya. Hati kecil saya berkata, saya selayaknya berdoa pada Tuhan dan bukan pada yang lain. Akal saya mengatakan juga bahwa saya harus bertanggung jawab atas perbuatan baik dan perbuatan buruk yang saya lakukan,” tutur Linda.

Linda yang bekerja sebagai polisi di Arizona, AS mengaku selama itu pula ia tidak pernah berkomunikasi dengan Muslim. Ia, seperti kebanyakan orang Barat, terlalu banyak membaca pemberitaan di media massa tentang agama Islam, yang disebut-sebut sebagai agama yang dianut para teroris fanatik.

“Itulah sebabnya, saya tidak pernah mencoba mencari buku-buku atau informasi tentang Islam. Saya tidak tahu apapun tentang agama ini,” kata Linda.

Awal Perjalanan
Pada usia 52 tahun, Linda dan suaminya yang juga polisi, pensiun dari dinas kepolisian tepatnya pada tahun 2000. Saat itulah ia bertemu seorang penerbang yang minta tolong mencarikan rumah bagi sejumlah polisi asal Arab Saudi yang sedang berada di AS dalam rangka belajar bahasa Inggris dan tugas belajar di akademi kepolisian di Arizona. Para polisi Arab Saudi itu berharap bisa tinggal dengan keluarga Amerika agar mereka bisa mempraktekkan bahasa Inggris dan belajar tentang budaya masyarakat Amerika.

Saat itu, Linda dan suaminya tinggal tidak jauh dengan puteranya yang menjadi orang tua tunggal untuk seorang puterinya. Setelah berdiskusi dengan suaminya, Linda menyatakan bersedia membantu para polisi Arab Saudi itu. Saat itu ia berpikir, ini akan menjadi kesempatan untuk cucu perempuannya belajar tentang orang-orang dari negara lain. Tapi Linda mengaku agak khawatir saat diberitahu bahwa polisi-polisi Saudi itu beragama Islam.

Kemudian seorang penerjemah dari Universitas Arizona mengenalkan anak muda dan tidak bisa berbahasa Inggris. Namanya Abdul. Dialah polisi Saudi yang akan tinggal bersama keluarga Linda. Keluarga Linda cepat akrab dan menyukai Abdul karena perilaku Abdul yang santun.

“Abdul mengatakan, bahwa saya adalah non-Muslim pertama yang pernah diajarkannya tentang Islam,” ujar Linda.

Setelah Abdul, kemudian datang Fahd. Usia Fahd lebih muda dan sangat pemalu. Selain menjadi tutor, Linda, Abdul dan Fahd berdiskusi tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan sebagai polisi, tentang AS, tentang Arab Saudi dan tentang Islam. Linda mengamati bagaimana Abdul dan Fahd serta 16 anggota polisi Saudi lainnya yang sedang belajar di AS itu saling membantu satu sama lain. Dan Linda mengaku kagum pada Fahd dan Abdul yang sama sekali tidak terpengaruh dengan budaya Amerika meski mereka sudah satu tahun tinggal di AS.

“Mereka pergi ke masjid setiap hari Jumat, mereka tetap salat meski mereka sangat lelah dan mereka selalu hati-hati dengan apa yang mereka makan. Mereka menunjukkan pada saya bagaimana memasak beberapa masakan tradisional Arab Saudi, mengajak saya ke restoran dan pasar warga Arab. Mereka juga sangat baik pada cucu saya, memberikannya banyak hadiah, lelucon dan persahatan,” ungkap Linda.

Suatu hari, Linda menanyakan pada mereka apakah punya al-Quran lebih, karena Linda ingin membaca apa sebenarnya isi al-Quran. Fahd dan Abdul lalu menghubungi kedutaan besar Saudi di Washington DC dan minta dikirimkan al-Quran dengan terjemahan bahasa Inggris agar bisa dibaca Linda. Setelah itu, Linda sering bertanya tentang Islam pada dua polisi muda Saudi itu.

Dalam satu kesempatan, salah seorang polisi Saudi meminta istrinya datang dan tinggal di AS. Linda diundang ke rumah mereka dan disana Linda banyak bertanya pada istri polisi tadi tentang busana muslim, wudhu dan banyak hal tentang Islam.

Seminggu sebelum “anak-anak angkat” Linda kembali ke Arab Saudi, ia mengadakan makan malam bersama seluruh keluarga. Linda sengaja membeli jilbab dan baju abaya untuk dikenakan saat malam itu. Linda ingin “anak-anak angkat”nya mengingatnya sebagai saudara perempuan yang mengenakan busana muslimah yang baik.

Sebelum mereka makan malam itu, Linda memutuskan untuk mengucapkan syahadat. Kedua polisi muda itu sangat terharu. Mereka menangis sekaligus tersenyum bahagia melihat Linda menjadi seorang Muslimah.

“Dalam hati saya percaya bahwa Allah telah mengirim kedua anak itu pada saya untuk menjawab doa-doa saya selama puluhan tahun. Saya percaya Dia telah memilih saya untuk melihat kebenaran dan cahaya Islam. Saya percaya Allah telah mengirimkan Islam ke rumah saya. Saya bersyukur Allah telah melimpahkan kasih sayang dan cintaNya pada saya,” tutur Linda tentang keislamannya.

Menjadi Seorang Muslimah
Setelah “anak-anak angkat”nya kembali ke Saudi, Linda secara resmi mendaftarkan dirinya sebagai seorang Muslim dan bergabung dengan sebuah masjid lokal. Linda mengakui, keluarga besarnya masih terkaget-kaget dengan keputusannya memeluk Islam. Mereka berpikir Linda tidak akan lama menjadi seorang Muslim dan dengan cepat akan segera berpindah ke agama lain seperti yang ia lakukan saat masa mudanya dulu.

Beruntung suami Linda orang yang sangat terbuka. Ketika Linda mengatakan bahwa mulai sekarang mereka harus makan makanan halal dan meninggalkan makanan yang diharamkan Islam, suaminya hanya menjawab “okay”. Linda juga mulai menyingkirkan foto-foto manusia dan gambar binatang yang dipajang di rumahnya. Linda tidak lupa menulis surat pada teman-teman dan keluarganya yang non-Muslim, mengabarkan bahwa sekarang ia menjadi seorang Muslim dan itu tidak akan mengubah hubungan mereka.

Sambil terus menjelaskan tentang rukun Islam pada keluarganya, Linda juga belajar salat dan membaca al-Quran, aktif dalam kegiatan Muslimah dan banyak menambah wawasan tentang Islam lewat internet. Lewat internet pula Linda bertemu dengan seorang Muslimah asal Kuwait yang mengiriminya paket berisi jilbab, kaos kaki dan abaya. Sahabatnya itu mengucapkan selamat atas keputusannya menjadi seorang Muslim.

Linda bukannya tidak menghadapi kesulitan beradaptasi dengan sesama Muslimah yang ia jumpai. Dari beberapa masjid yang ia kunjungi, Linda memahami bahwa kelompok-kelompok Muslim di sebuah masjid berkumpul biasanya karena persamaan budaya dan bahasa. Linda pernah merasa menjadi “orang asing” di tengah Muslim yang tidak terlalu mempedulikan kehadirannya. Namun Linda lebih banyak menemukan Muslim yang terbuka, hangat dan siap membantunya untuk belajar Islam.

Sampai sekarang, Linda masih terus belajar dan belajar. Ia kini mengelola situsnya www.widad-lld.com dan menjadi direktur untuk Islamic Writers Alliance. (ln/iol)

Sumber: Eramuslim

ALLOH MAHA DEKAT

((اللهُ الْقَرِيْب))

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat”.

(QS. al-Baqoroh: 186

Arti  al-Qorib

Al-Qorib artinya yang tidak jauh. Itu artinya Alloh dekat.

Khatabi mengatakan, “al-Qorib artinya Dia itu dekat dengan hamba-hamba-Nya melalui ilmu-Nya, dekat untuk mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Nya”. (Sya’nu ad-Du’a:102)

Demikianlah penjelasan Khatabi begitu pula az-Zuzazi tentang konsekuensi logi dari kedekatan Alloh  terhadap makhluk-Nya.

Adapun makna dari kedekatan Alloh  terhadap hamba-Nya ini menjadi dua pengertian yaitu:

Pertama, dekat yang bersifat umum. Yaitu mencakup ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu. Bahkan Dia lebih dekat kepada manusia daripada urat leher mereka sendiri. Kedekatan jenis ini disebut juga ma’iyah ‘amah.

Alloh  berfirman:

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Alloh Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. al Hadid: 4)

Alloh  bersemayam di atas ‘Arsy maksudnya ialah satu sifat Alloh  yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Alloh  dan kesucian-Nya. Hal inipun menangkal kedustaan sebagian manusia yang menyatakan bahwa Dzat Alloh  berada dimana-mana. Namun demikian ilmu Alloh  selalu bersama seorang hamba.

Ayat ini menunjukkan bahwa Alloh  bersama makhluk-Nya secara umum termasuk kebersamaan dengan orang beriman dan orang kafir, orang yang berbuat baik dan berbuat jahat.
Inilah maksud kedekatan Alloh  yang bersifat umum dimana ilmu Alloh  meliputi seluruh makhluk-Nya baik muslim maupun kafir. Hingga tidaklah suatu perbuatan pun yang dilakukan seorang hamba melainkan Alloh  mengetahuinya.

Kedua, dekat yang bersifat khusus. Yaitu kedekatan dengan mereka yang senantiasa berdoa, beribadah dan mencintai-Nya. Kedekatan ini akan melahirkan cinta, pertolongan dan bantuan dalam semua aktivitas. Pengabulan permohonan bagi orang yang berdoa serta diterima dan diberikannya pahala kepada mereka yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya. Alloh  berfirman, yang artinya:

“Dan  apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”.

Dan firman-Nya:

“Sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar”. (QS. al Anfal: 46)

“Sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS. an Nahl: 128).

Inilah ayat-ayat yang menunjukkan kebersamaan Alloh  secara khusus. Dimana kedekatan yang bersifat khusus ini hanya berkaitan dengan orang-orang yang bertakwa. Mereka adalah orang-orang yang selalu berusaha mendekatkan diri kepada-Nya dengan menjalankan berbagai amal ibadah termasuk berbuat baik dan sabar dalam menerima ujian.

Telah shohih diriwayatkan ketika Rosululloh  bersama Abu Bakar  dikejar kaum musyrikin Quraisy lalu berlindung didalam goa kemudian Rosululloh  berkata pada Abu Bakar :

“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Alloh bersama kita”. (QS. at Taubah: 40).

Apabila makna dekat secara keseluruhan, baik yang bersifat umum maupun khusus telah dipahami niscaya tidak ada lagi kerancuan dan pertanyaan, seperti: “Dimanakah Alloh, bagaimana Alloh bersama hamba-Nya sedang Alloh  bersemayam di ‘Arsy-Nya?” semua ini telah jelas adanya.

Maha Suci Alloh Yang Maha Tinggi pada kedekatan-Nya dan Maha Dekat pada ketinggian-Nya.

WAllohu A’lam

Sumber: Al-Asma al Husna dan Syarah Asma’ul Husna karya Dr. Umar  Sulaiman al-Asyqar

Tidak Mencela Makanan Bahkan Disunnahkan Memujinya

Semua yang kita makan dan minum merupakan rizki yang datang dari Alloh , maka tidak boleh bagi kita untuk menghina ataupun mencerca sedikit pun dari apa yang telah diberikan Alloh . Rosululloh  mengajarkan kepada kita suatu adab yang mulia, yaitu ketika tidak menyukai makanan yang dihidang-kan, sebagaimana dalam hadits:

Dari Abu Hurairoh , ia berkata:

مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ, إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ.

“Rosululloh  tidak pernah mencerca makanan sama sekali. Bila Beliau mengingin-kan sesuatu Beliau memakannya dan bila tidak suka Beliau meninggalkannya”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Mencela makanan adalah, ketika seseorang menikmati hidangan yang disaji-kan lalu ia mengomentari makanan tersebut dengan mengucapkan terlalu asin, kurang asin, lembek, terlalu keras, tidak matang dan lain sebagainya.

Makanan adalah ciptaan Allah   sehingga tidak boleh dicela. Di samping itu, mencela makanan menyebabkan orang yang membuat dan menyajikannya men-jadi tersinggung (sakit hati). Ia sudah berusaha menyiapkan hidangan dengan se-baik mungkin, namun ternyata hanya mendapatkan celaan. Oleh karena itu syariat melarang mencela makanan agar tidak menimbulkan kesedihan dalam hati seorang muslim.

Syekh Muhammad Sholeh al-Utsaimin mengatakan, “Tha’am (yang sering di-artikan dengan makanan) adalah segala sesuatu yang dinikmati rasanya, baik be-rupa makanan ataupun minuman. Sepantasnya jika kita diberi suguhan berupa makanan, hendaknya kita menyadari betapa besar nikmat yang telah Alloh  be-rikan dengan mempermudah kita untuk mendapatkannya, bersyukur kepada Alloh  karena mendapatkan nikmat tersebut dan tidak mencelanya”.

Hadits dari Abu Hurairoh di atas memuat beberapa kandungan pelajaran, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Setiap makanan yang mubah itu tidak pernah Nabi  cela. Sedangkan makanan yang haram tentu Nabi  mencela dan melarang untuk menyantapnya.

2. Menunjukkan betapa luhurnya akhlak Nabi Muhammad . Beliau adalah seorang yang memperhatikan perasaan orang yang memasak makanan. Oleh karena itu, Nabi  tidaklah mencela pekerjaan yang sudah mereka lakukan, tidak menya-kiti perasaan dan tidak melakukan hal-hal yang menyedihkan mereka.

3. Menunjukkan sopan santun. Boleh jadi suatu makanan tidak disukai oleh seseorang akan tetapi disukai oleh orang lain. Segala sesuatu yang diizinkan oleh syariat tidaklah mengandung cacat. Oleh karena itu tidak boleh dicela.

4. Merupakan pelajaran yang diberikan Nabi  dalam menyikapi makanan yang tidak disukai, yaitu dengan meninggalkan tanpa mencelanya.

5. Mencela makanan tidak diperbolehkan, bahkan kita dianjurkan untuk memuji makanan.

Memuji Makanan.

Dari Jabir , suatu ketika Nabi  meminta lauk kepada salah seorang istrinya, lalu sang istri mengatakan, “Kami tidaklah punya lauk kecuali cuka”. Nabi  lantas minta diambilkan cuka tersebut. Nabi mengatakan sambil memulai menyantap dengan lauk cuka, “Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka”. (HR. Muslim)

Syekh Muhammad al-Utsaimin mengatakan, “Khol (cuka) adalah sejenis cairan. Jika kurma dimasukkan ke dalamnya, cairan tersebut akan terasa manis sehingga bisa diminum. Perkataan Nabi dalam hadits di atas merupakan sanjungan terhadap makanan, meskipun sebenarnya cuka adalah minuman. Akan tetapi mi-numan boleh disebut tha’am (makanan)”.

Minuman disebut Tha’am karena dia mengandung rasa yang dalam bahasa Arab disebut tha’mun. Hadits di atas menunjukkan bahwa di antara petunjuk Nabi  jika kita menyukai suatu makanan, hendaklah kita memujinya. Misalnya memuji roti dengan mengatakan, “Roti yang paling enak adalah buatan Fulan”. Atau ucapan-ucapan pujian semacam itu. Karena hal ini adalah di antara sunnah Rosululloh .

Di antara pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits di atas adalah:

1. Terpujinya sikap sederhana berkenaan dengan makan karena sikap tersebut adalah di antara kunci agar bisa hidup menyenangkan.

2. Hendaknya keinginan untuk memakan segala sesuatu yang disukai itu dikontrol. Karena tidak semua yang disukai oleh seseorang harus dibeli dan di makan.

3. Anjuran untuk memuji cuka boleh jadi karena cukanya, atau untuk menyenangkan orang yang memberikannya. Wallohu’alam bisshowab.

(Sumber: Syarah Riyadhus Sholihin, dan Lain-Lain)

“Sudah haji, kok masih…”

Pertanyaan besar, mengapa jumlah haji di suatu desa misalnya, tidak seiring dengan perubahan sosial desa tersebut? Baik dibidang pendidikan, pengentasan kemiskinan, dsb. Mengapa jumlah haji di Indonesia yang meningkat setiap tahun tidak berbanding lurus dengan terselesaikannya masalah kebangsaan: korupsi, kemiskinan, rendahnya pendidikan, jeleknya mutu kesehatan dan ancaman disintegrasi bangsa. Apakah fenomena ini berarti bahwa para haji tidak mencapai Mabrur?

Ritual haji merupakan jalan reflektif bagi manusia untuk mencapai kejatidiriannya. Manusia dengan kesadaran penuh sebagai manusia, bukan manusia yang sudah terasing dari kemanusiaannya sehingga bertingkah tidak selayaknya manusia: menghisap, menindas dan memeras sesamanya.

Mungkin karena diantara mereka  yang naik haji tidak mendasarkan niatnya secara tepat. Ada saja sementara orang yang naik haji, hanya karena mengikuti apa yang dilakukan oleh teman, tetangga, atau orang pada umumnya atau hanya sekedar seremoni belaka dengan segala kelebihannya.

Sehingga banyak yang sudah haji, kok masih korupsi? Sudah haji, kok, pakaiannya masih seronok? Sudah haji, kok, perilaku negatifnya tidak berubah? Bahkan banyak orang yang naik haji, tetapi sholatnya belum komplit, apalagi sempurna. Dan sederet pertanyaan membumbung setiap kali musim haji tiba.

Prosesi haji itu seakan tidak membekas begitu sampai di Tanah Air. Mengapa semua itu terjadi? Sudah banyak buku yang mengupas dan membahas tentang haji.

Setiap tahun, sedikitnya Indonesia mengirim 220.000 jamaah. Jamaah terbesar di dunia yang pergi ke Tanah Suci, Mekkah. Tapi, begitu sampai ke kampung halaman, pertanyaan “sudah haji, kok …” terus saja terulang.

Berawal dari pijakan yang salah sampai kesalahan lainnya ibadah haji jadi tidak berkah dan benar sebagai contoh operasional haji dari hasil bunga bank. Biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) yang dikelola oleh Departemen Agama se`bagian besar dikelola Bank-Bank konvensional, dana yang diterima oleh Depag jumlahnya mencapai triliunan rupiah, kalau setiap jamaah menyetorkan uang muka 20 juta rupiah sebagai pembayaran tahap awal, kalau kuota Haji Indonesia terdapat 210.000 jamaah maka akan terhimpun dana 4,1 triliun yang mengendap di Bank, padahal saat ini kuota untuk jamaah haji Indonesia hingga tahun 2010 sudah penuh, maka akan ada puluhan triliun dana haji yang telah mengendap di Bank tempat jamaah menyetorkan BPIH yang sebagian besar masih menggunakan Bank konvensional.

Lebih ironisnya lagi bunga Bank dari setoran biaya perjalanan haji diambil oleh Departemen Agama digunakan oleh panitia pelaksana ibadah haji (PPIH) sebagai operasional penyelenggaraan haji, mulai dari operasional petugas, hingga penyediaan fasilitas operasional haji yang jumlahnya mencapai puluhan miiyar, secara syariah tentunya uang yang diperoleh dari bunga Bank Konvensional tersebut adalah riba dan haram hukumnya.

Uang riba yang dikelola oleh Depag tentunya akan mempengaruhi keberkahan pelaksanaan ibadah haji tentunya dan berpengaruh terhadap kebersihan uang yang dikelola dari tabungan Bank jamaah. Padahal Bank Syariah yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mengelola dana setoran haji yang diperoleh jamaah haji sangat jelas dari segi hukum syariah. Di samping itu dengan menggunakan Bank Syariah dana setoran haji jamaah dapat terjaga dari segi pemanfaatannya dan membantu perekonomian umat, sementara Bank Konvensional belum tentu dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat Islam.

BPIH jamaah haji sudah seharusnya dikelola oleh Bank Syariah yang jelas-jelas bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umat Islam. Mengambil bunga BPIH dari bank konvensional merupakan riba yang sangat mengganggu keberkahan pelayanan haji. Karena bunga Bank secara hukum Islam adalah haram, dan mengelola ibadah dengan uang haram adalah masalah besar yang harus dituntaskan dalam mencapai haji yang mabrur dan berkualitas.

Imamah

Imamah merupakan aturan Ilahi, yang didalamnya Allah  mengarah-kan kita secara praktis kepada tujuan-tujuan yang tinggi, berupa ketaatan dan kepatuhan kepada pemimpin di medan jihad, aturan dan disiplin kerja secara militer dan gerakan pe-rang, disamping gambaran kesamaan hak. Karena disini orang yang kecil berdiri bersama orang yang besar, orang miskin bersama orang yang kaya, orang terpandang dan orang jelata dan lain sebagainya. Inilah tujuan yang paling utama dari ibadah kepada Allah  dan tunduk dihadapan-Nya.

“Dari Abu Hurairah  bahwa Nabi  bersabda, “Tidakkah orang yang  mengangkat kepalanya sebelum imam, merasa takut sekiranya Allah mengubah kepalanya menjadi kepala keledai atau Allah menjadikan rupa-nya sebagai keledai?” (HR. Bukhari)

Imam dijadikan dalam shalat agar ia diikuti dan dimakmumi, sehingga setiap perubahan gerak makmum harus dilakukan setelah perubahan gerak imam. Dengan cara ini ke-ikutsertaan itu barulah teralisir. Jika makmum mendahului imam, maka tujuan yang diharapkan dari imamah menjadi sirna. Karena itulah disam-paikan ancaman keras bagi orang yang mengangkat kepalanya lebih dulu dari imam, bahwa Allah  akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai atau merubah rupa-nya menjadi rupa keledai.

Para ulama telah sepakat dalam pengharaman tindakan makmum yang mendahului imam, yang didasar-kan kepada ancaman yang keras ini. Tetapi mereka berbeda pendapat tentang gugurnya shalat tersebut.

Jumhur ulama berpendapat, shalat tersebut tidak gugur. Sementara Imam Ahmad  berkata dalam risalahnya, “Tidak ada shalat bagi orang yang mendahului imam”. Begitupun ulama-ulama yang mengikutinya menyatakan, “siapa yang mendahului imam pada suatu rukun shalat seperti ruku atau sujud maka dia harus mengulang shalatnya lagi setelah imam melaku-kan salam. Jika dia sengaja tidak melakukannya, maka shalatnya gugur.

Yang benar seperti yang disebut-kan Imam Ahmad  di dalam risalah-nya bahwa makmum yang sengaja mendahului imam, shalatnya gugur. Ini merupakan pilihan Ibnu Taimiyah  karena ancaman tersebut meng-haruskan adanya larangan dan larang-an tersebut mengahruskan adanya kerusakan.

“Sesungguhnya imam itu dijadi-kan untuk diikuti, maka janganlah kalian menyalahinya. Jika ia bertak-bir , bertakbirlah kalian. Jika ia ruku, ruku-lah kalian.jika ia mengucapkan Sami’allahu liman hamidahu, ucapkan-lah ‘Rabbana walakal hamdu. Jika ia sujud, sujudlah kalian. Jika ia shalat sambil duduk, shalatlah kalian sambil duduk semuanya”. (HR. Bukhari)

Didalam hadits ini Rasulullah  mengarahkan para makmum kepada hikmah dijadikannya imam, yaitu agar ia diikuti yang tidak boleh di-salahi dalam satu perkara pun dari amal-amal shalat. Setiap perubahan geraknya harus diperhatikan secara mendetail.

Dari Aisyah , dia berkata, “-sulullah didalam rumahnya, yang ketika itu beliau dalam keadaan sakit. Beliau shalat sambil duduk. Ada beberapa orang ikut shalat di bela-kang Beliau sambil berdiri, maka beliau memberi isyarat kepada mereka, ‘duduklah kailan’. Setelah selesai, Beliau bersabda, “Sesungguhnya imam itu  dijadikan hanya untuk diikuti. Jika dia ruku, ruku-lah kalian. Jika dia mengangkat kepala, angkatlah kepala kalian. Jika dia mengucapkan Sami’-allahu liman hamidahu, ucapkanlah ‘Rabbana walakal hamdu. Jika dia shalat sambil duduk, shalatlah kaila nsemua sambil duduk”. (HR. Bukhari)

Aisyah  menuturkan bahwa ketika Rasulullah  sedang sakit beliau shlat sambil duduk,. Sementara para sahabat mengira karena mereka sang-gup berdiri, mereka pun shalat sambil berdiri di belakang Beliau lalu Beliau mengisyaratkan kepada mereka agar duduk.

Syariat Ilahi ini untuk mengembali-kan kita kepada ketaatan dan kepa-tuhan, mengikuti dan menjaga persa-tuan, disamping beribadah kepada . Betapa agung Islam ini, betapa tinggi syariatnya dan betapa agung tujuan-tujuannya. Semoga Allah  melimpahkan taufiq keapda orang-orang Muslim sehingga mereka komit-men terhadap agamanya, agar persa-tuan mereka tetap terjaga, barisan mereka menjadi tangguh dan kalimat mereka menjadi tinggi. Kebaikan hanya ada pada persatuan dan saling pengertian, sedangkan keburukan hanya ada pada perselisihan, perten-tangan dan kesombongan.

Allah  berfirman:

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berban-tah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. al-Anfal: 46)

Wallahu ‘alam

RUU Nikah Siri, Intervensi Terhadap Agama

Beberapa waktu lalu bahkan sampai saat ini media layar kaca dan media nasional lainnya sangat marak dengan pemberitaan atau diskusi dan adu pendapat yang membahas tentang undang-undang Peradilan Agama bidang perkawinan yang di dalamnya mengatur nikah siri.

Bermacam-macam opini dan pendapat masayarakat umum dalam menanggapi munculnya RUU tersebut, baik pihak yang mendukung atau pun yang menolak.

Walaupun RUU tersebut belum di sosialisasikan namun sketsa isi UU tersebut sudah mulai diberitahukan kepada publik, dimana terdapat butir-butir RUU tersebut yang akan mempidanakan para pelaku nikah siri.

Sebelum kita mengupas lebih jauh, harus kita ketahui, bahwa nikah adalah akad untuk membangun rumah tangga, serta dengannya pula seorang menunjukkan pengabdian dalam beribadah kepada Allah , dengan menikah seorang berakad untuk menegakkan syari’at, berakad untuk meninggalkan maksiat, saling mencintai karena Allah , saling menghormati dan menghargai, saling menguatkan keimanan, serta saling membantu dan meringankan beban dan masih banyak lagi tujuan mulia lainnya.

Pada umumnya orang selalu mengkambing hitamkan (baca: menyamakan) nikah siri ini dengan nikah-nikah yang diharamkan di dalam Islam contohnya nikah mut’ah (kawin kontrak) bahkan sebagian masyarakat pada umumnya berpikir jika nikah siri hanya menjadi objek pelampiasan dan penghalalan nafsu belaka.

Sebagaimana nikah pada umumnya nikah siri adalah nikah yang sah dan sama derajatnya dengan nikah pada umumnya,  dimana syarat dan rukun nikahnya harus dipenuhi oleh para pelakunya. Jika salah satu syarat dan rukunnya tidak terpenuhi, maka tidak sah pernikahannya. Bahkan jika mereka memiliki keturunan (baca: anak) maka mereka pun mewarisi harta orangtuanya sebagaimana nikah pada umumnya menurut hukum Islam. Dan harus diketahui pula bahwa didalam Islam tidak dikenal dan tidak ada ‘nikah siri’ (pent). Hanya saja yang jadi masalah adalah pernikahan ini tidak tercatat di catatan pengadilan pemerintah sehingga tidak memiliki akta perkawinan, dimana sebenarnya akta tersebut bukan yang menentukan sah atau tidaknya pernikahan melainkan bukti terjadinya pernikahan. Akhirnya banyak orang menyebut dengan istilah nikah siri (diam-diam).

Karena negara Indonesia tidak berdasarkan hukum Islam, jika suatu saat ada permasalahan yang berhubungan dengan hukum, maka akan berujung di mahkamah hukum negara, dimana para pelaku nikah yang tidak tercatat di catatan pengadilan pemerintah tidak akan mendapat hak sebagaimana warga negara pada umumnya, baik hak waris bagi anak atau hak lainnya dalam keluarga. Padahal hak waris adalah aturan agama dimana Islam telah mengatur hak waris ini dengan jelas dan adil.

Inilah sebenarnya yang menjadi pemicu percikan api masalah yang yang semakin lama semakin besar bagaikan bola salju yang terus bergulir. Para pengusul RUU nikah siri berpendapat bahwa nikah siri hanya akan merugikan wanita dan anak-anak saja dimana mereka (anak dan istri) tidak mendapatkan hak pernikahan dan hanya akan menjadi korban.

Jika kita lihat dari sisi ini demikianlah adanya dan kamipun setuju jika penelantaran hak terhadap anak dan Istri adalah pelanggaran dan termasuk melanggar syari’at yang wajib dikenakan sanksi. Namun penilaian ini tidak adil, karena sesungguhnya pemerintah sendirilah yang telah mempersulit perizinan pernikahan tersebut dengan alasan yang berbelit-belit karena biasanya pelaku nikah siri adalah orang-orang yang berpoligami. Ketika seseorang akan berpoligami biasanya ada syarat perizinan tertentu yang sangat menyulitkan pelaku, sehingga akhirnya banyak orang yang mengambil jalan nikah siri ini sebagai salah satu cara termudah dalam mengambil keputusan. Selain itu hal ini pun sah menurut agama.

Nikah siri seharusnya tidak menjadi persoalan besar yang karenanya terjadi banyak korban, jika saja pemerintah mau mempermudah persyaratan pernikahan dengan memberikan akta perkawinan. Dengan memudahkan syarat pernikahan ini, justru akan menekan tindak kriminalitas dalam pernikahan, dan maraknya oknum yang memanfaatkan keadaan ini, seperti komersialisasi pernikahan yang cenderung hanya untuk penghalalan pemuasan nafsu sesaat, dimana banyak sekali ditemui dengan alasan ini (tidak ada akta nikah) akhirnya mereka melakukan nikah mut’ah (kawin kontrak) untuk bersenang-senang dengan alasan nikah siri. Dengan membayar penghulu bayaran dan saksi secara diam-diam. Mereka menikah hanya untuk mereguk kenikmatan sesaat. Karena tidak adanya akta nikah maka ia pun terlepas dari tanggung jawab. Jika demikian hal nya bukankah akan menyuburkan perzinahan?

Sedangkan di mata masyarakat umum, menganggap hal inilah yang disebut nikah siri padahal pada kenyataanya sangat jauh berbeda antara maksud, tujuan dan caranya, sehingga tak ada yang dirugikan.

Tindakan hukum pidana terhadap pelaku nikah siri sangat tidak relevan dan tidak adil, ketika perzinaan,
free sex, dan kumpul kebo justru mendapat kebebasan seluas-luasnya tanpa terkena sanksi hukum apapun dengan alas an bagian dari hak asasi manusia karena suka sama suka, tapi justru pelaku nikah yang sah malah dipidanakan.

Pengamat agama Islam dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Homaidi Hamid mengatakan, “Jika orang menikah siri dipidana seharusnya orang berzinah juga dihukum. Sungguh disayangkan jika orang yang menikah sah secara agama dikenai sanksi tetapi orang berzinah tidak dihukum,” Sehingga sangat tepat sekali apa yang dikatakan oleh Ketua PBNU Hasyim Muzadi, “Sanksi pidana itu justru gampang dihindari, misalnya orang nikah siri supaya enggak kena pidana, bilang aja kumpul kebo karena kumpul kebo, kan, enggak bakal diapa-apain,” katanya.

Sumber: dari berbagai sumber

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.