Tahun I Edisi 01


Tanda-Tanda

Kebangkitan Ummat

Isu tentang kebangkitan umat Islam bukan hanya prediksi para pengamat politik. Bukan hanya harapan para aktifis Islam. Tetapi ia suatu kepastian yang telah ditegaskan oleh Allah swt sendiri.

Kabar gembira akan kebangkitan Islam

Allah swt berfirman:

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (alQur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya”. (QS. At-Taubah: 33).

A

yat tersebut merupakan berita gembira yang meyakinkan bahwa masa depan dunia adalah milik Islam. Islam akan memimpin dan mengungguli agama-agama serta ideologi lain. Sebagian orang menyangka bahwa hal itu telah terwujud pada zaman Nabi saw dan para khalifah sesudahnya. Sangkaan tersebut tidak benar, karena apa yang terwujud pada zaman yang lampau itu hanyalah satu bagian dari janji Allah yang haq tersebut. Hal itu sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya:

“Tidaklah akan berlalu malam dan siang hingga Latta dan ‘Uzza disem-bah orang.” Maka ‘Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah saw<!–[endif]–>, sesungguhnya aku menyangka bahwa ketika Allah menurunkan firman-Nya: ‘ Dialah yang mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak me-nyukainya”.‘ bahwa hal itu telah terwujud.”Beliau bersabda, “Sesung-guhnya akan terjadi dari hal itu (yakni apa yang dijanjikan Allah) sesuatu yang Dia kehendaki.” (HR. Muslim).

Isyarat Nabi saw akan kebangkitan Umat Islam

 

Di samping kabar gembira yang sangat menyakinkan dari Allah swt, Nabi saw juga telah mengisyaratkan dalam hadits-haditsnya yang shahih perihal kebangkitan umat Islam di akhir zaman. Berikut ini kami kutipkan beberapa dari hadits-hadits ter-sebut:[1]

1. Hadits pertama:

Sesungguhnya Allah telah mengumpulkan untukku bumi ini, sehingga aku melihat bagian timur dan baratnya. Dan sesungguhnya kerajaan umatku akan mencapai apa yang dikumpulkan oleh Allah bagiku dari bu-mi itu.” (HR. Muslim. Abu Daud dan Tirmidzi).

2. Hadits kedua:

“Sungguh urusan ini (Islam) akan mencapai apa yang dicapai oleh siang dan malam (yakni akan mencapai semua permukaan bumi), dan Allah tidak akan membiarkan rumah orang maupun dusun (badui) melainkan Allah akan memasukkan ke dalamnya agama ini dengan kemuliaan orang yang mulia atau kehinaan orang yang hina, kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan Islam, dan kehinaan yang dengannya Allah menghinakan kekafiran.” (HR. Ibnu Hibban, al-Hakim; dishahihkan oleh al-Albani).

Apa yang disebutkan oleh Rasulullah saw dalam hadits ini belum pernah terwujud hingga kini. Tetapi kita sangat yakin bahwa hal itu akan terwujud suatu saat kelak. Tidak diragukan lagi bahwa hadits ini memberikan spirit optimisme bagi kaum muslimin bahwa Islam akan bangkit lagi esok.

3. Hadits ketiga:

Dari Abu Qabil ia berkata, “Kami sedang berada di sisi Abdullah bin ‘Am-ru bin ‘Ash, lalu dia ditanya, ‘Manakah di antara dua kota ini yang akan ditundukkan terlebih dahulu: Kostantinopel ataukah Roma?’ Lalu Abdul-lah minta diambilkan sebuah peti yang ada lingkaran-lingkarannya kemu-dian dia mengeluarkan dari peti itu sebuah kitab lalu berkata, ‘Dahulu ketika kami sedang berada di sekitar Rasulullah saw sambil menulis, tiba-tiba Rasulullah saw ditanya: ‘Manakah di antara dua kota ini yang akan di-tundukkan terlebih dahulu: Kostan-tinopel ataukah Roma?’ Maka Rasu-lullah saw bersabda, “Kota Heraklius akan ditundukkan terlebih dahulu, yakni Konstatinopel.” (HR. Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim; dishahihkan oleh al-Albani).

Janji Rasulullah saw tersebut terwujud delapan abad setelah wafatnya. Konstatinopel -yang merupakan ibu-kota kekaisaran- dibuka oleh Sultan Muhammad al-Fatih. Dan kini umat sedang mempersiapkan diri untuk mewujudkan janji yang kedua tersebut. Sejarah akan menjadi saksi bahwa Roma (Ibukota Italia sekarang ini) suatu saat akan diperintah oleh kaum muslimin dan gema adzan akan berkumandang dari sudut-sudut kotanya.

Tentu saja hal itu akan terwujud setelah umat Islam terbangun dari tidurnya dan kembali kepada agama-nya secara kaffah.

4. Hadits keempat:

“Masa kenabian akan berada di tengah-tengah kalian selama Allah menghendaki. Kemudian Allah akan mengakhirinya ketika Dia menghen-daki itu. Setelah itu akan disusul dengan kekhilafahan yang sesuai de-ngan metode kenabian (‘ala minhaajin nubuwwah), ia akan berlangsung selama waktu yang dikehendaki Allah. Kemudian jika Allah menghendaki, akan Dia akhiri. Setelah itu datanglah masa kerajaan yang menggigit, ia akan berjalan selama masa yang dikehendaki Allah. Kemudian jika Allah menghendaki, akan Dia akhiri. Setelah itu akan datang era kerajaan yang menindas (sewenang-wenang), ia akan berjalan selama masa yang dikehendaki Allah. Kemudian jika Allah menghendaki, akan Dia akhiri. Setelah itu datanglah masa khilafah ‘ala minhaajin nubuwwah ! Kemudian Nabi saw diam.” (HR. Ahmad, al-Bazzar; dihasankan oleh al-Albani).

Sebab-sebab kebangkitan Islam

Ada beberapa sebab yang membuat kebangkitan Islam menjadi suatu kepastian yang tidak dapat dihindarkan. Yang jelas optimisme di kalangan umat tentang kebangkitan Islam bukanlah optimisme yang tanpa alasan, terutama berkaitan dengan potensi besar yang dimiliki kaum muslimin, yaitu:

Pertama, janji Allah swt yang benar bahwa Allah swt akan memberikan khilafah dan kedudukan di muka bumi kepada orang-orang beriman.

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal shaleh bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadi-kan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku.” (QS. An Nuur: 55).

Rasulullah saw juga menegaskan -sebagaimana dalam hadits-hadits di atas- bahwa kerajaan umatnya kelak akan meliputi seluruh persada bumi.

Kedua, potensi aqidah Islam. Aqidah Islam merupakan pemicu kebangkitan umat. Sebab, aqidah tersebut mengajarkan kepada umatnya untuk tidak putus asa dari rahmat Allah. Tidak putus asa menghadapi kondisi yang paling sulit sekalipun. Aqidah tersebut menanamkan keyakinan kepada umatnya bahwa Allah swt akan membela orang-orang yang beriman di dunia dan akhirat.

“Dan sesungguhnya telah tetap janji Kami kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) sesungguhnya mereka itulah yang pasti men-dapat pertolongan.

“Dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang.” (QS. Shaaffaat: 171-173).

Ketiga, potensi syari’ah Islam itu sendiri yang senantiasa sesuai dengan setiap zaman dan tempat. Tidak ada satu agama pun di dunia ini yang masih terpelihara orisinalitasnya selain Islam. Lebih dari itu, Islamlah satu-satunya agama yang sesuai dengan fitrah manusia.

Ernest Gellner, seorang sosiolog agama, berkata, “Di antara berbagai agama yang ada, Islam adalah satu-satunya yang mampu mempertahankan sistem keimanannya dalam abad modern ini, tanpa banyak gangguan doktrinal.”

Memang, Islam-lah agama satu-satunya yang sesuai dengan fitrah manusia. Hanya dengannya umat manusia dapat mewujudkan kemas-lahatan dunia dan akhiratnya.

Sayyid Qutub berkata: “Dan sungguh manhaj (pandangan hidup) yang sesuai dengan umat manusia adalah manhaj yang telah dirumuskan dalam dien ini (Islam). Dan kita sangat yakin dengan keyakinan yang tak tergoyahkan bahwasanya masa depan adalah milik dien ini. Gilirannya akan tiba bahwa dien ini akan berkuasa di muka bumi. Dan inilah yang memotivasi kaum muslimin untuk merealisasikannya. Baik musuh-musuhnya suka atau tidak.”[2]

Keempat, potensi penduduk muslim yang berjumlah satu seperempat milyar jiwa lebih. Ini berarti seperlima penduduk dunia adalah muslim. Islam adalah agama yang paling muda tetapi jumlah pengikutnya melebihi agama-agama lain yang lebih tua, seperti Nashrani dan Yahudi.

Kelima, potensi sumber kekayaan alam yang melimpah di negeri-negeri muslim, khususnya minyak bumi dan sumber-sumber mineral lainnya. Potensi minyak bumi yang berada di negara-negara teluk, Aljazair, Brunei Darussalam, Indonesia, dan seterusnya. Allah swt, telah menyediakan energi alam tersebut untuk membantu kaum muslimin mebangun dan memanfaatkannya demi menegakkan agama-Nya.

Keenam, potensi warisan sejarah. Islam pada masa lampau telah berjaya memegang kendali peradaban dan kekuasaan lebih dari sembilan abad. Belum pernah ada satu agama maupun ideologi yang mampu mengembangkan peradabannya melebihi Islam. Peradaban Barat pun hari ini baru berumur kurang lebih 500 tahun. Jika kaum muslimin pada masa lampau telah membuktikan kemampuannya memimpin dunia, tentu mampu juga untuk masa depan.

Ketujuh, bangkitnya kesadaran di kalangan kaum muslimin untuk kembali ke pangkuan Islam. Fenomena ini bisa kita saksikan pada:

Maraknya wanita-wanita muslimah yang berjilbab sesuai syar’i dan meninggalkan pakaian ala Barat.

Bangkitnya gerakan penerbitan dan penerjemahan buku-buku Islam. Dalam setiap acara Book Fair senantiasa buku-buku Islami mewarnai dan mendominasi stand-stand pameran. Ini merupakan indikasi bahwa pemikiran Islam kembali diminati oleh para pemuda.

Semakin meluasnya sistem keuangan syari’ah. Bank-bank syari’ah bermunculan bagai jamur di musim hujan.

Semakin menguatnya seruan-seruan untuk menerapkan syari’at Islam di negeri-negeri yang mayoritas muslim.

Kedelapan, ketakutan Barat akan bangkitnya kembali Islam. Sejak runtuhnya Uni Sovyet dan surutnya ideologi komunis, Barat tidak melihat adanya pesaing bagi ideologinya selain Islam. Oleh karena itu mereka berupaya keras untuk menyudutkan dan memberangus Islam.

Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh,dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml: 50).

Kesembilan, rapuhnya sistem-sistem sekuler. Dunia kini sedang menyaksikan kegagalan ideologi-ideologi global dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang adil dan manusiawi. HAM dan demokrasi yang menjadi jargon kampanye AS telah nyata kelemahannya. AS dan sekutunya yang mengesankan diri sebagai pendekar HAM justru menerapkan standar ganda. Ketidakpercayaan dunia terhadap ideologi kapitalis semakin meluas.

Dan setelah itu semua, kita katakan tanpa ragu: bahwa masa depan adalah milik dien ini (Islam) dan kejayaan adalah milik orang-orang yang beriman.

Bilakah Datangnya?

Yang menjadi pertanyaan semua orang adalah: Kapankah semua itu akan terjadi? Hari ini, esok ataukah pada abad-abad mendatang? Berkaitan dengan hal ini Muhammad Qutub berkata: “Pada hari itu umat manusia akan kembali kepada ajaran agamanya (Islam). Dan kekuatan itu lebih besar daripada kehendak manusia biasa. Karena, kekuatan tersebut berdiri di atas as-Sunnah, yang Allah telah menganugerahinya kesesuaian dengan fitrah manusia dan pengaruhnya sangat berbekas dalam jiwa manusia…

Tidaklah penting kapan hal tersebut akan terjadi, akan tetapi yang terpenting adalah bahwa hal tersebut pasti akan terjadi, dan terjadinya dengan kehendak Allah Ta’ala.”[3]


[1]Dikutip dari Silsilah ash-Shahiihah, karya Syaikh al-Albani, jilid 1, halaman. 32-36).

[2]Sayyid Qutub, al-Mustaqbal lihaadzad dien, hlm. 93; dinukil dari “Kemenangan pasti datang”, karya Ahmad bin Hamdan asy-Syihriy, hlm.267).

[3]Muhammad Qutub, Hal Nahnu Muslimuun, hlm. 216 ; dinukil dari “Kemenangan pasti datang”, karya Ahmad bin Hamdan asy-Syihriy, hlm.269).

%d blogger menyukai ini: