Tahun I Edisi 02


Kenapa Aku Memilih Islam…


Mohammad Alexander Russel Webb (Amerika Serikat)

Diplomat, Pengarang dan Wartawan

Dia dilahirkan di Hudson, Columbia, New York dan belajar di Hudson serta New York. Kemudian beliau bekerja sebagai Pemimpin Redaksi Ma-jalah “St. Joseph Gazette” dan “Missouri Republican.” Pada tahun 1887 diangkat menjadi konsul Amerika Serikat di Manila.

Selama menjalankan tugas itulah beliau mempelajari Islam dan mem-baur dalam lingkungan kaum muslimin. Berikut adalah penuturannya:

“Saya telah diminta untuk menerangkan kepada anda, mengapa sa-ya, seorang Amerika yang dilahirkan dalam sebuah negara yang secara res-mi beragama Kristen, dibesarkan dalam lingkungan Kristen Orthodox, te-lah memilih dan memeluk Islam se-bagai pembimbing saya?

Dengan spontan saya jawab, bahwa saya telah menjadikan agama ini sebagai jalan hidup saya dengan penuh kesadaran, sebab setelah saya pelajari dalam tempo yang cukup lama, ternyata Islam adalah agama yang terbaik dan satu-satunya agama yang dapat memuaskan kebutuhan rohani umat manusia.

Pada waktu saya mencapai usia 20 tahun, dada saya serasa sempit melihat kebekuan gereja yang sangat menyedihkan, sehingga saya berte-kad untuk meninggalkannya buat selama-lamanya. Untunglah bahwa waktu itu saya mempunyai cara berpikir yang mendalam. Saya selalu ber-usaha untuk menemukan sebab dari segala sesuatu. Ternyata bahwa tidak ada seorangpun dari kalangan para ahli pengetahuan dan ahli-ahli agama yang bisa memberikan kepada saya keterangan yang bisa dimengerti (rasional) tentang kepercayaan gereja itu. Kedua golongan itu hanya me-ngatakan kepada saya bahwa persoalan ini termasuk misterius (pelik dan samar), atau di luar kemampuan saya berpikir.

Sebelas tahun yang lalu, saya tertarik untuk mempelajari agama-aga-ma Timur. Saya telah membaca buku-buku yang ditulis oleh Mill, Kant, Locke, Hegel, Fichte, Huxley dan lain-lain penulis ternama. Akan tetapi tidak ada seorangpun dari mereka yang bisa menerangkan kepada saya, tentang apakah jiwa/roh itu dan bagaimana atau dimana roh itu sesudah mati?

Saya telah banyak berbicara tentang diri saya, dengan maksud untuk menjelaskan bahwa saya masuk Islam bukan hasil pemikiran dan perasaan yang salah, bukan taqlid buta, dan bukan dorongan emosi. Akan tetapi hasil penelitian yang sungguh-sungguh, jujur, tekun dan bebas untuk mencari kebenaran.

Islam juga menuntut kejernihan akal, kebaikan amal perbuatan dan kebenaran dalam kata-kata, bahkan Islam mengajak kepada kesucian dan kebersihan badan.

Agama ini, tidak diragukan lagi, adalah agama yang paling mudah dan paling mampu mengangkat derajat kemanusiaan.”


Ali Selman Benoist (Perancis)

Doktor ilmu kesehatan

“Saya adalah seorang Doktor dalam ilmu kesehatan, berasal dari ke-luarga Perancis Katolik. Pekerjaan yang saya pilih ini telah menyebab-kan saya terpengaruh oleh corak kebudayaan ilmiah yang tidak banyak memberikan kesempatan dalam bidang kerohanian. Ini tidak berarti bahwa saya tidak percaya atas adanya Tuhan. Yang saya maksud ialah karena dogma-dogma dan peribadatan Kristen, khususnya Katolik, tidak membangkitkan pengertian dalam jiwa saya atas adanya Tuhan. Karena itulah maka naluri saya atas keesaan Tuhan telah menjadi penghalang antara diri saya dan kepercayaan Trinitas, dan dengan sendirinya juga atas ketuhanan Yesus.

Sebelum saya memeluk agama Islam, saya telah percaya atas kebe-naran kalimat syahadat yang pertama yang berbunyi ashadu an laa ilaaha illallah dan ayat-ayat Al-Qur’an yang berbunyi:

“Katakanlah, ‘Dia itu Allah Yang Satu (Esa); Allah tempat bergantung. Dia tidak melahirkan dan tidak pula dilahirkan, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai Dia.” (Al-Ikhlash: 1-4).

Saya tidak bisa menerima pengakuan para pendeta Katolik yang me-ngatakan bahwa salah satu kekuasaan mereka ialah “mengampuni dosa manusia” sebagai wakil Tuhan.

Adapun sebab pokok saya memeluk Islam ialah Al-Qur’an. Sebelum saya memeluk Islam, saya telah mempelajarinya dengan semangat kritik intelektual Barat, dan saya banyak terpengaruh oleh sebuah buku besar karangan Malik Bennabi yang bernama adh-Dhaahiratul-Qur’aaniyah (atau Le Phenomene Coranique), sehingga yakinlah saya bahwa Al-Qur-‘an itu adalah wahyu yang diturunkan Allah. Sebagian dari ayat-ayat Al-Qur’an yang diwahyukan lebih dari 14 abad yang lalu mengandung beberapa teori yang sekarang dibuktikan oleh penelitian ilmiah yang paling modern. Hal itu sudah cukup menyebabkan saya menjadi yakin kepada syahadat bagian kedua: waasyhadu anna Muhammadarrasulullah.

Begitulah, maka pada tanggal 30 Pebruari 1953, saya datang ke Masjid Paris untuk memberitahukan keimanan saya kepada Islam, dan Mufti Masjid Paris memasukkan saya dalam daftar kaum Muslimin, dan saya menerima nama baru sebagai orang Islam: Ali Selman.

Saya merasa sangat puas dengan kepercayaan/akidah saya yang baru dan sekali lagi saya kumandangkan: asyhadu an laa ilaaha illallah waasyhadu anna Muhammadarrasulullah!”

Miss Mas’udah Steinmann (Inggris)

“Saya tidak menemukan agama lain yang diterima oleh masyarakat luas, mudah dimengerti dan bersemangat selain Islam. Tidak ada jalan lain yang lebih dekat kepada ketenangan pikiran dan kepuasan hidup, serta tidak ada harapan yang lebih besar dari pada Islam untuk mencari keselamatan hidup di akhirat.

Mengapa saya berpendapat bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna?

Pertama dan sebelum segala sesuatu, agama ini memperkenalkan kepada kita Sang Penguasa Tunggal, Tuhan Al-Khalik.

Dan di beberapa tempat Al-Qur-‘an menuturkan kepada kita tentang sifat-sifat Al-Khalik tersebut: Yang Maha Berilmu, Yang Maha Kuat, Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir, Yang Maha Kekal, Yang Maha Penyayang, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Pemaaf dan Pengampun, Yang Maha Bijaksana dan Maha Adil.

Orang boleh membantah bahwa untuk membuktikan iman kepada Allah, dan supaya bisa hidup bahagia dalam masyarakat itu perlu beriman dan menjalankan aturan Tuhan. Tidakkah kita lihat seorang bapak memberi petunjuk-petunjuk kepada anak-anaknya? Tidakkah kita lihat seorang bapak menyusun dan mengatur kehidupan keluarganya? Sehing-ga setiap anggota keluarganya hidup bersama-sama secara harmonis?

Islam telah membuktikan dirinya sebagai agama yang benar dan mem-perkuat kebenaran yang dibawa oleh agama-agama yang terdahulu. Islam juga mengakui bahwa bimbingan yang diberikan Al-Qur’an itu jelas dan bisa diterima akal. Al-Qur’an memberi bimbingan ke arah keserasian hu-bungan antara Al-Khalik dan makhluk-Nya, membangun kerjasama antara potensi-potensi rohaniah dan jasmaniah guna menciptakan kese-imbangan lahir dan batin dalam membina kehidupan yang aman dan damai dengan diri kita sendiri dan orang lain.

Sedangkan agama Kristen, perhatian utamanya hanya pada bidang kerohanian. Agama Kristen mendakwahkan semacam cinta kasih yang memberatkan para pemeluknya. Cinta kasih yang sempurna pasti meng-hadapi kegagalan, jika untuk mencapainya berada di luar kemampuan tabiat manusia.

Islam mengajarkan supaya kita mengagungkan Tuhan dan tunduk kepada hukum-Nya, sekaligus menyerukan dan memotivasi kita supaya mempergunakan akal dan logika disertai penjagaan rasa cinta kasih dan saling pengertian.

Saya tidak pernah menemukan agama lain yang bisa diterima akal dan menarik begitu banyak manusia serta mempunyai jumlah pengikut yang begitu besar selain Islam. Dan jelaslah bagi saya bahwa tidak ada agama yang lebih dekat kepada penalaran dan akal serta tidak ada harapan yang lebih besar untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat selain pada Islam.


Muhammad Sulaiman Takeuchi

Ethnolog Jepang

Kemajuan teknologi dan tingginya taraf hidup serta kemakmuran tidak menjamin kesejahteraan lahir batin. Itulah yang dialami oleh masyarakat Jepang. Hal ini mendorong seorang ilmuwan Jepang untuk meneliti aga-ma-agama besar dunia. Pada akhirnya ia berkesimpulan bahwa hanya Islam-lah satu-satunya agama yang dapat memadukan dengan sangat se-rasi antara tuntutan materi dan kebutuhan rohani.

Tentang alasan mengapa dia memilih Islam, berikut adalah penutur-annya:

“Alhamdulillah saya telah menjadi seorang Muslim. Islam telah menarik perhatian saya karena tiga hal:

1. Persaudaraan dalam Islam dan isinya merupakan kekuatan per-tahanan.

2. Penyelesaian praktis tentang beberapa masalah kehidupan manusia. Dalam Islam tidak ada pemisahan antara ibadat dan kehidupan manusia dalam masyarakat. Bahkan orang-orang Islam melakukan sembahyang secara bersama-sama (berjamaah), sama seperti kalau mereka melakukan tugastugas kemasyarakatan, karena mengharap keridlaan Allah swt.

3. Islam adalah kombinasi antara material dan spiritual dalam ke-hidupan manusia.

Persaudaraan Islam itu tidak mengenal golongan, suku bangsa dan keturunan. Persaudaraan Islam menghimpun semua kaum Muslimin dari seluruh pelosok dunia. Lebih dari itu, Islam tidak khusus untuk segolongan tertentu, Islam adalah agama umum untuk semua manusia dari segala bangsa; apakah mereka orang-orang Pakistan atau orang-orang India; apa-kah mereka orang-orang Arab atau orang-orang Afganistan; China atau Jepang. Singkatnya Islam itu agama dunia untuk semua bangsa dan se-mua benua.

Islam menjamin dapat memecahkan segala kesulitan hidup. Islam ada-lah agama langit satu-satunya yang mampu mengatasi segala tantangan zaman dan ajaran-ajarannya tetap asli sebagaimana yang diwahyukan kepada Rasulullah saw sejak 14 abad yang lalu. Islam adalah agama fithrah dan karena itulah maka Islam adalah agama yang fleksibel, sesuai dengan segala kebutuhan manusia dengan segala perbedaannya pada setiap za-man, sebagaimana Islam telah membuktikan peranannya yang penting dalam perkembangan sejarah kenegaraan dan kemasyarakatan dalam waktu yang relatif singkat.

Kehidupan manusia adalah campuran antara jiwa dan benda, sebab Allah swt telah menciptakan kita dari ruh dan jasad, sehingga kalau kita memang menginginkan kesempurnaan dalam hidup, kita harus memper-satukan roh dan jasad, dan tidak memisahkan kehidupan rohani dari ke-hidupan kebendaan. Islam menganggap kedua-duanya (kerohanian dan kebendaan) itu penting, dan meletakkan keduanya pada tempatnya yang benar. Atas dasar inilah falsafah kehidupan Islam berdiri, mencakup semua segi kehidupan manusia.

Saya adalah orang yang baru saja memeluk Islam. Sejak saya meme-luknya dua tahun yang lalu, saya telah menemukan Islam sebagai aga-ma persaudaraan atas dasar akidah (keyakinan) dan amal.

Jepang pada waktu ini adalah suatu negara yang paling maju dalam bidang industri, dan masyarakat Jepang telah berubahnya seluruhnya, sebagai akibat revolusi teknologi dengan akibatnya yang berupa corak kehidupan yang materialistis. Dan karena negeri ini miskin dengan sumber-sumber alam, maka bangsa Jepang harus bekerja keras siang dan malam untuk menutupi kebutuhan hidupnya dan menjaga keseimbangan perdagangan dan industrinya. Itulah sebabnya, makanya kami selalu sibuk dengan usaha-usaha mencari kekayaan yang tidak ada kaitannnya dengan kehidupan rohani. Seluruh perhatian kami ditumpahkan untuk memperoleh keuntungan-keuntungan duniawi, karena itu kami tidak mempunyai waktu yang cukup untuk memikirkan soal-soal yang bukan kebendaan.

Bangsa Jepang tidak mempunyai agama dan tidak mempunyai tujuan apa-apa. Bangsa Jepang hanya mengikuti pengaruh materialisme Eropa, dan mungkin inilah yang menambah kegersangan jiwa bangsa Jepang, se-bab jasmani mereka yang telah mengecap kenikmatan makanan yang lezat dan pakaian yang bagus, tidak disertai dengan jiwa yang berbahagia.

Saya yakin bahwa momentum ini adalah kesempatan yang paling baik untuk menyiarkan agama Islam di kalangan bangsa Jepang. Sebab ketidak-tahuan yang pekat di belakang alam benda duniawi telah menyebabkan bangsa-bangsa yang menyebut dirinya maju itu telah menjadi mangsa atau korban kekosongan jiwa. Dan Islam adalah satu-satunya agama yang sanggup mengisi kekosongan jiwa mereka, dan kalau langkah-langkah yang sistematis dilakukan untuk dakwah Islam di Jepang sekarang, maka tidak akan lebih dari dua atau tiga turunan, seluruh bangsa ini akan masuk dalam agama ini. Saya menegaskan bahwa usaha serupa itu akan merupakan pertolongan yang besar buat Islam di Timur jauh, sekaligus merupakan nikmat terbesar bagi kemanusiaan di bagian dunia ini.”


Mahmud Gunnar Erikson (Swedia)

Kebenaran Al-Qur’an senantiasa tak habis-habisnya mengundang ke-kaguman. Tidak sedikti orang-orang kafir yang kemudian beriman dan me-nyerah pasrah kepada Rabbul ‘aalamin setelah membaca dan merenungi Al-Qur’an. Salah satunya adalah Mahmud Gunnar Erikson. Ia berkata:

Hubungan saya dengan Islam untuk pertama kali dimulai sejak lima tahun yang lalu. Seorang sahabat baik saya telah membacakan Kitab Suci Al-Qur’an karena beberapa alasan. Saya tidak akan melupakan Kitab Suci ini yang oleh sahabat saya telah dijelaskan sebahagian isinya. Kemudian saya berusaha untuk mendapatkan terjemahannya dalam bahasa Swedia. Saya telah berhasil mendapatkannya lebih dahulu dari sahabat saya itu, dan mulailah saya membacanya. Dan karena saya mendapatkannya sebagai pinjaman dari sebuah perpustakaan umum, maka saya tidak dapat memegangnya lebih dari dua minggu. Karena itulah maka saya terpaksa me-minjamnya kembali berulang-ulang, dan setiap kali saya membacanya, bertambahlah keyakinan saya bahwa isi Al-Qur’an itu benar, sampai pada suatu hari bulan Nopember tahun 1950 saya memutuskan untuk meme-luk agama Islam.

Satu atau dua tahun telah berlalu dalam keadaan saya sebagai penganut Islam, tapi tidak lebih dari itu. Sampai pada suatu hari saya datang ke perpustakaan umum pusat di Stockholm. Saya teringat kembali bahwa saya seorang Muslim. Lalu saya berusaha mencari perpustakaan yang menyimpan buku-buku tentang agama Muhammad saw. Saya bergembira ketika saya mendapatkan satu di antaranya, lalu saya meminjamnya se-bentar dan saya membacanya dengan penuh perhatian bersama terjemahan Al-Qur’an dari Sir Muhammad Ali. Sekarang saya menjadi lebih yakin tentang kebenaran Islam, dan sejak itulah saya mulai melaksanakannya dalam praktek.

Kemudian dalam satu kesempatan, saya menggabungkan diri dengan Jama’ah Islam Swedia, dan saya melakukan shalat ‘Id untuk pertama ka-linya di Stockholm pada tahun 1952. Inilah posisi saya ketika saya pergi ke Inggris, tepat beberapa minggu sebelum hari ‘Idul-Fitri tahun 1372 H. Pada hari pertama saya sampai di sana, saya pergi ke Mesjid Woking, di mana saya dianjurkan supaya mengumumkan ke-Islaman saya pada hari raya ‘Id. Dan hal itu telah saya laksanakan.

Sesungguhnya apa yang mengagumkan saya dalam Islam dan tidak habis-habisnya mengagumkan saya, ialah ajarannya yang rasional. Islam tidak akan minta kepada anda supaya mempercayai sesuatu sebelum anda mengerti dan mengetahui sebab-sebabnya. Al-Qur’an telah memberikan contoh-contoh kepada kita mengenai adanya Allah secara memuaskan dan memang tidak bisa dilebih-lebihkan.

Segi lainnya dalam Islam yang mengagumkan saya, ialah sifatya yang menyeluruh meliputi segala pelosok dunia dan segala bangsa. Al-Qur’an tidak menyebut Allah itu sebagai Tuhannya bangsa Arab atau bangsa lain tertentu. Tidak! Bahkan tidak juga Islam menyebutkan Allah sebagai Tuhan dunia ini, akan tetapi Tuhannya seluruh alam (Rabbul’alamin). Sedangkan Kitab Suci yang lain menyebutnya sebagai “Tuhan Bani Israil” dan sebagainya. Lebih dari itu, malah Islam memerintahkan supaya kita beriman kepada semua Rasul, baik yang tertulis dalam Al-Qur’an maupun yang tidak.

Akhirnya saya telah menemukan dalam kitab-kitab wahyu yang terda-hulu beberapa keterangan yang banyak sekali tanpa keraguan tentang akan diutusnya Muhammad saw. Dalam hal ini, Al-Qur’an menyatakan:

“Hari ini telah Aku sempurnakan agama kamu, dan Aku sempurnakan nikmat-Ku buat kamu, dan Aku rela Islam sebagai agama kamu.” (Al-Maidah: 3)

Dan:

“Sesungguhnya agama yang diridlai Allah ialah Islam.” (Ali Imran: 19)

Sir Abdullah Archibald Hamilton

Negarawan dan Bangsawan Inggris

Ia menuturkan sendiri tentang latar belakang keIslamannya:

“Sejak saya menginjak usia dewasa, keindahan, kemudahan dan ke-murnian Islam itu selalu menarik perhatian saya. Walaupun saya dilahir-kan dan dibesarkan sebagai orang Kristen, sebenarnya saya tidak bisa percaya kepada dogma-dogma yang diajarkan oleh Gereja, dan saya selalu menggunakan akal dan pikiran untuk mengatasi keimanan yang membuta.

Bersamaan dengan majunya zaman, saya menginginkan kedamaian dengan Maha Pencipta saya, dan ternyata bahwa baik Gereja Roma maupun Gereja Inggris, tidak ada yang bisa memberikan kepuasan kepada saya.

Saya memeluk agama Islam, hanyalah untuk memenuhi panggilan hati nurani saya, dan sejak itu saya merasa telah menjadi orang yang le-bih baik dan lebih benar dari pada sebelumnya.

Tidak ada satupun agama yang dimusuhi orang-orang jahil dan berpra-sangka seperti agama Islam. Padahal jika orang tahu, Islam itu adalah agama yang memberikan kekuatan kepada orang yang lemah, dan memberikan rasa kecukupan kepada orang yang miskin.

Kita (kaum Muslimin) tidak percaya kepada aliran Jabariyah yang hanya menunggu nasib semata-mata, tidak pula percaya kepada aliran Qa-dariyah yang menganggap bahwa manusia menentukan nasibnya sendiri. Kita hanya percaya kepada imbalan yang diberikan Allah swt. atas perbuatan dan amal kita.

Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan atas dasar fithrah, tanpa dosa. Islam juga mengajarkan bahwa manusia, pria maupun wanita, berasal dari satu keturunan (Adam dan Hawa), bahwa keadaan ruhnya sama, dan bahwa Allah swt memberikan kekuatan yang sama agar tiap-tiap manusia dapat menempuh hidup sesuai dengan yang dikehendakinya menurut akal, jiwa dan moral.

Kesimpulannya, saya ingin menyatakan bahwa pada waktu Islam membimbing umat manusia dalam kehidupannya sehari-hari, justru agama Kristen, dalam teori dan prakteknya mengajarkan kepada para peng-anutnya supaya berdo’a dan bersembahyang kepada Tuhan pada hari Minggu dan menerkam makhluk-Nya pada hari-hari selebihnya.”

Tentang Sir Abdullah Archibald Hamilton

Sebelum memeluk agama Islam, beliau bernama Sir Charles Edward Archibald Watkin Hamilton. Memeluk agama Islam pada tanggal 20 De-sember 1923. Beliau adalah seorang negarawan Inggris yang terkenal, mencapai tingkat kebangsawanan bermacam-macam. Beliau lahir pada tanggal 10 Desember 1876, seorang Letnan dalam Royal Defence Corp dan President Salsy Conservative Association.

Michael Jakcson

Mantan bintang pop Amerika.

Ketenaran dan harta yang melimpah ternyata tidak memberikan ke-tenangan baginya. Hatinya terus bergolak, jiwanya senantiasa gelisah sam-pai akhirnya ia menemukan ketenangan yang sejati dan kebenaran yang hakiki dalam Islam. Setelah banyak membaca dan menyendiri akhirnya iapun memutuskan untuk mengikuti jejak kakak kandungya yang telah lebih dahulu masuk Islam.

Demikianlah perjalanan mantan bintang pop Amerika, Michael Jack-son.

Secara resmi ia mengaku sudah menjalani rukun Islam dan berenca-na untuk masuk Islam. Berita gembira ini disiarkan oleh situs harian Arab-Israel, Panorama, mengutip sumber-sumber di Bahrain, dimana Michael Jakcson melakukan kunjungan ke negara itu belum lama ini. Sumber-sum-ber di Bahrain menyebutkan bahwa Jackson bermaksud untuk hijrah ke Bahrain. Di negara teluk ini, Jackson diberitakan sudah membeli sejumlah real estate dan pulau buatan. Ia rencananya akan memindahkan semua aset miliknya di Amerika ke Bahrain. Ia juga mengungkapkan harapannya bahwa ia tidak akan menemui banyak kendala dalam persoalan legalitas dan bisa menikmati kebebasan yang menurutnya tidak ia dapatkan di Amerika Serikat.

Tentu kita semua ingin tahu apa yang menjadi alasan baginya untuk masuk Islam?

Sumber-sumber di Bahrain menye-butkan bahwa alasan Jackson untuk masuk Islam ialah karena ia merasa yakin Islam adalah agama yang paling dekat dengan keyakinannya secara pribadi.

Jika laporan ini benar, maka Jackson bukan satu-satunya anggota dalam keluarganya yang memeluk Islam. Saudara kandung Jackson, Jermaine Jackson, sudah lebih dulu masuk Islam dan kini memilih tinggal di Dubai. Jermaine-lah yang mengenalkan Islam kepada Michael Jackson lewat buku-buku Islam yang dikirimnya.

Jermaine berkata, “Ia (Jackson) membaca segalanya dan ia begitu bangga terhadapku yang telah menemukan sesuatu yang memberi rasa damai dan kekuatan. Ketika aku kembali dari Mekkah, aku mendapati dia banyak membaca buku dan bertanya tentang agamaku dan aku mengata-kan bahwa Islam begitu menenangkan dan penuh keindahan.”

Jackson pernah menjadi penyanyi paling top sedunia. Ia juga banyak menggeluti dunia bisnis. Dalam perjalanannya itu ia banyak mengenali karakter dan watak bangsa-bangsa. Ia sempat menyebut orang-orang Ya-hudi sebagai lintah darat dalam pesan yang dia kirim melalu telepon pada mantan rekan bisnisnya. Dalam pesan itu, Jackson mengatakan, “Mereka (orang-orang yahudi) seperti lintah… saya muak pada semua ini… mereka menjadikan orang-orang yang paling populer di dunia sebagai sasaran, mengeruk banyak uang, rumah besar, mobil-mobil dan semuanya lalu mengakhiri mereka dalam keadaan tanpa uang sepeser pun. Ini adalah konspirasi. Yahudi-yahudi itu melakukannya dengan sengaja.”

Sebelum Jackson, seorang bintang paling pop Inggris di tahun tujuh pu-luhan, Cat Steven, telah lebih dulu masuk Islam. Setelah memeluk Islam ia merubah namanya menjadi Yusuf Islam. Dalam kunjungannya ke Jakarta beberapa tahun yang lalu Yusuf sempat mengatakan bahwa sudah sekitar dua ribu orang yang masuk Islam karena dakwahnya.

Alhamdulillah-.

Rabithah Alam Islamy Mekkah;Eramuslim; Swaramuslim

Iklan
%d blogger menyukai ini: