Tahun I Edisi 03


Salah Kaprah Tentang Karomah

“Apabila engkau lihat seorang mampu berjalan di atas air atau terbang di udara maka janganlah engkau terpedaya olehnya hingga engkau teliti sejauh mana ia mengikuti (ittiba’) Rasulullah,” demikian tutur al-Imam asy-Syafi’i.

Karomah adalah kejadian luar biasa yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba yang bukan nabi dengan tujuan untuk mengokohkan argumennya dalam mem-bela agama atau untuk menolong hamba tersebut.

Beberapa contoh Karomah

Di dalam al-Qur’an terdapat beberapa contoh karomah . Di antaranya ialah kisah Ashabul Kahfi yang dijelaskan dalam surat al-Kahfi. Para pemuda Ashabul Kahfi itu ditidurkan oleh Allah selama tiga ratus tahun, tidak makan dan minum, namun fisik mereka tetap sehat. Ini adalah suatu bentuk perlindungan Allah kepada para pemuda beriman yang diancam oleh raja mereka jika mereka tidak murtad.

Demikian pula yang terjadi pada Maryam ibunda Nabi Isa. Dia mendapatkan rizki dari Allah dari arah yang tak disangka-sangka.

“Setiap kali Zakariya masuk menemui Maryam di mihrabnya, ia dapati makanan di sisinya. Lalu Zaka-riya bertanya: Hai Maryam, dari manakah kamu memperoleh (makanan) ini? Maryam menjawab: Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan.” (QS. Ali Imran: 37).

Adapun yang terjadi pada umat ini maka hal itu telah diriwayatkan dalam kitab-kitab para ulama’. Di an-taranya ialah:

Perkataan Umar bin al-Khathab dalam kisah Sariyah yaitu ketika beliau sedang di atas mimbar tiba-tiba beliau melihat tentaranya yang dipimpin oleh Sariyah sedang terdesak menghadapi tentata Romawi. Maka beliau berseru, “Wahai Sariyah, merapatlah ke gunung. Wahai Sariyah merapatlah ke gunung!” maka Sariyah yang sedang bertempur mendengar seruan Umar tersebut dan mematuhinya sehingga tentara Islam pun selamat dari kepungan musuh.

Abu Bakar, pernah suatu hari beliau mengajak tiga orang tamunya untuk makan di rumahnya dari satu piring besar. Tidaklah satu suap dari makanan itu diambil melainkan datang dari bawahnya gantinya yang lebih banyak. Sampai setelah mereka makan dengan kenyang dan puas, ternyata makanan itu malah bertam-bah banyak. Kemudian makanan itu diantarkan kepada Rasulullah lalu datanglah beberapa kaum yang ba-nyak untuk menikmati makanan itu. Mereka semuanya makan dari hidang-an tersebut hingga kenyang. Kisah ini terdapat dalam shahih Bukhari dan Muslim.

Sa’ad bin Abi Waqqash, be-liau adalah seorang yang mustajabud da’wah (selalu dikabulkan doanya). Beliau tidak pernah berdoa melain-kan selalu terkabul. Beliaulah pang-lima perang yang mengalahkan ten-tara Persia yang sangat besar dan menundukkan seluruh wilayah Irak serta menguasai istana Kisra (Raja Persia) di Madain. Ketika hendak menggempur Madain, antara beliau dengan kota tersebut dipisahkan oleh sungai Dajlah yang kebetulan sedang pasang. Semua kapal-kapal telah di-rampas dan disita oleh Persia demi menghalangi menyeberangnya ten-tara Islam. Maka beliau memerintah-kan agar tentaranya melintasi sungai itu dengan mengendarai kuda-kuda. Para tentara pun menyeberangi su-ngai itu tanpa ada satu pun yang tenggelam. Peristiwa yang hampir serupa juga terjadi pada seorang sa-habat yang bernama al-‘Alaa’ bin al-Hadhromi bersama para tentara-nya.

Az-zubairah seorang wanita yang lemah, disiksa oleh Quraisy ka-rena masuk Islam. Ia disiksa agar mau meninggalkan Islam akan tetapi ia menolak. Ia terus disiksa hingga kedua matanya buta. Maka orang-orang Quraisy pun berkata, “Ia buta karena kutukan Latta dan Uzza.” Mendengar itu ia berkata, “Sekali-kali tidak!” Ma-ka Allah pun mengembalikan pengli-hatannya.

Abu Muslim al-Khulani, ia di-tangkap oleh al-Aswad yang meng-aku sebagai nabi. Ketika menolak mengakui kenabiannya, ia dilempar kedalam api yang bergejolak. Namun ternyata tidak terbakar dan ia berdiri shalat di dalam api itu. Ia datang ke Madinah setelah wafatnya Rasulullah, kemudian Umar mendudukkan dia di antara dirinya dan Abu Bakar seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak mematikanku se-hingga aku melihat di antara ummat Rasulullah seorang yang diperlaku-kan sebagaimana Nabi Ibrahim.

Hasan al-Bashri pernah ber-sembunyi dari kejaran tentara al-Haj-jaj. Mereka menggeledah rumahnya sebanyak enam kali namun tidak juga menemukannya, karena Hasan berdoa kepada Allah agar para tentara itu tidak melihatnya. Ia pernah berdoa untuk kecelakaan seorang Khawarij yang sering mengganggunya, tiba-tiba orang itu tersungkur dan mati.

Shilah bin Asyyam al-Adawi, kudanya mati ketika beliau sedang berperang lalu ia berdoa, “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan aku ber-hutang budi kepada seseorang.” Ke-mudian ia berdoa agar Allah meng-hidupkan kudanya maka Allah pun mengabulkan doanya. Tatkala ia sampai ke rumahnya ia berkata, “Wa-hai anakku ambillah pelana kuda ini karena ia adalah pinjaman. Anak itu mengambil pelana kudanya, lalu kuda itu pun mati kembali. Ia pernah kela-paran pada suatu hari lalu berdoa kepada Allah maka tiba-tiba di bela-kangnya jatuh sekeranjang kurma dalam keranjang yang terbuat dari anyaman kain sutera. Ia pun mema-kan dari kurma tersebut sedangkan kain sutera diberikan kepada isterinya. Suatu ketika datanglah singa saat beliau sedang shalat malam ditengah hutan. Setelah salam dari shalatnya, beliau berkata kepada singa itu, “Ca-rilah rizkimu di tempat lain.” Maka singa itu pun berlalu sambil meng-aum.

Said bin Musayyib, beliau men-dengar adzan dari kubur Rasulullah pada waktu-waktu shalat di hari-hari musim panas sementara di Mas-jid Nabawi sedang tidak ada orang selain beliau.

Uwais al-Qarni, ketika mening-gal orang-orang mendapati di sisinya ada kain-kain kafan yang belum per-nah ada sebelumnya. Mereka juga mendapati sebuah kubur telah tergali untuknya di bebatuan, maka orang-orang pun mengkafaninya dengan kafan tersebut dan memakamkannya di kubur tersebut.

Muthrif bin Abdulloh asy-Syakhir, jika beliau masuk ke rumahnya, tempat makan dan minumnya (piring dan gelasnya) ikut berrtasbih bersa-manya.

Al-Ahnaf bin Qais, ketika dima-kamkan, songkok salah seorang ja-tuh ke kuburnya lalu ia turun untuk mengambilnya, ternyata ia menda-pati kubur itu telah dilapangkan se-luas pandangan mata.

Abdul Wahid bin Zaid, ia di-timpa lumpuh separuh badannya lalu ia memohon kepada Allah agar menormalkan anggota tubuhnya pa-da saat wudhu, maka setiap kali da-tang waktu wudhu, anggota tubuh-nya normal kembali, kemudian sete-lah shalat kambuh lagi.

Contoh-contoh karomah di atas disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa-nya (jilid 11, hlm. 276-282). Setelah menyebutkan contoh-contoh di atas beliau berka-ta, “Ini adalah bab yang sangat luas dan sudah dipaparkan di kitab-kitab yang lain. Adapun yang kami ketahui sendiri dari orang-orang tertentu dan yang kami lihat pada zaman ini juga banyak. Satu hal yang harus diketahui ialah, bahwa karomah tersebut ka-dang-kadang diberikan sesuai dengan kebutuhan. Jika seorang itu imannya lemah atau sangat membutuhkan pertolongan Allah, maka datanglah karomah tersebut dalam rangka mem-perkuat keimanannya atau mencu-kupi kebutuhannya. Sementara orang yang lebih sempurna kewaliannya tidak membutuhkan hal itu, yakni tidak membutuhkan karomah karena keimanannya telah mantap, bukan ka-rena kewaliannya lebih rendah. Oleh karena itu munculnya karomah di kalangan tabi’in lebih banyak daripa-da di kalangan para sahabat.” (Maj-mu’Fatawa, jilid 11, hlm. 283).

Dari penuturan Ibnu Taimiyah di atas dapat kita pahami bahwa tidak adanya karomah pada seorang muk-min bukan berarti ia tidak termasuk wali, atau kewaliannya berkurang. Sama sekali tidak. Jadi, adanya ka-romah tidak menjadi ukuran tinggi atau rendahnya derajat seseorang di sisi Allah. Setiap orang mukmin yang bertakwa maka ia adalah wali Allah meskipun tidak muncul satu karomah pun pada dirinya. Semakin dia bertakwa kepada Allah, maka semakin tinggi derajatnya di sisi Allah.

Nazhim Muhammad Sulthan me-nyebutkan dalam syarah al-Arbain an-Nawawiyah hlm. 335, “Sebaik-baik wali setelah para nabi dan rasul adalah para sahabat Rasulullah. Allah telah menyifati mereka da-lam kitab-Nya, “Muhammad itu ada-lah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terha-dap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka: kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari ka-runia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka me-reka dari bekas sujud.Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunas-nya maka tunas itu menjadikan tanam-an itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; ta-naman itu menyenangkan hati pena-nam-penanamnya karena Allah hen-dak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min).Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan me-ngerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Fath: 29).

Para sahabat adalah teladan yang tinggi dalam mewujudkan ke-walian terhadap Allah, oleh karena itu barangsiapa yang ingin mengga-pai ridha Allah maka hendaknya ia mencontoh para sahabat Nabi.”

Karomah yang Batil

Di samping ada karomah-karo-mah yang benar, ada pula beberapa kejadian aneh yang dianggap karomah padahal bukan. Berikut ini beberapa contoh:

Syaikh Siti Jenar adalah seorang tokoh sesat yang dianggap wali. Salah satu dari pemikirannya adalah wih-datul wujud atau manunggaling ka-wula lan gusti (sebuah kepercayaan yang mengatakan bahwa seorang hamba bisa menyatu dengan Tuhan-nya). Oleh karena itu, Syaikh Siti Je-nar divonis sesat oleh para walisanga yang lain. Menurut cerita, para wali-sanga bersepakat untuk menjatuhkan hukuman mati pada Syaikh Siti Jenar. Namun peristiwa aneh terjadi pada saat kematiannya. Ketika dibunuh, jasadnya mengeluarkan darah yang membentuk tulisan Laa ilaaha illallah. (!!). Kejadian ini menggemparkan masyarakat dan dianggap sebagai karomah Syaikh Siti Jenar.

Mitos di atas jelas batil dan menye-satkan. Cerita itu dikarang-karang dengan tujuan untuk mengagungkan Syaikh Siti Jenar yang telah jelas ke-sesatannya.

Diriwayatkan dalam sebagian ki-tab manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jailani bahwa salah seorang dari mu-rid beliau meninggal dunia, lalu ibu-nya datang kepada beliau mengadu-kan halnya sambil menangis. Melihat itu timbullah rasa iba dalam hati be-liau. Kemudian beliau terbang menyu-sul malaikat maut yang sedang naik ke langit dengan membawa keran-jang yang berisi roh-roh manusia yang dicabut pada hari itu. Beliau meminta kepada malaikat maut agar mengem-balikan roh muridnya itu akan tetapi malaikat maut menolak, lalu Syaikh menarik keranjang itu sehingga lepas dari tangan malaikat maut dan semua roh yang berada di keranjang itu ber-jatuhan. Kemudian setiap roh kembali ke jasadnya masing-masing. Malaikat maut pun naik menghadap Rabbnya dan mengadukan kepada Allah ten-tang kelakuan Syaikh Abdul Qadir itu. (!!).

Riwayat di atas telah jelas kebatil-annya. Kita tidak bermaksud menya-makan antara Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dengan Syaikh Siti Jenar. An-tara keduanya sangat jauh berbeda. Tetapi yang perlu kita ketahui adalah banyak cerita-cerita tentang Syaikh Abdul Qadir al-Jailani yang dilebih-lebihkan dan dikarang-karang.

Abdul Wahab Asy-Sya’rani meng-himpun dalam kitabnya, ath-Thoba-qatul Kubra, berbagai kejadian aneh yang dinisbatkan kepada para wali. Kejadian-kejadian aneh itu dianggap-nya karomah. Di antaranya:

Ada seorang wali yang di antara karomahnya ialah menyetubuhi ke-ledai betina di siang hari di depan orang banyak. Hal itu dianggap ka-romah karena sebenarnya wali itu sedang melihat sebuah kapal yang hampir tenggelam di tengah lautan karena sebuah kebocoran di dinding-nya, lalu ia pun menutup kebocoran tersebut dengan dzakarnya.

Ada seorang wali yang diantara karomahnya ialah meminum khamr secara terang-terangan di siang hari. Itu adalah karomahnya karena khamr tersebut dalam perut wali berubah menjadi susu murni. (!!).

Ali bin Yusuf asy-Syathnufi juga menghimpun dalam kitabnya, Bahjatul Asraar, kejadian-kejadian aneh dan karomah yang dialami oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Para ulama telah mengingkari kitab yang ditulis oleh asy-Syathnufi tersebut. Ibnu Ra-jab al-Hanbali berkata dalam Dzai-lut Thabaqat, “Saya telah melihat sebagian dari kita itu dan hati saya tidak percaya dengan apa yang ditulis di dalamnya, karena di dalamnya ba-nyak perawi (periwayat) yang majhul (tidak dikenal), juga di dalamnya ter-dapat banyak sekali perkataan-per-kataan yang ganjil, perbuatan yang aneh dan anggapan-anggapan yang sesat yang sangat tidak pantas untuk dinisbatkan kepada seorang shalih sekualitas syaikh Abdul Qadir al-Jai-lani. (Buku Putih Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, karya Dr. Said bin Musfir al-Qahthani hlm. 471).

Asy-Syathnufi menyebutkan da-lam kitabnya itu bahwa Umar Al-Bazzar berkata: Saya keluar bersama Syaikh Abdul Qadir al-Jailani ke mes-jid, tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang menyalaminya. Lalu saya berkata dalam hati, ” Sungguh aneh, setiap hari Jum’at kami tidak sampai di masjid kecuali dengan penuh sesak karena orang-orang berdesak-desakkan hendak menyalami Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Tetapi kenapa sekarang mereka tidak menyalami Syaikh?” Belum selesai saya berfikir, tiba-tiba Syaikh Abdul Qadir al-Jai-lani melihatku sambil tersenyum. Tiba-tiba manusia berebutan untuk bersa-laman dengannya hingga mereka memisahkan antara saya dengannya. Saya katakan pada diri saya, “Ter-nyata keadaan pertama lebih baik dari keadaan ini.” Lalu beliau menoleh kepadaku sambil tersenyum karena mengerti apa yang ada dalam pikiran saya dan berkata, “Wahai Umar, ini-kah yang kamu inginkan? Tidakkah kamu tahu bahwa hati-hati manusia ada di tanganku (saya kendalikan), jika saya mau mereka bisa saya jauh-kan dariku dan jika saya mau mere-ka bisa saya dekatkan denganku.” (Bahjatul Asraar, hlm. 76).

Riwayat di atas jelas batil karena yang mampu mengendalikan hati-hati manusia hanyalah Allah Ta’la. Dalam hadits yang shahih Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya hati se-luruh bani Adam berada di dua jari dari jari-jari Allah Yang Maha Rahman, seperti hati satu orang, Dia membolak-balikkan hati-hati tersebut sesuai de-ngan kehendak-Nya.” (HR. Muslim, no. 2654).

Asy-Syathnufi juga menyebutkan bahwa Abu Hafsh Umar Al-Kaimani berkata: Syaikh Abdul Qadir Al-Jai-lani bisa berjalan di atas angin yang dapat disaksikan oleh orang-orang yang ada di dalam majelisnya dan beliau berkata, “Matahari tidak terbit hingga mengucapkan salam kepadaku. Tahun datang kepadaku, mengucap-kan salam dan memberitahuku apa yang akan terjadi di dalamnya. Bulan datang kepadaku, mengucapkan sa-lam dan memberitahuku apa yang akan terjadi di dalamnya. Minggu datang kepadaku, mengucapkan sa-lam dan memberitahuku apa yang akan terjadi di dalamnya. Hari datang kepadaku, mengucapkan salam dan memberitahuku apa yang akan terjadi di dalamnya. Demi keagungan Tuhan-ku, sesungguhnya orang-orang yang bahagia dan sengsara telah ditunjuk-kan kepadaku di Lauhul Mahfudz. Saya menjadi hujjah bagi kalian se-mua dan saya adalah wakil Rasulul-lah dan pewarisnya di bumi. (Bahja-tul Asraar, hlm. 22).

Riwayat itu jelas batil, karena ti-dak ada manusia yang bisa mengeta-hui perkara ghaib. Mustahil tahun datang kepada Syaikh, bulan datang kepada Syaikh, minggu datang ke-pada Syaikh lalu semuanya memberi tahu kepadanya tentang apa yang akan terjadi pada masa-masa tersebut. Padahal Allah telah berfdirman kepada Rasul-Nya, “Katakanlah (wahai Muhammad): Sesungguhnya aku ti-dak berkuasa menarik kemanfa’atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehen-daki Allah. Dan sekiranya aku menge-tahui perkara yang ghaib niscaya aku akan meraih kebaikan sebanyak-ba-nyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. ” (QS. 7: 188)

Ibnu Taymiyah berkata dalam Majmu’ Fatawa-nya, “Ada seorang syaikh di Mesir yang sebelum mening-galnya berwasiat kepada pembantu laki-lakinya, ‘Jika nanti aku mati maka jangan engkau izinkan seorang pun untuk memandikanku, karena aku akan datang sendiri dan memandi-kan diriku.’ Ketika dia telah mening-gal, pembantunya melihat seorang laki-laki yang mirip tuannya yang telah meninggal itu masuk ke kamar mayat, dan dia yakin bahwa orang itu adalah tuannya. Orang itu kemu-dian masuk ke dalam dan meman-dikan dirinya sendiri. Setelah selesai memandikan dirinya orang itu lenyap kembali. Sebenarnya orang itu adalah syaitan yang telah menyesatkan si mayit dan berkata kepadanya, ‘Se-sungguhnya engkau akan hidup kem-bali setelah matimu untuk meman-dikan dirimu.’ Tatkala syaikh itu mati, syaitan datang dalam rupa syaikh tersebut untuk menyesatkan orang-orang yang hidup sebagaimana dia telah menyesatkan si mayit.”

Tanda-tanda Karomah yang Palsu

1. Sumber berita tidak jelas

Salah satu ciri dari karomah yang palsu adalah sumber beritanya tidak jelas dan tidak bisa dipertanggunggja-wabkan. Atau, berita itu memang sengaja dibuat-buat dengan tujuan agar orang-orang mengagumi tokoh tersebut.

Inilah yang memang banyak ter-sebar di masyarakat kita. Cerita-ce-rita tokoh sufi yang memiliki banyak karomah disebarluaskan tanpa ada rujukan yang jelas. Cerita-cerita ini biasanya tidak memiliki sanad (jalan periwayatan) dan hanya sebatas ka-bar burung.

Hal ini sangat berbahaya bagi aqidah kaum muslimin. Secara tidak langsung, cerita-cerita ini merupakan alur pembodohan umat. Kaum mus-limin dibodohi dan ditipu dengan ce-rita-cerita palsu sehingga, mereka mempercayai sesuatu yang tidak ada.

2. Menyalahi Syariat

Karomah yang benar dari Allah adalah karomah yang sejalan dengan syariat Islam dan tidak bertentangan dengan salah satu prinsip aqidah Is-lam. Sedangkan karomah yang palsu bertentangan dengan prinsip-prinsip aqidah Islam, seperti seorang wali bisa membaca isi hati manusia, bisa tahu ilmu ghaib, atau minum khamr dan lain sebagainya.

3. Terjadi karena bantuan syaitan.

Syaitan menampakkan hal-hal yang aneh dan ajaib yang terjadi pada para walinya dengan tujuan menye-satkan manusia. Kekufuran para peng-aku wali dan kemaksiatan mereka menjadi jalan bagi syaitan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah. Sehingga, manusia menyangka bah-wa dia adalah wali Allah, padahal, ia tidak lain adalah wali syaitan .

Salah satu contoh dari perkara ini pernah terjadi pada masa Abu Ba-kar. Musailamah al-Kadzdzab dan al-Aswad al-Ansi yang mengaku se-bagai nabi, menyampaikan beberapa perkara ghaib yang membuat banyak manusia tertipu. Ini semua adalah bagian dari perbuatan syaitan yang dianggap karomah oleh orang-orang yang tertipu dengan pengakuannya.

4. Muncul dari orang-orang yang mengaku sebagai nabi, atau ahli bid’ah.

Hal ini seperti yang terjadi pada diri Lia Eden yang mengaku menda-pat ilham dari Malaikat Jibril dan bisa mengobati para pasiennya dengan sebuah mata air yang ada di rumah-nya. Juga terjadi pada dukun-dukun dan tukang ramal serta tokoh-tokoh ahlul bid’ah. Oleh karena itu, sangat benar sekali apa yang dikatakan oleh Imam asy-Syafi’i, “Apabila engkau lihat seorang mampu berjalan di atas air atau terbang di udara maka ja-nganlah engkau terpedaya olehnya hingga engkau teliti sejauh mana ia mengikuti (ittiba’) Rasulullah.”

Dampak Buruk Kekeliruan Memahami Karomah

Membuka pintu khurafat

Karomah -karomah yang palsu dan menyesatkan ataupun karomah yang benar namun disalahartikan bisa menjadi jalan tersebarnya khu-rafat. Orang-orang yang lemah iman-nya akan mudah tertipu dengan ben-tuk-bentuk kekaromah an dari para wali setan atau mereka akan salah mengartikan karomah dari para wali Allah.

Masyarakat menjadi kental deng-an cerita-cerita khurafat atau takhayul. Meyakini bahwa bumi ini diatur oleh Allah bersama para wali quthub. Se-perti keyakinan bahwa syaikh fulan adalah wali Allah yang mengatur per-putaran angin sedangkan syaikh yang lainnya mengatur siklus air. Mengang-gap bahwa derajat para wali tertentu mampu melebihi derajat para nabi dan malaikat. Seperti keyakinan bah-wa syaikh fulan mampu mengembali-kan nyawa seseorang yang telah di-cabut oleh Malaikat Maut. Atau khu-rafat lainnya yang mengatakan bah-wa seorang mursyid (guru thariqat) memiliki pengawasan terhadap para muridnya di setiap tempat dan di se-tiap waktu. Pengawasan ini sama halnya dengan pengawasan malaikat Allah.

Contoh lain dari dampak ini a-dalah apa yang pernah disampaikan oleh salah seorang mantan Menteri Agama yang menginstruksikan peng-galian harta karun di Batu Tulis, Bo-gor, karena ia menerima wangsit bah-wa ada harta terpendam di dalamnya.

Munculnya pemimpin munafik

Karena dianggap memiliki karo-mah , maka seorang yang dianggap wali bisa naik sebagai pemimpin. Ia dikultuskan oleh masa fanatiknya. Semua kebijakannya dianggap benar dan merupakan ilham dari langit. A-kibatnya terjadilah taqlid buta.

Meremehkan sebab

Para rasul yang Allah utus adalah para pekerja. Di antara mereka ada yang bekerja sebagai pedagang, pan-dai besi, tuhkang kayu, penggemba-la kambing, dan lain sebagainya. Ti-dak ada satupun dari para nabi ini yang hanya mengemis atau mengha-rapakan pemberian orang lain. Ini adalah gambaran bahwa hamba-hamba Allah yang shalih adalah o-rang-orang yang rajin berusaha.

Bagi kaum muslimin yang terti-pu dengan karomah -karomah palsu atau awam dengan pemahaman ten-tang karomah, terkadang mereka menjadikan karomah para wali atau orang-orang shalih sebagai sarana untuk mencari rizki. Mereka jadi malas berusaha namun rajin mencari ka-romah -karomah yang belum tentu benar.

Demikian pula dalam memper-juangkan agama Allah, para nabi te-lah memberi contoh berupa pengor-banan dan jihad dengan harta dan jiwa. Namun orang-orang yang larut dalam karomah-karomah semu, me-reka bermimpi bahwa Islam bisa tegak tanpa perjuangan. Cukup dengan karomah Syaikh Fulan atau kesak-tian Syaikh Fulan. (Redaksi).

%d blogger menyukai ini: