Tahun I Edisi 04


Anugrah Ilahi Untuk Para Mujahidin

(Kumpulan Kisah Nyata)

Allah Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya engkau dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik…”

(QS. Al-Maaidah: 82)

Kesaksian Seorang Pilot:

Para Mujahidin Afghanistan

Terdapat beberapa contoh hi-dup yang diceritakan oleh za-man sekarang ini kepada kita. Ini dia negara kawasan Balkan, seri-gala-serigala syirik berontak dan me-ngamuk untuk membunuh dan me-nodai kesucian orang-orang Islam di Chechnya dan Bosnia. Orang-orang komunis merayap di sana dan meng-ubahnya menjadi sungai-sungai yang mengalir di dalamnya darah kaum Muslimin, seperti yang mereka lakukan sebelumnya di Afghanistan. Ne-geri ini hidup selama enam belas tahun merintih kesakitan di bawah se-napan, peluru, dan pisau belati musuh-musuh Islam, yang menyebabkan banyak lembaga-lembaga bantuan untuk menyelamatkan saudara-sau-dara mereka yang terkena musibah, para pemuda Islam pun berdatang-an dari semua tempat untuk meno-long mereka ketika mereka mende-ngar panggilan.

“…Wahai Islamku … Wahai Is-lamku!”

Ketika bala’ semakin meningkat di negeri Afghanistan, pemuda Muslim itu pun bergerak sambil menyandang senjatanya dan maju tak gentar. Pe-dagang pun maju menginfakkan har-tanya. Seorang alim pun maju dan bergerak dengan ilmunya. Mereka se-mua maju dan bergerak mendaki bu-kit-bukit, dataran rendah dan sungai-sungai negeri Afghanistan yang me-dannya sangat sulit, namun mereka dengan bayonet senjata mesinnya, berdiri di atas bukit dalam keadaan menantang dan mengamati bukit-bu-kit yang menjulang tinggi itu, dan su-ngai-sungainya yang besar yang mem-beri minum biji-biji kehidupan.

Sungai-sungai itu menyaksikan ba-gaimana tentara Islam dari Arab me-naklukkannya pada masa seorang pahlawan penakluk Muhammad bin Al-Qasim (pahlawan Negara As-Sindi) di mana Kabul berhasil ditaklukkan. Sebelumnya orang-orang Islam me-naklukkan Nahawand dan Balakh yang meneruskan perjalanannya se-telah itu hingga sampai di tembok Cina yang mengembangkan tangan-nya karena kedatangan mereka. Hal ini menyebabkan ratusan juta orang dari penduduk Asia memeluk Islam, kemudian lihatlah sekarang bumi Af-ghanistan menyaksikan kembali ke-datangan mujahidin Arab untuk mem-perbaharui kemuliaan para pendahu-lunya dan mengembalikan bentuknya yang indah ke dalam jiwa dan pikir-an setelah dilupakan cukup lama.

Senyuman asing mengembang pada wajah Kapten pesawat dan ke-dua matanya memandang barisan para pemuda yang maju untuk ber-jihad di Afghanistan, mereka sedang menaiki tangga pesawat Air Bus di bandara Lahore (dinamakan kota il-mu, terletak di utara Pakistan), para pemuda yang umurnya antara lima belas hingga tiga puluh tahun, para pemuda yang penuh semangat dan energik, mereka merelakan jiwa dan harta di jalan Allah, mereka datang untuk menolong saudara-saudara Is-lam mereka di Afghanistan, menem-puh jarak yang cukup jauh, berjalan di atas jalan yang berkelok-kelok dan bersalju berjam-jam dan berhari-hari.

Tak satu gunung pun yang meng-hadang di depan mereka kecuali me-reka menaikinya. Tidak juga suatu lembah pun kecuali mereka seberangi. Mereka membawa bantuan, senjata dan perlengkapan perang untuk te-man-teman mujahidin mereka, per-kataan mereka adalah tasbih, dan langkah mereka adalah tahlil, mere-ka tidak terlepas dari berdzikir kecuali sedikit. Mereka melihat surga dan bi-dadarinya dalam tidur mereka, dan menjanjikan jiwa-jiwa mereka untuk pertemuan yang dekat, bau harum kasturi tercium dari sebagian mere-ka yang gugur. Kami berharap mere-ka mati dalam keadaan syahid di si-si Allah, sehingga bau harum itu menggerakkan dahan-dahan kerin-duan kepada Daar An-Na’im (Surga yang penuh kenikmatan).


Pesawat itu penuh sesak oleh me-reka dan orang-orang lain, di antara mereka ada yang masuk ke medan peperangan selama satu tahun atau dua tahun atau lebih, di antara me-reka ada yang jujur dalam niatnya, ada yang bohong, masing-masing akan diperhitungkan oleh Allah Ta-’ala menurut niatnya masing-masing, sebagaimana sabda Nabi Muham-mad,

“Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi maka dialah yang di jalan Allah.”

Setelah para pemuda itu berada di kursi-kursi mereka, pintu-pintu pe-sawatpun ditutup, mesin-mesinnya dinyalakan, kemudian berjalan di atas landasan bandara, dimulai dari lan-dasan pacu dan menunggu saatnya untuk take off.

Pesawat pun terbang melepas ban-dara Lahore menuju bandara Dahran, dan orang yang mengawasi pesawat-pesawat yang membawa para muja-hidin, akan menemukan kekhusyu-’an yang menyelimuti mereka, para penumpang pesawat itu sibuk dengan dzikir, tasbih, membaca al-Qur’an atau shalat, tidak ada waktu yang hi-lang oleh perkataan yang tidak ber-guna, atau menyaksikan film-film yang tak ada manfaatnya, atau bermain kartu atau kesehatan yang dibuang dengan menghisap rokok. Mereka te-lah mengerti bahwa waktu bagi se-orang Muslim sangat berharga dan merupakan kehidupannya, oleh ka-rena itu wajib dipergunakan untuk ta-at kepada Allah. Itu adalah kehidup-an jihad dan tidak satu umatpun me-ninggalkan jihad kecuali umat itu menjadi hina sebagaimana sabda al-Mushthafa,

“Tidak satu umat pun meninggalkan jihad kecuali ia menjadi hina.”

Di antara para pemuda itu ada se-orang pria yang mendekati umur 20 tahun. Wajahnya yang putih oleh se-nyuman yang diberikannya kepada-ku yang disusulnya dengan ucapan salam kepadaku ketika aku memotong-nya dari membaca Al-Qur’an dari mushaf kecil di tangannya, ketika aku berjalan-jalan di antara para penum-pang kelas VIP untuk mengucapkan salam kepada mereka dan mencari-tahu tentang berita jihad di sana.

Pemuda itu memintaku untuk ber-henti dan bertanya, “Apakah Anda Kapten Pilot?”

“Ya,” jawabku.

Seolah aku memahami apa mak-sud pertanyaannya itu, maka aku me-nyempurnakan jawabanku,

“Tapi ada Kapten Pilot lain yang membawa pesawat sekarang, karena tugas saya sebagai Kapten Pilot su-dah selesai, yaitu membawa pesawat dari Jeddah ke Lahore. Adapun rute kembali maka ia merupakan tugas Kapten Pilot yang lain yang mener-bangkan kita sekarang, saya sekarang musafir seperti Anda.”

Lalu kami pun mulai bertukar pi-kiran tentang jihad dan kondisi-kon-disi para pejuang, aku mendengar-kan banyak kisah menakjubkan yang terjadi pada mereka di medan jihad, tentang berbagai kejadian karamah yang mereka alami dan mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri. Di antaranya tentang kawanan bu-rung-burung yang terbang di atas ke-pala tentara komunis dan melempari mereka dengan bom-bom. Kumpul-an-kumpulan dari tentara berkuda yang memakai pakaian putih-putih dan kuda-kuda mereka menyerang posisi-posisi tentara komunis dan me-nebas leher-leher mereka, dan kisah-kisah menakjubkan lainnya yang membuat setiap orang termenung dan memikirkannya ketika mendengar-kannya.

Di antara kisah menakjubkan yang aku dengar dari saudara kita itu ialah cerita seorang saudaranya yang telah pergi ke negeri Afghanistan setahun lalu untuk berjihad di jalan Allah. Ia menuturkan,

“Kami di Jeddah menerima kabar wafatnya saudara kami di suatu me-dan peperangan di sana, lalu ibu sa-ya mengutus saya untuk memastikan kebenaran kabar itu empat bulan se-belum ini, ketika saya sampai di sa-na –maksudnya Negara Afghanistan- saya menuju ke daerah (Jalalabad), saya berpindah dari desa ke desa lain, dari suatu tempat ke tempat yang lain dengan pertolongan saudara-sauda-ra yang datang dari Arab dan Afgha-nistan agar saya dapat menemukan tempatnya, begitulah saya berpindah dari kamp militer ke kamp yang lain hingga akhirnya sampai ke tempat-nya setelah pencarian selama empat bulan dari bergejolaknya peperang-an, saya ingin memastikan kabarnya maka saya dibukakan kuburan kakak saya, lalu sayapun terkejut bahagia, saya melihatnya sedang terlentang seperti orang tidur, tidak berubah war-na dan tidak juga sesuatupun dari tu-buhnya, bahkan saya mencium bau wangi kasturi yang menyebar dari-nya, kedua mata saya pun tergenang oleh air mata kebahagiaan dan kese-nangan, pada waktu itu saya berha-rap kalau saja ibu saya ada di sam-ping saya agar juga merasakan keba-hagiaan ini.”

Anak muda yang berkata-kata ke-padaku itu berkata dengan tenang, ia tersenyum bagaikan orang yang tengah disematkan pada dadanya medali kemenangan dan keberhasilan.

Pemuda itu melanjutkan ceritanya,

“Lalu saya ulurkan tanganku ke-padanya kemudian saya ambil sedi-kit rambutnya, sebagai tanda dan buk-ti untuk ibu saya yang selalu menan-ti-nantinya dengan kerinduan, mudah-mudahan bawaanku menjadi obat dahaga yang manis dan mengesan-kan.”

Pada saat demikian pemuda itu merogoh kantongnya dan mengeluar-kan sepotong daun kering biru cerah yang dilipat sedemikian rupa yang dapat menyimpan sesuatu di dalam-nya dan berkata kepada saya sete-lah mengulurkan tangannya kepada saya,

“Inilah sedikit rambut itu dan Anda dapat mencium aroma kasturi yang masih tercium darinya.”

Saya mengambil seikat rambut itu dari tangannya dan menciumnya, ke-mudian menciumnya lagi dan saya katakan dalam diri saya,

“Maha Suci Allah, alangkah wa-nginya aroma ini! Ini adalah bau pen-duduk dunia, maka bagaimana wa-nginya bau penduduk surga dan bi-dadari-bidadarinya serta apa yang di-sediakan Allah untuk para syuha-da yang berjuang di jalan-Nya…”

Maka kami memohon kepada Allah Ta’ala agar mengumpulkan kita ber-sama para nabi, orang yang benar (ju-jur), para syahid, orang-orang saleh. Dan sungguh mereka adalah sebaik-baik teman.


Kini kita terbang ke negeri Bosnia Herzegovina. Negara Bosnia yang di-deklarasikan pada tahun 1992 meru-pakan negara multietnis berpendu-duk 4,3 juta jiwa, dengan komposisi 43,7% etnis Bosnia (90% muslim), 31,3% etnis Serbia/Serbia- Bosnia (93% beragama Kristen Ortodox), 17,3% etnis Kroasia/Kroasia- Bosnia (88% beragama Katolik Roma) dan etnis lainnya 5,5%. Pada awal terja-dinya perang di tahun 1992, warga negara Bosnia yang terdiri atas etnis Bosnia dan etnis Kroasia bersama-sama menghadapi serangan tentara Serbia. Namun ketika keadaan Bosnia mencapai titik kritis, dimana sekitar 70% wilayah Bosnia direbut oleh Ser-bia, etnis Kroasia di Bosnia dibantu Negara Kroasia berkhianat dan ber-usaha merebut wilayah Bosnia yang tersisa (30%). Akibatnya Kroasia ber-hasil menguasai 20% wilayah Bosnia, sementara warga muslim Bosnia ha-nya menguasai 10% wilayahnya. Tin-dakan ini menjadikan muslim Bosnia terjepit oleh serangan dua musuh se-kaligus. Ironisnya, dalam keadaan se-perti ini PBB dan negara-negara Ba-rat bersikeras mempertahankan em-bargo senjata pada muslim Bosnia. Mereka menutup mata terhadap pem-bantaian besar-besaran yang terjadi di depan mata mereka. Dalam lang-kah majunya menguasai wilayah Bos-nia, pasukan Serbia melakukan pem-bantaian massal pada muslim Bosnia. Mereka yang beruntung masih hidup dipaksa meninggalkan tempat tinggal-nya. Sejarah mencatat perang ini di-tandai dengan pemerkosaan terha-dap para wanita Islam dilakukan se-cara massal dan sistematis. Bayi-ba-yi hasil perkosaan tentara Serbia akan dianggap warga etnis Serbia. Dengan demikian, kelak Serbia dapat meng-klaim sebagai etnis mayoritas di wi-layah-wilayah yang didudukinya. Se-rangan Serbia (yang kemudian di-bantu oleh Kroasia) terhadap muslim Bosnia telah menyebabkan tragedi kemanusiaan yang terbesar di Eropa sejak Perang Dunia kedua.

Pecahnya perang di Bosnia tidak luput dari perhatian para mujahidin yang ketika itu baru saja berhasil men-jatuhkan pemerintahan komunis di Kabul. Lima orang mujahidin dari Af-ghanistan segera bertolak ke Bosnia memeriksa kondisi yang sebenarnya. Temuan para utusan tersebut di la-pangan membenarkan terjadinya pem-bantaian terhadap kaum muslimin di Bosnia. Maka mulailah para mujahi-din dari seluruh dunia mengalir ma-suk ke Bosnia. Mereka ditempatkan dalam satu batalion yang khusus ter-diri atas mujahidin non Bosnia. Me-reka datang dari berbagai penjuru dunia.

Krisis yang terjadi akibat serang-an Serbia dan Kroasia, ditambah la-gi kehadiran para mujahidin yang bersemangat, mengingatkan kemba-li rakyat muslim Bosnia akan agama yang telah mereka tinggalkan selama ini. Semangat rakyat muslim Bosnia untuk kembali pada Islam semakin besar. Masjid-masjid mulai dipenuhi jamaah. Jilbab semakin banyak dike-nakan para muslimah. Majelis-majelis ilmu dan tahfizh al-Qur’an mulai ber-munculan kembali.

Kisah di bawah ini berasal dari ke-saksian orang pertama, yaitu orang yang secara langsung mengenal dan menyaksikan peristiwa gugurnya yang bersangkutan.

Kisah pertama,

ABU BAKAR AL-LIIBIY

Dari Libya, gugur pada tahun 1995.

Seorang mujahid menuturkan:

”Ia seorang saudara yang dicintai oleh para mujahidin, ia bertugas de-ngan ikhlas tanpa ganjalan di hatinya. Suatu hari ia melakukan tugas jaga. Allah mentakdirkan, pada saat itu se-buah roket musuh menghantam ta-nah di sampingnya dan meledak. Be-berapa serpihan roket tersebut me-nembus lehernya dan ia gugur seki-tar sepuluh atau lima belas menit ke-mudian. Para mujahidin kemudian menguburkannya. Namun pada saat itu mereka tidak mengetahui arah ki-blat, sehingga mereka menguburkan Abu Bakr ke arah yang salah. Sete-lah berlalu satu bulan, pimpinan ka-mi berkata,’Kita harus menggali ku-burnya dan menguburkannya kem-bali ke arah yang benar.”

Kemudian kami menggali kubur-annya kembali. Tanah di Bosnia ke-adaannya sama dengan keadaan ta-nah di Inggris, bahkan lebih becek. Saat kami mendapatkan jenazahnya, kami dapati jenazahnya masih utuh, tidak membusuk, tidak mengeluarkan bau dan bahkan darah masih meng-alir dari luka yang ada di lehernya.

Ini adalah sebuah hal yang meng-herankan karena saya sudah pernah melihat mayat-mayat orang-orang Serbia, yang baru satu jam mati sudah mengeluarkan bau hingga kami men-jauhinya. Setelah satu hari mayat-mayat itu berubah warna menjadi hi-tam. Seorang kulit putih berubah men-jadi hitam! Seminggu kemudian bau busuknya semakin keras … itu ke-adaan mayat-mayat yang berada di atas tanah, sedangkan saudaraku ini berada dalam tanah selama satu bu-lan dan jenazahnya tetap utuh.”

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan ber-jaga di front (ribath) di jalan Allah, ma-ka akan dialirkan baginya amal-amal shaleh yang dulu ia kerjakan, dan di-alirkan pula rezeki kepadanya, dan diamankan dari pertanyaan kubur, serta akan dibangkitkan pada hari ki-amat dalam keadaan aman dari keta-kutan yang dahsyat.”

(HR. Ibnu Majah dan Thabrani)

Kisah kedua,

ABU KHALID AL-QATARI

Dari Qatar, gugur ketika diserang pasukan Kroasia di Bosnia pada ta-hun 1993 dalam usia dua puluhan.

Ia seorang pemain bola voli dan anggota tim nasional bola voli Qatar, datang ke Bosnia pada akhir 1992. Abu Khalid menyukai tugas jaga (ri-bath), ia biasa mengambil tugas jaga double shift selama empat jam di te-ngah cuaca yang dingin.

Ia seorang mujahid yang sangat rendah hati dan shalih. Kulitnya hitam karena ia keturunan negro, namun para mujahidin melihat nur (cahaya) pada wajahnya. Ada dua buah tanda bekas sujud di keningnya karena la-manya sujud dalam shalat malamnya yang panjang.

Suatu hari ia pernah ditanya, “Ka-pan engkau akan kembali ke negara-mu, Abu Khalid?” Abu Khalid men-jawab, “Saya ingin syahid di sini.”

Abu Khalid pernah berkata pada seorang mujahid, “Dulu ketika di Qa-tar, saya telah membeli pakaian tem-pur untuk berperang di Afghanistan, tetapi ibu saya mencegah kepergian saya. Tetapi insya Allah, kali ini, de-ngan pakaian tempur yang sama, sa-ya akan syahid di Bosnia.”

Sebelum sebuah operasi melawan Kroasia, saat menerima pembagian kelompok oleh Amir, ia berbisik pa-da seorang mujahid di sampingnya, “Insya Alllah, kali ini Allah akan me-milih saya sebagai seorang syahid.”

Kemudian ia melakukan perjalan-an dengan mobil bersama lima orang mujahidin lainnya, salah satunya ada-lah Wahyuddin al-Mishri, Amir Mu-jahidin (semoga Allah merahmatinya). Mereka tersesat dan masuk sejauh tu-juh kilometer ke dalam wilayah mu-suh. Pasukan Kroasia menembaki me-reka dengan senjata anti pesawat hingga mobil mereka terpental enam meter ke udara. Semua mujahidin di dalamnya keluar dan bertempur hing-ga syahid.

Dua bulan kemudian, saat jena-zah mereka dikembalikan, para mu-jahidin dapat mengenali mereka, ke-cuali jenazah Abu Khalid al-Qatari. Jenderal Bosnia yang mengantarkan para jenazah mengeluarkan jenazah yang terakhir, jenazah itu berkulit pu-tih dan wajahnya juga berwarna pu-tih. “Ini saudara kalian yang terakhir.”

Para mujahidin mengatakan, “Ini bukan saudara kami, saudara kami berkulit hitam.”

Kemudian para mujahidin meme-riksa lebih lanjut jenazah itu. Mereka membuka bajunya dan menemukan bahwa dari bagian leher ke bawah, kulit jenazah itu berwarna hitam. Ke-mudian mereka membuka lengan ba-junya dan menemukan bahwa dari siku ke atas, kulit jenazah itu berwar-na hitam, sedangkan pada bagian le-ngan dan tangannya berwarna putih. Kemudian mereka menggulung cela-na panjangnya, dan menemukan bah-wa kakinya berkulit putih, namun da-ri tumit ke atas berwarna hitam.

Salah satu mujahid yang menyak-sikan berkomentar, bahwa sesuai de-ngan hadits Rasulullah tentang ci-ri-ciri umat beliau pada hari kiamat ialah bahwa anggota bekas wudhu-nya akan bercahaya.

“Sesungguhnya umatku akan di-panggil pada Hari Kiamat dalam ke-adaan bercahaya wajahnya dan ke-dua lengan serta kakinya karena be-kas wudhu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikianlah yang terjadi pada je-nazah Abu Khalid al-Qatari, semoga Allah menerimanya sebagai salah seorang syuhada.

Kisah ketiga,

SALMAN AL-FARSI

Dari Tunisia, gugur dalam operasi Miracle di utara Bosnia pada tanggal 21 Juli 1995.

Salman Al-Farsi suka berlatih. Ia suka berlatih di jalan Allah, agar ia menjadi mujahid yang kuat dan me-nimpakan kerusakan sebesar mung-kin pada musuh-musuh Allah. Ia se-lalu mendorong dirinya berlatih de-ngan niat untuk menghancurkan mu-suh-musuh Allah.

Salman seorang yang bertubuh be-sar. Ia tampak menarik perhatian de-ngan sebuah pedang besar, sepanjang lengan, yang diikatkan pada bahunya. Ia biasa mengenakan kain hitam se-bagai ikat kepalanya.

Bila ia berbicara, ia hanya berbi-cara tentang syahadah (mati syahid) dan surga. Kedua hal ini yang selalu dibicarakannya, tidak ada yang me-narik perhatiannya selain mati syahid dan surga.

Seorang mujahidin bercerita,

“Dalam operasi kedua saya me-ngenali rompi yang dipakainya, ka-rena hanya dia yang mengenakan rompi yang dilengkapi pedang. Ia te-lah gugur, namun para mujahidin ti-dak berhasil menemukan tubuhnya dan hanya menemukan rompi yang dipakainya. Saya bersama empat mu-jahidin lainnya mengambil rompi itu dan mencium sebuah aroma yang wangi. Aroma itu berasal dari darah-nya. Kami berlima saling melihat sa-tu sama lain karena terkejut dengan aroma wangi itu.

Sebelumnya kami mendengar ce-rita-cerita tentang aroma wangi itu, begitu pula keajaiban-keajaiban lain-nya yang terjadi, dan kami tidak per-nah meragukannya, namun kami ti-dak pernah menyangka akan mene-mui hal ini. Kami mencium wangi itu, begitu pula dua orang tentara Bosnia yang bersama kami.

Tidak salah lagi, ini adalah aroma wangi yang tidak dapat disamai par-fum apapun di dunia ini.. Aroma wa-ngi itu begitu indah dan membuat ka-mi merasa tenang dan nyaman. Insya Allah, ini adalah tanda bahwa Salman telah syahid, juga tanda bagi para mu-jahidin yang mencium aroma ini, bah-wa jalan ini (jihad) adalah jalan yang benar dan agar mereka tetap bersa-bar di jalan ini.”

Kisah keempat,

ABU DUJANAH (FAHD AL-QAHTHANI)

Dalam memulai pembicaraan ten-tang kisah seorang mujahid yang te-lah gugur ini, terlebih dahulu kami ku-tip hadits Rasulullah n:

“Sesungguhnya salah seorang di-antara kalian ada yang beramal de-ngan amalan penghuni neraka hing-ga jarak antara dirinya dan neraka itu tinggal satu hasta, kemudian ia dida-hului oleh catatan takdirnya, maka iapun beramal dengan amalan peng-huni surga kemudian ia mati lalu ia masuk ke dalam surga.” (HR. Mus-lim)

Saudara kita Abu Dujanah adalah seorang sopir truk di daerah timur Saudi, sementara di daerah itu ke-mungkarannya cukup kental.

Suatu hari ketika ia sedang pergi ke Bahroin untuk mengantar paket, dia sedang mabuk, hingga akhirnya truk yang dikendarainya oleng dan terplanting di atas jembatan Bahroin. Akan tetapi Allah menyelamatkan dia, mobilnya tersangkut di jembatan hing-ga ia tidak terjatuh ke laut. Kemudian ada dua orang yang hendak pergi ke Bosnia melalui jalan Bahroin. Ketika keduanya sedang melalui Jembatan, mereka melihat truk itu lalu meng-hampirinya. Mereka mendapatkan se-orang di dalam truk tersebut yang ter-nyata adalah tetangga salah satu dari dua orang tersebut, yaitu Abu Duja-nah. Kemudian orang tersebut dike-luarkan dari dalam truk,

Setelah selesai shalat, keduanya memberi nasehat kepada Abu Duja-nah ”Jikalau engkau mati pada saat kecelakaan itu sungguh kamu mati da-lam kesesatan. Oleh karena itu ber-syukurlah kepada Allah yang telah menyelamatkanmu dari kematian itu, Dia tidak mengakhiri hidupmu dalam kesesatan“.

Nasehat kedua saudara ini me-nyentuh hati Abu Dujanah. Setelah itu, ia sering berinstrospeksi dan me-ninggalkan teman-temannya yang rusak.

Dia bertanya kepada seorang mu-jahid yang baru pulang dari Bosnia tentang persoalan jihad dan kondisi Bosnia serta keutamaan para syuha-da’. Setelah mendengar jawabannya ia berkata: “Kalau begitu jalan yang paling dekat menuju surga adalah Ji-had di jalan Allah. Sekarang umurku sudah 36 tahun dan dipenuhi dosa serta maksiat. Aku meminta kepada-mu, demi Allah, agar aku bisa mene-manimu berjihad!”

Saudara tersebut berkata, “Seka-rang Bosnia sedang dikepung dari se-gala penjuru dan tidak mudah untuk masuk kesana, padahal saudara-sau-dara kita disana sedang menanti ada orang yang bisa membuka jalan ma-suk.

Adapun kalau ditempuh dari Kroa-sia dan Slovania, kedua negara ini pe-nuh kemaksiyatan, khamr, wanita ja-lang, dan penuh cobaan yang sese-orang tidak mampu bersabar meng-hadapinya“.

Abu Dujanah berkata: “Aku akan pergi walaupun aku harus menunggu selama satu tahun“.

Dan betul, ternyata Abu Dujanah pergi ke Kroasia dan tinggal di sebuah kota dekat pantai di Eropa yang pe-nuh dengan fitnah dan gemerlapnya dunia, padahal ia seorang yang ba-ru saja sadar dari kemaksiyatan. Ia telah sampai di kota itu yang meru-pakan perbatasan dengan Bosnia Herzegovina. Ia tinggal di sebuah ru-mah kecil bersama seorang teman yang datang dari Turki sekitar enam bulan lamanya demi mencari jalan masuk ke Bosnia. Seluruh waktunya ia pergunakan untuk shalat dan iba-dah serta mempelajari urusan-urus-an dien, hingga akhirnya ia menda-patkan kabar gembira yaitu dibuka-nya jalan menuju Bosnia.

Lalu pergilah ia ke Bosnia yang selama ini ia impikan untuk bisa ber-gabung dengan para mujahidin. La-lu bergabunglah ia dengan sebuah pasukan mujahidin di daerah Zinti-sia. Ia aktif mengikuti berbagai ope-rasi militer menghadapi tentara Ser-bia yang biadab.

Teman-temannya menyampaikan berita bahwa dalam waktu dekat ini akan ada operasi, maka ia pun ber-siap-siap.

Pada saat terjadi operasi Falasyij di tengah malam, ia berangkat ber-sama seorang teman dengan berja-lan kaki menuju musuh. Ia maju de-ngan membawa senjata RPG dan menghadang pasukan Serbia. Ia ber-sama Musthofa Al Busnawy (orang Bosnia) hingga mendekat ke parit se-jarak 10 meter, ia sudah bersiap-siap menyerang Serbia, akan tetapi… ti-mah panas mendahuluinya dan leher-nya pun tertembus oleh peluru.

Musthofa memeriksa tempat ter-bunuhnya lalu pergi dan meninggal-kannya dikarenakan dahsyatnya se-rangan musuh.

Lalu sang komandan mengutus dua orang singa Allah untuk meng-ambil mayat Abu Dujanah. Tetapi mayat tersebut telah diambil dan di-tahan oleh pasukan Serbia selama le-bih dari dua bulan.

Kemudian Palang Merah Interna-sional menghubungi tentara Bosnia dan mengabarkan akan permintaan Serbia untuk saling menukar mayat. Tentara Bosnia mengkhabarkan ke-pada mujahidin bahwa diantara ma-yat-mayat tersebut adalah seorang Arab.

Komandan tersebut berkata, ”Ka-mi pergi ke tempat penyimpanan ma-yat dan kami dapati mayat-mayat yang baru saja terbunuh kurang le-bih satu hari. Bau mayat-mayat ter-sebut sangat busuk. Lalu aku masuk dan berjalan diantara mayat-mayat hingga aku dapatkan peti mayat yang tertutup. Lalu peti itu aku angkat de-ngan seorang teman dan kami ke-luarkan mayatnya. Tentara memberi tahu kami bahwasanya di antara ma-yat-mayat ini ada mayat seorang Arab yang tidak disimpan di lemari es, te-tapi dicampakkan di tanah lapang. La-lu kami dekati saudara kami itu, ter-nyata mayat Abu Dujanah. Lalu aku buka sendiri penutup itu dari arah ke-pala. Perasaan khawatir menggelayut di kepalaku dan kepala temanku, ba-gaimana keadaan mayat tersebut se-telah dua bulan lebih ?, apakah telah dimakan ulat ? atau telah berubah kondisinya ? atau …? Lalu aku mem-buka tutup itu, tangan dan tubuhku tiba-tiba gemetar, karena ternyata wa-jahnya bagaikan bulan dan jenggot-nya berwibawa memancarkan caha-ya putih. Dan tidak ada perubahan sama sekali. Aromanya seperti aro-ma pohon Inai. Allah sebagai saksi akan kejadian tersebut kemudian pa-ra saudara dan semua yang hadir pun menyaksikan hal tersebut.

Mayatnya telah berlalu dua bulan setengah tapi tidak berubah sama se-kali hingga aromanya pun tidak ber-ubah.

Selamat tinggal wahai Abu Duja-nah. Semoga Allah memperbanyak bilangan orang-orang sholih seperti-mu.

KEAJAIBAN DI AFGHANISTAN
Berbagai peristiwa menakjubkan yang terjadi pada zaman sahabat dan tabi’in, ternyata juga dialami para mu-jahidin beratus tahun setelahnya. La-han jihad Afghanistan menyisakan berbagai kisah nyata pertolongan Allah terhadap kaum mujahidin dalam mengusir pasukan Tentara Merah Uni Soviet dari sana. Dr. Abdullah Azzam, salah satu panglima mujahidin Afgha-nistan yang terkenal, telah merang-kum dalam sebuah berjudul “Aayat-ur Rahmaan fii Jihadil Afghan” (Tanda-tanda Kekuasaan Allah dalam Jihad Afghanistan) tentang keajaiban-ke-ajaiban yang terjadi selama perang.

Misalnya, seorang anak usia tiga tahun, di malam hari dengan gagah berani membawa korek api menuju tank Soviet. Sang komandan bingung dan bertanya apa maksud bocah ter-sebut. Bawahannya dengan tergopoh-gopoh memberi tahu bahwa balita itu bertekad membakar tank-tank mu-suh yang masuk ke desanya.

Seorang wanita, dalam kesempat-an lain, ada di depan mesjid yang di dalamnya terdapat pejuang muslim yang tengah dikepung tank-tank mu-suh. Si wanita berdoa, “Ya Allah, jika Engkau akan memberikan kekalahan pada para mujahidin yang ada di da-lam sana, maka jadikanlah diriku se-bagai tumbal untuk menyelamatkan mereka…” Padahal, dua hari lagi wa-nita itu akan melangsungkan perni-kahannya. Benar saja, wanita itu te-was diberondong peluru tentara mu-suh dan para mujahidin bisa menye-lamatkan diri.

Ada pula kisah pasukan Mujahi-din yang hanya 40 personel mem-buat kalang kabut sepasukan besar Rusia. Dengan bermodalkan senjata sederhana dengan pinggang dililit kain kafan putih, mereka berteriak, ”Allahu Akbar!” dan menerjang barisan musuh. Anehnya, pasukan Soviet itu lari tung-gang langgang. Prajurit Rusia yang tertangkap mengaku, mereka kabur karena tiba-tiba melihat pasukan Mu-jahidin berjejal memenuhi bukit. Se-ruan ”Allahu Akbar” terdengar mem-bahana bak letusan ribuan senjata menggetarkan bumi.

Di daerah Syathura, mujahidin yang cuma berkekuatan 25 orang di-gempur musuh yang berjumlah dua ribu orang. Pertempuran sengit ter-jadi selama empat jam, dengan ke-menangan di pihak mujahidin. Mu-suh yang tewas sebanyak 80 orang dan 26 tertawan. Tawanan Soviet itu mengaku bahwa pasukan muja-hidin dengan senapan mesin buatan Amerika menghujani mereka dari em-pat penjuru mata angin. Padahal, 25 orang pejuang tadi hanya menggu-nakan senapan sederhana dan hanya menyerang dari satu arah.

Pasukan Beruang Merah juga tak-luk oleh cuaca. Pasukan mujahidin pimpinan Ahmad Syah Mas’ud (yang bergelar Singa Lembah Panshir) per-nah dikepung tentara Soviet di wila-yah Panshir. Mereka dipaksa berta-han di dalam gua. Sebulan kemudian, yang terjadi adalah justru tentara Ru-sia mati bergelimpangan karena ke-dinginan.

Pertolongan Bagi Orang-Orang Yang Beriman

Tahun 2001, Majalah Gatra per-nah menurunkan laporan tentang ke-saksian seorang mujahid dalam pe-rang Ambon. Mujahid itu bercerita bahwa dalam suatu kesempatan, mu-jahidin muslim terkepung di sebuah lembah. Dua helikopter besar ada di atas dan siap melontarkan bomnya. Sementara para mujahidin hanya pu-nya sisa satu bazoka. Allahu Akbar!!! satu bazoka itu menghancurkan se-buah helikopter, dan anehnya, kemu-dian menimpa helikopter yang satu-nya.

Perang yang dahulu (dan masih hingga kini) di Irak, sesungguhnya ju-ga menyisakan banyak pertanyaan tentang kejadian-kejadian ganjil. Ba-gaimana mungkin seorang petani de-ngan senapan sederhana bisa men-jatuhkan heli Apache yang paling canggih di dunia? Bagaimana mung-kin misil dan rudal-rudal yang terpro-gram dengan akurat bisa melenceng ke Iran, Turki, Saudi, atau Kuwait?

Yang jelas, pertolongan Allah tak dapat ditebak kapan dan di mana da-tangnya. Hanya saja, pertolongan Allah tersebut ditujukan kepada kaum yang berjuang dengan ikhlas mem-bela agama-Nya. Banyak riwayat pa-ra sahabat dan kejadian di dunia mo-dern seperti di atas menjelaskan ten-tang keajaiban yang Allah berikan di saat kondisi kaum muslimin terjepit, hampir tak berdaya. Allah berfirman:

Apakah kalian mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal be-lum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang ter-dahulu sebelum kalian. Mereka ditim-pa oleh malapetaka dan kesengsara-an, serta digoncangkan (dengan ber-macam-macam cobaan) sehingga ber-katalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datang-nya pertolongan Allah”. Ingatlah, se-sungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. al-Baqarah: 214)

“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian.” (QS. Muhammad: 7)


MAWAAQIF THAYYAAR, Qashas Waqi’iyah
Kapten Anas Al-Qauz
Biografi dan Karomah Syuhada Jihad Bosnia
Abu Hamdi
MIN QOSHOSHI AS SYUHADAI AL ‘AROBI
saaid.net
Iklan
%d blogger menyukai ini: