Tahun I Edisi 05


Animisme Seruan Syaitan

T

entang batilnya paham animis-me dan dinasmisme tidaklah memerlukan penjelasan yang panjang. Cukup untuk menunjukkan kebatilannya dengan mengungkap-kan kepercayaan dan jalan pikiran paham tersebut. Tetapi yang perlu di-sanggah di sini ialah perkataan se-bagian ahli sejarah yang berkata bah-wa animisme adalah asal-usul aga-ma di muka bumi. Artinya, keyakin-an yang pertama kali ada di muka bumi ini adalah keyakinan syirik (me-nyekutukan Allah).

Pendapat ini dilontarkan oleh se-bagian ahli sejarah Barat yang tidak membaca kitab suci al-Qur’an. Se-hingga tidaklah aneh, karena mere-ka tidak memiliki kitab suci yang men-jelaskan hakikat segala sesuatu. Te-tapi yang aneh adalah pendapat ter-sebut diikuti oleh sebagian peneliti muslim seperti Abbas Mahmud al-‘Aqqad. Ia berkata dalam bukunya “Allah”, sebuah buku yang memba-has tentang sejarah akidah ketuhan-an, bahwa manusia mengalami per-kembangan dalam keyakinannya. Bermula dari keyakinan yang primi-tif lalu berkembang sedikit demi se-dikit menjadi sebuah agama yang utuh. Ia berpendapat bahwa perkem-bangan manusia dalam hal akidah sama persis dengan perkembangan-nya dalam ilmu pengetahuan.

Pendapat ini jelas batil dan me-nyalahi nash-nash al-Qur’an. Sebab, al-Qur’an menceritakan kepada kita bahwa agama manusia yang perta-ma, yaitu Adam, adalah Islam. Sejak mula diciptakan, Adam te-lah mengenal Tuhannya dan tidak menyembah selain Allah. Demi-kian pula dengan anak cucu Adam, mereka semuanya menyembah Tuhan yang satu dan tidak menye-kutukan-Nya dengan suatu apapun. Hal ini berlangsung sampai sepuluh kurun atau sepuluh abad. Baru pa-da zaman nabi Nuh p terjadi pe-nyimpangan serius dalam masalah akidah. Manusia mulai menyekutu-kan Allah dengan berhala-berhala mati. Inilah kesyirikan yang pertama kali di muka bumi. Allah berfirman:

“Manusia itu adalah ummat yang sa-tu. (Setelah timbul perselisihan), ma-ka Allah mengutus para nabi, seba-gai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.” (QS. Al-Baqa-rah: 213).

Maksud dari perkataan Allah “Manusia itu adalah ummat yang sa-tu.” ialah umat yang satu dalam tau-hid.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ab-dullah bin ‘Abbas bahwa ia ber-kata, “Antara Nabi Adam dan Nabi Nuh adalah sepuluh kurun, mereka semua di atas syariat yang haq. Lalu setelah itu mereka berselisih… kemu-dian Allah  mengutus para nabi un-tuk menyampaikan kabar gembira dan peringatan.”

Ibnu Katsir berkata, “Pendapat Ibnu ‘Abbas di atas adalah pendapat yang paling benar dan paling kuat sanadnya. Karena, manusia seluruh-nya dahulu mengikuti millah (agama) Adam hingga datanglah masa di-mana manusia menyembah patung-patung. Kemudian diutuslah Nuh ke tengah-tengah mereka.” (Taisiirul ‘Aliyyil Qadiir, jilid I, hlm. 171).

Asal Mula Kesesatan

Satu hal yang perlu ditegaskan di sini ialah, tidak ada di muka bumi ini satu kitab yang menjelaskan tentang sejarah akidah dengan benar selain Kitabullah (al-Qur’an). Sedangkan il-mu manusia tidak mungkin mampu menjelaskan sisi ini secara memuas-kan. Ini disebabkan oleh beberapa faktor:

1. Apa yang diketahui oleh para ah-li tentang sejarah manusia lima ribu tahun yang silam sangatlah sedikit. Tidak banyak fakta-fakta yang bisa diungkap dari sejarah manusia lima puluh abad yang lalu. Apalagi sepuluh ribu tahun yang lalu (seratus abad silam). Sa-ngat-sangat sedikit sekali yang bi-sa diungkap. Sedangkan sejarah yang terjadi sebelum itu maka ia adalah misteri yang sama sekali tidak diketahui oleh manusia.

Jadi, ilmu sejarah yang banyak di-banggakan oleh manusia itu sebenar-nya tidak lebih dari pisau tumpul yang sama sekali tidak mampu membedah masa lalu yang sangat jauh. Banyak di antara rekaman sejarah itu yang tidak lain adalah teori-teori dan pra-duga-praduga yang tidak berdasar-kan bukti. Mirip dengan teori Darwin, yang semula dianggap ilmiah tetapi kemudian terbukti tidak lain hanya khayal yang diilmiahkan.

2. Dokumen-dokumen sejarah yang diwarisi oleh manusia, sebagian besarnya telah tercampur dengan kebatilan. Siapa yang bisa men-jamin bahwa dokumen-dokumen tertulis tersebut (baik yang tertu-lis di atas kertas, tulang, batu, dan sebagainya) dapat dijamin kebe-narannya? Untuk mencari tahu tentang sejarah hakiki seorang to-koh yang hidup di abad ini saja sudah sangat sulit. Ini karena ba-nyak fakta-fakta yang digelapkan atau diputarbalikkan. Lalu bagai-mana dengan sejarah yang ter-jadi sejak awal mula manusia?!

3. Sebagian dari sejarah yang ter-kait dengan keyakinan manusia pertama, tidak terjadi di bumi te-tapi di langit (yakni sebelum di-turunkannya Adam p ke bumi). Oleh karena itu, tidak ada yang bisa membekali kita tentang se-jarah yang benar, yang tidak me-ngandung distorsi (pembiasan), selain Allah. Hal ini karena:

“Sesungguhnya Allah tidak ada se-suatu-pun yang tersembunyi bagi-Nya di bumi maupun di langit.” (QS. Ali Imran: 5)

Allah  mengkhabarkan kepada kita bahwa Dia telah menciptakan Adam  dengan penciptaan yang sempurna lalu Dia tiupkan kepada Adam dari ruh-Nya. Setelah itu Dia menempatkan Adam di surga-Nya. Kemudian datanglah syaitan menggodanya untuk memakan buah yang dilarang Allah. Lalu Adam terpedaya oleh bisikannya dan mendurhakai Rabbnya. Maka Allah pun menurunkannya dari surga ke bumi. Namun sebelum Adam diturunkan, Allah telah berjanji un-tuk menurunkan petunjuk-Nya kepa-da Adam dan keturunannya, agar dengan petunjuk tersebut manusia mengenal Tuhannya dan jalan menu-ju ridho-Nya. Allah berfirman:

“Turunlah kalian dari surga itu! Ke-mudian jika datang kepada kalian pe-tunjuk-Ku, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mere-ka itu penghuni neraka; mereka ke-kal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 38-39)

Allah juga berfirman:

“Turunlah kamu berdua dari surga, sebagian kalian menjadi musuh se-bagian yang lain. Lalu jika datang ke-pada kalian petunjuk-Ku, maka ba-rangsiapa yang mengikuti petunjuk-Kemudian niscaya ia tidak akan ter-sesat dan celaka. Sedangkan barang-siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya bagi-nya ke-hidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.’ Berkatalah ia: ‘Ya Rabbku, mengapa Engkau meng-himpunku dalam keadaan buta pa-dahal aku dahulunya seorang yang melihat?’ Allah menjawab, ‘Demikian-lah, telah datang kepadamu ayat-ayat Ku, lalu engkau melupakannya, maka begitu pula pada hari ini eng-kau dilupakan.” (QS. Thaahaa: 123-126)

Telah dijelaskan di atas, bahwa Adam  dan sepuluh generasi se-telahnya berada di atas millah (aga-ma) yang haq. Penyimpangan aki-dah pertama baru terjadi pada zaman Nabi Nuh. Kemudian diutuslah Nuh untuk mengembalikan me-reka kepada tauhid yang murni. Se-telah Nabi Nuh berdakwah sela-ma sembilan ratus lima puluh tahun, maka mereka yang tetap bersikukuh di atas kesyirikan dimusnahkan oleh Allah dengan banjir besar yang membersihkan bumi ini dari orang-orang yang musyrik. Yang tinggal se-telah itu hanyalah orang-orang ber-iman.

Kemudian, ketika manusia me-nyimpang sekali lagi dari tauhid, Allah pun mengutus rasul-Nya untuk meluruskan penyimpangan mereka. Allah berfirman:

“Kemudian Kami jadikan sesudah mereka umat yang lain. Lalu Kami utus kepada mereka seorang rasul da-ri kalangan mereka sendiri (yang ber-kata): “Sembahlah Allah yang sekali-kali tidak ada sesembahan selain-Nya. Maka mengapa kalian tidak bertaq-wa (kepada-Nya)?” (QS. Al-Mu’-minun: 31-32)

Demikianlah kasih sayang Allah dan perhatian-Nya kepada Bani Adam. Setiap kali mereka tersesat dan menyimpang, Dia turunkan kepada mereka petunjuk-Nya dan Dia utus seorang rasul dari sisi-Nya.

“Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami secara ber-turut-turut. Tiap kali seorang rasul datang kepada umatnya, mereka men-dustakannya, maka Kami susulkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain dan Kami jadikan mereka buah mulut  (pembicaraan buruk ma-nusia), maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman itu.” (QS. Al-Mu’minun: 44)

Demikianlah sejarah umat manu-sia yang sebenarnya, yaitu sebuah pertarungan panjang antara haq dan batil. Antara para rasul yang me-nyampaikan petunjuk Ilahi dan kaum-nya yang menolak tauhid serta ber-pegang teguh kepada ajaran nenek moyang.

Allah berfirman:

“Belumkah sampai kepada kalian be-rita orang-orang sebelum kalian (yai-tu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang yang sesudah mereka? Tidak ada yang mengetahui tentang mereka selain Allah.Telah datang ke-pada mereka rasul-rasul (yang mem-bawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian) seraya berkata, ‘Sesungguhnya kami meng-ingkari apa yang kalian sampaikan (kepada kami), dan sesungguhnya ka-mi benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan tentang apa yang kalian serukan.’ Berkata rasul-rasul mereka, “Apakah ada keraguan ten-tang  Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kalian untuk memberi ampunan kepada kalian dari dosa-dosa kalian dan menangguhkan (sik-saan) sampai masa yang ditentukan.’ Mereka berkata, ‘Kalian tidak lain ha-nyalah manusia seperti kami juga. Kalian hanya ingin menghalang-ha-langi kami untuk menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepa-da kami bukti yang nyata.” (QS. Ib-rahim: 9-10)

Jadi, tidak ada suatu bangsa-pun yang tidak diutus kepada mereka se-orang rasul. Allah berfirman:

“Dan tidak ada suatu umatpun me-lainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan (rasul).” (QS. Fa-athir: 24)

Oleh karena itu, kita tidak menge-tahui nama-nama semua rasul yang telah diutus oleh Allah.

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ce-ritakan kepadamu dan di antara me-reka ada (pula) yang tidak Kami ce-ritakan kepadamu.” (QS. Al-Mu’min: 78)

Di antara buktinya adalah, umat-umat yang kelak dilempar ke dalam neraka jahannam, mereka semua mengakui bahwa telah sampai kepa-da mereka peringatan rasul.

Allah berfirman:

“Hampir-hampir (neraka) itu ter-pecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya se-kumpulan (orang-orang kafir), ma-laikat penjaga neraka itu bertanya kepada mereka: ‘Apakah belum per-nah datang kepada kalian (di dunia) seorang pemberi peringatan (rasul)?’ Mereka menjawab: ‘Benar ada, sung-guh telah datang kepada kami se-orang pemberi peringatan, akan te-tapi kami mendustakannya dan ka-mi katakan: ‘Allah tidak menurunkan sesuatu apapun; dan kalian tidak lain hanyalah dalam kesesatan yang be-sar.” (QS. Al-Mulk: 8-9)

Kesimpulannya, paham animis-me dan dinamisme muncul karena umat manusia menyimpang dari dak-wah para rasul.

Asal Usul Animisme

Setelah jelas bagi kita bahwa aga-ma yang pertama kali ada di muka bumi ini adalah Islam, agama tauhid, maka kemudian timbul suatu perta-nyaan, “Dari manakah datangnya paham animisme dan dinamisme itu?”

Rasulullah meriwayatkan da-lam sebuah hadits qudsi, firman Allah berikut:

Sesungguhnya Aku menciptakan se-luruh hamba-hamba-Ku dalam ke-adaan hanif (cenderung kepada tau-hid), maka kemudian datanglah syai-tan-syaitan kepada mereka lalu me-nyesatkan mereka dari agama yang benar, syaitan-syaitan itu mengha-ramkan bagi mereka apa yang Aku halalkan dan menyuruh mereka un-tuk menyekutukan Aku dengan se-suatu yang tidak pernah Aku perin-tahkan.” (HR. Muslim)

Jadi, sebenarnya syaitan-lah yang memberikan inspirasi kepada manu-sia untuk mengagungkan roh-roh atau meyakini kekuatan-kekuatan ghaib yang terdapat dalam benda-benda seperti pohon, batu, matahari, api, dan sebagainya. Tidak ada satu jalan pun yang menyimpang dari tau-hid melainkan syaitan ada di ujung jalan tersebut untuk menyeru agar manusia meniti jalan itu.

Abdullah bin Mas’ud berkata:

Suatu ketika Rasulullah menggaris suatu garis lurus kemudian bersabda: ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian be-liau membuat beberapa garis ke sam-ping kanan dan kiri-nya, dan bersab-da: ‘Ini adalah jalan-jalan yang lain, di setiap jalannya ada syaitan yang menyeru kepadanya!’, kemudian be-liau membaca firman Allah: ‘Inilah ja-lan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lainnya niscaya akan me-nyimpangkan kalian dari jalan-Nya.” (QS. al-An’aam: 153)” (HR. Bukha-ri, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Syaitan sangat berkepentingan agar sebagian besar manusia menem-puh jalan-jalan kesyirikan. Dia ber-usaha keras tanpa mengenal lelah un-tuk menarik pengikut sebanyak-ba-nyaknya dalam rangka memperban-yak teman di neraka jahannam. Se-hingga, orang-orang yang menyem-bah selain Allah sebenarnya me-reka tidak lain menyembah syaitan. Karena, syaitan-lah yang menghias-kan kepada mereka penyembahan terhadap berhala-berhala tersebut.

Oleh karena itu, Allah mempe-ringatkan anak cucu Adam de-ngan firman-Nya:

“Bukankah Aku telah berpesan ke-pada kalian wahai Bani Adam, ja-nganlah kalian menyembah syaitan! Sesungguhnya syaitan itu adalah mu-suh yang nyata bagi kalian. Dan hen-daklah kalian menyembah-Ku sema-ta. Inilah jalan yang lurus. Sesung-guhnya syaitan itu telah menyesat-kan sebagian besar dari kalian, ma-ka apakah kalian tidak berfikir?” (QS. Yaasiin: 60-62) 1

Iklan
%d blogger menyukai ini: