Tahun I Edisi 07


‘Tentara Salib Bayaran’ di Irak


Apa yang terbesit di benak kita ji-ka kita mendengar istilah tentara ba-yaran? Bisa dipastikan sebagian be-sar dari kita pasti membayangkan tentara bayaran hanya ada di film-film laga saja. Lalu, siapa yang menyangka kalau ternyata tentara bayaran ada di dunia nyata? Begitu profesional, terorganisir, serta telah menjadi bis-nis raksasa!

A

hmed Haithem Ahmed mung-kin tak menyangka hidupnya akan berakhir tragis. Sebelah kiri kepalanya hancur diterjang pe-luru ketika melintasi Nisour Square, Baghdad. Mohassin Kadhim, ibunda Ahmed, yang duduk di sebelahnya tidak dapat berbuat apa-apa selain berteriak, “Anakku, anakku! Tolong! Tolong!” Sejurus kemudian, Mohas-sin yang sedang memeluk Ahmed pun tertembak.

Para personel Blackwater, korpo-rasi penyedia jasa keamanan asal AS, dengan membabi-buta menembaki mobil yang dikendarai oleh Ahmed dan Mohassin. Ditemukan 40 lubang peluru di badan mobil tersebut. Pada klimaksnya, seorang personel Black-water tanpa sungkan melemparkan granat ke mobil tersebut. Bum!

Selain Ahmed dan Mohassin, ter-dapat 15 korban lainnya yang me-ninggal dunia dan sekitar 24 orang mengalami luka-luka. Insiden yang terjadi pada hari Minggu, 16 September 2007, ini kemudian membakar amarah, tidak hanya warga sipil, ta-pi juga pejabat tinggi pemerintah Irak.

Perang AS di berbagai negara, se-perti di Irak dan Afghanistan, bukan semata-mata karena alasan perang melawan terorisme. Perang itu juga menjadi ladang bisnis perusahaan senjata dan perusahaan jasa tentara bayaran. Bahkan perusahaan jasa tentara bayaran tersebut merupakan perwujudan dari penerapan ideologi Kristen konservatif, pendukung Pe-rang Salib. Seorang penulis bernama Jeremy Scahill mengupasnya dalam bukunya yang menjadi best seller. Selain Scahill, sebenarnya sudah banyak penulis yang mengupas tentang bisnis perang” dan agenda yang tersembunyi di dalamnya, yang melibat-kan negara-negara besar seperti AS dan sekutunya.

Dalam buku terbarunya berjudul Blackwater: The Rise of the World’s Most Powerful Mercenary Army” (Blackwater: Bangkitnya Kekuatan Tentara Bayaran Terkuat di Dunia), Scahill mengungkap keterlibatan Blackwater, perusahaan jasa tentara bayaran dan persenjataan swasta terbesar di AS dengan para theoconistilah bagi orang-orang yang meng-anut ideologi konservatif berdasarkan pada keyakinan bahwa agama seharusnya memegang peranan penting dalam membuat keputusan publik- dan pasukan milisi Kristen Sovereign Military Order of Malta (SMOM) di berbagai wilayah konflik di dunia.

Menurut istilah ensiklopedi Wiki-pedia, theocon mengacu pada ang-gota-anggota sayap Kristen, khusus-nya mereka yang menganut ideolo-gi sintesis elemen-elemen seperti pa-ham konservatisme sosial dan kalang-an orang-orang Amerika serta kalang-an penganut Kristen konservatif.

Scahill dalam bukunya menulis, perusahaan yang berbasis di Caroli-na Utara ini, memimpikan perusaha-an mereka menjadi perusahaan jasa kurir semacam FedEx, bagi operasi-operasi pertahanan dan keamanan AS. Mimpi itu nampaknya sudah terwujud karena saat ini Blackwater, sudah mendapatkan kontrak, terkait aktivitas perang di Irak dari pemerintah AS. Nilai kontraknya pun terbilang fantastis, mencapai 500 juta dollar AS atau 4,5 triliun rupiah. Angka ini belum termasuk “anggaran rahasia” pemerintah AS untuk kontrak-kontrak antara Blackwater dengan agen-agen intelijen AS.

Selain dari pihak pemerintah AS, Blackwater juga mendapat kontrak dari Departemen Luar Negeri AS se-besar 300 juta dollar atau 2,7 triliun rupiah. Pada tahun 2003, perusaha-an jasa tentara bayaran ini bahkan mendapat kontrak tanpa melalui ten-der dari Deplu AS untuk operasi per-lindungan terhadap Paul Bremer, wa-kil pemerintah AS di Irak.

Jejak Blackwater

Blackwater Inc. adalah salah satu dari sedikitnya 28 korporasi penyedia jasa keamanan swasta di Irak. Korporasi ini dikontrak oleh Departemen Luar Negeri AS untuk melindungi pe-jabat maupun pebisnis AS yang me-ngunjungi Irak. Menurut Scahill, Blackwater mengerahkan ribuan tentara yang sangat terlatih ke Irak dan Af-ghanistan. Berdasarkan laporan bu-lan Mei 2007, diketahui bahwa Black-water mempekerjakan sekitar 1000 personel, yang terdiri dari 744 warga AS, 231 warga negara ketiga, dan 12 warga Irak.

Perhatian publik, khususnya di AS, mulai tertuju ke Blackwater ketika korporasi ini ditugaskan untuk men-jaga keamanan L. Paul Bremer III, mantan diplomat AS yang menjadi pejabat Coalition Provisional Autho-rity (CPA). Nilai kontrak untuk men-jaga keamanan orang kepercayaan Presiden AS George W. Bush ini ada-lah 21 juta dollar AS atau 189 miliar rupiah.

Jumlah nilai kontrak bisnis yang berhasil diraih Blackwater dari peme-rintah AS sejak 2001 mencapai 1 miliar dollar AS. Sebuah nilai kontrak bisnis dan keuntungan yang mereka dulang dari kantong pajak rakyat AS dan tangis derita rakyat Irak. Tidak mengherankan apabila banyak ana-lis politik dan masyarakat AS yang mencibir Blackwater dan korporasi lain di Irak, seperti Bechtel Groups serta Kellogg, Brown & Root (KBR), dengan sebutan The War Profiteers (Pengambil Keuntungan Perang).

Sorotan terhadap Blackwater pun kembali mencuat ketika empat tentara bayarannya menjadi korban penyergapan pejuang Irak pada bulan Maret tahun 2004. Media-media massa menyebut mereka sebagai tentara AS tanpa senjata, yang sedang me-ngantarkan logistik ke markas militer AS. Keempat tentara itu dibunuh de-ngan cara dibakar dan tubuhnya di-gantung selama berjam-jam di sebuah jembatan di kota Fallujah. Peristiwa inilah yang memicu aksi serangan balas dendam besar-besaran “pasukan” AS ke kota Fallujah.

Pada saat itu, pemerintah dan media massa AS memanfaatkan momentum Fallujah itu untuk membentuk opini publik tentang ketidakberadaban pejuang Irak. Lalu mereka berusaha meraih simpati dan dukungan masyarakat terhadap kebijakan Ope-rasi Pembebasan Irak. Namun, pan-dangan berbeda justru diutarakan oleh para anggota keluarga korban peristiwa Fallujah, dalam film doku-menter “Irak for Sale: The War Pro-fiteers” garapan Robert Greenwald. Mereka bercerita bahwa kesalahan sebenarnya terletak pada korporasi Blackwater itu sendiri yang tidak memperhatikan jaminan keamanan kerja para pegawainya.

Dalam insiden 16 September, terungkap bahwa Blackwater melakukan penembakan terhadap warga si-pil Irak. Dilaporkan lebih dari 17 war-ga meninggal dunia. Anggota Komi-te untuk Reformasi Pemerintah Kongres AS Henry Waxman mengeluar-kan laporan lain tentang rekaman aktivitas tidak terpuji Blackwater di Irak. Waxman melaporkan bahwa Black-water sebenarnya sudah seringkali terlibat dalam insiden baku tembak dengan warga sipil Irak, tepatnya 195 kali. Sebanyak 163 insiden di antara-nya diawali oleh tembakan dari pihak personel Blackwater.

Data lain dari laporan komisi in-vestigasi pemerintah Irak juga me-nyebutkan bahwa Blackwater telah membunuh 38 warga sipil Irak dan melukai sekitar 50 lainnya sejak ta-hun 2003. Fakta ini terasa pahit mengingat tidak ada satu pun per-sonel Blackwater yang diseret ke me-ja hijau untuk kejahatan yang mere-ka lakukan.

Saat ini, “Cakar Blackwater” (lo-go korporasi) masih tetap mengeruk pundi-pundi uang di Irak. Tidak la-ma setelah insiden 16 September, personel Blackwater masih terlihat berkeliaran di Baghdad meski Perda-na Menteri Irak Nuri al-Maliki sudah mencabut izin operasi korporasi ter-sebut. Mirembe Nantongo, juru bicara Kedutaan Besar Amerika Serikat di Irak, memberikan keterangan bah-wa Blackwater kembali diperkenan-kan bekerja dalam misi yang terbatas setelah pihak AS berkonsultasi dengan pemerintah Irak (Tempo Interaktif, 21/09).

Mengatasnamakan Demokrasi dan Kebebasan

Perusahaan Blackwater didirikan pada tahun 1996 dan menjadi salah satu perusahaan jasa militer swasta terbesar di dunia. Perusahaan ini, me-nurut Scahill, memiliki 20 pesa-wat tempur dan 20 ribu tentara yang siap dikirim kapan saja sesuai pesanan.

Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS melaporkan, perusahaan-perusa-haan kontraktor swasta, seperti Black-water, merupakan “kekuatan” kedua AS di Irak. Saat ini, sedikitnya ada 48 ribu tentara bayaran yang berope-rasi di Negeri 1001 Malam itu. Banyak tentara bayaran yang tewas di tangan mujahidin. Data tentara bayaran yang tewas di Irak ini tidak masuk dalam data Pentagon.

Pendiri dan pemimpin Blackwater adalah Erik Prince. Prince adalah se-orang pendukung perang salib mo-dern. Dia sangat kaya dan merupa-kan sumber uang utama bagi Presiden George W. Bush. Sejak 1998, Prince mendonasikan sekitar 200 ribu dollar atau sekitar 1,8 triliun rupiah untuk kandidat presiden dari Partai Republik.

Sosok Prince adalah bukti betapa kuatnya kalangan fundamentalis Kris-ten dan Neocon secara politik. Pe-ngaruh kalangan ini sangat kental dalam menentukan kebijakan perang, dengan mengatasnamakan ‘kebeba-san’ dan ‘demokrasi’.

Neocon adalah kelompok pemikir di Amerika yang mayoritas keturunan Yahudi. Mereka menginginkan agar Amerika menjadi penguasa dunia satu-satunya dengan cara apa pun, termasuk menggunakan kekuatan senjata. Afghanistan dan Irak adalah korban mereka. Mereka dijuluki kaum Hawkish, karena kegemaran mereka menghasut Amerika untuk berperang.

Prince juga punya koneksi dengan kelompok-kelompok Kristen konser-vatif dan ikut membiayai organisasi-organisasi sayap kiri lewat yayasan Freiheit Foundation. Prince, selalu mengaitkan misi-misi perusahaan-nya dengan gerakan theocon.

Setiap orang membawa senjata, seperti Nabi Jeremiah membangun kembali kuil di Israel -pedang di tangan yang satu dan kulir di tangan satunya lagi,” demikian pernyataan yang pernah dilontarkan Prince.

Penulis Jacob Heilbrunn dalam artikelnya berjudul ”Neocon vs Theo-con” pada tahun 1996 menyatakan bahwa, “Para theocon, juga berargu-mentasi bahwa Amerika berakar pada ide tersebut, namun mereka meyakini bahwa ide itu sebenarnya ide-ide Kristen.“

Ideologi Perang Salib

Schahill, dalam bukunya juga me-ngupas tentang keterlibatan para ekse-kutif di Blackwater sebagai anggota dari milisi sebuah ordo dalam keya-kinan Kristen bernama Sovereign Military Order of Malta (SMOM).

Sejumlah eksekutif senior Black-water seperti Joseph Schmitz, bukan hanya penganut fanatis ideologi theo-con tapi juga anggota dari Sovereign Miltary Order of Malta, pasukan milisi Kristen yang misinya mempertahan-kan wilayah-wilayah perang Salib yang berhasil direbut umat Islam,” tulis Scahill.

Sebelum bergabung dengan Black-water sebagai Kepala Operasi dan anggota Dewan Umum pada tahun 2005, Schmitz mengatur semua kon-trak operasi militer di Irak dan Afgha-nistan. Schmitz adalah mantan inspek-tur jenderal di Pentagon, pada tahun-tahun pertama perang AS di Irak.

Pasukan milisi Sovereign Military Order of Malta awalnya adalah orga-nisasi sosial Kristen di al-Quds, muncul pada tahun 1080. Tugasnya mem-berikan bantuan bagi warga miskin dan peziarah yang datang ke Kota Suci itu, termasuk yang menderita sakit.

Setelah penaklukkan al-Quds pada 1095-era Perang Salib pertama- or-ganisasi ini menjadi Ordo Militer Ka-tolik. Setelah umat Islam berhasil me-rebut al-Quds, Ordo ini beroperasi dari wilayah Rhodesia, kemudian pin-dah ke Malta, dibawah kekuasaan kaum Sicilia di Spanyol. Para anggota Ordo Militer Katolik ini dikenal sebagaiPejuang Sukarelawan” yang mem-bantu pasukan Perang Salib menye-rang negara-negara Muslim di sepan-jang pesisir Italia, termasuk Tunisia, Libya dan Maroko.

Ordo Sovereign Military Order of Malta, sekarang memiliki negara sendiri bernama Malta yang berlokasi di Roma dan diakui oleh sekitar 50 negara di dunia. Sampai sekarang, Ordo ini di-duga masih melakukan misi-misi misio-naris di negara-negara yang sedang dilanda konflik, seperti Darfur di Su-dan, dengan berkedok sebagai orga-nisasi bantuan sosial.

Para anggota Ordo ini disumpah, yang berbunyi, ”Saya akan meleng-kapi diri saya sendiri dengan senjata dan amunisi, bahwa saya harus siap sedia ketika mendapat perintah, atau ketika saya dikomando untuk mem-bela gereja, baik secara individu mau-pun dengan pasukan milisi Paus.

The War Profiters

Keberadaan Blackwater di Irak semakin menandai perkembangan industri global tentara bayaran. Da-lam dekade terakhir ini terdapat tren berdirinya privatized military firms (PMFs) atau firma-firma militer swasta atau tentara bayaran. Selain Black-water, ada korporasi DynCorp Inter-national, TRW, Sandline, Executive Outcomes, MPRI, Vinnell, dll.

P.W. Singer, penulis Corporate Warrior (2003), menjelaskan bahwa tren PMFs ini membawa perubahan dalam hal “bagaimana bisnis perang, konflik militer, dan semua kebutuhan militer lainnya dijalankan”.

Saat ini, terdapat kecenderungan bahwa pemerintah AS lebih senang mengirimkan armada tentara swasta dibandingkan tentara reguler. Hal itu tentu dilatari sedikitnya dua pertimbangan strategis, tentunya setelah faktor penetrasi kalangan bisnis itu sendiri ke dalam pemerintah;

Pertama, dari sudut negara, peng-gunaan jasa PMFs memiliki nilai lebih dalam hal menjalankan operasi ke-amanan/militer, yakni efisiensi. Con-tohnya adalah seperti yang dipraktek-kan oleh Blackwater selama ini dan DynCorp yang meraih kontrak bisnis sebesar 1,9 miliar dollar AS atau 17 triliun rupiah untuk melatih polisi Irak. Pendek kata, pemerintah hanya ingin “tahu beres.”

Kedua, pemerintah bisa memini-malisir protes masyarakat mengenai penggunaan tentara reguler untuk kepentingan negara. Berbeda dengan tentara reguler, personel PMFs me-mang bekerja berdasarkan kebutuhan customer dan siap menanggung se-gala macam resiko pekerjaan –termasuk tewas ketika tugas. Jadi se-orang personel PMFs dituntut untuk memiliki kesadaran akan hal itu.

Dalam spektrum pandangan kritis, banyak analis ekonomi-politik yang berkesimpulan bahwa fenomena tren PMFs ini melahirkan praktek ekonomi yang disebut “bisnis perang”. o

Referensi:

wikipedia; eramuslim; aftermath; tempo; Blackwater dan Bisnis Perang, Muhamad Haripin

Iklan
%d blogger menyukai ini: