Tahun I Edisi 08


Rotary Club

Zionisme Berkedok Kemanusiaan

Sejarah Rotary Club

Pada tahun 1905 di Chicago, Ame-rika Serikat, berdiri sebuah perkum-pulan yang-notabene-bergerak untuk memberikan jasa kemanusiaan, mem-bangun kesadaran etika yang tinggi dan menciptakan kebersamaan juga kedamaian. Anggotanya terdiri dari para pemimpin bisnis dan kaum pro-fesional. Misinya terangkum dalam motto, “Service Above Self” (Pelaya-nan kepada yang lain lebih utama dari-pada kepentingan diri sendiri).

Paul Harris, pendiri yang juga se-orang pengacara, dibantu kawan-ka-wannya sanggup membawa perkum-pulan tersebut dari tataran komunitas lokal menjadi organisasi yang bertaraf internasional, hanya dalam jangka waktu 6 tahun sejak didirikan. Itulah Rotary Club (RC).

Tahun 1911, RC memindahkan pusat kegiatannya ke Dublin, Irlandia. Tahun 1921 RC membuka cabang (distrik) di Madrid, Spanyol. Di tahun yang sama pula berdiri cabang RC di Palestina. Disusul Maroko dan Alja-zair pada tahun 1930. Perkembangan ini dibarengi dengan meningkatnya jumlah anggota. Terhitung hingga ta-hun 1947 anggota RC telah menca-pai 327.000 orang. Pada periode 2006-2007 membengkak menjadi, kurang-lebih,1.200.000 anggota yang tersebar di 168 negara.

RC merupakan organisasi tanpa sekretariat. Keanggotaannya hanya terbatas melalui undangan dari se-orang Rotarian (sebutan bagi anggota RC) kepada para pemimpin bisnis dan profesional yang bekerja dalam berbagai bidang. Setiap klub hanya mempunyai satu anggota yang me-wakili satu bidang pekerjaan.

Rotary Club Indonesia

Rotary Club pertama di Indonesia didirikan pada tahun 1927 di Yogya-karta. Hingga tahun 1941 telah ada 26 klub dengan 219 anggota. Kegia-tan Rotary dihentikan pada masa Pe-rang Dunia II dan dilanjutkan kembali pada tahun 1946.

Hingga tahun 1961 jumlah klub mencapai 17 dengan anggota sebe-sar 533 orang. Kegiatan klub kembali terhenti dari tahun 1961-1970. Sejak saat itu, Distrik 3400 (sebagaimana Rotary Club Indonesia dikenal) telah berkembang hingga mempunyai 87 klub dan 1.850 anggota.

Seorang tokoh Rotary Club (RC) Indonesia, yang jika dilihat namanya, niscaya ia seorang Muslim. Orang ter-sebut adalah ”Governor 1992 Inter-national District 3400” TR. Tjoet Rah-man. Dalam rubrik Komentar majalah Tempo (18 Juli 1992), Tjoet Rahman mencoba meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa Rotary Club adalah murni sebuah organisasi kemanusia-an dan tidak ada kaitan dengan free-masonry.

Tjoet Rahman menjelaskan, Motto RC: Service above self, bakti tanpa pamrih. Caranya bukan seperti sin-terklas yang mengedrop harta untuk orang-orang miskin, melainkan me-lalui empat alternatif:

1. Club Service, bertujuan mening-katkan persahabatan antar ang-gota.

2. Vocational Service, kegiatan yang antara lain meningkatkan etik ker-ja, menghargai pekerjaan yang berguna, dan memanfaatkan pe-ngetahuan dan ketrampilan indi-vidu untuk mengatasi kesulitan masyarakat.

3. Community Service, kegiatan yang dapat memperbaiki cara dan taraf hidup masyarakat.

4. International Service, menjalin kerjasama dengan Rotary Club di seluruh dunia.

Jadi, usaha RC bukan hanya seke-dar menjadi sinterklas. Dan tanggung-jawabnya terlalu berat untuk ”para kapitalis yang hobinya berhura-hura”. Tjoet Rahman hendak mengesankan bahwa organisasinya itu eksklusif.

Padahal di daerah, pengusaha yang sudah bangkrut pun diterima menjadi anggota. Di jakarta pun banyak pen-siunan pegawai negeri yang jadi ang-gota RC. RC, sebagaimana Lions Club, berupaya mencari anggota se-banyak-banyaknya untuk dijadikan target audiences, sasaran propaganda Zionis.

Mereka yang berperilaku anob, sok kebarat-baratan, merupakan sasaran empuk jaringan Rotary dan Lions Club International. Untuk kemudian pada tingkat tertentu, tanpa atau de-ngan kesadaran yang bersangkutan menjadi bagian dari network lobi Ya-hudi.

Antara Rotary Club dan Gerakan Freemasonry.

Sebagian kaum muslimin mungkin asing dengan Freemasonry, atau de-ngan RC itu sendiri, hingga tidak bisa menemukan hubungan antara kedua-nya. Akibatnya bisa timbul penola-kan atas eksistensi, atau paling tidak, menganggap bahwa keduanya ada-lah organisasi yang berdiri sendiri, terpisah satu dengan lainnya. Memang secara logika, tidak mungkin sebuah lembaga kemanusiaan tanpa pandang bulu seperti RC berafiliasi dengan se-buah organisasi pendengki semacam Freemasonry. Sebuah organisasi yang sejarahnya banyak dilumuri oleh da-rah kaum muslimin.

Untuk membuktikan bahwa RC dan Freemasonry adalah setali tiga uang, maka kita perlu mengetahui le-bih dulu apa itu Freemasonry. Sekilas saja, Freemasonry adalah gerakan ra-hasia tertua (namun beberapa tahun belakangan ini mereka sudah berani muncul ke permukaan) yang masih eksis hingga kini. Awalnya hanyalah sebuah gerakan bathiniah. Namun pas-ca kepemimpinan Nabi Sulaiman, Bani Israil menjadi bulan-bulanan ke-rajaan-kerajaan lain. Silih berganti penjajah datang merongrong bangsa Israil, mulai dari Assiria, Babilonia, Masedonia hingga Romawi. Penja-jahan membuat banyak dari mereka terpaksa keluar dari negerinya. Penin-dasan ini mengakibatkan Freema-sonry berubah menjadi gerakan po-litik pembebasan.

Lalu apa hubungannya dengan RC?! Kita awali dari ditugaskannya seorang Freemason asal Jerman ber-nama Tasfaac pada tahun 1784, untuk menyusun kembali program Weiz Ho-wigt (seorang pendeta Kristen terke-muka dan profesor Theologi pada universitas Angold Stadt di Jerman. Murtad dari agamanya, kemudian mengikuti faham Atheisme. Lalu to-koh-tokoh Yahudi Jerman memutus-kan Weiz Howight sebagai seorang cendekiawan yang paling tepat untuk dimanfaatkan, demi kepentingan Ya-hudi). Kemudian program tersebut dituangkan dalam bentuk buku yang diberi nama “Program Asli yang Unik.” Program ini sendiri digulirkan untuk menguasai dunia, yaitu dengan me-letakkan paham Atheisme dan meng-hancurkan seluruh umat manusia de-ngan cara menyalakan api peperangan.

Buku tersebut kemudian dikirim melalui utusan khusus kepada bebe-rapa tokoh Yahudi di Paris, Perancis. Ditengah perjalanan, di sebuah kota kecil antara Frankfurt dan Paris, sang utusan tewas tersambar petir. Ketika mengadakan pemeriksaan, pasukan keamanan mendapati dokumen pen-ting tersebut di kantong mantelnya. Dokumen tersebut segera disampai-kan kepada yang berwajib di kerajaan Jerman.

Penguasa Jerman mempelajari dokumen tersebut dengan penuh per-hatian. Sadar akan bahaya yang me-ngancam, pemerintah Jerman segera mengeluarkan instruksi kepada pasu-kan keamanan untuk menduduki sa-rang Freemasonry The Grand Eastern Lodge. Demikian pula nama-nama yang terdapat dalam dokumen ter-sebut tidak luput dari penggerebekan pasukan keamanan. Di kediaman me-reka itu pula ditemukan dokumen penting lainnya mengenai program Yahudi.

Peristiwa kebocoran rahasia ini di-jadikan pelajaran berharga oleh per-kumpulan konspirasi Yahudi. Mereka merubah alur strategi. Kegiatan mereka selanjutnya banyak dialihkan ke da-lam perkumpulan Freemasonry yang lain, yang disebut The Blue Masonry, dengan tujuan mendirikan sebuah or-ganisasi Masonry di dalam Masonry itu sendiri. Maka muncullah RC. Untuk menutupi rencana jahatnya, dibung-kuslah RC dengan kain kemanusiaan.

Berkaca dari peristiwa kebocoran itu pula, Freemasonry melakukan se-leksi ketat dalam merekrut anggota. Begitu pula dengan RC. Walaupun tidak seketat induknya, tetap saja ke-anggotaan tidak bisa didapat hanya sekedar mengisi formulir dan memba-yar biaya administrasi.

Dari sisi filosofi, RC dan Freema-sonry, sama. Dalam Khoms Kanon (Asas Freemasonry), salah satunya berbunyi; “Gerakan Freemasonry ada-lah gerakan kemanusiaan. Dengan Freemasonry manusia dapat tolong-menolong dalam kebaikan tanpa mem-bedakan ras, agama, suku dan paham. Freemasonry adalah lembaga kema-nusiaan yang menyeru kepada etika dan keutamaan. Freemasonry menye-rukan kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan.” Asas ini biasa disebut dengan Humanisme.

Pernyataan dibawah ini jelas sama dengan asas Humanisme. Dikutip dari situs http://www.rotaryd3400.org, situs RC Indonesia, disebutkan; “Rotary adalah tentang manusia yang mencintai se-sama, siapapun dan dimanapun mereka. Rotary memungkinkan kita mengekspresikan cinta kasih kita dan membagikannya.” Kemudian di harian “Kedaulatan Rakyat” terbitan 10 De-sember 2007 tertulis, “Sebagai organi-sasi sosial nirlaba dengan jaringan in-ternasional antar Rotary Club diseluruh dunia saling bekerja sama untuk mem-bantu di bidang kemanusiaan tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras dan golongan.”

Asas Humanisme diterapkan tidak lain adalah untuk mengikis loyalitas terhadap agama, mengubur karak-teristik bangsa-bangsa. Dampaknya, pribadi-pribadi akan kehilangan iden-titas dan harga diri serta hidup dalam kebimbangan. “Humanisme harus kita jadikan sebagai tujuan selain dari Allah. Jadikan kemanusiaan itu sebagai Tu-han untuk disembah. Bentuklah etika kemanusiaan sebagai pengganti etika agama. Tidaklah cukup bagi kita (Ya-hudi) hanya mengalahkan mereka (para pemeluk agama) dan periba-datannya dengan humanisme sejati, melainkan dengan humanisme harus dapat memusnahkan mereka itu” (No-tulen Kongres Freemasonry Begardo 1911 dalam Asrar Masuniah)

Keterkaitan RC dengan Freema-sonry semakin nyata tatkala pendiri-nya, Paul Harris, ternyata seorang Yahudi. Walaupun dia pernah me-nyanggah keterlibatannya dalam Free-masonry, tapi dia tak bisa menyangkal kalau dia terdaftar sebagai anggota Liberty Masonic Lodge #301 (Rumah ritual/pertemuan Freemasonry). Dan banyak pula Rotarian pada masa-masa awal berdirinya adalah seorang Freemason. Begitu juga dengan pia-gam-piagam RC, banyak tersimpan di gedung-gedung dan kuil Mason.

Larangan Bergabung Menjadi Anggota RC

Bagi orang awam, RC tidak lebih dari sebuah perkumpulan yang uni-versal, peduli dengan kemanusiaan, dan ingin memajukan kesejahteraan dan perdamaian tanpa membedakan ras dan agama.

Untuk menyelamatkan umat dari cengkraman Yahudi, para fuqoha (ulama) mengeluarkan fatwa larangan orang-orang Islam untuk bergabung dengan Rotary Club. Fatwa ini dike-luarkan tanggal 15 Juli 1978 dalam muktamar yang diselenggarakan di Makkah.

Fatwa al-Mujammal al-Fiqhi Seputar Hukum bergabung Kepada Gerakan Freemasonry

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga dilimpahkan ke-pada Rasulullah, keluarga besar, para shahabat serta orang-orang yang berjalan di bawah petunjuk beliau. Amma ba’du.

Berdasarkan sejumlah tulisan dan teks yang telah diteliti darinya, al-Mu-jamma’ telah mendapatkan gambaran yang jelas dan tak dapat diragukan lagi sebagai berikut.

…sampai kepada….

[10]. Organisasi ini (Freemasonry) memiliki banyak cabang yang mema-kai nama-nama lainnya untuk menge-coh dan mengalihkan perhatian orang sehingga ia bisa melakukan aktifitas-aktifitasnya dibawah nama-nama yang beragam tersebut tanpa mendapatkan penentangan. Cabang-cabang terse-lubung dengan nama-nama yang be-ragam tersebut, di antaranya orga-nisasi hitam, Rotary Club, Lion Club, dan prinsip-prinsip serta aktifitas-ak-tifitas busuk lainnya yang bertenta-ngan dan bertolak belakang secara total dengan kaidah-kaidah Islam.

Oleh karena itu dan berdasarkan informasi-informasi lain yang rinci tentang kegiatan freemasonry, bahaya-nya yang besar, pengelabuannya yang demikian busuk dan tujuan-tu-juannya yang licik, al-Mujamma’ al-Fiqhiy memutuskan untuk mengang-gap Freemasonry sebagai organisasi paling berbahaya yang merusak Islam dan kaum Muslimin. Demikian pula, siapa saja yang berafiliasi kepadanya secara sadar akan hakikat dan tujuan-tujuannya maka dia telah kafir terha-dap Islam dan menyelisihi para pe-nganutnya. Wallahu Waliy At-Taufiq.. (Kumpulan Fatwa Islam dari sejum-lah Ulama, Jilid 1, hal, 115-117)

Larangan untuk bergabung dengan klub tersebut ternyata tidak dikeluar-kan oleh para fuqoha dari kalangan Islam saja, namun juga dilakukan pula oleh Dewan Agung Vatikan pada tang-gal 20 Desember 1950. Bahkan, pada tahun 1981 dikeluarkan larangan yang lebih keras dengan menyatakan bahwa orang-orang yang bergabung dalam perkumpulan freemasonry atau orga-nisasi lainnya yang serupa (RC, Lion Club, B’Nai Birth Club, dll) merupa-kan sikap yang memusuhi gereja dan tidak menerima larangan gereja. (M. Fahim Amin, Darul Fikri al-Ara-bi: 1991) *

%d blogger menyukai ini: