Empat Perspektif Tentang Fenomena Kebangkitan Islam


Seperti tesis Samuel P. Huntington pada posting sebelumnya, memang mudah menengarai kebangkitan Islam jika dilihat dari sisi tatanan politik dunia Islam, yang secara kebetulan berada pada posisi yang mengkristal seperti sekarang ini. Kajian mengenai sebab-sebab kebangkitan Islam menunjukkan 4 perspektif bagaimana kebangkitan Islam terpolarisasi, sebagaimana berikut ini:

1. Perspektif krisis dan pemecahan krisis.

Masyarakat muslim berada di tengah transformasi yang menimbulkan ketegangan. Pada tingkat analisis yang umum, demikian kata R Hrair Dekmejian, pertanyaan bagi kembalinya etos Islam tampaknya merupakan respons alamiah terhadap pengalaman “penyakit” yang berlarut-larut diderita hingga saat ini: sebuah katalisator yang memicu kembalinya akar-akar tradisi Islam yang multidimensi.

2. Perspektif perubahan-perubahan.

Berkebalikan dengan perspektif krisis, perspektif ini menekankan keberhasilan dan kekuatan-kekuatan di dunia Islam kontemporer. Sejak 1970-an, negara-negara (dengan mayoritas penduduknya memeluk agama) Islam, satu per satu mencapai kemerdekaan politik. Perspektif keberhasilan semacam itu menggambarkan konsekuensi logis dan pentingnya penegasan kembali aspek-aspek tradisi Islam. Kolektivitas umat Islam dikaitkan dengan jalinan yang membentuk embrio komunitas muslim beridentitas (nasionalisme) dengan segala kekuatan sosial, politik, ekonomi dan budayanya. Dari sisi ekonomi, Paul Daniels menunjukkan faktor eksplorasi besar-besaran energi minyak di beberapa negara Islam sejak era 1970-an. “Bom minyak,” kata Daniels, “telah menandai kembalinya kesadaran umat Islam lebih dari segalanya.”

3. Perspektif Penguatan Identitas Lokal

Menguatnya keanekaragaman gerakan dengan identitas-identitas lokal berhadapan dengan faktor yang secara umum bukan Islam. Runtuhnya ideologi dan orde-orde pos kolonial politik dan ekonomi yang mencengkeram merupakan fakta yang menstimulir bagi banyak gerakan beridentitas lokal-etnis bergerak ke pola yang lebih luas. Jika dimungkinkan dalam kerangka membentuk dan atau merebut kembali nasionalisme dan geografi politik kenegaraan. Seperti dikemukakan Bernard Lewis, sampai memasuki dekade 1970-an, “Islam masih merupakan bentuk konsensus yang paling efektif di negara-negara muslim sebagai dasar identitas kelompok.”

4. Perspektif evolusioner masyarakat muslim.

Di sini, masa lalu Islam merupakan faktor krusial jika hendak diproyeksikan membentuk Islam di masa datang. Perspektif evolusioner dalam kebangkitan Islam mengundang bahaya jika ciri-cirinya yang unik diabaikan. Hameed Enayat mengemukakan, kebangkitan Islam kontemporer menjadi semata-mata ilusi, sebab Islam merupakan kekuatan yang selalu ada di belakang pergolakan-pergolakan politik, tak terkecuali di dunia muslim sendiri. Perspektif evolusioner menunjukkan munculnya kesadaran bahwa di masa lalu keislaman tidak ditampilkan sebagaimana ideal yang pernah ditampilkan Nabi Muhammad.

Ideal-ideal semacam itu kemudian dicoba ditampilkan kembali, sekaligus dibarengi pengakuan atas telah terlepasnya ideal-ideal Islam yang diikuti dengan pembaruan-pembaruan. Pembaruan yang dilakukan sekaligus merupakan bukti upaya menepis analisis bahwa kebangkitan Islam semata-mata merupakan reaksi terhadap peradaban Barat.

Melihat kenyataan kebangkitan Islam, terdapat polarisasi penglihatan dari kacamata Barat dan Islam. Jika dari kacamata Barat, kebangkitan Islam biasa dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa khusus, maka kebangkitan saat ini akan menemukan titik singgungnya dengan tragedi 11 September/911 peristiwa-peristiwa sebelumnya dan munculnya idiom teror***isme internasional. Padahal, aksi-aksi teror tidak seluruhnya dilakukan oleh kelompok-kelompok gerakan keislaman.

«Sumber»

Iklan
%d blogger menyukai ini: