Merayakan Tahun Baru


Pembaca yang budiman, sebentar lagi kita akan menghadapi tahun 2009 Masehi atau 1430 H.  Keduanya (Hijriah dan Masehi) memang sangat berdekatan untuk tahun ini. Banyak kaum muslimin yang bersiap-siap menyambut tahun baru ini dengan berlibur ke suatu tempat, nonton konser musik, nonton tv bersama-sama, bakar jagung sambil ngobrol, pergi ke tepi laut lalu ngelamun sambil memandang laut, begadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki tahun baru, wayang semalam suntuk.

Bahkan ada yang lebih parah lagi, tahun baru dijadikan oleh pemuda-pemudi sebagian ajang untuk berbuat mesum, berduaan, berpelukan dan lain-lainnya, sunggung sangat menyedihkan. Tidak lupa pula beberapa umat Islam yang merayakan tahun baru dengan berdzikir berjamaah, Istighosah berjamaah, dll. Itulah beberapa contoh yang manusia lakukan dalam menyambut tahun baru.

Tapi sahabat, tahukan anda semua tentang hukum merayakan tahun baru itu..? tentunya menurut Islam (Al Qur’an dan As Sunnah). Yah tentu ke dua sumber itu yang harus kita rujuk karena hanya keduanyalah yang dapat menyelamatkan kita di Dunia dan Akhirat.  Memang akan ada pembaca yang beranggapan bahwa masa’ merayakan tahun baru aja harus ada dalilnya…? saya jawab, tentu aja… Kalau kita mau selamat dunia akhirat, setiap yang kita lakukan haruslah merujuk pada Al Qur’an dan As Sunnah. Apalagi ini menyangkut masalah Aqidah seorang muslim, tentu kita harus hati-hati donk…!

Sahabat yang InsyaAllah dimuliakan Allah ta’ala, merayakan tahun baru ternyata memiliki banyak mudharat daripada kebaikan. sebagai contohnya:

  • Merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang kafir yang telah dilarang oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.
  • Melakukan amal ketaatan seperti dzikir, membaca Al Qur’an, dan sebagainya yang dikhususkan menyambut malam tahun baru adalah pebuatan bid’ah yang menyesatkan.
  • Ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita seperti yang kita lihat pada hampir seluruh perayaan malam tahun baru bahkan sampai terjerumus pada perbuatan zina, Na’udzubillahi min dzaalika…
  • Pemborosan harta kaum muslimin, karena uang yang mereka keluarkan untuk merayakannya (membeli makanan, bagi-bagi kado, meniup terompet dan lain sebagainya) adalah sia-sia di sisi Alloh subhanahu wa ta’ala. Serta masih banyak keburukan lainnya baik berupa kemaksiatan bahkan kesyirikan kepada Alloh.

Selain itu pendapat Syaikhul Islam Ibnu Timiyah tentang “Ikut merayakan hari-hari besar mereka tidak diperbolehkan karena dua alasan”

Pertama.
Bersifat umum, seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa hal tersebut berarti mengikuti ahli Kitab, yang tidak ada dalam ajaran kita dan tidak ada dalam kebiaasaan Salaf(Generasi Terdahulu:red). Mengikutinya berarti mengandung kerusakan dan meninggalkannya terdapat maslahat menyelisihi mereka. Bahkan seandainya kesamaan yang kita lakukan merupakan sesuatu ketetapan semata, bukan karena mengambilnya dari mereka, tentu yang disyari’atkan adalah menyelisihiya karena dengan menyelisihinya terdapat maslahat seperti yang telah diisyaratkan di atas. Maka barangsiapa mengikuti mereka, dia telah kehilangan maslahat ini sekali pun tidak melakukan mafsadah (kerusakan) apapun, terlebih lagi kalau dia melakukannya.

Alasan Kedua.
Karena hal itu adalah bid’ah yang diada adakan. Alasan ini jelas menunjukkan bahwa sangat dibenci hukumnya menyerupai mereka dalam hal itu”. Beliau juga mengatakan, “Tidak halal bagi kaum muslimin ber-Tasyabuh (menyerupai) mereka dalam hal-hal yang khusus bagi hari raya mereka ; seperti, makanan, pakaian, mandi, menyalakan lilin, meliburkan kebiasaan seperti bekerja dan beribadah ataupun yang lainnya. Tidak halal mengadakan kenduri atau memberi hadiah atau menjual barang-barang yang diperlukan untuk hari raya tersebut. Tidak halal mengizinkan anak-anak ataupun yang lainnya melakukan permainan pada hari itu, juga tidak boleh menampakkan perhiasan.

Wallahu a’lam…

Sumber

Iklan
%d blogger menyukai ini: