Tahun I Edisi 10


Para Penghujat Islam


Seolah tak pernah mengenal le-lah, musuh-musuh Islam tanpa henti menebar dustanya, meng-hujat Islam sebagai agama yang me-ngajarkan terorisme dan penindas Hak Asasi Manusia (HAM). Gelombang propaganda menentang Islam me-nerjang keras dengan beragam cara. Ada yang melalui pernyataan lisan-lisan kotor mereka seperti: Johannes (±652-750) adalah orang yang paling awal menganggap Rasulullah saw se-bagai nabi palsu, diikuti Pastor Bede (673-735), Peter the Venerable (1049-1156) se-orang kepala biara Cluny di Prancis, Ricoldo, Martin Luther (1483-1546) Paus Benediktus dan masih banyak lagi.

Ada yang melalui goresan pena seperti buku Islam and Terrorism, Is-lamic Invasion, The Myth of Islamic Tolerance, Islam Unveiled, Prophet of Doom, Why I am Not a Muslim, dan yang lainnya. Juga banyak tulisan di internet berisikan pandangan serupa, yang mudah diakses dan dibaca di seluruh dunia.

Ada yang berupa film-film terutama produksi mesin propaganda Yahudi, Hollywood. Industri hiburan ini di-topang dengan keluasan jaringan me-dia massa dan kantor berita dunia yang semuanya nyaris memojokkan Islam. Film-film itu antara lain: Ekso-dus (1960), Cast a Giant Shadow (1966), Network (1976), Black Sun-day (1977), Iron Eagle (1986), Death Before Dishonor (1987), True Lies (1994), Eraser Delta Force, Top Gun dan masih banyak lagi yang lain. Film bersegmentasi anak-anak pun tidak lepas dari psywar (perang psikologi) yang dilakukan Yahudi terhadap Is-lam, yang diwujudkan dalam film kartun buatan Walt Disney. Sebagai misal, film Aladdin. Dalam film ani-masi tentang cerita 1001 malam ini, selain ditampilkan pakaian yang ti-dak sopan dan merusak akhlak, juga digambarkan secara ngeri adanya hukum potong tangan yang dilakukan secara sembarangan. Film terhangat adalah apa yang telah dirilis oleh po-litikus Belanda Geert Wilders, ‘Fitna’. Tujuannya memperburuk image aga-ma yang begitu mulia ini. Semua upa-ya tersebut bernada sama; Islam di-analogikan dengan ‘virus’ yang bisa membuat orang normal menjadi eks-trem dan berbahaya.

Al-Qur’an dipandang sebagai bu-ku yang meracuni pemikiran manusia menjadi terbelakang, tidak toleran, serta penuh kebencian dan permusuhan terhadap semua orang yang berbeda agama. Al-Qur`an dituduh mengajar-kan kebohongan dan pembunuhan.

Nabi Muhammad saw, teladan bagi setiap Muslim, yang namanya disebut-sebut setiap saat dalam doa maupun shalat, difitnah dengan digambarkan sebagai seorang yang mengajarkan kekerasan.

Islam mereka pandang rendah stan-dar moralnya karena dinilai kurang menghargai nyawa manusia. Umat Islam yang menjalankan ajaran dasar agamanya tidak jarang dipandang sebagai seorang ekstremis dan cikal bakal teroris yang harus selalu diwas-padai dan dicurigai sebagai seorang yang bersalah. Seakan-akan motto keadilan “asas praduga tak bersalah” tidak berlaku buat orang Islam. Yang terjadi malah sebaliknya, “asas praduga bersalah”.

Belanda misalnya, dikenal sebagai negara yang serba boleh. Pelacuran legal. Gay dan lesbi boleh menikah. Menghujat Tuhan dihukum, tapi meng-hujat Islam dibiarkan. Blasphemy, itulah istilah untuk menghujat Tuhan. Termasuk Tuhan dalam bentuk gam-bargambar atau patung yang dianggap suci.

Seolah berebut tenar, ada juga se-seorang yang mengaku Islam namun mencela agama yang dipeluknya sen-diri. Mereka menghujat Islam lalu men-dapat berbagai pujian dan undangan, khususnya dari Negara-negara Barat! Cara-cara seperti ini dilakukan Irshad Manji, seorang warga Muslim asal Ka-nada yang kini tinggal di Belanda. Dia begitu tenar setelah gagasannya yang pernah disampaikan bahwa cende-kiawan Barat seharusnya tidak takut lagi mengkritik Islam. Manji begitu te-nar dan dipuja sebagai pahlawan di dunia Barat karena kritik agresif me-reka terhadap Islam, tetapi mereka dihujat di dunia Muslim.

Irsyad Manji adalah seorang aktivis yang juga penganut lesbianisme. Bagi pers asing, Manji dianggap ‘seorang provokator berjalan untuk Islam tra-disional’. Tahun 2003 ia mempubli-kasikan bukunya “The Trouble with Islam Today”, yang merupakan kritik tajam terhadap pelanggaran hak-hak perempuan dan kelompok minoritas agama lainnya atas nama Islam. Tak urung, buku ini banyak mendapat pujian Barat.

Ayaan Hirsi Ali, wanita asal Somalia, pun meniti jalan serupa. Ia datang ke Belanda sebagai pengungsi me-minta perlindungan pemerintah se-telah dengan kasar memaki-maki Islam sebagai agama yang melakukan ke-kerasan dan penindasan terhadap kaum perempuan. Dengan mudah ia mendapatkan kewarga-negaraan Belanda, malah ia terpilih menjadi anggota parlemen. Namanya bertam-bah terkenal setelah menulis buku oto-biografi berjudul Infidel (kafir) yang isinya adalah kumpulan caci-makinya terhadap Islam. Buku itu laris manis berkat dipublikasi besar-besaran oleh media massa, dan beredar di toko buku kelas atas di Jakarta.

Setelah menyatakan keluar dari Islam, Ayaan berteman dengan se-orang sutradara film, Theo Van Gogh. Mereka kemudian mempersiapkan sebuah film pendek berjudul Submis-sion (Ketaatan). Isinya menistakan al-Qur’an. Ayat-ayat al-Qur’an dijadi-kan hiasan tato pada seorang perem-puan yang berbaju tembus pandang. Theo Van Gogh, sang sutradara, di-temukan tak lagi bernyawa pada No-vember 2004. Sebuah balasan pem-buka atas apa yang ia lakukan.

Di tanah air, orang-orang seperti ini mendapat tempatnya di JIL dan ormas semisalnya. Demi mendapat pujian orang-orang kafir, mereka rela menjual kehormatan agamanya.

Salah satunya, Siti Musdah Mulia, dosen Universitas Negeri Syarif Hida-yatullah (UIN) Jakarta, dengan berani-nya membolehkan homoseksual. Da-lam sebuah diskusi di Jakarta, ia me-ngatakan: “Menarik sekali membaca ayat-ayat al-Qur’an soal hidup berpa-sangan (QS. ar-Rum: 21; QS. adz-Dzariyat: 49 dan QS. Yasin: 36) di sana tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah soal gen-der (jenis kelamin sosial). Artinya, ber-pasangan itu tidak mesti dalam konteks hetero, melainkan bisa homo bisa lesbi.” Naudzubillah! Inilah pernyataan dalam upaya penghancuran Islam.

Metode dalam menghujat Islam

Mereka memiliki metode-metode yang biasa mereka gunakan dalam menyebarkan propaganda. Mohamad Ridha, Pengurus Islamic Society of Greater Portland North America me-nyebutkan di antaranya:

Metode pertama yang sering dijum-pai adalah penggunaan informasi dari sumber-sumber yang tidak jelas dasar-nya. Misalnya, banyak dari kalangan anti-Islam mengutip pernyataan dari kalangan orientalis maupun ulama Islam yang langsung dijadikan premis yang dianggap valid untuk mendukung tuduhan mereka tanpa dijelaskan da-sar-dasar argumentasinya.

Contohnya, untuk menunjukkan bahwa Islam tidak mengenal toleransi beragama untuk menafikan ayat-ayat al-Qur’an tentang toleransi (seperti la ikraha fiddin, lakum dinukum wa li-yadin) mereka mengutip pendapat beberapa ulama Muslim yang menga-takan ‘’ayat-ayat toleransi’’ sudah di nasakh (dibatalkan hukumnya) de-ngan ‘’ayat-ayat pedang (perang)’’.

Seharusnya mereka menyadari bahwa pendapat siapapun mengenai Islam sekalipun dikeluarkan oleh me-reka yang berstatus ulama, argumen-tasinya harus berdasarkan sumber-sumber yang diakui, yakni al-Qur’an dan Hadits shahih Nabi saw. Apalagi, ini berhubungan dengan nasikh dan mansukh yang jelas harus ada kete-rangan langsung dari Nab saw. Tanpa ada dasar-dasar ini, pernyataan ulama hanya bisa diakui sebagai pendapat atau interpretasi pribadi, yang mungkin saja dikeluarkan dalam konteks dan situasi tertentu di zamannya.

Metode kedua adalah penggunaan sumber-sumber sejarah yang tidak terjamin keotentikannya. Untuk meng-hujat Nabi saw kalangan anti-Islam bia-sanya mengutip kisah yang bisa di-temui di dalam kitab-kitab sirah Nabi dan tarikh Islam, seperti Ibnu Ishaq, Ibnu Sa’ad, dan Thabari, tanpa mem-pedulikan status kesahihan riwayat kisah tersebut.

Seharusnya mereka mengetahui bahwa kitab-kitab ini berbeda dengan kitab-kitab Hadits yang bisa dijumpai rantai periwayatannya dari informasi yang dicatat, sehingga bisa diteliti sta-tus keshahihannya. Imam Thabari sendiri menjelaskan dalam muqad-dimah kitab tarikhnya bahwa ia me-masukkan semua berita yang didengar-nya tanpa menyaring kembali kesa-hihan periwayatannya. Sayangnya, penjelasan beliau sebagaimana pen-jelasan ahli-ahli sejarah Islam lainnya tidak dipedulikan oleh kalangan anti-Islam ini.

Metode ketiga adalah penggunaan informasi yang parsial, tidak utuh, yang dijelaskan out of context, meski-pun dari sumber-sumber yang sahih. Karena tidak mengandung informasi yang menunjukkan konteks dan fakta yang benar, kutipan-kutipan yang parsial cenderung menyebabkan ke-salahan dalam mengambil kesimpulan.

Ini bisa kita lihat ketika mereka me-ngutip potongan kisah-kisah kehidupan Nabi saw yang diseleksi untuk menghujat beliau.

Contoh lainnya dapat dilihat ke-tika tidak dikutipnya ayat-ayat al-Quran, Hadits Nabi ataupun kisah-kisah da-lam shirah, yang menggambarkan kemuliaan ajaran Islam atau sifat-si-fat agung dan tanda-tanda kerasulan Nabi saw. Padahal, semua ini sama-sama ada dalam kitab-kitab yang me-reka gunakan untuk menghujat ‘ke-burukan moral’ Islam dan Nabi.

Metode keempat adalah penggu-naan standar ganda dalam menghujat Islam dan Nabi. Ini biasanya dilakukan oleh kalangan anti Islam dari golo-ngan Kristen fundamentalis. Contoh-nya Nabi saw dituduh nabi palsu de-ngan alasan beliau melakukan pe-perangan dan beristri banyak. Pada-hal, dalam kitab suci mereka sendiri didapati kisah para Nabi yang berpe-rang dan yang memiliki banyak istri.

Metode kelima adalah pengaburan sejarah Islam. Islam dituduh sebagai sumber keterbelakangan dan kemun-duran. Padahal jelas sejarah menun-jukkan kemajuan peradaban Islam jauh sebelum majunya peradaban di Barat.

Islam dituduh pula sebagai penye-bab sikap tidak toleran terhadap me-reka yang berbeda agama. Padahal sejarah jelas menunjukkan bahwa umat Islam dapat hidup berdamping-an dengan umat lainnya sejak za-man Nabi saw di Madinah. Sejarah juga menunjukkan bahwa ketika dilancar-kan inquisition di Spanyol pada abad pertengahan, berbondong-bondong orang Yahudi lari keluar Spanyol dan diberikan perlindungan di dalam ke-khalifahan Islam. Ini menunjukkan anti-Semit tidak dikenal di dalam Is-lam seperti yang sering dituduhkan.

Metode keenam adalah penggu-naan generalisasi. Ini biasanya dikait-kan dengan peristiwa kekerasan atau-pun terorisme yang terjadi dalam per-golakan politik dunia Islam. Perbuatan sekelompok kecil orang Islam yang menyimpang dari ajaran Islam dinilai mewakili semua orang Islam, atau di-identikkan dengan ajarannya dan con-toh dari Nabinya.

Seharusnya mereka sadar bahwa menilai suatu agama tidak bisa dilihat dari perbuatan pemeluknya, tapi di-lihat dari ajaran agama tersebut. Meski-pun terorisme jelas dilarang dalam Islam dan mayoritas umat Islam me-ngutuknya, kalangan anti-Islam tetap menyebarkan propaganda mereka bahwa Islam dan Muslim mendukung terorisme.

Peran ulama

Menghadapi tantangan merebak-nya propaganda anti-Islam, para ula-ma sangat diharapkan berperan aktif dalam menjawab tuduhan-tuduhan tersebut dengan informasi dan argu-mentasi yang benar dan jelas. Selain ulama, pemerintah diharapkan pula dapat berperan aktif dengan usaha-usaha diplomasi serta mampu me-nunjukkan ketegasan sikap terhadap pihak-pihak yang mengobarkan ke-bencian dan permusuhan terhadap Islam dan umatnya.

Demikian pula, umat Islam diharap-kan menuntut ilmu Islam secara be-nar dan utuh, serta tetap menunjuk-kan sikap kritis terhadap usaha-usa-ha penyebaran propaganda anti-Is-lam dengan berpegang teguh pada nilai-nilai mulia Islam yang rahma-tan lil ‘alamin. Kita semua menyadari bahwa dakwah yang paling efektif ada-lah da’wah sebagaimana dicontoh-kan oleh junjungan kita yang mulia, Nabi Muhammad saw.

red.ummatie

%d blogger menyukai ini: