Tahun I Edisi 12


Perlukah Memiliki Jiwa

Nasionalisme

Sebuah surat ditujukan kepada umat Islam di seluruh dunia. Surat dari seorang wanita yang terpenjara bersama wanita-wanita lainnya nun jauh di negeri “1001 malam”. Surat yang menorehkan penderitaan yang tak terperikan. Bukan mengharap belas kasih dari orang-orang yang masih dianggapnya sebagai saudara, tetapi surat berupa seruan kepedulian agar umat Islam di belahan dunia lain mampu menjawab pertanyaan Allah swt di akhirat kelak atas diamnya mereka terhadap penderitaan saudara-saudara seiman akibat penindasan kaum kuffar.

Nilai-nilai kebangsaan semakin luntur. Hak sesama manusia semakin diabaikan. Loyalitas warga negara patut dipertanyakan. Serta sejumlah argumen lain yang menggambarkan realitas bangsa ini.

Inilah penilaian sebagian orang terhadap bangsa ini. Penilaian yang terutama tertuju kepada orang-orang tertentu yang cenderung merugikan orang lain. Meskipun penilaian ini bersifat umum, namun mereka yang “pasif” seolah-olah tidak termasuk hitungan untuk dinilai jiwa kebang-saannya. Ini baru satu tinjauan ter-hadap bangsa ini.

Di tengah-tengah himpitan ekonomi, keterpurukan iman, dan sebagai-nya, tampaknya kurang bijak apabila kita  menilai identitas seseorang hanya sebatas rasa kebangsaannya. Sebagaimana halnya para koruptor yang mengkhianati bangsa ini, para penjahat ‘kelas teri’ pun sesungguhnya tidak luput dari berbagai penilaian identitas. Kenyataan ini tidak bisa dipungkiri, yaitu menilai manusia sebatas kontribusi dan jasanya terhadap manusia lain, sehingga apabila seseorang tidak merugikan orang lain, maka ia dinilai baik, tak peduli meskipun ia merusak dirinya sendiri. Bukankah konsep seperti ini timpang? Bagaimana mungkin seseorang hanya butuh dinilai oleh orang lain bukan oleh Allah swt, hanya memperjuangkan hak-hak manusia tanpa peduli dengan hak Allah swt, hanya loyal terhadap nilai-nilai buatan manusia sedangkan ia mengabaikan nilai-nilai Ilahiyah?

Pada dasarnya, setiap manusia butuh suatu ikatan yang dapat menjamin diri dan lingkungannya dalam keadaan “aman”. Keamanan yang didambakan selama menjalani kehidupan ini, dan harapan keamanan setelah mati.

Bagi seorang muslim, ikatan satu-satunya yang menjamin keamanan dan keselamatan adalah akidah Islamiyah. Satu-satunya ikatan yang ‘direkomendasikan’ oleh Allah swt, Pencipta dan Pemilik alam semesta. Satu-satunya ikatan yang telah diemban oleh para nabi dan rasul.

Lantas, bagaimana dengan ikatan lain yang menyelisihi ikatan akidah Islamiyah ini? Bagaimana dengan paham nasionalisme yang terkadang dipertentangkan dengan Islam?

Terlepas dari kecurigaan-kecurigaan yang mungkin ada, berbagai konsep kebangsaan telah ditawarkan oleh para bangsawan sejak zaman dahulu. Penganutnya pun tidak sedikit. Ikatan jahiliyah di masa pra-Islam telah mengokohkan orang-orang Quraisy sebagai bangsa yang disegani. Atau di belahan bumi lainnya, suatu ikatan kebang-saan telah menorehkan “kejayaan” bagi mereka. Jauh sebelum itu pun, pada berbagai kaum (seperti kaum Aad danTsamud) kebanggaan telah melekat pada diri mereka karena keunggulan yang mereka miliki. Juga kurun sejak abad ke-15 M, berbagai bangsa telah “membuktikan kedigjayaannya” dalam percaturan dunia dengan mengusung nilai-nilai kebangsaan.

Paham Nasionalisme

Secara umum, nasionalisme diterjemahkan sebagai;  “suatu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (da-lam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.”

Pengertian tersebut tidak mem-atasi makna lain yang cakupannya lebih parsial. Sekadar menyebutkan, bentuk-bentuk nasionalisme tersebut adalah; yang pertama nasionalisme kewarganegaraan (atau nasionalisme sipil), yaitu sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh legalitas politik dari penyertaan aktif rakyatnya, “kehendak rakyat”; “perwakilan politik”. Yang kedua Nasionalisme etnis, yaitu sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh legalitas politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat. Yang ketiga Nasionalisme romantik, (juga disebut nasionalisme organik, nasionalisme identitas) adalah lanjutan dari nasionalisme etnis dimana negara memperoleh legalitas politik secara “organik” hasil dari bangsa atau ras; menurut semangat romantisme. Yang keempat Nasionalisme Budaya, yaitu sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh legalitas politik dari bu-daya bersama dan bukannya “sifat keturunan” seperti warna kulit, ras dan sebagainya. Yang kelima Nasionalisme kenegaraan, yaitu variasi nasionalisme kewarganegaraan, yang digabungkan dengan nasionalisme etnis. Perasaan nasionalistik sedemikian kuat sehingga mengatasi hak universal dan kebebasan. Kejayaan suatu negeri itu selalu kontras dan berkonflik dengan prinsip masyarakat demokrasi. Yang keenam Nasionalisme agama, yaitu sejenis nasional-isme dimana negara memperoleh legitimasi politik dari persamaan agama. Walaupun begitu, pada umumnya nasionalisme etnis dicampuradukkan dengan nasionalisme keagamaan. Misalnya, di Irlandia semangat nasionalisme bersumber dari persamaan agama mereka yaitu Katolik; nasionalisme di India seperti yang dianut oleh pengikut partai BJP bersumber dari agama Hindu.

Terlepas dari bentuknya yang beragam, satu hal yang pasti bahwa nasionalisme merupakan konsensus yang dibuat oleh sekelompok orang (besar maupun kecil) dengan landasan kesamaan persepsi terhadap konsep kehidupan.

Sekadar mengingatkan, pada awal abad ke-20 M, kelahiran nasionalisme telah diwarnai oleh dua perang dunia yang menelan korban jutaan jiwa serta kerugian ekonomi dan sosial yang luar biasa akibat pertentangan antar kelompok manusia yang dibatasi oleh sebuah konsep bernama bangsa, yang ditopang oleh ideologi nasionalisme. Dalam pandangan sekuler pun nasionalisme dianggap sebagai penemuan sosial yang paling menakjubkan dalam perjalanan sejarah manusia, paling tidak dalam seratus tahun terakhir. Menurut mereka, tak ada satu pun ruang sosial di muka bumi yang lepas dari pengaruh ideologi ini. Tanpa nasionalisme, lajur sejarah manusia akan berbeda sama sekali. Berakhirnya Perang Dingin dan semakin merebaknya gagasan dan budaya globalisme (internasionalisme) pada dekade 1990-an hingga sekarang, khususnya dengan adanya teknologi komunikasi dan informasi yang berkembang dengan sangat akseleratif (pesat), tidak dengan serta-merta membawa lagu kematian bagi nasionalisme. Sebaliknya, narasi-narasi nasionalisme menjadi semakin intensif dalam berbagai interaksi dan transaksi sosial, politik, dan ekonomi internasional, baik di kalangan negara maju, seperti Amerika Serikat (khususnya pasca tragedi WTC), Jerman, dan Perancis, maupun di kalangan negara Dunia Ketiga, seperti India, China, Brasil, dan Indonesia.

Isu Nasionalisme

Kekhawatiran akan merosotnya nasionalisme dan terjadinya disintegrasi nasional merupakan isu nasionalisme yang paling hebat. Di tengah wacana mengenai nasionalisme, isu disintegrasi nasional seolah mendapat ancaman dari berbagai arah.  Di an-taranya adalah mengaitkan realitas negara dengan bangsa. Juga mengkaitkan realitas berbangsa dengan beragama.

Dikatakan, sejarah perjuangan bangsa ini tidak menemukan perten-tangan antara nasionalisme dengan Islam karena dua tokoh nasional; Soekarno yang nasionalis berguru kepada H.O.S .Tjokroaminoto yang “Islamis”. Kabarnya, mereka tidak men-dudukkan dua paham ini secara diametral, namun merangkumnya menjadi satu pemahaman. Seandainya pun demikian, hal tersebut tetaplah berasal dari sumber yang berbeda, dan secara asasi memiliki karakteristik masing-masing. Selanjutnya, identitas seseorang pun seringkali dinilai secara terpisah antara nasionalis dan Islamis. Artinya, penilaian ini merujuk pada landasan dan parameter yang tidak sama. Selain itu – faktanya – banyak kalangan yang cenderung mencampuradukkan antara nilai Ila-hiyah dengan nilai insaniah. Dari sinilah seseorang seringkali dihadapkan pada pertanyaan; “apa perbedaan mendasar antara nasionalisme dan Islam?

Di antara sekian jawaban, salah satunya mengatakan bahwa nasionalisme tidak menerima konsensus selain dari konsensus nasional. Sebaliknya, Islam tidak menerima konsensus selain dari konsensus Islam. Dalam hal inilah apabila terjadi perbedaan paham maka di antara keduanya dianggap bertentangan.

Memang permasalahan ini tidak mudah dikompromikan. Keduanya memiliki doktrin yang secara konseptual berbeda. Nasionalisme memiliki doktrin kebangsaan sedangkan Islam memiliki doktrin ketuhanan.

Doktrin kebangsaan yang dianut nasionalisme (bentuk nasionalisme kewarganegaraan sebagaimana pengertian umum) mengacu kepada sejumlah aturan yang mengikat warga negaranya. Konsensus yang dibangun berdasarkan kehendak rakyat dan per-wakilan politik untuk menangani berbagai persoalan warga negaranya. Kebijakan yang dihasilkan merupakan kebijakan yang meniadakan nilaini-lai lain selain nilai kebangsaan. Seperti kebijakan ekonomi, politik, sosial, budaya, dan lain-lain terlahir dari kesepakatan “rakyat” melalui perwakilannya (dewan perwakilan rakyat). Termasuk dalam urusan beragama, diperlukan adanya musyawarah untuk membolehkan atau melarang suatu keyakinan tertentu. Apabila suatu bangsa menganut keyakinan yang berbeda, maka perbedaan itu ditetapkan sebagai konsensus yang pengamalannya diserahkan kepada pemeluk keyakinan tersebut.

Realitas berbangsa di seantero jagad memandang pemahaman kebang-saan sebagai hal yang wajar dan rasional. Terlebih lagi apabila kita melihat doktrin nasionalisme tetap mem-bolehkan penganut beragama menjalankan aktivitas ibadahnya masing-masing. Namun, apabila kita cermati, dari sini pula muncul ide penyatuan agama. Ide ini muncul karena isu disintegrasi nasional dipicu oleh pertentangan agama dalam suatu wilayah nasional. Inilah faktor yang dianggap oleh kalangan nasionalis-liberalis se-bagai “virus” yang mengancam stabilitas nasional. Kalaupun isu ini masih prematur untuk terealisasi sebagai suatu konsensus, tetapi tidak serta merta hilang dalam agenda penyatuan agama. Sebenarnya kita pun perlu mempertanyakan i’tikad para pionir ide ini. Bagaimana mungkin mereka mengurusi agama sedangkan mereka tidak mengakui agama (Islam) sebagai ikatan yang fundamental dalam menangani segala urusan?

Masih dengan isu disintegrasi nasional, bukankah polemik yang melanda umat ini sebagian besar berkutat pada urusan dunia, urusan bermegah-megahan, berlomba-lomba dalam memperbanyak harta, dan seterusnya? Bukankah para pelaku disintegrasi nasional adalah para ko-ruptor, para penyuap dan penerima suap, para boneka yang rela diper-mainkan oleh kekuatan asing demi sejumlah imbalan? Bukankah kekayaan yang terkandung di bumi ini terkuras habis oleh para penjajah hingga zaman sekarang? Bukankah terlepasnya Timor-Timur dari NKRI merupakan bukti hilangnya kekuatan nasional terhadap pengaruh asing?

Terlepas dari itu semua, apabila kita menilai secara jernih berbagai isu pertentangan antara Islam dan nasionalisme, sebenarnya prioritas menilai ketimpangan yang terjadi bukanlah semata faktor nasionalisme atau trans-nasionalisme atau pun in-ternasionalisme. Memang akan sangat panjang membicarakan masalah ini. Tidak cukup dengan sekali pembicaraan singkat, perlu kajian komprehensif untuk memahami konsep dan realitas kehidupan berbangsa. Jadi, kita pun harus membatasi permasalahan ini pada hal pokok di antara hal-hal penting lainnya.

Dalam hal ini, kita perlu menimbang kesadaran umat (Islam) ketika dihadapkan pada persoalan ini. Perlukah seorang muslim memiliki jiwa nasionalisme? Idealnya, kita tidak berkutat pada sesuatu yang menjadi isu umum. Bahkan untuk menjawab pertanyaan ini dengan konsep nasionalisme agama pun tidaklah tepat. Karena nasionalisme agama bukanlah agama itu sendiri. Ia hanyalah kesa-maan agama yang “kebetulan” terhimpun dalam suatu wilayah kemudian dibuatlah konsensus di atasnya. Sedangkan agama (Islam) bukanlah dibangun berdasarkan kesamaan agama yang ada di suatu wilayah tertentu, akan tetapi dibangun berdasarkan keyakinan yang benar terhadap Allah swt dan Rasul-Nya saw, serta memegang teguh dan menjaga kemurnian Islam. Bukankah berbagai aliran Islam satu sama lain tidak dapat dipersatukan? Bukankah sunny dan syi’ah tidak mungkin bersatu walaupun (kabarnya) warga Irak saat ini mengusung nilai-nilai kebangsaan? (kenyataannya, banyak pengaruh yang sengaja ingin mengubur kemurnian Islam [Sunny] di sana).

Dari sedikit kasus saja kita mengetahui bahwa yang terjadi di berbagai belahan bumi bukanlah semata menyatukan label “Islam”, justru yang terpenting adalah meninjau keyakinan ber-Islam umat Islamnya, sudah benarkah keIslaman mereka?

Isu nasionalisme lain yang juga mencuat, terkait dengan tingkat kehi-dupan (sosial-ekonomi) masyarakat. Lantaran kondisi ekonomi yang morat-marit, nasionalisme seseorang bisa luntur, demikian penilaian sebagian pakar terhadap rasa kebangsaan seseorang. Artinya, apabila rakyat sejahtera (sosial-ekonominya) maka menebal pulalah rasa kebangsaannya. Pada kasus lain, jiwa nasionalisme di kalangan anak muda dinilai luntur karena pengaruh globalisasi dan tayangan media massa. Sehingga kedua hal ini (kemiskinan dan globalisasi) dianggap sebagai faktor penyebab disintegrasi nasional. Mengapa orang-orang tidak bertanya kepada para penjarah kekayaan negeri ini?

Perbedaan Mendasar

Dari sejumlah argumentasi di atas, kita dapat menemukan perbedaan mendasar antara nasionalisme dan Islam. Sebagai suatu konsep (konsen-sus), nasionalisme merupakan produk manusia, sedangkan Islam merupakan wahyu Allah swt. Di sinilah perbedaan yang signifikan. Wahyu Ilahi ditujukan kepada semua manusia agar memeluk Islam dan secara khusus kepada orang-orang beriman untuk dijadikan ikatan dalam seluruh sendi kehidupannya.

Kaum muslimin adalah satu kesa-tuan, yang diikat oleh kesamaan aqidah (iman), Allah swt berfirman, “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Adapun realitas bangsa dan suku bukanlah untuk dibanggakan. Inilah ketentuan Allah swt kepada kita. Jangankan membanggakan suku atau bangsa, membanggakan keluarga pun tidak akan bermanfaat apabila tidak diikat dengan akidah Islamiyah yang benar. Allah swt berfirman,  “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya; sekalipun orang-orang itu adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka.” (QS. Al-Mujadilah: 22)

Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian ashabiyah Jahiliyah dan kebanggaan dengan nenek moyang. Sesungguhnya yang ada hanyalah seorang mukmin yang bertakwa atau pendurhaka yang tercela. Manusia adalah anak cucu Adam, dan Adam diciptakan dari tanah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang Ajam ke-cuali dengan takwa” (HR. Tirmidzi)

Islam telah memuliakan Salman al Farisi, seorang berbangsa Persi. Kekufuran telah menghinakan Abu Lahab, seorang bangsawan mulia. Dan Allah swt memerintahkan agar kita bergabung dengan orang-orang beriman. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar” (QS. At-Tau-bah : 119)

Politik dunia telah menggiring umat Islam kepada ashabiyah (fanatisme) darah, ras, dan tanah air serta mereka percaya itu sebagai perkara ilmiah, realita yang diakui dan fakta yang pasti, sehingga mereka tidak bisa lagi menghindar daripadanya. Mereka terus menyanyikan dan menghidupkan syi’ar-syi’arnya serta bangga dengan masa sebelum kedatangan Islam, padahal itulah masa Jahiliyah.

Allah swt berfirman, “Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian da-hulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara” (QS. Ali-Imran :103).

red.ummatie

%d blogger menyukai ini: