Tahun II Edisi Agustus 2008


Perjuangan, Sebuah Pertaruhan Loyalitas

 

S

etiap generasi mempunyai “pah-lawan” sendiri-sendiri. Setiap generasi pula mengusung nilai-nilai perjuangan. Dengan berbagai konteksnya, tiap-tiap perjuangan pun ditafsirkan secara berbeda oleh para pelaku perjuangan tersebut. Bila orang tua kita dahulu memiliki momen yang “disakralkan” yaitu ‘kemerdekaan’, kakak-kakak kita pun memiliki momen reformasi yang juga ditafsirkan me-ngandung nilai perjuangan. Atau bila kita membuka lembaran sejarah bangsa ini, perjuangan telah dimulai sejak zaman kerajaan-kerajaan. Intinya, baik itu sebelum zaman kemerdekaan (19-45) atau pun sesudahnya, semuanya mengandung nilai perjuangan untuk membebaskan diri dari penjajahan, ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan sejumlah istilah lain yang sejenis.

Secara umum, nilai perjuangan dalam konteks di atas terkait dengan upaya membebaskan diri dari keter-belengguan pihak tertentu. Yaitu perjuangan pihak terjajah atas penjajah-nya, pihak tertindas atas yang menindasnya, pihak yang dizhalimi atas penzhalimnya.

Selain itu, konteks perjuangan lain-nya pun sangat beragam. Bila nilai perjuangan lebih sering ditafsirkan dalam wujud material sebagaimana contoh di atas, sebenarnya di balik itu semua, landasan ideologis lebih menentukan nilai perjuangan itu sen-diri. Jangan heran bila para penjajah, penindas, penguasa zhalim sesungguh-nya melandaskan tindakan penjajahan, penindasan, dan penzhaliman-nya atas dasar ideologi tertentu. Mes-kipun memperjuangakan nilai-nilai yang keliru atau memperjuangkan kepentingan pihak tertentu, para pen-jajah, penindas, dan penguasa zhalim tetap melakukan usaha keras agar keinginannya tercapai. Apalagi pihak yang terjajah, tertindas, dan ter-zhalimi, mereka melandaskan per-juangannya atas dasar nilai-nilai yang mereka akui kebenarannya. Jika kita menyadari realitas tersebut, suatu per-juangan ternyata memiliki landasan nilai. Landasan nilai perjuangan ini bagi setiap orang atau bangsa juga berbeda. Perbedaan yang mengandung unsur persamaan jika nilainya adalah insaniah (kemanusiaan), dan perbe-daan yang tidak mungkin memiliki persamaan jika nilainya adalah Ila-hiyah (ketuhanan).

Loyalitas : Landasan Nilai Perjuangan

Loyalitas, suatu nilai kesetiaan pi-hak tertentu terhadap pihak lainnya. Kepercayaan, amanah, dan sejumlah nilai penting lainnya terkait erat dengan loyalitas. Loyalitas mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu. Loyalitas pun dijadikan ukuran untuk menentukan derajat dan kedudukan seseorang. Itulah harga sebuah loyal-itas!

Bila kita katakan bahwa loyalitas merupakan landasan nilai perjuangan, penafsiran ini tentulah tidak sulit di-pahami. Meskipun banyak sekali konteks dan wujud perjuangan, dan ba-nyaknya parameter untuk menilai perjuangan, yang jelas, dalam perju-angan, siapapun kita akan melandaskannya pada loyalitas. Bukan sekadar adanya pihak yang diberi loyalitas, diri sendiri pun merupakan bagian dari loyalitas yang diperjuangkan. Artinya, kepentingan individu pun merupakan sesuatu yang diperjuang-kan, hanya saja sanggupkah sese-orang memberikan jaminan nilai ha-kiki kepada dirinya sendiri? Lalu, apa-kah nilai hakiki tersebut? Kemudian, perlukah seseorang melandaskan-nya pada nilai hakiki itu?

Suatu hakikat yang tetap ada hing-ga akhir perjuangan manusia, nilai hakiki tersebut adalah ganjaran atas segala upaya manusia dalam perjuangannya. Siapa yang akan menggan-jar, inilah persoalannya. Lantas, ganjaran seperti apa dari pihak yang mem-berikan ganjaran tersebut yang di-harapkan oleh para pejuang, ini pula yang perlu ditegaskan!

Memang, pembahasan ini tidak sederhana. Dianggap demikian kare-na kalangan non-Islam akan menarik pembahasan ini ke arah berpikir mereka, yaitu nilai-nilai kemanusiaan dengan mengabaikan nilai-nilai ke-tuhanan. Namun, inilah tantangan-nya. Bagi orang-orang Islam, nilai-nilai kemanusiaan tidaklah mengan-dung makna apapun manakala ti-dak dilandaskan pada nilai-nilai ketu-hanan. Sedangkan dalam nilai-nilai ketuhanan pastilah terkandung nilai-nilai kemanusiaan. Dengan perkataan lain, setiap muslim tidak mengang-gap penting pujian manusia dan di-kenang dalam sejarah karena jasa-jasa perjuangannya. Ia lebih berharap ganjaran pahala dari Allah swt karena andilnya dalam perjuangan didasari oleh loyalitas kepada Allah swt, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman. Lo-yalitas ini pula yang mengikat niat ikhlas dan ittiba’ (mengikuti) Rasulullah saw dalam peribadatan seorang muslim.

Landasan Perjuangan

Dahulu, para pejuang bangsa ini telah membuktikan loyalitasnya ke-pada nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan yang semula di-rampas oleh para penjajah kemudian berhasil ditegakkan dan dikembalikan kepada mereka yang berhak. Dari satu sisi, para pejuang kemerdekaan tersebut adalah “pahlawan”. Pahlawan yang telah mengorbankan seluruh jiwa raganya bagi bangsa ini.

Di sisi lain, kita pun sempat mem-baca dalam lembaran sejarah bah-wa para pejuang kemerdekaan, ma-yoritas berasal dari kalangan muslim. Sejarah pula telah merekam sejum-lah heroisme para pejuang muslim dalam meraih kemerdekaan. Namun, sebagian mereka lebih ingin diakui oleh Allah swt sebagai pembela agama-Nya (karena memperjuangkan nilai-nilai ketuhanan sekaligus kemanusiaan) daripada sekadar terukir dalam tinta emas sejarah bangsa. Dalam beberapa pernyataannya, mereka mengakui kemerdekaan yang diraih adalah ber-kat rahmat Allah swt ketimbang hasil jerih payah mereka. Terlebih lagi, mereka yakin dengan janji Allah swt atas niat dan amal perjuangan me-reka, sebagaimana Allah swt berfirman, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berpe-rang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah ke-menangan yang besar.” (QS. At-Tau-bah: 111)

Dalam hal ini, nilai perjuangan ke-merdekaan melawan penjajah sangat terasa sebagai nilai hakiki ketimbang sekadar nilai insani.

Plurarisme: Loyalitas yang Ter-selewengkan

Selain konteks perjuangan fisik, konteks perjuangan lainnya pun me-miliki nilai. Nilai perjuangan para re-formis, para pelajar, para usahawan, para politikus, para aparatur negara, bahkan para ibu rumah tangga. Da-lam perjuangannya, elemen-elemen masyarakat tadi seringkali bersentuhan dengan unsur-unsur pluralitas. Unsur pluralitas inilah bagian dari realitas perjuangan yang harus “dikompro-mikan” tatkala bersebrangan dengan nilai-nilai Ilahiyah. Kenyataannya, di setiap zaman dan tempat, masalah ini tetap ada. Sebagaimana halnya baru-baru ini berbagai organisasi dan kelompok masyarakat (dengan ber-bagai landasan loyalitas yang ber-beda) melakukan aliansi (AKKBB). Bila kita menyimak petisi aliansi ter-sebut, jelas, mereka memperjuang-kan nilai-nilai kemanusiaan, namun menyingkirkan nilai-nilai ketuhanan. Bukankah kesebelas isi petisi tersebut pada dasarnya merupakan tandingan terhadap ketentuan Allah swt? Baik-lah, kita cuplikkan petisi ketiga yang berbunyi : “Kebebasan beragama berarti pula kebebasan untuk tidak beragama. Walaupun UUD menya-takan bahwa negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, kebe-basan beragama juga berarti bebas untuk tidak percaya kepada Tuhan.” Atau petisi kedelapan : “Dalam per-kembangan hidup beragama, setiap warga berhak membentuk aliran ke-agamaan tertentu, bahkan mendirikan agama baru. Kebebasan itu berlaku pula bagi mereka yang ingin mendi-rikan perkumpulan untuk maksud kesehatan atau kecerdasan emosional dan spiritual berdasarkan ajaran be-berapa agama, sesuai dengan pilihan anggota atau peserta, selama tidak mengharuskan keimanan kepada su-atu akidah agama sebagai syarat.”

Dua petisi di atas paling tidak me-munculkan pertanyaan: “Relakah kita dituntun oleh pluralisme (yang lebih tepat disebut sebagai agama ba-ru)? Lantas, siapa tuhannya? Siapa pula yang layak diberikan loyalitas bagi para penganut pluralisme ini?

Sebenarnya, kita tidak perlu risau dengan realitas kemajemukan yang ada. Sunnatullah telah berlaku bagi seluruh makhluk-Nya. Bukankah bang-sa ini adalah makhluk ciptaan Allah swt! Mereka pun telah memilih jalan hidup masing-masing setelah keterangan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah datang kepada mereka. Kita pun tidak merasa terhalangi untuk berjuang menegakkan nilai-nilai Ilahiyah karena orang-orang beriman senantiasa menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah swt. Jika konteks dan wujud perjuangan yang kerap digembar-gemborkan oleh kalangan non-Islam di suatu wilayah majemuk ingin menghilangkan esensi perjuangan Islam, itulah persoalan mendasar yang dihadapi oleh setiap muslim. Artinya, seorang muslim yang memahami hakikat nilai perjuangan tidaklah akan menanggalkan pengor-banan dan loyalitasnya kepada Allah swt, Rasulullah swt, dan orang-orang ber-iman, dan digantikan dengan loya-litas kepada yang lain. Sebenarnya, nilai loyalitas yang dianut oleh orang-orang Islam ini tidaklah perlu dikha-watirkan tatkala bersentuhan dengan nilai-nilai kebangsaan. Bukankah pe-ngakuan loyalitas orang-orang Islam kepada Allah swt, Rasulullah saw, dan orang-orang beriman merupakan wujud perjuangan yang hakiki? Bu-kankah dengan loyalitas tersebut kedamaian dan kesejahteraanlah yang didamba oleh para pejuang kita?

Kekeliruan Loyalitas ; Suatu Ilus-trasi

Tidak sulit mencari sosok pejuang dalam setiap masanya. Akan tetapi, semua kembali kepada konteksnya; perjuangan siapa dan untuk siapa! Ini pula yang membedakan sosok pah-lawan dalam berbagai pandangan-nya. Bagi banyak kalangan, sosok pahlawan tidak semata dilihat dari kandungan heroismenya. Ada nilai kesejarahan sesuai dengan dimensi waktu yang terjadi pada generasi ber-sangkutan. Atau, berdasarkan pan-dangan lainnya, sosok-sosok pahla-wan akan tetap hidup dan mempe-roleh tempat dari generasi ke gene-rasi, bahkan melewati batas waktu sekian abad. Bagi bangsa ini mungkin Gajah Mada telah diakui sebagai sosok pemersatu Nusantara. Atau khusus-nya bagi orang-orang Islam, sosok Nabi Muhammad swt merupakan panutan yang menandingi makhluk lain-nya. Itulah mengapa loyalitas kepa-da Rasulullah saw menduduki urutan kedua dari tiga loyalitas seorang mus-lim.

Dari sisi ini, kita dihadapkan pada realitas keberpihakan. Keberpihakan terhadap nilai-nilai yang dianut dan nilai-nilai sejarah. Jika keberpihakan terhadap nilai-nilai yang dianut hanya diakui oleh pemeluknya masing-ma-sing, maka keberpihakan terhadap nilai-nilai sejarah hanyalah mungkin diakui berdasarkan keabsahan sumber sejarah dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Inilah yang dimaksud dengan “otentisitas” sumber yang pelakunya tidaklah mungkin ditanya tentang hal ini, alias penilaiannya ha-nya melalui sumber pustaka. Namun akhirnya nilai sejarah pun akan ber-makna bila terkait dengan nilai-nilai ketuhanan. Bukankah seseorang yang harum namanya adalah yang juga harum di sisi Allah swt karena diterima iman dan Islamnya?!

Kemudian, secara pribadi maupun kelompok keberpihakan kita pun di-ukur dari loyalitas hakiki sebagai ham-ba Allah swt, bukan sebagai hamba makhluk. Seorang pelajar merasa ti-dak penting berpihak kepada alma-maternya, demikian pula seorang pe-gawai, seorang ibu rumah tangga, dan seterusnya, semua loyalitasnya hanyalah untuk Allah swt, Rasulullah saw, dan orang-orang beriman. Adapun loyalitas seseorang kepada pemim-pinnya, seperti pegawai kepada ata-san (majikan), istri kepada suami, atau yang lainnya, semuanya dalam rangka ketaatan kepada Allah swt. Artinya, seseorang harus setia dan taat kepada pemimpin atau aturan yang tidak me-nyalahi ketentuan Allah swt, sehingga ketaatan akan batal bila berada pada koridor maksiat kepada Allah swt, apalagi kemaksiatan (kezhaliman)nya sangat besar seperti berbuat syirik, atau mengakui kenabian setelah Rasulullah saw.

Sebagai gambaran umum, wujud loyalitas seringkali disalahartikan oleh sebagian orang. Demi sejumlah im-balan atau karena syubhat dan syah-wat, tidak sedikit orang rela menyerah-kan loyalitasnya kepada pihak yang tidak berhak.  Seperti halnya pengu-sung kebebasan beragama, mereka wala’ (setia/cinta/dekat) kepada orang-orang kafir dan bara’ (khianat/ me-mutus ikatan) dengan orang-orang beriman. Padahal  kedudukan al-wala' wal bara' dalam Islam sangatlah ting-gi, karena dialah tali iman yang paling kuat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, "Tali iman paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah." (HR. Ibnu Jarir) Juga sabdanya saw, "Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi wala' karena Allah dan memusuhi karena Allah, maka sesungguhnya da-pat diperoleh kewalian Allah hanya dengan itu. Dan seorang hamba itu tidak akan merasakan lezatnya iman, sekali pun banyak shalat dan puasa-nya, sehingga ia melakukan hal ter-sebut. Dan telah menjadi umum per-saudaraan manusia berdasarkan ke-pentingan duniawi, yang demikian itu tidaklah bermanfaat sedikit pun bagi para pelakunya." (HR. Thabrani)

Sementara, tak jarang kita pun menjumpai kekeliruan seorang mus-lim dalam memberikan wala’ dan bara’-nya kepada muslim lainnya. Atau keliru dalam menentukan kadar wala’ dan bara’ kepada sesama muslim. Fenomena ini terjadi pada diri seorang mukmin yang bermaksiat (namun tidak mengeluarkannya dari Islam). Pada kasus ini, ia tetap berhak men-dapatkan loyalitas. Ia disayangi ka-rena imannya, dan dimusuhi karena kemaksiatannya. Namun, selaku mus-lim, kita tetap memberikan nasihat, mengajaknya kepada kebaikan, dan melarangnya dari kemungkaran.

Ada bahaya lain dari kekeliruan di atas, yaitu ‘mudahanah’ yakni si-kap berpura-pura, menyerah dan me-ninggalkan kewajiban amar ma'ruf – nahi mungkar serta melalaikan hal tersebut karena tujuan duniawi atau ambisi pribadi. Maka berbaik hati, ber-murah hati atau berteman dengan ahli maksiat ketika mereka berada dalam kemaksiatannya, sementara ia tidak melakukan pengingkaran pa-dahal ia mampu melakukannya maka itulah mudahanah. 
Hal ini berarti meninggalkan cinta karena Allah dan permusuhan kare-na Allah. Bahkan ia semakin mem-berikan dorongan kepada para pen-durhaka dan perusak. Maka orang penjilat atau mudahin seperti ini ter-masuk dalam firman Allah swt, "Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan `Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebab-kan mereka durhaka dan selalu me-lampaui batas. Mereka satu sama lain tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka perbuat itu. Kamu melihat kebanyakan dari mereka loyal terhadap orang-orang yang kafir (musyrik)..." (QS. Al-Ma'i-dah: 78 – 80)
Contoh Loyalitas yang Benar
a) Sikap orang-orang Anshar ter-hadap saudara-saudara mereka dari kaum Muhajirin
Allah swt berfirman, "Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Mu-hajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mere-ka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Mu-hajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri me-reka sendiri. Sekalipun mereka me-merlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr: 9)
Maksudnya, orang-orang yang tinggal di Darul Hijrah, yaitu Madinah, sebelum kaum Muhajirin, dan keba-nyakan mereka beriman sebelum Mu-hajirin, mereka mencintai dan menya-yangi orang-orang yang berhijrah kepada mereka, karena kemuliaan dan keagungan jiwa mereka, dengan membagikan harta benda mereka tanpa merasa iri terhadap ghanimah Bani Nazhir yang diberikan kepada Muhajirin daripada diri mereka sendiri, sekalipun mereka sendiri juga sangat membutuhkan. 
Ini adalah puncak itsar (menguta-makan saudara) dan wala' karena Allah terhadap para penolong Ra-sulullah saw.
b) Sikap Abdullah bin Ubay bin Salul yang berkata dalam salah satu pertempuran, "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya." (QS. Al-Muna-fiqun: 8)
Dia menginginkan al-a'azzu (orang yang kuat) adalah dirinya sedangkan
al-adzallu (yang lemah) adalah Ra-sulullah saw. Ia mengancam akan me-ngusir Rasulullah saw dari Madinah. Maka ketika hal itu didengar oleh anaknya, Abdullah, seorang muk-min yang taat dan jujur, dan dia men-dengar bahwa Rasulullah saw ingin mem-bunuh ayahnya yang mengucapkan kata-kata penghinaan tersebut, juga kata-kata lainnya, maka Abdullah me-nemui Rasulullah saw dan berkata, 'Wa-hai Rasulullah, saya mendengar bah-wa Anda ingin membunuh Abdullah bin Ubay, ayah saya. Jika Anda be-nar-benar ingin melakukannya, maka saya bersedia menyerahkan kepala-nya kepada Anda". Maka Rasulullah saw bersabda, "Bahkan kita akan ber-gaul dan bersikap baik kepadanya selama dia tinggal bersama kita."
Maka tatkala Rasulullah saw dan para sahabat kembali pulang ke Ma-dinah, Abdullah bin Abdullah berdiri menghadang di pintu kota Madinah dengan menghunus pedangnya. Orang-orang pun berjalan melewatinya. Maka ketika ayahnya lewat, ia ber-kata kepada ayahnya, "Mundur!" Ayah-nya bertanya keheranan, "Ada apa ini, jangan kurang ajar kamu!" Maka ia menjawab, "Demi Allah, jangan melewati tempat ini sebelum Rasu-lullah mengizinkanmu, karena beliau adalah al-aziz (yang mulia) dan eng-kau adalah adz-dzalil (yang hina)." Maka ketika Rasulullah datang pa-dahal beliau berada di pasukan ba-gian belakang, Abdullah bin Ubay mengadukan anaknya kepada be-liau. Anaknya, Abdullah berkata, "Demi  Allah wahai Rasulullah, dia tidak bo-leh memasuki kota Madinah sebelum Anda mengizinkannya." Maka Rasu-lullah pun mengizinkannya, lalu Ab-dullah berkata, "Karena Rasulullah mengizinkan, maka lewatlah sekarang."
Penutup

Dari sekian banyak fenomena per-juangan yang pelakunya beridentitas muslim, nilai perjuangan mereka be-rupa kemerdekaan, persatuan & ke-satuan, harga diri, solidaritas, peru-bahan politik, bahkan tuntutan ke-sejahteraan, semuanya kita maknai sebagai perjuangan yang mengan-dung nilai hakiki. Nilai hakiki yang berlandas kepada loyalitas Islam. Yaitu loyalitas kepada Allah swt yang ber-sumber pada kalimat tauhid. Konse-kuensinya, setiap muslim wajib me-nyerahkan diri secara total kepada Allah untuk diatur dan diarahkan de-ngan segala kecintaan. Wala’ kepada Allah ini hanya akan sah manakala terdapat bara’ (penolakan) kepada segala bentuk sembahan selain Allah atau kepemimpinan yang tidak ber-sumber dari Allah.

Yang kedua, loyalitas kepada Ra-sulullah saw sebagai konsekuensi men-cintai Allah swt. ”Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penya-yang.” (QS. Ali-Imran: 31)

Beliau saw bersabda,” Tidak beriman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada bapak-nya, anaknya, dan seluruh manusia”. (HR. Bukhari)

Hal ini berarti, kecintaan kepada Rasulullah saw tidak boleh dikalahkan oleh kecintaan kepada istri, anak, pro-fesi, hobi, bangsa, dan sebagainya. Bila tidak, maka keimanan kita belum sempurna. Terlebih lagi pengakuan keimanan seseorang bisa dianggap dusta manakala ia senantiasa me-nuruti hawa nafsunya atau memben-ci sesuatu yang dibawa oleh Rasu-lullah saw.

Yang ketiga, loyalitas kepada orang-orang yang beriman. Loyalitas ini me-rupakan perwujudan dari berwala’ kepada Allah dan Rasul-Nya berupa mahabbah (kecintaan) kepada mereka. Di sini seorang muslim dituntut mem-bersihkan hati dari perasaan hasad, benci, dengki, permusuhan, dan per-tengkaran. Mahabbah dalam kese-hariannya direalisasikan dalam ben-tuk sikap wala’ (loyalitas, tolong me-nolong, saling membimbing) antara satu dengan yang lain, Bentuk wala’ yang paling tinggi adalah itsar, yaitu mengutamakan kepentingan saudara-nya sesama muslim daripada kepen-tingannya sendiri.

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya seperti mencintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Buk-hari dan Muslim)

Di samping itu, Islam telah mela-rang kaum muslimin untuk membe-rikan wala’nya kepada orang-orang selain mereka. Memberikan wala’ ke-pada orang-orang kafir akan mem-bawa kepada kemunafikan.

Allah swt berfirman, Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi sahabat dekat dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian)”. (QS. An-Nisaa’: 144).

red.ummatie

%d blogger menyukai ini: