Tahun II Edisi September 2008


Ramadhan Datang, Tibalah Kemengan


S

eluruh kaum muslimin, dari ujung Barat hingga batas Timur, bersama-sama menjalankan ibadah shaum. Dan perlu diketahui bahwa ibadah shaum ini merupakan salah satu dari lima rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim.

Terlepas dari itu semua, ummat Islam saat ini masih menyimpan segudang problematika. Komunitas Barat yang mayoritas beragama non-Islam, terus menerus melancarkan serangan pemikirannya. Tak hanya itu, dalam tubuh ummat Islam sendiri pun, masih terdapat rayap-rayap beracun yang merongrong persatuan kaum muslimin dari dalam.

Konspirasi musuh-musuh Islam seakan tak pernah mengenal lelah dan nyerah. Lewat media massa, baik cetak ataupun elektronik, tangan-tangan dan mulut-mulut kotor terus menggores dan menyampaikan infor-masi-informasi keliru tentang Islam dan kaum muslimin.

Ramadhan dan Persaudaraan!

Bulan Ramadhan amatlah penting, terutama ketika kerjasama dan saling bantu di antara ummat Islam terjalin dan dikedepankan. Yang paling penting di sini adalah jangan berpikir bantuan seperti apa yang sebaiknya kita berikan? Akan tetapi berusahalah dengan setulus hati. Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah, ummat Islam harus yakin bahwa Allah tidak akan lupa pada hamba-hamba-Nya dan Ia pasti mendengar doa-doa kita serta memberkahi usa-ha-usaha baik kita.

***

Beribadah shaum memang memberi nuansa tersendiri bagi kaum muslimin yang menjalankannya. Dengan kata lain, Ramadhan bukanlah bulan yang biasa-biasa saja. Segalanya terasa indah dan begitu menye-nangkan. Terkadang, Ramadhan menjadi ajang syiar-syiar Islam di seluruh belahan negeri. Kumandang-kumandang dakwah menggema di setiap kota dan desa. Lantunan-lantunan al-Qur’an sering kita dengar di setiap sudut-sudut masjid.

Namun, keindahan dan kenyamanan Ramadhan kadang tidak merata di setiap negeri. Mungkin saja, kita di Indonesia, merasa nyaman dan senang menyambut serta melaksankan ibadah shaum. Tapi boleh jadi, suasana itu tidak akan kita dapatkan di luar negeri. Sebut saja di negara-negara Eropa. Suasana Ramadhan di sana tidak sebegitu nyaman dengan suasana Rama-dhan di negeri-negeri kaum muslimin, seperti di Indonesia.

Masing-masing keluarga Muslim menjalani kehidupan seperti biasa dan menentukan sendiri saat berbuka dan bersahur, berpatokan pada selebar-an jadwal shalat yang dibagikan organisasi-organisasi muslim atau mengambil jadwal dari internet.

Tidak ada suasana Ramadhan di negara-negara non Islam. Berpuasa di sana berarti berpuasa di lingkungan orang-orang yang tidak berpuasa. O-rang-orang di sekeliling tidak berpuasa. Restoran-restoran di siang hari tetap buka. Jadi, di luar tidak ada suasana Ramadhan. Yang mengkhawatirkan adalah, suasana itu akan membawa efek buruk bagi kaum muslimin di sana. Boleh jadi, banyak juga saudara-saudara kita yang malah ikut-ikutan tidak berpuasa karena ‘tergoda’ de-ngan lingkungan setempat.

Belum lagi soal cuaca, iklim, dan suhu. Ramadhan akan sa-ngat terasa berat jika berpuasa di negara-negara yang memiliki empat musim. Jika musim panas tiba, kadang suhu di dalam dan luar ruangan terasa panas. Kon-disi ini sangat memberatkan bagi orang yang berpuasa.

Begitupun jika musim dingin tiba, perjalanan Bulan Ramadhan dilewati dengan mantel-mantel tebal dan diam di rumah-rumah hingga tidak bisa berekreasi menik-mati pemandangan alam.

Satu hal yang cukup unik lagi adalah per-putaran waktu yang berbeda-beda. Di bulan-bulan tertentu dalam penanggalan Miladi, negara-negara bagian lintang utara atau se-latan, harus melewati perputaran siang lebih dari 12 jam atau kadang kurang dari 12 jam. Berbeda dengan negara-negara yang berada di kawasan khatulistiwa, kawasan-kawasan yang jauh dari garis equator ini harus mengalami hal demikian.

Sebut saja Islandia. Di bulan-bulan kemarau, seperti bulan Maret hingga Oktober, jumlah jam di siang hari bisa mencapai 20 jam. Tapi, jika di bulan-bulan musim gugur, seperti November hingga Februari, jumlah jam di siang hari hanya 7 jam. Luar biasa, kan?

Jika di lintang utara ada negara Islandia, maka di lintang selatan, kita akan menyimak bagaimana kondisi kaum muslimin di negara Australia di saat berpuasa. Ternyata tidak jauh berbeda dengan negara-negara mino-ritas muslim lainnya.

Bagi Muslim di Australia, bulan puasa ini selalu memiliki tantangan tersendiri. Selain kondisi masyarakat yang mayoritas tak ber-puasa, tantangan lainnya adalah iklim. Di Canberra suhu pada dini hari rata-rata di bawah 4 º Celcius sehingga cukup dingin untuk bangun menjelang waktu sahur. Pada siang hari suhu mencapai 23 º Celcius. Kon-disi itu lumayan panas, apalagi kalau mata-hari bersinar terik.

Kadang, setiap Ramadhan tiba, ada be-berapa kepanitian yang dibentuk masyarakat Muslim Indonesia di Canberra. Hal ini dilakukan untuk meng-organisasikan kegiatan keaga-maan selama ibadah shaum. Panitia ini bertugas menentu-kan jadwal kegiatan penyam-butan Ramadhan, ifthar, tara-wih, kultum, itikaf, serta pesan-tren kilat. Kadang pula diseleng-garakan beraneka lomba, se-perti baca al-Qur’an, menga-rang tentang pengalaman Ra-madhan, dan lain sebagainya.

Akhir pekan merupakan saat yang dinantikan masyarakat Muslim, terutama warga Indo-nesia yang tinggal di Canberra. Pasalnya, pada Jumat dan Sab-tu mereka berkumpul di KBRI Canberra yang terletak di Dar-win Avenue, Yarralumla, Aus-tralia. Atau di rumah-rumah warga lainnya untuk berbuka puasa dan melakukan shalat Tarawih bersama.

Pertemuan selama berbuka dan tarawih bersama ini, dapat menambah kedekatan bagi ko-munitas Muslim Australia.

Berbeda dengan Canberra yang sepi, kemeriahan kegiatan Ramadhan cukup terasa di se-kitar kota-kota besar Australia, seperti Sydney dan Melbourne. Di Sydney, kota yang pernah dilanda kerusuhan antar etnis beberapa bulan lalu, jumlah kaum muslimin cukup meng-gembirakan. Bahkan tiap Ra-madhan tiba, selalu saja ada event-event menarik yang di-gelar untuk menyemarakkan ibadah shaum.

Ada perlombaan olahraga, stand-stand yang menyediakan makanan dan pakaian Muslim, dan kegiatan lainnya. Kegiatan yang bertujuan menciptakan harmoni ini menda-patkan dukungan dari pemerintah setempat.

Sekarang marilah kita sedikit merasakan bagaimana kondisi dan suasana di negara-negara muslim. Kalau tadi kita ‘berkelana’ ke negara dari bagian utara hingga selatan, sekarang kita akan menuju kawasan-kawasan dari daerah Barat hingga ujung Timur.

Duka Ramadhan di Bumi Jihad

Bulan Ramadhan adalah saat yang paling dinanti-nanti, khususnya oleh muslim di be-lahan bumi mana pun, tak terkecuali bagi warga Palestina di wilayah pendudukan. Mereka menyambut mentari terbenam deng-an segenap ceria nan penuh bahagia. Tapi seiring kekejaman Israel, keceriaan warga Palestina selalu dirundung duka.

Semuanya nampak mati seakan tanah Palestina adalah bumi yang tak akan hidup lagi. Debu-debunya menjadi saksi kebiadab-an Israel. Banyak sudah korban dari saudara-saudara kita yang meregang nyawa. Tiada keadilan di mata Israel karena yang tersisa hanyalah kebiadaban dan kebiadaban.

Satu hal yang cukup mengharukan adalah keberadaan pos pemeriksaan yang tentu saja mengganggu kenyamanan kaum mus-limin berpuasa. Kadang jika adzan Maghrib tiba, banyak anggota keluarga mereka yang masih harus berjam-jam antri di pos peme-riksaan.

Katakanlah mereka tidak boleh masuk ke kawasan Ramalah atau Tepi Barat tanpa izin dari otoritas setempat. Kadang pula pos-pos pemeriksaan itu sengaja mempersulit kaum muslimin hingga akhirnya mereka ha-rus merelakan hidangan ber-buka bersama keluarga di ru-mah.

Pemeriksaan kerap menye-babkan antrian panjang kenda-raan di pos. Taksi tak diizinkan lewat, dan para penumpangnya dipaksa turun jalan kaki. Kalau-pun seseorang memaksa me-naiki kendaraan pribadi mele-wati pos ini, maka antrian akan lebih lama ketimbang jalan kaki.

Tentu, kerugian yang diderita warga Palestina akibat pendirian pos-pos ini sebetulnya lebih be-sar lagi. Di sinilah banyak war-ga tak berdosa tewas ditembaki tentara Israel, lantaran dikira akan menabrakkan mobil ber-muatan bahan peledak. Pada-hal, mereka yang menjadi kor-ban adalah warga yang terge-sa-gesa, misalnya membawa isteri yang akan melahirkan atau keluarga yang harus dila-rikan ke rumah sakit.

Akibat keberadaan pos-pos ini pula, banyak warga yang terhalang mengunjungi sau-daranya di wilayah lain, karena takut. Kalau pun terpaksa, mereka memilih berputar ke arah lain yang jaraknya lebih jauh, guna menghindari pemeriksaan.

Al-Aqsha di Bulan Suci

Ramadhan, biasanya juga menggiatkan warga Palestina berbondong-bondong berjamaah di masjid al-Aqsha, di jantung kota tua Jerussalem. Al-Aqsha adalah masjid suci ketiga umat Islam setelah masjid al-Haram dan Masjid an-Nabawi. Dan lebih lagi pada malam-malam sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Pada malam Ramadhan, sepanjang jalanan sempit kota tua Jerussalem bertabur warna-warni cahaya. Lentera berhiaskan kertas warna-warni bergantungan di dinding-dinding gedung tua. Kedua sisi jalanan dipenuhi para pedagang yang menjajakan a-neka makanan, puding susu dan coklat untuk anak-anak. Ratusan ribu manusia dari ber-agam ras dan bangsa, tumpah ruah di wilayah ini.

Namun jika Israel meningkatkan peng-awasan dan jumlah tentaranya, jamaah pada bulan Ramadhan tak lebih dari dua puluh ribu hingga tiga puluh ribu saja. Menjangkau Jerussalem bisa tinggal hanya mimpi.

Padahal kalau Israel tidak mendirikan pos pengawasan, jumlah jamaah al-Aqsha pada malam-malam Ramadhan bisa mencapai ratusan ribu. Bahkan kita bisa menyaksikan jamaah al-Aqsha yang jumlahnya mencapai satu juta lebih. Mereka membludak di da-lam masjid, halaman, di luar gerbang, dan sepanjang ja-lanan menuju al-Aqsha.

Maka tidak salah kalau kita sebut Israel sebagai penjahat dan teroris nomor satu di dunia. Itulah mengapa, para pemuda Palestina kini harus mengisi ma-sa mudanya dengan berjihad. Mereka akan terus berjuang dengan kemampuan yang me-reka miliki, baik di bulan Rama-dhan ataupun di luar bulan Ra-madhan.

Apa yang terjadi di Palestina, pun terjadi di beberapa negara muslim lainnya seperti di Irak, Afghanistan, Kashmir, dan lain sebagainya. Berjuang meng-angkat senjata adalah jalan ter-akhir yang harus dilakukan ka-rena mereka, yakni musuh-mu-suh kaum muslimin, tidak per-nah mengenal kebijaksanaan dan hanya mengenal kekerasan. Semoga Allah menolong para mujahidin di sana!

Ramadhan di Timur Asia

Negara-negara Timur Asia, seperti Jepang, adalah negara besar yang mayoritas penduduk-nya menganut agama Budha dan Konghucu. Agama Islam tidak mendapat tempat yang nyaman di negara ini. Bahkan, banyak sekali konspirasi-kons-pirasi yang dilakukan oleh pe-merintah setempat dalam rang-ka menyingkirkan Islam dan ummat Islam dari negaranya. Padahal, Islam bukanlah agama yang baru di negara itu.

Jepang, dikenal sangat kaya akan budaya ‘ketimuran’nya hingga negara itu disebut dengan Macan Asia. Budayanya yang sangat kental dengan nuansa ‘Taoisme’ atau me-nyembah matahari, menjadi poros tersendiri bagi para pengikutnya di seluruh dunia. Tentu, hal ini sangat menyulitkan dakwah Islam di sana.

Bahkan sering kita mendapat kabar ada-nya larangan-larangan syiar Islam di negara itu. Misalnya larangan jilbab bagi perempuan muslim Jepang. Memang ini bukan perkara yang baru terjadi di dunia ini.

Jika Ramadhan tiba, ini merupakan masa-masa yang sulit bagi kaum muslimin di sana. Kalaupun terasa nyaman, mungkin dengan meningkatnya toleransi beragama, tetap saja nuansa Ramadhan tidak senyaman di ne-gara-negara muslim. Satu yang cukup me-nyulitkan adalah soal makanan berbuka atau pelaksanaan shalat tarawih. Menu halal jarang disajikan hingga harus mencari rumah makan muslim. Kalaupun ada, jumlahnya begitu sedikit.

***

Sepatutnya kita bersyukur karena di negeri ini, Tanah Air kita Indonesia, masih men-dapat kesempatan luas untuk menjalankan syiar-syiar Islam, terutama selama bulan Ramadhan

Iklan
%d blogger menyukai ini: