Tahun II Edisi Februari 2009


PERENIALISME UNIVERSAL

Filsafat Persaudaraan

Suatu fenomena tak terbantahkan ketika banyak orang merasa perlu bergaul dengan sesamanya tanpa mempedulikan agama dan keyakinannya masing-masing. Artinya, pergaulan dan kebersamaan sejati tidak akan tercipta bila masing-masing individu masih memegang kuat prinsip dan ajaran agamanya karena hal ini pastilah berbenturan satu sama lain. Inilah toleransi yang mengutamakan “kebersamaan” namun  mencampakkan nilai-nilai akidah.

Fenomena tersebut bukanlah hal baru. Tak sedikit orang yang mengaku muslim berprinsip seperti itu. Mereka lebih memilih penghargaan dari rekannya yang non-muslim daripada memegang prinsip-prinsip Islam. Dalam hal ini, tampaknya budaya humanisme telah melunturkan akidah sebagian umat Islam atas nama toleransi yang sesungguhnya berbahaya.

Terkait dengan hal ini, suatu tema yang mungkin terdengar asing; Perenialisme, bahkan mungkin juga tidak menarik untuk dibahas, apalagi perenialisme sebagai suatu kajian filsafat hanya dikenal oleh kalangan tertentu, ternyata berperan dalam membentuk budaya humanisme ini. Namun, apabila kita tahu bahaya pemikiran perenialisme ini dan kenyataannya sudah sangat menggejala dan menyusup ke dalam sanubari banyak orang, tampaknya agak sulit untuk tidak ingin tahu tentang perenialisme ini.

Dua tahun yang lalu, perenialisme versi Eden (Kerajaan Tuhan) sempat mengguncang Indonesia. Kini, mereka kembali mencetuskan pahamnya yang aneh; pembubaran agama.

Atas nama “wahyu”, Lia Eden sebagai pemimpin Eden menyebarkan surat-surat yang berisikan deklarasi penghapusan agama-agama di dunia. Menu-rutnya, kekacauan dunia disebabkan oleh konflik-konflik yang muncul dalam umat beragama. Umat beragama dengan keimanan terhadap tuhannya ma-sing-masing telah menyebabkan bumi penuh pertikaian, peperangan, dan ceceran darah. Karena itu, untuk menciptakan perdamaian di dunia, maka faktor penyebab kekacauan itu – yaitu agama – harus dibubarkan.

Dalam kaitan ini, agama Islam dituduh sebagai “biang kerok” dari munculnya kekerasan dan terorisme di dunia saat ini. Karena itu, “wahyu” tentang peng-hapusan agama pertama-tama ditujukan kepada agama Islam. Setelah itu, agama-agama lain juga harus dihapuskan karena, bagaimanapun, agama adalah faktor pemicu konflik dan kekerasan di tengah kehidupan manusia.

Adapun jamaah Lia Eden sendiri telah lama diperintahkan keluar dari “agama-agama” formal, seperti Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, dan Budha. Mereka memilih “Bertuhan tanpa agama”. Dengan cara demikian, manusia bisa dipersatukan tanpa hambatan perbedaan label keimanan; tanpa hambatan perbedaan label agama yang sering menimbulkan kekacauan dan peperangan.

Bertuhan tanpa agama sebetulnya sudah lama menjadi fenomena kebe-ragamaan modern. Kaum perenialis – yang menjadi klaim diri dari Komunitas Eden – telah lama melakukan pendekatan keagamaan seperti itu.

Mungkin Anda bertanya, “Apakah kita akan membicarakan perenialismenya Eden?” Memang, yang kita bicarakan bukan hanya perenialisme versi Eden yang jelas-jelas sesat, namun berdasarkan akarnya, perenialisme lainnya pun bermuara pada pembebasan atau pembubaran agama untuk dibentuk agama baru.

Secara khusus, tuduhan kepada agama sebagai penyebab krisis multidimensi hubungan antar manusia seolah bukan esensi perenialisme,  namun secara umum perenialisme mengusung manusia sebagai penentu kebenaran. Artinya, sebagai aliran filsafat, paham ini melandaskan akal sebagai satu-satunya komponen dalam menemukan kebenaran, pengetahuan, dan nilai moral.

A. Tentang Perenialisme

Filsafat perenialisme terkenal dengan bahasa latinnya ‘Philosophia Perenis’. Perenialisme dalam arti filsafat dimaknai sebagai satu pandangan hidup yang berdasarkan pada sumber kebudayaan dan hasil-hasilnya. Perenialisme ber-pendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat khususnya filsafat pendidikan. Perenialisme memandang bahwa kepercayaan-kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar penyusunan konsep filsafat dan pen-didikan zaman sekarang. Sikap ini bukanlah nostalgia semata tetapi telah berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan-kepercayaan tersebut berguna bagi abad sekarang.

Perenialisme berharap agar manusia kini dapat memahami ide dan cita-cita filsafatnya yang menganggap filsafat sebagai suatu asas yang komprehensif.

Asas-asas filsafat perenialisme bersumber pada filsafat yang mengakui dua sisi kebudayaan sekaligus melahirkan dua aliran perenialisme itu sendiri;

1. Perenialisme sekular yang berpegang kepada ide dan cita-cita filosofis Plato dan Aristoteles, yaitu tentang sejauh mana seseorang dapat menelusuri jalan pemikiran manusia itu sendiri.

Konon, Plato (427-347 SM) hidup pada zaman kebudayaan yang sarat dengan ketidakpastian, yaitu filsafat sofisme. Ukuran kebenaran dan ukuran moral menurut sofisme adalah manusia secara pribadi, sehingga pada zaman itu tidak ada kepastian dalam moral dan kebenaran, tergantung pada masing-masing individu. Plato berpandangan bahwa realitas yang hakiki itu tetap tidak berubah karena telah ada pada diri manusia sejak dari asalnya. Menurut Plato, dunia ideal, yang bersumber dari ide mutlak, yaitu Tuhan. Manusia menemukan kebenaran, pengetahuan, dan nilai moral dengan menggunakan akal atau ratio.

Adapun Aristoteles (384-322 SM) – murid Plato – mengajarkan cara berpikir atas prinsip realistis, yang lebih dekat pada alam kehidupan manusia sehari-hari. Menurut Aristoteles, manusia adalah makhluk materi dan rohani sekaligus. Sebagai materi, ia menyadari bahwa manusia dalam hidupnya berada dalam kondisi alam materi dan sosial. Sebagai makhluk rohani, ma-nusia sadar ia akan menuju pada proses yang lebih tinggi yang menuju kepada manusia ideal. Perkembangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat mencapainya.

Ia menganggap penting pula pembentukan kebiasaan pada tingkat pendi-dikan usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral. Aris-toteles juga menganggap kebahagiaan sebagai tujuan dari pendidikan yang baik. Ia mengembangkan individu secara bulat, totalitas. Aspek-aspek jas-maniah, emosi, dan intelek sama dikembangkan, walaupun ia mengakui bahwa kebahagiaan tertinggi ialah kehidupan berpikir.

2. Perenialisme theologis sebagai pengayoman supremasi gereja Katholik, khususnya menurut ajaran dan interpretasi Thomas Aquinas di abad ke-13.

Thomas Aquinas berpendapat pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur menjadi aktif atau nyata tergantung pada ke-sadaran tiap-tiap individu. Seorang guru bertugas untuk menolong membang-kitkan potensi yang masih tersembunyi dari anak agar menjadi aktif dan nyata. Menurut J.Maritain, norma fundamental pendidikan adalah: cinta kebenaran, cinta kebaikan dan keadilan, kesederhanaan dan sifat terbuka terhadap eksis-tensi, cinta kerjasama.

Pandangan-pandangan Thomas Aquinas di atas berpengaruh besar dalam lingkungan gereja Katholik. Demikian pula pandangan-pandangan aksiomatis lain seperti yang diutarakan oleh Plato dan Aristoteles. Lain dari itu juga se-muanya mendasari konsep filsafat pendidikan perenialisme.

Kaum perenialis juga percaya bahwa dunia alamiah dan hakikat manusia pada dasarnya tetap tidak berubah selama berabad-abad. Jadi, gagasan-gagasan besar terus memiliki potensi yang paling besar untuk memecahkan permasalahan-permasalahan di setiap zaman.

Dari aliran ini, kaum perenialis modern merefleksikan keimanannya terhadap Tuhan (yang tak bernama) dengan memperbesar cinta kemanusiaan (humanisme), menegakkan demokrasi, dan memperjuangkan tegaknya HAM.

Kaum perenialis modern adalah orang-orang yang bekerja keras dengan mengedepankan profesionalisme untuk mempertinggi kualitas hidup manusia. Bagi kaum perenialis modern, bekerja untuk mewujudkan cita-cita (tegaknya humanisme, demokrasi, dan HAM) adalah sebuah keniscayaan dalam mem-bentuk dunia baru yang damai dan sejahtera. Tanpa adanya kemakmuran ekonomi, intelektualitas, dan kedewasaan kultural, perenialisme modern tidak akan berkembang. Dengan demikian, demokrasi dan HAM merupakan tujuan utama gerakan perenialisme. Karena itu, jika pun akan lahir agama baru dari rahim perenialisme modern, agama baru itu niscaya akan mengusung demo-krasi dan HAM sebagai basis keimanannya. Lebih jauh lagi, agama baru di masa datang tersebut haruslah agama yang mengedepankan prinsip-prinsip keimanan untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran. Karena itu, basis keimanan agama masa depan adalah kesadaran manusia terhadap pentingnya penegakan demokrasi, HAM, dan perbaikan lingkungan hidup.

B. Asumsi Kalangan Perenialis

Kaum Perenialis menilai zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini, maka perenialisme memberikan jalan keluar yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ke-tangguhannya.

Oleh karena itu, asumsi ini melandasi pandangan kaum perenialis tentang berbagai hal, sebagaimana penghargaan mereka kepada keberhasilan para pemikir di masa lampau. Di antara hal-hal yang disoroti oleh perenialisme adalah,

1. Pandangan mengenai Pendidikan

Ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi menurut perenialisme, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. Maksudnya, dengan berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan melalui akal pikiran. Jadi epistemologi dari perenialisme, harus memiliki pengetahuan tentang pengertian dari kebenaran yang sesuai dengan realita hakiki, yang dibuktikan dengan kebenaran yang ada pada diri sendiri dengan menggunakan tenaga pada logika melalui hukum berpikir metode deduksi, yang merupakan metode filsafat yang menghasilkan kebe-naran hakiki, dan tujuan dari epistemologi perenialisme dalam premis mayor dan metode induktifnya sesuai dengan ontologi tentang realita khusus.

Adapun tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan anak didik ke arah kematangan. Matang dalam arti hidup akalnya. jadi akal inilah yang perlu mendapat tuntunan ke arah kematangan tersebut. Sekolah sebagai tempat utama dalam pendidikan yang mempersiapkan anak didik ke arah kematangan melalui akalnya dengan memberikan pengetahuan. Sedangkan sebagai tugas utama dalam pendidikan adalah guru-guru, di mana tugas pendidikanlah yang memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. Faktor keberhasilan anak dalam akalnya sangat tergantung kepada guru, dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan.

2. Pandangan mengenai Kenyataan

Perenialisme berpendapat bahwa apa yang dibutuhkan manusia terutama ialah jaminan bahwa ‘reality is universal that is every where and at every moment the same’ realita itu bersifat universal bahwa realita itu ada di mana saja dan sama di setiap waktu.

Menurutnya, dengan ontologi perenialisme mereka akan sampai pada pengertian hakikat. Adapun ontologi perenialisme adalah; (1) Benda indi-vidual, yaitu benda yang sebagaimana nampak di hadapan manusia yang dapat ditangkap oleh indera kita (seperti batu, kayu, dll), (2) esensi dari se-suatu, yaitu suatu kualitas tertentu yang menjadikan benda itu lebih baik in-trinsiknya (misalnya manusia ditinjau dari esensinya adalah berpikir), (3) ak-siden, yaitu keadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensialnya (misalnya orang suka barang-barang antik), (4) substansi, yaitu suatu kesatuan dari tiap-tiap hal individu dari yang khas dan yang universal, yang material dan yang spiritual.

3. Pandangan mengenai Nilai

Perenialisme berpandangan bahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sedangkan perbuatan manusia merupakan pancaran isi jiwanya yang berasal dari dan dipimpin oleh Tuhan.

Secara teologis, manusia perlu mencapai kebaikan tertinggi, yaitu nilai yang merupakan suatu kesatuan dengan Tuhan. Untuk dapat sampai ke sana ma-nusia harus berusaha dengan bantuan akalnya yang berarti mengandung nilai kepraktisan.

4. Pandangan mengenai Pengetahuan

Kepercayaan adalah pangkal tolak perenialisme mengenai kenyataan dan pengetahuan. Artinya sesuatu itu ada kesesuaian antara kepercayaan dengan benda-benda. Sedangkan yang dimaksud benda adalah hal-hal yang adanya bersendikan atas prinsip keabadian.

Oleh karena itu, menurut perenialisme perlu adanya dalil-dalil yang logis, sehingga sulit untuk diubah atau ditolak kebenarannya.

Solusi Krisis Beragama ???

Menurut perenialisme, manusia dapat mengerti dan memahami kebenaran-kebenaran yang fenomenal maupun yang bersendikan religi berdasarkan peranan akalnya.

Salah satu peran akal yang kini mengemuka adalah mencari solusi krisis beragama. Kabarnya, di antara kemajemukan agama-agama, banyak orang mencari kaidah-kaidah ketuhanan yang lebih pas, dan yang tak menyebabkan pertentangan. Ide inilah yang kemudian diminati sebagai solusi krisis antar umat beragama.

Kaum perenial ini menganggap bahwa rasa “kebersamaan dan silaturahmi” di antara umat beragama telah lenyap, kondisi masyarakat yang majemuk memunculkan fanatisme agamanya masing-masing, dan inilah yang mereka anggap sebagai penyebab pertentangan antar umat beragama. Dikatakan pula bahwa fenomena ini menstimulasi munculnya aliran-aliran baru dalam agama dan keyakinan (serta praktek) bid’ah dan khurafat.

Di sinilah kaum kaum perenial memainkan perannya, berusaha mencairkan kebekuan “kebersamaan dan silaturahmi” antar umat beragama meskipun harus menanggalkan prinsip-prinsip agama.

Pada praktiknya, kita mengenal banyak perkumpulan yang beranggotakan orang-orang dari berbagai keyakinan dan agama.  Mereka merasa menemukan “kedamaian sejati” dalam perkumpulan semacam ini. Mereka bisa bersatu walaupun berlainan keyakinan. Inilah yang disebut sebagai ‘perennial society’ yang cinta damai tanpa memandang agama. Masing-masing menjalankan ritual agamanya tanpa menggugat pengikut agama yang lain. Saling mendukung dalam kegiatan dan menjembatani silaturahminya kepada urusan bisnis ataupun kegiatan sekunder lainnya. Kegiatan-kegiatan itu pun menjadi ajang persahabatan yang menuai “kemaslahatan”. Di sinilah perenialisme menjadi pilihan untuk mengatasi perbedaan faham antar agama. Pilihan kaum “pencinta damai” yang jenuh menghadapi dendam-dendam antar agama yang mengakibatkan kerusuhan-kerusuhan dan tragedi hingga peperangan.

Perenialisme sebagai Agama Baru

Dahulu, kaum ortodoks dan fundamentalis separatis agama (kristen), me-nilai perenialisme itu sebagai kekalutan beragama ataupun sinkretisme. Bila kefanatikan beragama tak terlibatkan dan bila kegiatan itu murni sebagai kegiatan sekunder yang tak mementingkan urusan keyakinan dan semata-mata sebagai pertemuan sosial yang beraspek positif sehingga menghasilkan “kemaslahatan” bersama, demikian perenialisme tak akan menggugah fa-natisme.

Logika di atas terkesan bijak. Sebagai subtansi perenialisme, alasan tersebut dimaklumi sebagai suatu kearifan komunikasi dan tenggang rasa.

Lebih lanjut, prinsip ini mengusung nilai; saling menghormati keyakinan masing-masing dan tak membicarakan penilaian atas agama masing-masing. Saling menghormati keyakinan dan berusaha kompromistis dengan keyakinan masing-masing. Maka demikianlah substansi perenial itu terbakukan.

Pada gilirannya, perenialisme ini mengajarkan silaturahmi di antara pengikut berbagai agama yang tak berusaha mendominasi  keyakinan masing-masing. Mereka mensyaratkan “pembebasan” nilai-nilai keyakinan agar silaturahmi dapat langgeng, dan sebaliknya substansi perenial akan goyah bila ingin di-kiblatkan pada salah satu keyakinan.

Komunitas Bentukan Perenialisme

Suatu komunitas yang langgeng dan terjamin kemanfaatannya dapat men-jadi komunitas sosial yang berwawasan dan solid. Namun kegiatannya tak dapat lebih jauh dari hal tersebut. Maka jadilah komunitas itu hanya sebagai ‘social community’. Namun bila ingin kesolidan sosial itu mulai menginginkan ‘transendence spiritual’ maka kebutuhan itu mencari penyaluran yang harus diupayakan  namun yang tak membatasi keperenialan sosial yang sudah terjamin, sementara perenialisme spritualismenya pun harus terjamin rata aspek sosialnya, dan dapat meliputi pemerataan ‘human sense of spiritual’.

Bukankah sense of spiritual umat manusia itu selalu ingin disalurkan? Se-lalu ada upaya pencarian karena erosi keimanan selalu mencari hasrat Peme-nuhannya. Hati nurani manusia selalu ingin menemukan tali yang menyam-bungkannya kepada Tuhan, the spirit of the wisdom dan hingga pencapaian yang makrifat, being united in the kingdom of spiritualism.

Sebuah komunitas bila sampai kepada diskusi spiritual, lagi-lagi akan mem-bentur persaingan antar agama. Maka paham perenial pun hanya dapat sampai kepada ‘social commitment’, tak lebih dari itu. Karena bila ingin men-cari persamaan, masih selalu ada saja perbedaan-perbedaan yang mengganjal. Di atas permukaan, masalah itu tidak ingin dilibatkan dalam diskusi lebih jauh. Akan tetapi diam-diam perbedaan itu menyimpan pertanyaan dan juga di-mungkinkan sakit hati. Ketersinggungan itu tak dapat diselesaikan, betapapun rasa persaudaraan itu berusaha diantisipasikan.

Pengalaman-pengalaman yang telah membuat tersinggung akan berdampak luka-luka di hati dan menjadilah noda-noda silaturahmi sebagaimana keter-singgungan itu menoreh ketaatan seseorang pada keyakinannya masing-masing.

Bila tak ada persesuaian ataupun jawaban yang mampu menghilangkan ketersinggungan itu, di dalam komunitas perenial sekalipun tetap dimungkinkan timbulnya dendam-dendam antar umat beragama. Hanya saja mungkin dam-paknya dapat dieliminer oleh rasa persaudaraan. Maka adalah lebih baik mengupayakan perenialisme sampai kepada lubuk keyakinan.

Bilamana ada upaya menjaminkan salah satu keyakinannya, maka berim-baslah kembali pertarungan beda pendapat dan keyakinan beragama. Dan perenialisme itu pun tak terjamin kesolidannya. Namun di mana-mana pun selalu ada pihak yang berupaya mengalihkan perenialisme itu pada salah satu ajaran agama. Dan untuk menjaga kelanggengan aspirasi perenialisme, tokoh-tokoh pendirinya pun harus sanggup menjaga keseimbangan dan harus konsisten mensolidkan tujuan utama komunitas itu.

Seorang tokoh yang ingin lebih jauh mensolidkan perenialisme, bila ditam-pakkan ada peluang mencari pembakuan spiritual perenialisme, dia akan sampai pada suatu titik persimpangan yang bila ditelusuri tak akan mungkin dapat menggabungkan yang satu dengan yang lainnya. Seorang tokoh yang lainnya pula menjajakinya dari jalan yang lain, dari agama yang lain, akan menemukan pula titik persimpangan yang seperti itu, seakan semuanya akan sampai kepada dinamika dendam dan permusuhan antar agama. Dan itulah hutan belantara kemelut yang tak dapat diatasi oleh siapa pun.

Perenialisme berpendirian bahwa untuk mengembalikan keadaan kacau balau seperti sekarang ini, jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada prinsip-prinsip umum yang telah teruji. Menurut perenialisme, kenyataan yang kita hadapi adalah dunia dengan segala isinya. Perenialisme berpandangan bahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat dipandang baik.

Perenialisme Kalangan “Islam” Moderat

Kalangan moderat yang mengaku dirinya beragama Islam mengadopsi sebagian prinsip perenialisme ini. Mereka berpandangan bahwa sikap empati terhadap kelompok agama lain (selain Islam) merupakan bagian dari akidah Islam.

Suatu logika aneh telah diargumenkan oleh kalangan moderat ini. Menurut mereka, hubungan antar umat beragama akan mendatangkan masalah bila umat Islam tidak diakrabkan dengan paradigma perenialisme ini.

Adapun agama Islam, sebagaimana dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 19: “Sesungguhnya agama di sisi (diridhoi) Allah adalah al-Islam” dalam per-spektif perenialisme dimaknai sebagai kebenaran universal yang harus dianut oleh seluruh pemeluk agama.

Tampaknya tidak ada yang keliru dengan pernyataan di atas. Namun, bila kita perhatikan, kebenaran universal versi kalangan moderat tersebut bukanlah bermaksud untuk meniadakan kebenaran selain Islam. Jika hanya kebenaran Islam yang diakui, mengapa mereka tidak mengatakan bahwa , “Seluruh umat manusia harus ber-Islam, bukannya mengatakan, “Kebenaran universal yang harus dianut oleh seluruh pemeluk agama” yang mengandung makna peng-akuan agama-agama lain selain Islam.

Dalam hal ini, mereka mencoba menggiring pemahaman umat Islam untuk mengakui kebenaran-kebenaran universal dari agama-agama lainnya dengan konsep partikularitas agama.

Konsep ini (partikularitas agama) digambarkan sebagai konsep pengaruh dinamika kehidupan masyarakat. Artinya, secara partikular (pada bagian ter-tentu) sebuah agama dengan prinsip fanatisnya bisa saja berakibat merugikan kalangan tertentu (menistakan nilai-nilai kemanusiaan), walaupun pada awalnya berpihak pada rakyat dan kemanusiaan.  Untuk mendukung argumen ini, kalangan moderat mencontohkan agama Yahudi. Kata mereka, “Bukankah pada mulanya ajaran yang dibawa oleh para Rasul untuk bangsa Yahudi itu adalah dalam rangka memperjuangkan keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan bagi mereka? Namun dalam perkembangannya saat ini, agama Yahudi justru menjadi inspirasi ketidakadilan dan kesewenang-wenangan bagi masyarakat lainnya.” Lebih lanjut mereka mengatakan, “Karena itu partikularitas agama harus dilihat secara objektif. Namun kita tidak boleh menafikan spiritualitas yang dimiliki para penganut agama (Yahudi misalnya). Di balik arogansi dan rasisme mereka sesungguhnya tersimpan kerinduan yang mendalam kepada kebenaran sejati. Kerinduan untuk bertemu dengan Tuhan atau kebahagiaan, misalnya. Inilah yang disebut sebagai sesuatu yang perenial dalam semua agama.”

Sungguh logika perenial yang menipu, yang itu pun mereka tujukan kepada Islam dengan sejumlah asumsi yang sama terhadap Yahudi. Bukankah mereka ingin mengatakan bahwa, “Fanatisme menjadikan sebagian orang menjadi teroris?”

Kerinduan Perenial Kalangan Moderat

Bagi kalangan moderat, kerinduan perenial berarti keinginan untuk mene-mukan kebenaran dan kebahagiaan “sejati”. Menurut mereka, posisi semua pemeluk agama harus dilihat dalam proses kerinduan untuk menemukan kebenaran tersebut. Oleh karena itu, mereka mengasaskan pendidikan akidah pada nilai-nilai perenial ini. Menurut mereka, pembentukan sikap keberagamaan yang moderat tidak bisa dipisahkan dari pengaruh pandangan akidah yang memahami nilai-nilai perenial dalam sikap keberagamaan itu sendiri.

Lantas jika asumsi kalangan moderat tentang perenialisme ini pun keliru, bagaimana Islam memandang fenomena ini? Tentunya Islam memiliki timbangan terhadap perenialisme ini.

Insya Allah kami sajikan dalam aqidah yang lurus.

Red.ummatie

%d blogger menyukai ini: