Mengkader Anak Cerdas Dunia dan Akhirat


A

da –atau mungkin malahan banyak– yang berujar bahwa “mendidik anak adalah dunia penuh tantangan, namun banyak dibumbui oleh berbagai keunikan”. Ungkapan ini boleh jadi benar dan memang demikian adanya.

Bagi kita selaku kaum muslimin, hal terbesar bukanlah bagaimana menjadikan anak kita cerdas otaknya. Walaupun kecerdasan otak seorang anak sangat penting dan memang didamba oleh kita, orang tua dari anak tersebut, namun ada hal lain yang tidak kalah pentingnya, bahkan yang paling penting.

Yaitu seorang anak yang selain cerdas otak (tinggi IQ)nya, juga cerdas emosional (tinggi EQ)nya dan spiritual atau rohani (tinggi SQ)nya. Anak seperti inilah yang akhir-akhir ini diistilahkan seba-gian kalangan sebagai Anak Cerdas Dunia dan Akhirat alias anak ACDA!.

Anak seperti itu, yaitu anak ACDA (Anak Cerdas Dunia dan Akhirat), tentunya dirindu oleh semua orang tua, terlebih bila mereka adalah kaum muslimin.

Asumsi ini benar bukan?

Lantas, apakah anak ACDA diperoleh hanya dengan lamunan dan khayalan tingkat tinggi?

Ataukah malah harus dengan DUIT (Doa, Usaha, Iman dan Takwa) yang dijalankan dengan penuh semangat, kerja keras dan berkesinambungan?

Tentunya alasan kedua adalah yang lebih masuk akal, dibanding alasan pertama yang mengada-ada!

Di antara faktor utama untuk dapat mewujudkan atau malah mengkader anak ACDA adalah:

· Memperhatikan dengan seksama dan mempraktekkan “sunnah” mendamba anak.

Mengenai hal ini, lihat kembali Rubrik Keluarga Sakinah edisi lalu dengan judul “Sunnah Mendamba Anak”. Intinya, bahwa anak ACDA dapat dikaruniakan kepada orang tua yang memiliki ketaatan kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw.

· Terciptanya suasana keluarga samara (sakinah, mawaddah wa rahmah).

Karakteristik utama dari keluarga samara adalah terciptanya nuansa ketaatan, baik dalam arti umum maupun luas. Arti umum maksudnya ada-nya penegakan pilar-pilar ibadah yang terkandung dalam seluruh ajaran Islam. Sedangkan dalam arti khusus, maka yang dimaksud adalah penegakan pilar ibadah dalam pendidikan anak.

Keluarga samara adalah keluarga yang para penghuninya merupakan pribadi yang taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya saw, baik sebagai orang tua maupun sebagai anak, bahkan “peng-huni lain” yang ada di dalamnya. Mereka senantiasa menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai “supir” dalam mengendalikan keluarga dan menjadikan agama sebagai “raja”nya.

Penghuni keluarga samara senantiasa komitmen dan konsisten dalam mengisi kehidupannya, khususnya kehidupan rumah tangga dengan keteduhan ibadah, kebeningan akhlak dan ketegaran dalam memegang nilai-nilai agama.

Contoh praktis dari gambaran keluarga samara adalah apa yang digambarkan Rasulullah saw dalam haditsnya:

“Allah merahmati seorang suami yang bangun di tengah malam hari untuk shalat, kemudian ia membangunkan istrinya hingga iapun ikut shalat. Apabila istrinya enggan, ia pun memercikkan air pada wajahnya. Allah juga merahmati seorang istri yang bangun di tengah malam hari untuk shalat, kemudian ia membangunkan suaminya hingga iapun ikut shalat. Apabila suaminya enggan, ia pun memercikkan air pada wajahnya.” (HR. An-Nasa’i)

· Mengoptimalkan dan menumbuhkembangkan kecerdasan secara sistematis di sekolah.

Hal ini terealisasi melalui keselektifan orang tua dalam memilih sekolah untuk anaknya.

Mengapa demikian?

Karena dalam mentarbiyah dan mendidik anak, orang tua tidaklah sendirian. Ada pihak lain dan media lain yang ikut berperan, terkadang malah menjadi yang lebih dominan.

Pihak lain seperti pembantu rumah tangga, para guru, tetangga, kerabat, teman, atau bahkan orang yang ada di jalanan.

Media lain contohnya sekolah, radio, televisi, internet, telepon, majalah, buku dan sarana lainnya.

Kembali ke masalah tentang keceradasan (intelegensia), maka secara garis besar, kecerdasan yang dimaksud dan yang hendak diraih adalah:

· Intelligence Quotient (kecerdasan intelektual), atau IQ,

· Emotional Quotient (kecerdasan e-mosional), atau EQ dan

· Spiritual Quotient (kecerdasan spi-ritual), atau SQ.

Dalam bahasa sederhana dapat disimpulkan, IQ adalah kecerdasan otak untuk memahami situasi, EQ adalah kecerdasan perasaan (hati) untuk menghadapi situasi, dan SQ adalah kecerdasan ruhiah (rohani) untuk mengubah situasi.

Kecerdasan intelektual merupakan kecerdasan yang memungkinkan seseorang berpikir logis dan rasional. Kecerdasan pikiran ini bersifat statis, yang secara umum diperoleh karena ‘warisan’ orang tua. Seseorang yang terlahir dengan IQ rendah tidak dapat direkayasa untuk menjadi seorang yang jenius. Begitu juga, seseorang yang dilahirkan dari orang tua yang ber-IQ tinggi kemungkinan besar akan ‘mengikuti jejak’ orang tuanya dengan ber-IQ tinggi pula. Namun kecerdasan intelektual bukanlah faktor mutlak penentu kesuksesan masa depan seseorang.

Malah, kecerdasan emosional (Emotional Quotient, EQ) yang baru diungkap Daniel Goleman pada awal tahun 90-an disinyalir amat banyak berpengaruh bagi kesuksesan seseorang di masa depan. Jika kecerdasan intelektual lebih merupakan warisan orang tua, maka kecerdasan emosional diperoleh dari proses pembelajaran, pengasahan dan pelatihan yang berlangsung seumur hidup. Pertumbuhan dan perkembangan EQ sangat dipengaruhi oleh lingkungan, keluarga, sekolah dan contoh-contoh yang diserap seseorang sejak lahir dari orang-orang terdekatnya. Maka, kecerdasan emosional perlu dilatih dan diasah sejak dini. Pola asuh orang tua dan pengaruh lingkungan akan membentuk ‘cetakan’ emosi anak yang akan berpengaruh besar pada perilakunya sehari-hari.

Kecerdasan emosional seseorang ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu kemampuan mengenali dan mengelola emosi diri, seperti marah, takut, sedih, gembira, malu dan lain sebagainya; juga kemampuan memotivasi diri sendiri, kemampuan mengenali emosi atau perasaan orang lain (empati), serta kemampuan membina hubungan dengan orang lain.

Di sekitar kita banyak sekali ditemukan anak-anak yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi, namun ia tidak pandai mengelola kecerdasan emosinya. Ia tidak memiliki kehalusan budi dan kepekaan perasaan. Bila gagal meraih prestasi, ia gampang frustasi dan putus asa, ia selalu sinis dan menganggap rendah orang lain, mudah sekali marah dan mengumpat, tidak bisa menghormati orang tua atau guru, selalu merasa iri, dan tidak memiliki kepedulian terhadap orang lain. Anak seperti ini cerdas secara intelektual, namun bodoh secara emosi. Dan, kebodohan emosi merupakan sebuah bencana besar bagi kehidupan seseorang.

Jika kecerdasan intelektual dan emosional lebih berdimensi duniawi, maka kecerdasan spiritual (SQ) merupakan kecerdasan yang lebih bersifat ukhrawi, karena ia berkaitan erat dengan masalah perasaan keagamaan. IQ dan EQ penerapannya lebih pada wilayah hablun minannas (hubungan dengan sesama manusia), sedangkan SQ mengarah pada jalinan hablun minallah (hubungan dengan Allah swt) secara baik.

Dalam bahasa yang mudah, kecerdasan spiritual (Spritual Quotient, SQ) adalah kemampuan seseorang untuk mengenal Allah swt (ma’rifatullah). Dengan mengenal Allah swt, seseorang akan mengalami sukses dalam hidupnya, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat. Sebab, ia akan mengawali segala sesuatunya dengan nama Allah swt, menjalaninya sesuai dengan perintah Allah swt dan mengembalikan apa pun hasilnya kepada Allah swt.

Indikator kecerdasan spiritual seseorang, menurut beberapa ahli dapat diketahui melalui 5 (lima) komponen SQ, yaitu:

1. SQ adalah kecerdasan yang me-yakini Allah swt sebagai Dzat Yang Maha Menguasai kehidupan.

2. SQ adalah kemampuan untuk be-kerja keras (profesional) dalam rang-ka mencari ridha Allah swt. Dengan demikian, seseorang akan terdorong untuk memiliki etos kerja yang tinggi dan senantiasa bersungguh-sung-guh dalam melakukan berbagai ak-tivitasnya.

3. SQ adalah kemampuan untuk komitmen dalam melakukan ibadah secara rutin.

4. SQ adalah kesabaran, ketahanan dan kemampuan untuk berikhtiar dan tidak mudah putus asa.

5. SQ adalah menerima keputusan terakhir dari Allah swt. Penerimaan untuk patuh terhadap takdir Allah swt akan mendatangkan ketenangan hidup.

Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya menyatakan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan bersemangat menetapi perintah keagamaan sebagai bekal persiapan menghadapi masa sesudah kematian. Dalam hal ini beliau saw bersabda:

“Orang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan senantiasa beramal sebagai persiapan sesudah kematian.” (HR. at-Tirmidzi dan dihasankannya, al-Hakim dan dishahihkannya, namun didha’ifkan oleh adz-Dzahabi)

Itulah yang dimaksud dengan kecerdasan spiritual, kecerdasan sejati yang dibangun oleh komitmen keagamaan yang berorientasi pada persiapan menghadapi kehidupan sesudah mati. Orang yang cerdas spiritualnya memiliki semangat keagamaan tinggi, yang akan menjiwai seluruh aktivitasnya dalam kehidupan ini.

SQ = PANGLIMA KECERDASAN

SQ dengan dimensinya yang bersifat agamis dan ukhrawiyah (berorientasi akhirat) disinyalir mampu memberikan “makna dalam hidup”. Bahkan, dibuktikan bahwa SQ-lah yang mampu mengoptimalkan IQ dan EQ seseorang. SQ pula yang memungkinkan seseorang berpikir kreatif, berwawasan jauh ke depan dan mampu membuat aturan-aturan. Pendek kata, SQ adalah “panglima kecerdasan”.

Untuk itu, jika kita menginginkan IQ dan EQ anak kita berkembang secara optimal, mulailah dengan mengasah kecerdasan spiritual (SQ)nya. Mulailah dengan memberikan bekal-bekal keagamaan dan pembinaan ruhiah anak sejak dini secara kontinyu dan intensif.

Anak yang cerdas intelektual, emosional dan spiritualnya inilah yang sebagian kalangan menyebutnya dengan istilah Anak Cerdas Dunia Akhirat (ACDA). Dan ‘ACDA’ hanya akan terwujud jika pengasahan kecerdasan spiritual anak dijadikan sebagai fondasi pengembangan kecerdasan lainnya.

Bila masing-masing kita selaku orang tua ditanya, inginkah kita memiliki anak ACDA (Anak Cerdas Dunia dan Akhirat)? Insya Allah swt dan pasti kita akan menjawab: “sangat mau dan kalau bisa banyakan (bukan hanya satu atau dua anak)!”.

Jika demikian halnya, mari kita merintis dan mengkadernya! Serta teruslah berdoa:

“…Wahai Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” [QS. Ali ‘Imran (3): 38]

“Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Rabb kami, perkenankanlah doaku. Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” [QS. Ibrahim (14): 40-41]

“…Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” [QS. al-Furqan (25): 74]

“…Wahai Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal shaleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” [QS. al-Ahqaf (46): 15].

Red.ummatie

%d blogger menyukai ini: