Kandungan Strategi Dakwah


Strategi ini berupa usaha besar-besaran dalam menjalankan ‘dakwah yang benar dengan cara yang benar.’

Ini adalah sebagai konsekuensi dari keyakinan bahwa sumber problematika ummat adalah dominasi Jalesat (kejahilan, kelengahan, dan kesesatan) atas kehidupan ummat.

1. Yang dimaksud dengan ‘dakwah yang benar’ adalah dakwah yang kandungannya sebagai berikut:

a. Ilmu yang benar

Yaitu ilmu sirotulmustaqim, jejak Rasulullah dan para sahabatnya, manhaj ahlussunnah wal jama’ah yang asli. Manhaj robbani yang benar-benar sunnah dan tidak tercemarkan oleh campur tangan kotor dari manusia.

b. Mau’izhoh

Nasihat-nasihat dan pengingatan-pengingatan yang terus menerus.

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan mau’izhoh (nasihat yang baik) dan bantahlah mereka dengan cara yang baik …” (QS. An Nahl: 125)

c. Tarbiyah

Penanaman prinsip-prinsip dan pemahaman-pemahaman Islam secara men-dalam serta pembimbingan penerapannya. Tarbiyyah juga diartikan ‘tazkiyah’ yaitu pembersihan jiwa.

d. Amar ma’ruf nahi mungkar

Allah swt berfirman:

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah “. (QS. Ali ‘Imran: 110)

e. Qudwah (keteladanan)

Yaitu contoh-contoh hidup pada diri para da’i sehubungan dengan penerapan ilmu-ilmu yang dipelajari.

Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)

Karena itu para da’i pun harus menjadi teladan (setelah Rasulullah saw) bagi para mad’u (orang yang diseru / sasaran dakwah).

f. Penjelasan-penjelasan tentang kesesatan manhaj ahlul bid’ah dan musuh-musuh Islam serta makar-makar mereka, agar kaum muslimin tidak tertipu makar-makar musuh-musuhnya.

Allah swt berfirman:

“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran supaya jelas jalan orang-orang yang penuh dosa”. (QS. An ‘Aam: 55)

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak me-malingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu… “. (QS. Al Maidah: 49)

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah mem-binasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebe-naran)?” (QS. Al-Munaafiquun: 4)

2. Adapun yang dimaksud dengan cara yang benar adalah:

a. Mengemukakan Tauhid sebagai dasar semua substansi dakwah. Allah swt berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu…”. (QS. An-Nahl: 36)

Kemudian Ittiba’ (pengikutan) kepada Rasulullah saw. Allah swt berfirman:

“Katakanlah: “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Dan Allah Maha Peng-ampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali ‘Imran: 31)

b. Pelaksanaan dakwah yang teroganisir

Misi ini adalah misi yang sangat berat dan tidak mungkin dilaksanakan tanpa berjama’ah dan terkoordinasi. Rasulullah saw pun telah melaksanakan dakwah beliau dengan ‘amal jama’i’ bersama para sahabatnya. Bukan dengan sendirian, misalnya dengan berpindah-pindah dari satu tempat lainnya menyeru manusia pada agama Islam tanpa kesinambungan akan tetapi beliau menentukan tempat pusat dakwahnya, menugaskan para sahabatnya dengan tugas-tugas dakwah dan mengkoordinasikan mereka menerima dakwah beliau dengan sistem hijrah ke Madinah. Allah swt pun telah mengisyaratkan pentingnya hal ini dalam firman-Nya:

“… dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (QS. Al-Maidah: 2)

c. Merangkul para mad’u yang sudah menerima seruan dakwah dalam suatu keterikatan yang mulia untuk terus dibina dan bersama-sama me-neruskan dakwah. Hal ini sangat penting untuk mereka yang sudah menerima dakwah yang benar. Sebab hidup sendirian tanpa kebersamaan di tengah-tengah kondisi yang tidak kondusif ini, akan sangat sulit baginya untuk mem-pertahankan prestasi Islami yang didapat dari dakwah itu, apalagi untuk me-nambah prestasi tersebut.

d. Berhikmah

Arti berhikmah selain dengan ilmu adalah dengan cara sebaik-baiknya sesuai dengan kondisi dan pola berpikir manusia yang didakwahkan.

Sementara itu, hal pokok lainnya dalam dakwah yaitu,

1. Tujuan Dakwah

a. Tersebarnya Hidayah secara luas dan jelasnya jalan yang ditempuh (sirotulmustaqim).

b. Tegaknya Tauhid pada setiap kehidupan individu muslim.

c. Berdirinya Tauhid pada kehidupan ummat dalam bentuk dan lingkup masyarakat Islami.

d. Pengawalan kemurnian Islam.

2. Hasil yang diharapkan dari tercapainya tujuan

a. Bangkitnya ummat dari keterpurukan terhadap penyelisihan sirotul-mustaqim.

b. Keselamatan di dunia dan akhirat.

3. Jalan pelaksanaan

a. Penyuluhan-penyuluhan Ilmiyyah.

b. Penyebaran sarana-sarana Ilmiyyah cetak, elektronik dan sebagainya.

c. Dakwah, Tarbiyah dan Qudwah hasanah(teladan yang baik).

d. Perekrutan potensi ummat untuk ikut berperan dalam kebangkitan dengan bermacam-macam konstribusi.

Red.ummatie

Iklan
%d blogger menyukai ini: