Misteri Angka 13


13

Tiga belas dalam mitologi Eropa kuno adalah angka sial, unlucky number. Ada pesan implisit dari labelling tersebut: jauhi angka itu kalau ingin hidup tak sengsara. Takhyul ini mengendap dari dada petani papa sampai bangsawan borjuis yang relatif lebih terdidik. Begitu diyakininya takhyul ini sampai-sampai muncul kisah-kisah yang menggelikan. Salah satunya adalah (konon) seorang puteri dari kerajaan Inggris yang menolak mentah-mentah mahar rumah mewah dari seorang pangeran yang meminangnya. Apa pasalnya? Rupanya rumah mewah tersebut bernomor 13 sehingga sang puteri ‘alergi’ menerimanya.

Dulu, zaman TVRI, pernah ada drama TV ‘Friday The 13th’ (Jumat, hari kesialan—terjemahan bebasnya). Sepintas biasa saja. Tapi dalam perspektif aqidah, pelabelan seperti itu patut diwaspadai. Banyak tayangan produksi dalam negeri seperti sinetron mistis atau religius (tapi berbalut mistis) yang tak kalah berbahayanya karena punya langgam yang sama: penistaan hari Jumat. Malam Jumat kerap dipilih sebagai special time untuk sinetron klenik dan mistis. Jin dan setan selalu dikatakan gentayangan pada malam Jumat, terutama Jumat Kliwon. Singkatnya, horor dan hari Jumat dipersepsikan sebagai dua muka uang logam yang saling melengkapi. Saat ini pun beragam film di TV dan bioskop selalu mengusung dunia mistis dan syirik mulai dari Hantu Jeruk Purut, Kuntilanak sampai Takdir Ilahi. Astaghfirullah.

Di kalangan umat Islam sendiri ada ambivalensi mengenai keberadaan sang sayyidul ayyam (penghulu hari) ini. Di satu sisi, kita taat menyucikan hari Jumat dengan sholat Jumat berjamaah atau tadarusan dengan membaca Surah Yasin pada malam harinya. Namun di sisi lain banyak orangtua yang masih mewejangi anaknya,”Ingat! Malam ini jangan pulang malam-malam. Ini malam Jumat. Kuntilanak dan genderuwo lagi keluar.” Belakangan takhyul itu dipersuburcanggihkan dengan tayangan-tayangan mistis, komedi atau drama yang menghibur hingga melenakan kita bahwa tontonan seperti itu tidaklah menuntun, dan justru menjauhkan ummat Islam dari tashawwur (persepsi) Islam yang syamil dan kamil (menyeluruh dan sempurna).

Tiga belas hanyalah angka. Secara rasio, tak mungkin suatu angka membawa kesialan atau kemujuran. Takdir ada pada Allah. Tetapi orang-orang yang tak percaya dan para komprador memang susah untuk menerimanya. “Mereka pekak, bisu dan buta, sebab itu mereka tidak bisa kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al Baqoroh, 2:18).

Di sisi lain, urusan itu bukan sekedar angka. Dalam konteks besar, pelabelan tersebut adalah bagian dari sistematika Ghazwul Fikri (Perang Pemikiran) yang dilancarkan para komprador sejak ratusan tahun lalu. Menurut Dr. Anwar Jundi, seorang intelektual Mesir, dalam bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Hakikat Ghazwul Fikri, para komprador mengkonsentrasikan penghancuran pada 7 pranata:
1. Al Quran dan As-Sunnah
2. Bahasa Arab sebagai bahasa dien (agama) dan sains
3. Sirah (sejarah) Rasul dan Nabi
4. Kebudayaan Islam
5. Sastra Arab
6. Warisan Islam dalam peran peradaban dunia
7. Sejarah Islam.

Dalam buku itu dikutip perkataan Louis IX, seorang kaisar Perancis, selepas Perang Salib (Crusade):”Setelah melalui perjalanan panjang, segalanya telah menjadi jelas bagi kita bahwa menghancurkan Muslimin dengan jalan peperangan adalah sesuatu yang mustahil. Karena mereka memiliki manhaj (pegangan hidup) yang tegak di atas konsep jihad fi sabilillah.”

Itulah dasar bergulirnya gagasan ghazwul fikri yang salah satunya hadir lewat layar kaca dan media cetak, efektif dan mengundang profit. Lihat saja slot iklan yang bejibun dan rating tayangan yang meningkat. Lihat pula angka kriminalitas yang meningkat akibat tayangan-tayangan rusak tersebut. Nah, apa langkah kita? Protes telah banyak dilancarkan, yang lebih banyak disambut bungkam. Telah tumpah berbusa lidah dan tumpah tinta. Memang Islam dan pranatanya seperti Quran dan hari Jumat telah dijamin akan tetap suci mulia di sisi Allah. Kini tinggal kita, para abdullah (hamba Allah) yang mesti berdedikasi pada Al Khalik dan meninggikan asma Allah di muka bumi.

Dulu mendiang Perdana Menteri Yitzhak Rabin berseru lantang,”Islam adalah musuh yang paling keras!” Ironisnya, yang membunuhnya pada era 90-an justru seorang militan radikal Yahudi! Sekarang pun, Paus Benedictus XVI—yang diametral berbeda dari pendahulunya yang welas asih—berpolah bagai Paus Urban, sang agitator Perang Salib belasan abad silam, dengan janjinya akan “tanah yang dijanjikan” dengan teks kuliah umumnya yang bagai menabuh genderang perang. Runtuh sudah bangunan dialog peradaban dan antaragama yang dijalin Paus Yohanes Paulus II. Sebelumnya ia juga kerap bersuara miring terhadap Islam dan ‘menghalangi’ eksekusi teroris Tibo cs (Gatra, September 2006). Entah, takdir apa yang Allah tetapkan padanya kelak. Waktu yang akan membuktikan. Reaksi keras dari ummat Islam internasional membuatnya melawat ke Turki sebagai simbol pertemuan budaya Islam dan Kristen dan melakukan “gerakan sholat” di Masjid Biru. Namun, itu penampakan luar. Entahlah apa yang sesungguhnya ada di hatinya.

Di sisi lain, protes dan kritik terhadap media yang nyeleneh adalah keharusan sebuah civil society. Jauh panggang dari api jika berharap pada regulasi pemerintah mengenai tayangan TV dan media. Entahlah jika Indonesia punya jenderal Muslim sekaliber Soonthi Boonyaratkalin (Thailand) yang berani mengkudeta Thaksin atas nama necessary evil (kejahatan yang perlu) karena jengah dengan dominasi media massa yang dicukongi rezim Thaksin yang tak menyuarakan aspirasi rakyat yang sejati.

Namun protes dan kritik terhadap media juga butuh strategi. Tidak sekedar berbekal semangat, tapi perlu bu’dunnazhar (wawasan yang luas). Setidaknya seperti yang dimiliki Hasan Al Banna, pemimpin Ikhwanul Muslimin, ketika menanggapi seorang anggotanya yang gerah dengan sebuah artikel yang melecehkan syariat Islam di surat kabar Al Ahram, Mesir. Ikhwan itu memintakan pendapatnya atas tulisan yang hendak dikirimnya untuk membantah artikel yang meresahkan tersebut.

Dengan tersenyum, Hasan Al Banna berkata bijak,”Akhi, tulisanmu ini baik sekali. Sangat argumentatif, namun ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan. Pertama, pemikiran dalam artikel itu sangat menusuk hati kaum Muslimin. Dan saya kira penulis tersebut hanya ingin menarik perhatian dengan berbagai cara. Kedua, pembaca surat kabar itu relatif sedikit dibandingkan keseluruhan penduduk Mesir, dan rata-rata mereka tidak serius membacanya. Ketiga, bantahanmu itu akan menimbulkan beberapa titik rawan. Di antaranya menarik perhatian orang yang belum membacanya. Atau bagi yang sudah membacanya, ia akan mengulangi bacaannya lagi dengan serius. Dengan begitu kita telah mengajak manusia untuk memperhatikan suatu keburukan yang mungkin mempengaruhi orang yang jiwanya lemah.”

Alhasil, tulisan bantahan pun batal dikirimkan. Waktu memang membuktikan. Takdir Allah berjalan adil. Sang sastrawan penulis artikel kontroversial itu, yang kemudian dikirim belajar ke Amerika dan justru terbuka mata hatinya, di kemudian hari menjadi anggota Ikhwanul Muslimin yang aktif berdakwah dengan tulisan bahkan gugur di tiang gantungan akibat tulisan-tulisannya yang dianggap menentang rezim penguasa Mesir. Ia juga menelorkan karya monumental, tafsir Quran Fi Dzilalil Quran. Ya, ialah Asy-Syahid Sayyid Quthb.***

dikutip dari: penulislepas.com

Iklan
%d blogger menyukai ini: