Tiga “Amunisi” Barat Menghancurkan Islam


Hidayatullah.com— Menurut Hamid, di forum-forum internasional, Barat sering secara “memaksa” memasukkan nilai-nilai nya kepada dunia Islam agar diterima. Sementara dirinya tak mau mengadopsi nilai-nilai Islam menjadi nilai universal.

Direktur center for Islamic and occidental studies (CIOS), Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Ponorogo ini, mengatakan paham liberalisme gencar-gencarnya muncul antara tahun 2000 dan 2001. Tepatnya saat tragedi runtuhnya world trade center (WTC) pada 11 September 2001. Tregedi ini, menurut Doktor lulusan ISTAC Malaysia ini merupakan grand design George W Bush untuk menabuh genderang perlawanan terhadap radikalis Islam dengan amunisi liberalisme Barat.

Setelah “amunisi” tersebut berhasil memakan korban baik fisik maupun pemikiran di Negara-negara Islam, kemudian berekspansi ke Indonesia. Caranya sama, yakni dengan stigmatisasi terorisme. Bom Bali buktinya. Banyak bukti baik temuan pakar hal-hal meragukan kejadian Bom Bali. Tapi dengan cara inilah, dunia akan mengklaim ada terorisme di Indonesia. Secara tidak langsung, Barat berhasil mengantongi ligitimasi dunia untuk melawan terorisme yang pada hakikatnya adalah melawan Islam.

Menurut Hamid, dalam melawan “terorisme”, Barat memiliki tiga “amunisi” ampuh. Pertama, westernisasi (pembaratan), Kedua, kolonialisasi dan Ketiga, globalisasi. Ketiga hal inilah yang sekarang sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh Barat.

Seperti westernisasi ungkapnya, Barat sebagai Negara adidaya memaksakan Negara-negara berkembang untuk “mengkonsumsi” nilai-nilai universailitas (universal value) versi Barat seperti demokrasi, kapitalisme, free sex (seks bebas), gender equality (kesetaraan gender)dan lain sebagainya. Sedangkan globalisasi, Barat sengaja memposisikan bangsa-bangsa yang lemah untuk menerima kultur, tradisi, konsep, sistim dan nilai-nilai yang dianggap global (universal) untuk diadopsi. Dan untuk kolonialisasi, kini bentuknya lebih soft (ringan), tidak lagi dengan senjata namun dengan pemikiran dan bentuk kerja sama yang intinya “menjajah”.

Seks bebas, misalnya. Menurut Hamid, agama Kristen dan Islam sangat menentangnya. Begitu pula agama-agama lain di dunia. Tapi, Barat tak memasukkannya menjadi nilai-nilai universal. Agak berbeda dengan nilai-nilai HAM yang sering dipaksakan di Negara-negara Islam. Barat sering memaksakan ide dan gagasannya kepada dunia Islam menjadi nilai-nilai universal, tapi jarang mau memakai nilai-nilai Islam menjadi nilai universal.

Ketiga “amunisi” di atas itulah yang menurut Hamid yang sedang dilakukan Barat. Dan untuk bidang pemikiran, Barat memasarkan bidang-bidang filsafat seperti, rasionalisme, empirisme, dikotomi, pragmatisme, relativisme, dan nilai-nilai universal lainnya. Kini, menurutnya di Indonesia sedang gencar-gencarnya dipasarkan produk tersebut.

Di Indonesia gerakan tersebut sedikit banyaknya telah mendapat pengikut. Malah terdapat sejumlah pemimpin ormas besar dan beberapa pejabat Negara. Fahmy memperlihatkan lebih dari seratus orang di Indonesia yang telah menjadi liberal. Bahkan tak sedikit mereka adalah alumni pondok pesantren, termasuk alumni Gontor katanya.

Menurut Fahmy gerakan liberalisme memang cukup marak karena disokong dana dari luar dengan jumlah yang sangat banyak. “Jadi, siapa yang tidak tergiur uang” katanya. Banyak orang Indonesia yang dikuliahkan ke Barat dengan beragam fasilitas dan didanai untuk penerbitan buku-buku liberal dan mendistorsikan fakta di media.

%d blogger menyukai ini: