Mengapa Yahudi Makin Ekstrem?

Dr. Fayez Abu-Shamala

“Ini adalah negara demokratis Yahudi” Ini yang dibanggakan oleh “Tzipi Livni” di suatu malam saat memberikan sambutan kemenangan, sebelum di pagi hari diumumkan bahwa partai ekstrim pihak Yahudi telah memenangkan 65 kursi, sedangkan lebih ringan radikalismenya memenangkan 44 kursi. Sisanya dari 11 suara parlemen diperoleh oleh Arab. Kemenangan ini membuat sedang kelompok kanan ekstrim membuat Silvan Shalom salah satu elit partai Likud mengatakan, “Tidak ada pemerintah persatuan nasional, tidak ada pertukaran jabatan perdana menteri dari partai Kadima dan Likud. Pemerintah hanya untuk kelompok ke kanan.

Dengan persentase tinggi ini seharusnya muncul pertanyaan: Mengapa orang-orang Yahudi cenderung kepada kelompok yang paling ekstrim kanan?

Sejumlah analis mencoba menghubungkan Partai Buruh Israel yang rontok perolehan kursinya [19 kursi untuk 13 kursi] dan antara terus serangan roket Palestina ke selatan Israel. Suara partai Buruh menurun di kotaAshdod dari 11% pada pemilu sebelumnya menjadi 5% pada saat pemilihan kali ini. Penurunan prosentasi yang hampir sama juga terjadi di kota Be’er Sheva, Ashkelon. Ini mengisyaratkan bahwa warga Israel di sana memberikan sanksi kepada kepada Menteri Pertahanan yang gagal mempertahankan mereka di kota-kota di selatan Israel. Namun penurunan Partai Buruh juga terjadi di kota-kota tengah Israel dan utara Israel yang tidak mendapatkan serangan roket Al-Qassam. Bahkan Partai kiri “Meretz” yang sebelumnya memiliki lima kursi di Knesset Israel, menurun menjadi tiga kursi. Ini menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan radikal dalam psikologis, mental, dan emosional serta logika orang-orang Yahudi mengenai warga Palestina, dan wilayah secara keseluruhan.

Ada dua faktor yang mendorong masyarakat Israel menjadi ekstrimis; pertama: rasa takut berlebihan yang menyentuh syaraf kehidupan di negara Yahudi. Kekhawatiran itu timbul akibat bahaya yang mengancam mereka namun bahaya itu tidak jelas. Ketakutan ini akhirnya menggerakkan warga yahudi untuk berporos kepada warisan sejarah, dan keyakinan terhadap idelogi rasisme. Dari sana kemudian mereka mencari jalan keluar. Alasan ketakutan ini kembali kepada meningkatnya perlawanan Palestina dan Lebanon, dan perubahan-perubahan yang menggelisahkan negara negara Yahudi.

Kubu ekstrimis [Lieberman] memanfaatkan situasi ini. Ia berperan dalam memperuncing dengan menggulirkan undang-undang pewarganegaraan terhadap warga Palestina wilayah 48, mengancam akan menghabisi Hamas, menghancurkan Jalur Gaza dengan bom nuklir, bahkan kepada Mesir yang tidak lagi mencegah penyelundupan senjata, dan atas Iran yang memberi senjata kepada perlawanan.

Factor kedua yang menyebabkan Yahudi lebih ekstrimis karena keyakinan berlebihan bahwa mereka melakukan semuanya tanpa ada sanksi dan perhitungan. Tindakan jahat mereka tidak pernah mendapatkan reaksi berarti dari bangsa Arab. Perasaan ini semakin kuat sehingga mereka menghina bangsa Arab ketika Liga Arab memasang iklan di media Israel untuk mempromosikan prakarsa Arab untuk perdamaian yang tidak pernah didengar Israel. Kedua, setelah 22 hari perang kejahatan Israel dann semua senjata di dikerahkan ke Jalur Gaza di depan mata dan telinga negara-negara Arab namun mereka hanya bisa diam. Secara lahir mereka hanya memberikan makanan dan dan obat-obatan. Kecenderungan negara Yahudi kepada ekstrmis kanan karena ketidak berdayaan politik Arab.

Iklan

Israel Usir Ribuan Warga Palestina di Yerusalem

Israel kembali akan merampas rumah-rumah warga Palestina di kota Yerusalem Timur (al-Quds). Untuk itu, rezim Zionis mengeluarkan surat perintah pada ratusan pemilik rumah agar segera pindah sebelum Israel menghancurkan rumah-rumah tersebut.

Hatem Abdul Kader, pejabat Palestina yang bertanggung jawab atas urusan perkotaan mengatakan, sekitar 80 warga di kawasan al-Bustan sudah menerima surat peringatan untuk segera pindah dari pihak Israel, dengan alasan rumah-ruman mereka ilegal.

Menurut Kader, rezim Israel di daerah pendudukan Yerusalem sudah sering menggunakan alasan “bangunan ilegal” untuk mengeluarkan surat perintah penghancuran bangunan milik warga Palestina, meski warga mengajukan keberatan. Padahal, kata Kader, rumah-ruman yang disebut Israel ilegal sudah berdiri sebelum tahun 1967, sebelum Israel menganeksasi al-Quds usai perang enam hari.

“Alasan Israel sebenarnya bukan masalah legal atau ilegal, tapi lebih pada alasan politik. Israel ingin menciptakan kondisi demografi yang tidak seimbang antara warga Palestina dan para pemukim Yahudi di al-Quds,” tukas Kader.

Seorang warga Palestina mengeluhkan kebijakan rezim Zionis Israel yang akan menggusur rumahnya yang dibangun satu setengah tahun yang lalu. “Saya sudah minta ijin membangun tapi rezim Zionis tidak pernah memberikannya. Sekarang saya malah mendapat surat peringatan untuk meninggalkan rumah saya,” kata warga tersebut.

Sekretaris Jenderal otoritas Islam-Kristen untuk Yerusalem, Hassan Khater menambahkan, Israel ingin membangun taman-taman di tanah tempat rumah-rumah itu berada dan merupakan bagian proyek yudaisasi Israel di kawasan kompleks Masjid al-Aqsa yang disebut sebagai “Proyek Lembah Suci”.

Jika Israel benar-benar menggusur rumah-rumah di kawasan al-Bustan, maka sekitar 1.500 warga Palestina akan kehilangan tempat bernaung. Khater menyerukan warga agar menolak surat perintah itu, melawan upaya rezim Zionis yang ingin merampas rumah-rumah mereka, menolak tawaran Israel agar warga pindah ke kawasan pinggiran lainnya seperti Beit Hanina, menolak menerima kompensasi apapun dari Israel dan menolak segala bentuk upaya rezim Zionis Israel yang ingin memperkuat cengkeramannya atas Masjid al-Aqsa dan kota Yerusalem. Israel memang berambisi untuk merebut kota Yerusalem untuk dijadikan ibukota negara Yahudi.

Sumber: http://mediamuslim.blogdetik.com

Sufi Muhammad Serukan Hukum Islam Global di Seluruh Dunia

Swat – Sufi Muhammad, salah satu pemimpin Taliban Pakistan yang melakukan pembicaraan damai dengan pemerintah mengatakan bahwa dia mendukung penerapan hukum Islam di seluruh dunia. Sufi juga mengatakan bahwa dia juga sanggup bekerja sama dengan pemerintah untuk menghabisi intelejen India yang beroperasi di wilayah Pakistan.

Statement itu dikatakan Sufi Muhammad dalam rangkaian kampanye penegakkan Syariah Islam di Swat. Sufi tiba di Swat hari Selasa setelah melakukan kampanye damai di sekitar wilayah Dir.

“Kita membenci demokrasi”, kata Sufi Muhammad kepada ribuan massa pendukung penerapan hukum Islam di Mingora. “Kita menginginkan penerapan Islam di seluruh dunia. Islam tidak mengijinkan demokrasi atau pemilu”.

“Semenjak dari awal, saya melihat bahwa demokrasi adalah system yang dibuat dan digunakan oleh orang kafir. Islam tidak mengenal demokrasi atau pemilu”, kata Sufi Muhammad kepada harian Deutsche Presse-Agentur, sehari sebelum perjanjian Malakand ditandatangani.

“Saya percaya bahwa pemerintahan Taliban adalah sebuah bentuk negara Islam yang komplit, sebuah contoh ideal untuk ditiru negara Muslim lainnya”.

Sufi juga besedia bekerja bersama pemerintah di wilayah Propinsi Perbatasan Baratlaut untuk “segera mengambil tindakan tegas di divisi Malakand dari elemen RAW dan kriminal”, karena pemerintah sudah mempunyai cukup bukti bahwa India mulai mencampuri urusan di daerah Swat. RAW adalah Research and Analysis Wing, sebuah agen intelejen India yang bekerja khusus di luar wilayah India.

MEWASPADAI GENERASI SETAN

Di malam akhir tahun dan sekaligus malam untuk menyambut tahun baru, biasanya hingar bingar musik dan hiruk pikuk hiburan berpadu dengan gegap gempitanya maksiat. Apakah statement ini terlalu berlebihan atau bahkan salah?

Dalam Islam, sesungguhnya tidak dikenal adanya perayaan akhir tahun dan malam tahun baru, walaupun berdasarkan kalender hijiriyah, apalagi patokan standarnya adalah tahun Masehi yang berarti tahun kelahiran Tuhan. Ini adalah budaya non Islam yang bahkan berasal dari budaya paganisme atau penyembah berhala untuk merayakan hari Tuhan mereka. Namun sayang seribu sayang, hal ini ternyata banyak yang tidak disadari sepenuhnya oleh ma-yoritas kaum muslimin.

Saat perayaan tersebut, akhir-akhir ini dengan sangat jelas dan kentara bahkan sudah diekspos luas dengan tanpa malu, adalah munculnya beragam simbol setan dan iblis. Selain berbagai bentuk kemaksiatan dan perilaku kesetanan yang marak, simbol setan yang terlihat adalah laku kerasnya aksesoris setan, seperti pakai-an ala setan atau vampire, topi tanduk setan dan lain sebagainya.

Pertanda apakah ini?

Itu adalah gambaran sebuah shira’ (pertarungan), atau clash (benturan) dalam istilah orang-orang Barat, antara yang haqq (benar) dengan yang batil, antara Islam dengan budaya jahiliyah dan kufur, antara tentara Allah swt dan tentara setan, antara dua generasi yang berbeda kutub dan ideologi!

Dalam paparan dan penjelasan al-Qur’an dan as-Sunnah, ada dua profil generasi yang saling berlawanan satu sama lain, yaitu generasi Rabbani (Qur’ani) dengan generasi setan.

Generasi Qur’ani merupakan generasi shalih yang secara ikhlas menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai landasan hidup dan ‘pewarna’ bagi kehidupannya. Gerak dan bersitan hati, tingkah laku, dan bahkan seluruh sikap hidup mereka senantiasa mengikuti ajaran agama Allah swt yang haqq.

Sebaliknya, generasi setan merupakan profil generasi sesat lagi menyesatkan yang kehidupannya selalu diwarnai dengan pelanggaran, penyimpangan, dan kemaksiatan terhadap Allah swt, Rabb yang telah menciptakan mereka. Setan menjadi ‘panglima kehidupan’ yang selalu membenamkan diri mereka ke dalam samudera dosa dan kemaksiatan. Akhirnya, hidup mereka dipersembahkan untuk selalu mengabdi kepada setan dan untuk senantiasa bermaksiat kepada Allah swt. Na’uudzu billah.

Di antara generasi setan tersebut banyak yang sadar bahwa mereka adalah budak-budak setan, namun banyak pula yang tidak sadar –mudah-mudahan ini yang terbanyak– ter-utama kaum muslimin yang berpe-rilaku sebagai potret generasi setan.

Tidak ada satu orang tua pun di mana saja mereka berada yang menghendaki anaknya menjadi generasi setan. Semua orang tua bahkan mencita-citakan agar anaknya menjadi generasi shalih yang memiliki budi pekerti yang mulia dan menyejukkan mata. Namun, membentuk generasi Rabbani bukanlah hal yang mudah. Kesungguhan tekad para orang tua dan pendidik, serta keikhlasan dan kesabaran mendidik anak dengan agama, menjadi tiang penyangga yang kokoh bagi terwujudnya generasi Rabbani tersebut. Ditambah doa kepasrahan kepada Allah swt agar Dia senantiasa memayungi kehidupan anak-anak kita dengan hidayah-Nya. Bila demikian keadaannya, niscaya generasi Rabbani akan betul-betul nyata di depan mata, yang akan menghembuskan bau surga yang semerbak di dalam keluarga dan menjadikan dunia merekah indah laksana indahnya surga.

Namun, ingatlah wahai para orang tua dan para pendidik generasi!

Setan tidak akan pernah rela dunia ini dikuasai oleh generasi Rabbani!

Setan tidak pernah menginginkan generasi Rabbani berkembang dan terus bertambah!

Ia akan terus menggoda dengan berbagai upaya agar anak-anak kita menjadi barisan generasi sesat yang dipimpinnya. Menjauhkan anak-anak kita dari agama merupakan trik-trik setan untuk memadamkan cahaya keimanan dari dalam diri anak-anak kita. Dan, langkah setan ini sungguh memperlihatkan hasil yang luar biasa. Bukti nyata terkini adalah bila kita mencermati keadaan dunia akhir-akhir ini, atau dengan merenungi kejadian di akhir tahun dan awal tahun. Hanya kepada Allahlah kita memohon pertolongan dan perlindungan!

Karakteristik Generasi Setan

Berkaitan dengan generasi setan, Allah swt berfirman:

“Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kerugian.” [QS. Maryam: 59]

Di dalam ayat ini, Allah swt memberikan gambaran karakteristik generasi setan yang kini semakin merajalela.

Pertama, adhaa’u ash-shalaah (menyia-nyiakan shalat).

Para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan adhaa’u ash-shalaah adalah tarkuhu bi al-kulliyyah (meninggalkan shalat secara keseluruhan, tidak shalat sama sekali), atau juga adhaa’u al-mawaaqiit (lalai dalam hal waktu, menjalankan shalat namun tidak tepat waktu).

Generasi setan sangat melalaikan shalat. Padahal, shalat adalah ibadah sangat penting yang jika telah hilang dari dalam diri seseorang, maka hilang pula keislamannya.

Rasulullah saw bersabda:

(( لَتُنْقَضَنَّ عُرَى الإِِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً، فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا، وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ ))

“Sungguh tali-temali Islam akan terle-pas satu utas demi satu utas. Setiap kali satu utas tali terlepas, orang-orang akan berpegang kepada tali sesudahnya. Yang pertama kali akan terlepas adalah hukum dan yang terakhir terlepas adalah shalat.” (HR. Ahmad)

‘Umar bin al-Khaththab menegaskan: “Jika kamu melihat seseorang yang menyia-nyiakan shalat, demi Allah kepada selain itu ia akan lebih menyia-nyiakan lagi.”

Kedua, ittiba’u asy-syahawaat (mengikuti hawa nafsu).

Setelah seseorang menyia-nyiakan shalat, maka sudah dapat dipastikan bahwa hawa nafsu akan menguasai dirinya. Ia tidak lagi mengindahkan hukum halal-haram, pahala-dosa, karena ‘tali hukum’ telah terlepas dari dalam dirinya. Ketika ‘tali shalat’ telah lepas, maka ‘tali’ setan dan hawa nafsulah yang akan menjerat jiwanya. Setan adalah musuh yang amat nyata, dan hawa nafsu akan selalu membawa kepada kesesatan.

Allah swt telah menegaskan:

“…Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku….” [QS. Yusuf (12): 53]

Ketika setan dan hawa nafsu telah menjadi raja; maka dosa, kemaksiatan dan pelanggaran adalah para prajurit pembawa panji-panji kesesatan. Para prajurit setan dan hawa nafsu itu bisa menjelma dalam wajah narkoba, free sex (seks bebas), judi, meninggalkan shalat, membuka aurat, pacaran, nonton VCD porno, durhaka kepada orang tua, dan lain sebagainya.

Di akhir ayat 59 dalam surat Maryam tersebut ditegaskan bahwa generasi setan yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya kelak akan menemui al-ghayy.

Yang dimaksud al-ghayy adalah khusraan (kerugian) dan syarr (keburukan). Al-Ghayy juga merupakan sebuah lembah di neraka Jahannam yang menjijikkan dan sangat dalam.

Itulah balasan menyeramkan yang akan ‘dihadiahkan’ kepada generasi setan. Na’uudzu billahi min dzaalik.

Tiga Pilar Pendidikan Generasi

Setelah kita memahami agama dengan baik, kemudian bila kita mendalami kehidupan dengan cermat, niscaya kita menyadari akan bahaya dan kerusakan yang ditimbulkan oleh generasi setan. Solusinya, selain dengan mewaspadai generasi setan adalah dengan mendidik generasi Rabbani dan memperbanyaknya!

Seorang ahli pendidikan berkata:

“Bergegaslah untuk mendidik anak-anakmu, sebelum kesibukanmu bertumpuk-tumpuk. Jika ia telah menjadi dewasa dan tidak berakhlak, maka ia justru akan lebih memusingkan pikiranmu!”

Kesungguhan dan perjuangan sejati dalam memberikan pendidikan secara baik menjadi kekuatan amat dahsyat yang akan membebaskan anak dari cengkeraman jahat generasi setan. Setidaknya ada tiga pilar pendidikan yang amat vital untuk meneguhkan benteng keagamaan anak-anak kita, sehingga mereka tangguh menghadapi godaan setan dan hawa nafsu.

Pilar pertama, shalat.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda:

(( حَافِظُوْا عَلَى أَبْنَائِكُمْ فِي الصَّلاَةِ، وَعَوِّدُوْهُمُ الْخَيْرَ، فَإِنَّ الْخَيْرَ عَادَةٌ ))

“Jagalah anak-anak kalian untuk selalu melaksanakan shalat, dan biasakanlah mereka untuk berbuat baik, karena berbuat baik itu harus menjadi kebiasaan.” (HR. al-Thabrani)

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Hisyam bin Sa’id berkata, “Kami pernah datang kepada Mu’adz bin ‘Abdillah bin Khubaib al-Juhni. Mu’adz berkata kepada istrinya, ‘Kapankah anak harus shalat?’ Istrinya menjawab, ‘Seseorang dari keluargaku pernah menyebutkan hadits dari Rasulullah saw bahwa beliau pernah ditanya tentang itu. Lalu, beliau menjawab:

(( إِذَا عَرَفَ يَمِيْنَهُ مِنْ شِمَالِهِ، فَمُرُوْهُ بِالصَّلاَةِ ))

Jika anak sudah bisa membedakan mana kanan dan kiri, maka perintahlah anak untuk shalat.” (HR. Abu Dawud)

Bahkan akan sangat positif bila anak dibiasakan mengerjakan shalat tahajjud sejak dini.

Pilar kedua, masjid.

Melekatkan anak dengan masjid merupakan usaha yang cerdas, tepat, dan bahkan tidak ada tandingannya untuk menyelamatkan generasi ini dari kerusakan.

Pilar ketiga, puasa.

Puasa Ramadhan dan puasa-puasa sunnah merupakan pilar yang kokoh untuk membentengi hati anak dari gempuran nafsu yang merusak.

Shalat dan masjid merupakan pilar pembebas dari sikap ‘menyia-nyiakan shalat’ (adhaa’ush shalaah), dan puasa menjadi pilar pembebas dari sikap ‘memperturutkan hawa nafsu’ (ittiba’u asy-syahawaat).

Jadi, shalat, masjid dan puasa merupakan senjata yang ampuh untuk menghancurkan jiwa setaniyyah dalam diri generasi kita.

Semoga Allah swt menjauhkan kita dan keturunan kita dari cengkeraman generasi setan.

Dan semoga Allah swt menjadikan kita dan keturunan kita, baik laki-laki maupun perempuan, menjadi generasi Rabbani (Qur’ani). Amin.

red.ummatie

Palestina Dan Harapan Masa Depan

Palestina adalah bumi kaum muslimin. Di dalamnya terdapat Masjid al-Aqsha yang merupakan kiblat pertama umat Islam dan tempat di-isra’-kannya Nabi kita, Muhammad saw. Ia juga salah satu dari tiga masjid suci umat Islam. Oleh karena itu, pembebasan Palestina dari cengkeraman kaum Yahudi merupakan kewajiban kaum muslimin di seluruh dunia. Palestina termasuk dari Syam, dan Syam adalah bumi yang diberkahi oleh Allah swt. Ia tempat diutusnya para rasul. Kini, umat Islam adalah satu-satunya pewaris ajaran para rasul, oleh karena itu merekalah yang paling berhak mewarisi tanah Palestina. Sebagaimana firman Allah swt: “Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.(QS. al-Anbiyaa’: 105).

Mungkinkah berdamai dengan Israel?

Tidak sedikit para komentator politik dan tokoh-tokoh dunia yang menyerukan perdamaian antara rakyat Palestina dan Israel. Apalagi pasca tragedi Gaza yang telah menyebabkan kematian lebih dari seribu lima ratus rakyat Palestina yang tak berdosa, maka seruan perdamaian itu kian nyaring terdengar. Kalangan ini sangat yakin sekali bahwa perdamaian antara Yahudi dan Palestina bukanlah suatu hal yang mustahil. Bahkan ia merupakan solusi terbaik untuk kedua rakyat tersebut. Cukuplah pertumpahan darah yang telah berjalan selama hampir enam puluh tahun ini. Mengapa kedua belah pihak tidak memulai membuka lembaran baru dengan hidup berdampingan secara damai? Bukanlah hal ini lebih maslahat bagi keduanya?

Sekilas pemikiran tersebut memang nampak ideal dan menjanjikan. Akan tetapi benarkah perdamaian merupakan solusi terbaik bagi rakyat Palestina? Kemudian, mungkinkah hal itu terwujud? Untuk menjawab permasalahan ini pertama-tama kita harus mempelajari watak bangsa Israel. Bangsa Yahudi adalah bangsa yang sangat tua usianya dan telah Allah swt kirim kepada mereka banyak nabi dan rasul. Akan tetapi, sikap mereka kepada para nabi dan rasul sering kali kelewatan. Setiap kali para nabi tersebut membawa sesuatu yang tidak mereka senangi niscaya nabi itu mereka dustakan. Allah swt berfirman:

“Apakah setiap kali datang kepada kalian (wahai orang-orang Yahudi) seorang rasul yang membawa sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kalian lalu kalian menyombongkan diri; maka beberapa orang (diantara mereka) kalian dustakan dan beberapa orang (yang lain) kalian bunuh?” (QS. Al-Baqarah: 87)

Kaum Yahudi terkenal dengan tabiatnya yang suka melanggar janji. Sejarah umat Islam telah membuktikan hal itu. Ketika Rasulullah saw hijrah ke Madinah, banyak suku-suku Yahudi yang tinggal di kota itu. Ada tiga suku Yahudi besar yang mendiami Madinah yaitu: bani Qainuqa’, bani Nadhir dan bani Quraidhah. Setelah Rasulullah saw menetap di Madinah, beliau membuat perjanjian dengan ketiga suku tersebut. Isi perjanjian tersebut intinya adalah aturan-aturan yang mengikat kedua belah pihak untuk hidup berdampingan secara damai. Perjanjian itu menjamin kemaslahatan kedua belah pihak dan sama sekali tidak merugikan kaum Yahudi. Akan tetapi dalam realitanya, ketiga suku tersebut satu persatu melanggar perjanjian. Bahkan suku bani Quraidhah melakukan makar yang sangat berbahaya yaitu berkolaborasi dengan tentara Quraisy dan sekutunya untuk menghabisi kaum muslimin di Madinah. Setelah Allah swt menggagalkan rencana jahat tersebut dan kaum muslimin berhasil mengepung mereka, maka keputusan yang dijatuhkan terhadap mereka pun tidak tanggung-tanggung lagi. Seluruh kaum laki-laki yang telah dewasa dieksekusi, seluruh kaum wanita dan anak-anak dijadikan budak. Ini adalah balasan setimpal atas pengkhianatan mereka yang sangat berbahaya itu.

Allah swt berfirman tentang watak kaum Yahudi:

“Maka dikarenakan mereka melanggar perjanjian, Kami kutuki mereka dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah-rubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat).” (QS. Al-Maidah: 13)

Sebelum membahas gagasan perdamaian maka pangkal kezhaliman, yaitu penjajahan harus dihilangkan terlebih dahulu. Satu permasalahan yang harus kita pahami adalah kapankah suatu bangsa itu pantas berdamai? Sebelum penjajah hengkang dari tanah air ataukah setelahnya? Jika suatu bangsa berdamai dengan penjajah sementara mereka masih menjajah tanah airnya, maka ini bukanlah suatu perdamaian tetapi sikap menyerah. Perdamaian baru mungkin digagas dan dibicarakan jika para penjajah telah keluar dari bumi yang dijajahnya. Untuk mendekatkan logika tersebut marilah kita ambil sebuah contoh. Jika, ada seorang preman menyerang Anda ketika Anda sedang beristirahat di rumah lalu mengusir Anda dari rumah tersebut dan mengklaim bahwa rumah itu adalah miliknya, Anda hanya boleh tinggal di pekarangan sempit di samping rumah itu. Dalam kondisi seperti ini apakah Anda berpikir untuk berdamai dengan sang perampas rumah itu? Ataukah Anda berupaya keras -dengan segala cara yang mungkin- untuk memperoleh kembali rumah Anda tersebut?

Jika Anda mengambil opsi berdamai maka ini sama dengan menyerah dan ridha dengan kehinaan. Setelah itu tidak ada orang yang akan memuji anda. Hanya sang perampas itu saja yang akan memuji dan menyanjung Anda. Tetapi jika opsi kedua yang Anda pilih yaitu perlawanan, maka kebenaran berada di pihak Anda dan semua tetangga akan mendukung perjuangan Anda.

Sejarah bangsa-bangsa yang terjajah juga mengajarkan, bahwa tidak ada satu bangsa terjajah yang bisa mendapatkan kemerdekaanya tanpa perjuangan. Kemerdekaan bukanlah hadiah manis dari sang penjajah. Sungguh tidak logis jika mengharap penjajah bermurah hati dan bersikap adil.

Oleh karena itu, peperangan antara kaum muslimin dan kaum Yahudi adalah peperangan abadi yang tidak akan berakhir kecuali dengan hampir berakhirnya kehidupan di muka bumi. Yakni menjelang hari kiamat. Perseteruan ini baru akan selesai apabila Nabi Isa as telah diturunkan kembali ke bumi lalu memerangi bangsa Yahudi dan membunuh Dajjal[1] dengan ujung tombaknya.

Hadits berikut merupakan informasi akan langgengnya perseteruan dan peperangan antara Islam dan Yahudi. Abu Hurairah telah meriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda:

(( لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ المُسْلِمُونَ اليَهُودَ، حَتَّى يَخْتَبِئَ اليَهُودِيُّ مِنْ وَرَاء الحَجَرِ وَالشَّجَرِ. فَيَقُولُ الحَجَرُ وَالشَّجَرُ: يَا مُسْلِمُ هذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي تَعَالَ فَاقْتُلْهُ؛ إلاَّ الغَرْقَدَ فإنَّهُ مِنْ شَجَرِ اليَهُودِ ))

“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kaum muslimin memerangi orang-orang Yahudi, lalu umat Islam akan membunuhi mereka, hingga orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon lalu batu dan pohon itu berkata, ‘Wahai orang Islam, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah engkau dan bunuhlah dia!’ Kecuali pohon Gharqad karena ia adalah pohon kaum Yahudi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang menarik dari hadits shahih di atas adalah keberpihakan benda-benda mati, yaitu batu dan pohon kepada kaum muslimin. Ini tidak lain adalah bentuk nashr (pertolongan) Allah swt yang sangat nyata. Oleh karena itu termasuk dari konsekuensi beriman kepada Nabi saw adalah membenarkan janji ini dan bahwa di tangan kaum muslimin-lah kesudahan kaum Yahudi. Peristiwa dahsyat yang kemarin berlangsung di Gaza boleh jadi merupakan pembuka jalan dan prolog bagi terwujudnya janji Rasulullah saw tersebut, wallohu a’lam.

Peran ath-Thaifah al-Manshurah

Dalam beberapa hadits yang shahih, Rasulullah saw memberikan kabar gembira kepada umatnya tentang kemunculan ath-Thaifah al-Manshurah (kelompok yang ditolong) yang akan memainkan peranan yang besar dalam menuntaskan permasalahan kaum muslimin. Hadits-hadits tentang ath-Thaifah al-Manshurah itu diriwayatkan dari jalur yang banyak sehingga Ibnu Taymiyah v me-nyimpulkan bahwa hadits-hadits tentang ath-Thaifah al-Manshurah ini mencapai derajat mutawatir. Di antaranya Rasulullah saw bersabda:

« لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِى يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ عَلَى مَنْ نَاوَأَهُمْ حَتَّى يُقَاتِلَ آخِرُهُمُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ »

“Satu kelompok dari umatku akan senantiasa berperang di atas kebenaran, mereka senantiasa unggul di atas para penentang mereka, hingga yang terakhir dari mereka akan memerangi Dajjal.”(HR. Abu Daud, al-Hakim dan Ahmad; dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi; al-Albani juga menshahihkannya) [2]

Dalam salah satu riwayat hadits tentang ath-Thaifah al-Manshurah ada keterangan tambahan bahwa keberadaan ath-Thaifah al-Manshurah itu di antaranya adalah di sekitar Baitul Maqdis (al-Quds). Dari Abu Umamah bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ عَلَى الدِّيْنِ ظَاهِرِيْنَ ، لِعَدُوِّهِمْ قَاهِرِيْنَ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ إِلاَّ مَا أَصَابَهُمْ مِنْ لَأْوَاءِ حَتىَّ يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ ، قَالُوْا : وَأَيْنَ هُمْ ؟ قَالَ :بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ وَأَكْناَفِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ

“Satu kelompok dari umatku akan senantiasa tegak di atas agama, menang melawan musuh-musuhnya, tidak akan membaha-yakan mereka siapa pun yang menyelisihinya kecuali apa yang menimpa mereka berupa kesulitan dan kesempitan hidup, hingga datangnya perintah Allah sementara mereka tetap seperti itu.” Para sahabat bertanya, di manakah mereka? Beliau menjawab, “Di Baitul Maqdis dan di sekitar Baitul Maqdis.” (HR. Ahmad, Abdullah bin Imam Ahmad, dan Thabrani).

Syaikh al-Albani berkata tentang sanad hadits ini: sanadnya dha’if karena seorang perawi yang bernama ‘Amru bin Abdullah al-Hadhrami. Perawi ini majhul (tidak diketahui keadaannya).[3] Akan tetapi Salman al-’Audah –dalam kitabnya, shifatul Ghurabaa’- menyatakan bahwa sanad hadits ini adalah hasan. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata tentang ‘Amru bin Abdullah al-Hadhrami: maqbul (diterima riwayatnya). Ia juga dinyatakan tsiqoh (terpercaya) oleh Ibnu Hibban dan al-‘Ajuli. Bukhari dan Ibnu Abi Hatim diam tentangnya (tidak berkomentar). Oleh karena itu, sanad hadits ini –menurutnya- hasan. [4]

Hadits di atas merupakan kabar gembira yang seharusnya memacu dan memotivasi kaum muslimin dalam berjihad menghadapi kezhaliman Yahudi yang kini menjajah Baitul Maqdis (al-Quds). Nabi saw mengkhabarkan –berdasarkan wahyu- bahwa sekelompok dari umatnya akan senantiasa berpegang teguh dengan agama ini, mereka akan dimenangkan oleh Allah swt atas musuh-musuhnya. Semua konspirasi dan pengkhianatan musuh sama sekali tidak akan membahayakan mereka kecuali kesempitan hidup (krisis pangan dan sebagainya) yang menimpa mereka. Allahu Akbar.

Hadits di atas sekaligus meng-isyaratkan bahwa solusi yang tepat dalam menghadapi kebiadaban kaum Yahudi tidak lain adalah dengan jihad. Sebab inilah jalan yang ditempuh oleh ath-Thaifah al-Manshurah. Panglima perang Islam ‘Amru bin al-‘Ash berhasil membebaskan Palestina dari tangan Romawi dengan jihad. Begitu pula Shalahuddin al-Ayyubi merebut Pa-lestina dari tentara salib dengan jihad.

Pelajaran berharga dari peristiwa Gaza

Peristiwa baru saja kemarin yang berlangsung di Gaza telah menampakkan banyak pelajaran penting. Peristiwa itu tidak lain adalah ujian dan tamhish (penyaringan) bagi kaum muslimin sebagaimana firman Allah swt:

“Dan sungguh Allah benar-benar akan mengetahui orang-orang yang beriman: dan sungguh Allah akan mengetahui orang-orang yang munafik.” (QS. al-Ankabut: 11).

Allah telah menampakkan -lewat peristiwa ini- hakikat keimanan dan pengaruhnya di medan nyata. Hal ini semakin menambah mantap keyakinan orang-orang yang beriman serta semakin meneguhkan mereka dalam berjihad dan memegang agama ini. Di antara nilai-nilai aqidah yang nampak dengan jelas pada peristiwa Gaza kemarin adalah ujian al-aala’ wal bara’ (cinta dan benci karena Allah).

Begitu peperangan meletus maka kaum muslimin dari berbagai penjuru bumi –baik Arab maupun non-Arab- segera memohon kepada Allah Ta’ala dengan penuh kerendahan hati di dalam shalat-shalat mereka, seraya menghidupkan sunnahnya qunut nazilah. Kemudian pernyataan demi pernyataan, fatwa demi fatwa yang menyeru kaum muslimin untuk membela saudara-saudara mereka di Gaza saling bersusulan. Mereka -dari berbagai bangsa, usia dan tingkatan- turun ke jalan-jalan untuk menuntut dihentikannya agresi Israel. Bahkan banyak dari mereka yang menuntut dibukanya pintu jihad agar mereka dapat berjihad di jalan Allah bersama umat Islam Gaza. Akan tetapi mereka dihalangi dari hal itu! Begitu pula ketika lembaga-lembaga Islam menggalang dukungan dana bagi korban perang di Gaza maka banyak kaum muslimin yang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Tidak ketinggalan sebuah pergerakan Islam di Indonesia yang fokus mendakwahkan manhaj Ahlus Sunnah yaitu HASMI (Harakah Sunniyyah untuk Masyarakat Islam), mereka turut menghimpun dana sebesar dua ratus juta rupiah untuk saudara-saudara mereka di Gaza. Itu semua membuktikan adanya ukhuwah imaniyah dan loyalitas untuk kaum mukminin.

Di sisi yang lain, ada satu kaum yang terjatuh dalam fitnah (cobaan), mereka telah mencederai ketauhidan mereka atau bahkan membatalkan keimanan mereka dengan membantu kaum kafir atas kaum muslimin serta meninggalkan aqidah al-wala’ wal bara’ dan berburuk sangka kepada Allah Ta’ala. Tragedi Gaza benar-benar menjadi batu ujian secara praktek yang berhasil dilampaui oleh mereka yang mendapat taufiq dari Allah, dan di sisi lain telah berjatuhan di dalamnya mereka yang tidak dikehendaki kebaikan oleh Allah.

“Ketahuilah bahwa mereka itu telah terjerumus ke dalam fitnah.” (QS. at-Taubah: 49)

Beberapa pihak telah terjatuh dalam penyimpangan, mereka berbicara tentang kesalahan-kesalahan Hamas, dan bahwa ia adalah penyebab semua yang terjadi. Bahkan, salah seorang dari mereka menulis di sebuah surat kabar Arab: “Gempurlah mereka wahai Israel dan jangan kalian sisakan dari mereka seorang pun!!” Lantas di manakah ukhuwah imaniyah?!

Dunia Islam tidak akan melupakan sikap PLO dan Mahmud Abbas (mantan Presiden Palestina) yang terang-terangan berpihak kepada Israel dan memusuhi para mujahidin yang sedang berjuang menangkal agresi Israel. Demikian juga dengan sikap pemerintahan Mesir yang tetap menutup gerbang Rafah pada saat-saat kaum muslimin di Palestina dilanda krisis. Ini semua adalah bentuk pengkhianatan dan keberpihakan kepada musuh.

Para ulama telah menganggap sebagai salah satu pembatal Islam adalah membantu orang-orang musyrik dalam memerangi kaum muslimin. Maka hendaklah waspada setiap orang yang membantu kaum Yahudi atau Nashara atau orang-orang kafir lainnya dalam memerangi kaum muslimin, bahwa Allah Yang Maha Perkasa akan murka dan menghukum mereka. Allah swt telah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian jadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai kawan dekat kalian. Sebagian mereka adalah kawan bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kalian mengambil mereka sebagai kawan, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (QS. al-Maidah: 51)

Pelajaran Tentang Tawakkal

Termasuk pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa Gaza kemarin adalah terputusnya tali ketergantungan antara mujahidin di Gaza dengan seluruh makhluk. Karena, Allah tidak ridha jika seorang hamba memalingkan hatinya kepada selain Allah. Kita telah menyaksikan dan mendengar hal ini berulang kali dari pernyataan sejumlah pimpinan mujahidin di Palestina. Setelah mereka mengerahkan segenap kemampuan yang mereka miliki baik secara militer maupun politik, mereka kemudian menyerahkan semua urusan kepada Allah dan tidak cenderung kepada selain-Nya. Padahal mereka tahu bahwa negara adidaya menentang mereka, mengancam dan menakut-nakuti mereka. Sementara Allah swt berfirman di dalam kitab suci-Nya:

“Bukankah Allah cukup sebagai pelindung hamba-Nya? Dan mereka menakut-nakuti kamu dengan selain Allah. Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk.” (QS. Az-Zumar: 36)

Dengan ini mereka telah memberi contoh kepada dunia tentang makna ketawakkalan kepada Allah swt. Para ulama juga telah menasihati saudara-saudara mereka di Gaza agar tidak berlindung kecuali kepada Allah semata dan tidak mengharap kebaikan pada Dewan Keamanan PBB atau lembaga-lembaga hak asasi manusia serta tidak memohon pertolongan kepada si fulan dan si fulan. Mereka semua tidak dapat menolong dari takdir Allah sedikitpun. Ketawakkalan hendaknya diarahkan kepada Allah semata, tidak kepada yang selain-Nya. al-Hafizh Ibnu Katsir ketika menafsirkan firman Allah dalam surat at-Taubah:

“Sesungguhnya Allah telah menolong kalian (wahai kaum mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kalian menjadi bangga karena banyaknya jumlah kalian, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kalian sedikitpun, sehingga bumi yang luas itu terasa sempit oleh kalian, kemudian kalian lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, serta menurunkan bala tentara yang kalian tiada melihatnya, dan Allah mengazab orang-orang yang kafir. Dan demikianlah balasan orang-orang yang kafir itu.” (QS. at-Taubah: 25-26)

Beliau berkata, “Allah swt mengingatkan orang-orang yang beriman akan karunia dan kebaikan-Nya kepada mereka ketika Dia menolong kaum mukminin di banyak medan peperangan bersama Rasulullah saw, dan bahwa hal itu dari sisi-Nya semata, dengan pertolongan dan takdir-Nya, bukan karena jumlah atau persenjataan mereka. Allah juga mengingatkan mereka bahwa pertolongan itu dari sisi-Nya, baik jumlah mereka sedikit ataupun banyak. Pada perang Hunain mereka merasa bangga dengan jumlah yang banyak. Namun hal itu tidak menolong mereka sama sekali. Lalu mereka pun mundur dan berpaling ke belakang kecuali sedikit di antara mereka yang tetap bersama Rasululla saw. Kemudian Allah menurunkan pertolongan-Nya kepada Rasul-Nya dan orang-orang mukmin yang bersamanya… agar Allah mengajarkan kepada mereka bahwa pertolongan itu hanya dari sisi-Nya semata, meskipun jumlah pasukan sedikit. Betapa sering terjadi, kelompok yang sedikit mampu mengalahkan kelompok yang banyak dengan izin Allah, dan Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Tafsir Ibnu Katsir).

Allah swt juga berfirman:

“Jika Allah menolong kalian, maka tak ada yang dapat mengalahkan kalian; tetapi jika Allah membiarkan kalian (tidak memberi pertolongan), maka siapakah yang dapat menolong kalian (selain) dari Allah? Oleh karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin itu bertawakkal.” (QS. Ali-‘Imran: 160).

Akhirnya kita berharap kepada Allah swt agar Dia menyatukan barisan kaum muslimin, meluruskan langkah-langkah mereka, dan mengembalikan bumi Palestina ke tangan kaum muslimin. Red.ummatie


[1] Dajjal adalah sosok manusia yang mengaku Tuhan dan akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang yahudi dari Asfahan. Fitnah Dajjal ini adalah fitnah terbesar semenjak Allah menciptakan langit dan bumi hingga hari kiamat. Kesudahan Dajjal akan dibunuh oleh al-Masih Isa p di dekat pintu Ludd (sebuah kota di Palestina).

[2] Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, jilid 4, hlm. 602 nomor hadits 1959.

[3] Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, jilid 4, hlm. 599 nomor hadits 1957.

[4] Salman bin Fahd al-‘Audah, Shifatul Ghurobaa’, hlm. 160-161

Ust. Abu Bakar Baasyir: “Haramkan dulu Demokrasi baru Haramkan Golput”

Pimpinan Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah (Jateng), Ustad Abu Bakar Ba’asyir, kurang sepakat dengan fatwa haram Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang tindakan tidak memilih (Golput) dalam pemilu April mendatang. “Saya kurang sepakat akan fatwa haram golput,” ungkap Abu Bakar seusai acara ceramah di Masjid Istiqamah, Bandung, Jawa Barat (Jabar), Jumat (6/2). Menurutnya, seharusnya yang diharamkan oleh MUI itu sistem negara demokrasi, karena tidak sesuai dengan syariat Islam. Setelah itu, lanjut Abu Bakar, baru lah mengharamkan Golput. “Pemeluk Islam itu harus mempunyai pemimpin, kalau tidak menjadi jahiliah. Namun dalam konteks di Indonesia, sistem demokrasinya dulu diharamkan. Baru tindakan Golput,” tegasnya. Abu Bakar juga dalam ceramahnya sempat mengkritik mengenai sitem hukum di Indonesia, yang mengacu kepada KUHPidana. Karena menurutnya, banyak yang melanggar hukum Islam. “Hukum Islam itu paling modern, biasa membuat jera. Contohnya, ada yang maling hukumnya potong tangan. Kalau mengacu kepada KUHPidana hanya dihukum penjara, dan itu tidak membuat jera,” ucap Abu Bakar.

Sumber: http://www.surya.co.id

Al-Quran pun Dilecehkan Oleh Zionis Israel

Kebiadaban Zionis Israel tidak hanya membunuh dan membantai orang-orang yang tidak berdosa serta menghancurkan fasilitas umum, seperti mesjid, rumah, sekolah, dan rumah sakit.

Bahkan mereka berani melecehkan kitab suci Al-quran dengan merobek dan mencoret-coret Al-quran dengan gambar bintang Daud yang ada di perpustakaan Rumah Sakit Al-Syifa Gaza – sewaktu penyerangan terjadi.

Tim relawan Bulan Sabit Merah Indonesia yang berangkat ke Gaza Palestina menyaksikan langsung bekas-bekas kebiadaban yang dilakukan oleh tentara-tentara Zionis Israel, dan mereka telah memfoto bukti-bukti kebiadan tentara Israel tersebut termasuk merusak kitab suci Al-Quran.

Hal ini membuktikan, bahwa agresi militer Zionis Israel ke Gaza Palestina, tidak semata-mata karena faktor membalas serangan Hamas, tapi agresi Israel ke Gaza, memang mempunyai motif agama, karena hakekatnya, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an, Yahudi dan Nashrani permusuhannya sangat keras terhadap kaum muslimin.

Sumber: http://mediamuslim.blogdetik.com