Filsafat Perenial; Akar Sebuah Kebingungan


Dari paparan panjang lebar tentang hakikat dan seluk-beluk filsafat perenial, sophia perennis, perenial shopia, perennial philosophy, scientia sacra, tradisi, al-hikmah al-khaalidah ataupun hikmah abadiyang istilahnya sayup-sayup mulai menjadi virus namun laku bak kacang goreng-, pada dasarnya adalah sebuah ajaran filsafat yang setidaknya akan menimbulkan dua dampak krusial berbahaya, yaitu:

1.      Pembatalan segala sesuatu yang berbau sakral (sacred) dan sudah mapan (taken for granted), menjadi tidak sakral lagi alias profan (desacralization) dan terjadi pereduksian terhadap absolutisme atau kebenaran mutlak agama menjadi relatif (relativization). Dari sini dapat dinyatakan bahwa hasil akhir dari filsafat perenial adalah sekulerisasi.

2.      Runtuh dan melelehnya segala bentuk dan perbedaan karakteristik dari berbagai realitas, termasuk realitas beragama, dimana filsafat perenial memang berambisi dan mengklaim untuk mengembalikan agama-agama ke habitat asal-kesucian dan kesakralannya yang sempurna lagi absolut, serta ingin memperlakukan semuanya secara adil dan sama rata sepenuhnya. Dari sini dapat dinyatakan bahwa hasil akhir dari filsafat perenial adalah pluralisasi dan liberalisasi.

Oleh karena itu, tidak salah bahkan benar adanya bila maraknya kajian filsafat perenial dalam berbagai dis-kursus, merupakan usungan dan jar-gon utama dari gerakan kaum SEPILIS (SEkulerisme, PluralIsme dan LIberaliSme).

Munculnya filsafat perenial tiada lain menggambarkan akutnya kebi-ngungan akal atau nalar modern dalam memahami fenomena pluralitas agama, yang sejatinya termasuk fenomena alamiah. Demikian bingungnya sehingga gagal memahami perbedaan, partiklaritas, dan gagal pula melihat hakikat sebagaimana adanya. Maka, semua agama kemudian diang-gap hanyalah manifestasi eksternal yang beragam dari satu hakikat yang sama, dan hanyalah ibarat jalan yang beragam menuju puncak yang sama, dan sebagainya.

Singkatnya, semua agama adalah sama dan setara dalam “kebenaran relatif”nya (menurut istilah para penganjur pluralisme agama pada umumnya), atau “keabsolutan relatif”nya (menurut istilah para pendekar sophia perennis pada khususnya).

Oleh karena itu, seseorang bebas memilih mana saja yang ia inginkan, termasuk tetap dalam agama tertentu atau berpindah-pindah dari agama yang satu ke lainnya jika berselera untuk itu, atau yang mereka istilahkan dengan passing over, begitu juga bebas untuk membuat “adonan spritual” yang seusai dengan selera yang dicampur dari berbagai agama atau “sinkretisme”; bahkan bebas juga untuk tidak memilih agama sama sekali!

Maka jadilah beragama atau religiusitas ini mirip dengan “selera” manusia masa kini dalam mode dan berpakaian (fashion). Inilah yang kini disebut-sebut sebagai “kebebasan beragama” (relegious freedom) yang menurut mereka merupakan salah satu keniscayaan tata dunia baru (New World Order) dan salah satu perangkat utama masyarakat global atau masyarakat sipil modern.

Namun yang sangat aneh adalah, bahwa tafsir kesetaraan agama ini reduksionistik dan relatif terhadap fenomena keanekaragaman agama ini telah dijadikan tertutup, absolut, dan bahkan disakralkan, tidak memberikan kebebasan orang atau kelompok lain untuk memiliki tafsirnya sendiri, satu hal yang mau tak mau telah menghadapkan para pengusung tafsir pluralis ini pada salah satu dari dua pilihan:

Pertama, bertentangan secara jelas, tidak saja dengan konsep dalam prinsip “kebebasan beragama” yang mereka usung itu sendiri, tapi juga dengan makna pluralitas agama; atau

Kedua, mereduksir hakikat agama-agama dari konsep yang semula dan dari perannya yang sebenarnya dalam kehidupan manusia.

Kedua-duanya telah merusak kehidupan keagamaan manusia dan agama-agama itu sendiri. Alih-alih trentren ini ingin memberikan solusi terhadap problem-problem fenomena kewarna-warnian agama seperti yang diklaim mereka, malah ia berubah menjadi agama-agama baru yang saling bersaing, dan menyaingi agama-agama yang sudah ada, dalam merebut  sebanyak mungkin pengikut melalui berbagai macam cara, yang pantas maupun tidak pantas, legal maupun illegal, dan oleh karenanya, tren-tren tersebut justru telah menjelma menjadi bagian dari problem itu sendiri! Dan pada saat yang sama juga telah menja-di berhala atau sesembahan yang di-sakralkan dan tak boleh disentuh.

Kebingungan ini tidak ada jalan keluarnya selagi mereka bersikukuh dengan standar nilai atau tolok-ukur kultural yang temporal dan sempit di dalam memandang realitas Tuhan, manusia, alam dan kehidupan. Khususnya tolok-ukur Barat modern yang tidak punya basis yang kokoh kecuali kepentingan (interest) pragmatis yang hanya memikirkan dirinya sendiri, dan telah terbukti banyak mendatangkan bencana kemanusiaan dan alam di seluruh penjuru jagad. Tidak ada bencara kemanusiaan yang lebih dahsyat daripada gagasan bid’ah “kesetaraan agama” yang diusung oleh mereka. Sebab gagasan ini, sebagaimana yang telah kita saksikan, mengandung setidaknya gagasan “sekularisasi” (yang masa bodoh, atau tepatnya, meredusir dan meminggirkan peran agama), kalau bukan malah “sekularisme” (yang memusuhi agama) itu sendiri.

Ini di satu sisi. Di sisi lain gagasan ini sejatinya bersifat inkonsisten, dimana ingin menyetarakan semua agama dalam kerelatifan, tapi di saat yang sama telah memonopoli “absolutisme” untuk dirinya sendiri, yakni keyakinan absolut mengenai kenisbian semua gama. Fakta lain ini tengah kita saksikan hidup dalam sistem liberal Barat, dimana negara memonopoli kekuasaan mutlak atas semua agama dengan cara “penipuan yang halus” dan memperlakukan agama-agama sesuai dengan aqidah baru ini. Inilah yang mungkin kita sebut “agama sekular” atau “agama pluralis”.

Di sini tampak jelas wajah teori atau hipotesis pluralisme agama yang asli yang selama ini berlindung dibalik topeng nilai-nilai kemanusiaan yang sangat mulia, seperti kesetaraan, toleransi, dan kebebasan eliminasi beragama dan keperbedaan. Hal ini mengantarkan kita pada kesimpulan, bahwa upaya apapun, baik yang bersifat ilmiah akademis, filosofis, teologis, atau politis, yang bertujuan menyelesaikan konflik agama-agama tidak akan mempunyai arti positif apa pun kecuali jika mampu memposisikan agama-agama pada posisinya atau titik orbitnya yang benar dan menghargainya sepenuhnya tanpa reduksi, relativisasi atau marjinalisasi.

Islam menampik dengan tegas tren-tren pluarlisme agama yang reduksionistik, di antaranya tentang masalah perenial sophia, dengan mengajukan alternatifnya yang islami yang mampu mengapresiasi secara penuh perbeda-an-perbedaan vital antar agama, dan membiarkan “yang lain” (the other) untuk menjadi dirinya sendiri sebagaimana adanya, bahkan lebih dari itu, memberikan sarana dan prasarana yang lazim bagi survival dan perkembangannya, sebagaimana yang telah dibentangkan di halaman-halaman terdahulu.

Sikap yang unik dan tiada duanya ini begitu jelas dan tegas, di mana me-realisasikannya pun diletakkan dalam konteks dan framework ibadah kepada Allah swt sehingga dengan demikian lebih terjamin dan pasti.

Sudah menjadi suatu fakta hidup yang disaksikan oleh teks-teks suci maupun catatan sejarah, semenjak awal-awal berdirinya sebuah masyarakat Islam sampai kini, di mana kelompok minoritas menikmati ketentraman, keamanan dan kebebasan. Hal ini sangat berlawanan sekali deng-an keadaan minoritas Muslim -bahkan kadang-kadang sebagai mayoritas pun- di banyak negara di dunia modern yang didominasi sekularisme dari mazhab manapun, yang tertindas dan tidak diberi hak untuk mengamalkan agamanya atau untuk memilikinya secara sempurna.

Jelas, solusi yang diberikan Islam terhadap problem pluralitas agama bertumpu pada penegasan jati diri atau identitas keagamaan dan agama yang serba meliputi kehidupan manusia. Sementara solusi-solusi kelicikannya, solusi-solusi ini menuntut biaya yang teramat mahal, yakni lunturnya indentitas keagamaan yang otentik, penelikungan dan peminggiran agama-agama, bahkan menuju penguburan agama-agama yang ada selamanya. Semua mengungkapkan secara telanjang betapa eratnya hubungan teori-teori pluralisme agama itu secara organik dengan ideologi sekularisasi dan globalisasi, dan lebih dari itu betapa besar kontribusinya dalam proses kedua-duanya. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan jika disimpulkan bahwa teori-teori pluralisme agama tersebut sejatinya adanya bagian dari proses itu sekularisasi dan globalisasi merupakan salah satu mekanismenya.

Seperti kita saksikan, untuk berlaku adil kepada semua agama, kaum “tradisonalis” mau tidak mau harus membuat pemilahan antara kebenaran esoterik yang absolutely absolute dan kebenaran eksoterik yang relatively absolute. Maka dengan demikian, gagasan “tradisional” ini sejatinya tak ada bedanya dengan gagasan-gagasan pluralis pada umumnya kecuali hanya dalam kadar (degree). Yakni jika kadar relativisme agama dalam gagasan pluralis secara umum cenderung negatif, maka dalam gagasan “tradisional” ini cenderung agak positif. Dan hal ini jelas tidak dapat melepaskan gagasan ini dari aib relativisme yang justru ingin dihindarinya. Dan yang membuatnya sangat rentan dan tidak mampu mewujudkan cita-citanya, adalah pandangannya terhadap agama yang cende-rung “reduksionistik”, dimana ia tidak mengakui jurisdiksi agama kecuali dalam wilayah kehidupan manusia yang sangat pribadi dan sempit, dan membiarkan dimensi-dimensi kehidupannya yang lain untuk diatur oleh sistem-sistem non agama (sekular). Dengan demikian gagasan ini tanpa disadari telah terjebak dalam sekularisasi dan bahkan mempunyai saham secara aktif proses sekularisasi.

Selain, gagasan “tradisional” seringkali membasiskan tesisnya pada, atau menalarkannya melalui, prinsip-prinsip dan terminologi-terminologi Islam, satu hal yang membuat sebagian peneliti untuk mengkategorikannya sebagai Islami, padahal belum tentu ada sangkut-pautnya dengan Islam.

Hikmah Abadi Dalam Islam

Dalam Islam, yang dimaksud dengan hikmah abadi adalah kebenaran wahyu yang difirmankan Allah swt dalam al-Qur’an dan disabdakan oleh Rasul-Nya saw dalam as-Sunnah. Itulah hikmah abadi yang sejati. Sehingga sangat nyata dan jelas sekali bahwa agama yang benar adalah Islam, bu-kan selainnya.

Dalam arti umum, yang dimaksud Islam adalah ajaran yang diwahyukan Allah swt kepada para rasul sebagai wujud peribadatan kepada-Nya, yang merupakan tujuan diciptakannya jin dan manusia.

Allah swt berfirman:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” [QS. Adz-Dzariyat: 56]

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripada-nya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” [QS. Ali ‘Imran: 85]

Sehingga agama yang dibawa para nabi sebelum Nabi Muhammad saw adalah Islam juga.

Allah swt berfirman:

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” [QS. Ali ‘Imran: 67]

“Dan (ingatlah), ketika aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: “Berimanlah kalian kepada-Ku dan kepada rasul-Ku”. Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu).” [QS. al-Ma’idah: 111]

Dan setelah diutusnya Nabi Muhammad saw sebagai nabi dan rasul terakhir, maka Islam yang benar adalah Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw tersebut, dalam arti Islam yang khusus.

Allah swt berfirman:

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya-lah untuk Allah, Rabb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” [QS. al-An’am: 162-163]

“…Dia (Allah) telah menamai kalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas diri kalian…” [QS. al-Hajj (22): 78]

Rasulullah saw bersabda:

(( وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ، يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أَرْسِلْتُ بِهِ، إِلاَّ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ ))

“Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, tidak ada seorangpun dari umat (dakwah) ini yang mendengar risalah (Islam)ku, baik Yahudi maupun Nasrani, lalu meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada risalahku tersebut, melainkan dipastikan sebagai penghuni neraka!” (HR. Muslim)

Hikmah Lainnya

Untuk menjawab keraguan sekaligus kesesatan penganut filsafat perenial yang menyatakan bahwa semua agama itu sama, sehingga mereka yang beragama Yahudi, Nasrani, dan Shabi’in cukup hanya mengamalkan agamanya, dan tidak usah mengikuti Nabi Muhamma saw, maka berarti membatalkan berlakunya sebagian ayat Allah swt dalam al-Qur’an. Di antaranya ayat:

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk seluruh manusia…” [QS. as-Saba’: 28]

“Katakanlah (wahai Muhammad): Hai manusia! Sesungguhnya aku utusan Allah kepada kalian semua.” [QS. al-A’raf: 158]

Apakah ayat itu dianggap tidak berlaku? Dan kalau tidak meyakini ayat dari al-Qur’an, maka hukumnya adalah ingkar terhadap Islam itu sendiri. Kemudian masih perlu pula disi-mak hadits-hadits berikut:

“Dahulu nabi diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku (Muham-mad) diutus untuk seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, tidak ada seorangpun dari umat (dakwah) ini yang mende-ngar risalah (Islam)ku, baik Yahudi maupun Nasrani, lalu meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada risa-lahku tersebut, melainkan dipastikan sebagai penghuni neraka!” (HR. Mus-lim)

Konsekuensi dari ayat dan hadits tersebut, Nabi Muhammad saw sebagai pengemban risalah Islam  yang harus menyampaikan kepada umat manusia di dunia ini.

Lantas bagaimana bisa dikatakan bahwa orang-orang ahli kitab sekarang pun akan masuk surga nantinya seperti yang didakwakan oleh sebagian orang sesat, padahal Nabi Muhammad saw menyurati Kaisar Heraclius untuk masuk Islam? Kalau Heraclius yang Nasrani itu tidak mau masuk Islam, maka akan menanggung dosa orang-orang Arianisme, yaitu kepercayaan yang menurut Islam adalah musyrik. Dan karena Nasrani itu termasuk ahli kitab, maka masih ditawari pula untuk menjalankan yang sama dengan Islam:

Wahai Ahli Kitab, marilah (berpe-gang) dalam satu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah, dan tidak kita perseku-tukan Dia dengan sesuatu pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali Imran: 64)

Ajakan itupun kalau diikuti, berarti mengikuti ajakan Nabi Muhammad saw yakni mempercayai Nabi terakhir yang mengajak Kaisar kepada kalimatun sawaa’ (kalimat yang sama) itu. Dan risikonya, kalau ajakan itu diikuti, berarti ambruklah sistem kepasturan dan kerahiban di dalam tatacara ahli kitab. Dengan ambruknya sistem kependetaan, kepasturan, dan kerahiban itu hapus pula segala sabda-sabda dalam kitab-kitab maupun aturan-aturan yang mereka bikin-bikin. Yang ada justru ajaran murni di antaranya adalah kabar tentang akan adanya utusan Allah yang bernama Ahmad yaitu Muhammad saw. Dari sini tidak bisa mengelak lagi kecuali mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw alias masuk Islam.

Jalan Keluar Terefektif Dari Kungkungan Filsafat

Jalan keluar satu-satunya agar terbebas dari jerat dan cengkeraman filsafat, termasuk filsafat perenial, adalah dengan kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahihah sesuai dengan pemahaman yang disampaikan oleh Nabi saw, difahami dan diamalkan oleh para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

Itulah jalan dan manhaj yang harus ditempuh oleh umat Islam, setelah ber-agam penyelewengan telah dibidikkan dan bahkan dijejalkan kepada umat melalui beraneka cara.

Ketika kaum munafikin membangun masjid dhirar dengan dalih untuk menolong kaum tua, kaum lemah yang tidak tahan dinginnya malam, agar dekat tempatnya dan dalih palsu lainnya. Dalih-dalih tersebut wajib dipatahkan, sedangkan bangunan mereka pun wajib dihancurkan.

Demikian pula bangunan berupa pemahaman dan pemikiran yang merusak Islam, wajib dihancur leburkan, dibalikkan kepada pencetus dan penganjur-penganjurnya, untuk kemudian menimbuni mereka bagaikan longsoran bangunan yang akan menimpa me-reka di jahannam, sebagaimana di-gambarkan dalam al-Qur’an.

Akhirnya, berpeganglah selalu ke-pada al-Qur’an al-Karim, Sunnah Rasulullah saw dan pemahaman para salafush shaleh!

Jauhkan dan enyahkanlah sumber lain selain dari sumber tersebut, termasuk filsafat perenial, atau apapun namanya!

Red.ummatie

%d blogger menyukai ini: