Berikanlah yang Baik


Fitrah manusia menghendaki dan menginginkan sesuatu yang baik. Hal ini berlaku bagi si kaya dan si miskin.

Jika kita diberi karunia oleh Allah dengan harta yang banyak (kaya), maka janganlah kita berpikiran bahwa selain kita (orang miskin) hanya berhak mendapatkan sesuatu yang sudah usang. Bukankah manusia pada dasarnya mempunyai perasaan yang sama? Jika seseorang tidak mau disakiti, maka yang lain pun demikian, jika kita tidak mau diberi sesuatu yang buruk, maka orang lain juga demikian, jika kita ingin diper-lakukan dengan baik, maka orang lain juga demikian, dan seterusnya.

Boleh jadi kita belum terbiasa untuk memberikan sesuatu yang baik kepada orang lain. Bukankah kita cenderung memberikan pakaian yang “lusuh” ketimbang memberikan pakaian baru kepada orang lain? Memang tidaklah keliru jika kemampuan kita terbatas. Namun, keterbatasan tersebut perlu diimbangi dengan penilaian kita terhadap sesuatu yang kita berikan tersebut. Setidaknya kita perlu menilai sesuatu yang kita berikan (infakkan) berdasarkan dua hal; (1) harta yang diinfakkan adalah sesuatu yang masih atau sangat berguna dan bermanfaat bagi si penerima, (2) kita pun sebenarnya masih menganggap sesuatu yang diinfakkan tersebut sebagai sesuatu yang berharga bagi diri kita. Di sinilah infak merupakan pengorbanan, yakni mengorbankan sesuatu yang kita cintai atau kita butuhkan agar dimanfaatkan oleh pihak lain yang lebih membutuhkan, semata-mata karena mengharap keridhaan Allah swt.

Selain itu, kita pun diajarkan bahwa kebaikan yang hakiki tidak dapat diraih, kecuali dengan menginfakkan sebagian dari sesuatu yang kita cintai. Sebagaimana firman Allah swt, ”Kalian sekali-kali tidak sam-pai kepada kebajikan (yang sem-purna), sebelum kalian menafkah-kan sebagian harta yang kalian cintai. Dan apa saja yang kalian nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengeta-huinya.” (QS. Al-Imran: 92)

Merupakan tabiat manusia adalah mencintai sesuatu yang baik, dan enggan dengan segala sesuatu yang buruk. Maka jika kita enggan dengan yang buruk, janganlah memberikan yang buruk tersebut kepada orang lain.

Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usaha kalian yang baik-baik dan dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kalian. Dan janganlah kalian memilih yang buruk-buruk lalu kalian nafkahkan dari padanya, padahal kalian sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267)

Waspadai Bisikan Syetan

Syetan sebagai musuh abadi bagi manusia, tidak akan pernah berhenti membisikkan makarnya. Dia selalu menyuruh kemungkaran dan keburukan serta menghalangi manusia dari jalan kebaikan. Di antara cara yang digunakan syetan adalah dengan membuat tipuan (menghiasi keburukan sehingga kelihatan baik, serta menjadikan kebaikan sebagai sesuatu yang terlihat buruk).

Contohnya adalah dalam hal infak di jalan Allah swt. Allah swt telah memerintahkan kita untuk mengin-fakkan segala sesuatu yang baik dan berharga supaya memberikan mafaat bagi pihak lain. Tetapi dengan kelicikannya, syetan menggoda kita agar menginfakkan sesuatu yang buruk, yang tidak berharga yang kita sendiri sudah enggan terhadapnya. Syetan menakut-nakuti manusia bahwa jika mereka menginfakkan sesuatu yang masih berguna dan berharga, maka akan menjadikan mereka melarat dan berkurang kekayaannya. Dan sebaliknya, jika yang diberikan adalah sesuatu yang sudah tidak berguna, maka kekayaannya akan tetap utuh, sehingga terhindar dari kemelaratan. Inilah sebuah logika syetan yang kelihatannya masuk akal.

Di sinilah kita dituntut untuk mengambil sikap, sehingga akan diketahui antara orang mukmin yang kuat imannya dengan yang lemah imannya. Seorang mukmin yang sesungguhnya tidak akan terpengaruh dengan bujukan syetan. Mereka lebih percaya dengan janji Allah daripada mengikuti bisikan syetan atau ajakan hawa nafsunya. Mereka sadar sepenuhnya bahwa apa saja yang dia miliki tidak lain adalah karunia dari Allah swt. Bukankah segala kemampuan, kepandaian dan usaha yang mendatangkan berbagai prestasi dan kenikmatan hidup, semuanya berasal dari Allah swt?

Seorang muslim menyadari bahwa dengan memberikan yang baik, maka Allah akan memberikan ampunan dan karunia-Nya. Maka cukuplah janji Allah ini menjadi pendorong bagi setiap muslim untuk mem-berikan yang terbaik kepada orang lain.

“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kemiskinan dan menyuruh kalian berbuat keja-hatan (kikir); sedang Allah menjan-jikan untuk kalian ampunan dari-Nya dan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 268)

“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah: 269)

“Apa saja yang kamu nafkahkan atau apa saja yang kamu nazarkan, maka sesungguhnya Allah menge-tahuinya. Orang-orang yang berbuat zhalim tidak ada seorang penolong pun baginya.” (QS. Al-Baqarah: 270).

Red.ummatie

%d blogger menyukai ini: