Rohingya Terusir karena Beragama Islam


Jakarta, CyberNews. Islamic Book Fair (IBF) menggelar acara “Peduli Muslim Rohingya” di Senayan, Jakarta, pada Selasa (3/3). Acara ini digelar dengan mengadakan talk show dan penggalangan dana. Muslim Rohingya memililki nasib sama dengan muslim Palestina. Mereka adalah umat Islam yang teraniaya yang tinggal di Negara Bagian Barat Myanmar.

Menurut Ustad Felix Hau dari Badan Waqaf Al Quran, Muslim Rohingya, adalah muslim Myanmar yang tidak diinginkan dan mengalami penyiksaan, pelecehan seksual dari militer Myanmar. Padahal, kata dia, Muslim Rohingya sudah tinggal di Myanmar selama 100 tahun di Arakan, Negara Bagian Barat Myanmar, yang awalnya mencapai 700 ribu orang. “Komunitas muslim yang minoritas di Myanmar mendapat penyiksaan dan tidak diakui sebagai bagian dari warga negara Myanmar,” ungkap Felix.

Dijelaskan, di Myanmar terdapat 137 suku, dan Muslim Rohingya tidak menjadi bagian dari suku tersebut, karena muslim Rohingya berkulit hitam dan beragama Islam. Sementara umumnya warga Myanmar berkulit putih (Indo China) dan bergama Budha,” papar Felix panjang lebar.

Sejak tahun 1948, kata Felix, Muslim Rohingya mengalami penyiksaan, pemerkosaan dan penganiayaan pada peristiwa operasi Naga. Pada tahun 1991 hingga 1992, Muslim Rohingya terusir dari Myanmar oleh penguasa Junta Militer. “Mereka tidak memiliki KTP, tidak mendapat fasilitas kesehatan, pendidikan, pernikahan, keluarga dan ekonomi,” ungkap Felix.

Aye Tha Aung, tokoh adat dan anggota parlemen Myanmar secara tegas tidak mengakui Rohingya sebagai bagian dari Myanmar. Namun ketika mereka terusir dan mengungsi ke Bangladesh, mereka kembali terusir. Di Bangladesh, muslim Rohingya tinggal di tenda yang sangat kecil, yakni 16 orang menempati tenda seluas 3 meter persegi.

“Umat muslim Rohingya adalah bagian dari umat muslim, bagian dari kita,” tambah Abdullah Fanani dari Hizbut Tahrir Indonesia. Seharusnya, kata Fanani, umat Islam tidak terkotak-kotak oleh ikatan nasionalisme karena umat Islam disatukn oleh ikatan aqidah.

Sejak desember 2008, muslim Ruhingya meninggalkan Myanmar menuju Thailand dengan menggunakan kapal nelayan, satu kapal dinaiki oleh 200 orang. Namun ketika sampai di Thailand, muslim Rohingya kembali mendapatkan tekanan dan penyiksaan.

“Muslim Rohingya meninggalkan Myanmar untuk menyelamatkan diri dan menyelamatkan aqidahnya,” lanjut Fanani. Dengan kondisi yang dialami muslim Rohingya, maka menjadi kewajiban umat Islam di Indonesia untuk turut membantu. “Sejauh ini bantuan yang dapat diberikan adalah bantuan materi, meski sebenarnya bantuan tersebut belum dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi Muslim Rohingya,” kata Fanani.

Idealnya, kata Fanani, umat Islam seharusnya berada di bawah naungan aqidah Islam dan berada dalam dalam naungan kalifah Islam. Sehingga ketika umat Islam tersakiti, pemimpin akan melindunginya. Namun, meskipun solusi tepat belum dapat dterapkan, umat Islam berkewajiban untuk membantu dalam bentu materi. Panitia IBF menfasilitasi bantuan umat Islam Indonesia untuk Muslim Rohingya, melalui Stan Badan Waqaf.

sumber: http://www.suaramerdeka.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: