Syariah Islam Berlaku di Seluruh Somalia

Mogadishu – Parlemen Somalia secara aklamasi sepakat dengan diberlakukannya hukum syariah di negara tersebut.

Demikan pernyataan jurubicara parlemen kepada kantor berita AFP hari Sabtu kemarin.

Pemungutan suara parlemen dilakukan dengan tunjuk tangan yang biasanya diadakan adalah secara tertutup, secara bulat mendukung penerapan syariat Islam di seluruh wilayah Somalia.

Sebelumnya pemerintah Somalia menanda tangani kesepakatan dengan para pejuang Islam. Salah satu tuntutan utama para pejuang adalah diberlakukannya hukum syariah di seluruh negeri.

Menteri Penerangan Farhan Ali Mohamed mengatakan para Ulama dan imam akan dipersilahkan memeriksa undang-undang dasar negara dan mempersilahkan mereka mengamandemen klausul-klausul yang mereka pandang tidak Islami.

Hukum syariah sebelumnya berlaku di beberapa wilayah Somalia yang dikuasai milisi islam.

Somalia merupakan salah satu negara yang paling tidak stabil di dunia. Semoga dengan diberlakukannya syariat Islam secara penuh diseluruh wilayah Somalia, ketidak stabilan negara tersebut akan segera sirna.

Geliat Islam Di Korea Selatan

Komunitas Muslim di Korea Selatan adalah komunitas yang kaya dengan keberagaman latar belakang etnis dan budaya. Komunitas Muslim di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Budha ini, kebanyakan adalah para pekerja asing dan imigran dari berbagai negara Muslim, terutama dari kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan.

Sementara orang-orang asli Korea yang Muslim, kebanyakan adalah keturunan dari para mualaf yang masuk Islam saat berlangsung Perang Korea. “Di sini adalah beberapa orang Korea. Yang lainnya berasal dari Indonesia, Malaysia dan Uzbek. Ada juga beberapa Muslim asal AS. Muslim disini sedikitnya berasal dari 12 sampai 14 negara di dunia,” kata Haseeb Ahmad Khan, pengusaha asal Pakistan yang sudah 10 tahun tinggal di Korea Selatan.

Menurut Haseeb, jumlah Muslim di Korea Selatan terus bertambah, terutama di kota besar seperti Busan. Muslim di kota ini sudah membuka sekolah Islam sendiri. “Meski sekolahnya kecil, cukup untuk mengakomodasi anak-anak mereka untuk mendapatkan pendidikan yang Islami,” ujar Haseeb.

Data dari Korea Muslim Federation (KMF) yang didirikan sejak tahun 1967 menyebutkan, jumlah Muslim di Korea Selatan sekarang ini mencapai 120.000-130.000 orang, terdiri dari Muslim Korea asli dan para warga negara asing. Jumlah orang Korea asli yang Muslim sekitar 45.000 orang, selebihnya didominasi pekerja migran asal Pakistan dan Bangladesh.

Sebagai kelompok masyarakat minoritas, masjid menjadi tempat penting bagi Muslim Korea Selatan untuk saling bertemu dan bersilahturahim. Sepuluh tahun yang lalu, belum banyak masjid di negara ini. Tapi sekarang, masjid-masjid sudah banyak tersebar hampir di seluruh kota besar di Korea Selatan. Masjid terbesar adalah Masjid Sentral Seoul yang berlokasi di distrik Itaewon.

“Kami punya lebih dari 10 masjid di kota-kota besar seperti Gwangju, Busan dan Daegu. Masjid di sini bukan sekedar tempat salat tapi juga tempat berkumpul komunitas Muslim, terutama usai salat Jumat. Mereka saling bercerita dan mendengarkan satu sama lain,” imbuh Haseeb.

“Contohnya, jika ada jamaah yang sakit, mereka bersama-sama datang menjenguk ke rumah sakit. Atau, jika ada yang butuh pertolongan, mereka akan mencari cara untuk bisa memberikan bantuan,” sambung Haseeb.

Masjid juga menjadi pusat informasi bagi warga Korea yang ingin belajar Islam. Masjid-masjid di Korea Selatan menyediakan bahan-bahan bacaan dan audio yang diberikan gratis buat mereka yang ingin mempelajari Islam.

Sekolah Islam pertama di Korea Selatan rencananya akan dibuka bulan Maret ini. Sekolah itu dibiayai lewat dana hibah dari pemerintah Arab Saudi. Tahun 2008 lalu, Duta Besar Saudi di Seoul sudah menyerahkan dana sebesar 500.000 dollar pada KMF untuk biaya pembangunan sekolah.

Sebagai penghargaan atas bantuan Saudi, sekolah tersebut rencananya akan menggunakan nama putera mahkota Saudi Pangeran Sultan Bin Abdul Aziz. Sekolah ini juga akan menerima siswa non-Muslim. Selain memberikan mata pelajaran berdasarkan kurikulum pendidikan di Korea, sekolah yang dibiayai Saudi ini juga akan memberikan pelajaran tambahan berupa bahasa Arab, bahasa Inggris dan studi Islam.

Selain sekolah Islam, sejak tahun 2008 lalu, juga dibangun pusat kebudayaan Islam di kota Seoul. Dengan adanya sekolah dan pusat kebudayaan Islam ini, diharapkan bisa memperluas syiar Islam di Korea Selatan sekaligus meluruskan informasi-informasi bias tentang Islam dan Muslim yang diterima oleh masyarakat negeri itu.

Ancam Gaya Hidup, Australia Boikot Sekolah Islam

Gabungan beberapa Gereja Australia mengajak warga sekitar untuk menolak dibangunnya sebuah sekolah Islam karena dianggap sebagai “gerbang” masuknya doktrin Islam. (SuaraMedia News)Gabungan beberapa Gereja Australia mengajak warga sekitar untuk menolak dibangunnya sebuah sekolah Islam karena dianggap sebagai “gerbang” masuknya doktrin Islam. (SuaraMedia News)

CAMDEN, AUSTRALIA (SuaraMedia) – Empat gereja bergabung dalam sebuah kritikan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap agama Islam dalam sebuah upaya untuk menghentikan sebuah sekolah Islam yang sedang dibangun.

Menyebut agama tersebut sebuah ideologi yang dijalankan oleh dominasi dunia, sebuah pendapat kepada Pengadilan Pertanahan dan Lingkungan kemarin mengatakan sebuah sekolah yang diusulkan di Camden merupakan tempat berpijak dalam pengambilalihan Islam di barat daya Sydney, mengancam gaya hidup warga Australia.

Kritikan tersebut ditandatangani bersama oleh kepala lokal dari Gereja Baptist, Anglican, Presbyterian, dan Gereja Mary Evangelical Sisters, membentuk pelopor dari pertahanan Dewan Kota Camden pada sebuah tantangan persidangan atas penolakannya dari permohonan pengembangan sekolah Muslim.

“Islam bukanlah hanya sebuah agama pribadi. Agama ini dijalankan oleh agenda politik yang kuat, agama ini merupakan sebuah ideologi dengan sebuah rencana untuk dominasi dunia,” surat tersebut mengatakan.

“Permohonan Masyarakat Qurani untuk membangun sebuah sekolah Islam di Camden merupakan ciri khas dari pola yang biasanya terulang untuk membentuk sebuah tempat berpijak dari sebuah daerah untuk pengembangan dari sub-kultur yang, sebagian besar, menganggap sistem legalnya sebagai lebih unggul dari hukum Australia yang berlaku.”

Mereka mengatakan bahwa komunitas Muslim mencoba untuk mendominasi ruang publik di Camden “seperti yang telah kita lihat di Auburn, Bankstown, Lakemba, dan baru-baru ini adalah Liverpool”.

Pendapat provokatif tersebut ditulis oleh Pastur Baptis Camden Brian Stewart, Rektor St John’s Anglican Tony Galea, mentri Prebysterian Warren Hicks dan Suster pemimpin dari Gereja Suster Mary, Suster Simone dan Suster Gideona.

Penggunaan surat tersebut merupakan sebuah perubahan haluan dari klaim-klaim sebelumnya yang merupakan dasar dari keputusan dewan.

Hari pertama dalam tantangan pengadilan masyarakat dimulai dengan sebuah kunjungan ke tempat yang diusulkan di jalan Cawdor, Camden. Chris Gough, yang mengepalai tim legal Masyarakat Qurani, mengatakan bahwa tidak terdapat perancangan dasar mengapa sekolah tersebut, untuk 900 siswa, tidak disetujui.

“Konstitusi Australia membicarakan tentang kebebasan beragama,” Tuan Gough mengatakan.

Dalam keberatannya, kementerian Australia mengatakan bahwa mererka bisa dilihat sebagai rasis atau hipokrit tetapi mereka berusaha untuk memelihara sebuah kekayaan, gaya hidup yang sulit dimenangkan meski tidak bertentangan dengan ajaran Masyarakat Qurani.

“Masyarakat Qurani mendukung sebuah pandangan dunia yang tidak bertentangan dengan budaya persamaan Australia yang lebih luas,” mereka mengatakan.

“Sebuah ajaran pokok dari agama Islam bahwa Muslim tidak diperbolehkan untuk mentaati hukum apa pun yang tidak datang dari Allah.” (ppt/nw) Dikutip oleh SuaraMedia.com

Militer AS Menghadapi Krisis

Krisis ekonomi dunia tak pelak telah mengubah AS dalam komitmen dan strategi globalnya. Semua pihak dan golongan di AS sudah sepakat mengakui bahwa As semakin hari semakin keropos dalam segala bidang pembangunan. “Kita sekarang benar-benar tidak punya uang lagi,” ujar Loren Thompson, analis pertahanan di Institut Lexington, “AS tak mungkin lagi menjadi polisi dunia. Kita tak mungkin lagi melakukan hal seperti itu.” Para pengamat politik menyebut AS sekarang tengah bertransformasi dari negara adidaya menjadi negara seribu satu masalah. Itu pula yang pernah diungkapkan oleh Madeleine Albright, mantan Sekretaris Negara AS. “Dilihat dari sudut manapun, militer AS sekarang tengah berada dalam krisis,” Gregory Martin, seorang konsultan pertahanan dan mantan jenderal angkatan udara, mengungkapkan. Menurut Martin, AS bahkan tidak sanggup lagi membeli atau memproduksi pesawat-pesawat tempur dan berbagai senjata yang lainnya. Bahkan untuk sekelas F-22, F-35 yang dari segi pembiayaan dapat digolongkan murah bagi AS. “Jika pemerintah tak lagi dapat mengusahakan pesawat-pesawat itu saja, skala AS sudah selayaknya diputar ulang.” Martin menegaskan. Rebecca Grant, direktur Mithcel Institut mengatakan, “AS tidak tahu kemana sekarang harus melangkah.” Grant, Thompson dan Martin hanya tiga dari analis militer AS yang tampak putus asa. Barry Watts, analis yang lain, mengungkapkan AS kehilangan arah strategi yang benar. Watts menunjuk kasus pembelian tank oleh Pentagon lima tahun lalu. Padahal, sekarang ini, pesawat tempur AS sudah berada dalam kondisi tua dan hampir bobrok. Seberapa parah krisis di tubuh militer AS? Thompson mengatakan, “Tak ada lagi proyek satelit komunikasi, radio global, dan tak akan ada produksi F-22 sampai tahun 2011.”(sa/db/em)

Tahun II Edisi April 2009

Konflik PSIKOLOGIS

&

INVASI Intelektualitas

Samuel P. Huntington dalam bukunya The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (Benturan Peradaban dan Penataan Kembali Sistem Dunia) dan Francis Fukuyama dalam bukunya The End of History (Akhir sebuah Sejarah) menamai konflik global yang sekarang terjadi sebagai clash of civilization (benturan atau perang peradaban), yang secara garis besar mereka membatasi bahwa clash tersebut terjadi hanya antara peradaban Barat dengan peradaban Islam, dan dengan sangat berani mereka bahkan memastikan akan kemenangan peradaban Barat dan kekalahan peradaban Islam!

Clash (benturan) lambat laun memang pasti akan terjadi, suka maupun tidak. Dan kemenangan pasti akan diraih oleh peradaban yang memiliki kekuatan, unggul dan dinamis. Itupun dengan catatan, tidak melakukan bentuk pemaksaan, per-musuhan dan kezaliman.

Ini sesuai dengan firman Allah swt:

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.[QS. ar-Ra’d:17]

Walaupun benturan terjadi, namun tidak menutup pintu dialog, semangat untuk berlomba-lomba serta beragam upaya untuk mewujudkan eksistensi dan interaksi yang saling memberi dan menerima, serta saling mempengaruhi secara fair.

Benturan tidak mesti berakhir dengan digantikannya peradaban lama secara total dengan peradaban baru, yang dianggap lebih unggul. Bisa jadi, pergantian ini terjadi hanya sebagian saja tidak secara keseluruhan, yaitu dalam bentuk mengadopsi beberapa sisi yang bermanfaat dari peradaban yang lebih unggul.

Saat ini –mudah-mudahan tidak berlangsung lama– kaum muslimin adalah pihak yang kalah, sedangkan Barat adalah pihak yang menang dan yang memiliki hegemoni kuat. Hal ini terkadang memotivasi semangat untuk segera bangkit –dan memang harus demikian–. Namun kebangkitan (nahdhah) tersebut sering disalahpahami sebagai usaha untuk mengikuti Barat, dengan mempropagandakan dan menjajakan proses pembaratan (westernisasi) yang diyakini sebagai simbol kemajuan, peradaban dan keunggulan!

Kenyataan dan hakekat yang sebenarnya tidak harus demikian! Karena bila hal ini dilakukan oleh kita selaku kaum muslimin, di situlah letak pasti bahwa kita sedang dijangkiti penyakit kekalahan psikologis (al-haziimah al-nafsiyyah), atau karena memang kita sedang dan telah terjajah oleh gelombang dahsyat yang bernama al-ghazw al-fikri. Di sinilah urgensi dan pentingnya kajian tentang al-ghazw al-fikri tersebut.

DEFINISI AL-GHAZW AL-FIKRI

Secara etimologis (bahasa), term al-ghazw al-fikri berasal dari dua kata bahasa Arab, yaitu al-ghazw yang berarti perang atau invasi, dan al-fikri yang berarti pikiran atau pemikiran.

Jadi secara harfiah sebagai sebuah frase bersifat (al-tarkib al-washfi), al-ghazw al-fikri berarti perang intelektualitas atau invasi pemikiran.

Kata al-ghazw (memerangi) sendiri secara bahasa berarti berkehendak (iradah), berjalan (sair), menuntut (thalab) dan menyengaja atau bermaksud (qashd). Karena memerangi musuh merupakan kehendak untuk melakukan sebuah perjalanan agar dapat sampai ke tempat mereka, kemudian menuntut mereka untuk tunduk atau menyerah, di mana hal ini merupakan maksud dan tujuan utama dari sebuah perang.

Dan ketika al-ghazw al-fikri telah menjadi term khusus dari sebuah diskursus, maka Muhammad Quthb mendefinisikannya secara terminologis sebagai:

“Beragam sarana dan media selain bentuk invasi militer, yang secara masif dipro-pagandakan pasca (kegagalan) Perang Salib dengan tujuan untuk menghapus nilai-nilai ke-islaman dalam kehidupan kaum muslimin dan untuk memalingkan komitmen mereka terhadap Islam, dengan (menyebarkan virus) akidah dan hal-hal lain yang terkait dengannya, seperti pemikiran, adat-istiadat dan bahkan hingga gaya hidup (lifestyle).”

Yang lain mendefinisikan al-ghazw al-fikri dengan:

“Serbuan tanpa menggunakan kekuatan senjata, ditujukan untuk menginvasi pemikiran dan daya nalar (intelektualitas), untuk merealisasikan tujuan umum (kolonialisme dan imperialisme), yaitu melemahkan kekuatan Islam dan kaum muslimin.”

Term lain yang banyak dipergunakan untuk istilah invasi pemikiran karena memiliki kesamaan makna dan tujuan adalah dengan menggunakan term al-ghazw al-tsaqafi (invasi peradaban atau budaya), al-taghrib al- tsaqafi (westernisasi budaya), al-taghrib (westernisasi) dan juga term al-harb al-nafsiyyah (invasi psikologis).

al-ghazw al-‘askari

al-ghazw al-FIKRI

Senjata

Tentara (manusia) dan alat-alat perang

Opini, isu, psywar, tulisan, kata-kata dan semisalnya

Waktu

Terbatas, selama perang

Setiap saat dan terus-menerus

Sasaran

Kekuatan utama musuh, seperti tentara, markas komando dan peralatan perang

Semua lapisan masyarakat

Biaya

Butuh biaya besar

Terkadang tidak butuh biaya

Medan

Sebatas wilayah pertempuran

Sangat luas, hingga ke dalam rumah dan kamar pribadi

Dampak

Kerugian, kekalahan dan kecaman dunia

Banyak yang digemari karena dianggap sebagai kesenangan

Korban

Merasa diperangi dan diinvasi

Merasa bukan menjadi korban, bahkan sedang dimanjakan

Yang dimaksud dengan al-ghazw al-tsaqafi atau al-taghrib al-tsaqafi atau al- taghrib adalah:

“Sebuah upaya untuk melepaskan seseorang dari akar identitas atau karakteristik budayanya. Maksudnya melepaskan seseorang dari keterikatannya dengan akidah, pemikiran dan negaranya, kemudian menjadikannya sebagai pengikut atau peniru bagi akidah, pemikiran dan negara lain (asing, Barat misalnya), atau membiarkannya bebas, tidak memiliki keterikatan dan hubungan dengan akidah, pemikiran dan negara tertentu.”

World Assembly of Moslem Youth (WAMY) mendefinisikan westernisasi (al- taghrib) sebagai:

“Arus besar pemikiran yang memiliki jangkauan politik, sosial, budaya dan juga teknologi. Arus ini bertujuan mewarnai kehidupan seluruh umat, khususnya kaum muslimin, dengan gaya dan pola hidup Barat, melalui penggusuran kepribadian muslim dan karakternya yang khas (sui generis), untuk kemudian menjadikan mereka sebagai tawanan budaya dan peradaban, hingga akhirnya mereka akan meniru secara total budaya dan peradaban Barat.”

Sedangkan bila terma yang digunakan adalah al-harb al-nafsiyyah atau invasi psikologis (psychological war), maka yang dimaksud adalah:

“Serbuan bergelombang dengan menggunakan senjata pemikiran dan faktor psikologis yang ditujukan kepada pasukan lawan (tentara) dan penduduk sipil dengan tujuan untuk melemahkan spirit (ruh) perlawanan. Invasi ini juga ditujukan untuk memandulkan kekuatan musuh di hadapan negara atau kekuatan lain yang menentangnya.”

Dari definisi al-ghazw al-fikri di atas dan term lain yang semakna dengannya, yang membedakannya dengan invasi militer (al-ghazw al-‘askari atau al-harb al-‘askari), secara epistemologis dapat ditabulasikan sebagai berikut:

KARAKTERISTIK AL-GHAZW AL-FIKRI

Sebagai sebuah metode (uslub) dan strategi (takhthith) baru yang diprediksi lebih ampuh dari “senjata” lama, yaitu al-ghazw al-‘askari, al-ghazw al-fikri memiliki karakteristik istimewa yang membuatnya lebih unggul dari al-ghazw al-‘askari. Di antara karakteristik utama al-ghazw al-fikri adalah:

  1. Penuh tipu daya dan jebakan (al-khida).

Barat yang memerangi Islam dan kaum muslimin manakala menjalankan al-ghazw al- fikri, dalam pandangan banyak orang mereka terlihat seperti tidak sedang berbenturan dengan kita, karena memang tidak terlihat jelas adanya konflik. Mereka berada di balik layar, yang entah di mana. Senjata yang mereka pergunakan pun terkadang “hanya” berupa kata-kata yang mengesankan, buku yang bersampul mewah, program radio atau televisi yang menarik, film atau sinetron yang membius dan lainnya. Bahkan bisa jadi invasinya melalui tangan “saudara kita sendiri”, baik sebangsa, sedarah, maupun seagama, karena mereka telah menjadi agen-agen al-ghazw al- fikri dan antek-antek musuh. Pada akhirnya, banyak mangsa dan korban yang tertipu, sadar ataupun tidak.

  1. Lebih berbahaya (al-khuthurah).

Tidak disangsikan lagi, baik berdasarkan kajian teoritis maupun data faktual di lapangan, bahwa al-ghazw al- fikri jauh lebih berbahaya dari al-ghazw al-‘askari, karena memiliki pengaruh kuat yang terkadang tidak disadari oleh bangsa atau orang-orang yang terinvasi. Bahkan pengaruh al-ghazw al- fikri bisa berlangsung selama berpuluh-puluh atau beratus-ratus tahun lamanya.

Di samping itu, kadang bangsa yang menjalankan al-ghazw al- fikri (Barat) tidak perlu bersusah payah untuk melakukan invasi karena bangsa yang terinvasi akan secara “sukarela” melakukan apa yang diinginkan oleh mereka, khususnya melalui opini publik yang diekspos dan disiarkan melalui televisi atau mass media secara luas dan masif.

  1. Mudah dan ringan (al-bisathah).

Karena sedikit membutuhkan biaya, tidak banyak menimbulkan korban jiwa bagi bangsa yang menginvasi dan seringkali tidak menguras tenaga atau tidak memerlukan usaha ekstra.

LATAR BELAKANG AL-GHAZW AL-FIKRI

Mayoritas pengkaji atau bahkan hampir semua peneliti tentang masalah al-ghazw al-fikri meyakini bahwa munculnya al-ghazw al-fikri sebagai sebuah fenomena baru untuk menciptakan hegemoni Barat yang dijiwai oleh nilai-nilai Kristiani, walaupun Barat juga sangat terpengaruh oleh Yahudi dan bahkan berada dalam cengkeram mereka, adalah dilatarbelakangi oleh kekalahan mereka (Barat) dalam Perang Salib.

Kekalahan tersebut juga menjadi inspirasi mereka untuk memerangi Islam dengan cara dan senjata “lain”, selain dengan jalan kekerasan antau invasi militer. Sebab mereka meyakini, sebesar apapun kekuatan mereka, mustahil dapat mengalahkan kedigjayaan Islam dan kaum muslimin.

Orang-orang Barat meyakini, para pejuang Islam dalam menjalani peperangan, mereka bertempur dengan spirit akhirat, kemudian dengan dedikasi dan kepah-lawanan tanpa batas, dalam membela dan memperjuangkan agama Allah swt.

Karenanya, memerangi Islam dengan kekuatan senjata, hanya berakhir dengan kekalahan dan kenistaan. Berangkat dari realita tersebut, Barat kemudian merubah strategi perang mereka dalam menghadapi umat Islam, mereka tidak lagi memakai kekuatan senjata, tetapi memakai kekuatan logika, yang akhirnya disebut dengan al-ghazw al- fikri. Apapun harga yang dibayar dan berapapun lama waktu yang dibutuhkan, Barat telah mantap memakai strategi al-ghazw al- fikri untuk meng-hancurkan Islam dan kaum muslimin.

Oleh karena itu, sebagai kaum muslimin, kita semua harus menyadari betul bahwa kekalahan Perang Salib benar-benar menyisakan luka yang dalam, terlebih mengaduk-aduk kedengkian, kebencian dan permusuhan terhadap Islam di dada orang-orang Barat. Dan apa yang tersimpan dalam dada tersebut, lambat laun mulai terwujud atau bahkan diwujudkan dalam realita, khususnya bila mencermati apa yang terjadi dewasa kini, utamanya adalah kebijakan politik Amerika terhadap dunia Islam dan dalam menyikapi agresi Israel terhadap Palestina.

RUANG LINGKUP AL-GHAZW AL-FIKRI

Berdasarkan terminologi al-ghazw al- fikri dan terma lainnya, ruang lingkup invasi pemikiran (al-ghazw al- fikri) dapat digambarkan sebagai berikut:

  • Mengeruhkan kemurnian Islam, baik sumber wahyunya, yaitu al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya, serta pemahaman terhadap keduanya, maupun melalui tikaman terhadap nabi dan rasulnya, Muhammad saw, adalah visi dan misi utama al-ghazw al- fikri.
  • Segala hal yang berhubungan dengan pemikiran, intelektualitas dan faktor psikis atau psikologis manusia, maka itu adalah wilayah yang menjadi target serangan dari al-ghazw al- fikri, sehingga cakupan wilayanya sangat luas sekali, bahkan meliputi ide, cara pandang dan pola pikir sekalipun.
  • Ideologi, akidah, politik, ekonomi, sosial, budaya, adat istiadat, tradisi, kebiasaan, teknologi dan bahkan hingga dalam gaya hidup (lifestyle) seperti dalam masalah makanan (food), pakaian (fashion) dan hiburan atau kesenangan (fun), adalah ranah atau bidang kehidupan yang menjadi garapan dari al-ghazw al- fikri.
  • Pemimpin negara, pemuka agama, aparat pemerintah hingga penduduk sipil dan rakyat jelata sekalipun, adalah pihak yang dijadikan korban oleh al-ghazw al- fikri.
  • Pendidikan, pers, seni dan bidang keilmuan lainnya, adalah media atau sarana yang digunakan dalam al-ghazw al- fikri, sekaligus sebagai media yang menjadi sasaran invasi.
  • Zionisme (Shahyuniyyah), Misionarisme atau Kristenisasi (tanshir), Orientalisme, Sekularisme, Pluralisme, Liberalisme, dan isme-isme lainnya, baik dari luar maupun dari dalam tubuh kaum muslimin sendiri, seperti aliran dan paham sesat, adalah corong dan institusi yang digunakan dalam al-ghazw al-fikri.
  • Globalisasi adalah era atau masa yang ikut serta membantu tersebar luasnya al-ghazw al- fikri, oleh karena itu tak jarang globalisasi sering diistilahkan dengan Amerikanisasi atau Westernisasi (pembaratan).

TAHAPAN AL-GHAZW AL-FIKRI

Permusuhan Barat terhadap Islam dan umatnya tidak muncul dan terjadi secara tiba-tiba atau baru kemarin terjadi. Permusuhan tersebut telah berlangsung sejak lama, bahkan semenjak fajar Islam mulai menyingsing di ufuk dunia. Oleh karena itu, al-ghazw al- fikri yang merupakan sebuah strategi perang dan sebagai konsep mengejewantahkan permusuhan, lahir melalui tahapan dan fase perkembangan yang berlangsung lama, waktu yang panjang dan perbincangan yang alot.

Secara umum, banyak peneliti menyatakan bahwa al-ghazw al- fikri lahir secara sempurna setelah melalui empat fase tahapan, yaitu:

1. Infiltrasi Yahudi (al-Israiliyat).

Yaitu infiltrasi atau penyusupan yang dilakukan oleh sebagian Yahudi, semisal ‘Abdulah bin Saba’, Ibnu al-Muqaffa, Ibnu al-Rawandi, dan lainnya yang berusaha keras untuk mengeruhkan akidah Islam dengan ajaran lain yang mengotorinya, sehingga ajaran Islam menjadi tereduksi.

Israiliyat ini dilakukan pada hampir semua aspek agama, terutama tafsir, hadits dan adab, dimana yang terakhir bahkan sangat digemari oleh para khalifah.

Fase ini dianggap belum memiliki pengaruh kuat dan belum sesuai target yang dicanangkan, namun telah memiliki andil yang berarti bagi tahapan selanjutnya.

2. Perang Salib Jilid Pertama (al-Hurub al-Shalibiyyah al-Ula).

Pada fase ini, invasi militer yang mengandalkan kekuatan persenjataan dan mobilisasi massa umat Kristiani banyak dilancarkan sebagai upaya untuk meng-hancurkan akidah kaum muslimin dan untuk mengkristenkan mereka bila me-mungkinkan.

Fase ini berakhir dengan kegagalan kaum Salibis, puncaknya ditandai dengan tertangkapnya Pemimpin Perang Salib sekaligus Raja Prancis, Louis IX. Di kemudian hari bahkan hingga kini, kegagalan ini menimbulkan luka yang sangat mendalam di hati orang-orang Barat, sehingga mereka begitu mendendam kepada Islam dan kaum muslimin.

Selama dalam penjara, Louis IX senantiasa memikirkan berbagai penyebab kegagalan Perang Salib, hingga akhirnya dia menuliskan hasil renungannya dalam sebuah wasiat atau memoar yang sangat terkenal:

Bila kalian ingin mengalahkan kaum muslimin, maka jangan memerangi mereka dengan kekuatan senjata semata, dan terbukti kalian telah gagal. Yang harus kalian lakukan adalah memerangi akidah (pemikiran) mereka. Karena itu adalah rahasia kekuatan mereka!”

Pada akhirnya, berdasarkan wasiat tersebut, kaum Salibis mulai melancarkan Perang Salib Baru atau Perang Salib Jilid Kedua, bukan hanya dengan kekuatan senjata, namun dengan menginvasi pemikiran, alias dengan melancarkan al-ghazw al-fikri.

3. Invasi Pemikiran (al-Ghazw al-Fikri).

Adalah fase yang merupakan kelanjutan dari Perang Salib, sehingga sering dianggap sebagai Perang Salib Jilid Kedua.

Fase ini dimungkinkan berjalan dengan mulus, bila di negeri kaum muslimin sendiri “tersedia” dua kekuatan penopang dan penyubur invasi, yaitu:

  1. Faktor eksternal; yaitu dengan berjalannya proses invasi budaya dan per-adaban (al-taghrib al-tsaqafi) yang sudah menjangkit dengan sangat akut, dan menjalar dengan sangat kuat, juga karena sering terjadinya konflik politik, khususnya ketika pihak militer mulai turun tangan dan ikut campur.
  2. Faktor internal; yaitu dengan semakin banyaknya kader dari kalangan kaum muslimin yang telah tercuci otaknya, sebagai hasil dari pendidikan mereka di negara Barat.

Bila keberhasilan dalam fase ini dianggap sudah sangat matang, maka Barat akan melanjutkannya ke fase keempat yang sekarang pengaruh dan hegemoninya terasa semakin begitu kuat mencengkram, yaitu al-taghrib al-tsaqafi.

  1. Westernisasi Budaya (al-Taghrib al-Tsaqafi).

Fase ini merupakan tahapan yang paling berbahaya, karena target utamanya adalah untuk menanggalkan seluruh lapisan kaum muslimin dari akar akidah dan budayanya, yaitu akidah Islamiyyah dan budaya Islami, khususnya di era yang disebut sebagai era globalisasi yang tiada lain merupakan proses Amerikanisasi.

Pengkaji lain berpendapat, bahwa al-ghazw al-fikri yang akhirnya menghegemoni dengan kuat di tubuh kaum muslimin tidak datang secara sekaligus, tetapi melalui tahapan-tahapan hingga menuju kematangannya. Tahapan tersebut secara garis besarnya dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu:

  1. Tahap sebelum jatuhnya Khilafah Islamiyyah.

Fase ini dimulai dengan peristiwa Perang Salib (Crusade), kemudian Oriental-isme, lantas disusul dengan Missionarisme dan diakhiri dengan membagi-membagi dan mencabik-cabik wilayah daulah Islamiyyah menjadi teritorial kecil.

  1. Tahap menjatuhkan Khilafah Islamiyyah.

Fase ini ditandai dengan penyebarluasan sekulerisme secara masif, kemudian ditopang dengan penyebaran paham kebangsaan (nasionalisme) untuk menghadapi kekuatan kekhalifahan, lalu diakhiri dengan usaha untuk menjatuhkan khilafah Islamiyyah hingga menemui keruntuhannya.

  1. Tahap setelah jatuhnya Khilafah Islamiyyah.

Fase ini merupakan upaya penjagaan Barat untuk mengukuhkan hegemoninya, agar dunia Islam tidak mengalami kebangkitan (al-shahwah al-Islamiyah) dan agar mereka tetap dalam keadaan tercabik-cabik penuh luka. Cara dan metode yang ditempuh Barat dalam fase ini sangat banyak dan beragam sekali, dan yang terpenting adalah dengan melakukan perubahan sosial politik di dunia Islam melalui program westernisasi, atau penggalakan masif dari konsep SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme).

URGENSI KAJIAN AL-GHAZW AL-FIKRI

Disebabkan besarnya bahaya dan dampak buruk dari invasi pemikiran (al-ghazw al-fikri) serta gencarnya gelombang serangan melalui metode tersebut, maka menjadi penting dan sangat urgen bagi kaum muslimin, khususnya para ulama dan dainya untuk mendeteksi, mengkaji dan mendiagnosa invasi tersebut sedini mungkin.

Secara garis besar dapat dinyatakan bahwa gencarnya al-ghazw al- fikri adalah untuk menciptakan dua kekosongan dalam tubuh kaum muslimin, yaitu kekosongan jiwa (al-faragh al-ruhi) dan kekosongan pemikiran (al al-faragh al-ruhi).

Kekosongan jiwa (al-faragh al-ruhi) akan menimbulkan ketidaknyamanan, kegoncangan dan kebingungan psikologis, yang pada akhirnya menjadi lahan subur bagi perpecahan barisan dengan beragam bentuknya. Sedangkan kekosongan pemikiran (al-faragh al-ruhi), maka akan memunculkan kekaguman kepada pe-mikiran asing (non Islam) dan mulai mencari-cari pemikiran lain, pada akhirnya menjadi lahan subur bagi tumbuh dan berkembangnya kebencian, kedengkian dan apriori kepada Islam (Islamophobia). Dua bentuk kekosongan tersebut berujung kepada ditimpanya umat oleh penyakit kelemahan (wahn), yaitu cinta dunia dan takut kematian, pada akhirnya umatpun hanya dipandang sebelah mata, kuantitas banyak tapi kualitas dianggap nol!

Selain itu, urgen dan pentingnya kajian tentang al-ghazw al-fikri dapat juga dipastikan melalui maraknya penyebaran buku-buku tentang al-ghazw al-fikri itu sendiri, baik secara global dalam arti al-ghazw al-fikri sebagai sebuah arus besar invasi ataupun melalui detail cabang-cabangnya (Orientalisme misalnya). Tentunya dari kedua belah pihak yang mewakili, pihak Barat sebagai pengusung al-ghazw al-fikri dan para pembela dengan pihak yang berusaha menyingkap dan bahkan menentang al-ghazw al-fikri dari kalangan kaum muslimin yang memiliki ghirah Islamiyyah.

TUJUAN AL-GHAZW AL-FIKRI

Kita meyakini dengan sebenar-benarnya, bahwa banyak sekali tujuan dan target yang ingin dicapai Barat dalam melancarkan al-ghazw al-fikri secara masif dan terkesan sangat liar, baik yang dapat dikaji, dinyatakan terus terang, maupun yang masih dirahasiakan karena menjadi agenda yang tersembunyi.

Di antara tujuan al-ghazw al- fikri adalah:

  1. Menghancurkan Islam dari dalam.
  2. Menebar keragu-raguan (tasykik) di dada kaum muslimin terhadap ajaran agama Islam.
  3. Membusukkan karakter dan kredibilitas Nabi Muhammad saw.
  4. Mengkerdilkan dan memandulkan pemikiran Islam.
  5. Menghapus dan menambahi kandungan kitab-kitab kuning (klasik) dengan cerita-cerita bohong (khurafat).
  6. Mengaburkan, mendistorsi dan mereduksi sejarah Islam.
  7. Menebar fitnah, permusuhan, pertikaian, gesekan antar komunitas dan faksi-faksi dalam Islam.
  8. Memerangi dan menghancurkan bahasa Arab yang menjadi bahasa al-Qur’an.
  9. Memprovokasi para pemuda Islam agar kagum dan terpesona dengan budaya dan peradaban barat.

10.  Mencabut umat dari akar kepribadian (syakhshiyyah) dan identitas (huwiyyah) Islaminya.

Itulah sekelumit gambaran tentang al-ghazw al-fikri yang semakin pesat per-kembangan dan serangan gencarnya terhadap Islam dan kaum muslimin.