Warga AS Akui Diskriminasi Muslim


Detroit – Peledakan menara kembar World Trade Center (WTC) atau lebih dikenal dengan Tragedi 9/11 yang telah memakan 3.000 korban jiwa memang menimbulkan trauma panjang bagi warga Amerika Serikat. Di sisi lain, masyarakat Amerika juga mengakui bahwa Negeri Adidaya itu telah berlaku diskriminatif terhadap warga Muslim.

Sebuah penelitian yang dilakukan Pew Research Center menunjukkan rakyat AS meyakini bahwa warga Muslim menghadapi lebih banyak diskriminasi dibandingkan komunitas agama lainnya. Survei yang dilansir The Detroit News itu menyebutkan enam dari 10 warga AS menilai warga Muslim mendapat perlakuan diskriminatif lebih besar dibandingkan kelompok Kristen Evangelis, Mormon, dan ateis.

Jumlah penilaian ini menduduki urutan pertama alias 58% dari responden yang merupakan warga AS. Di bawah itu, warga Yahudi menjadi kelompok agama dengan level bias tertinggi setelah Muslim, dengan 35% suara yang menyebut mereka diperlakukan diskriminatif.

Temuan itu, menurut peneliti senior lembaga itu Greg Smith, dapat dikaitkan dengan peningkatan pengetahuan tentang Islam. Hal ini menyebabkan tingginya sensitivitas tentang bias yang dihadapi warga Muslim.

“Menilai Muslim menerima perlakuan diskriminatif tentu berbeda dengan ekspresi ketidaksukaan terhadap Muslim. Orang yang paling bersimpati terhadap suatu kelompok adalah mereka yang kemungkinan lebih besar dapat melihat bahwa kelompok itu diperlakukan diskriminatif,” jelasnya.

Fakta bahwa Amerika berpendapat bahwa warga Muslim menghadapi banyak diskriminasi dianggap Direktur Pew Research Center Michael Dimock menjadi sebuah temuan penting. “Masyarakat seperti bercermin melihat dirinya sendiri dan terdapat semacam empati bagi kelompok yang mengalami diskriminasi,” ujarnya.

Apalagi, sejak terjadinya Tragedi 9/11, warga AS menilai Islam identik dengan kekerasan. Berdasarkan survei pada 2007, 45% orang AS berpendapat Islam lebih mungkin mendorong kekerasan daripada agama lain. Sementara pada tahun ini, angka itu turun menjadi 38%.

Kelompok yang mengatakan Islam mendorong kekerasan, seperti sudah dapat diduga adalah kaum Republikan konservatif, yaitu sebanyak 55%. Perubahan angka itu menjadikan mereka sebagai kelompok dengan perubahan opini terbesar sejak 2007.

Kepercayaan di kalangan rakyat AS bahwa Islam mendorong kekerasan telah mengalami fluktuasi sejak Tragedi 9/11. Dan mengalami titik terendahnya pada Maret 2002.

Survei yang dilakukan melalui telepon itu juga mengindikasikan bahwa rakyat AS telah semakin meningkat pengetahuannya tentang Islam. Di antaranya, sebanyak 41% kini sudah mengetahu bahwa sebutan Tuhan bagi Muslim adalah Allah dan Al-Quran adalah kitab suci mereka. Bandingkan dengan jumlah atas hal yang sama pada 2002 yang hanya 33%.

Walaupun perubahan yang terjadi tak begitu besar, namun secara bertahap. Sehingga, jelas memiliki sebuah efek. Mereka yang paling familiar dengan Islam adalah yang paling kecil kemungkinannya mengaitkan agama itu dengan kekerasan.

Keseluruhan opini warga AS tentang Muslim sangat baik terhitung 57% dan 70% dari mereka mengatakan bahwa terdapat diskriminasi terhadap warga Muslim. Hanya 21% dari mereka yang memiliki tingkat familiaritas rendah tentang Islam dan beropini negatif terhadap warga Muslim.

Bagaimana sikap komunitas Islam atas hasil survei itu? Juru bicara Council on American-Islamic Relations (CAIR) Ibrahim Hooper, mengatakan penemuan itu sesuai dengan penelitian kelompoknya. Dia juga menyalahkan sebuah komunitas kecil namun vokal di AS yang meningkatkan bias anti-Muslim dengan retorika yang semakin kasar sejak Tragedi 9/11.

“Sayangnya, orang-orang hanya fokus pada minoritas Muslim yang melakukan aksi kekerasan, dan mengklaim aksi tersebut atas nama Islam. Padahal, 99,9% Muslim menjalani hidup tanpa melakukan tindak kekerasan semacam itu,” papar Hooper.

Untuk mengubah persepsi buruk tentang Islam, CAIR telah melakukan kampanye isi Al-Quran seja Juni lalu. Dia berharap pendidikan yang terus berlanjut tentang Islam menjadi kunci untuk melawan.

CAIR berkampanye dengan mendistribusikan salinan Al-Quran secara gratis kepada 100 ribu pemimpin lokal hingga nasional. Mulai dari kepala sekolah setempat hingga Presiden Barack Hussein Obama. “Ketika pengetahuan tentang Islam meningkat, prasangka buruk akan berkurang,” kata Hooper. [P1/inlh.c]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: