I’tikaf ala Remaja


Tak terasa, Ramadhan sudah menginjak 10 hari terakhir. Bukannya malas-malasan, harusnya di hari yang tersisa ini kita kudu makin meningkatkan amal ibadah. Puasa makin disiplin, sholat sunah diperbanyak, tilawah Qur’an dipersering, shodaqoh juga terasa ringan, dan satu lagi i’tikaf.

I’tikaf itu adalah berdiam diri di dalam masjid. Ngapain? Yang pasti bukan pindah tidur dan pindah makan aja. Tapi benar-benar beribadah dengan mengharapkan bisa mendapatkan Lailatul Qadr yang nilainya sama dengan seribu bulan. Banyak aktifitas positif yang bisa kamu lakukan di dalam masjid selama i’tikaf, salah satunya adalah tilawah Qur’an.
Aktifitas lain semisal mengkaji ilmu Islam juga bisa loh kamu lakoni di dalam masjid. Bentuk kelompok-kelompok kecil sekitar 5 teman untuk mengkaji ilmu Islam yang sangat kaya itu. Bisa hadits, fiqh, tafsir, tsaqofah/wawasan keislaman, membahas haramnya demokrasi, kebijakan Amerika yang selalu menyudutkan umat Islam, dll. Upayakan semua bebas mengungkapkan pendapat tapi dengan catatan, volume suara harus dijaga.

Semua itu sebagai selingan dari aktifitas utama yaitu ibadah mahdhoh seperti sholat dan baca Al-Qur’an. Ini semua sebagai pembelajaran dini bagi kamu bahwa fungsi masjid yang sebenarnya adalah pusat segala aktifitas, bukan sekedar sholat saja. Selain itu, dengan i’tikaf akan menumbuhkan semangat dalam diri kamu untuk semakin mencintai dan berusaha memakmurkan masjid.

Itu bagi cowok, gimana donk dengan yang cewek? Boleh nggak cewek i’tikaf di masjid? Tentu boleh donk, Islam kan menurunkan syariat bukan buat laki-laki saja. Jadi dalam hal beri’tikaf di masjid, perempuan juga punya hak dan kesempatan yang sama. Karena Islam begitu melindungi perempuan, maka harus ada ketentuan-ketentuan tertentu yang harus dipatuhi apabila perempuan keluar rumah untuk beri’tikaf.

Pertama, menutup aurat. Yang namanya perempuan, bila keluar rumah harus memakai jilbab dan kerudung dengan lengkap. Kedua, harus ada mahrom atau paling tidak bawa teman sesama perempuan. Dilarang keras membawa teman laki-laki alias khalwat atau berdua-duaan. Bukannya i’tikaf, kamu malah bermaksiat tuh. Selain untuk menghindari fitnah, ini juga demi keamanan kamu sendiri. Trus yang ketiga, harus izin orang rumah bila kamu ingin beri’tikaf. Jangan sampai orang tua kalang kabut mengira anaknya hilang hanya gara-gara kamu lupa pamit gak pulang semalaman. Kalau kamu bisa mengajak keluarga untuk beri’tikaf bareng, itu jauh lebih oke.

Orang tua taat beribadah itu sudah biasa. Anak muda apalagi remaja, taat beribadah itu luar biasa. Apalagi bila niat yang kamu tanamkan sedari awal adalah ingin mencapai ridho Allah tanpa ada niat pamer biar dilihat orang, misalnya. Jadi, remaja pun juga bisa beri’tikaf dengan ceria dan berlomba-lomba mendapatkan Lailatul Qadr di bulan Ramadhan. So, selamat beri’tikaf ya. ^_^

(Ria Fariana, voice of al islam)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: