Anggota DPR tolak Maria Ozawa datang ke Indonesia (Miyabi tokoh PSK asal Jepang)


(Pos Kota) – Kontroversi rencana kedatangan artis porno Maria ‘Miyabi’ Ozawa, terus mencuat. Anggota DPRD DKI, Wanda Hamidah, dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak kedatangan artis asal Jepang itu.

“Indonesia negara berpenduduk muslim terbesar di dunia. Bagaimana mungkin filmnya dibintangi artis porno. Apalagi Miyabi sudah melakukan hubungan seks sejak umur 13 tahun. Di mana moralitas kita? Karena, secara tidak langsung potret negara akan terbawa dan tercoreng walau dia tidak main film porno. Masyarakat harus memberi sanksi moral jika Miyabi tetap syuting. Jangan tonton filmnya,” tegas mantan presenter, dan  istri Cyril Raoul Hakim itu, Senin (28/9).

MUI belum mempermasalahkan. “Tapi, secara pribadi saya dan sejumlah ulama menolak kedatangan Miyabi. MUI juga khawatir Miyabi jadi idola ABG di Indonesia. Itu bisa merusak citra bangsa kita. Kenapa harus mendatangkan Miyabi? Di Indonesia banyak artis cantik dan jago akting,” kata Ketua MUI, H Amidan, Senin (28/9).

Maxima Pictures berniat mengajak Miyabi main di film bertema komedi berjudul Penculikan Miyabi. Rencananya mulai syuting pertengahan oktober.

Sementara itu sekelompok organisasi masyarakat Islam kemarin menggelar unjuk rasa di depan kantor rumah produksi Maxima Pictures, kompleks Hotel Ibis, Mangga Dua, Blok E-1, Jakarta Pusat.
Mereka menolak kedatangan bintang film porno Maria Ozawa alias Miyabi. Miyabi rencananya datang ke Indonesia untuk membintangi film berjudul Menculik Miyabi, yang diproduksi Maxima.

“Apa pun risikonya, akan kami hadang kalau dia datang,” kata Awiet Mansuri dari Front Pembela Islam (FPI). Dalam aksi itu terlihat sejumlah spanduk menolak kedatangan Miyabi, di antaranya berisi tulisan “Jangan Jadikan Negeri Ini Sebagai Negeri Terporno di Dunia” dan “Tolak Miyabi ke Indonesia Si Penghancur Moral Bangsa”.

Menurut Awiet, meski Miyabi akan membintangi film komedi, umat Islam di Indonesia tidak mau menerima kedatangan bintang film porno itu.
“Bukan filmnya, tapi siapa dianya,” kata Awiet.

Menanggapi aksi ini, produser Maxima, Odi Mulya Hidayat, menerima lima perwakilan pengunjuk rasa. Menurut Fahri Jamalulail dari FPI, pertemuan hanya berlangsung 15 menit. “Kami langsung tanya, gimana jadinya?
(Miyabi) batal atau tidak,” kata dia. Pihak Maxima tidak memberi keputusan apa pun. “Kami beri waktu hingga tanggal 14 Oktober untuk mengambil keputusan.”

Menurut Kepala Kepolisian Sektor Sawah Besar Komisaris Iskandar, aksi berjalan tertib. Dia mengerahkan 150 polisi untuk mengawal jalannya unjuk rasa. “Tak ada senjata tajam yang mereka bawa,” kata Iskandar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: