ALLOH MAHA DEKAT

((اللهُ الْقَرِيْب))

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat”.

(QS. al-Baqoroh: 186

Arti  al-Qorib

Al-Qorib artinya yang tidak jauh. Itu artinya Alloh dekat.

Khatabi mengatakan, “al-Qorib artinya Dia itu dekat dengan hamba-hamba-Nya melalui ilmu-Nya, dekat untuk mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Nya”. (Sya’nu ad-Du’a:102)

Demikianlah penjelasan Khatabi begitu pula az-Zuzazi tentang konsekuensi logi dari kedekatan Alloh  terhadap makhluk-Nya.

Adapun makna dari kedekatan Alloh  terhadap hamba-Nya ini menjadi dua pengertian yaitu:

Pertama, dekat yang bersifat umum. Yaitu mencakup ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu. Bahkan Dia lebih dekat kepada manusia daripada urat leher mereka sendiri. Kedekatan jenis ini disebut juga ma’iyah ‘amah.

Alloh  berfirman:

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Alloh Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. al Hadid: 4)

Alloh  bersemayam di atas ‘Arsy maksudnya ialah satu sifat Alloh  yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Alloh  dan kesucian-Nya. Hal inipun menangkal kedustaan sebagian manusia yang menyatakan bahwa Dzat Alloh  berada dimana-mana. Namun demikian ilmu Alloh  selalu bersama seorang hamba.

Ayat ini menunjukkan bahwa Alloh  bersama makhluk-Nya secara umum termasuk kebersamaan dengan orang beriman dan orang kafir, orang yang berbuat baik dan berbuat jahat.
Inilah maksud kedekatan Alloh  yang bersifat umum dimana ilmu Alloh  meliputi seluruh makhluk-Nya baik muslim maupun kafir. Hingga tidaklah suatu perbuatan pun yang dilakukan seorang hamba melainkan Alloh  mengetahuinya.

Kedua, dekat yang bersifat khusus. Yaitu kedekatan dengan mereka yang senantiasa berdoa, beribadah dan mencintai-Nya. Kedekatan ini akan melahirkan cinta, pertolongan dan bantuan dalam semua aktivitas. Pengabulan permohonan bagi orang yang berdoa serta diterima dan diberikannya pahala kepada mereka yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya. Alloh  berfirman, yang artinya:

“Dan  apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku”.

Dan firman-Nya:

“Sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar”. (QS. al Anfal: 46)

“Sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS. an Nahl: 128).

Inilah ayat-ayat yang menunjukkan kebersamaan Alloh  secara khusus. Dimana kedekatan yang bersifat khusus ini hanya berkaitan dengan orang-orang yang bertakwa. Mereka adalah orang-orang yang selalu berusaha mendekatkan diri kepada-Nya dengan menjalankan berbagai amal ibadah termasuk berbuat baik dan sabar dalam menerima ujian.

Telah shohih diriwayatkan ketika Rosululloh  bersama Abu Bakar  dikejar kaum musyrikin Quraisy lalu berlindung didalam goa kemudian Rosululloh  berkata pada Abu Bakar :

“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Alloh bersama kita”. (QS. at Taubah: 40).

Apabila makna dekat secara keseluruhan, baik yang bersifat umum maupun khusus telah dipahami niscaya tidak ada lagi kerancuan dan pertanyaan, seperti: “Dimanakah Alloh, bagaimana Alloh bersama hamba-Nya sedang Alloh  bersemayam di ‘Arsy-Nya?” semua ini telah jelas adanya.

Maha Suci Alloh Yang Maha Tinggi pada kedekatan-Nya dan Maha Dekat pada ketinggian-Nya.

WAllohu A’lam

Sumber: Al-Asma al Husna dan Syarah Asma’ul Husna karya Dr. Umar  Sulaiman al-Asyqar

Tidak Mencela Makanan Bahkan Disunnahkan Memujinya

Semua yang kita makan dan minum merupakan rizki yang datang dari Alloh , maka tidak boleh bagi kita untuk menghina ataupun mencerca sedikit pun dari apa yang telah diberikan Alloh . Rosululloh  mengajarkan kepada kita suatu adab yang mulia, yaitu ketika tidak menyukai makanan yang dihidang-kan, sebagaimana dalam hadits:

Dari Abu Hurairoh , ia berkata:

مَا عَابَ النَّبِيُّ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا قَطُّ, إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ.

“Rosululloh  tidak pernah mencerca makanan sama sekali. Bila Beliau mengingin-kan sesuatu Beliau memakannya dan bila tidak suka Beliau meninggalkannya”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Mencela makanan adalah, ketika seseorang menikmati hidangan yang disaji-kan lalu ia mengomentari makanan tersebut dengan mengucapkan terlalu asin, kurang asin, lembek, terlalu keras, tidak matang dan lain sebagainya.

Makanan adalah ciptaan Allah   sehingga tidak boleh dicela. Di samping itu, mencela makanan menyebabkan orang yang membuat dan menyajikannya men-jadi tersinggung (sakit hati). Ia sudah berusaha menyiapkan hidangan dengan se-baik mungkin, namun ternyata hanya mendapatkan celaan. Oleh karena itu syariat melarang mencela makanan agar tidak menimbulkan kesedihan dalam hati seorang muslim.

Syekh Muhammad Sholeh al-Utsaimin mengatakan, “Tha’am (yang sering di-artikan dengan makanan) adalah segala sesuatu yang dinikmati rasanya, baik be-rupa makanan ataupun minuman. Sepantasnya jika kita diberi suguhan berupa makanan, hendaknya kita menyadari betapa besar nikmat yang telah Alloh  be-rikan dengan mempermudah kita untuk mendapatkannya, bersyukur kepada Alloh  karena mendapatkan nikmat tersebut dan tidak mencelanya”.

Hadits dari Abu Hurairoh di atas memuat beberapa kandungan pelajaran, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Setiap makanan yang mubah itu tidak pernah Nabi  cela. Sedangkan makanan yang haram tentu Nabi  mencela dan melarang untuk menyantapnya.

2. Menunjukkan betapa luhurnya akhlak Nabi Muhammad . Beliau adalah seorang yang memperhatikan perasaan orang yang memasak makanan. Oleh karena itu, Nabi  tidaklah mencela pekerjaan yang sudah mereka lakukan, tidak menya-kiti perasaan dan tidak melakukan hal-hal yang menyedihkan mereka.

3. Menunjukkan sopan santun. Boleh jadi suatu makanan tidak disukai oleh seseorang akan tetapi disukai oleh orang lain. Segala sesuatu yang diizinkan oleh syariat tidaklah mengandung cacat. Oleh karena itu tidak boleh dicela.

4. Merupakan pelajaran yang diberikan Nabi  dalam menyikapi makanan yang tidak disukai, yaitu dengan meninggalkan tanpa mencelanya.

5. Mencela makanan tidak diperbolehkan, bahkan kita dianjurkan untuk memuji makanan.

Memuji Makanan.

Dari Jabir , suatu ketika Nabi  meminta lauk kepada salah seorang istrinya, lalu sang istri mengatakan, “Kami tidaklah punya lauk kecuali cuka”. Nabi  lantas minta diambilkan cuka tersebut. Nabi mengatakan sambil memulai menyantap dengan lauk cuka, “Sebaik-baik lauk adalah cuka, sebaik-baik lauk adalah cuka”. (HR. Muslim)

Syekh Muhammad al-Utsaimin mengatakan, “Khol (cuka) adalah sejenis cairan. Jika kurma dimasukkan ke dalamnya, cairan tersebut akan terasa manis sehingga bisa diminum. Perkataan Nabi dalam hadits di atas merupakan sanjungan terhadap makanan, meskipun sebenarnya cuka adalah minuman. Akan tetapi mi-numan boleh disebut tha’am (makanan)”.

Minuman disebut Tha’am karena dia mengandung rasa yang dalam bahasa Arab disebut tha’mun. Hadits di atas menunjukkan bahwa di antara petunjuk Nabi  jika kita menyukai suatu makanan, hendaklah kita memujinya. Misalnya memuji roti dengan mengatakan, “Roti yang paling enak adalah buatan Fulan”. Atau ucapan-ucapan pujian semacam itu. Karena hal ini adalah di antara sunnah Rosululloh .

Di antara pelajaran yang bisa kita ambil dari hadits di atas adalah:

1. Terpujinya sikap sederhana berkenaan dengan makan karena sikap tersebut adalah di antara kunci agar bisa hidup menyenangkan.

2. Hendaknya keinginan untuk memakan segala sesuatu yang disukai itu dikontrol. Karena tidak semua yang disukai oleh seseorang harus dibeli dan di makan.

3. Anjuran untuk memuji cuka boleh jadi karena cukanya, atau untuk menyenangkan orang yang memberikannya. Wallohu’alam bisshowab.

(Sumber: Syarah Riyadhus Sholihin, dan Lain-Lain)

“Sudah haji, kok masih…”

Pertanyaan besar, mengapa jumlah haji di suatu desa misalnya, tidak seiring dengan perubahan sosial desa tersebut? Baik dibidang pendidikan, pengentasan kemiskinan, dsb. Mengapa jumlah haji di Indonesia yang meningkat setiap tahun tidak berbanding lurus dengan terselesaikannya masalah kebangsaan: korupsi, kemiskinan, rendahnya pendidikan, jeleknya mutu kesehatan dan ancaman disintegrasi bangsa. Apakah fenomena ini berarti bahwa para haji tidak mencapai Mabrur?

Ritual haji merupakan jalan reflektif bagi manusia untuk mencapai kejatidiriannya. Manusia dengan kesadaran penuh sebagai manusia, bukan manusia yang sudah terasing dari kemanusiaannya sehingga bertingkah tidak selayaknya manusia: menghisap, menindas dan memeras sesamanya.

Mungkin karena diantara mereka  yang naik haji tidak mendasarkan niatnya secara tepat. Ada saja sementara orang yang naik haji, hanya karena mengikuti apa yang dilakukan oleh teman, tetangga, atau orang pada umumnya atau hanya sekedar seremoni belaka dengan segala kelebihannya.

Sehingga banyak yang sudah haji, kok masih korupsi? Sudah haji, kok, pakaiannya masih seronok? Sudah haji, kok, perilaku negatifnya tidak berubah? Bahkan banyak orang yang naik haji, tetapi sholatnya belum komplit, apalagi sempurna. Dan sederet pertanyaan membumbung setiap kali musim haji tiba.

Prosesi haji itu seakan tidak membekas begitu sampai di Tanah Air. Mengapa semua itu terjadi? Sudah banyak buku yang mengupas dan membahas tentang haji.

Setiap tahun, sedikitnya Indonesia mengirim 220.000 jamaah. Jamaah terbesar di dunia yang pergi ke Tanah Suci, Mekkah. Tapi, begitu sampai ke kampung halaman, pertanyaan “sudah haji, kok …” terus saja terulang.

Berawal dari pijakan yang salah sampai kesalahan lainnya ibadah haji jadi tidak berkah dan benar sebagai contoh operasional haji dari hasil bunga bank. Biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) yang dikelola oleh Departemen Agama se`bagian besar dikelola Bank-Bank konvensional, dana yang diterima oleh Depag jumlahnya mencapai triliunan rupiah, kalau setiap jamaah menyetorkan uang muka 20 juta rupiah sebagai pembayaran tahap awal, kalau kuota Haji Indonesia terdapat 210.000 jamaah maka akan terhimpun dana 4,1 triliun yang mengendap di Bank, padahal saat ini kuota untuk jamaah haji Indonesia hingga tahun 2010 sudah penuh, maka akan ada puluhan triliun dana haji yang telah mengendap di Bank tempat jamaah menyetorkan BPIH yang sebagian besar masih menggunakan Bank konvensional.

Lebih ironisnya lagi bunga Bank dari setoran biaya perjalanan haji diambil oleh Departemen Agama digunakan oleh panitia pelaksana ibadah haji (PPIH) sebagai operasional penyelenggaraan haji, mulai dari operasional petugas, hingga penyediaan fasilitas operasional haji yang jumlahnya mencapai puluhan miiyar, secara syariah tentunya uang yang diperoleh dari bunga Bank Konvensional tersebut adalah riba dan haram hukumnya.

Uang riba yang dikelola oleh Depag tentunya akan mempengaruhi keberkahan pelaksanaan ibadah haji tentunya dan berpengaruh terhadap kebersihan uang yang dikelola dari tabungan Bank jamaah. Padahal Bank Syariah yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mengelola dana setoran haji yang diperoleh jamaah haji sangat jelas dari segi hukum syariah. Di samping itu dengan menggunakan Bank Syariah dana setoran haji jamaah dapat terjaga dari segi pemanfaatannya dan membantu perekonomian umat, sementara Bank Konvensional belum tentu dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat Islam.

BPIH jamaah haji sudah seharusnya dikelola oleh Bank Syariah yang jelas-jelas bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umat Islam. Mengambil bunga BPIH dari bank konvensional merupakan riba yang sangat mengganggu keberkahan pelayanan haji. Karena bunga Bank secara hukum Islam adalah haram, dan mengelola ibadah dengan uang haram adalah masalah besar yang harus dituntaskan dalam mencapai haji yang mabrur dan berkualitas.

Imamah

Imamah merupakan aturan Ilahi, yang didalamnya Allah  mengarah-kan kita secara praktis kepada tujuan-tujuan yang tinggi, berupa ketaatan dan kepatuhan kepada pemimpin di medan jihad, aturan dan disiplin kerja secara militer dan gerakan pe-rang, disamping gambaran kesamaan hak. Karena disini orang yang kecil berdiri bersama orang yang besar, orang miskin bersama orang yang kaya, orang terpandang dan orang jelata dan lain sebagainya. Inilah tujuan yang paling utama dari ibadah kepada Allah  dan tunduk dihadapan-Nya.

“Dari Abu Hurairah  bahwa Nabi  bersabda, “Tidakkah orang yang  mengangkat kepalanya sebelum imam, merasa takut sekiranya Allah mengubah kepalanya menjadi kepala keledai atau Allah menjadikan rupa-nya sebagai keledai?” (HR. Bukhari)

Imam dijadikan dalam shalat agar ia diikuti dan dimakmumi, sehingga setiap perubahan gerak makmum harus dilakukan setelah perubahan gerak imam. Dengan cara ini ke-ikutsertaan itu barulah teralisir. Jika makmum mendahului imam, maka tujuan yang diharapkan dari imamah menjadi sirna. Karena itulah disam-paikan ancaman keras bagi orang yang mengangkat kepalanya lebih dulu dari imam, bahwa Allah  akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai atau merubah rupa-nya menjadi rupa keledai.

Para ulama telah sepakat dalam pengharaman tindakan makmum yang mendahului imam, yang didasar-kan kepada ancaman yang keras ini. Tetapi mereka berbeda pendapat tentang gugurnya shalat tersebut.

Jumhur ulama berpendapat, shalat tersebut tidak gugur. Sementara Imam Ahmad  berkata dalam risalahnya, “Tidak ada shalat bagi orang yang mendahului imam”. Begitupun ulama-ulama yang mengikutinya menyatakan, “siapa yang mendahului imam pada suatu rukun shalat seperti ruku atau sujud maka dia harus mengulang shalatnya lagi setelah imam melaku-kan salam. Jika dia sengaja tidak melakukannya, maka shalatnya gugur.

Yang benar seperti yang disebut-kan Imam Ahmad  di dalam risalah-nya bahwa makmum yang sengaja mendahului imam, shalatnya gugur. Ini merupakan pilihan Ibnu Taimiyah  karena ancaman tersebut meng-haruskan adanya larangan dan larang-an tersebut mengahruskan adanya kerusakan.

“Sesungguhnya imam itu dijadi-kan untuk diikuti, maka janganlah kalian menyalahinya. Jika ia bertak-bir , bertakbirlah kalian. Jika ia ruku, ruku-lah kalian.jika ia mengucapkan Sami’allahu liman hamidahu, ucapkan-lah ‘Rabbana walakal hamdu. Jika ia sujud, sujudlah kalian. Jika ia shalat sambil duduk, shalatlah kalian sambil duduk semuanya”. (HR. Bukhari)

Didalam hadits ini Rasulullah  mengarahkan para makmum kepada hikmah dijadikannya imam, yaitu agar ia diikuti yang tidak boleh di-salahi dalam satu perkara pun dari amal-amal shalat. Setiap perubahan geraknya harus diperhatikan secara mendetail.

Dari Aisyah , dia berkata, “-sulullah didalam rumahnya, yang ketika itu beliau dalam keadaan sakit. Beliau shalat sambil duduk. Ada beberapa orang ikut shalat di bela-kang Beliau sambil berdiri, maka beliau memberi isyarat kepada mereka, ‘duduklah kailan’. Setelah selesai, Beliau bersabda, “Sesungguhnya imam itu  dijadikan hanya untuk diikuti. Jika dia ruku, ruku-lah kalian. Jika dia mengangkat kepala, angkatlah kepala kalian. Jika dia mengucapkan Sami’-allahu liman hamidahu, ucapkanlah ‘Rabbana walakal hamdu. Jika dia shalat sambil duduk, shalatlah kaila nsemua sambil duduk”. (HR. Bukhari)

Aisyah  menuturkan bahwa ketika Rasulullah  sedang sakit beliau shlat sambil duduk,. Sementara para sahabat mengira karena mereka sang-gup berdiri, mereka pun shalat sambil berdiri di belakang Beliau lalu Beliau mengisyaratkan kepada mereka agar duduk.

Syariat Ilahi ini untuk mengembali-kan kita kepada ketaatan dan kepa-tuhan, mengikuti dan menjaga persa-tuan, disamping beribadah kepada . Betapa agung Islam ini, betapa tinggi syariatnya dan betapa agung tujuan-tujuannya. Semoga Allah  melimpahkan taufiq keapda orang-orang Muslim sehingga mereka komit-men terhadap agamanya, agar persa-tuan mereka tetap terjaga, barisan mereka menjadi tangguh dan kalimat mereka menjadi tinggi. Kebaikan hanya ada pada persatuan dan saling pengertian, sedangkan keburukan hanya ada pada perselisihan, perten-tangan dan kesombongan.

Allah  berfirman:

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berban-tah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. al-Anfal: 46)

Wallahu ‘alam

RUU Nikah Siri, Intervensi Terhadap Agama

Beberapa waktu lalu bahkan sampai saat ini media layar kaca dan media nasional lainnya sangat marak dengan pemberitaan atau diskusi dan adu pendapat yang membahas tentang undang-undang Peradilan Agama bidang perkawinan yang di dalamnya mengatur nikah siri.

Bermacam-macam opini dan pendapat masayarakat umum dalam menanggapi munculnya RUU tersebut, baik pihak yang mendukung atau pun yang menolak.

Walaupun RUU tersebut belum di sosialisasikan namun sketsa isi UU tersebut sudah mulai diberitahukan kepada publik, dimana terdapat butir-butir RUU tersebut yang akan mempidanakan para pelaku nikah siri.

Sebelum kita mengupas lebih jauh, harus kita ketahui, bahwa nikah adalah akad untuk membangun rumah tangga, serta dengannya pula seorang menunjukkan pengabdian dalam beribadah kepada Allah , dengan menikah seorang berakad untuk menegakkan syari’at, berakad untuk meninggalkan maksiat, saling mencintai karena Allah , saling menghormati dan menghargai, saling menguatkan keimanan, serta saling membantu dan meringankan beban dan masih banyak lagi tujuan mulia lainnya.

Pada umumnya orang selalu mengkambing hitamkan (baca: menyamakan) nikah siri ini dengan nikah-nikah yang diharamkan di dalam Islam contohnya nikah mut’ah (kawin kontrak) bahkan sebagian masyarakat pada umumnya berpikir jika nikah siri hanya menjadi objek pelampiasan dan penghalalan nafsu belaka.

Sebagaimana nikah pada umumnya nikah siri adalah nikah yang sah dan sama derajatnya dengan nikah pada umumnya,  dimana syarat dan rukun nikahnya harus dipenuhi oleh para pelakunya. Jika salah satu syarat dan rukunnya tidak terpenuhi, maka tidak sah pernikahannya. Bahkan jika mereka memiliki keturunan (baca: anak) maka mereka pun mewarisi harta orangtuanya sebagaimana nikah pada umumnya menurut hukum Islam. Dan harus diketahui pula bahwa didalam Islam tidak dikenal dan tidak ada ‘nikah siri’ (pent). Hanya saja yang jadi masalah adalah pernikahan ini tidak tercatat di catatan pengadilan pemerintah sehingga tidak memiliki akta perkawinan, dimana sebenarnya akta tersebut bukan yang menentukan sah atau tidaknya pernikahan melainkan bukti terjadinya pernikahan. Akhirnya banyak orang menyebut dengan istilah nikah siri (diam-diam).

Karena negara Indonesia tidak berdasarkan hukum Islam, jika suatu saat ada permasalahan yang berhubungan dengan hukum, maka akan berujung di mahkamah hukum negara, dimana para pelaku nikah yang tidak tercatat di catatan pengadilan pemerintah tidak akan mendapat hak sebagaimana warga negara pada umumnya, baik hak waris bagi anak atau hak lainnya dalam keluarga. Padahal hak waris adalah aturan agama dimana Islam telah mengatur hak waris ini dengan jelas dan adil.

Inilah sebenarnya yang menjadi pemicu percikan api masalah yang yang semakin lama semakin besar bagaikan bola salju yang terus bergulir. Para pengusul RUU nikah siri berpendapat bahwa nikah siri hanya akan merugikan wanita dan anak-anak saja dimana mereka (anak dan istri) tidak mendapatkan hak pernikahan dan hanya akan menjadi korban.

Jika kita lihat dari sisi ini demikianlah adanya dan kamipun setuju jika penelantaran hak terhadap anak dan Istri adalah pelanggaran dan termasuk melanggar syari’at yang wajib dikenakan sanksi. Namun penilaian ini tidak adil, karena sesungguhnya pemerintah sendirilah yang telah mempersulit perizinan pernikahan tersebut dengan alasan yang berbelit-belit karena biasanya pelaku nikah siri adalah orang-orang yang berpoligami. Ketika seseorang akan berpoligami biasanya ada syarat perizinan tertentu yang sangat menyulitkan pelaku, sehingga akhirnya banyak orang yang mengambil jalan nikah siri ini sebagai salah satu cara termudah dalam mengambil keputusan. Selain itu hal ini pun sah menurut agama.

Nikah siri seharusnya tidak menjadi persoalan besar yang karenanya terjadi banyak korban, jika saja pemerintah mau mempermudah persyaratan pernikahan dengan memberikan akta perkawinan. Dengan memudahkan syarat pernikahan ini, justru akan menekan tindak kriminalitas dalam pernikahan, dan maraknya oknum yang memanfaatkan keadaan ini, seperti komersialisasi pernikahan yang cenderung hanya untuk penghalalan pemuasan nafsu sesaat, dimana banyak sekali ditemui dengan alasan ini (tidak ada akta nikah) akhirnya mereka melakukan nikah mut’ah (kawin kontrak) untuk bersenang-senang dengan alasan nikah siri. Dengan membayar penghulu bayaran dan saksi secara diam-diam. Mereka menikah hanya untuk mereguk kenikmatan sesaat. Karena tidak adanya akta nikah maka ia pun terlepas dari tanggung jawab. Jika demikian hal nya bukankah akan menyuburkan perzinahan?

Sedangkan di mata masyarakat umum, menganggap hal inilah yang disebut nikah siri padahal pada kenyataanya sangat jauh berbeda antara maksud, tujuan dan caranya, sehingga tak ada yang dirugikan.

Tindakan hukum pidana terhadap pelaku nikah siri sangat tidak relevan dan tidak adil, ketika perzinaan,
free sex, dan kumpul kebo justru mendapat kebebasan seluas-luasnya tanpa terkena sanksi hukum apapun dengan alas an bagian dari hak asasi manusia karena suka sama suka, tapi justru pelaku nikah yang sah malah dipidanakan.

Pengamat agama Islam dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Homaidi Hamid mengatakan, “Jika orang menikah siri dipidana seharusnya orang berzinah juga dihukum. Sungguh disayangkan jika orang yang menikah sah secara agama dikenai sanksi tetapi orang berzinah tidak dihukum,” Sehingga sangat tepat sekali apa yang dikatakan oleh Ketua PBNU Hasyim Muzadi, “Sanksi pidana itu justru gampang dihindari, misalnya orang nikah siri supaya enggak kena pidana, bilang aja kumpul kebo karena kumpul kebo, kan, enggak bakal diapa-apain,” katanya.

Sumber: dari berbagai sumber

Nasib Tragis Masjid-Masjid Bersejarah di Palestina

Pada Ramadhan tahun 1994, di mana 30 orang jamaah subuh syahid ditembak secara membabi buta oleh seorang Yahudi ekstrim, bernama Baruch Goldstein.

Pembantaian itu bukanlah yang pertama dan terakhir yang menodai masjid tersebut. Seorang peneliti Palestina telah mencatat lebih dari 660 kali penodaan sejak tahun 1967 (sejarah masjid awal dijajah) hingga akhir 2000. Ditambah ratusan kali penodaan sering berulang sejak tahun 2000. Peneliti Palestina, Muhammad Deyab Abu Saleh, menjelaskan macam-macam pelecehan dan penodaan seperti pembunuhan, penghinaan, pemukulan, pengumpatan, menghina nama Tuhan dan Islam, mengganggu orang sholat, bahkan dilarang sholat, meletakkan bahan-bahan kimia di air minum, di pintu, di jendela dan sajadah.

Sebenarnya kekhawatiran terbesar Muslim Palestina adalah masjid Al-Ibrahimi yang mungkin akan dijadikan sinagog Yahudi. Ini terbukti dari berbagai macam pelecehan dan penyiksaan warga Yahudi terhadap jama’ah masjid dengan tujuan agar warga menghindar dari masjid tersebut dan tidak menggunakannya lagi.

Zionis juga sudah melarang kaum Muslimin mengumandangkan azan, bahkan melarang melakukan salat di dalam masjid.

Warga Muslim tidak tinggal diam melihat kondisi itu. Mereka sudah memperingatkan dan memprotes hal itu pada pemkot yang notabenenya orang-orang Yahudi. Mereka juga mengancam bila kelak masjid Al-Ibrahimi di kota Al-Khalil Selatan itu berubah menjadi sinagog Yahudi.

Pemerintah Israel sering menutup pintu-pintu gerbang masjid Ibrahimi dan melarang jamaah masuk ke sana dalam banyak kesempatan dan di hari raya Yahudi.

Pada tahun 2009 lalu ratusan pemukim yahudi dari gerakan Yahudi ekstrim menyerang wilayah Ishaqiyah masjid Ibrahimi dan menyelenggarakan ritual Talmoud.

Terakhir pada bulan Februari lalu, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu secara resmi mengumumkan keberadaan Masjid Ibrahim (al-Haram al-Ibrahimi) yang terletak di kota tua Hebron (Khalil) sebagai situs Yahudi. Ini bukti awal yang menguatkan ke khawatiran warga Muslim Palestina.

Pengumuman PM Israel atas status al-Haram Ibrahimi tersebut kian menguatkan kabar Yahudisasi dan rencana pengubahan tempat suci umat Islam dan agama-agama Samawi tersebut menjadi Sinagog.

Selain Masjid Ibrahim, Masjid Bilal bin Rabbah yang terletak di kota Betlehem (Bait Lahm) juga diumumkan sebagai situs Yahudi lainnya. Netanyahu menyatakan bahwa di bawah tanah masjid tersebut terdapat makam Rachel, ibunda Nabi Yusuf.

Surat kabar Israel, Haaretz pada februari lalu menyatakan bahwa pasca diresmikan dan diumumkannya status situs al-Haram al-Ibrahimi dan Masjid Bilal bin Rabbah itu, pemerintahan Israel akan segera bergerak untuk “mengambil alih” dan mengembangkan kedua situs tersebut.

Keputusan PM Netanyahu yang meyahudisasi situs-situs kepurbakalaan Palestina yang sebelumnya berstatus sebagai kepurbakalaan Islam, merupakan bentuk nyata penghinaan Israel kepada Palestina dan Islam.

Yahudi Zionis memang biadab. Jika mereka tidak membutuhkan dan mengklaim masjid-masjid tersebut sebagai warisan sejarah budaya mereka, maka mereka pun melakukan penodaan dan penghancuran seperti yang dilakukan, di sejumlah tempat suci di Safed selama dua tahun ini yang mengalami berbagai macam penodaan.

Diantaranya pencurian terhadap lukisan marmer yang bertuliskan identitas sebuah masjid bernama Zaitun. Disamping pengubahan tempat tersebut menjadi kandang sapi di tingkat pertama dan sebagai gudang tembaga bagi departemen pekerjaan Umum Israel.

Selain itu, makam Safed diubah menjadi tempat penggembalaan kuda. Partai Kadima Israel bahkan menjadikan Masjid Merah yang mempunyai nilai historis yang dibangun Sultan Mamalik al-Zahir Baybars sebagai pusat pemilihan umum saat digelarnya pemilu Knesset tahun lalu.

Masih pada masjid yang sama,  beberapa tahun lalu warga Israel menjadikannya sebagai tempat joget-joget serta pemutaran film cabul.

Tapi yang paling bernilai diantara semua masjid adalah al-Aqsho yang menjadi simbol Islam, bahkan yang pernah menjadi qiblat kaum muslimin ini pun sedang dalam proyek perubahan fungsi yang sama.

Wajar saja jika warga Palestina mengekspresikan kemarahannya terhadap warga Yahudi. Dimana hal ini sering sekali berakhir bentrok dengan polisi Zionis yang mengakibatkan korban yang terus berjatuhan.

Inilah nasib tragis masjid-masjid bersejarah di Palestina, dimana semakin hari semakin habis diakui dan dijadikan objek wisata sebagai warisan arkeologi Yahudi, jika tidak butuh, mereka pun menghancurkannya.

Apa yang akan tersisa jika semua tidak dicegah dan dijaga? Sepertinya yang tersisa hanya nama negeri bernama “Palestina” tanpa bukti sejarah peradaban Islam.

Sumber: berbagai sumber

Perkembangan Studi al-Qur’an di Indonesia

Al- Qur’an adalah sumber utama hukum Islam sejak generasi Sahabat hingga kini, Meskipun mereka hidup di jaman dan tempat yang berbeda, namun hasil kajian yang dituangkan para ulama dalam kitab-kitab tafsirnya secara prinsip tidak jauh berbeda. Adanya beberapa perbedaan penafsiran di kalangan para ulama yang bermartabat lebih bersifat variatif dan bukan kontra-diktif. Sebab dalam menafsirkan ayat-ayat, mereka mengacu pada prinsip dan kaedah ‘Ulum al-Qur’an yang benar, yang diwariskan secara terpercaya dari generasi ke generasi. Perkembangan prinsip kajian al-Qur’an melalui metode sanad (mata rantai) dari ulama-ulama yang bermartabat senantiasa disandarkan pada konsep wahyu. Landasan sanad yang terbina dalam tradisi keilmuan Islam dengan sendirinya tidak memberi ruang bagi berkembangnya paham relativisme dan spekulasi akal yang tidak bertanggung jawab. Dalam sebuah atsar, Abu Hurairah  menuturkan: “Sesungguhnya ilmu ini (sanad) adalah agama. Oleh sebab itu, perhati-kanlah dari siapa kamu mengambil agamamu.”

Landasan sanad ini terjaga oleh tradisi ilmu yang mengakar kuat dalam masyarakat Islam hingga abad pertengahan. Pusat-pusat pembelajaran seperti masjid, halaqah (lingkar studi), madrasah, selalu penuhi penuntut ilmu. Bahkan di saat kondisi politik sedang kacau dan kerusuhan bermunculan di mana-mana, sejumlah ulama Muslim masih terus bermunculan dan memberikan konstribusinya.

Nasib Studi al-Qur’an Kini

Meskipun di sejumlah lembaga pendidikan Islam di Indonesia masih eksis memegang tradisi sanad dalam mengembangkan studi al-Qur’an, namun dibagian lain, justru kondisinya berbanding terbalik. Dengan alasan “objektivitas ilmiah”, netralitas hasil kajian yang tidak memihak dan menghilangkan nuansa ideologis, studi al-Qur’an dikembangkan secara liar. Tradisi sanad dianggap ketinggalan dan dipandang sebagai produk abad pertengahan yang statis dan bernuansa Islam klasik.

Sebagai gantinya, hasil kajian tokoh-tokoh orientalis dan liberal dijadikan rujukan utama dalam studi Islam. Dalam kacamata mereka, ajaran Islam seringkali dipaksa untuk berkompromi dengan realitas yang berkembang di masyarakat (sosiologis). Maka muncullah studi Islam berperspektif gender, syariat berbasis HAM, dan Quran untuk perempuan. Bukan sebaliknya, yakni Gender dalam perspektif Islam, HAM berbasis syariat, dan perempuan dalam al-Qur’an. Sebab ajaran-ajaran Islam tidak lagi dipandang sebagai acuan dasar dalam memahami realitas, tapi realitas dan akallah yang dinobatkan untuk menentukan corak Islam.

Buku “Pengarusutamaan Gender Dalam Kurikulum IAIN”, contoh kecil di antara gelombang pengeliruan studi Islam yang dilakukan para sarjana liberal. Buku terbit atas kerjasama satu perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia dengan McGill CIDA.

Lebih lanjut dinyatakan bahwa: “Pendekatan dalam kuliah dilakukan sedapat mungkin berperspektif gender dengan mengemukakan berbagai contoh yang mendukung ke arah kesetaraan gender”. Sedangkan tujuan matakuliah ini di antaranya: “Mahasiswa akan dapat menjelaskan situasi dan kondisi historis saat ayat-ayat al-Qur’an diwahyukan sehingga mampu mengambil pesan moralnya”.

Dengan menyimak uraian di atas, maka dipahami bahwa ayat-ayat yang biasa dituding sebagai biang kezaliman dan penindasan terhadap perempuan harus ditafsiri ulang secara kontekstual. Sementara ayat-ayat yang mendukung paham kesetaraan gender harus ditafsirkan secara harfiyah, tekstual.

Sementara untuk Metodologi tafsir al-Qur’an yang menjadi salah satu topik perkuliahan, diarahkan mengkaji tafsir gaya Aminah Wadud. Seorang tokoh feminis liberal radikal yang tersohor berkat keberaniaannya tampil sebagai khatib dan imam shalat jumat dengan jama’ah campur baur antara laki-laki dan perempuan.

v Bahan rujukan memahami al-Qur’an

Liberalisasi al-Qur’an tidak dilakukan secara serampangan, tapi ia adalah sebuah konspirasi dan makar tingkat tinggi untuk merusak ajaran Islam dari dalam. Makar liberalisasi ini diprogram secara massif dan sistemik melalui kurikulum yang siap menghasilkan sarjana-sarjana Muslim yang qualified dalam mengelabui makna akidah dan syariat. Ungkapan ini mungkin dipandang bombastis, emosional dan provokatif. Tetapi kesan tersebut akan hilang jika mencermati buku-buku yang dijadikan bahan rujukan untuk mata uliah Ulum al-Qur’an I, di antaranya seperti Toward Understanding Islamic Law (Abdullahi Ahmad al-Naim), Wanita Dalam al-Qur’an (Aminah Wadud Muhsin), Perempuan Tertindas (Hamim Ilyas dkk), al-Kitab wa al-Qur’an (M. Syahrur), al-Risalah al-Saniyah (Mahmood Muhammad Toha), Mafhum al-Nas (Nasr Hamid Abu Zayd), Tafsir Kontekstual al-Qur’an (Taufiq Adnan Amal dan Syamsu Rizal Panggabean). Meskipun ada beberapa buku rujukan yang benar, namun jumlahnya sangat sedikit dan diletakkan di akhir.

Buku-buku rujukan yang kontroversial ini ditulis oleh para pemuja liberalisme radikal yang gemar mencetuskan pemikiran nyeleneh, bahkan beberapa di antaranya telah difatwa murtad, kabur dari negaranya dan ada yang dihukum mati. Kenyelenehan mereka jelas terlihat saat memunculkan gagasan bahwa al-Qur’an adalah produk budaya, mengingkari syari’at, batasan aurat yang relatif dan berubah-ubah, menuduh bahwa mushaf yang ada sekarang ini adalah produk rekayasa politik Utsman bin Affan , sehingga diusulkan menerbitkan al-Qur’an Edisi Kritis, menghalalkan homoseksual, memberi stigma bahwa ciri utama Islam fundamentalis adalah mereka yang menolak menerapkan metode Kristen dan Yahudi (hermeneutika) untuk memahami al-Qur’an, dan lain-lain.

Buku Aminah Wadud, wanita dan al-Qur’an (Quran and Women) misalnya, tidak hanya dijadikan rujukan matakuliah ‘Ulum al-Qur’an saja, tapi juga digunakan sebagai 5 matakuliah lainnya, seperti Ulum Hadits, Tafsir, Filsafat Hukum Islam, Masail Fiqh dan Aliran Modern Dalam Islam. Demikian halnya dengan karya Hamim Ilyas dkk, Perempuan Tertindas juga dijadikan rujukan untuk 6 mata kuliah, yaitu Ulum al-Qur’an, Ushul Fiqh, Fiqh, Masail Fiqh, Sejarah Peradaban Islam dan Ilmu Dakwah.

Ketimpangan seperti ini juga menjadi tradisi di banyak matakuliah kajian keislaman. Dengan menetapkan satu buku sebagai rujukan untuk bermacam-macam matakuliah, mengesankan bahwa liberalisasi studi Islam ternyata dilakukan secara tidak elegan dan toleran. Ia dipenuhi pemaksaan, jumud, penuh intrik dan ambisi pribadi. Sebut saja misalnya buku “Argumen Kesetaraan Gender” karya Nazaruddin Umar, dinobatkan sebagai rujukan untuk 4 mata kuliah, yaitu Ulum al-Hadits, Tafsir, Ushul Fiqh, Studi Tokoh Sastra Arab. Padahal penulisnya bukanlah seorang pakar sastra Arab dan tidak memiliki latar belakang di bidang ini. Di samping itu, buku ini juga tidak ada kaitan khusus dengan kajian ilmu Hadits, apalagi ilmu ushul fiqh.

Uniknya lagi buku Membina keluarga Mawaddah wa Rahmah dalam bingkai Sunah Nabi yang terbit atas kerjasama dengan Ford Foundation juga dijadikan sebagai rujukan untuk 3 matakuliah ‘Ulum al-Hadits, Hadits dan Ilmu Dakwah. Padahal buku ini banyak menolak hadits-hadits yang tidak sejalan dengan paham feminisme Barat. Sebagai contoh, di antara isu yang dibahas dalam buku ini adalah mengkritik Hadits Nabi tentang ciri-ciri wanita salehah. Tiga ciri kesalehan wanita seperti hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan al-Baihaqi, yaitu sikap menyenangkan pandangan suaminya, mematuhi perintahnya, dan menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya di saat suaminya pergi, malah dijadikan objek kemarahan. Baginya, Hadits ini dianggap tidak adil dan hanya berisi tuntutan sepihak terhadap perempuan.
Meskipun penulisnya mengakui bahwa hadits ini adalah Hadits yang sahih, tidak menyalahi al-Qur’an, tidak menyalahi amalan ulama salaf dan tidak bertentangan dengan akal sehat, tetapi penulisnya melarang kalau Hadits ini diamalkan apa adanya, secara semestinya dan tekstual. Sebaliknya, Hadits ini harus dipahami secara kontekstual-sosiologis. Karena kesalehan wanita itu relatif dan bisa berubah menurut tempat, zaman dan kebutuhan.

Penutup

Studi al-Qur’an adalah jantung studi Islam, karena memang semua ilmu keislaman bersumber darinya. Sifat kewahyuan al-Qur’an yang final dan universal, mempengaruhi karakter pendekatan studi al-Qur’an untuk tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek wahyu dan iman. Jika saja Rasulullah saat menerima wahyu mengalami perubahan fisik yang luar biasa, misalnya beliau terlihat sangat takut dan minta diselimuti, terkadang dahi beliau bercucuran keringat padahal saat itu sedang musim dingin, terkadang nampak wajah beliau kemerah-merahan dengan suara yang tidak beraturan dan terkadang tubuhnya menjadi sangat berat, sampai-sampai paha Zayd bin Tsabit terasa mau patah ketika menahan kaki Rasulullah yang tiba-tiba kedatangan wahyu. Maka apakah layak seorang Muslim saat menggali kandungan al-Qur’an mencampakkan aspek kewahyuannya untuk ditukar dengan spekulasi akal yang tidak terarah dan permisif untuk disusupi aneka purba sangka? Tidakkah merusak studi al-Qur’an berarti sebuah konspirasi memutuskan umat dari akar khazanahnya?! Wallahu a’lam wa ahkam bi l-sawab.

Sumber: Dr. Adian Husaini (Studi al-Qur’an Yang Dikelirukan), Insistnet.