Hakikat Kemilau Harta dan Kesenangan Orang-Orang Kafir


“Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah jahannam dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya“. (QS. Ali Imron: 196-197)

As-Sa’di rhm  menyatakan maksud ayat ini adalah sebagai hiburan terhadap nabi tentang apa yang dirasakan oleh orang-orang yang kafir berupa perhiasan dunia dan mereka menikmatinya, pulang perginya mereka di seluruh negeri dengan berbagai perdagangan, mata pencaharian, kesenangan, berbagai macam kemuliaan dan kemenangan pada sebagian kesempatan.

Sedangkan Ibnu Katsir  mengatakan, ” Seakan-akan Alloh  berfirman, “Janganlah kalian terpesona oleh orang-orang kafir yang bergelimang dalam kenikmatan kesenangan dan kegembiraan. Karena semua itu akan segera sirna dan akhirnya mereka akan tergadai dengan amal keburukan yang mereka lakukan. Sesungguhnya Kami menangguhkan sedikit waktu bagi mereka untuk menikmatinya, sebagai tipuan. Lalu Alloh  befirman:

“Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya”.

Sebagaimana firman Alloh  :

“Karena itu janganlah pulang perginya mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu“. (QS. al Mu’min: 4)

“Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras”. (QS. Luqman: 24)

Demikianlah, ketika Alloh  menceritakan keadaan orang-orang  kafir di dunia. Dan Alloh  juga menyebutkan bahwa tempat kembali mereka adalah Neraka.

Dari paparan dalil di atas jelaslah bahwa kekayaan melimpah yang mereka nikmati serta segala macam kebebasan dan kesenangannya tidaklah berarti. Bahkan tak sedikit pun yang ada padanya bermanfaat di sisi Alloh  ketika mereka tidak beriman kepada Alloh .

Maka dari itu bagi seorang muslim tidaklah patut merasa lebih rendah dari orang-orang kafir. Sebagaimana kita lihat pada saat ini begitu banyak orang-orang muslim yang justru bangga dengan gaya hidup orang-orang kafir. Meniru-niru mereka mulai dari hal terkecil hingga yang terbesar. Bahkan jika ada orang yang tidak mau mengikutinya dikatakan kolot, tidak gaul dan ketinggalan zaman.

Padahal pada hakikatnya orang-orang kafir yang mereka ikuti itu tidak lebih mulia daripada binatang yang tersesat yang ada di muka bumi ini. Sebagaimana firman Alloh : “Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka“. (QS. Muhammad: 12)

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (QS. al Furqon: 44).

Jika seekor binatang dikatakan sesat jelas ini suatu kewajaran dimana dia tidak memiliki akal untuk membedakan yag baik dan yang buruk. Tapi seorang manusia yang Alloh  lebihkan dengan segala kelebihannya lalu tersesat, bukankah dia lebih rendah daripada binatang yang sesat?

Adapun kekuasaan, kekayaan dan kesenangan orang-orang kafir di atas kaum muslimin di muka bumi pada saat ini adalah fitnah (cobaan) bagi setiap muslim. Hingga akan terlihat di antara mereka (kaum muslimin) yang teguh di dalam keimanannya.

Sedangkan orang-orang yang bertakwa sangat tinggi derajatnya di sisi Alloh , sebagaimana Alloh  berfirman pada lanjutan ayat tersebut, “Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal (anugerah) dari sisi Alloh dan apa yang di sisi Alloh adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti”. (QS. Ali Imron: 198)

Maka hendaklah orang-orang Islam memandang orang-orang kafir dengan pandangan yang shohih (benar). Maka bagaimana mungkin orang yang dikatakan Alloh  sebaik-baik makhluk akan mengikuti orang yang dikatakan seburuk-buruk makhluk. Bagaimana mungkin suatu kaum yang baik bisa mengikuti yang buruk dan merasa rendah dihadapan kaum yang keji dan jauh dari kebenaran tersebut.

Jadi, kuatkanlah keyakinan pada diri kita. Bahwa sesungguhnya keimanan seseorang terhadap Robbnya jauh lebih mulia dibandingkan segala kekayaan yang ada di muka bumi ini. Karena semua akan sia-sia belaka dikala dia tidak beriman. Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya keimanan merupakan standar baik atau buruknya dia di hadapan Alloh  dan seluruh makhluk-Nya.

Sumber: Tafsir as-Sa’di ,Tafsir  Ibnu Katsir , Hilangnya Jatidiri Kaum Muslimin (Ibrahim Bafadhal, SHI)

Iklan

Satu Tanggapan

  1. […] Sumber: Tafsir as-Sa’di ,Tafsir  Ibnu Katsir , Hilangnya Jatidiri Kaum Muslimin (Ibrahim Bafadhal, SHI). majalahummatie.wordpress.com […]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: