Juallah Dunia, Belilah Akhirat


B

arang siapa yang dapat berpikir dengan jernih maka akan terbayang olehnya surga yang indah dan abadi, kelezatan tiada terputus, terwujudnya semua keinginan, dan kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan tak pernah terbersit dalam hati manusia. Kenikmatan yang tak pernah berubah dan tak pernah habis juga tak pernah terhitung.

Tak ada artinya sejuta tahun atau seratus juta tahun, bahkan jika manusia menghitung tahun yang ada dengan bilangan tak terhingga sekalipun, hitungan itu tidak akan pernah habis. Karena kehidupan akhirat tak akan pernah berakhir.

Semua itu tidak akan diperoleh kecuali  menggunakan umur ini dengan sebaik-baiknya. Umur seratus tahun tidaklah ada artinya. Coba kita hitung-hitung…! Lima belas tahun pertama, hidup ini adalah masa kanak-kanak dan kebodohan dan jika usia sudah sampai tujuhpuluh tahun maka sisa hidup hanyalah 30 tahun dalam keadaan lemah fisik dan renta itu pun jika Alloh  berkehendak memberikan usia seratus tahun.

Sebagian umur kita, kita gunakan untuk tidur, sebagian lagi kita gunakan untuk makan, minum dan mencari nafkah sedangkan sisanya yang lebih sedikit kita gunakan untuk beribadah.

Pantaskah jika sesuatu yang abadi dibeli dengan yang sedikit? Mereka yang tidak bersegera terlibat dalam perdagangan yang menguntungkan ini, sungguh bertindak sangat rugi dan tidak masuk akal. Pasti ada yang salah dengan keimanan mereka tentang janji Alloh  yang pasti.

Orang-orang besar generasi ini rela berkorban di jalan Alloh  karena mereka telah menjual dirinya secara tunai dan menerima janji Alloh . Alloh  berfirman:

¨bÎ) ©!$# 3“uŽtIô©$# šÆÏB šúüÏZÏB÷sßJø9$# óOßg|¡àÿRr& Nçlm;ºuqøBr&ur  cr’Î/ ÞOßgs9     sp¨Yyfø9$#

Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. at-Taubah: 111).

Adapun orang-orang yang merugi, mereka tidak mau melakukan pengorbanan karena imbalannya di tangguhkan dan transaksinya tanpa saksi. Siapakah yang lebih menepati janji daripada Alloh? Alloh  berfirman:

ô`tBur ä-y‰ô¹r& z`ÏB «!$# WxŠÏ%

“Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah ?” (QS. an-Nisaa: 122).

Maka Alloh  pun menggambarkan kedudukan orang-orang yang rugi itu, Alloh  berfirman:

öNèdö‘sŒ (#qè=à2ù’tƒ (#qãè­GyJtGtƒur ãLÏiÎgù=ãƒur ã@tBF{$# ( t$öq|¡sù tbqçHs>ôètƒ

“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS. al Hijr: 3)

Kenikmatan yang melimpah ruah sering menjadi penghalang manusia untuk menempuh jalan yang benar, mereka lebih suka untuk bersenang-senang dan berlalai-lalai dan bernikmat-nikmat untuk menikmati kenikmatan yang sesaat dan pendek, bahkan kemudian membiarkan dirinya terjangkiti berbagai penyakit-penyakit hati yang memayahkan dan menyengsarakan.

Mencari harta dan kesenangan dunia sungguh tiada hina, bahkan mulia jika ditunaikan dijalan Alloh , namun jika dunia itu menjadi tujuan segalanya maka inilah yang telah merugikannya karena dia telah lalai dari tujuan besar yang sebenarnya.

Padahal Alloh  telah menjelaskan kepada umat manusia, bahwa orang-orang yang berjuang dan berkorban untuk menegakkan kebenaran yang diamanatkan oleh Alloh  itulah yang akan mendapatkan kebahagiaan yang kekal.

Sebenarnya kita tidak memiliki sesuatu  apapun dan tidak pula disertai sesuatu apapun. Semuanya adalah pemberian, hibah dan anugrah dari Alloh  belaka. Dia yang menciptakan, yang memberi rezeki, yang memaafkan, yang menutupi kesalahan yang memiliki sifat lembut dan yang memberi jaminan.

Barang siapa yang kikir dengan apa yang di anugrahkan Alloh  kepadanya (baik itu harta, waktu, tenaga dan pikiran) untuk ditunaikan jalan Alloh , berarti dia merampasnya dari yang empunya.

Sudah selayaknya bagi kita saat ini menjual dunia dengan bersusah payah beribadah dalam rangka membeli akhirat dan surga Alloh .

Juallah dunia yang hanya sedikit dan sebentar serta belilah akhirat yang sungguh besar serta abadi…!

Sumber: – Siyaatul Qulub (Dr. AidhAbdullah al Qarni)

– Shaidul Khatir (Ibn al- Jauziy)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: