Imamah

Imamah merupakan aturan Ilahi, yang didalamnya Allah  mengarah-kan kita secara praktis kepada tujuan-tujuan yang tinggi, berupa ketaatan dan kepatuhan kepada pemimpin di medan jihad, aturan dan disiplin kerja secara militer dan gerakan pe-rang, disamping gambaran kesamaan hak. Karena disini orang yang kecil berdiri bersama orang yang besar, orang miskin bersama orang yang kaya, orang terpandang dan orang jelata dan lain sebagainya. Inilah tujuan yang paling utama dari ibadah kepada Allah  dan tunduk dihadapan-Nya.

“Dari Abu Hurairah  bahwa Nabi  bersabda, “Tidakkah orang yang  mengangkat kepalanya sebelum imam, merasa takut sekiranya Allah mengubah kepalanya menjadi kepala keledai atau Allah menjadikan rupa-nya sebagai keledai?” (HR. Bukhari)

Imam dijadikan dalam shalat agar ia diikuti dan dimakmumi, sehingga setiap perubahan gerak makmum harus dilakukan setelah perubahan gerak imam. Dengan cara ini ke-ikutsertaan itu barulah teralisir. Jika makmum mendahului imam, maka tujuan yang diharapkan dari imamah menjadi sirna. Karena itulah disam-paikan ancaman keras bagi orang yang mengangkat kepalanya lebih dulu dari imam, bahwa Allah  akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai atau merubah rupa-nya menjadi rupa keledai.

Para ulama telah sepakat dalam pengharaman tindakan makmum yang mendahului imam, yang didasar-kan kepada ancaman yang keras ini. Tetapi mereka berbeda pendapat tentang gugurnya shalat tersebut.

Jumhur ulama berpendapat, shalat tersebut tidak gugur. Sementara Imam Ahmad  berkata dalam risalahnya, “Tidak ada shalat bagi orang yang mendahului imam”. Begitupun ulama-ulama yang mengikutinya menyatakan, “siapa yang mendahului imam pada suatu rukun shalat seperti ruku atau sujud maka dia harus mengulang shalatnya lagi setelah imam melaku-kan salam. Jika dia sengaja tidak melakukannya, maka shalatnya gugur.

Yang benar seperti yang disebut-kan Imam Ahmad  di dalam risalah-nya bahwa makmum yang sengaja mendahului imam, shalatnya gugur. Ini merupakan pilihan Ibnu Taimiyah  karena ancaman tersebut meng-haruskan adanya larangan dan larang-an tersebut mengahruskan adanya kerusakan.

“Sesungguhnya imam itu dijadi-kan untuk diikuti, maka janganlah kalian menyalahinya. Jika ia bertak-bir , bertakbirlah kalian. Jika ia ruku, ruku-lah kalian.jika ia mengucapkan Sami’allahu liman hamidahu, ucapkan-lah ‘Rabbana walakal hamdu. Jika ia sujud, sujudlah kalian. Jika ia shalat sambil duduk, shalatlah kalian sambil duduk semuanya”. (HR. Bukhari)

Didalam hadits ini Rasulullah  mengarahkan para makmum kepada hikmah dijadikannya imam, yaitu agar ia diikuti yang tidak boleh di-salahi dalam satu perkara pun dari amal-amal shalat. Setiap perubahan geraknya harus diperhatikan secara mendetail.

Dari Aisyah , dia berkata, “-sulullah didalam rumahnya, yang ketika itu beliau dalam keadaan sakit. Beliau shalat sambil duduk. Ada beberapa orang ikut shalat di bela-kang Beliau sambil berdiri, maka beliau memberi isyarat kepada mereka, ‘duduklah kailan’. Setelah selesai, Beliau bersabda, “Sesungguhnya imam itu  dijadikan hanya untuk diikuti. Jika dia ruku, ruku-lah kalian. Jika dia mengangkat kepala, angkatlah kepala kalian. Jika dia mengucapkan Sami’-allahu liman hamidahu, ucapkanlah ‘Rabbana walakal hamdu. Jika dia shalat sambil duduk, shalatlah kaila nsemua sambil duduk”. (HR. Bukhari)

Aisyah  menuturkan bahwa ketika Rasulullah  sedang sakit beliau shlat sambil duduk,. Sementara para sahabat mengira karena mereka sang-gup berdiri, mereka pun shalat sambil berdiri di belakang Beliau lalu Beliau mengisyaratkan kepada mereka agar duduk.

Syariat Ilahi ini untuk mengembali-kan kita kepada ketaatan dan kepa-tuhan, mengikuti dan menjaga persa-tuan, disamping beribadah kepada . Betapa agung Islam ini, betapa tinggi syariatnya dan betapa agung tujuan-tujuannya. Semoga Allah  melimpahkan taufiq keapda orang-orang Muslim sehingga mereka komit-men terhadap agamanya, agar persa-tuan mereka tetap terjaga, barisan mereka menjadi tangguh dan kalimat mereka menjadi tinggi. Kebaikan hanya ada pada persatuan dan saling pengertian, sedangkan keburukan hanya ada pada perselisihan, perten-tangan dan kesombongan.

Allah  berfirman:

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berban-tah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. al-Anfal: 46)

Wallahu ‘alam

Fatwa Nyeleneh, Main Bola Boleh Tidak Puasa

Mesir (voa-Islam) – Dar al-Ifta, lembaga tinggi keagamaan Mesir telah mengeluarkan fatwa nyeleneh bagi para pemain tim sepak bola nasional Mesir. Fatwa itu membebaskan mereka dari berpuasa selama bulan Ramadhan. Namun kebanyakan para pemain malah menolak fatwa tersebut.

Fatwa tersebut keluar menjelang kejuaraan dunia sepak bola di Mesir yang akan berlangsung tanggal 24 September nanti setelah Ramadhan berakhir. Munculnya fatwa juga memicu kemarahan kelompok-kelompok Islam di negara itu.

Dar al-Ifta, lembaga negara yang memiliki kewenangan untuk menjelaskan dan mengeluarkan fatwa-fatwa agama, telah “mengizinkan” para pemain tim nasional Mesir untuk membatalkan puasa mereka, agar tidak mengganggu latihan persiapan menghadapi turnamen sepak bola di bawah umur 20 tahun, kata juru bicara asosiasi sepak bola Mesir, Alaa Abdel Aziz kepada AFP.

“Namun para pemain menolak fatwa tersebut. Mereka tetap meminta untuk tetap menjalankan ibadah puasa,” katanya menambahkan.

Penjelasan Dar al-Ifta dalam mengeluarkan fatwa tersebut, “seorang pemain yang terikat pada klub dengan kontrak, wajib untuk melaksanakan tugasnya sebagai pemain dan jika bermain sepak bola ini adalah sumber pendapatannya dan dirinya harus ikut serta dalam pertandingan selama bulan Ramadhan dan dengan berpuasa mempengaruhi kinerja selama ia bertanding, maka ia diperbolehkan untuk membatalkan puasa,” kata juru bicara Dar al-Ifta Ibrahim Nigm kepada AFP.

Pendapat otoritas lembaga fatwa negara ini menyatakan bahwa “bagi mereka yang melakukan pekerjaan yang banyak mengeluarkan tenaga dan dapat menyebabkan tubuhnya menjadi lemah karena berpuasa, maka dapat membatalkan puasanya,” kata Nigm.

Namun fatwa ini menyebabkan Front Ulama Al-Azhar, mengeluarkan pernyataan di situs mereka yang menentang dan mencela fatwa yang membolehkan tidak berpuasa tersebut.

“Bermain bola tetaplah bermain bola, dan bukan merupakan bagian penting dari kehidupan yang dapat membenarkan seseorang tidak berpuasa dan membatalkan puasa selama bulan Ramadhan.”

Frederick Kanoute Tetap Berpuasa

Bagi striker Sevila, Frederick Kanoute, bulan Ramadhan bukanlah halangan baginya untuk tetap menjalakan puasa sekaligus membela klubnya di pentas La Liga. Baginya, masih memungkinkan untuk setiap pemain bola tetap berada di puncak kondisi fisiknya selama Ramadahan ini. Lebih Lengkapnya Klik: di sini (v-i)

Fatwa Lajnah Da’imah (Dewan Tetap Arab Saudi) seputar Bencana di Jalur Gaza

Segala puji hanyalah milik Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada nabi dan rasul yang paling mulia, nabi kita Muhammad dan kepada keluarga beliau beserta para shahabatnya dan ummatnya yang setia mengikutinya sampai akhir zaman. Wa ba’da;

Sesungguhnya Lajnah Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta’ (Dewan Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa) di Kerajaan Saudi Arabia mengikuti (perkembangan yang terjadi) dengan penuh kegalauan dan kesedihan akan apa yang telah terjadi dan sedang terjadi yang menimpa saudara-saudara kita muslimin Palestina dan lebih khusus lagi di Jalur Gaza, dari angkara murka dan terbunuhnya anak-anak, kaum wanita dan orang-orang yang sudah renta, dan pelanggaran-pelanggaran terhadap kehormatan, rumah-rumah serta bangunan-bangunan yang dihancurkan dan pengusiran penduduk. Tidak diragukan lagi ini adalah kejahatan dan kezhaliman terhadap penduduk Palestina.

Dan dalam menghadapi peristiwa yang menyakitkan ini wajib atas ummat Islam berdiri satu barisan bersama saudara-saudara mereka di Palestina dan bahu membahu dengan mereka, ikut membela dan membantu mereka serta bersungguh-sungguh dalam menepis kezhaliman yang menimpa mereka dengan sebab dan sarana apa pun yang mungkin dilakukan sebagai wujud dari persaudaraan seagama dan seikatan iman. Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara”. (Al Hujurat: 10) dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain”. (At-Taubah: 71) dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Seorang mukmin bagi mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan yang saling menopang, lalu beliau menautkan antar jari-jemari (kedua tangannya)”. (Muttafaqun ‘Alaihi) dan beliau juga bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal kasih sayang, kecintaan dan kelemah-lembutan di antara mereka adalah bagaikan satu tubuh, apabila ada satu anggotanya yang sakit maka seluruh tubuh juga merasakan sakit dan tidak bisa tidur”. (Muttafaqun ‘Alaihi) dan beliau juga bersabda: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak mendzalimi saudaranya, tidak menipunya, tidak memperdayanya dan tidak meremehkannya”. (HR. Muslim)

Dan pembelaan bentuknya umum mencakup banyak aspek sesuai kemampuan sambil tetap memperhatikan keadaan, apakah dalam bentuk benda atau suatu yang abstrak dan apakah dari awam muslimin berupa harta, makanan, obat-obatan, pakaian, dan yang lain sebagainya. Atau dari pihak pemerintah Arab dan negeri-negeri Islam dengan mempermudah sampainya bantuan-bantuan kepada mereka dan mengambil posisi di belakang mereka dan membela kepentingan-kepentingan mereka di pertemuan-pertemuan, acara-acara, dan musyawarah-musyawarah antar negara dan dalam negeri. Semua itu termasuk ke dalam bekerjasama di atas kebajikan dan ketakwaan yang diperintahkan di dalam firman-Nya: “Dan bekerjasamalah kalian di atas kebajikan dan ketakwaan”. (Al Ma’idah: 2)

Dan termasuk dalam hal ini juga, menyampaikan nasihat kepada mereka dan menunjuki mereka kepada setiap kebaikan bagi mereka. Dan di antaranya yang paling besar, mendoakan mereka pada setiap waktu agar cobaan ini diangkat dari mereka dan agar bencana ini disingkap dari mereka dan mendoakan mereka agar Allah memulihkan keadaan mereka dan membimbing amalan dan ucapan mereka.

Dan sesungguhnya kami mewasiatkan kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di Palestina untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala dan bertaubat kepada-Nya, sebagaimana kami mewasiatkan mereka agar bersatu di atas kebenaran dan meninggalkan perpecahan dan pertikaian, serta menutup celah bagi pihak musuh yang memanfaatkan kesempatan dan akan terus memanfaatkan (kondisi ini) dengan melakukan tindak kesewenang-wenangan dan pelecehan.

Dan kami menganjurkan kepada semua saudara-saudara kami untuk menempuh sebab-sebab agar terangkatnya kesewenang-wenangan terhadap negeri mereka sambil tetap menjaga keikhlasan dalam berbuat karena Allah Ta’ala dan mencari keridha’an-Nya dan mengambil bantuan dengan kesabaran dan shalat dan musyawarah dengan para ulama dan orang-orang yang berakal dan bijak di setiap urusan mereka, karena itu semua potensial kepada taufik dan benarnya langkah.

Sebagaimana kami juga mengajak kepada orang-orang yang berakal di setiap negeri dan masyarakat dunia seluruhnya untuk melihat kepada bencana ini dengan kacamata orang yang berakal dan sikap yang adil untuk memberikan kepada masyarakat Palestina hak-hak mereka dan mengangkat kezhaliman dari mereka agar mereka hidup dengan kehidupan yang mulia. Sekaligus kami juga berterima kasih kepada setiap pihak yang berlomba-lomba dalam membela dan membantu mereka dari negara-negara dan individu.

Kami mohon kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang husna dan sifat-sifat-Nya yang tinggi untuk menyingkap kesedihan dari ummat ini dan memuliakan agama-Nya dan meninggikan kalimat-Nya dan memenangkan para wali-Nya dan menghinakan musuh-musuh-Nya dan menjadikan tipu daya mereka bumerang bagi mereka dan menjaga ummat Islam dari kejahata-kejahatan mereka, sesungguhnya Dialah Penolong kita dalam hal ini dan Dzat Yang Maha Berkuasa.

Dan shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga serta shahabatnya dan ummatnya yang mengikuti beliau dengan baik sampai hari kiamat.

Sumber

Menyambut dan merayakan Tahun Baru (termasuk Natal, Imlek, dll)

Sesungguhnya di antara konsekwensi terpenting dari sikap membenci orang-orang kafir ialah menjauhi syi’ar dan ibadah mereka. Sedangkan syi’ar mereka yang paling besar adalah hari raya mereka, baik yang berkaitan dengan tempat maupun waktu. Maka orang Islam berkewajiban menjauhi dan meninggalkannya.

Ada seorang lelaki yang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyakan kepadanya (yang artinya) : ” Apakah disana ada berhala, dari berhala-berhala orang Jahiliyah yang disembah ?” Dia menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya, “Apakah di sana tempat dilaksanakannya hari raya dari hari raya mereka ?” Dia menjawab, “Tidak”. Maka Nabi bersabda, “Tepatillah nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Allah dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam”
[Hadits Riwayat Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim]

Hadits diatas menunjukkan, tidak bolehnya menyembelih untuk Allah di bertepatan dengan tempat yang digunakan menyembelih untuk selain Allah ; atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab hal itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam mengagungkan syi’ar-syi’ar mereka, dan juga karena menyerupai mereka atau menjadi wasilah yang mengantarkan kepada syirik. Begitu pula ikut merayakan hari raya (hari besar) mereka mengandung wala’ (loyalitas) kepada mereka dan mendukung mereka dalam menghidupkan syi’ar-syi’ar mereka.

Di antara yang dilarang adalah menampakkan rasa gembira pada hari raya mereka, meliburkan pekerjaan (sekolah), memasak makanan-makanan sehubungan dengan hari raya mereka (kini kebanyakan berpesiar, berlibur ke tempat wisata, konser, acara musik, diakhiri mabuk-mabukan atau perzinaan, red).

Dan diantaranya lagi ialah mempergunakan kalender Masehi, karena hal itu menghidupkan kenangan terhadap hari raya Natal bagi mereka. Karena itu para shahabat menggunakan kalender Hijriyah sebagai gantinya.

Syaikhul Islam Ibnu Timiyah berkata, “Ikut merayakan hari-hari besar mereka tidak diperbolehkan karena dua alasan”.

Pertama. Bersifat umum, seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa hal tersebut berarti mengikuti ahli Kitab, yang tidak ada dalam ajaran kita dan tidak ada dalam kebiaasaan Salaf. Mengikutinya berarti mengandung kerusakan dan meninggalkannya terdapat maslahat menyelisihi mereka. Bahkan seandainya kesamaan yang kita lakukan merupakan sesuatu ketetapan semata, bukan karena
mengambilnya dari mereka, tentu yang disyari’atkan adalah menyelisihiya karena dengan menyelisihinya terdapat maslahat seperti yang telah diisyaratkan di atas. Maka barangsiapa mengikuti mereka, dia telah kehilangan maslahat ini sekali pun tidak melakukan mafsadah (kerusakan) apapun, terlebih lagi kalau dia melakukannya.

Alasan Kedua.
Karena hal itu adalah bid’ah yang diada adakan. Alasan ini jelas menunjukkan bahwa sangat dibenci hukumnya menyerupai mereka dalam hal itu”.

Beliau juga mengatakan, “Tidak halal bagi kaum muslimin ber-Tasyabuh (menyerupai) mereka dalam hal-hal yang khusus bagi hari raya mereka ; seperti, makanan, pakaian, mandi, menyalakan lilin, meliburkan kebiasaan seperti bekerja dan beribadah ataupun yang lainnya. Tidak halal mengadakan kenduri atau memberi hadiah atau menjual barang-barang yang diperlukan untuk hari raya tersebut. Tidak halal mengizinkan anak-anak ataupun yang lainnya melakukan permainan pada hari itu, juga tidak boleh menampakkan perhiasan.

Ringkasnya, tidak boleh melakukan sesuatu yang menjadi ciri khas dari syi’ar mereka pada hari itu. (Dalam Iqtidha Shirathal Mustaqim, pentahqiq Dr Nashir Al-’Aql 1/425-426).

Hari raya mereka bagi umat Islam haruslah seperti hari-hari biasanya, tidak ada hal istimewa atau khusus yang dilakukan umat Islam. Adapun jika dilakukan hal-hal tersebut oleh umat Islam dengan sengaja [1] maka berbagai golongan dari kaum salaf dan khalaf menganggapnya makruh. Sedangkan pengkhususan seperti yang tersebut di atas maka tidak ada perbedaan di antara ulama, bahkan sebagian ulama menganggap kafir orang yang melakukan hal tersebut, karena dia telah mengagungkan syi’ar-syi’ar kekufuran.

Segolongan ulama mengatakan. “Siapa yang menyembelih kambing pada hari raya mereka (demi merayakannya), maka seolah-olah dia menyembelih babi”. Abdullah bin Amr bin Ash berkata, “Siapa yang mengikuti negera-negara ‘ajam (non Islam) dan melakukan perayaan Nairuz [2] dan Mihrajan [3] serta menyerupai mereka sampai ia meninggal dunia dan dia belum bertobat, maka dia akan dikumpulkan bersama mereka pada Hari Kiamat.

Footnote :
[1] Mungkin yang dimaksud (yang benar) adalah ‘tanpa sengaja’.
[2] Nairuz atau Nauruz (bahasa Persia) hari baru, pesta tahun baru Iran yang
bertepatan dengan tanggal 21 Maret -pent.
[3] Mihrajan, gabungan dari kata mihr (matahari) dan jan (kehidupan atau
ruh), yaitu perayaan pada pertengahan musim gugur, di mana udara tidak panas
dan tidak dingin. Atau juga merupakan istilah bagi pesta yang diadakan untuk
hari bahagia -pent.

(Dinukil dari tulisan Dr Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, dalam kitab At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal Al-Aliy[Edisi Indonesia, Kitab Tauhid 1])

Sumber