Hudzaifah Ibnul Yaman R.A

“Jika kamu ingin digolongkan sebagai kaum muhajirin, maka kamu memang seorang muhajir (orang yang hijrah). Jika kamu ingin digolongkan kaum anshar, kamu memang seorang anshar. Pilihlah mana yang kamu sukai.”

Itulah kalimat yang diucapkan Ra-sulullah  kepada Hudzaifah Ib-nul Yaman, ketika dia pertama ka-li bertemu muka dengan beliau di Mekkah. Mengenai pilihan itu, ada cerita tersendiri.

Berikut kisahnya. Al-Yaman ada-lah ayah Hudzaifah, ia berasal dari Bani Abbas di kota Mekkah. Karena terlibat hutang darah dalam kaum-nya, dia terpaksa menyingkir dari Mekkah ke Yatsrib (Madinah). Di sa-na dia minta perlindungan kepada Bani Abd Asyhal dan bersumpah se-tia kepada mereka untuk menjadi ke-luarga dalam persukuan Bani ‘Abd Asyhal. Kemudian dia menikah de-ngan anak perempuan suku Asyhal. Dari perkawinannya itu lahirlah anak-nya, Hudzaifah. Maka hilanglah ha-langan yang menghambat Al-Yaman untuk memasuki kota Mekkah. Se-jak itu dia bebas pulang pergi antara Mekkah dan Madinah. Namun begi-tu, dia lebih banyak tinggal dan me-netap di Madinah.

Ketika Islam memancarkan caha-yanya ke seluruh jazirah Arab, Al-Ya-man termasuk salah seorang utusan dari sepuluh orang Bani Abbas, un-tuk menemui Rasulullah  dan me-nyatakan Islam di hadapan beliau. Peristiwa tersebut terjadi sebelum hi-jrah Rasulullah  ke Madinah. Se-suai dengan garis keturunan yang berlaku di negeri Arab, yaitu menu-rut garis keturunan ayah, maka Hu-dzaifah adalah orang Mekkah yang lahir dan dibesarkan di Madinah.

Hudzaifah Ibnul Yaman lahir di rumah tangga muslim, dipelihara dan dibesarkan dalam pangkuan kedua ibu bapaknya yang telah memeluk agama Allah . Karena itu, Hudzai-fah telah memeluk agama Islam se-belum bertemu Rasulullah .

Kerinduan Hudzaifah hendak ber-temu dengan Rasulullah  memenu-hi setiap rongga hatinya. Dia senan-tiasa menunggu-nunggu berita, dan menyimak kepribadian dan ciri-ciri Rasulullah . Jika ada yang mence-ritakan hal itu kepadanya, cinta dan kerinduannya kepada Rasulullah  semakin bertambah.

Karena keinginan itu semakin menggebu-gebu, dia memutuskan untuk berangkat ke Mekkah mene-mui Rasulullah . Saat itulah ia ber-tanya kepada Rasulullah , “Apa-kah saya ini seorang Muhajir atau Anshar, ya Rasulullah ?”

“Jika kamu ingin disebut Muhajir, kamu memang muhajir, dan jika ka-mu ingin disebut Anshar, kamu me-mang orang Anshar. Pilihlah mana yang kamu suka!” ujar Rasulullah .

“Aku memilih Anshar, ya Rasulul-lah!” jawab Hudzaifah.

Setelah Rasulullah hijrah ke Ma-dinah, Hudzaifah selalu mendampi-ngi beliau bagaikan seorang kekasih. Hudzaifah turut bersama-sama da-lam setiap peperangan yang dipim-pinnya, kecuali dalam perang Badar. Karena pada saat itu ia dan ayahnya sedang berada di luar kota Madinah dan ditangkap oleh kaum kafir Qu-raisy. Mereka tidak dibebaskan ke-cuali setelah berjanji untuk tidak me-merangi kaum Quraisy. Namun keti-ka hal itu disampaikan kepada Rasu-lullah , beliau memerintahkan un-tuk membatalkan perjanjian dan min-ta ampun kepada Allah .

Karena itu, ketika terjadi perang Uhud, Hudzaifah  turut memerangi kaum kafir bersama-sama dengan ayahnya, Al-Yaman. Dalam pepe-rangan itu Hudzaifah mendapat co-baan besar. Dia pulang dengan sela-mat, tetapi bapaknya meninggal du-nia di medan Uhud. Yang sangat di-sayangkan, ayahnya mati syahid di tangan kaum muslimin sendiri, bukan oleh kaum musyrikin.

Ceritanya, pada hari terjadinya perang Uhud, Rasulullah  menu-gaskan Al-Yaman dan Tsabit bin Waqsy mengawal benteng tempat pa-ra wanita dan anak-anak, karena ke-duanya sudah lanjut usia. Ketika perang memuncak dan berkecamuk dengan sengit, Al-Yaman berkata ke-pada temannya, “Bagaimana penda-patmu, apalagi yang harus kita tung-gu? Umur kita sudah tua, tinggal me-nunggu detik saja. Kita mungkin sa-ja mati hari ini atau besok. Apakah tidak lebih baik kita ambil pedang, lalu menyerbu ke tengah-tengah mu-suh membantu Rasulullah . Mudah-mudahan Allah  memberi kita re-zeki menjadi syuhada bersama-sama dengan Nabi-Nya. Lalu keduanya mengambil pedang dan terjun ke are-na pertempuran.

Tsabit bin Waqsy syahid di tangan kaum musyrikin. Tetapi Al-Yaman, menjadi sasaran pedang kaum mus-limin sendiri, karena mereka tidak mengenalnya. Hudzaifah  berteriak, “Itu bapakku!”, “Itu bapakku!”

Tetapi sayang, tidak seorang pun yang mendengar teriakannya, sehing-ga bapaknya jatuh tersungkur oleh pedang teman-temannya sendiri. Hu-dzaifah tidak berkata apa-apa, kecua-li hanya berdo’a, “Semoga Allah  mengampuni kalian, Dia Maha Pe-ngasih dari yang paling pengasih.”

Rasulullah  memutuskan untuk membayar tebusan darah (diyat) ba-pak Hudzaifah kepada anaknya, Hu-dzaifah. Namun Hudzaifah menolak, “Bapakku menginginkan agar dia mati syahid. Keinginannya itu kini te-lah tercapai. Ya Allah, saksikanlah! Sesungguhnya saya menyedekahkan diyat darah bapakku kepada kaum muslimin.”

Mendengar pernyataan itu, peng-hargaan Rasulullah terhadap Hudzai-fah bertambah tinggi dan mendalam. Rasulullah  menilai dalam pribadi Hudzaifah terdapat tiga keistimewa-an yang menonjol.

Pertama, cerdas tiada bandingan, sehingga dia dapat meloloskan diri dari situasi yang serba sulit. Kedua, cepat tanggap, tepat dan jitu, yang dapat dilakukannya kapan saja. Keti-ga, cermat dan teguh memegang ra-hasia dan berdisiplin tinggi, sehing-ga tak seorang pun dapat mengorek keterangan darinya.

Sudah menjadi salah satu kebijak-sanaan Rasulullah , berusaha me-nyingkap keistimewaan para sahabat-nya, dan menyalurkannya sesuai de-ngan bakat dan kesanggupan yang terpendam dalam pribadi masing-masing mereka. Yaitu menempatkan seseorang pada tempat yang selaras.

Kesulitan terbesar yang dihadapi kaum muslimin di Madinah ialah ke-hadiran kaum Yahudi munafik dan sekutu mereka, yang selalu membuat isu-isu dan muslihat jahat, yang di-lancarkan mereka terhadap Rasulul-lah  dan para sahabat. Dalam meng-hadapi kesulitan itu, Rasulullah  mempercayakan sesuatu yang sangat rahasia kepada Hudzaifah Ibnul Ya-man, dengan memberikan daftar na-ma orang munafik itu kepadanya. Itulah suatu rahasia yang tidak pernah bocor kepada siapa pun hingga se-karang, baik kepada para sahabat yang lain atau kepada siapa saja.

Dengan mempercayakan hal yang sangat rahasia itu, Rasulullah  me-nugaskan Hudzaifah  memantau se-tiap gerak dan kegiatan mereka un-tuk mencegah bahaya yang meng-ancam kaum muslimin. Karena itu, Hudzaifah digelari oleh para sahabat dengan ‘Shahibu Sirri Rasulullah’ (pemegang rahasia Rasulullah).

Pada suatu ketika, Rasulullah  memerintahkan Hudzaifah  melaksa-nakan suatu tugas yang sangat ber-bahaya dan membutuhkan keteram-pilan luar biasa untuk mengatasinya. Karena itulah beliau memilih orang yang cerdas, tanggap dan berdisiplin tinggi. Peristiwa itu terjadi pada pun-cak peperangan Khandaq.

Kaum muslimin telah lama dike-pung rapat oleh musuh sehingga me-reka merasakan ujian yang berat, me-nahan penderitaan yang hampir tak tertanggungkan, serta kesulitan-ke-sulitan yang tak teratasi semakin ha-ri situasi semakin gawat, sehingga menggoyahkan hati. Bahkan menja-dikan sebagian kaum muslimin ber-prasangka yang tidak wajar terhadap Allah .

Namun begitu, pada saat kaum muslimin mengalami ujian berat dan menentukan itu, kaum Quraisy dan sekutunya yang terdiri dari orang-orang musyrik tidak lebih baik keada-annya daripada yang dialami kaum muslimin. Karena murka-Nya, maka Allah  menimpakan bencana ke-pada mereka dan melemahkan ke-kuatannya. Allah  meniupkan angin topan yang sangat dahsyat, sehing-ga menerbangkan kemah-kemah me-reka, membalikkan periuk, kuali dan belanga, memadamkan api, menyi-ram muka mereka dengan pasir dan menutup mata dan hidung mereka dengan tanah.

Dalam situasi genting dalam seja-rah setiap peperangan, pihak yang kalah ialah yang lebih dahulu me-ngeluh, dan pihak yang menang ia-lah yang dapat bertahan menguasai diri melebihi lawannya. Maka dalam detik-detik seperti itu, amat diperlu-kan info-info secepatnya mengenai kondisi musuh, untuk menetapkan penilaian dan landasan mengambil putusan dalam musyawarah.

Ketika itulah Rasulullah  memer-lukan keterampilan Hudzaifah, un-tuk mendapatkan info-info yang te-pat dan pasti. Maka beliau memu-tuskan untuk mengirim Hudzaifah ke jantung pertahanan mush, dalam ke-gelapan malam yang hitam pekat. Marilah kita dengarkan dia bercerita, bagaimana dia melaksanakan tugas maut tersebut.

Hudzaifah bertutur, “Malam itu kami (tentara muslim) duduk berba-ris. Saat itu, Abu Sufyan dan pasukan-nya kaum musyrikin Mekkah menge-pung kami. Malam sangat gelap. Be-lum pernah kami alami gelap malam yang sepekat itu, sehingga tidak da-pat melihat anak jari sendiri. Angin bertiup sangat kencang, sehingga de-sirnya menimbulkan suara bising yang memekakkan. Orang-orang lemah iman, dan orang-orang munafik min-ta izin pulang kepada Rasulullah , dengan alasan rumah mereka tidak terkunci. Padahal sebenarnya rumah mereka terkunci.

Setiap orang yang meminta izin pulang, diperkenankan oleh Rasulul-lah , tidak ada yang dilarang atau ditahan beliau. Semuanya keluar de-ngan sembunyi-sembunyi, sehingga kami yang tetap bertahan, hanya tinggal 300 orang.

Rasulullah  berdiri dan berjalan memeriksa kami satu persatu. Sete-lah beliau sampai di dekatku, saya sedang meringkuk kedinginan. Tidak ada yang melindungi tubuhku dari udara dingin yang menusuk-nusuk, selain sehelai sarung butut kepunya-an istriku, yang hanya dapat menu-tupi hingga lutut. Beliau mendekati-ku yang sedang menggigil, seraya bertanya, “Siapa ini!”

“Hudzaifah!” Jawabku.

“Hudzaifah?” tanya Rasulullah minta kepastian.

Aku merapat ke tanah, malas ber-diri karena sangat lapar dan dingin, “Betul, ya Rasulullah!” jawabku.

“Ada beberapa peristiwa yang di-alami musuh. Pergilah ke sana de-ngan sembunyi-sembunyi untuk men-dapatkan data-data yang pasti, dan laporkan kepadaku segera!” kata Be-liau memerintah.

Aku bangun dari ketakutan dan kedinginan yang sangat menusuk, de-ngan diiringi do’a Rasulullah , “Ya Allah, lindungilah dia dari hadapan, dari belakang, kanan, kiri, atas dan dari bawah.”

Demi Allah! setelah Rasulullah  berdo’a, ketakutan yang menghantui dalam dadaku, dan kedinginan yang menusuk-nusuk tubuhku hilang seke-tika, sehingga saya merasa segar dan perkasa. Tatkala saya memalingkan diriku dari Rasulullah , beliau me-manggilku dan berkata, “Hai, Hu-dzaifah! Sekali-kali jangan melaku-kan tindakan yang mencurigakan me-reka sampai tugasmu selesai, dan kembali melapor kepadaku!”

Jawabku, “Saya siap, ya Rasulul-lah!”

Lalu saya pergi dengan sembunyi-sembunyi dan hati-hati sekali, dalam kegelapan malam yang hitam kelam. Saya berhasil menyusup ke jantung pertahanan musuh dengan berlagak seolah-olah saya anggota pasukan mereka. Belum lama saya berada di tengah-tengah mereka, tiba-tiba ter-dengar Abu Sufyan memberi koman-do.

“Hai pasukan Quraisy, dengarkan saya berbicara kepada kamu sekalian. Saya sangat khawatir apa yang akan kusampaikan ini didengar oleh Mu-hammad atau pengikutnya. Karena itu telitilah lebih dahulu setiap orang yang berada di samping kalian ma-sing-masing!”

Mendengar ucapan Abu Sufyan itu, saya segera memegang tangan orang yang di sampingku seraya ber-tanya, “Siapa kamu?”

Jawabnya, “Aku si Anu anak si Anu!”

Sesudah dirasanya aman, Abu Su-fyan melanjutkan bicaranya, “Hai pa-sukan Quraisy, Demi Tuhan, sesung-guhnya kita tidak dapat bertahan di sini lebih lama lagi. Hewan-hewan kendaraan kita telah banyak yang mati. Bani Quraizhah berkhianat me-ninggalkan kita. Angin topan menye-rang kita dengan ganas seperti kalian rasakan. Karena itu berangkatlah ka-lian sekarang, dan tinggalkan tempat ini. Saya sendiri akan berangkat se-karang.”

Selesai berkata begitu, Abu Suf-yan langsung mendekati untanya. Di-lepaskannya tali penambat binatang itu, lalu dinaiki dan dipacunya. Unta itu bangun dan Abu Sufyan langsung berangkat. Seandainya Rasulullah  tidak melarangku melakukan suatu tindakan di luar perintah sebelum datang melapor kepada beliau, sung-guh telah kubunuh Abu Sufyan de-ngan pedangku.

Aku kembali ke pos komando me-nemui Rasulullah . Kudapati beliau sedang shalat di tikar kulit, milik sa-lah seorang istrinya. Tatkala beliau melihatku, didekatkannya kakinya kepadaku dan diulurkannya ujung tikar menyuruhku duduk di dekatnya. Lalu kulaporkan kepada beliau sega-la kejadian yang kulihat dan kude-ngar. Beliau sangat senang dan ber-suka hati, serta mengucapkan puji dan syukur kepada Allah .

Hudzaifah Ibnul Yaman sangat cermat dan teguh memegang segala rahasia mengenai orang-orang mu-nafik selama hidupnya. Sehingga ke-pada para khalifah sekalipun, yang mencoba mengorek rahasia tersebut tidak pernah bocor olehnya. Pada saat pemerintahan Umar bin Khattab , jika ada orang muslim yang me-ninggal, Umar  bertanya, “Apakah Hudzaifah  turut menyalatkan jena-zah orang itu?” jika mereka menja-wab, ada, beliau turut menyalatkan-nya. Bila mereka katakan tidak, beliau enggan menyalatkannya.

Pada suatu ketika, Khalifah Umar  pernah bertanya kepada Hudzai-fah dengan cerdik, “Adakah dianta-ra pegawai-pegawaiku orang muna-fik?”

Jawab Hudzaifah, “Ada seorang!”

Kata Umar, “Tolong tunjukkan ke-padaku, siapa?”

Jawab Hudzaifah, “Maaf Khalifah saya dilarang Rasulullah  menga-takannya.”

“Seandainya aku tunjukkan, ten-tu khalifah akan langsung memecat pegawai yang bersangkutan,” kata Hudzaifah bercerita.

Selain itu, Hudzaifah juga adalah pahlawan penakluk Nahawand, Dai-nawar, Hamadzan, dan Rai. Dia mem-bebaskan kota-kota tersebut bagi kaum muslimin dari genggaman ke-kuasaan Persia yang menuhankan berhala. Hudzaifah juga termasuk tokoh yang memprakarsai keseragam-an mushaf Al-Qur’an.

Ketika Hudzaifah sakit keras men-jelang ajalnya tiba, beberapa orang sahabat datang mengunjunginya te-ngah malam. Hudzaifah bertanya ke-pada mereka, “Pukul berapa seka-rang?”

Jawab mereka, “Sudah dekat Su-buh.”

Kata Hudzaifah, “Aku berlindung kepada Allah, dari subuh yang me-nyebabkan saya masuk neraka.”

Kemudian dia bertanya, “Adakah Tuan-tuan membawa kafan?”

Jawab mereka, “Ada!”

Kata Hudzaifah, “Tidak perlu ka-fan yang mahal. Jika diriku baik da-lam penilaian Allah , Dia akan meng-gantinya untukku dengan kafan yang lebih baik. Dan jika saya tidak baik dalam pandangan Allah , Dia akan menanggalkan kafan itu dari tubuh-ku.”

Sesudah itu dia berdo’a, “Wahai Allah ! sesungguhnya kamu tahu, bah-wa saya lebih suka fakir daripada ka-ya, saya lebih suka sederhana dari-pada mewah, dan saya lebih suka mati daripada hidup.” Setelah mem-baca doa itu, ruhnya pun pergi me-ninggalkan jasad. Selamat jalan intel dan Pembisik Rasulullah . □

Iklan

Ramadhan Tinggal 10 Hari, Sudah Sampai Mana Bacaan Al Qur’an Kita?

Sunnah dalam bulan Ramadhan adalah membaca Al Qur’an. Karena waktu itu, Jibril dan Rasulullah melakukan tadarus Al Qur’an. Para Salaf pun telah melakukan hal serupa, lalu bagaimana dengan kita?

Hidayatullah.com–Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur`an. Bahkan Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya, bahwa di tiap tahunnya Jibril Alaihissalam membacakan Al Qur`an kepada Rasulullah SAW, dan itu dilakukan di tiap-tiap malam selama Ramadhan.

Oleh sebab itu, dengan berpedoman dengan hadits ini, Al Hafidz Ibnu Hajar berpendapat bahwa terus-menerus membaca Al Qur`an di bulan Ramadhan akan menambah kemulyaan bulan itu. (Fath Al Bari,9/52).

Karena itulah, para salaf amat memperhatikan dan “menggalakkan” amalan tilawah, dandalam bulan mulia ini.

Adalah Aswad bin Yazid An Nakha’i Al Kufi. Disebutkan dalam Hilyah Al Auliya (2/224) bahwa salah satu tabi’in ini mengkhatamkan Al Qur`an dalam bulan Ramadhan setiap dua hari, dan beliau tidur hanya di waktu antara maghrib dan isya, sedangkan di luar Ramadhan beliau menghatamkan Al Qur`an dalam waktu 6 hari.

Adapula Qatadah bin Diamah, dalam hari-hari “biasa”, tabi’in ini menghatamkan Al Qur`an sekali tiap pekan, akan tetapi tatkala Ramadhan tiba beliau menghatamkan Al Qur`an sekali dalam tiga hari, dan apabila datang sepuluh hari terakhir beliau menghatamkannya sekali dalam semalam .(Al Hilyah, 2/228).

Tabi’in lain, Abu Al Abbas Atha’ juga termasuk mereka yang “luar biasa” dalam tilawah. Di hari-hari biasa ia menghatamkan Al Qur`an sekali dalam sehari. Tapi di bulan Ramadhan, Abu Al Abbas mempu menghatamkan 3 kali dalam sehari. (Al Hilyah 10/302).

Manshur bin Zadan, termasuk tabi’in yang terekam amalannya di bulan diturunnya Al Qur`an ini. Hisham bin Hassan bercerita, bahwa di bulan Ramadhan, Manshur mampu menghatamkan Al Qur`an di antara shalat Maghrib dan Isya’, hal itu bisa beliau lakukan dengan cara mengakhirkan shalat Isya hingga seperempat malam berlalu. Dalam hari-hari biasapun beliau mampu menghatamkan Al Qur`an sekali dalam sahari semalam. (Al Hilyah, 3/57).

Sedangkan Abu Hanifah, dalam bulan Ramadhan juga mampu menghatamkan Al Qur’an dua kali dalam sehari. Sekali di siang hari, sekali di alam harinya. Bahkan Ibnu Mubarak mengatakan, “Abu Hanifah menghatamkan Al Qur’an dalam 2 rakaat” (Manaqib Al Imam Abi Hanifah, 1/241-242)

Imam As Syafi’i sendiri mampu menghatamkan Al Qur’an 60 kali dalam bulan Ramadhan. (Lathai`if Al Ma’arif, hal.400)

Lalu bagaimana dengan kita?

Al-Hasan al-Bashri

Abu Nu’aim berkata, “Di antara para tabi’in itu ada yang menjadikan takut dan rasa sedih sebagai teman, berkawan dengan kesusahan dan kehidupan yang keras serta sedikit tidurnya. Dialah Abu Said al-Hasan bin Abi al-Hasan, seorang yang ahli fikih dan zuhud, tekun beribadah dan dermawan, sangat menjauhi gemerlapnya dunia dengan segala keindahannya serta menjauhi syahwat dan menghalaunya jauh-jauh hingga tidak kembali.

Dia adalah seorang lelaki yang menyenangkan, berperawakan ideal, panjang umur dan dia banyak menghabiskan hidupnya dalam pencarian ilmu dan mengamalkannya.

Salah seorang puteranya berkata, “Ayah berumur 88 tahun, Allah selalu menjaganya dari fitnah dan tidak takut dengan fitnah yang terjadi pada Ibnu al-Asy-Ats. Dia lebih senang menjalani kehidupan dengan kewara’an, melarang kaum muslimin untuk bergabung dengan kelompok Ibnu al-Asy-Ats begitu juga dengan pasukan Al-Hajjaj ats-Tsaqafi, sehingga dia memerintahkan kepada semua kaum muslimin untuk menjauhi kedua kelompok tersebut. Inilah kewajiban seorang muslim dalam menghadapi fitnah.

Nama, kelahiran dan sifat-sifatnya

Namanya: Al-Hasan bin Abi al-Hasan bernama Yasar al-Bashri Abu Said, budak Zaid bin Tsabit. Ada yang menyebutkan, “Budak Jabir bin Abdullah. “Yang lain mengatakan, “Budak Jumail bin Quthbah bin Amir bin Hudaidah.”

Selain itu ada yang mengatakan, “Budak Abu al-Yasar sedang ibunya adalah budak Ummu Salamah, istri Rasulullah.

Dan, ada yang mengatakan bahwa Yasar adalah ayah Al-Hasan dan Yasar adalah seorang tawanan dari Misan.

Kelahirannya, Al-Hasan dilahirkan dua tahun sebelum Khalifah Umar bin al-Khathab yang meninggal sebagai syahid (karena pembunuhan).”

Sifat-sifatnya; Muhammad bin Sa’ad berkata, “Al-Hasan adalah orang yang suka melakukan shalat berjamaah, banyak ilmu pengetahuan, terhormat, ahli fikih, dapat dipercaya, pandai berdebat, ahli ibadah, berperawakan sempurna, fasih berbicara dan tampan mempesona.

Sanjugan para ulama

Dari Abu Burdah, dia berkata, “Aku belum pernah melihat seorang pun yang menyerupai para sahabat Rasulullah saw kecuali dia.”

Dari Humaid bin Hilal, dia berkata, “Abu Qatadah telah berkata kepada kami, “Patuhilah (bergurulah dengan) orangtua ini, karena aku belum pernah melihat seorang pun yang menyerupai pendapat Umar bin al-Khaththab kecuali dia.”

Dari Anas bin Malik, dia berkata, “Bertanyalah kepada Al-Hasan, karena dia orang yang kuat hafalannya, sedang kami terkadang lupa.”

Dari Ayyub, dia berkata, “Jika Al-Hasan telah mengucapkan suatu perkataan, sepertinya mutiaralah yang terucap. Akan tetapi perkataan yang keluar dari kaum sesudahnya, bagaikan muntahan orang sakit.”

Mu’adz bin Mu’adz berkata, “Aku berkata kepada Al-Asy’ats, “Anda telah bertemu dengan ‘Atha’ dan Anda sedang mempunyai persoalan, tidakkah Anda menanyakan masalah tersebut kepadanya?” Dia berkata, “Aku belum pernah bertemu dengan seseorang setelah Al-Hasan, kecuali kecil dalam pandanganku (dari segi ilmu pengetahuan).

Al-Asy’ats berkata, “Kemudian aku masuk masjid di Bashrah, aku tidak menanyakan kepada seorangpun tentang Al-Hasan terlebih dahulu kepada Asy’Sya’bi. Aku bertanya, “Wahai Abu Amr, sesungguhnya aku sangat berkeinginan pergi ke Bashrah. “Dia bertanya, “Apa yang ingin kamu lakukan di Bashrah?” Aku berkata, “Aku ingin bertemu dengan Al-Hasan, beritahukanlah kepadaku ciri-cirinya.

Dia berkata, “Ya, baiklah aku akan menyebutkan ciri-cirinya; jika kamu sudah berada di Bashrah, masuklah di masjid Bashrah, lalu pandangilah lingkungan di sekitarmu (dalam masjid); jika kamu menemukan seorang lelaki yang berada di masjid dan tidak ada orang lain sepertinya atau kamu tidak melihat yang menyerupainya, maka pastikan bahwa itulah Al-Hasan.”

Rasa takutnya kepada Allah dan kesedihan yang menimpanya

Ibrahim bin Isa al-Yasykari, “Aku belum pernah melihat seorang pun yang lebih lama sedih daripada Al-Hasan, aku melihatnya sebagai orang yang menjadi pembicaraan umum karena musibah yang menimpanya.”

As-Sari bin Yahya berkata, “Al-Hasan sering melakukan puasa Al-Bidh (pada tanggal 13, 14 dan 15 di setiap bulan Qamariyah), pada Asyhur al-Hurum (bulan-bulan yang dihormati; 4 bulan) dan di setiap hari Senin dan Kamis.”

Dari Syu’aib, salah seorang teman Ath-Thayalisi, dia berkata, “Aku melihat Al-hasan adalah seorang yang sering membaca Al-Qur’an dengan meneteskan air mata hingga membasahi janggutnya.”

Ilmu Pengetahuan

Qatadah berkata, “Al-Hasan termasuk orang yang paling tahu tentang halal dan haram.”

Dari Bakar bin Abdullah al-Muzani, dia berkata, “Barangsiapa yang senang dan ingin melihat orang yang paling tahu di antara kami, maka lihatlah kepada Al-Hasan.”

Dari Abu Hilal, dia berkata, “Aku saat itu sedang berada di kediaman Qatadah, kemudian berhembus berita meninggalnya Al-Hasan, lalu aku berkata, “Dia telah menyelami dan mendalami ilmu pengetahuan.” Qatadah berkata, “Bahkan pengetahuan itu tumbuh darinya, menjiwainya dan selalu menyertainya. Demi Allah, tidak akan ada yang memusuinya kecuali pendengki.

Dari Abu Said bin al-A’rabi, dia berkata, “Biasanya kebanyakan kaum lelaki yang senang beribadah di antara kami selalu mendatangi Al-Hasan dan mendengarkan ceramahnya, mereka begitu intens mengikuti petuah-petuahnya. Amr bin Ubaid dan Abdul Wahid zaid termasuk di antaa mereka yang selalu hadir.”

Al-Hasan mempunyai majelis pengajian yang khusus di rumahnya. Dalam pengajian ini, dia lebih banyak membahas tema-tema kezuhudan dan ibadah. Jika ada di antara para jamaah yang hadir menanyakan kepadanya tentang selain tema di atas, maka dia akan menutupnya dengan berkata, “Kita bersama-sama membuat kelompok ini bersama dengan saudara-saudara kita di sini hanya untuk saling mengingatkan.

Adapun pengajiannya di Masjid, banyak membicarakan tentang hadits, fikih, ilmu-ilmu Al-Qur’an, bahasa dan beberapa cabang ilmu lainnya.

Guru dan murid-muridnya

Guru-gurunya; Al-Hafizh berkata, “Dia pernah melihat dan belajar dari Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Sayyidah Asiyah, Ar’-Rabi’ bin Ziad di Khurasan pada masa Umayyah, Ubay bin Ka’ab, Sa’ad bin Ubadah, Tsauban, Ammar bin Yasir, Abu Hurairah, Utsman bin Abi al-Al’ash, Ma’qil bin Sanan dan masih banyak lagi meski dia tidak mendengar dari mereka secara langsung.

Murid-muridnya: Al-Hafizh berkata; “Di antara orang-orang yang meriwayatkan darinya antara lain; “Humaid Ath-Thawil, Yazid bin Abi Maryam, Ayyub, Qatadah, ‘Auf al-A’rabi, Bakar bin Abdullah al-Muzani, Jarir bin Hazim, Abu al-Asyhab, Ar-Rabi’ bin Subaih, Said al-Jariri, Sa’ad bin Ibrahim bin Abdirrahman bin ‘Auf, Sammak bin Harb, Syaiban An-Nahwi, Ibnu ‘Aun, Khalid al-Hadzdza, ‘Atha bin as-Sa’ib, Utsman bin al-Bati, Qurrah bin Khalid, Mubarak bin Fadhalah, Ma’bad bin Hilal dan yang lain.

Dan yang paling akhir adalah; Yazid bin ibrahim At-Tustari, Mu’awiyah bin Abdul Karim Ats-Tsaqafi yang terkenal dengan sebutan Adh-Dha’al.”

Beberapa mutiara perkataannya

Dari Imran bin Khalid, dia berkata, “Al-Hasan berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin akan bersedih pada waktu pagi dan sore hari, dan tidak ada yang lain selain itu, karena seorang mukmin itu berada di antara dua ketakutan (kekhawatiran); antara dosa yang telah lalu; dia tidak tahu apa yang akan dilakukan Allah terhadap dosa-dosa itu dengan umur yang masih tersisa dan dia juga tidak tahu apa yang akan menimpanya nanti.”

Dari Imran al-Qashir, dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Al-Hasan tentang sesuatu, aku berkata, “Sesungguhnya para ahli fikih berkata, “Begini-begini.” Dia berkata, “Apakah kamu memang benar-benar melihat seorang ahli fiqih dengan kedua matamu? Seseorang bisa disebut ahli fikih adalah dia yang zuhud di dunia mempunyai pandangan luas dan mendalam dalam agamanya (menyelami permasalahan) dan selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan meningkatkan ibadah kepada-Nya.

Meninggalnya

Dari Abdul Wahid bin maimun, budak ‘Urwah bin Az-Zubair, dia berkata, “Ada seorang lelaki berkata kepada Ibnu Sirin, “Aku bermimpi melihat burung mencengkeram Al-Hasan dan tongkatnya di Masjid.” Kemudian Ibnu Sirin berkata, “Jika mimpi yang kamu katakan itu benar, maka Al-Hasan akan meninggal dunia.” Dia berkata, “Tidak berapa lama kemudian, Al-Hasan meninggal dunia.”

Hisyam berkata, “Kami sedang berada di rumah Muhammad pada sore hari Kamis, kemudian setelah waktu Ashar, seorang lelaki datang. Dia berkata, “Al-Hasan meninggal dunia.” Lalu Muhammad mengucap-kan bela sungkawanya, wajahnya berubah dan tidak mau berbicara sedikitpun, dia tidak mau berbicara hingga terbit matahari esok hari, sehingga orang-orang yang melihat-nya tertegun dan kagum kepadanya atas dukanya yang sangat mendalam.

Adz-Dzahabi berkata, “Dia meninggal dunia pada awal bulan Rajab, yaitu tahun 110 H. Jenazahnya banyak dita’ziyahi masyarakat yang mau menyaksikan dan memberi penghormatan terakhir kepadanya; dengan melakukan shalat jenazah seusai shalat Jum’at di Bashrah. Kemudian diusung banyak orang dan berdesak-desakan hingga waktu shalat Ashar pun tidak bisa dilaksanakan di masjid jami’ (karena banyaknya orang).

Semoga Allah memberikan rahmat-Nya yang luas kepadanya, dan menyatukan kita dengannya di surga nanti.

Amiin Ya Mujiibas Saailiin.

Bilakah Shalahuddin al-Ayubi Datang Kembali

Shalahuddin al-Ayubi  pejuang yang disegani oleh kaum muslimin juga kaum lainnya, pembebas kota Yerusalem pada perang salib, kota yang sekarang hampir direbut oleh orang-orang Yahudi dengan cara-cara kekerasan, kelicikan dan cara-cara tercela lainnya.

Sekarang saatnya Muslimin, terutama muslimin Palestina mendambakan kembali munculnya sosok Shalahuddin al-Ayubi guna membebaskan kembali kota Yerusalem dari cengkeraman bangsa terlaknat Yahudi.

Berikut kisah seorang pejuang ternama Shalahuddin al-Ayubi yang bisa kiranya menjadi teladan bagi kita dan menumbuhkan rasa perjuangan guna membantu rakyat Palestina:

Salahudin Al-Ayubi atau tepatnya Shalahuddin Yusuf bin Ayyub, Salah Ad-Din Ibn Ayyub atau Saladin (menurut lafal orang Barat) adalah salah satu pahlawan besar dalam tharikh (sejarah) Islam.

Shalahuddin terlahir dari keluarga Kurdish di kota Tikrit (140km barat laut kota Baghdad) dekat sungai Tigris pada tahun 1137M. Masa kecilnya selama sepuluh tahun dihabiskan belajar di Damaskus di lingkungan anggota dinasti Zangid yang memerintah Syria, yaitu Nur Ad-Din atau Nuruddin Zangi.

Selain belajar Islam, Shalahuddin pun mendapat pelajaran kemiliteran dari pamannya Asaddin Shirkuh, seorang panglima perang Turki Seljuk. Kekhalifahan. Bersama dengan pamannya Shalahuddin menguasai Mesir, dan mendeposisikan sultan terakhir dari kekhalifahan Fatimid (turunan dari Fatimah Az-Zahra, putri Nabi Muhammad SAW).

Dinobatkannya Shalahuddin menjadi sultan Mesir membuat kejanggalan bagi anaknya Nuruddin, Shalih Ismail. Hingga setelah tahun 1174 Nuruddin meninggal dunia, Shalih Ismail bersengketa soal garis keturunan terhadap hak kekhalifahan di Mesir. Akhirnya Shalih Ismail dan Shalahuddin berperang dan Damaskus berhasil dikuasai Shalahuddin.

Shalih Ismail terpaksa menyingkir dan terus melawan kekuatan dinasti baru hingga terbunuh pada tahun 1181. Shalahuddin memimpin Syria sekaligus Mesir serta mengembalikan Islam di Mesir kembali kepada jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Dalam menumbuhkan wilayah kekuasaannya Shalahuddin selalu berhasil mengalahkan serbuan para Crusader dari Eropa, terkecuali satu hal yang tercatat adalah Shalahuddin sempat mundur dari peperangan Battle of Montgisard melawan Kingdom of Jerusalem (kerajaan singkat di Jerusalem selama Perang Salib). Namun mundurnya Shalahuddin tersebut mengakibatkan Raynald of Châtillon pimpinan perang dari The Holy Land Jerusalem memprovokasi muslim dengan mengganggu perdagangan dan jalur Laut Merah yang digunakan sebagai jalur jamaah haji ke Makkah dan

Madinah. Lebih buruk lagi Raynald mengancam menyerang dua kota suci tersebut, hingga akhirnya Shalahuddin menyerang kembali Kingdom of Jerusalem di tahun 1187 pada perang Battle of Hattin, sekaligus mengeksekusi hukuman mati kepada Raynald dan menangkap rajanya, Guy of Lusignan.

Akhirnya seluruh Jerusalem kembali ke tangan muslim dan Kingdom of Jerusalem pun runtuh. Selain Jerusalem kota-kota lainnya pun ditaklukkan kecuali Tyres/Tyrus. Jatuhnya Jerusalem ini menjadi pemicu Kristen Eropa menggerakkan Perang Salib Ketiga atau Third Crusade.

Perang Salib Ketiga ini menurunkan Richard I of England ke medan perang di Battle of Arsuf. Shalahuddin pun terpaksa mundur, dan untuk pertama kalinya Crusader merasa bisa menjungkalkan invincibilty Shalahuddin. Dalam kemiliteran Shalahuddin dikagumi ketika Richard cedera, Shalahuddin menawarkan pengobatan di saat perang di mana pada saat itu ilmu kedokteran kaum Muslim sudah maju dan dipercaya.

Pada tahun 1192 Shalahuddin dan Richard sepakat dalam perjanjian Ramla, di mana Jerusalem tetap dikuasai Muslim dan terbuka kepada para peziarah Kristen. Setahun berikutnya Shalahuddin meninggal dunia di Damaskus setelah Richard kembali ke Inggris. Bahkan ketika rakyat membuka peti hartanya ternyata hartanya tak cukup untuk biaya pemakamannya, hartanya banyak dibagikan kepada mereka yang membutuhkannya.

Selain dikagumi Muslim, Shalahuddin atau Saladin mendapat reputasi besar di kaum Kristen Eropa, kisah perang dan kepemimpinannya banyak ditulis dalam karya puisi dan sastra Eropa, salah satunya adalah The Talisman (1825) karya Walter Scott.

Kisah diambil dari: alaminkorea.com