“Sudah haji, kok masih…”

Pertanyaan besar, mengapa jumlah haji di suatu desa misalnya, tidak seiring dengan perubahan sosial desa tersebut? Baik dibidang pendidikan, pengentasan kemiskinan, dsb. Mengapa jumlah haji di Indonesia yang meningkat setiap tahun tidak berbanding lurus dengan terselesaikannya masalah kebangsaan: korupsi, kemiskinan, rendahnya pendidikan, jeleknya mutu kesehatan dan ancaman disintegrasi bangsa. Apakah fenomena ini berarti bahwa para haji tidak mencapai Mabrur?

Ritual haji merupakan jalan reflektif bagi manusia untuk mencapai kejatidiriannya. Manusia dengan kesadaran penuh sebagai manusia, bukan manusia yang sudah terasing dari kemanusiaannya sehingga bertingkah tidak selayaknya manusia: menghisap, menindas dan memeras sesamanya.

Mungkin karena diantara mereka  yang naik haji tidak mendasarkan niatnya secara tepat. Ada saja sementara orang yang naik haji, hanya karena mengikuti apa yang dilakukan oleh teman, tetangga, atau orang pada umumnya atau hanya sekedar seremoni belaka dengan segala kelebihannya.

Sehingga banyak yang sudah haji, kok masih korupsi? Sudah haji, kok, pakaiannya masih seronok? Sudah haji, kok, perilaku negatifnya tidak berubah? Bahkan banyak orang yang naik haji, tetapi sholatnya belum komplit, apalagi sempurna. Dan sederet pertanyaan membumbung setiap kali musim haji tiba.

Prosesi haji itu seakan tidak membekas begitu sampai di Tanah Air. Mengapa semua itu terjadi? Sudah banyak buku yang mengupas dan membahas tentang haji.

Setiap tahun, sedikitnya Indonesia mengirim 220.000 jamaah. Jamaah terbesar di dunia yang pergi ke Tanah Suci, Mekkah. Tapi, begitu sampai ke kampung halaman, pertanyaan “sudah haji, kok …” terus saja terulang.

Berawal dari pijakan yang salah sampai kesalahan lainnya ibadah haji jadi tidak berkah dan benar sebagai contoh operasional haji dari hasil bunga bank. Biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) yang dikelola oleh Departemen Agama se`bagian besar dikelola Bank-Bank konvensional, dana yang diterima oleh Depag jumlahnya mencapai triliunan rupiah, kalau setiap jamaah menyetorkan uang muka 20 juta rupiah sebagai pembayaran tahap awal, kalau kuota Haji Indonesia terdapat 210.000 jamaah maka akan terhimpun dana 4,1 triliun yang mengendap di Bank, padahal saat ini kuota untuk jamaah haji Indonesia hingga tahun 2010 sudah penuh, maka akan ada puluhan triliun dana haji yang telah mengendap di Bank tempat jamaah menyetorkan BPIH yang sebagian besar masih menggunakan Bank konvensional.

Lebih ironisnya lagi bunga Bank dari setoran biaya perjalanan haji diambil oleh Departemen Agama digunakan oleh panitia pelaksana ibadah haji (PPIH) sebagai operasional penyelenggaraan haji, mulai dari operasional petugas, hingga penyediaan fasilitas operasional haji yang jumlahnya mencapai puluhan miiyar, secara syariah tentunya uang yang diperoleh dari bunga Bank Konvensional tersebut adalah riba dan haram hukumnya.

Uang riba yang dikelola oleh Depag tentunya akan mempengaruhi keberkahan pelaksanaan ibadah haji tentunya dan berpengaruh terhadap kebersihan uang yang dikelola dari tabungan Bank jamaah. Padahal Bank Syariah yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mengelola dana setoran haji yang diperoleh jamaah haji sangat jelas dari segi hukum syariah. Di samping itu dengan menggunakan Bank Syariah dana setoran haji jamaah dapat terjaga dari segi pemanfaatannya dan membantu perekonomian umat, sementara Bank Konvensional belum tentu dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat Islam.

BPIH jamaah haji sudah seharusnya dikelola oleh Bank Syariah yang jelas-jelas bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umat Islam. Mengambil bunga BPIH dari bank konvensional merupakan riba yang sangat mengganggu keberkahan pelayanan haji. Karena bunga Bank secara hukum Islam adalah haram, dan mengelola ibadah dengan uang haram adalah masalah besar yang harus dituntaskan dalam mencapai haji yang mabrur dan berkualitas.

Iklan

RUU Nikah Siri, Intervensi Terhadap Agama

Beberapa waktu lalu bahkan sampai saat ini media layar kaca dan media nasional lainnya sangat marak dengan pemberitaan atau diskusi dan adu pendapat yang membahas tentang undang-undang Peradilan Agama bidang perkawinan yang di dalamnya mengatur nikah siri.

Bermacam-macam opini dan pendapat masayarakat umum dalam menanggapi munculnya RUU tersebut, baik pihak yang mendukung atau pun yang menolak.

Walaupun RUU tersebut belum di sosialisasikan namun sketsa isi UU tersebut sudah mulai diberitahukan kepada publik, dimana terdapat butir-butir RUU tersebut yang akan mempidanakan para pelaku nikah siri.

Sebelum kita mengupas lebih jauh, harus kita ketahui, bahwa nikah adalah akad untuk membangun rumah tangga, serta dengannya pula seorang menunjukkan pengabdian dalam beribadah kepada Allah , dengan menikah seorang berakad untuk menegakkan syari’at, berakad untuk meninggalkan maksiat, saling mencintai karena Allah , saling menghormati dan menghargai, saling menguatkan keimanan, serta saling membantu dan meringankan beban dan masih banyak lagi tujuan mulia lainnya.

Pada umumnya orang selalu mengkambing hitamkan (baca: menyamakan) nikah siri ini dengan nikah-nikah yang diharamkan di dalam Islam contohnya nikah mut’ah (kawin kontrak) bahkan sebagian masyarakat pada umumnya berpikir jika nikah siri hanya menjadi objek pelampiasan dan penghalalan nafsu belaka.

Sebagaimana nikah pada umumnya nikah siri adalah nikah yang sah dan sama derajatnya dengan nikah pada umumnya,  dimana syarat dan rukun nikahnya harus dipenuhi oleh para pelakunya. Jika salah satu syarat dan rukunnya tidak terpenuhi, maka tidak sah pernikahannya. Bahkan jika mereka memiliki keturunan (baca: anak) maka mereka pun mewarisi harta orangtuanya sebagaimana nikah pada umumnya menurut hukum Islam. Dan harus diketahui pula bahwa didalam Islam tidak dikenal dan tidak ada ‘nikah siri’ (pent). Hanya saja yang jadi masalah adalah pernikahan ini tidak tercatat di catatan pengadilan pemerintah sehingga tidak memiliki akta perkawinan, dimana sebenarnya akta tersebut bukan yang menentukan sah atau tidaknya pernikahan melainkan bukti terjadinya pernikahan. Akhirnya banyak orang menyebut dengan istilah nikah siri (diam-diam).

Karena negara Indonesia tidak berdasarkan hukum Islam, jika suatu saat ada permasalahan yang berhubungan dengan hukum, maka akan berujung di mahkamah hukum negara, dimana para pelaku nikah yang tidak tercatat di catatan pengadilan pemerintah tidak akan mendapat hak sebagaimana warga negara pada umumnya, baik hak waris bagi anak atau hak lainnya dalam keluarga. Padahal hak waris adalah aturan agama dimana Islam telah mengatur hak waris ini dengan jelas dan adil.

Inilah sebenarnya yang menjadi pemicu percikan api masalah yang yang semakin lama semakin besar bagaikan bola salju yang terus bergulir. Para pengusul RUU nikah siri berpendapat bahwa nikah siri hanya akan merugikan wanita dan anak-anak saja dimana mereka (anak dan istri) tidak mendapatkan hak pernikahan dan hanya akan menjadi korban.

Jika kita lihat dari sisi ini demikianlah adanya dan kamipun setuju jika penelantaran hak terhadap anak dan Istri adalah pelanggaran dan termasuk melanggar syari’at yang wajib dikenakan sanksi. Namun penilaian ini tidak adil, karena sesungguhnya pemerintah sendirilah yang telah mempersulit perizinan pernikahan tersebut dengan alasan yang berbelit-belit karena biasanya pelaku nikah siri adalah orang-orang yang berpoligami. Ketika seseorang akan berpoligami biasanya ada syarat perizinan tertentu yang sangat menyulitkan pelaku, sehingga akhirnya banyak orang yang mengambil jalan nikah siri ini sebagai salah satu cara termudah dalam mengambil keputusan. Selain itu hal ini pun sah menurut agama.

Nikah siri seharusnya tidak menjadi persoalan besar yang karenanya terjadi banyak korban, jika saja pemerintah mau mempermudah persyaratan pernikahan dengan memberikan akta perkawinan. Dengan memudahkan syarat pernikahan ini, justru akan menekan tindak kriminalitas dalam pernikahan, dan maraknya oknum yang memanfaatkan keadaan ini, seperti komersialisasi pernikahan yang cenderung hanya untuk penghalalan pemuasan nafsu sesaat, dimana banyak sekali ditemui dengan alasan ini (tidak ada akta nikah) akhirnya mereka melakukan nikah mut’ah (kawin kontrak) untuk bersenang-senang dengan alasan nikah siri. Dengan membayar penghulu bayaran dan saksi secara diam-diam. Mereka menikah hanya untuk mereguk kenikmatan sesaat. Karena tidak adanya akta nikah maka ia pun terlepas dari tanggung jawab. Jika demikian hal nya bukankah akan menyuburkan perzinahan?

Sedangkan di mata masyarakat umum, menganggap hal inilah yang disebut nikah siri padahal pada kenyataanya sangat jauh berbeda antara maksud, tujuan dan caranya, sehingga tak ada yang dirugikan.

Tindakan hukum pidana terhadap pelaku nikah siri sangat tidak relevan dan tidak adil, ketika perzinaan,
free sex, dan kumpul kebo justru mendapat kebebasan seluas-luasnya tanpa terkena sanksi hukum apapun dengan alas an bagian dari hak asasi manusia karena suka sama suka, tapi justru pelaku nikah yang sah malah dipidanakan.

Pengamat agama Islam dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Homaidi Hamid mengatakan, “Jika orang menikah siri dipidana seharusnya orang berzinah juga dihukum. Sungguh disayangkan jika orang yang menikah sah secara agama dikenai sanksi tetapi orang berzinah tidak dihukum,” Sehingga sangat tepat sekali apa yang dikatakan oleh Ketua PBNU Hasyim Muzadi, “Sanksi pidana itu justru gampang dihindari, misalnya orang nikah siri supaya enggak kena pidana, bilang aja kumpul kebo karena kumpul kebo, kan, enggak bakal diapa-apain,” katanya.

Sumber: dari berbagai sumber

Untuk Mengimbangi Syiar Hari Raya Kaum Kafir (Natal/Valentine), Bolehkah Membuat/meniru Hari Raya Baru Mereka (Maulid Nabi)?

Tanya
Melihat meriahnya hari raya orang kafir, lalu timbullah keinginan untuk mengimbangi syiar hari raya orang kafir tersebut dengan hari raya-hari raya baru yang dibuat-buat, contohnya maulid Nabi. Bagaimana hukumnya?

Jawab

Prinsip dasar ini telah disepakati oleh para imam madzhab dan tidak ada khilaf di antara mereka. Sebagaimana Imam Syafi’i  pun menyatakan bahwa hari raya umat Islam hanya ada dua yaitu Idul Adha dan Idul Fithri. Pada masalah ini tak ada perselisihan di antara para fuqoha imam madzhab sejak dahulu. Dan jika kita lihat kitab-kitab fikih para ulama tersebut itu dibahas tentang sunnah-sunnah pada dua hari raya tersebut. Dan tidak ada satu pun kitab fikih yang pernah saya baca yang membahas bahwa ada hari besar selain dua hari raya tersebut.

Jika maulid Nabi termasuk hari raya yang disyariatkan di dalam Islam tentu ada kitab-kitab fikih para ulama yang membahasnya. Tapi saya belum pernah membaca kitab fikih dari madzhab manapun baik madzhab Syafi’i, Maliki, Hanbali atau Hanafi yang mencantumkan dalam kitab-kitab fikih mereka pasal tentang merayakan atau dianjurkannya merayakan maulid Nabi . Bahkan yang ada adalah bab pembahasan ‘idain (dua hari raya) yakni Idul Fithri dan Idul Adha. Ini artinya perayaan maulid Nabi bukan dari Islam yaitu ajaran Rosululloh  . Tapi jika dikatakan ini adalah dalam rangka mahabbah (bentuk kecintaan) terhadap Nabi , maka kita sepakat, bahwa kita wajib mencintai beliau  di atas manusia seluruhnya dan tidak benar keimanan seseorang sebelum Rosululloh  lebih dicintainya dari seluruh manusia dimuka bumi ini.

Lalu jika ditanya siapakah orang yang paling mencintai Rosul ? Mereka adalah para sahabatnya, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Anas bin Malik, Ibnu Mas’ud dan seluruh sahabat lainnya. Mereka menyatakan kecintaannya dengan mengorbankan harta dan jiwanya, lihat surah al Hasyr ayat 8 Alloh  menyatakan, “اُلَئِكَ هُمُ الصَّدِقُون- mereka itulah orang-orang yang benar.” Lalu siapakah orang yang mencintai Rosul setelah mereka meninggal? Yaitu para tabi’in (generasi setelah sahabat/pengikut sahabat) mereka benar-benar mencintai Rosul walaupun beliau  telah tiada, tapi tak ada satu pun yang merayakan hari maulid Nabi . Berarti di sini bisa kita ambil kesimpulan bahwa, “Tujuan tidak bisa menghalalkan segala cara”. Tujuannya bagus untuk menumbuhkan mahabbah (kecintaan) kepada Rosululloh , tapi tujuan ini tidak lantas membolehkan segala cara termasuk meniru kaum Nashrani yang merayakan hari kelahiran Nabi Isa  melalui natal karena ini tidak akan menumbuhkan kecintaan. Tapi bacalah riwayat kehidupannya (siroh/sejarah) atau renungkanlah hadits-hadits yang beliau sampaikan dan amalkanlah semua sunnah-sunnahnya serta lihatlah bagaimana ta’zhim (pengagungan) serta mahabbah para sahabatnya kepada Beliau .

Baca Juga “Valentine Day” Tanda Hilangnya Jatidiri Kaum Muslimin

“Valentin Day” Tanda Hilangnya Jatidiri Kaum Muslimin

Sekilas saya hendak mengajak kita bersama menengok ke belakang pada tujuh abad yang silam tepatnya pada tahun 1258 M atau 656 H. Sejenak kita membuka kembali lembaran-lembaran sejarah umat Islam pada masa-masa kelam yaitu masa di mana mereka menjalani kesulitan dan tantangan yang amat berat bahkan mungkin tak pernah mengalami tahapan yang lebih berat dan keras tantangannya dari peristiwa ini.
Yaitu ketika tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulaku menundukkan Baghdad yang pada saat itu menjadi ibukota kekhilafahan Islam, menjarah penduduknya dan membunuh Khalifah terakhir dari Bani Abasiah yaitu al Mu’tasim Billah. Maka tahun-tahun setelah itu adalah tahun yang gelap bagi kaum muslimin. Kaum muslimin diperintah oleh bangsa kafir musyrikin dan bangsa penjajah itu menerapkan kepada mereka hukum kufur.
Bangsa Mongol atau Tartar mereka ini menjadikan al-Yasiq sebagai undang-undang dasar yang mengatur seluruh sisi kehidupan kaum muslimin. Al-Yasiq adalah suatu kitab undang-undang yang dibuat oleh Jenghis Khan, Raja Mongolia yang mana kitab ini adalah perpaduan kitab suci yahudi, Nashrani dan Islam serta pendapat dari Jenghis Khan sendiri. Itulah masa terkelam bagi umat Islam tanpa Khalifah dan tanpa hukum, tanpa pengayom dan pelindung. Namun satu hal yang paling mengagumkan adalah ketika mereka melewati masa-masa tersebut tidak ada satu orangpun kaum muslimin yang berubah jati dirinya dan berganti identitasnya dan tidak ada di antara mereka yang menerima hukum al-Yasiq tersebut meskipun diterapkan atas mereka secara paksa, tidak ada yang berbaur dengan bangsa Mongol, tidak ada yang berubah dari kaum muslimin baik dalam hal bahasa, cara berpakaian, cara bergaul, adat istiadat ataupun gaya hidup mereka. Dengan kata lain kaum muslimin sangat teguh memegang ciri-ciri khas mereka yang membedakan mereka dengan kaum kufar. Bahkan seiring dengan berjalannya masa, hukum al-Yasiq pun lenyap ditelan masa, tidak laku lagi karena ummat Islam tidak ada yang mau mempelajari hukum tersebut apalagi mengaguminya. Justru bangsa Mongol-lah sebagai bangsa penjajah yang pada akhirnya berbaur dengan kaum muslimin dalam kebudayaan Islam di mana dikemudian hari anak cucu mereka masuk ke dalam Islam dan meninggalkan budaya Mongolnya. Itu terjadi tujuh abad yang silam.
Namun kini alangkah bedanya keadaan kaum muslimin saat ini dengan mereka, betapa rapuhnya benteng akidah kaum muslimin sehingga begitu mudahnya mereka menyerap hampir semua tradisi dan gaya hidup Barat yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Sungguh benar sabda Rosululloh Nabi yang tidak bicara dengan hawa nafsunya tapi wahyu yang diwahyukan kepada beliau, sabdanya, “Kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kalian ikut memasukinya.” Para sahabat lantas bertanya, “Siapa ‘mereka’ yang baginda maksudkan itu, ya Rosululloh?” Beliau menjawab, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani”. (HR. Bukhari & Musllim)
Sekarang kita saksikan budaya-budaya Barat yang diserap oleh kaum muslimin di antaranya adalah terkait hari-hari besar dan hari-hari peringatan di mana hari ini selalu dirayakan dan diperingati setiap tahunnya.
Di antara hari yang dirayakan, diperingati serta dijadikan suatu hari yang sangat bersejarah atau berkesan bagi kaum muslimin saat ini adalah hari Valentine.
Sejarah Hari Valentine
Padahal jika kita lihat sejarah hari Valentine ini kita dapati pada kalender sejarah Yunani kuno periode antara bulan januari dan Februari adalah bulan caminion yang dipersembahkan kepada Dewa Zeus dan Hera. Di Roma kuno, 14 Februari adalah hari raya lupercalia, sebuah perayaan lupercus atau dewa kesuburan yang dilambangkan dengan seorang yang berpakaian kulit kambing. Sebagai ritual penyucian, sebagian pendeta lupercus mempersembahkan korban kambing kepada sang dewa dan setelah minum anggur mereka berlarian di sepanjang jalan kota Roma sambil membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapapun yang mereka jumpai terutama para perempuan muda. Mereka secara sukarela ingin disentuh karena dengan itu mereka akan dikaruniai kesuburan dan mudah melahirkan. Dan di Eropa hari Valentine adalah sebuah hari di mana mereka yang sedang memadu cinta kasih saling menyatakan cintanya.
Jika ditelusuri asal muasal hari ini adalah sebuah hari raya katolik Roma. Kemudian pada perkembangannya di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad keduapuluh, tradisi bertukaran kartu diperluas termasuk pula memberikan hadiah, biasanya dari kaum lelaki kepada kaum wanita.
Jika kita telusuri kembali, sejarah hari Valentine Day adalah perayaan lupercalia yang merupakan ritual penyucian pada masa romawi kuno yang dilakukan pada tanggal 13-18 Februari. Dua hari pertama yaitu pada tanggal 13 dan 14 Februari dipersembahkan untuk dewi cinta yaitu Juno Februata. Pada hari ini pemuda mengundi nama-nama gadis dalam kotak lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan setiap gadis yang namanya keluar rela menjadi pasangannya selama setahun sebagai objek senang-senang dan hiburan. Lalu pada tanggal 15 mereka meminta perlindungan Dewa Lupercus dari gangguan srigala.
Ketika agama Kristen Katolik masuk ke Roma, mereka mengadopsi acara ini dan mewarnainya dengan nuansa Nasrani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama paus atau pastur. Di antara pendukungnya adalah kaisar Konstantin dan Paus Gregory I dan agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen maka pada tahun 496 M Paus Glasius I menjadikan upacara Romawi kuno ini hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine Day untuk menghormati Saint Valentine yang kebetulan mati pada tanggal 14 Februari, demikian disebutkan dalam buku ensiklopedi dunia.
Menurut sejarah ini maka kita dapati bahwa hari Valentine asal-muasalnya dijadikan suatu peringatan oleh kaum paganis (para penyembah berhala) kaum musyrikin romawi itu, ini asal muasal sejarahnya.
Jadi tradisi ini adalah tradisi kaum musyrikin para penyembah patung, yang meyakini banyak dewa dewi dan hidup mereka jauh dari petunjuk wahyu maupun kitab suci, yang kemudian karena kelemahan, kebodohan dan kesesatan kaum Nashoro, tradisi kaum musyrikin ini diadopsi, diterima dan diserap dalam tradisi keagamaaan Kristen sehingga ditetapkan oleh Paus Glasius I sebagai hari perayaan gereja.
Kemudian dalam masyarakat Barat yang sekuler, karena prinsip kebebasannya itu akhirnya menjadikan hari Valentine ini menjadi hari kebebasan untuk mengungkapkan cinta kasih dan memilih pasangan, bersenang-senang serta larut dalam inhilal khuluqi (kebebasan) atau kerusakan moral.
Setelah kita tahu bahwa asal dan sejarah hari perayaan Valentine ini bukan dari kaum muslimin, justru dari kaum musyrikin dan Nashara maka jelaslah bagi kita bahwa hari tersebut merupakan hari besar yang memuat berbagai macam nuansa acara keagamaan. Setiap agama tentu memiliki hari-hari besar tersendiri yaitu hari-hari yang selalu dikenang setiap tahun untuk dirayakan. Ini sangat terkait erat dengan nilai-nilai ritual dan relijius pada agama tersebut.
Kita lihat, tidak ada orang-orang kristen merayakan Idul Fithri atau hari raya Idul Adha, karena bagi mereka ini adalah sesuatu yang tabu, aib dan suatu penyimpangan besar kalau sampai mereka ikut merayakan hari besar kaum muslimin. Maka kita tidak pernah mendengar orang–orang Kristen yang ikut mengucapkan selamat, ikut bergembira, merayakan atau memperingati dengan sepenuh hati dan jujur baik Idul Fithri atau Idul Adha. Tetapi yang sungguh memilukan dan menyedihkan kita, ada di antara sebagian kaum muslimin ikut memperingati hari-umat agama lain seperti hari Valentine Day.
Larangan mengikuti Valentine Day
Tentang larangan mengikuti hari-hari besar agama lain, baik Yahudi, Nashrani dan lainnya ini ditegaskan oleh Rosululoh dalam sebuah hadits : “Dan dijadikan kehinaan serta kerendahan atas orang-orang yang menyelisihi perintahku dan barangsiapa menyerupai (meniru-niru) tingkah laku suatu kaum maka dia tergolong dari mereka”. (HR. Ahmad, Ibnu Abi Syaibah dan ath Thohawi). Dalam hadits ini Rosululloh mengabarkan dua hal:
Pertama: bahwa kehinaan dan kerendahan akan ditimpakan oleh Alloh kepada siapa saja yang menyelisihi perintah Rosululloh . Yang dimaksud kehinaan ini adalah kehinaan secara mental atau secara maknawi dan juga secara fisik di dunia dan di akhirat. Peringatan Rosululloh tersebut senada dengan firman Alloh : “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (QS. an Nur: 63)
Kedua: dalam hadits tersebut dikatakan, “Barangsiapa menyerupai (meniru-niru) tingkah laku suatu kaum maka dia tergolong dari mereka.”Jadi siapa yang meniru-niru kaum yang shaleh seperti ulama, orang-orang yang shaleh maka ia termasuk golongan orang yang shaleh dan akan dihimpun bersama mereka di akhirat kelak. Begitupun sebaliknya, bagi siapa yang meniru-niru kaum yang fasik dan kafir seperti Yahudi, Nashrani atau sekuler maka demikian pula keadaannya. Na’udzubillahi min dzalika.
Rosululloh Nabi dan Rosul yang amat penyayang kepada umatnya, apa saja yang mendekatkan mereka ke surga maka telah beliau perintahkan, dan apa saja yang mendekatkan mereka ke neraka telah beliau larang. Dan di antara larangannya adalah tasyabbuh terhadap umat diluar Islam.
Lalu pada hadits yang lalu dikatakan bahwa umatnya akan mengikuti mereka sejengkal demi sejengkal dan seterusnya. Dalam hadits ini beliau telah mengabarkan dua faidah yaitu:
Pertama: kabar (berita) bahwa sebagian dari umatnya kelak akan mengikuti jejak-jejak kaum Yahudi dan Nashrani bahkan sangat antusias dalam mengikuti mereka. Sehingga beliau berkata: “Sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kalian akan ikut memasukinya.” Kini kita saksikan bahwa apa yang disabdakan beliau benar adanya dan ini menjadi suatu bukti kerosulan beliau sebab beliau tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.
Kedua: hadits ini mengandung tahdzir atau peringatan atau larangan dari Nabi agar kita tidak termasuk orang-orang yang mengikuti jejak orang-orang sebelum kita yaitu Yahudi dan Nashrani.
Suatu hal yang sudah dimaklumi bahwa meniru-niru perbuatan bangsa lain merupakan bukti adanya perasan minder atau rasa rendah diri terhadap bangsa yang ditiru dan bukti bahwa orang yang meniru-niru tersebut memandang kepada bangsa yang ditiru sebagai bangsa yang lebih utama dan lebih tinggi, oleh karena itu ia berusaha untuk meniru mereka, berusaha untuk menyamakan dirinya dengan bangsa yang dikaguminya, bangsa yang dipandang dengan pandangan -wah- tersebut, dan ini tidak layak bagi seorang muslim terhadap orang kafir. Cara memandang yang seperti ini tidak layak karena seorang muslim lebih tinggi kedudukannya daripada seluruh orang-orang kafir berdasarkan nash al Quran dan as Sunnah karena Alloh telah berfirman: “Sesungguhnya seburuk-buruk binatang (makhluk) di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman”. (QS. al Anfal: 55)
Dalam ayat diatas Alloh menyebut mereka (orang-orang kafir) adalah binatang bahkan dikatakan syarro dawaab (seburuk-buruk binatang) yang melata di atas bumi ini, adalah orang-orang kafir karena mereka tidak beriman.
Untuk mengenal lebih jelas hakikat hidup orang-orang kafir. Baca rubrik “Tafsir Ayat” di halaman 28.
Semoga Alloh melindungi kaum muslimin dari fitnah, baik yang nampak dan tersembunyi dan semoga Alloh menunjuki kita dengan bimbingan-Nya. Amin

Baca Juga>>> Untuk Mengimbangi Syiar Hari Raya Kaum Kafir (Natal/Valentine), Bolehkah Membuat/meniru Hari Raya Baru Mereka Semisal Maulid Nabi?

Paku Payung Hukum Indonesia

Prita Mulyasari, sepetinya nama ini sudah sangat akrab sekali di telinga warga indonesia saat ini. Padahal dia bukanlah seorang artis ternama, tokoh politik atau semacamnya yang memiliki penggemar (baca: fans) yang sangat simpatik padanya. Namun apa yang dideritanya telah membuat mata hati rakyat indonesia terbuka lagi lebih lebar. Hingga bukan hanya para aktivis LSM saja yang bahu-membahu membantu beban yang diderita olehnya. Bahkan sampai tukang becak dan anak-anak TK pun tak mau ketinggalan mengumpulkan keping-keping koin untuk membantunya.

Kasus Prita bagaikan sumbu penyulut api yang mulai membakar rasa pratiotisme rakyat yang sudah jemu dengan bentuk pengadilan hukum di indonesia ini. Pada saat yang tidak jauh berbeda beberapa kasus pun mulai disingkap media massa dengan tipe atau model penegakkan hukum yang hampir sama.

Mungkin anda pernah mendengar kasus Mbok Minah dengan tiga buah kakaonya atau kisah yang nyaris sama menimpa Klijo (76), warga Jering, Kecamatan Godean, Sleman, Yogyakarta dengan setandan pisang klutuknya atau Basar dan Kholik dua warga Bujel, Kediri yang kedapatan memetik sebuah semangka walau belum sempat menikmatinya atau mungkin Parto, warga desa Pranti, Situbondo, Jawa Timur gara-gara mencuri lima batang pohon jagung dia terancam lima tahun penjara. Sebenarnya mencuri memang tetap saja mencuri jika itu terbukti benar namun yang kita bicarakan disini bukan hal itu. Namun fenomena penegakkan hukum yang sangat timpang yang terjadi di negeri ini.

Kasus-kasus diatas yang menimpa warga miskin umumnya diproses secara cepat kemudian selalu dikaitkan dengan koruptor dan dengan kejahatan skala besar lainnya yang seakan kebal hukum daengan proses hukumnya yang kadang berbelit-belit. Alhasil ka-limat diskriminasi hukum pun meluncur sebagai kesimpulannya.

Mencuri memang tidak dibenarkan oleh hukum manapun, walaupun bagaimanapun alasannya, mencuri tetap mencuri dan harus dihukum. Tetapi dimanakah para pencuri uang rak-yat yang jumlahnya milyaran bahkan triliunan rupiah itu, mereka mungkin sampai saat ini masih bebas berkeliaran sambil menikmati hasil curiannya itu! Sebagai akibat dari kesewang-wenangan sebagian orang yang melahap harta negara itu timbullah kemiskinan yang diakibatkan keserakahan para koruptor. Yang notabene jika mereka tertangkap korupsi pun bisa menebus hukumannya dengan mudah dari hasil korupsinya. Dengan perkiraan berat hukuman yang sama dengan para pencuri miskin itu yang tak mampu menebus dirinya walau sepeser pun.

Kongres Advokat Indonesia menilai penegakan hukum sepanjang tahun 2009 masih cenderung tajam ke bawah, tumpul ke atas. Hukum cenderung tidak berpihak kepada yang lemah.

Hal ini dapat dilihat dari sejumlah kasus hukum yang mencuat di sepanjang tahun 2009 ini. Seperti fakta bahwa Anggodo belum ditahan hingga saat ini dan putusan terhadap jaksa Ester Tanak dan Jaksa Dara yang lunak dibandingkan dengan perkara nenek Minah dan putusan perdata perkara Prita Mulyasari dengan rumah sakit Omni International.

Meski demikian, ujar Wakil Presiden KAI Todung Mulya Lubis dalam rilis Selasa 29 Desember lalu, terdapat pula hikmah dari sejumlah peristiwa seperti kasus Prita Mulyasari yakni mengangkat derasnya partisipasi publik dalam masalah penegakan hukum. “Barangkali belum pernah ada partisipasi publik dan kesadaran publik akan suatu masalah penegakan hukum yang sedemikian luas dan antusias dalam sejarah,” ujarnya.

Selain itu, program pemberantasan mafia hukum sebagai program pertama dari program 100 hari SBY – Boediono pun masih belum terasa gigitannya sampai sekarang. Program itu cenderung mengkonfirmasi pendapat bahwa itu bagian dari lips service (penghias bibir) saat kampanye belaka tanpa adanya goodwill yang sungguh-sungguh di baliknya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkesan lepas tangan dalam masalah-masalah besar penegakan hukum dengan alasan tidak mau mengintervensi proses hukum. Terkesan bahwa dalam pemahaman presiden, arti penegakan hukum seakan-akan direduksi menjadi hanya sesempit criminal justice system (sistem peradilan criminal/pidana) belaka. Padahal ada banyak hal yang dapat dilakukan Presiden dalam memajukan penegakan hukum di luar criminal justice system.

Seperti dalam perkara pimpinan KPK. Aroma rekayasa dari no case (tidak ada kasus) menjadi some case (adanya kasus) amat kental terasa. Tim 8 verifikasi perkara ini menemukan tidak adanya bukti yang dimiliki kepoli-sian dan kejaksaan dalam perkara ini.

Tetapi hingga kini belum ada tindakan penegakan hukum yang tegas terhadap mereka yang terlibat dalam atau harus bertanggung jawab atas timbulnya perkara ini, selain sanksi administratif berupa pemberhentian seorang petinggi polisi dan pengunduran diri seorang petinggi kejaksaan. Demikian dikutip vivanews.

Itulah sedikit gambaran hukum dinegeri kita ini, adanya Mafia Kasus ataupun mafia hukum yang lainnya, yang bisa saja mengatur bagaimana proses hukum itu berlangsung dan itu tidak bisa di pungkiri sedang marak di negeri kita ini. Akan jadi apa negeri kita ini bila hal tersebut berlangsung terus? Kita tunggu saja bagaimana kelanjutan fenomena ini!

Mau Dapet Gratis SMS Tausiyah Tiap Hari?

Anda ingin menata hidup lebih baik….

Mendapatkan informasi penting….

dan memperluas wawasan keislaman Anda…?

Dapatkan SMS bimbingan secara gratis…!

Ketik        :        Bim#nama#kota domisili

Kirim ke :        0812 1000 9451 (tarif biasa)

Contoh    :       Bim#Andre#Jakarta

Kami akan segera mengirimkan pesan-pesan bimbingan berisi wawasan islami secara rutin dan gratis


Saudaraku…
Setiap manusia membutuhkan bimbingan…
Setiap kita harus berusaha menata hidup yang lebih baik…

Mendapatkan bimbingan yang mengarahkan hidup
ke jalan yang lurus, berilmu, dan menata diri menjadi pribadi
yang lebih islami, adalah suatu keniscayaan


* Setelah anda mendapatkan respon tausiyah bimbingan, forward pesan ini kepada rekan, sahabat, atau kerabat dekat Anda agar mereka dapat mengambil faidah dan Anda pun mendapat pahala….

HASMI
Harakah Sunniyah Untuk Masyarakat Islami
Jl. Raya Kapt. Yusuf, Purnama Tamansari Bogor
No. Telp: (0251) 8486089, 8389788. Fax: (0251) 8389788
www.hasmi.org

Rekaman Video Sebuah Aliran Sesat Bikin Resah Warga Mojokerto

Santri Nonton VCD Sesat/Tamam M
Mojokerto – Sejumlah Pondok Pesantren di Mojokerto meminta polisi melacak keberadaan pengajian Ilmu Kalam Santriloka. Ajaran pengajian komunitas itu dianggap sesat karena tidak mewajibkan puasa Ramadan dan salat 5 waktu.

“Berdasar kaset yang kita lihat tadi, jelas ajaran Islam sesat. Karena puasa Ramadan tidak wajib dan salat mereka cukup ingat Allah saja,” kata pengasuh Pesantren Nurul Huda, KH Fakih Utsman kepada detiksurabaya.com, Selasa (27/10/2009).

Bersama para santri, Fakih Utsman memutar 3 keping VCD yang berisi pengajian Ilmu Kalam Santriloka. “Ini sangat menyesatkan. Di awal kaset, ada iringan salawat burdah, padahal isinya penistaan Islam,” kata kiai yang biasa dipanggil Gus Fakih ini.

Dalam salah satu pidatonya, seorang lelaki menyatakan umat Islam tidak perlu berpuasa di bulan Ramadan. “Puasanya umat Islam itu, di bulan Jawa kesembilan. di Bulan Selo. Gusti Allah tidak pernah menyuruh puasa bulan Ramadan,” kata seorang pria di VCD itu dengan nada tinggi.

Lelaki itu juga menyatakan tidak ada gunanya umat Islam berdzikir ‘Laa Ilaaha Illa Allah’ setiap hari. “Meski sejuta orang wiridan, Gusti Allah itu tetap saja satu. Kalau bisa beranak, berarti Gusti Allah punya puting susu,” kata lelaki itu disambut tawa sejumlah orang di VCD itu.

Menurut Gus Fakih, di Mojokerto terdapat aliran Santriloka ini. Terutama berbasis di kawasan jalan Empu Nala dan kawasan Panggerman, Kota Mojokerto. Namun detiksurabaya.com belum menemukan sebuah tempat yang menjadi basis komunitas Santriloka di 2 lokasi itu.

Selain meminta polisi melacak dan melarang keberadaan pengajian ini, Gus Fakih juga meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat, menyikapi komunitas ini. “Kami khawatir atas reaksi umat, jika melihat VCD ini secara langsung,” kata Gus Fakih. (yudalesmana)