Nasib Tragis Masjid-Masjid Bersejarah di Palestina

Pada Ramadhan tahun 1994, di mana 30 orang jamaah subuh syahid ditembak secara membabi buta oleh seorang Yahudi ekstrim, bernama Baruch Goldstein.

Pembantaian itu bukanlah yang pertama dan terakhir yang menodai masjid tersebut. Seorang peneliti Palestina telah mencatat lebih dari 660 kali penodaan sejak tahun 1967 (sejarah masjid awal dijajah) hingga akhir 2000. Ditambah ratusan kali penodaan sering berulang sejak tahun 2000. Peneliti Palestina, Muhammad Deyab Abu Saleh, menjelaskan macam-macam pelecehan dan penodaan seperti pembunuhan, penghinaan, pemukulan, pengumpatan, menghina nama Tuhan dan Islam, mengganggu orang sholat, bahkan dilarang sholat, meletakkan bahan-bahan kimia di air minum, di pintu, di jendela dan sajadah.

Sebenarnya kekhawatiran terbesar Muslim Palestina adalah masjid Al-Ibrahimi yang mungkin akan dijadikan sinagog Yahudi. Ini terbukti dari berbagai macam pelecehan dan penyiksaan warga Yahudi terhadap jama’ah masjid dengan tujuan agar warga menghindar dari masjid tersebut dan tidak menggunakannya lagi.

Zionis juga sudah melarang kaum Muslimin mengumandangkan azan, bahkan melarang melakukan salat di dalam masjid.

Warga Muslim tidak tinggal diam melihat kondisi itu. Mereka sudah memperingatkan dan memprotes hal itu pada pemkot yang notabenenya orang-orang Yahudi. Mereka juga mengancam bila kelak masjid Al-Ibrahimi di kota Al-Khalil Selatan itu berubah menjadi sinagog Yahudi.

Pemerintah Israel sering menutup pintu-pintu gerbang masjid Ibrahimi dan melarang jamaah masuk ke sana dalam banyak kesempatan dan di hari raya Yahudi.

Pada tahun 2009 lalu ratusan pemukim yahudi dari gerakan Yahudi ekstrim menyerang wilayah Ishaqiyah masjid Ibrahimi dan menyelenggarakan ritual Talmoud.

Terakhir pada bulan Februari lalu, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu secara resmi mengumumkan keberadaan Masjid Ibrahim (al-Haram al-Ibrahimi) yang terletak di kota tua Hebron (Khalil) sebagai situs Yahudi. Ini bukti awal yang menguatkan ke khawatiran warga Muslim Palestina.

Pengumuman PM Israel atas status al-Haram Ibrahimi tersebut kian menguatkan kabar Yahudisasi dan rencana pengubahan tempat suci umat Islam dan agama-agama Samawi tersebut menjadi Sinagog.

Selain Masjid Ibrahim, Masjid Bilal bin Rabbah yang terletak di kota Betlehem (Bait Lahm) juga diumumkan sebagai situs Yahudi lainnya. Netanyahu menyatakan bahwa di bawah tanah masjid tersebut terdapat makam Rachel, ibunda Nabi Yusuf.

Surat kabar Israel, Haaretz pada februari lalu menyatakan bahwa pasca diresmikan dan diumumkannya status situs al-Haram al-Ibrahimi dan Masjid Bilal bin Rabbah itu, pemerintahan Israel akan segera bergerak untuk “mengambil alih” dan mengembangkan kedua situs tersebut.

Keputusan PM Netanyahu yang meyahudisasi situs-situs kepurbakalaan Palestina yang sebelumnya berstatus sebagai kepurbakalaan Islam, merupakan bentuk nyata penghinaan Israel kepada Palestina dan Islam.

Yahudi Zionis memang biadab. Jika mereka tidak membutuhkan dan mengklaim masjid-masjid tersebut sebagai warisan sejarah budaya mereka, maka mereka pun melakukan penodaan dan penghancuran seperti yang dilakukan, di sejumlah tempat suci di Safed selama dua tahun ini yang mengalami berbagai macam penodaan.

Diantaranya pencurian terhadap lukisan marmer yang bertuliskan identitas sebuah masjid bernama Zaitun. Disamping pengubahan tempat tersebut menjadi kandang sapi di tingkat pertama dan sebagai gudang tembaga bagi departemen pekerjaan Umum Israel.

Selain itu, makam Safed diubah menjadi tempat penggembalaan kuda. Partai Kadima Israel bahkan menjadikan Masjid Merah yang mempunyai nilai historis yang dibangun Sultan Mamalik al-Zahir Baybars sebagai pusat pemilihan umum saat digelarnya pemilu Knesset tahun lalu.

Masih pada masjid yang sama,  beberapa tahun lalu warga Israel menjadikannya sebagai tempat joget-joget serta pemutaran film cabul.

Tapi yang paling bernilai diantara semua masjid adalah al-Aqsho yang menjadi simbol Islam, bahkan yang pernah menjadi qiblat kaum muslimin ini pun sedang dalam proyek perubahan fungsi yang sama.

Wajar saja jika warga Palestina mengekspresikan kemarahannya terhadap warga Yahudi. Dimana hal ini sering sekali berakhir bentrok dengan polisi Zionis yang mengakibatkan korban yang terus berjatuhan.

Inilah nasib tragis masjid-masjid bersejarah di Palestina, dimana semakin hari semakin habis diakui dan dijadikan objek wisata sebagai warisan arkeologi Yahudi, jika tidak butuh, mereka pun menghancurkannya.

Apa yang akan tersisa jika semua tidak dicegah dan dijaga? Sepertinya yang tersisa hanya nama negeri bernama “Palestina” tanpa bukti sejarah peradaban Islam.

Sumber: berbagai sumber

Kesetaraan Jender Ternyata Ciptakan Eksploitasi Terhadap Perempuan

Jayapura: Pemerhati Masalah Perempuan, Asri Supatmiati di Jayapura, Rabu (1/7) menyatakan, gagasan kesetaraan jender yang saat ini banyak diusung kaum feminis ternyata hanya menciptakan jalan untuk mengeksploitasi para perempuan.

“Para feminis ini menghendaki agar kaum perempuan diberi hak-hak yang setara dengan laki-laki dengan menghilangkan diskriminasi,” ujarnya.

Selanjutnya dia menjelaskan, para feminis menganggap kewajiban para perempuan di dalam kehidupan rumah tangga sebagai beban yang menghambat kemandirian sehingga harus disingkirkan walaupun dengan cara mereduksi nilai-nilai budaya dan agama. Misalnya peran sebagai ibu untuk mengandung, menyusui, mendidik anak dan mengatur urusan rumah tangga.

Sementara itu, sistem kehidupan kapitalisme yang saat ini diterapkan hampir di seluruh bidang kehidupan masyarakat, menuntut para perempuan juga harus mampu menghasilkan materi sebagai perwujudan eksistensi dan aktualisasi diri mereka di ranah publik.

Akibatnya, perempuan yang berusaha menunjukkan jati dirinya di dunia kerja yang pekat dengan nilai-nilai kapitalisme dengan meninggalkan kehidupan domestik justru terjebak dalam sistem kehidupan ini sehingga memurukkan harkat dan martabatnya.

“Para perempuan ini, antara sadar dan tidak, menjadi ujung tombak dalam sistem ekonomi kapitalisme. Jadi model, sales promotion girl, public relation sampai profesi sebagai pelobi hampir selalu berada di pundak mereka untuk mendatangkan pundi-pundi rupiah,” tandas Asri.

Di sisi lain, perempuan terdidik yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, tidak luput dari lingkaran eksploitasi. Menurut Asri, tenaga dan pikiran mereka diperas habis-habisan untuk menggerakkan roda-roda perekonomian dengan lebih banyak menghabiskan waktu di gedung-gedung perkantoran daripada di rumah.

Bahkan, eksistensi perempuan di ranah publik kapitelisme justru semakin mendudukkan posisi mereka dalam kubangan libido laki-laki yang tidak punya benteng iman dan takwa.

Oleh karena itu, Asri menegaskan gagasan kesetaraan jender adalah racun bagi kaum perempuan sendiri.

Gagasan yang berasal dari dunia barat ini, bukan merupakan jalan terbaik untuk mengentaskan persoalan perempuan.

Sebaliknya, menyetarakan posisi perempuan dan laki-laki menimbulkan persoalan baru bagi perempuan dan bahkan masyarakat pada umumnya. Seperti tingginya angka perceraian yang melahirkan orang tua tunggal, rendahnya angka natalitas, maraknya pelecehan seksual terhadap perempuan dan lain sebagainya.

“Masyarakat jangan tertipu dengan ide kesetaraan jender, jika ingin menyelamatkan generasi dan bangsa dari kehancuran,” tegas Asri. (Althaf/antara/arrahmah.com)

Klub Poligami Berdiri LSM Feminis Meradang

Seperti sudah diduga, lembaga swadaya masyarakat (LSM) Institut Perempuan menolak adanya klub Poligami Indonesia yang diluncurkan di Hotel Grand Aquila Bandung Sabtu (17/10) malam.

“Kami menolak Klub Poligami Indonesia. Peluncuran Klub Poligami ini telah menyakiti hati perempuan dan merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan,” kata Direktur LSM Institut Perempuan, Elin Rozana, dikutip Antara di Bandung, Senin.

“Jelas, Klub Poligami ini telah melanggar Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Kekerasan terhadap Perempuan yang telah ditandatangani pemerintah. Salah satu bentuk kekerasan dalam konferensi tersebut ialah poligami,” ujar Elin.

Menurut dia, alasan lain penolakan terhadap Klub Poligami ialah berdasarkan pengaduan yang diterima Institut Perempuan selama ini, praktik poligami dinilai menimbulkan tekanan psikis, penganiayaan fisik, dan penelantaran, baik istri maupun anak.

Namun, ketika disinggung apakah perlu dilakukan pembubaran terhadap Klub Poligami tersebut, Elin menyatakan, pihaknya tidak berwenang melakukan pembubaran terhadap sebuah perkumpulan.

“Kami selalu mengkritisi permasalahan poligami, karena ini merupakan salah satu bentuk kekerasan, sedangkan untuk masalah pembubaran Klub Poligami itu bukan wewenang kami,” katanya.

Pada Sabtu malam (17/10), bertempat di Hotel Grand Aquila Bandung, sebanyak 150 orang undangan dari seluruh Indonesia memeriahkan launching Klub Poligami Indonesia.

Para tamu undangan yang datang di antaranya dari Papua, Jakarta, Tasikmalaya, dan Garut. Dalam peresmian tersebut, hadir juga Ketua Klub Poligami Malaysia Global Ikhwan Chodijah Binti Am.

Di samping peresmian Klub Poligami, dalam kegiatan yang bertema `Poligami Obat Mujarab untuk Mendapatkan Cinta Allah`, digelar juga konser musik, operet, dan penjelasan mengenai poligami.

Ketua Global Ikhwan Chodijah Binti Am mengatakan, Klub Poligami tersebut awal mulanya diresmikan di Malaysia. Untuk itu, Global Ikhwan akan mendirikan cabang Klub Poligami di Indonesia dan dimulai dari daerah Jawa dan Sumatera.

Menurut dia, Klub Poligami di Malaysia sekarang sudah berjalan dengan lancar, bahkan sekarang sudah memiliki 300 anggota yang tersebar di berbagai negara, seperti Indonesia, Australia, Singapura, Timur Tengah, Thailand, dan masih banyak lagi.

Ia menjelaskan, kenapa poligami menjadi obat mujarab untuk mendapatkan cinta Allah sebab dengan poligami seseorang akan senantiasa mengalami kesusahan dalam hidupnya.

“Ketika dia dalam kesusahan, maka dia akan meminta pertolongan kepada Allah. Kesusahan yang dialami seorang istri yang suaminya berpoligami sifatnya terus-menerus, maka dia pun akan terus meminta tolong kepada Allah,” ujarnya.

Sebelum ini, Bulan Agustus lalu sebuah Klub Pasangan Nikah didirikan di Malaysia. Namanya, Ikhwan Polygamy Club, didirikan oleh Hatijah Aam. Klub ini sepertinya serius menggeluti masalah poligami. Hal ini terlihat dari pengelola klub yang berbentuk badan usaha perusahaan, Global Ikhwan Sdn Bhd.

“Kami ingin mengubah persepsi masyarakat tentang poligami, agar dipandang sebagai sesuatu yang indah dan bukan sesuatu yang menjijikkan,” demikian kata Hatijah Aam, sebagaimana dikutip Canadian Press Senin (28/9).

Tak lama dibuka di Malaysia, klub juga dibuka di Bandung dan Indonesia. Meski banyak penganut feminisme meradang, klub yang di Negara asalnya memiliki 300 suami dan 700 istri sebagai anggota itu mengaku rumah tangga mereka sangat harmonis.

Mereka juga mengaku telah membantu para janda, pelacur yang sudah tobat, dan para wanita lajang yang sudah lewat usia menikahnya, untuk mendapatkan suami yang pantas.

“Apa salahnya dengan berbagi suami? Saya telah menjalaninya hampir 30 tahun.” Menurut Hatijah, poligami adalah pendekatan yang paling praktis dan efektif sebagai solusi atas keinginan pria terhadap wanita. (hdytlh/ant/arrahmah.com)

Halloween, Tradisi Jahiliyah

Menjelang tanggal 31 Oktober, perayaan Halloween hadir dengan simbol buah labu diukir yang diberi lampu. Orang-orang merayakannya dengan memakai kostum beraneka warna. Ada yang memakai baju bajak laut, baju nenek sihir, baju zombie, dll. Intinya semua berusaha tampil beda dengan kostum dari negeri antah berantah. Anak-anak pun pergi ke rumah-rumah tetangga untuk minta permen. Kalau gak diberi maka jendela atau rumahnya bakal diusili dengan dicoret-coret pakai sabun. Wah….benar-benar tindakan yang tidak sopan.

Memang sih, perayaan Halloween di Indonesia tidak seheboh hari Valentine. Tapi tetap saja, tradisi barat yang sangat tidak sesuai dengan Islam itu kini ternyata mulai diadopsi oleh banyak remaja muslim. Biasanya yang berusaha mengadopsinya ini adalah para mahasiswa/i jurusan bahasa asing, siswa-siswi yang kursus bahasa di lembaga yang banyak ‘bule’nya, atau bisa juga bukan mahasiswa bahasa dan juga bukan siswa kursus bahasa asing, tapi cuma ikut-ikutan aja.

Ini nih yang bahaya. Latah sekedar ikut-ikutan tanpa tahu makna dari perbuatan tersebut. Dulu ada teman yang ngotot mau menyelenggarakan perayaan Halloween di kampus. Alasannya biar semakin tahu dan meresapi budaya barat karena bahasanya pun bahasa barat alias Inggris. Wah….saya menentang habis-habisan tuh. Yang namanya belajar bahasa Inggris memang belajar budayanya juga. Tapi belajar budaya Inggris tidak sama dengan ikut-ikutan bin latah terhadap budayanya. Ini jelas-jelas dua hal yang berbeda.

ada teman yang ngotot mau menyelenggarakan perayaan Halloween di kampus. Alasannya biar semakin tahu dan meresapi budaya barat karena bahasanya pun bahasa barat

Sebagai umat Islam, seharusnya kita menyandarkan semuanya pada Islam. Ketika belajar bahasa Inggris, niatkan tujuan itu adalah untuk kejayaan Islam, bukan sebaliknya. Gak asyik banget kalo belajar bahasa Inggris, eh malah latah ikut perayaan semacam Halloween, Christmas/natal, atau bahkan Valentine. Ih…enggak banget gitu loh.

Supaya kamu tak mudah diperdaya oleh mereka yang tergila-gila dengan budaya barat yang jahiliyah, kamu perlu tahu sejarah perayaan Halloween ini. Halloween ini berasal dari kebudayaan paganisme yaitu suatu kepercayaan kuno penyembah berhala. Tradisi ini kemudian diturunkan pada agama Kristen yang sudah tidak murni lagi sebagaimana dibawa oleh Nabi Isa as.

Halloween adalah tradisi orang Kelt (Irlandia) zaman kuno. Tanggal 31 Oktober ini bertepatan dengan berakhirnya musim panen. Tanggal ini juga diyakini bahwa pembatas antara orang mati dan hidup menjadi terbuka. Orang mati dianggap membawa penyakit dan merusak hasil panen. Jadilah orang-orang itu memakai baju menyerupai arwah-arwah untuk berdamai agar tidak diganggu lagi.

Ternyata, budaya barat yang selama ini dipuja oleh orang yang berpikiran sempit itu penuh dengan klenik dan khurafat yang gak masuk akal ya? Nah, masa iya yang kayak gini kamu mau ikut-ikutan? Kebangetan betul kalo iya. Ingat, semua perbuatan sekecil apa pun itu ada pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Jadi hati-hati kamu terpedaya oleh budaya jahiliyah semacam Halloween ini. Udah, bangga aja deh jadi remaja muslim dengan segala aturan Islam di dalamnya. Dijamin selamat dunia akhirat, insya Allah ^_^ (v-i)

JIL bukan Pembaharu Pemikiran Islam

Jakarta, NU Online
Kepala Badan Litbang Depag, Prof Dr Atho Mudzhar, menegaskan bahwa liberalisasi pemikiran Islam berbeda dengan pembaharuan pemikiran Islam.

”Dalam pembaharuan, yang ada adalah reformulasi pemikiran Islam terhadap teks-teks suci (nash) yang ada. Sedangkan dalam liberalisasi terkandung makna keberanjakan atau departure dari teks suci (nash). Dengan kata lain, dalam liberalisme ada unsur meninggalkan nash, dan inilah yang ditentang Majelis Ulama Indonesia,” tegas Atho dalam makalahnya pada seminar internasional Tajdid Pemikiran Islam bertajuk ‘Ahlus sunnah wal jamaah di era liberalisasi pemikiran Islam’ di Jakarta, Kamis (10/9).

Dijelaskan Atho di antara pendapat-pendapat kaum pendukung Islam liberal adalah bahwa Alquran adalah teks dan harus dikaji dengan hermeneutika.

”Menurut mereka, kitab-kitab tafsir klasik itu tidak diperlukan lagi. Juga seperti mahar dalam perkawinan boleh dibayar oleh suami atau istri serta mereka berpendapat bahwa pernikahan untuk jangka waktu tertentu boleh hukumnya,” tegas Atho seperti dilansir republika.co.id.

”Jika pendapat-pendapat tersebut dicermati, maka akan nampak sejumlah kesimpangsiuran cara berpikir JIL dan kecenderungan melonggar-longgarkan aturan agama. Seperti hendak melihatnya seperti aturan buatan manusia,” tambah dia.

Diakui Atho bahwa sebagian kelompok masyarakat Islam menganggap bahwa pemikiran JIL dianggap dapat merusak akidah umat Islam. Karenanya, menurut Atho, mereka menentang keberadaan JIL.

Atho juga menilai bahwa Islam Liberal ini berkembang melalui media massa. ”Surat kabar utama yang menjadi corong pemikiran Islam Liberal adalah Jawa Pos yang terbit di Surabaya, Tempo di Jakarta dan Radio Kantor Berita 68 H, Utan Kayu Jakarta. Melalui media tersebut disebarkan gagasan-gagasan dan penafsiran liberal,” tandas Atho.

Lebih lanjut Atho berharap bahwa agar perdebatan pemikiran lebih sehat, sebaiknya JIL merumuskan kerangka berpikirnya secara metodologis.

”Sebaiknya mereka yang mengumandangkan pembaharuan atau liberalisasi atau apapun namanya, merumuskan secara cermat dan menyeluruh kerangka berpikir metodologis mereka. Sehingga tidak sekadar menimbulkan kontroversi yang sesungguhnhya sia-sia dan tidak berujung,” kata Atho.

Meyakinkan Orang Bodoh dalam 1 Menit

Assalaamu’alaikum,

Ini adalah debat yang terjadi antara aku dan seorang yang dungu tentang keyakinan kita, dan Alhamdulillah merupakan hal yang mudah untuk meyakinkannya.

Orang Bodoh: Kamu para salafi adalah para pelaku takfiri, bagaimana kalian bisa tega mengatakan seorang yang mengatakan “La ilaha illa Allah” sebagai seorang Kafir? Apakah kamu tidak takut kepada Allah? Hanya Allah yang tahu apa yang ada di dalam hati manusia. Kamu nggak bisa memanggil setiap orang dengan sebutan Kafir kecuali kamu tahu apa yang ada di hati mereka, dan ini adalah suatu hal yang tidak mungkin.

Aku: Okey, coba beritahu aku, jika seseorang berkata: “La ilaha illa Allah” sementara dia masih percaya bahwa yesus adalah anak Allah… akankah dia kita sebut sebagai seorang Muslim?

Orang Bodoh: Tidak, pastinya bukan lah..

Aku: Jadi kita menyadari bahwa seseorang yang mempunyai keyakinan Kufur adalah seorang Kafir, walaupun dia telah mengatakan Shahadah.. benar begitu?

Orang Bodoh: Ya, itu adalah benar.

Aku: Jadi.. Bagaimana tentang seseorang yang mengucap syahadah tetapi dia masih menghina Allah (swt) dan Islam.. apakah ini dianggap sebagai seorang Muslim?

Orang Bodoh: Tentu bukan.

Aku: Jadi kita menyadari bahwa seorang yang berkata Kufur dengan jelas adalah seorang Kafir, walaupun dia mengucap Syahadah, benar?

Orang Bodoh: Ya, itu adalah benar.

Aku: Dan bagaimana tentang seseorang yang telah mengucapkan Syahadah, tapi dia masih tak berdaya terhadap berhala, dan menginjak-injak Qur’an dengan sengaja.. apakah dia seorang Muslim?

Orang Bodoh: Tidak dia bukanlah Muslim.

Aku: Jadi kita menyadari bahwa seseorang yang melakukan tindakan Kekufuran adalah seorang Kafir, sekalipun dia mengucap Syahadah, benar?

Orang Bodoh: Ya, itu adalah benar.

Aku: Oleh karena itu kita menyadari bahwa tidak setiap orang yang mengucapkan “La ilaha illa Allah” adalah seorang Muslim.. jika dia melakukan Kekufuran, dia adalah seorang Kafir, dan pernyataan itu tidak akan membawa manfaat baginya.. Jadi mengapa kamu menyalahkan kami dengan memanggil mereka yang jatuh kepada kekufuran sebagai Kuffar?

Orang Bodoh: Lalu bagaimana kamu menjelaskan Hadith Usama bin Zaid (raa) ketika dia membunuh lelaki yang mengatakan “la ilaha illa Allah”?

Aku: Apakah lelaki itu menunjukkan Kekufuran setelah dia mengucapkan pernyataan itu?

Orang Bodoh: Nggak.

Aku: Jadi mengambilnya sebagai bukti menjadi invalid.. dan marilah aku mengingatkanmu tentang kisah Abu Bakr (raa) dengan kaum Murtaddeen.. mereka telah mengucapkan Shahadah, sholat, puasa.. tetapi tidak membayar Zakat.. SEMUA Sahabat tetap memanggil mereka sebagai kaum Murtaddeen.. karena mereka menunjukkan tindakan Kekufuran.

Orang Bodoh: Ya.. (Kemudian hal tersebut mengarahkan pembuktian bahwa para penguasa kita tengah melakukan Kekufuran secara jelas).

Sumber : Ar Rahmah (v-i)

Lagi-lagi Video Hebooh….. Gak Mau kalah adu cepat dengan video shalat tarawih Super Faster.

Gak mau kalah cepat, ternyata kami kembali mendapatkan shalat dengan speed super faster, apakah memang telah sedemikian rusak kah agama yang mereka yakini atau karena syahwat yang mereka turuti. Malas untuk belajar atau bertanya jadi ini terjadi kebodohan yang mereka miliki. Jika umatnya sudah seperti ini gimana jadinya ya?

Terus apa yang mereka dapat dari shalatnya?