Hijab Adalah Ketaatan, Kesucian, dan Kehormatan Diri

Hijab adalah bentuk ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan bentuk ketaatan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Allah mewajibkan ketaatan pada-Nya dan kepada Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan wanita mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (QS. Al-Ahzab: 59)

Dari Shafiyyah binti Syaibah berkata: ketika kami berada bersama Aisyah radluyallah ‘anha, Shafiyyah menyebut-nyebut tentang wanita Quraisy dan keutamaan mereka. Maka Aisyah berkata: “Sesungguhnya wanita Quraisy memiliki keutamaan, dan sesungguhnya, demi Allah, aku tidak melihat yang  melebihi wanita Ashar dalam membenarkan kitabullah dan beriman dengan wahyu, telah diturunkan surat an-Nuur ( وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنّ ) “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (QS. An-Nuur: 31).

Maka kaum lelaki pergi menemui mereka untuk membacakan apa yang telah Allah turunkan kepada mereka. Seseorang membacakan kepada istri, anak perempuan, saudari, dan kerabat dekatnya, sehingga tak seorang wanitapun kecuali berdiri dengan berkerudung selimut untuk menutupi kepala dan wajahnya, sebagai bentuk pembenaran dan mengimani perintah Allah dalam kitab-Nya. Di pagi harinya mereka berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan menutup kepala mereka seolah-olah ada burung gagak di atas kepala mereka.” (v-i)

Iklan

I’tikaf ala Remaja

Tak terasa, Ramadhan sudah menginjak 10 hari terakhir. Bukannya malas-malasan, harusnya di hari yang tersisa ini kita kudu makin meningkatkan amal ibadah. Puasa makin disiplin, sholat sunah diperbanyak, tilawah Qur’an dipersering, shodaqoh juga terasa ringan, dan satu lagi i’tikaf.

I’tikaf itu adalah berdiam diri di dalam masjid. Ngapain? Yang pasti bukan pindah tidur dan pindah makan aja. Tapi benar-benar beribadah dengan mengharapkan bisa mendapatkan Lailatul Qadr yang nilainya sama dengan seribu bulan. Banyak aktifitas positif yang bisa kamu lakukan di dalam masjid selama i’tikaf, salah satunya adalah tilawah Qur’an.
Aktifitas lain semisal mengkaji ilmu Islam juga bisa loh kamu lakoni di dalam masjid. Bentuk kelompok-kelompok kecil sekitar 5 teman untuk mengkaji ilmu Islam yang sangat kaya itu. Bisa hadits, fiqh, tafsir, tsaqofah/wawasan keislaman, membahas haramnya demokrasi, kebijakan Amerika yang selalu menyudutkan umat Islam, dll. Upayakan semua bebas mengungkapkan pendapat tapi dengan catatan, volume suara harus dijaga.

Semua itu sebagai selingan dari aktifitas utama yaitu ibadah mahdhoh seperti sholat dan baca Al-Qur’an. Ini semua sebagai pembelajaran dini bagi kamu bahwa fungsi masjid yang sebenarnya adalah pusat segala aktifitas, bukan sekedar sholat saja. Selain itu, dengan i’tikaf akan menumbuhkan semangat dalam diri kamu untuk semakin mencintai dan berusaha memakmurkan masjid.

Itu bagi cowok, gimana donk dengan yang cewek? Boleh nggak cewek i’tikaf di masjid? Tentu boleh donk, Islam kan menurunkan syariat bukan buat laki-laki saja. Jadi dalam hal beri’tikaf di masjid, perempuan juga punya hak dan kesempatan yang sama. Karena Islam begitu melindungi perempuan, maka harus ada ketentuan-ketentuan tertentu yang harus dipatuhi apabila perempuan keluar rumah untuk beri’tikaf.

Pertama, menutup aurat. Yang namanya perempuan, bila keluar rumah harus memakai jilbab dan kerudung dengan lengkap. Kedua, harus ada mahrom atau paling tidak bawa teman sesama perempuan. Dilarang keras membawa teman laki-laki alias khalwat atau berdua-duaan. Bukannya i’tikaf, kamu malah bermaksiat tuh. Selain untuk menghindari fitnah, ini juga demi keamanan kamu sendiri. Trus yang ketiga, harus izin orang rumah bila kamu ingin beri’tikaf. Jangan sampai orang tua kalang kabut mengira anaknya hilang hanya gara-gara kamu lupa pamit gak pulang semalaman. Kalau kamu bisa mengajak keluarga untuk beri’tikaf bareng, itu jauh lebih oke.

Orang tua taat beribadah itu sudah biasa. Anak muda apalagi remaja, taat beribadah itu luar biasa. Apalagi bila niat yang kamu tanamkan sedari awal adalah ingin mencapai ridho Allah tanpa ada niat pamer biar dilihat orang, misalnya. Jadi, remaja pun juga bisa beri’tikaf dengan ceria dan berlomba-lomba mendapatkan Lailatul Qadr di bulan Ramadhan. So, selamat beri’tikaf ya. ^_^

(Ria Fariana, voice of al islam)

Ramadhan Saatnya Untuk Berhenti Merokok

Zareen Shah (45 tahun), telah merokok untuk sebagian besar kehidupan dewasanya.

Namun ia bertekad untuk menjadi pemenang dari pertempuran yang melelahkan dalam melawan rokok selama bulan suci Ramadhan ini.

“Aku akan memulai misi ini pada bulan Ramadhan ini,” kata Zareen yang seorang pemilik toko jus kepada IOL.

Zareen sehari bisa menghisap rokok 25-30 batang, dan dia berencana untuk berhenti merokok selama bulan Ramadhan dengan bantuan putrinya Rozina yang masih berusia delapan tahun.

“Tentu saja, saya akan merokok selama waktu puasa. Tapi setiap kali ada keinginan untuk merokok, anakku akan memberi saya segelas air, yang akan membantu saya mencegah keinginan saya untuk merokok,” katanya.

“Saya tidak ingin merusak kesehatan saya lagi.” Zareen telah terinspirasi oleh salah satu teman-temannya yang berhasil berhenti merokok selama bulan Ramadan terakhir.

“Kisah suksesnya telah mendorong bukan hanya saya, tapi beberapa teman umum lainnya untuk berhenti merokok.”

Merokok tertanam kuat dalam budaya Pakistan, di mana konsumsi tembakau meningkat meskipun sudah ada upaya dari pemerintah dan LSM untuk mencegah hal tersebut.

Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan yang membidangi pengawasan tembakau, sekitar 40 persen pria dan 8 persen perempuan di Pakistan kecanduan merokok.

Mayoritas dari mereka adalah merupakan rantai dari para perokok.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari satu juta orang meninggal setiap tahun di Pakistan sebagai akibat dari penggunaan tembakau yang berlebihan dalam berbagai bentuk.

Spirit Ramadhan

Zareen mengakui bahwa ia telah mencoba beberapa kali sebelumnya untuk berhenti merokok, namun tidak berhasil.

“Tapi kali ini, Insya Allah, saya akan membuang kebiasaan ini dengan keberkahan bulan Ramadhan,” kata Zareen dengan optimis.

“Semangath saya lagi tinggi, dan saya akan menjadi orang yang berbeda setelah Ramadhan ini.”

Karim Hussein, teman Zareen yang telah berhasil berhenti merokok tahun lalu, juga percaya bahwa tidak ada waktu yang lebih baik Untuk menyelesaikan tugas sulit selain di bulan Ramadhan ini.

“Saya mendapatkan semangat ini ketika saya bisa menjauhi makanan dan berhubungan suami istri karena perintah Allah, maka saya akan bisa menghentikan kebiasaan merokok ini,” katanya kepada IOL.

“Semangat seperti ini, tidak akan anda temukan diwaktu lain sepanjang tahun kecuali pada bulan Ramadhan.”

Para ahli sepakat bahwa Ramadhan menawarkan kesempatan emas bagi perokok untuk berhenti.

“Umat Islam menghindari makan, minum dan berhubungan seks selama menjalankan ibadah puasa yang sejalan dengan perintah agama, dan dapat memperbarui semangat mereka,” catatan Dr Javed A Khan, yang merupakan ketua aliansi untuk pengendalian tembakau di Rumah sakit Universitas Medis Aga Khan.

“Dengan Semangat ini dan dengan keinginan yang kuat akan bisa membantu anda untuk berhenti merokok selamanya.”(fq/iol/EM/benhat)

Tips Melatih Anak Berpuasa

Bulan Ramadhan adalah bulan yang terlalu istimewa untuk dilewatkan begitu saja tanpa perencanaan dan persiapan yang memadai, biak oleh kita yang telah dewasa terlebih bagi anak kita terkait dengan pentingnya menanamkan kebiasaan baik sejak dini. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, maka orang tua dapat secara pro aktif merencanakan persiapan bagi putra putrinya menyambut dan mengisi Ramadhan.

PUASA ALA BALITA dan ANAK.

Balita ahli meniru. Mereka belum memahami  arti puasa. Tapi mereka memiliki kepekaan terhadap perbedaan suasana khusus bulan Ramadhan ini. karenanya sebagai orang tua kita diharapkan dapat :

1. Menanamkan image menarik/kesan positif tentang puasa ke dalam benak balita anda disesuaikan dengan cara-cara yang sesuai dengan pola pemahaman mereka. Ciptakan kreativitas dalam memasukkan kesan positif dan menyenangkan tentang puasa, dalam merancang beragam kegiatan dan pengalaman menyenangkan berkaitan dengan suasana ramadhan. sehingga menjadi kenangan yang sangat berkesan dalam memory anak, sehingga memberikan dorongan motivasi yg kuat untuk semakin menunggu kedatangannya di tahun2 berikutnya.

Beberapa faktor yg dapat menimbulkan kesan positif diantaranya :

• kreatif, unik, aneh dalam kegiatan/materi. Ramadhan 30 hari lamanya, terlalu panjang dan sia2 jika hanya dihabiskan untuk menonton TV.

• Menyenangkan.

• Melibatkan Emosi .

2. Sebaiknya tidak memaksanya sahur di waktu yg biasa. Jika kebetulan terbangun ajaklah ikut sahur bersama, segelas susu hangat cukup membuatnya diikutsertakan dalam sahur

3. Namun jika tak bisa /tdk mau bangun di waktu sahur, jangan memaksanya. Lakukan latihan secara bertahap, disesuaikan dengan kemampuan anak. Mulailah  dg sahur di pagi hari sebelum berangkat sekolah lalu mulai berpuasa menahan lapar dan haus hanya selama di sekolah.
Tahapan latihan berpuasa :
•  semampu anak
•  6 jam   :  Subuh – jam 10.00
•  8 jam   : Subuh – zuhur
•  10 jam : Subuh – jam 14.00
•  Penuh  : Subuh – maghrib

4. Hargai semangatnya untuk berlatih berpuasa, seperti apapun bentuk puasanya.

5. Berikan penghargaan atas usahanya bisa berupa pujian/perhatian/kasih sayang ataupun berupa benda yang yang mereka sukai atau butuhkan. Penghargaan hendaknya juga meningkat kualitasnya sebanding dengan prestasinya/ meningkatnya kemampuan anak untuk berpuasa. Pada usia balita mereka baru bisa memandang segala sesuatu dg cara kongkrit, maka akan lebih baik jika anda memberi penghargaan ‘puasa ini dengan kongkrit pula.
misalnya :

•  membuatkan hidangan favoritnya  yang istimewa di saat berbuka.
•  memberi ‘bintang’ prestasi sebagai penghargaan atas prestasinya puasa atau mengaji iqro setiap hari. Bintang prestasi tsb nantinya dapat ditempel di dinding. jika mencapai jumlah tertentu anda bisa janjikan membelikannya sepatu/tas baru atau barang-barang yang dibituhkan atau diinginkannya.

Poin-poin penilaian untuk mendapatkan bintang Prestasi dimusyawarahkan bersama anak, kemudian ditulis di lembar penilaian yg dapat digantung di dinding.

Contoh poin2 penilaian :
Makan sahur
Puasa 6 jam Subuh – jam 10.00
Puasa 8 jam Subuh – zuhur
Puasa 10 jam Subuh – jam 14.00
Puasa Penuh : Subuh – maghrib
Shalat zuhur
Shalat asar
Shalat maghrib
Shalat isya
Mengaji Al Qur’an
Shalat tarawih
Infaq
Pelajari hadits
Menahan marah

Konsep dasar pemberian penghargaan :

a.  Usaha sebagai standar nilai, bukan hasil. Penghargaan diberikan sesuai berat ringannya usaha yang telah dilakukan.

b.  Penghargaan diberikan secara bertahap.

c.  Hadiah / imbalan tidak harus berupa materi ; bisa dg cara meminjamkan buku cerita kesukaannya, membacakan cerita, , membuatkan mainan, jalan2 bersama, bermain, memberikan kebersamaan, perhatian dan kasih sayang yang lebih banyak.

d.  Jika hendak memberi hadiah uang, sebaiknya ajari pula cara mengelolanya. jika tidak, bukan tak mungkin membuat anak kecanduan. pastikan mereka sudah mampu membelanjakannya dengan bijaksana.

e.  Jangan mengingkari janji,  maka buatlah janji yg realistis. Hadiah sederhana diberikan dalam waktu dekat. Hadiah istimewa/mahal dijanjikan untuk jangka panjang.

6.  Jangan terburu-buru memvonis anak gagal dalam puasanya. pelajari dan koreksi dimana letak hambatan yang dialami anak. Apakah karena orangtua terlalu memaksakan kehendak, ataukah minimnya dukungan sekolah dan lingkungan, atau faktor lainnya

Kemampuan anak untuk mulai berlatih puasa berbeda-beda. tergantung pada seberapa besar faktor positif dan negatif di lingkungan memberikan pengaruh. Faktor lingkungan meliputi : keluarga, sekolah dan teman sepermainan. Lapar atau tidaknya seorang anak tergantung dari bagaimana motivasi yang timbul dari dalam dirinya, dan bagaimana lingkungan memunculkan motivasi ini. Situasi rumah, sekolah dan lingkungan yang mendukung memberi pengaruh terbesar kepada  motivasi anak untuk berpuasa. Kita dapat memilihkan lingkungan terbaik  bagi mereka,  lingkungan yang mendukung baik di rumah maupun di sekolah.

DI RUMAH

•  Tak ada makanan dan minuman yang  terhidang di meja makan.
•  Carikan bergam alternatif kegiatan yang positif, menyenangkan dan membuat   mereka lupa pada rasa haus dan laparnya.
•  anggota keluarga secara bergantian menemani mereka dalam melakukan kegiatan2 tsb.
•  Berikan penghargaan sesuai usahanya.

DI SEKOLAH

•  Sekolah merancang kegiatan khusus bagi anak selama bulan Ramadhan.
•  Guru memberi motivasi
•  Disediakan hadiah bagi yang berprestasi melaksanakan amalan dalam bulan   Ramadhan.
•  Pesantren Ramadhan.
•  Kantin ditutup

PENGARUH TEMAN

Pengaruh teman bisa saja mengalahkan pengaruh orang tua.
Karena itu berpuasa hendaknya jangan dipaksa, karena bisa jadi paksaan hanya akan mendorong anak belajar berbohong. Mengikuti orang tuanya di rumah, tetapi mengikuti perilaku teman-temannya di luar rumah.

Satu cara terbaik bagi orang tua untuk memberikan dukungan penuh bagi putra-putrinya agar mau berlatih puasa yaitu dengan menciptakan suasana mendukung di rumah, memilihkan sekolah terbaik dan mencarikan tetangga serta teman-teman yang baik pula bagi pergaulan anak. (Prima Yuniarti/voa-islam.com)

“Muhammad” Nama Bayi Paling Top di Belanda

Mohammed atau variasi dari nama Nabi Muhammad telah menjadi pilihan yang paling populer untuk nama bayi laki-laki di empat kota besar Belanda.

Badan keamanan sosial negeri tersebut menemukan bahwa nama-nama tradisional Belanda telah berganti di Amsterdam, Rotterdam, Den Hag dan Utrech sebagai wilayah tempat tumbuh dan berkembangnya umat Islam.

Di Den Hag, variasi dari nama nabi Muhammad telah menjadi urutan pertama, kedua dan kelima pada nama-nama yang terpopuler pada anak laki-laki, menggantikan nama-nama tradisional favorit seperti Jan, Luuk, Gijs atau Daan. Pada tingkat nasional, nama Muhammad saat ini menduduki urutan ke 16 untuk nama anak laki-laki terpopuler.

Angka-angka yang diperoleh oleh Bank Asuransi Sosial Belanda, berbeda dari statistik resmi, yang pada masa lalu dihitung dari berbagai ejaan seperti Mohammed, Muhamed atau Muhammad – sebagai nama-nama yang berbeda.

Hitungan pemerintah sebelumnya, memisahkan perbedaan variasi nama, menghindari kontroversi nama Nabi Muhammad masuk dalam 20 besar nama yang paling banyak dipakai untuk anak laki-laki.

Geert Wilders pimpinan sayap kanan partai kebebasan yang anti Islam, meminta pemerintah menginvestigasi setelah adanya laporan akhir pekan lalu yang menyebut lebih dari seperlima Uni Eropa diramalkan umat Islam akan menjadi mayoritas pada tahun 2050.

Statistik resmi menunjukkan masyarakat Eropa sedang mengalami peningkatan imigrasi dan tren pertumbuhan yang tinggi dari umat Islam. Pada tahun 2008 hanya 5 persen dari total penduduk Uni Eropa adalah Muslim. Namun rendahnya tingkat kelahiran penduduk Eropa mengakibatkan meningkatnya pertumbuhan umat Islam yang merupakan penduduk imigrasi dari negara-negara Muslim.

Penelitian baru-baru ini telah menunjukkan bahwa ketakutan atas radikalisasi anak muda Islam semakin besar.

Muhammad juga merupakan nama paling populer di dunia. Hal ini dengan cepat menjadi nama yang populer di AS dan Inggris. Dilaporkan nama Muhammad menjadi nama anak bayi laki-laki kedua terpopuler di Inggris. Secara keseluruhan nama Muhammad adalah nama keluarga yang paling umum di antara nama yang sering dipakai di keluarga Muslim di seluruh dunia.(fq/theage)

Trik Berpuasa Bagi Ibu Hamil dan Menyusui

Jakarta – Para ibu hamil dan ibu menyusui kerapkali was-was saat memasuki bulan Ramdhan. Mereka khawatir puasa yang dilakukan di bulan suci ini dapat memengaruhi perkembangan dan kesehatan janin atau bayi. Sebuah penelitian di Inggris membuktikan bahwa berpuasa tidak memengaruhi kondisi janin ibu hamil.

Ahli kebidanan dan kandungan Klinik Yasmin dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM)Jakarta dr Marly Susanti SpOG, tidak ada perbedaan antara perempuan hamil atau menyusui dan yang tidak. “Ibu hamil atau yang sedang menyusi boleh puasa,” ujar dia di Jakarta, kemarin.

Menurut Marly, pada ibu hamil, glukosa, insulin, laktat dan carnitin turun, sedangkan trigliseride dan hydroxybutyrate meningkat. Dengan demikian ibu hamil yang mengerjakan puasa Ramadhan, dia dan janinnya tidak akan kekurangan gizi.

”Tapi itu asalkan dia mengonsumsi makanan yang seimbang selama buka puasa, sahur, dan selama waktu di antara buka dan sahur. Puasa juga tidak mempengaruhi berat badan bayi yang akan lahir,” papar dia.

Puasa pada hakekatnya hanya memindahkan makan pagi, siang dan malam menjadi buka, sahur dan waktu di antaranya. Tubuh manusia dapat mendeposit makanan dan dapat menggunakannya saat diperlukan.

Namun demikian, menurut Marly, bila ibu hamil atau menyusui merasa lemah, pusing, mual atau masalah kesehatan yang ada hubungannya dengan puasa seperti hipertensi, sebaiknya segera membatalkan puasa dan langsung makan dan minum.

“Indikator kekurangan kalori itu rasa lemas, keluar keringat dingin, keringat dari ujung jari. Untuk mengatasinya, segera minum teh manis,” ungkap Marly. Demikian pula apabila hamil pada trimester pertama yang disertai mual-mual, muntah, dan muntah yang hebat (hyperemisis gravidarum), atau perdarahan, sebaiknya tidak berpuasa.

Hasil penelitian epidemiologi Cross & Friends terhadap 13.350 bayi Islam yang dilahirkan di Inggris, melahirkan kesimpulan bahwa puasa tidak berdampak pada penurunan berat badan bayi yang baru lahir.

Sebuah penelitian lain juga membuktikan bahwa tidak ada perubahan kadar kolesterol darah maupun kadar gula darah pada orang yang berpuasa, meski terjadi penurunan berat badan sampai 4%.Pada pengukuran kadar kolesterol darah pada pagi, siang, dan sore hari tidak menunjukkan pola perubahan tertentu, bahkan masih termasuk dalam batas-batas normal.

Saat sahur dan berbuka, dr Marly Susanti menganjurkan pada ibu hamil dan menyusui untuk memenuhi kecukupan kadar kalori yang dibutuhkan, yang berasal dari makanan manis-manis sehingga gizinya lebih cepat diserap tubuh.

Bagi ibu hamil yang tetap menjalankan ibadah puasa, harus memperhatikan faktor bawaan yang kerap dijumpai pada setiap perempuan yang tengah mengandung. Fokus pada indeks makanan yang dikonsumsi selama melakukan puasa, juga perlu mendapat perhatin bagi para ibu hamil.

Khusus untuk perempuan yang sedang hamil asupannya harus lebih sepertiga kali dari asupan makanan orang biasa. Selama menjalankan puasa, dr Marly menyarankan para ibu hamil untuk tetap melakukan kontrol secara rutin kepada dokter kehamilan, dimana hal terpenting yang harus terus terpantau adalah berat badan dari si ibu.

Idealnya, berat badan ibu hamil harus bertambah seiring dengan pertumbuhan berat badan bayi yang dikandungnya. Rata-rata berat bayi yang lahir dari ibu hamil dengan usia kehamilan 4-7 bulan yang menjalankan puasa adalah 3,3 kg. Angka tersebut tidak berbeda dengan ibu hamil yang tidak melakukan puasa.

Hal serupa juga berlaku bagi para ibu menyusui. Demi menjaga kelancaran air susu ibu (ASI) yang nantinya akan diberikan pada bayi, disarankan para ibu dapat meningkatkan kualitas makanan yang akan dikonsumsi. Kalori yang cukup, karbohidrat, protein, lemak serta vitamin yang memadai merupakan faktor penting untuk menghasilkan kualitas ASI yang bagus.(pdpersi-voa)

MEWASPADAI GENERASI SETAN

Di malam akhir tahun dan sekaligus malam untuk menyambut tahun baru, biasanya hingar bingar musik dan hiruk pikuk hiburan berpadu dengan gegap gempitanya maksiat. Apakah statement ini terlalu berlebihan atau bahkan salah?

Dalam Islam, sesungguhnya tidak dikenal adanya perayaan akhir tahun dan malam tahun baru, walaupun berdasarkan kalender hijiriyah, apalagi patokan standarnya adalah tahun Masehi yang berarti tahun kelahiran Tuhan. Ini adalah budaya non Islam yang bahkan berasal dari budaya paganisme atau penyembah berhala untuk merayakan hari Tuhan mereka. Namun sayang seribu sayang, hal ini ternyata banyak yang tidak disadari sepenuhnya oleh ma-yoritas kaum muslimin.

Saat perayaan tersebut, akhir-akhir ini dengan sangat jelas dan kentara bahkan sudah diekspos luas dengan tanpa malu, adalah munculnya beragam simbol setan dan iblis. Selain berbagai bentuk kemaksiatan dan perilaku kesetanan yang marak, simbol setan yang terlihat adalah laku kerasnya aksesoris setan, seperti pakai-an ala setan atau vampire, topi tanduk setan dan lain sebagainya.

Pertanda apakah ini?

Itu adalah gambaran sebuah shira’ (pertarungan), atau clash (benturan) dalam istilah orang-orang Barat, antara yang haqq (benar) dengan yang batil, antara Islam dengan budaya jahiliyah dan kufur, antara tentara Allah swt dan tentara setan, antara dua generasi yang berbeda kutub dan ideologi!

Dalam paparan dan penjelasan al-Qur’an dan as-Sunnah, ada dua profil generasi yang saling berlawanan satu sama lain, yaitu generasi Rabbani (Qur’ani) dengan generasi setan.

Generasi Qur’ani merupakan generasi shalih yang secara ikhlas menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai landasan hidup dan ‘pewarna’ bagi kehidupannya. Gerak dan bersitan hati, tingkah laku, dan bahkan seluruh sikap hidup mereka senantiasa mengikuti ajaran agama Allah swt yang haqq.

Sebaliknya, generasi setan merupakan profil generasi sesat lagi menyesatkan yang kehidupannya selalu diwarnai dengan pelanggaran, penyimpangan, dan kemaksiatan terhadap Allah swt, Rabb yang telah menciptakan mereka. Setan menjadi ‘panglima kehidupan’ yang selalu membenamkan diri mereka ke dalam samudera dosa dan kemaksiatan. Akhirnya, hidup mereka dipersembahkan untuk selalu mengabdi kepada setan dan untuk senantiasa bermaksiat kepada Allah swt. Na’uudzu billah.

Di antara generasi setan tersebut banyak yang sadar bahwa mereka adalah budak-budak setan, namun banyak pula yang tidak sadar –mudah-mudahan ini yang terbanyak– ter-utama kaum muslimin yang berpe-rilaku sebagai potret generasi setan.

Tidak ada satu orang tua pun di mana saja mereka berada yang menghendaki anaknya menjadi generasi setan. Semua orang tua bahkan mencita-citakan agar anaknya menjadi generasi shalih yang memiliki budi pekerti yang mulia dan menyejukkan mata. Namun, membentuk generasi Rabbani bukanlah hal yang mudah. Kesungguhan tekad para orang tua dan pendidik, serta keikhlasan dan kesabaran mendidik anak dengan agama, menjadi tiang penyangga yang kokoh bagi terwujudnya generasi Rabbani tersebut. Ditambah doa kepasrahan kepada Allah swt agar Dia senantiasa memayungi kehidupan anak-anak kita dengan hidayah-Nya. Bila demikian keadaannya, niscaya generasi Rabbani akan betul-betul nyata di depan mata, yang akan menghembuskan bau surga yang semerbak di dalam keluarga dan menjadikan dunia merekah indah laksana indahnya surga.

Namun, ingatlah wahai para orang tua dan para pendidik generasi!

Setan tidak akan pernah rela dunia ini dikuasai oleh generasi Rabbani!

Setan tidak pernah menginginkan generasi Rabbani berkembang dan terus bertambah!

Ia akan terus menggoda dengan berbagai upaya agar anak-anak kita menjadi barisan generasi sesat yang dipimpinnya. Menjauhkan anak-anak kita dari agama merupakan trik-trik setan untuk memadamkan cahaya keimanan dari dalam diri anak-anak kita. Dan, langkah setan ini sungguh memperlihatkan hasil yang luar biasa. Bukti nyata terkini adalah bila kita mencermati keadaan dunia akhir-akhir ini, atau dengan merenungi kejadian di akhir tahun dan awal tahun. Hanya kepada Allahlah kita memohon pertolongan dan perlindungan!

Karakteristik Generasi Setan

Berkaitan dengan generasi setan, Allah swt berfirman:

“Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kerugian.” [QS. Maryam: 59]

Di dalam ayat ini, Allah swt memberikan gambaran karakteristik generasi setan yang kini semakin merajalela.

Pertama, adhaa’u ash-shalaah (menyia-nyiakan shalat).

Para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan adhaa’u ash-shalaah adalah tarkuhu bi al-kulliyyah (meninggalkan shalat secara keseluruhan, tidak shalat sama sekali), atau juga adhaa’u al-mawaaqiit (lalai dalam hal waktu, menjalankan shalat namun tidak tepat waktu).

Generasi setan sangat melalaikan shalat. Padahal, shalat adalah ibadah sangat penting yang jika telah hilang dari dalam diri seseorang, maka hilang pula keislamannya.

Rasulullah saw bersabda:

(( لَتُنْقَضَنَّ عُرَى الإِِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً، فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا، وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ ))

“Sungguh tali-temali Islam akan terle-pas satu utas demi satu utas. Setiap kali satu utas tali terlepas, orang-orang akan berpegang kepada tali sesudahnya. Yang pertama kali akan terlepas adalah hukum dan yang terakhir terlepas adalah shalat.” (HR. Ahmad)

‘Umar bin al-Khaththab menegaskan: “Jika kamu melihat seseorang yang menyia-nyiakan shalat, demi Allah kepada selain itu ia akan lebih menyia-nyiakan lagi.”

Kedua, ittiba’u asy-syahawaat (mengikuti hawa nafsu).

Setelah seseorang menyia-nyiakan shalat, maka sudah dapat dipastikan bahwa hawa nafsu akan menguasai dirinya. Ia tidak lagi mengindahkan hukum halal-haram, pahala-dosa, karena ‘tali hukum’ telah terlepas dari dalam dirinya. Ketika ‘tali shalat’ telah lepas, maka ‘tali’ setan dan hawa nafsulah yang akan menjerat jiwanya. Setan adalah musuh yang amat nyata, dan hawa nafsu akan selalu membawa kepada kesesatan.

Allah swt telah menegaskan:

“…Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku….” [QS. Yusuf (12): 53]

Ketika setan dan hawa nafsu telah menjadi raja; maka dosa, kemaksiatan dan pelanggaran adalah para prajurit pembawa panji-panji kesesatan. Para prajurit setan dan hawa nafsu itu bisa menjelma dalam wajah narkoba, free sex (seks bebas), judi, meninggalkan shalat, membuka aurat, pacaran, nonton VCD porno, durhaka kepada orang tua, dan lain sebagainya.

Di akhir ayat 59 dalam surat Maryam tersebut ditegaskan bahwa generasi setan yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya kelak akan menemui al-ghayy.

Yang dimaksud al-ghayy adalah khusraan (kerugian) dan syarr (keburukan). Al-Ghayy juga merupakan sebuah lembah di neraka Jahannam yang menjijikkan dan sangat dalam.

Itulah balasan menyeramkan yang akan ‘dihadiahkan’ kepada generasi setan. Na’uudzu billahi min dzaalik.

Tiga Pilar Pendidikan Generasi

Setelah kita memahami agama dengan baik, kemudian bila kita mendalami kehidupan dengan cermat, niscaya kita menyadari akan bahaya dan kerusakan yang ditimbulkan oleh generasi setan. Solusinya, selain dengan mewaspadai generasi setan adalah dengan mendidik generasi Rabbani dan memperbanyaknya!

Seorang ahli pendidikan berkata:

“Bergegaslah untuk mendidik anak-anakmu, sebelum kesibukanmu bertumpuk-tumpuk. Jika ia telah menjadi dewasa dan tidak berakhlak, maka ia justru akan lebih memusingkan pikiranmu!”

Kesungguhan dan perjuangan sejati dalam memberikan pendidikan secara baik menjadi kekuatan amat dahsyat yang akan membebaskan anak dari cengkeraman jahat generasi setan. Setidaknya ada tiga pilar pendidikan yang amat vital untuk meneguhkan benteng keagamaan anak-anak kita, sehingga mereka tangguh menghadapi godaan setan dan hawa nafsu.

Pilar pertama, shalat.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda:

(( حَافِظُوْا عَلَى أَبْنَائِكُمْ فِي الصَّلاَةِ، وَعَوِّدُوْهُمُ الْخَيْرَ، فَإِنَّ الْخَيْرَ عَادَةٌ ))

“Jagalah anak-anak kalian untuk selalu melaksanakan shalat, dan biasakanlah mereka untuk berbuat baik, karena berbuat baik itu harus menjadi kebiasaan.” (HR. al-Thabrani)

Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Hisyam bin Sa’id berkata, “Kami pernah datang kepada Mu’adz bin ‘Abdillah bin Khubaib al-Juhni. Mu’adz berkata kepada istrinya, ‘Kapankah anak harus shalat?’ Istrinya menjawab, ‘Seseorang dari keluargaku pernah menyebutkan hadits dari Rasulullah saw bahwa beliau pernah ditanya tentang itu. Lalu, beliau menjawab:

(( إِذَا عَرَفَ يَمِيْنَهُ مِنْ شِمَالِهِ، فَمُرُوْهُ بِالصَّلاَةِ ))

Jika anak sudah bisa membedakan mana kanan dan kiri, maka perintahlah anak untuk shalat.” (HR. Abu Dawud)

Bahkan akan sangat positif bila anak dibiasakan mengerjakan shalat tahajjud sejak dini.

Pilar kedua, masjid.

Melekatkan anak dengan masjid merupakan usaha yang cerdas, tepat, dan bahkan tidak ada tandingannya untuk menyelamatkan generasi ini dari kerusakan.

Pilar ketiga, puasa.

Puasa Ramadhan dan puasa-puasa sunnah merupakan pilar yang kokoh untuk membentengi hati anak dari gempuran nafsu yang merusak.

Shalat dan masjid merupakan pilar pembebas dari sikap ‘menyia-nyiakan shalat’ (adhaa’ush shalaah), dan puasa menjadi pilar pembebas dari sikap ‘memperturutkan hawa nafsu’ (ittiba’u asy-syahawaat).

Jadi, shalat, masjid dan puasa merupakan senjata yang ampuh untuk menghancurkan jiwa setaniyyah dalam diri generasi kita.

Semoga Allah swt menjauhkan kita dan keturunan kita dari cengkeraman generasi setan.

Dan semoga Allah swt menjadikan kita dan keturunan kita, baik laki-laki maupun perempuan, menjadi generasi Rabbani (Qur’ani). Amin.

red.ummatie