RUU Nikah Siri, Intervensi Terhadap Agama

Beberapa waktu lalu bahkan sampai saat ini media layar kaca dan media nasional lainnya sangat marak dengan pemberitaan atau diskusi dan adu pendapat yang membahas tentang undang-undang Peradilan Agama bidang perkawinan yang di dalamnya mengatur nikah siri.

Bermacam-macam opini dan pendapat masayarakat umum dalam menanggapi munculnya RUU tersebut, baik pihak yang mendukung atau pun yang menolak.

Walaupun RUU tersebut belum di sosialisasikan namun sketsa isi UU tersebut sudah mulai diberitahukan kepada publik, dimana terdapat butir-butir RUU tersebut yang akan mempidanakan para pelaku nikah siri.

Sebelum kita mengupas lebih jauh, harus kita ketahui, bahwa nikah adalah akad untuk membangun rumah tangga, serta dengannya pula seorang menunjukkan pengabdian dalam beribadah kepada Allah , dengan menikah seorang berakad untuk menegakkan syari’at, berakad untuk meninggalkan maksiat, saling mencintai karena Allah , saling menghormati dan menghargai, saling menguatkan keimanan, serta saling membantu dan meringankan beban dan masih banyak lagi tujuan mulia lainnya.

Pada umumnya orang selalu mengkambing hitamkan (baca: menyamakan) nikah siri ini dengan nikah-nikah yang diharamkan di dalam Islam contohnya nikah mut’ah (kawin kontrak) bahkan sebagian masyarakat pada umumnya berpikir jika nikah siri hanya menjadi objek pelampiasan dan penghalalan nafsu belaka.

Sebagaimana nikah pada umumnya nikah siri adalah nikah yang sah dan sama derajatnya dengan nikah pada umumnya,  dimana syarat dan rukun nikahnya harus dipenuhi oleh para pelakunya. Jika salah satu syarat dan rukunnya tidak terpenuhi, maka tidak sah pernikahannya. Bahkan jika mereka memiliki keturunan (baca: anak) maka mereka pun mewarisi harta orangtuanya sebagaimana nikah pada umumnya menurut hukum Islam. Dan harus diketahui pula bahwa didalam Islam tidak dikenal dan tidak ada ‘nikah siri’ (pent). Hanya saja yang jadi masalah adalah pernikahan ini tidak tercatat di catatan pengadilan pemerintah sehingga tidak memiliki akta perkawinan, dimana sebenarnya akta tersebut bukan yang menentukan sah atau tidaknya pernikahan melainkan bukti terjadinya pernikahan. Akhirnya banyak orang menyebut dengan istilah nikah siri (diam-diam).

Karena negara Indonesia tidak berdasarkan hukum Islam, jika suatu saat ada permasalahan yang berhubungan dengan hukum, maka akan berujung di mahkamah hukum negara, dimana para pelaku nikah yang tidak tercatat di catatan pengadilan pemerintah tidak akan mendapat hak sebagaimana warga negara pada umumnya, baik hak waris bagi anak atau hak lainnya dalam keluarga. Padahal hak waris adalah aturan agama dimana Islam telah mengatur hak waris ini dengan jelas dan adil.

Inilah sebenarnya yang menjadi pemicu percikan api masalah yang yang semakin lama semakin besar bagaikan bola salju yang terus bergulir. Para pengusul RUU nikah siri berpendapat bahwa nikah siri hanya akan merugikan wanita dan anak-anak saja dimana mereka (anak dan istri) tidak mendapatkan hak pernikahan dan hanya akan menjadi korban.

Jika kita lihat dari sisi ini demikianlah adanya dan kamipun setuju jika penelantaran hak terhadap anak dan Istri adalah pelanggaran dan termasuk melanggar syari’at yang wajib dikenakan sanksi. Namun penilaian ini tidak adil, karena sesungguhnya pemerintah sendirilah yang telah mempersulit perizinan pernikahan tersebut dengan alasan yang berbelit-belit karena biasanya pelaku nikah siri adalah orang-orang yang berpoligami. Ketika seseorang akan berpoligami biasanya ada syarat perizinan tertentu yang sangat menyulitkan pelaku, sehingga akhirnya banyak orang yang mengambil jalan nikah siri ini sebagai salah satu cara termudah dalam mengambil keputusan. Selain itu hal ini pun sah menurut agama.

Nikah siri seharusnya tidak menjadi persoalan besar yang karenanya terjadi banyak korban, jika saja pemerintah mau mempermudah persyaratan pernikahan dengan memberikan akta perkawinan. Dengan memudahkan syarat pernikahan ini, justru akan menekan tindak kriminalitas dalam pernikahan, dan maraknya oknum yang memanfaatkan keadaan ini, seperti komersialisasi pernikahan yang cenderung hanya untuk penghalalan pemuasan nafsu sesaat, dimana banyak sekali ditemui dengan alasan ini (tidak ada akta nikah) akhirnya mereka melakukan nikah mut’ah (kawin kontrak) untuk bersenang-senang dengan alasan nikah siri. Dengan membayar penghulu bayaran dan saksi secara diam-diam. Mereka menikah hanya untuk mereguk kenikmatan sesaat. Karena tidak adanya akta nikah maka ia pun terlepas dari tanggung jawab. Jika demikian hal nya bukankah akan menyuburkan perzinahan?

Sedangkan di mata masyarakat umum, menganggap hal inilah yang disebut nikah siri padahal pada kenyataanya sangat jauh berbeda antara maksud, tujuan dan caranya, sehingga tak ada yang dirugikan.

Tindakan hukum pidana terhadap pelaku nikah siri sangat tidak relevan dan tidak adil, ketika perzinaan,
free sex, dan kumpul kebo justru mendapat kebebasan seluas-luasnya tanpa terkena sanksi hukum apapun dengan alas an bagian dari hak asasi manusia karena suka sama suka, tapi justru pelaku nikah yang sah malah dipidanakan.

Pengamat agama Islam dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Homaidi Hamid mengatakan, “Jika orang menikah siri dipidana seharusnya orang berzinah juga dihukum. Sungguh disayangkan jika orang yang menikah sah secara agama dikenai sanksi tetapi orang berzinah tidak dihukum,” Sehingga sangat tepat sekali apa yang dikatakan oleh Ketua PBNU Hasyim Muzadi, “Sanksi pidana itu justru gampang dihindari, misalnya orang nikah siri supaya enggak kena pidana, bilang aja kumpul kebo karena kumpul kebo, kan, enggak bakal diapa-apain,” katanya.

Sumber: dari berbagai sumber

Perkembangan Studi al-Qur’an di Indonesia

Al- Qur’an adalah sumber utama hukum Islam sejak generasi Sahabat hingga kini, Meskipun mereka hidup di jaman dan tempat yang berbeda, namun hasil kajian yang dituangkan para ulama dalam kitab-kitab tafsirnya secara prinsip tidak jauh berbeda. Adanya beberapa perbedaan penafsiran di kalangan para ulama yang bermartabat lebih bersifat variatif dan bukan kontra-diktif. Sebab dalam menafsirkan ayat-ayat, mereka mengacu pada prinsip dan kaedah ‘Ulum al-Qur’an yang benar, yang diwariskan secara terpercaya dari generasi ke generasi. Perkembangan prinsip kajian al-Qur’an melalui metode sanad (mata rantai) dari ulama-ulama yang bermartabat senantiasa disandarkan pada konsep wahyu. Landasan sanad yang terbina dalam tradisi keilmuan Islam dengan sendirinya tidak memberi ruang bagi berkembangnya paham relativisme dan spekulasi akal yang tidak bertanggung jawab. Dalam sebuah atsar, Abu Hurairah  menuturkan: “Sesungguhnya ilmu ini (sanad) adalah agama. Oleh sebab itu, perhati-kanlah dari siapa kamu mengambil agamamu.”

Landasan sanad ini terjaga oleh tradisi ilmu yang mengakar kuat dalam masyarakat Islam hingga abad pertengahan. Pusat-pusat pembelajaran seperti masjid, halaqah (lingkar studi), madrasah, selalu penuhi penuntut ilmu. Bahkan di saat kondisi politik sedang kacau dan kerusuhan bermunculan di mana-mana, sejumlah ulama Muslim masih terus bermunculan dan memberikan konstribusinya.

Nasib Studi al-Qur’an Kini

Meskipun di sejumlah lembaga pendidikan Islam di Indonesia masih eksis memegang tradisi sanad dalam mengembangkan studi al-Qur’an, namun dibagian lain, justru kondisinya berbanding terbalik. Dengan alasan “objektivitas ilmiah”, netralitas hasil kajian yang tidak memihak dan menghilangkan nuansa ideologis, studi al-Qur’an dikembangkan secara liar. Tradisi sanad dianggap ketinggalan dan dipandang sebagai produk abad pertengahan yang statis dan bernuansa Islam klasik.

Sebagai gantinya, hasil kajian tokoh-tokoh orientalis dan liberal dijadikan rujukan utama dalam studi Islam. Dalam kacamata mereka, ajaran Islam seringkali dipaksa untuk berkompromi dengan realitas yang berkembang di masyarakat (sosiologis). Maka muncullah studi Islam berperspektif gender, syariat berbasis HAM, dan Quran untuk perempuan. Bukan sebaliknya, yakni Gender dalam perspektif Islam, HAM berbasis syariat, dan perempuan dalam al-Qur’an. Sebab ajaran-ajaran Islam tidak lagi dipandang sebagai acuan dasar dalam memahami realitas, tapi realitas dan akallah yang dinobatkan untuk menentukan corak Islam.

Buku “Pengarusutamaan Gender Dalam Kurikulum IAIN”, contoh kecil di antara gelombang pengeliruan studi Islam yang dilakukan para sarjana liberal. Buku terbit atas kerjasama satu perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia dengan McGill CIDA.

Lebih lanjut dinyatakan bahwa: “Pendekatan dalam kuliah dilakukan sedapat mungkin berperspektif gender dengan mengemukakan berbagai contoh yang mendukung ke arah kesetaraan gender”. Sedangkan tujuan matakuliah ini di antaranya: “Mahasiswa akan dapat menjelaskan situasi dan kondisi historis saat ayat-ayat al-Qur’an diwahyukan sehingga mampu mengambil pesan moralnya”.

Dengan menyimak uraian di atas, maka dipahami bahwa ayat-ayat yang biasa dituding sebagai biang kezaliman dan penindasan terhadap perempuan harus ditafsiri ulang secara kontekstual. Sementara ayat-ayat yang mendukung paham kesetaraan gender harus ditafsirkan secara harfiyah, tekstual.

Sementara untuk Metodologi tafsir al-Qur’an yang menjadi salah satu topik perkuliahan, diarahkan mengkaji tafsir gaya Aminah Wadud. Seorang tokoh feminis liberal radikal yang tersohor berkat keberaniaannya tampil sebagai khatib dan imam shalat jumat dengan jama’ah campur baur antara laki-laki dan perempuan.

v Bahan rujukan memahami al-Qur’an

Liberalisasi al-Qur’an tidak dilakukan secara serampangan, tapi ia adalah sebuah konspirasi dan makar tingkat tinggi untuk merusak ajaran Islam dari dalam. Makar liberalisasi ini diprogram secara massif dan sistemik melalui kurikulum yang siap menghasilkan sarjana-sarjana Muslim yang qualified dalam mengelabui makna akidah dan syariat. Ungkapan ini mungkin dipandang bombastis, emosional dan provokatif. Tetapi kesan tersebut akan hilang jika mencermati buku-buku yang dijadikan bahan rujukan untuk mata uliah Ulum al-Qur’an I, di antaranya seperti Toward Understanding Islamic Law (Abdullahi Ahmad al-Naim), Wanita Dalam al-Qur’an (Aminah Wadud Muhsin), Perempuan Tertindas (Hamim Ilyas dkk), al-Kitab wa al-Qur’an (M. Syahrur), al-Risalah al-Saniyah (Mahmood Muhammad Toha), Mafhum al-Nas (Nasr Hamid Abu Zayd), Tafsir Kontekstual al-Qur’an (Taufiq Adnan Amal dan Syamsu Rizal Panggabean). Meskipun ada beberapa buku rujukan yang benar, namun jumlahnya sangat sedikit dan diletakkan di akhir.

Buku-buku rujukan yang kontroversial ini ditulis oleh para pemuja liberalisme radikal yang gemar mencetuskan pemikiran nyeleneh, bahkan beberapa di antaranya telah difatwa murtad, kabur dari negaranya dan ada yang dihukum mati. Kenyelenehan mereka jelas terlihat saat memunculkan gagasan bahwa al-Qur’an adalah produk budaya, mengingkari syari’at, batasan aurat yang relatif dan berubah-ubah, menuduh bahwa mushaf yang ada sekarang ini adalah produk rekayasa politik Utsman bin Affan , sehingga diusulkan menerbitkan al-Qur’an Edisi Kritis, menghalalkan homoseksual, memberi stigma bahwa ciri utama Islam fundamentalis adalah mereka yang menolak menerapkan metode Kristen dan Yahudi (hermeneutika) untuk memahami al-Qur’an, dan lain-lain.

Buku Aminah Wadud, wanita dan al-Qur’an (Quran and Women) misalnya, tidak hanya dijadikan rujukan matakuliah ‘Ulum al-Qur’an saja, tapi juga digunakan sebagai 5 matakuliah lainnya, seperti Ulum Hadits, Tafsir, Filsafat Hukum Islam, Masail Fiqh dan Aliran Modern Dalam Islam. Demikian halnya dengan karya Hamim Ilyas dkk, Perempuan Tertindas juga dijadikan rujukan untuk 6 mata kuliah, yaitu Ulum al-Qur’an, Ushul Fiqh, Fiqh, Masail Fiqh, Sejarah Peradaban Islam dan Ilmu Dakwah.

Ketimpangan seperti ini juga menjadi tradisi di banyak matakuliah kajian keislaman. Dengan menetapkan satu buku sebagai rujukan untuk bermacam-macam matakuliah, mengesankan bahwa liberalisasi studi Islam ternyata dilakukan secara tidak elegan dan toleran. Ia dipenuhi pemaksaan, jumud, penuh intrik dan ambisi pribadi. Sebut saja misalnya buku “Argumen Kesetaraan Gender” karya Nazaruddin Umar, dinobatkan sebagai rujukan untuk 4 mata kuliah, yaitu Ulum al-Hadits, Tafsir, Ushul Fiqh, Studi Tokoh Sastra Arab. Padahal penulisnya bukanlah seorang pakar sastra Arab dan tidak memiliki latar belakang di bidang ini. Di samping itu, buku ini juga tidak ada kaitan khusus dengan kajian ilmu Hadits, apalagi ilmu ushul fiqh.

Uniknya lagi buku Membina keluarga Mawaddah wa Rahmah dalam bingkai Sunah Nabi yang terbit atas kerjasama dengan Ford Foundation juga dijadikan sebagai rujukan untuk 3 matakuliah ‘Ulum al-Hadits, Hadits dan Ilmu Dakwah. Padahal buku ini banyak menolak hadits-hadits yang tidak sejalan dengan paham feminisme Barat. Sebagai contoh, di antara isu yang dibahas dalam buku ini adalah mengkritik Hadits Nabi tentang ciri-ciri wanita salehah. Tiga ciri kesalehan wanita seperti hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan al-Baihaqi, yaitu sikap menyenangkan pandangan suaminya, mematuhi perintahnya, dan menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya di saat suaminya pergi, malah dijadikan objek kemarahan. Baginya, Hadits ini dianggap tidak adil dan hanya berisi tuntutan sepihak terhadap perempuan.
Meskipun penulisnya mengakui bahwa hadits ini adalah Hadits yang sahih, tidak menyalahi al-Qur’an, tidak menyalahi amalan ulama salaf dan tidak bertentangan dengan akal sehat, tetapi penulisnya melarang kalau Hadits ini diamalkan apa adanya, secara semestinya dan tekstual. Sebaliknya, Hadits ini harus dipahami secara kontekstual-sosiologis. Karena kesalehan wanita itu relatif dan bisa berubah menurut tempat, zaman dan kebutuhan.

Penutup

Studi al-Qur’an adalah jantung studi Islam, karena memang semua ilmu keislaman bersumber darinya. Sifat kewahyuan al-Qur’an yang final dan universal, mempengaruhi karakter pendekatan studi al-Qur’an untuk tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek wahyu dan iman. Jika saja Rasulullah saat menerima wahyu mengalami perubahan fisik yang luar biasa, misalnya beliau terlihat sangat takut dan minta diselimuti, terkadang dahi beliau bercucuran keringat padahal saat itu sedang musim dingin, terkadang nampak wajah beliau kemerah-merahan dengan suara yang tidak beraturan dan terkadang tubuhnya menjadi sangat berat, sampai-sampai paha Zayd bin Tsabit terasa mau patah ketika menahan kaki Rasulullah yang tiba-tiba kedatangan wahyu. Maka apakah layak seorang Muslim saat menggali kandungan al-Qur’an mencampakkan aspek kewahyuannya untuk ditukar dengan spekulasi akal yang tidak terarah dan permisif untuk disusupi aneka purba sangka? Tidakkah merusak studi al-Qur’an berarti sebuah konspirasi memutuskan umat dari akar khazanahnya?! Wallahu a’lam wa ahkam bi l-sawab.

Sumber: Dr. Adian Husaini (Studi al-Qur’an Yang Dikelirukan), Insistnet.

“Valentin Day” Tanda Hilangnya Jatidiri Kaum Muslimin

Sekilas saya hendak mengajak kita bersama menengok ke belakang pada tujuh abad yang silam tepatnya pada tahun 1258 M atau 656 H. Sejenak kita membuka kembali lembaran-lembaran sejarah umat Islam pada masa-masa kelam yaitu masa di mana mereka menjalani kesulitan dan tantangan yang amat berat bahkan mungkin tak pernah mengalami tahapan yang lebih berat dan keras tantangannya dari peristiwa ini.
Yaitu ketika tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulaku menundukkan Baghdad yang pada saat itu menjadi ibukota kekhilafahan Islam, menjarah penduduknya dan membunuh Khalifah terakhir dari Bani Abasiah yaitu al Mu’tasim Billah. Maka tahun-tahun setelah itu adalah tahun yang gelap bagi kaum muslimin. Kaum muslimin diperintah oleh bangsa kafir musyrikin dan bangsa penjajah itu menerapkan kepada mereka hukum kufur.
Bangsa Mongol atau Tartar mereka ini menjadikan al-Yasiq sebagai undang-undang dasar yang mengatur seluruh sisi kehidupan kaum muslimin. Al-Yasiq adalah suatu kitab undang-undang yang dibuat oleh Jenghis Khan, Raja Mongolia yang mana kitab ini adalah perpaduan kitab suci yahudi, Nashrani dan Islam serta pendapat dari Jenghis Khan sendiri. Itulah masa terkelam bagi umat Islam tanpa Khalifah dan tanpa hukum, tanpa pengayom dan pelindung. Namun satu hal yang paling mengagumkan adalah ketika mereka melewati masa-masa tersebut tidak ada satu orangpun kaum muslimin yang berubah jati dirinya dan berganti identitasnya dan tidak ada di antara mereka yang menerima hukum al-Yasiq tersebut meskipun diterapkan atas mereka secara paksa, tidak ada yang berbaur dengan bangsa Mongol, tidak ada yang berubah dari kaum muslimin baik dalam hal bahasa, cara berpakaian, cara bergaul, adat istiadat ataupun gaya hidup mereka. Dengan kata lain kaum muslimin sangat teguh memegang ciri-ciri khas mereka yang membedakan mereka dengan kaum kufar. Bahkan seiring dengan berjalannya masa, hukum al-Yasiq pun lenyap ditelan masa, tidak laku lagi karena ummat Islam tidak ada yang mau mempelajari hukum tersebut apalagi mengaguminya. Justru bangsa Mongol-lah sebagai bangsa penjajah yang pada akhirnya berbaur dengan kaum muslimin dalam kebudayaan Islam di mana dikemudian hari anak cucu mereka masuk ke dalam Islam dan meninggalkan budaya Mongolnya. Itu terjadi tujuh abad yang silam.
Namun kini alangkah bedanya keadaan kaum muslimin saat ini dengan mereka, betapa rapuhnya benteng akidah kaum muslimin sehingga begitu mudahnya mereka menyerap hampir semua tradisi dan gaya hidup Barat yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Sungguh benar sabda Rosululloh Nabi yang tidak bicara dengan hawa nafsunya tapi wahyu yang diwahyukan kepada beliau, sabdanya, “Kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kalian ikut memasukinya.” Para sahabat lantas bertanya, “Siapa ‘mereka’ yang baginda maksudkan itu, ya Rosululloh?” Beliau menjawab, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani”. (HR. Bukhari & Musllim)
Sekarang kita saksikan budaya-budaya Barat yang diserap oleh kaum muslimin di antaranya adalah terkait hari-hari besar dan hari-hari peringatan di mana hari ini selalu dirayakan dan diperingati setiap tahunnya.
Di antara hari yang dirayakan, diperingati serta dijadikan suatu hari yang sangat bersejarah atau berkesan bagi kaum muslimin saat ini adalah hari Valentine.
Sejarah Hari Valentine
Padahal jika kita lihat sejarah hari Valentine ini kita dapati pada kalender sejarah Yunani kuno periode antara bulan januari dan Februari adalah bulan caminion yang dipersembahkan kepada Dewa Zeus dan Hera. Di Roma kuno, 14 Februari adalah hari raya lupercalia, sebuah perayaan lupercus atau dewa kesuburan yang dilambangkan dengan seorang yang berpakaian kulit kambing. Sebagai ritual penyucian, sebagian pendeta lupercus mempersembahkan korban kambing kepada sang dewa dan setelah minum anggur mereka berlarian di sepanjang jalan kota Roma sambil membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapapun yang mereka jumpai terutama para perempuan muda. Mereka secara sukarela ingin disentuh karena dengan itu mereka akan dikaruniai kesuburan dan mudah melahirkan. Dan di Eropa hari Valentine adalah sebuah hari di mana mereka yang sedang memadu cinta kasih saling menyatakan cintanya.
Jika ditelusuri asal muasal hari ini adalah sebuah hari raya katolik Roma. Kemudian pada perkembangannya di Amerika Serikat mulai pada paruh kedua abad keduapuluh, tradisi bertukaran kartu diperluas termasuk pula memberikan hadiah, biasanya dari kaum lelaki kepada kaum wanita.
Jika kita telusuri kembali, sejarah hari Valentine Day adalah perayaan lupercalia yang merupakan ritual penyucian pada masa romawi kuno yang dilakukan pada tanggal 13-18 Februari. Dua hari pertama yaitu pada tanggal 13 dan 14 Februari dipersembahkan untuk dewi cinta yaitu Juno Februata. Pada hari ini pemuda mengundi nama-nama gadis dalam kotak lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan setiap gadis yang namanya keluar rela menjadi pasangannya selama setahun sebagai objek senang-senang dan hiburan. Lalu pada tanggal 15 mereka meminta perlindungan Dewa Lupercus dari gangguan srigala.
Ketika agama Kristen Katolik masuk ke Roma, mereka mengadopsi acara ini dan mewarnainya dengan nuansa Nasrani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama paus atau pastur. Di antara pendukungnya adalah kaisar Konstantin dan Paus Gregory I dan agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen maka pada tahun 496 M Paus Glasius I menjadikan upacara Romawi kuno ini hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine Day untuk menghormati Saint Valentine yang kebetulan mati pada tanggal 14 Februari, demikian disebutkan dalam buku ensiklopedi dunia.
Menurut sejarah ini maka kita dapati bahwa hari Valentine asal-muasalnya dijadikan suatu peringatan oleh kaum paganis (para penyembah berhala) kaum musyrikin romawi itu, ini asal muasal sejarahnya.
Jadi tradisi ini adalah tradisi kaum musyrikin para penyembah patung, yang meyakini banyak dewa dewi dan hidup mereka jauh dari petunjuk wahyu maupun kitab suci, yang kemudian karena kelemahan, kebodohan dan kesesatan kaum Nashoro, tradisi kaum musyrikin ini diadopsi, diterima dan diserap dalam tradisi keagamaaan Kristen sehingga ditetapkan oleh Paus Glasius I sebagai hari perayaan gereja.
Kemudian dalam masyarakat Barat yang sekuler, karena prinsip kebebasannya itu akhirnya menjadikan hari Valentine ini menjadi hari kebebasan untuk mengungkapkan cinta kasih dan memilih pasangan, bersenang-senang serta larut dalam inhilal khuluqi (kebebasan) atau kerusakan moral.
Setelah kita tahu bahwa asal dan sejarah hari perayaan Valentine ini bukan dari kaum muslimin, justru dari kaum musyrikin dan Nashara maka jelaslah bagi kita bahwa hari tersebut merupakan hari besar yang memuat berbagai macam nuansa acara keagamaan. Setiap agama tentu memiliki hari-hari besar tersendiri yaitu hari-hari yang selalu dikenang setiap tahun untuk dirayakan. Ini sangat terkait erat dengan nilai-nilai ritual dan relijius pada agama tersebut.
Kita lihat, tidak ada orang-orang kristen merayakan Idul Fithri atau hari raya Idul Adha, karena bagi mereka ini adalah sesuatu yang tabu, aib dan suatu penyimpangan besar kalau sampai mereka ikut merayakan hari besar kaum muslimin. Maka kita tidak pernah mendengar orang–orang Kristen yang ikut mengucapkan selamat, ikut bergembira, merayakan atau memperingati dengan sepenuh hati dan jujur baik Idul Fithri atau Idul Adha. Tetapi yang sungguh memilukan dan menyedihkan kita, ada di antara sebagian kaum muslimin ikut memperingati hari-umat agama lain seperti hari Valentine Day.
Larangan mengikuti Valentine Day
Tentang larangan mengikuti hari-hari besar agama lain, baik Yahudi, Nashrani dan lainnya ini ditegaskan oleh Rosululoh dalam sebuah hadits : “Dan dijadikan kehinaan serta kerendahan atas orang-orang yang menyelisihi perintahku dan barangsiapa menyerupai (meniru-niru) tingkah laku suatu kaum maka dia tergolong dari mereka”. (HR. Ahmad, Ibnu Abi Syaibah dan ath Thohawi). Dalam hadits ini Rosululloh mengabarkan dua hal:
Pertama: bahwa kehinaan dan kerendahan akan ditimpakan oleh Alloh kepada siapa saja yang menyelisihi perintah Rosululloh . Yang dimaksud kehinaan ini adalah kehinaan secara mental atau secara maknawi dan juga secara fisik di dunia dan di akhirat. Peringatan Rosululloh tersebut senada dengan firman Alloh : “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih”. (QS. an Nur: 63)
Kedua: dalam hadits tersebut dikatakan, “Barangsiapa menyerupai (meniru-niru) tingkah laku suatu kaum maka dia tergolong dari mereka.”Jadi siapa yang meniru-niru kaum yang shaleh seperti ulama, orang-orang yang shaleh maka ia termasuk golongan orang yang shaleh dan akan dihimpun bersama mereka di akhirat kelak. Begitupun sebaliknya, bagi siapa yang meniru-niru kaum yang fasik dan kafir seperti Yahudi, Nashrani atau sekuler maka demikian pula keadaannya. Na’udzubillahi min dzalika.
Rosululloh Nabi dan Rosul yang amat penyayang kepada umatnya, apa saja yang mendekatkan mereka ke surga maka telah beliau perintahkan, dan apa saja yang mendekatkan mereka ke neraka telah beliau larang. Dan di antara larangannya adalah tasyabbuh terhadap umat diluar Islam.
Lalu pada hadits yang lalu dikatakan bahwa umatnya akan mengikuti mereka sejengkal demi sejengkal dan seterusnya. Dalam hadits ini beliau telah mengabarkan dua faidah yaitu:
Pertama: kabar (berita) bahwa sebagian dari umatnya kelak akan mengikuti jejak-jejak kaum Yahudi dan Nashrani bahkan sangat antusias dalam mengikuti mereka. Sehingga beliau berkata: “Sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kalian akan ikut memasukinya.” Kini kita saksikan bahwa apa yang disabdakan beliau benar adanya dan ini menjadi suatu bukti kerosulan beliau sebab beliau tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.
Kedua: hadits ini mengandung tahdzir atau peringatan atau larangan dari Nabi agar kita tidak termasuk orang-orang yang mengikuti jejak orang-orang sebelum kita yaitu Yahudi dan Nashrani.
Suatu hal yang sudah dimaklumi bahwa meniru-niru perbuatan bangsa lain merupakan bukti adanya perasan minder atau rasa rendah diri terhadap bangsa yang ditiru dan bukti bahwa orang yang meniru-niru tersebut memandang kepada bangsa yang ditiru sebagai bangsa yang lebih utama dan lebih tinggi, oleh karena itu ia berusaha untuk meniru mereka, berusaha untuk menyamakan dirinya dengan bangsa yang dikaguminya, bangsa yang dipandang dengan pandangan -wah- tersebut, dan ini tidak layak bagi seorang muslim terhadap orang kafir. Cara memandang yang seperti ini tidak layak karena seorang muslim lebih tinggi kedudukannya daripada seluruh orang-orang kafir berdasarkan nash al Quran dan as Sunnah karena Alloh telah berfirman: “Sesungguhnya seburuk-buruk binatang (makhluk) di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka itu tidak beriman”. (QS. al Anfal: 55)
Dalam ayat diatas Alloh menyebut mereka (orang-orang kafir) adalah binatang bahkan dikatakan syarro dawaab (seburuk-buruk binatang) yang melata di atas bumi ini, adalah orang-orang kafir karena mereka tidak beriman.
Untuk mengenal lebih jelas hakikat hidup orang-orang kafir. Baca rubrik “Tafsir Ayat” di halaman 28.
Semoga Alloh melindungi kaum muslimin dari fitnah, baik yang nampak dan tersembunyi dan semoga Alloh menunjuki kita dengan bimbingan-Nya. Amin

Baca Juga>>> Untuk Mengimbangi Syiar Hari Raya Kaum Kafir (Natal/Valentine), Bolehkah Membuat/meniru Hari Raya Baru Mereka Semisal Maulid Nabi?

Peranan Media dalam Aktivitas Propaganda

Majalah UMMATie Edisi 01/th. 1 Rajab 1428/ Agustus 2007

Mengungkap Kebohongan Media Barat

Propaganda adalah sebuah pesan yang bersifat khusus yang ditujukan untuk menyebarkan sebuah agenda, filosofi atau pandangan terhadap suatu masalah. Biasanya propaganda sering digunakan di dalam konteks politik; terutama dalam upaya-upaya yang didukung oleh pemerintah atau kelompok politik.

Dan itulah yang diusung oleh musuh-musuh Islam, melalui media-media Barat (AS) mereka melancarkan propaganda dan membentuk opini-opini masyarakat yang berlawanan dengan fakta, serta menyajikan berita-berita yang bias mengenai Islam.
Tercantum di dalam Psychological Operations Field Manual No. 331 yang dipublikasikan pada bulan Agustus 1979 oleh Department of the Army Headquarters di Washington DC, salah satu alat untuk melancarkan operasi psikologi adalah propaganda media. Bahkan propaganda media juga diatur dalam Psychological Operations (PSYOP) Media Subcourse PO-0816 oleh The Army Institute for Professional Development, yang dipublikasikan pada tahun 1983.

Mengapa media dipilih dalam aktifitas propaganda?

Mc.Luhan, penulis buku Understanding Media: The Extensive of Man, menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media massa adalah realitas yang sudah diseleksi.

Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan mengesampingkan tokoh yang lainnya. Surat kabar pun, melalui proses yang disebut “gatekeeping” lebih banyak menyajikan berbagai berita tentang “darah dan aurat” daripada tentang contoh dan teladan.

Dan biasanya kita tidak bisa, atau bahkan tidak sempat untuk mengecek peristiwa-peristiwa yang disajikan media. Boleh dibilang, orang cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa.

Sedangkan pada saat ini secara tidak sadar kebanyakan orang telah menjadi korban propaganda media-media Barat.

Kebohongan Media

Bukan apa yang mereka katakan, tetapi apa yang mereka tidak katakan. Bohong bermacam-macam bentuk dan ragamnya. Kebohongan mungkin terdapat dalam kebenaran parsial, fakta yang diseleksi, kutipan dan informasi yang ditempatkan di luar konteksnya, perspektif sejarah yang terpotong-potong, atau fakta yang diinterpretasikan secara salah. Dan memanipulasi publik bukanlah perkara sulit.

Jerry D. Gray mendefinisikan jurnalisme di dalam bukunya, “Jurnalisme sebagai penulisan yang dicirikan dengan menyajikan langsung faktafakta atau gambaran berbagai peristiwa tanpa upaya menginterpretasikan dan tanpa opini. Sedangkan berita merupakan sebuah laporan tentang peristiwa-peristiwa yang baru terjadi.”

Menyimpang dari definisi di atas, media berita tak selalu menyajikan laporan sesuai dengan faktanya. Bahkan mereka berani berbohong 100%, berbeda 180 derajat dengan fakta yang ada.

Sebagai contoh adalah, pelanggaran Majalah TIMES terhadap prinsip pemberitaan berimbang (cover both sides) dalam artikel berjudul “Confession of Terrorist Al-Qaeda” edisi 23 Desember 2002.

Pada edisi tersebut Abu Bakar Ba’asyir disebut TIMES sebagai pendiri MMI. Padahal, MMI didirikan oleh Kongres Mujahidin pada 5 Agustus 2000. Selain itu, pemberitaan yang ditulis Romesh Ratnesar itu juga menyebut Ba’asyir sebagai aktor intelektual di balik sejumlah peledakan bom di Indonesia dan Malaysia sejak 1999. Sumber informasi yang dipakai TIMES adalah kesaksian Umar Al-Faruq kepada Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA). Dikatakan, Umar Al-Faruq mengaku diperintah Ba’asyir untuk melakukan berbagai pengeboman, diantaranya di sejumlah gereja pada malam natal dan di Masjid Istiqlal pada 1999. Padahal, Mahkamah Agung sudah memutuskan, Ba’asyir tidak terkait dengan bom natal dan Istiqlal.

Majalah TIMES sudah melanggar prinsip pemberitaan berimbang (tidak ada cover both sides dan Ustadz Ba’asyir tidak pernah diwawancarai untuk konfirmasi) serta prinsip jurnalisme yaitu memberikan informasi akurat dan terpercaya yang dibutuhkan publik agar berfungsi dalam masyarakat sekarang ini.

Dan tidak hanya Majalah TIMES saja, banyak jaringan berita kabel maupun satelit di AS berperan dalam membohongi masyarakat internasional dan terkhusus warga Amerika sendiri untuk kepentingan Gedung Putih.

Amerika adalah negara tempat mayoritas orang dimanipulasi untuk mendukung kebijakan-kebijakan yang telah didesain untuk menipu mereka. Ini adalah tempat berlakunya prinsip menghalalkan segala cara, dan korupsi adalah falsafah pemerintahan.

Ungkapan seorang Maxwell King cukup menjadi bukti bahwa dunia penuh dengan kebohongan dan muslihat pemimpin Barat yang didukung media korporat yang didominasi kepentingan atau pihak tertentu sebagai alat propaganda yang hanya menyajikan sedikit fakta, yang tanpa disadari dibuat oleh media pemberitaan dan media dengan jangkau siar luas. Nyaris setiap hari corong-corong semacam TIME, CNN, MSNBC, FOX NEWS melansir berita “sepihak”. Tidak jarang muncul fenomena “jurnalisme stereotype” yang sudah lebih dulu memiliki asumsi dan abstraksi dalam membingkai isu atau fakta dengan bingkai yang dipengaruhi prasangka sehingga bias dan keliru dalam memahami Islam dan umat Islam. Tidak sedikit media massa secara sadar atau tidak, tergiring genderang yang ditabuh Amerika Serikat. Jika ditelusuri politik pemberitaannya hanya membidik Islam dan umat Islam sebagai potensi ancaman bagi kepentingannya.

Adhian Husaini mengatakan bahwa Barat mengontrol informasi dunia dan memproduk rata-rata enam juta kata per hari, sementara Timur (Islam) hanya mampu memproduk 500 ribu kata per hari. Dari perbandingan produksi kata melalui berbagai jenis media cetak, elektronik, dan dunia maya tampak jelas bahwa penyebaran nilai yang terus menerus dicangkokan ke benak manusia adalah nilai-nilai, doktrin, ideologi serta budaya Barat. Tengok jaringan informasi seperti CNN yang ditayangkan 24 jam terus-menerus melalui jaringan satelit yang bisa ditonton di seluruh pelosok dunia melakukan cuci otak tanpa henti. Media massa nasional pun lebih banyak merujuk kepada informasi yang diproduksi oleh kantor berita seperti UPI, Reuters, dan BBC. Tidak ada ceritanya media di Indonesia mengambil referensi dari As Sahab, Ar Rahmah, Al Muhajirun, atau secara mandiri mengembangkan informasi tanding.

Kepentingan Siapa?

Tercatat beberapa media yang berada di bawah kontrol Yahudi; The New York Times (terbit sejak 1941), The Wall Street Journal, dan The Washington Post. The Times (Inggris), The Daily Express, The News Chronicle, The Daily Mail, The Observer, The Mirror, koran The Sun dan The Times yang dimiliki Rupert Murdoch, mantan warga Australia yang pernah mendapat hadiah Bintang David, sebuah penghargaan tertinggi yang disampaikan oleh warga Yahudi-Israel. Selain itu ada juga Majalah Time, Newsweek, U.S. News & World Report. Di bawah payung perusahaan Time Warner Communication yang dipimpin seorang Yahudi bernama Gerald Levin, Majalah mingguan Time, mencapai sirkulasi hampir 4,1 juta. Newsweek, di bawah orang Yahudi bernama Katherine Meyer Graham telah memiliki sirkulasi mencapai hampir 3,2 juta eksemplar.

Fu`ad bin Sayyid Abdurrahman ar-Rifa’I dalam bukunya Yahudi dalam Informasi dan Organisasi, me-nunjukkan bagaimana kaum Yahu massa, perfilman, keuangan dan lembaga dunia. Kantor berita terbesar dunia, Reuters, dibangun keturunan Yahudi, Julius Reuters. Kantor berita besar lainnya, Associated Press, International News Service dan United Press International, juga dimiliki orang Yahudi. Bahkan, surat kabar yang tidak terlalu besar pun, seperti The Sunday Times, The Chicago Sun Times dan The City Magazine, tidak mereka lepaskan.

Tak salah jika George Gerbner dalam bukunya Mass Media and Human Communication Theory (1967) menyebutkan, “Mass Communication is the technologically and institutionally based production and distribution of the most broadly shared continous flow of messages in industrial societies” (Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri).

Sumber:

  • Jerry D. Gray, Dosa-Dosa Media Amerika
  • Fu`ad bin Sayyid Abdurrahman ar-Rifa’i,  Yahudi dalam Informasi dan Organisasi
  • journalism.org

 

Walt Disney Perahu Penyesatan Anak-anak.

Kerap kali Disney membuat simbol kejahatan dan para penjahat dengan sosok Islam. Dan pembuatan karakter jahat de-ngan tokoh yang bernampilan Islam bukan hanya sekali namun berulang-kali karakter ini dibuat. Sekali lagi ini bukanlah kebetulan namun me-mang ada upaya yang terselubung untuk menciptakan image buruk ter-hadap Islam dan kaum muslimin.

Walt Disney merupakan nama yang sudah akrab bagi telinga kita, hingga tidak perlu lagi diperkenalkan kepada seluruh masyarakat di dunia.

Siapa tidak kenal dengan film-film kartun keluaran Walt Disney se-perti Mickey Mouse, Donald Duck atau Goofy Dog, sampai anak kecil yang belum bersekolahpun cukup hafal dengan semua tokoh kartun yang telah dikeluarkan oleh Walt Dis-ney.

Adapun Walt Disney, sudah sa-ngat dikenal dengan propaganda-nya untuk melunturkan pemaham-an Islam bagi penontonnya terlebih khusus adalah anak-anak.

Kecurigaan ini cukup beralasan dikarenakan sejarah pendirian dari studi film ini sendiri berasal dari sul-bi bangsa Yahudi. Sebut saja Holly-wood, sebuah sumber mengatakan, bahwa dari pendekatan perfilman, pada tahun 1996 ada sebuah maja-lah bernama “Moment Magazine”, yang mengklaim dirinya “majalah khusus bagi orang Yahudi.” Majalah itu di antaranya memuat sebuah la-poran utama “Zeus runs Hollywood, so what?” Ada sebuah kesan som-bong dan menantang. Di situ dipa-parkan secara luas, memang benar Hollywood dikuasai oleh Yahudi.

Siapa-siapa saja tokoh besar Ya-hudi disebutkan juga dalam buku “The Zion Hollywoodisme”. Maka Siapapun yang tidak sejalan dengan tokoh Yahudi tersebut akan disingkir-kan.

Bukan hanya itu, pendiri kota Hollywood sendiri, sebagai sebuah kota pusat perfilman, di antaranya adalah tokoh Yahudi.

Yang jelas Yahudi sangat memi-liki peran dalam perfilman Hollywood dalam tiga cara. Pertama, dalam isi atau cerita film. Disebutkan da-lam buku ini, di antaranya film “Ma-trix”, karya-karya Spielberg, dan se-bagainya. Kedua, penguasaan me-dia dalam usaha pembentukan opi-ni publik. CNN, Century Fox, ada-lah di antara media-media tersebut. Ketiga, dalam pendanaan. Seba-gian besar dana pembuatan film Ste-phen Spielberg didukung penuh oleh Yahudi. Hampir seluruh studio besar perfilman Hollywood dikuasai oleh Yahudi, misalnya Paramount, Cen-tury Fox, Walt Disney, dan banyak lainnya.

Kembali kepada Walt Disney, rak-sasa perfilman anak inipun dipimpin oleh seorang Konglomerat hiburan terbesar, yaitu seorang Yahudi ber-nama Michael Eisner (CEO). Sehing-ga dengan ini Walt Disney Compa-ny, telah memiliki beberapa anak perusahaan dibidang stasiun televi-si. Misalnya Walt Disney Television, Touchstone Television, dan Buena Vista Television.

Walt Disney dengan penguasaan penuh dari bangsa Yahudi, tidak akan pernah melewatkan kesempatan ini untuk melancarkan opini-opini Israel kepada dunia khusus tentang masa-lah masjid Al-Aqsha yang ada di da-lam kawasan Israel.
Untuk ini Walt Disney pernah me-lakukan perhelatan besar didalam pa-meran Walt Disney Millenium yang diselenggarakan di kota Epcot Centre Florida. Dimana pada pameran ini Walt Disney mencoba untuk menon-jolkan Jerusalem sebagai ibu kota da-ri Negara Israel. Propaganda ini me-mang telah dipersiapkan dengan ma-tang oleh bangsa Yahudi sehingga pa-da acara ini Israel menyumbang 1,8 juta US Dollar. Dan format ini sebe-narnya adalah pesanan dari negara Israel untuk memberikan opini yang kuat kepada dunia tentang posisi Al-Quds yang sesungguhnya. Walaupun terdapat saham Amir Saudi Waleed bin Thalal di Walt Disney, namun perusahaan yang bergerak di bidang hiburan, film dan animasi ini sangat terlihat murni untuk mendukung Is-rael. Dan upayanya untuk membu-rukkan citra Arab dan umat Islam da-lam produk-produknya.
Kuatnya dominasi Yahudi terha-dap semua media informasi memang adalah sebuah target dari cita-cita mereka. Fu’ad bin Sayyid Abdurrah-man ar-Rifa’i dalam bukunya Yahu-di dalam Informasi dan Organisasi, menunjukkan bagaimana kaum Ya-hudi memperkuat pengaruhnya le-wat dominasi kantor berita, media massa, perfilman, keuangan dan lem-baga dunia.

Untuk Walt Disney sendiri peng-asas pertamanya adalah dua ber-saudara Disney yang terkenal de-ngan keyahudiannya, yaitu Walter Elias Disney dan Ray O. Disney se-kitar tahun 1925.

Ada pesan dari semua film kartun produk Disney yang tidak pernah hi-lang yaitu tentang keharusan untuk memerangi penjahat dan musuh-musuh dunia agar tercipta dunia de-ngan kebahagian.

Hanya masalahnya kerap kali Dis-ney membuat simbol kejahatan dan para penjahat dengan sosok Islam. Dan pembuatan karakter jahat de-ngan tokoh yang bernampilan Islam bukan hanya sekali namun berulang-kali karakter ini dibuat. Sekali lagi ini bukanlah kebetulan namun me-mang ada upaya yang terselubung untuk menciptakan image buruk ter-hadap Islam dan kaum muslimin.

Diantaranya adalah sekitar tahun 1982 Disney pernah memproduksi sebuah film kartun yang mengisah-kan tentang kucing terbang. Cerita-nya adalah ada sebuah planet yang seluruhnya adalah orang-orang kuat dan hebat. Dihadapan mereka pen-duduk bumi adalah sangat terbela-kang dan lemah. Singkat cerita sang kucing terbang ternyata bisa berhu-bungan dengan seorang ilmuwan Amerika dalam ceritanya. Lalu ke-duanya bersepakat untuk mengha-dapi satu kelompok penjahat yang berusaha untuk mendapatkan ge-lang-gelang kucing agar dapat me-nguasai dunia. Sekelompok penja-hat yang dimaksud dalam kisah ini adalah orang-orang Arab, yang me-nyandang nama-nama arab seperti: Ahmad, Muhammad, Zakariya dan Ali. Dan anehnya untuk peran dari karakter jahat di film ini, Disney de-ngan sengaja langsung mendatang-kan orang arab asli yang berbicara dengan dialek badui.

Bukti yang kedua dari kebencian Disney terhadap Islam adalah sete-lah usainya perang teluk kedua pa-da tahun 1991 Disney mengeluar-kan satu film kartun dengan judul ‘Aladdin yang menjelekkan bang-sa Arab dan kaum muslimin. Jalan ceritanya adalah dimana didalam cerita ini dikisahkan tentang adanya kekuatan jahat yang didalamnya ber-satu potensi sihir dan jin yang masuk kedalam dunianya.

Dimana kekuatan jahat ini me-miliki keinginan untuk membelah atom agar menjadi kekuatan peng-hancur. Pekerjaan ini dilakukan oleh laki-laki arab yang sangat jahat yang bernama Ja’far dengan gambaran fisik memiliki hidung yang mancung seperti orang-orang arab pada umum-nya. Selain itu karakter jahat ini di-gambarkan memakai pakaian khas timur (seperti jubah, gamis) dan ber-janggut lebat, gambaran penjahat seperti ini bukan hanya sekali namun sudah berulang karakter ini dimun-culkan.

Disney pun telah menyiapkan pendanaan besar untuk membantu program pemerintah AS untuk me-merangi terorisme, walaupun sebe-narnya yang AS perangi hanyalah beberapa negara yang terkenal de-ngan Ahlu Sunnahnya dan gerakan-gerakan Islam yang ada di dunia.

Di situs Disney pernah dirilis se-buah gambar dimana foto Ka’bah yang penuh dengan manusia-ma-nusia yang sedang melakukan iba-dah thawaf, kemudian gambar Ka’-bah yang mulia tersebut diganti de-ngan gambar bola golf salah satu tempat yang menjadi objek wisata di Walt Disney Land.

Tidak hanya itu Disney pun per-nah membuat pameran pada tang-gal 1 Oktober 1999, dimana dari pameran tersebut memicu perdebat-an antara Liga-liga Arab serta ormas-ormas Islam dengan pihak Disney. Dimana saat itu Disney membuat pameran Al-Quds Seribu Kubah di-mana pada pameran ini disebarkan opini bahwa Al-Quds merupakan mi-lik bangsa Yahudi yang ada di Israel bukanlah milik umat Islam. Dalam acara ini dibuatlah angket yang di-sebarkan didepan pintu masuk pa-meran kepada anak-anak dengan pertanyaan “Apakah Ibu Kota Is-rael???”. Setelah acara ini berlang-sung sebuah surat kabar terkenal New York Times memuat berita tang-gapan dari kasus perdebatan dengan Ormas-ormas Islam serta Liga Arab. “Jika perusahan Disney menerima usulannya yang ini dijadikan opini publik dunia setelah merubah na-ma pameran dari Al-Quds Ibu ko-ta Israel menjadi Al-Quds Jan-tung Israel. Jika itu diterima, se-orang pengusaha siap mendanai pro-yek pameran itu meskipun mengha-biskan seluruh kekayaannya.”

Maka tidak ada kata apapun yang harus kita lakukan melainkan ada-lah boikot Disney dari rumah-rumah kaum muslimin..!!!! ■


AL-QUR’AN Dilecehkan Lagi di Facebook. Facebook Diancam Boycott!

Memboikot (tidak menggunakan) Facebook selama tiga hari sejak tanggal 24 Oktober muncul dari ide sang pemilik group; We want Facebook to close this group “qoran toilet paper” Kareem Sherif.
(aksi protes terhadap manajemen facebook yg membiarkan sebuah group bernama “qoran toilet paper”_Egypt“
Dia menuturkan “bahwa meskipun group kita tumbuh, tetapi Facebook tidak juga menjadikan kita sebagai pertimbangan dan (bahkan) mengacuhkan permintaan kita, Jadi kami memutuskan tanggal 24 Oktober akan menjadi yang pertama bagi kami (untuk memboikot Facebook). Dan jika Facebook tidak menutup group itu setelah 24 Oktober, kami akan membuat jalan lain untuk protes” tegas Sherif.

Dukungan mengalir terus bukan hanya dari kalangan kaum muslimin saja, bahkan dari kalangan non-muslim yang setuju dengan penutupan group tersebut (Koran toilet paper). Mereka beranggapan bahwa group tersebut dibuat oleh kelompok kebencian, sebagaimana yang dituturkan Nichelle warga Amerika yang beragama Nashrani.

Tanggal 24 Oktober juga telah disepakati oleh para member group yang berjumlah 400.000 ribu lebih dan terus bertambah setiap menitnya. Terlihat sebagian para member yang mulai mengganti photo profile mereka dengan gambar-gambar yang menunjukkan protes (termasuk saya pribadi).

Ini gambar pelecehan terhadap kitab suci Al-Quran di facebook :

Jika anda seorang muslim dan mempunyai akun di facebook serta ingin mendukung aksi, silahkan save as gambar dibawah dan ganti foto profile anda (Allahu Akbar!!).


Budaya Mesum Menjerat Remaja

“Lebih dari 500 video porno udah dibuat dan diedarkan di Indonesia. Kebanyakan video amatir hasil rekaman kamera ponsel”. Demikian hasil penelitian seorang Sony Set. Praktisi pertelevisian sekaligus penulis buku bertajuk, “500 plus, Gelombang Video Porno Indonesia”. Parahnya, “Sebanyak 90 % pembuat video porno itu berasal dari kalangan anak muda, dari SMP sampai mahasiswa. Sisanya dari kalangan dewasa,” Lanjut Sony.

Gile bener. Serem juga ya ngeliat data di atas. Asli. Permasalahan dunia pendidikan ternyata nggak cuman mentok di biaya sekolah yang melangit atau nasib tenaga pengajar yang nggak wajar. Tapi merembet juga ke perilaku anak didik yang kian bebas tanpa batas. Kasus tawuran antar pelajar atau narkoba yang menjerat remaja aja masih belon beres bener. Lha kini, hadir budaya mesum yang banyak menggoda remaja untuk jadi pemuja syahwat. Pegimane urusannye ini?

Gaya Hidup Mesum Oriented
Awalnya, mungkin diajak temen untuk nonton film biru yang banyak dijual di lapak kaki lima. Setelah kenal internet, mulai berani mampir ke situs porno yang meraja lela di dunia maya. Dan ketika teknologi ponsel makin canggih, aktif tuker-tukeran ‘produk pembangkit syahwat’ via bluetooth atau infra red dengan teman. Saking seringnya dicekoki konten porno, otak remaja makin tumpul. Yang ada dipikirannya nggak jauh dari persoalan di bawah perut dan di atas lutut. Endingnya, banyak remaja yang terpancing untuk jadi aktifis seks bebas. Inilah cerminan gaya hidup berorientasi mesum yang mulai gencar ngecengin remaja.

Sebelum ponsel berkamera banyak dipake, perilaku seks remaja jarang bocor ke publik. Karena nggak ada bukti memadai, isu seputar gaya hidup seks bebas remaja sering dianggap terlalu dibesar-besarkan. Tapi kini, masyarakat bisa ngeliat dengan mata kepala sendiri. Betapa liarnya perilaku seks remaja. Dari hari ke hari, rekaman mesum remaja banyak diungkap oleh media.

Masyarakat pernah dihebohkan oleh rekaman video porno sepasang mahasiswa berjudul ‘Bandung Lautan Asmara’. Sejak saat itu, dalam setiap razia ponsel yang berfasilitas kamera dan pemutar video 3gp yang digelar sekolah, banyak pelajar yang menyimpan video porno dalam ponselnya. Dari pose bugil sampe adegan persetubuhan dua remaja berlainan jenis.

Ada rekaman adegan mesum seorang siswi berseragam SMP di Temanggung dengan seorang siswa SMU berdurasi 38 detik. Ada rekaman porno yang diduga dilakukan pelajar salah satu SMA negeri di Madiun berdurasi 50 detik. Di Banjarmasin, marak juga peredaran video porno made in pelajar yang diberi judul Asmara Banjarbaru. Begitu juga di kota-kota lain seperti Jakarta, Semarang, Kediri, Bandung, hingga Medan. Ini kaya laporan perkiraan cuaca aja.

Kasus yang paling bikin geger terjadi pada akhir 2005. Di “kota santri” Cianjur, Jawa Barat beredar rekaman porno sepasang pelajar, yang belakangan diketahui sebagai siswa-siswi SMAN 2 Cianjur. Gokilnya, adegan mesum itu diambil di dalam ruangan kelas ketika temen-temennya lagi beristirahat di luar ruangan. Dewan Guru SMAN 2 Cianjur pun langsung memecat sebelas siswa yang terbukti terlibat dalam pembuatan video porno itu.

Selain berperilaku seks bebas, budaya mesum juga menyeret remaja ke dalam gaya hidup narsis (cinta diri) dan ekshibisionis (pamer diri). Sehingga remaja putri sering kedapetan berani tampil seksi dan menggoda di depan kamera ponsel atau webcam saat chatting dengan lawan jenisnya.

Seperti kasus foto bugil “Yuk Kota Mojokerto”, di akhir tahun 2005 yang beredar luas di dunia maya. Sebuah website menyambut tamunya dengan tulisan “Hot News!, Finalis Yuk Kota Mojokerto 2005, She was study on SMA 1 Puri Mojokerto.” Di dalamnya terdapat lima buah foto seorang gadis yang diduga sebagai Endang Christy Handayani, di atas ranjang dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Meski Christy membantah, namun kasus itu telanjur membuat statusnya sebagai Puteri Mojokerto dicopot. (penapendidikan.com, 02/04/08)

Pren, kasus Cianjur atau Mojokerto, cuman sebagian kecil aja yang nongol ke permukaan media. Ibaratnya fenomena gunung es, dibawahnya masih banyak rekaman video porno atau pose bugil made in pelajar. Udah banyak yang dilakukan ortu atau pihak sekolah guna mengerem laju perilaku remaja yang makin liar ini. Namun hasilnya masih belum kelihatan. Makanya kita mesti tahu dulu apa penyebabnya, biar solusinya tepat bin jitu van tokcer. Betul?

Produk Permisifisme Barat
Sejumlah penelitian yang dilakukan terhadap para remaja menunjukkan kecenderungan revolusi perilaku remaja dalam urusan seks. Seperti hasil survei Synovate Research tentang perilaku seksual remaja (15 – 24 tahun) di kota Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan, September 2004. Hasilnya, 44% responden mengaku mereka sudah pernah punya pengalaman seks di usia 16-18 tahun. Sementara 16% lainnya mengaku pengalaman seks itu sudah mereka dapat antara usia 13-15 tahun. Selain itu, rumah menjadi tempat paling favorit (40%) untuk melakukan hubungan seks. Sisanya, mereka memilih hubungan seks di kos (26%) dan hotel (26%). (penapendidikan.com, 02/04/08)

Penelitian mutakhir dilakukan oleh Dr Rita Damayanti saat meraih program doktoralnya di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Ia meneliti 8.941 pelajar dari 119 SMA atau yang sederajat di Jakarta, tahun 2007 lalu. Hasilnya, sekitar 5% pelajar telah melakukan perilaku seks pranikah. (idem)

Salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam perubahan perilaku remaja dalam urusan seks adalah masuknya budaya barat ke negara berkembang seperti Indonesia. Banyaknya media remaja yang getol menyajikan budaya Barat semakin mendekatkan remaja pada kehidupan serba boleh (permissif ) alias bebas berbuat selama nggak ganggu orang lain. Termasuk dalam urusan seks.

Karena di beberapa negara Barat, perilaku seks bebas remaja emang tinggi banget. Pitchkal (2002) melaporkan bahwa di AS, 25% anak perempuan berusia 15 tahun dan  30% anak laki-laki usia 15 tahun telah berhubungan intim. Di Inggris, lebih dari 20% anak perempuan berusia 14 tahun rata-rata telah berhubungan seks dengan tiga laki-laki. Di Spanyol, dalam survei yang dilakukan tahun 2003, 94,1% pria hilang keperjakaannya pada usia 18 tahun dan 93,4% wanita hilang keperawanannya pada usia 19 tahun. (Iwan Januar, ’Sex Before Married?’, 2007).

Sikap permissif remaja dalam urusan seks juga dikampanyekan oleh film-film remaja produksi luar negeri. Seperti film American Pie. Film ini dengan gamblang mengupas budaya mesum di kalangan remaja amerika. Mulai dari perilaku anak cewek yang doyan mengekspos daya tarik seksualnya, cara berpikir mayoritas remaja yang beorientasi seks, hingga ’perjuangan’ untuk melepaskan keperjakaan atau keperawanan saat prom night. Dan sialnya, kampanye budaya mesum secara terselubung juga sering kedapatan dalam tayangan sinetron remaja atau film layar lebar produksi lokal.

Otomatis dong, remaja pribumi yang imut-imut mulai berani bertingkah amit-amit. Dr Rita Damayanti bilang, perilaku permisif remaja dalam masalah seks berawal dari proses pacaran. Masuknya budaya luar lewat hiburan, bikin remaja kian bebas dalam berpacaran. Berdasarkan penelitiannya, perilaku remaja laki-laki menjadi jauh lebih agresif dibandingkan dengan remaja perempuan. Mereka tak hanya terbiasa dengan ciuman bibir, tapi sudah berani melakukan hal-hal yang lebih jauh, mulai dari meraba dada, hingga akhirnya melakukan seks pranikah.

Makanya, jauh-jauh hari Islam udah bilang supaya menjauhi aktivitas pacaran before married yang pastinya mendekati zina. Tapi kita sering ngotot kalo masih bisa jaga diri. Emang, diri kita jaga biar nggak ketahuan karena gerakan tangan grapa-grepe ke sana-sini. Padahal jelas-jelas Allah swt ngingetin kita  dalam firman-Nya:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isrâ (17): 32)

Selamatkan Remaja Dengan Islam
Biar budaya mesum nggak makin banyak makan korban, kudu ada penanganan serius dari semua pihak. Karena budaya mesum nggak cuman bikin moral dan masa depan remaja hancur berantakan. Tapi juga turut menyeret remaja dalam perilaku aborsi, penularan penyakit menular seksual, hingga prostitusi. Dan keliatannya, Islam sebagai landasan hukum yang pasti dan terperinci kudu dipake masyarakat dan negara untuk menahan laju serangan budaya mesum.

Dalam Islam, tentu saja negara kudu aktif menertibkan pornografi-pornoaksi dan pelaku seks bebas. Karena kalo dibiarkan apalagi dilokalisasi, sama aja melestarikan budaya mesum. Untuk itu Islam dengan tegas menghukum pelaku zina yang belum menikah (perjaka dan gadis) dengan sanksi jilid (dera) sebanyak 100 kali plus “bonus” pengasingan selama satu tahun. Sabda Nabi saw, “Perawan dan bujang (yang berzina) didera seratus kali dan dibuang selama setahun.” (HR. Muslim). Sementara kalo pelakunya udah merit, hukumannya lebih berat lagi. Dirajam hingga mati. Moga-moga pada nyadar ya…

Masyarakat juga mesti aktif mencegah penyemaian benih-benih budaya mesum. Kalo ada yang pacaran, terus mojok berdua di tempat sunyi, tegor aja. Jangan nunggu sampe bunting dulu. Kalo serius berhubungan, segera deh lanjut ke pelaminan. Kalo cuman maen-maen, mending nggak daripada manen dosa tiap hari. Bukannya kita mo ikut campur, cuman ngejaga lingkungan dari murka Allah swt. Rasul saw bersabda, “Jika zina dan riba telah merajalela pada suatu desa, maka Allah mengizinkan kehancurannya.” (HR. Abu Ya’la).

Terakhir, kedudukan kita sebagai manusia jauh lebih mulia dibanding cacing tanah, ulet keket, dan sejenisnya. So, jangan rendahkan diri kita dengan menganut gaya hidup permissif atau budaya mesum yang menuhankan hawa nafsu. Allah swt berfirman:

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Al-Furqân [25]: 43-44)

Makanya, selain penerapan hukum Islam oleh negara dan kepedulian masyarakat, pembinaan mental dan keimanan remaja juga kudu dilakukan guna membentengi remaja dari budaya mesum dan sikap permissif. Sehingga lahir rasa malu bermaksiat dan takut kepada azab Allah swt yang akan menjaga martabat remaja meski jauh dari pengawasan ortu atau guru. Jadi, ayo kita selamatkan remaja dari jeratan budaya kapitalis sekuler dengan Islam. Ikut ngaji, siapa takut![hafidz/bukamata/syabab.com]