Meyakinkan Orang Bodoh dalam 1 Menit

Assalaamu’alaikum,

Ini adalah debat yang terjadi antara aku dan seorang yang dungu tentang keyakinan kita, dan Alhamdulillah merupakan hal yang mudah untuk meyakinkannya.

Orang Bodoh: Kamu para salafi adalah para pelaku takfiri, bagaimana kalian bisa tega mengatakan seorang yang mengatakan “La ilaha illa Allah” sebagai seorang Kafir? Apakah kamu tidak takut kepada Allah? Hanya Allah yang tahu apa yang ada di dalam hati manusia. Kamu nggak bisa memanggil setiap orang dengan sebutan Kafir kecuali kamu tahu apa yang ada di hati mereka, dan ini adalah suatu hal yang tidak mungkin.

Aku: Okey, coba beritahu aku, jika seseorang berkata: “La ilaha illa Allah” sementara dia masih percaya bahwa yesus adalah anak Allah… akankah dia kita sebut sebagai seorang Muslim?

Orang Bodoh: Tidak, pastinya bukan lah..

Aku: Jadi kita menyadari bahwa seseorang yang mempunyai keyakinan Kufur adalah seorang Kafir, walaupun dia telah mengatakan Shahadah.. benar begitu?

Orang Bodoh: Ya, itu adalah benar.

Aku: Jadi.. Bagaimana tentang seseorang yang mengucap syahadah tetapi dia masih menghina Allah (swt) dan Islam.. apakah ini dianggap sebagai seorang Muslim?

Orang Bodoh: Tentu bukan.

Aku: Jadi kita menyadari bahwa seorang yang berkata Kufur dengan jelas adalah seorang Kafir, walaupun dia mengucap Syahadah, benar?

Orang Bodoh: Ya, itu adalah benar.

Aku: Dan bagaimana tentang seseorang yang telah mengucapkan Syahadah, tapi dia masih tak berdaya terhadap berhala, dan menginjak-injak Qur’an dengan sengaja.. apakah dia seorang Muslim?

Orang Bodoh: Tidak dia bukanlah Muslim.

Aku: Jadi kita menyadari bahwa seseorang yang melakukan tindakan Kekufuran adalah seorang Kafir, sekalipun dia mengucap Syahadah, benar?

Orang Bodoh: Ya, itu adalah benar.

Aku: Oleh karena itu kita menyadari bahwa tidak setiap orang yang mengucapkan “La ilaha illa Allah” adalah seorang Muslim.. jika dia melakukan Kekufuran, dia adalah seorang Kafir, dan pernyataan itu tidak akan membawa manfaat baginya.. Jadi mengapa kamu menyalahkan kami dengan memanggil mereka yang jatuh kepada kekufuran sebagai Kuffar?

Orang Bodoh: Lalu bagaimana kamu menjelaskan Hadith Usama bin Zaid (raa) ketika dia membunuh lelaki yang mengatakan “la ilaha illa Allah”?

Aku: Apakah lelaki itu menunjukkan Kekufuran setelah dia mengucapkan pernyataan itu?

Orang Bodoh: Nggak.

Aku: Jadi mengambilnya sebagai bukti menjadi invalid.. dan marilah aku mengingatkanmu tentang kisah Abu Bakr (raa) dengan kaum Murtaddeen.. mereka telah mengucapkan Shahadah, sholat, puasa.. tetapi tidak membayar Zakat.. SEMUA Sahabat tetap memanggil mereka sebagai kaum Murtaddeen.. karena mereka menunjukkan tindakan Kekufuran.

Orang Bodoh: Ya.. (Kemudian hal tersebut mengarahkan pembuktian bahwa para penguasa kita tengah melakukan Kekufuran secara jelas).

Sumber : Ar Rahmah (v-i)

Puasa, Obat Mujarab Jiwa yang Tandus dan Gersang

Segala pujian hanya bagi Allah sungguh banyak keajaiban-keajaiban yang ditemukan dalam fenomena kehidupan manusia, disebabkan memang betul-betul aneh dan seolah tidak masuk aqal sebagaimana ajaibnya terjadinya kehidupan dimuka bumi

Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya (Tuhan) Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 41:39)

Bagaimana kita tidak terheran-heran dan ta’jub terhadap terciptanya kehidupan di muka bumi. Tempat yang dahulunya panas dan tandus, dalam proses demi proses terciptalah air, tanaman, hewan, dan manusia. Bahkan karagaman dan keteraturan berbagai makhluq yang ada benar-benar sesuatu yang ajaib dan benar-benar sulit dipercaya aqal.

Manusia yang berlumur dosa dan sering melampaui batas akan memiliki JIWA yang gersang yang tandus, JIWA yang tidak mau beribadah kepada Allah, yang lebih suka menyejajarkan JIWAnya dengan materi alias materialis atau juga atheis.

Dosa membuat JIWA manusia menjadi rendah, JIWA yang buta dan tuli, JIWA yang tidak lagi mampu mengenal Allah Tuhan Yang Maha Pencipta. Tidak akan lagi merasakan lezatnya beribadah kepada Allah, tidak mau lagi menta’ati aturan-aturan Allah dan bahkan terus berkiprah untuk menentang Allah. Hidupnya hanya untuk menumpuk-numpuk dosa, sehingga JIWAnya semakin panas dan gersang untuk menuju tempat abadi di neraka. Naudubillahi min dzalika.

Dan janganlah sekali-kali orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. (QS. 3:178)

Murka Allah kepada orang-orang yang menentang Allah demikian besar, namun tetap saja diberi kesempatan hidup hingga suatu waktu. Waktu yang masih diberikan inilah yang seharusnya digunakan untuk bertaubat dan merubah segala langkah-langkah salah yang telah ditempuhnya.

Puasa termasuk jalan ajaib untuk menghidupkan hati, sehingga iman yang hampir punah dan mati dapat segera disiram dengan taubat dan ibadah-ibadah yang menumbuhkan dan menyuburkan iman, sehingga dapat kembali menemukan ibadah kepada Allah adalah jalan hidup utama yang harus ditempuh dan ditekuni.

Banyak dosa-dosa yang bila bertumpuk-tumpuk akan menjadi besar dan menutup hati, perhatikan sabda Rasulullah yang artinya

Rasulullah Saw ditanya tentang sebab-sebab paling banyak yang memasukkan manusia ke surga. Beliau menjawab, “Ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang baik.” Beliau ditanya lagi, “Apa penyebab banyaknya manusia masuk neraka?” Rasulullah Saw menjawab, “mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban

Siapa yang memberi jaminan kepadaku untuk memelihara di antara rahangnya (mulut) dan di antara kedua pahanya (kemaluan) niscaya aku menjamin baginya surga. (HR. Bukhari)

Tanpa disadari kegersangan manusia di jaman hari ini banyak diawali dari suatu sebab yang keliatannya sangat sepele namun bila dibiarkan tumbuh berkembang dalam JIWA seseorang atau pula tumbuh di masyarakat maka akan menjadi sesuatu yang menggersangkan JIWA.

Pernahkah kita meneliti satu demi satu dosa-dosa yang dapat timbul yang disebabkan oleh penyimpangan perbuatan mulut dan kemaluan???, Ketidak mampuan manusia untuk menghindari segala penyimpangan mulut dan kemaluan merupakan dosa yang dianggap kecil namun membuahkan dosa yang membawa manusia menuju neraka.

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS. 7:176)

Kelalaian dan ketidak waspadaan JIWA sering diawali oleh penyimpangan mulut, perut dan kemaluan. Kelalaian dalam beribadah kepada Allah diawali dari jatuhnya kwalitas JIWA akibat memperturutkan kesenangan mulut dan kemaluan, sehingga berkembang menjadi kelalaian-kelalaian yang berskala besar dengan dosa yang besar-besar dengan skala yang sangat luas

Bagaimana kamu apabila dilanda lima perkara? Kalau aku (Rasulullah SAW), aku berlindung kepada Allah agar tidak menimpa kamu atau kamu mengalaminya. (1) Jika perbuatan mesum dalam suatu kaum sudah dilakukan terang-terangan maka akan timbul wabah dan penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu. (2) Jika suatu kaum menolak mengeluarkan zakat maka Allah akan menghentikan turunnya hujan. Kalau bukan karena binatang-binatang ternak tentu hujan tidak akan diturunkan sama sekali. (3) Jika suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan maka Allah akan menimpakan paceklik beberapa waktu, kesulitan pangan dan kezaliman penguasa. (4) Jika penguasa-penguasa mereka melaksanakan hukum yang bukan dari Allah maka Allah akan menguasakan musuh-musuh mereka untuk memerintah dan merampas harta kekayaan mereka. (5) Jika mereka menyia-nyiakan Kitabullah dan sunah Nabi maka Allah menjadikan permusuhan di antara mereka. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Puasa sebagai latihan bagi JIWA manusia untuk menahan penyimpangan mulut dan kemaluan. Sesuatu yang halal namun ditata kembali untuk digunakan pada jalan-jalan yang di ridhoi oleh Allah. Baik dalam menata ucapan dan perbuatan. (mta-online)

Tips Melatih Anak Berpuasa

Bulan Ramadhan adalah bulan yang terlalu istimewa untuk dilewatkan begitu saja tanpa perencanaan dan persiapan yang memadai, biak oleh kita yang telah dewasa terlebih bagi anak kita terkait dengan pentingnya menanamkan kebiasaan baik sejak dini. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, maka orang tua dapat secara pro aktif merencanakan persiapan bagi putra putrinya menyambut dan mengisi Ramadhan.

PUASA ALA BALITA dan ANAK.

Balita ahli meniru. Mereka belum memahami  arti puasa. Tapi mereka memiliki kepekaan terhadap perbedaan suasana khusus bulan Ramadhan ini. karenanya sebagai orang tua kita diharapkan dapat :

1. Menanamkan image menarik/kesan positif tentang puasa ke dalam benak balita anda disesuaikan dengan cara-cara yang sesuai dengan pola pemahaman mereka. Ciptakan kreativitas dalam memasukkan kesan positif dan menyenangkan tentang puasa, dalam merancang beragam kegiatan dan pengalaman menyenangkan berkaitan dengan suasana ramadhan. sehingga menjadi kenangan yang sangat berkesan dalam memory anak, sehingga memberikan dorongan motivasi yg kuat untuk semakin menunggu kedatangannya di tahun2 berikutnya.

Beberapa faktor yg dapat menimbulkan kesan positif diantaranya :

• kreatif, unik, aneh dalam kegiatan/materi. Ramadhan 30 hari lamanya, terlalu panjang dan sia2 jika hanya dihabiskan untuk menonton TV.

• Menyenangkan.

• Melibatkan Emosi .

2. Sebaiknya tidak memaksanya sahur di waktu yg biasa. Jika kebetulan terbangun ajaklah ikut sahur bersama, segelas susu hangat cukup membuatnya diikutsertakan dalam sahur

3. Namun jika tak bisa /tdk mau bangun di waktu sahur, jangan memaksanya. Lakukan latihan secara bertahap, disesuaikan dengan kemampuan anak. Mulailah  dg sahur di pagi hari sebelum berangkat sekolah lalu mulai berpuasa menahan lapar dan haus hanya selama di sekolah.
Tahapan latihan berpuasa :
•  semampu anak
•  6 jam   :  Subuh – jam 10.00
•  8 jam   : Subuh – zuhur
•  10 jam : Subuh – jam 14.00
•  Penuh  : Subuh – maghrib

4. Hargai semangatnya untuk berlatih berpuasa, seperti apapun bentuk puasanya.

5. Berikan penghargaan atas usahanya bisa berupa pujian/perhatian/kasih sayang ataupun berupa benda yang yang mereka sukai atau butuhkan. Penghargaan hendaknya juga meningkat kualitasnya sebanding dengan prestasinya/ meningkatnya kemampuan anak untuk berpuasa. Pada usia balita mereka baru bisa memandang segala sesuatu dg cara kongkrit, maka akan lebih baik jika anda memberi penghargaan ‘puasa ini dengan kongkrit pula.
misalnya :

•  membuatkan hidangan favoritnya  yang istimewa di saat berbuka.
•  memberi ‘bintang’ prestasi sebagai penghargaan atas prestasinya puasa atau mengaji iqro setiap hari. Bintang prestasi tsb nantinya dapat ditempel di dinding. jika mencapai jumlah tertentu anda bisa janjikan membelikannya sepatu/tas baru atau barang-barang yang dibituhkan atau diinginkannya.

Poin-poin penilaian untuk mendapatkan bintang Prestasi dimusyawarahkan bersama anak, kemudian ditulis di lembar penilaian yg dapat digantung di dinding.

Contoh poin2 penilaian :
Makan sahur
Puasa 6 jam Subuh – jam 10.00
Puasa 8 jam Subuh – zuhur
Puasa 10 jam Subuh – jam 14.00
Puasa Penuh : Subuh – maghrib
Shalat zuhur
Shalat asar
Shalat maghrib
Shalat isya
Mengaji Al Qur’an
Shalat tarawih
Infaq
Pelajari hadits
Menahan marah

Konsep dasar pemberian penghargaan :

a.  Usaha sebagai standar nilai, bukan hasil. Penghargaan diberikan sesuai berat ringannya usaha yang telah dilakukan.

b.  Penghargaan diberikan secara bertahap.

c.  Hadiah / imbalan tidak harus berupa materi ; bisa dg cara meminjamkan buku cerita kesukaannya, membacakan cerita, , membuatkan mainan, jalan2 bersama, bermain, memberikan kebersamaan, perhatian dan kasih sayang yang lebih banyak.

d.  Jika hendak memberi hadiah uang, sebaiknya ajari pula cara mengelolanya. jika tidak, bukan tak mungkin membuat anak kecanduan. pastikan mereka sudah mampu membelanjakannya dengan bijaksana.

e.  Jangan mengingkari janji,  maka buatlah janji yg realistis. Hadiah sederhana diberikan dalam waktu dekat. Hadiah istimewa/mahal dijanjikan untuk jangka panjang.

6.  Jangan terburu-buru memvonis anak gagal dalam puasanya. pelajari dan koreksi dimana letak hambatan yang dialami anak. Apakah karena orangtua terlalu memaksakan kehendak, ataukah minimnya dukungan sekolah dan lingkungan, atau faktor lainnya

Kemampuan anak untuk mulai berlatih puasa berbeda-beda. tergantung pada seberapa besar faktor positif dan negatif di lingkungan memberikan pengaruh. Faktor lingkungan meliputi : keluarga, sekolah dan teman sepermainan. Lapar atau tidaknya seorang anak tergantung dari bagaimana motivasi yang timbul dari dalam dirinya, dan bagaimana lingkungan memunculkan motivasi ini. Situasi rumah, sekolah dan lingkungan yang mendukung memberi pengaruh terbesar kepada  motivasi anak untuk berpuasa. Kita dapat memilihkan lingkungan terbaik  bagi mereka,  lingkungan yang mendukung baik di rumah maupun di sekolah.

DI RUMAH

•  Tak ada makanan dan minuman yang  terhidang di meja makan.
•  Carikan bergam alternatif kegiatan yang positif, menyenangkan dan membuat   mereka lupa pada rasa haus dan laparnya.
•  anggota keluarga secara bergantian menemani mereka dalam melakukan kegiatan2 tsb.
•  Berikan penghargaan sesuai usahanya.

DI SEKOLAH

•  Sekolah merancang kegiatan khusus bagi anak selama bulan Ramadhan.
•  Guru memberi motivasi
•  Disediakan hadiah bagi yang berprestasi melaksanakan amalan dalam bulan   Ramadhan.
•  Pesantren Ramadhan.
•  Kantin ditutup

PENGARUH TEMAN

Pengaruh teman bisa saja mengalahkan pengaruh orang tua.
Karena itu berpuasa hendaknya jangan dipaksa, karena bisa jadi paksaan hanya akan mendorong anak belajar berbohong. Mengikuti orang tuanya di rumah, tetapi mengikuti perilaku teman-temannya di luar rumah.

Satu cara terbaik bagi orang tua untuk memberikan dukungan penuh bagi putra-putrinya agar mau berlatih puasa yaitu dengan menciptakan suasana mendukung di rumah, memilihkan sekolah terbaik dan mencarikan tetangga serta teman-teman yang baik pula bagi pergaulan anak. (Prima Yuniarti/voa-islam.com)

Kandungan Strategi Dakwah

Strategi ini berupa usaha besar-besaran dalam menjalankan ‘dakwah yang benar dengan cara yang benar.’

Ini adalah sebagai konsekuensi dari keyakinan bahwa sumber problematika ummat adalah dominasi Jalesat (kejahilan, kelengahan, dan kesesatan) atas kehidupan ummat.

1. Yang dimaksud dengan ‘dakwah yang benar’ adalah dakwah yang kandungannya sebagai berikut:

a. Ilmu yang benar

Yaitu ilmu sirotulmustaqim, jejak Rasulullah dan para sahabatnya, manhaj ahlussunnah wal jama’ah yang asli. Manhaj robbani yang benar-benar sunnah dan tidak tercemarkan oleh campur tangan kotor dari manusia.

b. Mau’izhoh

Nasihat-nasihat dan pengingatan-pengingatan yang terus menerus.

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan mau’izhoh (nasihat yang baik) dan bantahlah mereka dengan cara yang baik …” (QS. An Nahl: 125)

c. Tarbiyah

Penanaman prinsip-prinsip dan pemahaman-pemahaman Islam secara men-dalam serta pembimbingan penerapannya. Tarbiyyah juga diartikan ‘tazkiyah’ yaitu pembersihan jiwa.

d. Amar ma’ruf nahi mungkar

Allah swt berfirman:

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah “. (QS. Ali ‘Imran: 110)

e. Qudwah (keteladanan)

Yaitu contoh-contoh hidup pada diri para da’i sehubungan dengan penerapan ilmu-ilmu yang dipelajari.

Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)

Karena itu para da’i pun harus menjadi teladan (setelah Rasulullah saw) bagi para mad’u (orang yang diseru / sasaran dakwah).

f. Penjelasan-penjelasan tentang kesesatan manhaj ahlul bid’ah dan musuh-musuh Islam serta makar-makar mereka, agar kaum muslimin tidak tertipu makar-makar musuh-musuhnya.

Allah swt berfirman:

“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al-Quran supaya jelas jalan orang-orang yang penuh dosa”. (QS. An ‘Aam: 55)

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak me-malingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu… “. (QS. Al Maidah: 49)

“Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah mem-binasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebe-naran)?” (QS. Al-Munaafiquun: 4)

2. Adapun yang dimaksud dengan cara yang benar adalah:

a. Mengemukakan Tauhid sebagai dasar semua substansi dakwah. Allah swt berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu…”. (QS. An-Nahl: 36)

Kemudian Ittiba’ (pengikutan) kepada Rasulullah saw. Allah swt berfirman:

“Katakanlah: “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Dan Allah Maha Peng-ampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali ‘Imran: 31)

b. Pelaksanaan dakwah yang teroganisir

Misi ini adalah misi yang sangat berat dan tidak mungkin dilaksanakan tanpa berjama’ah dan terkoordinasi. Rasulullah saw pun telah melaksanakan dakwah beliau dengan ‘amal jama’i’ bersama para sahabatnya. Bukan dengan sendirian, misalnya dengan berpindah-pindah dari satu tempat lainnya menyeru manusia pada agama Islam tanpa kesinambungan akan tetapi beliau menentukan tempat pusat dakwahnya, menugaskan para sahabatnya dengan tugas-tugas dakwah dan mengkoordinasikan mereka menerima dakwah beliau dengan sistem hijrah ke Madinah. Allah swt pun telah mengisyaratkan pentingnya hal ini dalam firman-Nya:

“… dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (QS. Al-Maidah: 2)

c. Merangkul para mad’u yang sudah menerima seruan dakwah dalam suatu keterikatan yang mulia untuk terus dibina dan bersama-sama me-neruskan dakwah. Hal ini sangat penting untuk mereka yang sudah menerima dakwah yang benar. Sebab hidup sendirian tanpa kebersamaan di tengah-tengah kondisi yang tidak kondusif ini, akan sangat sulit baginya untuk mem-pertahankan prestasi Islami yang didapat dari dakwah itu, apalagi untuk me-nambah prestasi tersebut.

d. Berhikmah

Arti berhikmah selain dengan ilmu adalah dengan cara sebaik-baiknya sesuai dengan kondisi dan pola berpikir manusia yang didakwahkan.

Sementara itu, hal pokok lainnya dalam dakwah yaitu,

1. Tujuan Dakwah

a. Tersebarnya Hidayah secara luas dan jelasnya jalan yang ditempuh (sirotulmustaqim).

b. Tegaknya Tauhid pada setiap kehidupan individu muslim.

c. Berdirinya Tauhid pada kehidupan ummat dalam bentuk dan lingkup masyarakat Islami.

d. Pengawalan kemurnian Islam.

2. Hasil yang diharapkan dari tercapainya tujuan

a. Bangkitnya ummat dari keterpurukan terhadap penyelisihan sirotul-mustaqim.

b. Keselamatan di dunia dan akhirat.

3. Jalan pelaksanaan

a. Penyuluhan-penyuluhan Ilmiyyah.

b. Penyebaran sarana-sarana Ilmiyyah cetak, elektronik dan sebagainya.

c. Dakwah, Tarbiyah dan Qudwah hasanah(teladan yang baik).

d. Perekrutan potensi ummat untuk ikut berperan dalam kebangkitan dengan bermacam-macam konstribusi.

Red.ummatie