“Sudah haji, kok masih…”

Pertanyaan besar, mengapa jumlah haji di suatu desa misalnya, tidak seiring dengan perubahan sosial desa tersebut? Baik dibidang pendidikan, pengentasan kemiskinan, dsb. Mengapa jumlah haji di Indonesia yang meningkat setiap tahun tidak berbanding lurus dengan terselesaikannya masalah kebangsaan: korupsi, kemiskinan, rendahnya pendidikan, jeleknya mutu kesehatan dan ancaman disintegrasi bangsa. Apakah fenomena ini berarti bahwa para haji tidak mencapai Mabrur?

Ritual haji merupakan jalan reflektif bagi manusia untuk mencapai kejatidiriannya. Manusia dengan kesadaran penuh sebagai manusia, bukan manusia yang sudah terasing dari kemanusiaannya sehingga bertingkah tidak selayaknya manusia: menghisap, menindas dan memeras sesamanya.

Mungkin karena diantara mereka  yang naik haji tidak mendasarkan niatnya secara tepat. Ada saja sementara orang yang naik haji, hanya karena mengikuti apa yang dilakukan oleh teman, tetangga, atau orang pada umumnya atau hanya sekedar seremoni belaka dengan segala kelebihannya.

Sehingga banyak yang sudah haji, kok masih korupsi? Sudah haji, kok, pakaiannya masih seronok? Sudah haji, kok, perilaku negatifnya tidak berubah? Bahkan banyak orang yang naik haji, tetapi sholatnya belum komplit, apalagi sempurna. Dan sederet pertanyaan membumbung setiap kali musim haji tiba.

Prosesi haji itu seakan tidak membekas begitu sampai di Tanah Air. Mengapa semua itu terjadi? Sudah banyak buku yang mengupas dan membahas tentang haji.

Setiap tahun, sedikitnya Indonesia mengirim 220.000 jamaah. Jamaah terbesar di dunia yang pergi ke Tanah Suci, Mekkah. Tapi, begitu sampai ke kampung halaman, pertanyaan “sudah haji, kok …” terus saja terulang.

Berawal dari pijakan yang salah sampai kesalahan lainnya ibadah haji jadi tidak berkah dan benar sebagai contoh operasional haji dari hasil bunga bank. Biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) yang dikelola oleh Departemen Agama se`bagian besar dikelola Bank-Bank konvensional, dana yang diterima oleh Depag jumlahnya mencapai triliunan rupiah, kalau setiap jamaah menyetorkan uang muka 20 juta rupiah sebagai pembayaran tahap awal, kalau kuota Haji Indonesia terdapat 210.000 jamaah maka akan terhimpun dana 4,1 triliun yang mengendap di Bank, padahal saat ini kuota untuk jamaah haji Indonesia hingga tahun 2010 sudah penuh, maka akan ada puluhan triliun dana haji yang telah mengendap di Bank tempat jamaah menyetorkan BPIH yang sebagian besar masih menggunakan Bank konvensional.

Lebih ironisnya lagi bunga Bank dari setoran biaya perjalanan haji diambil oleh Departemen Agama digunakan oleh panitia pelaksana ibadah haji (PPIH) sebagai operasional penyelenggaraan haji, mulai dari operasional petugas, hingga penyediaan fasilitas operasional haji yang jumlahnya mencapai puluhan miiyar, secara syariah tentunya uang yang diperoleh dari bunga Bank Konvensional tersebut adalah riba dan haram hukumnya.

Uang riba yang dikelola oleh Depag tentunya akan mempengaruhi keberkahan pelaksanaan ibadah haji tentunya dan berpengaruh terhadap kebersihan uang yang dikelola dari tabungan Bank jamaah. Padahal Bank Syariah yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mengelola dana setoran haji yang diperoleh jamaah haji sangat jelas dari segi hukum syariah. Di samping itu dengan menggunakan Bank Syariah dana setoran haji jamaah dapat terjaga dari segi pemanfaatannya dan membantu perekonomian umat, sementara Bank Konvensional belum tentu dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat Islam.

BPIH jamaah haji sudah seharusnya dikelola oleh Bank Syariah yang jelas-jelas bisa dimanfaatkan untuk kepentingan umat Islam. Mengambil bunga BPIH dari bank konvensional merupakan riba yang sangat mengganggu keberkahan pelayanan haji. Karena bunga Bank secara hukum Islam adalah haram, dan mengelola ibadah dengan uang haram adalah masalah besar yang harus dituntaskan dalam mencapai haji yang mabrur dan berkualitas.

Merapatkan dan Meluruskan Shaff Simbol Persatuan Umat

Rasulullah  bersabda:

((اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ))

“Luruskanlah shaff, janganlah kalian membengkokkan shaff, sebab hal itu menjadikan hati-hati kalian berselisih. (HR. Muslim)

Makna Hadits Secara Umum

Bencana yang menimpa pada komunitas kaum muslimin dewasa kini adalah ketika mereka jauh dari ajaran Nabi Muhammad . Hal demikian berakibat pada pelaksanaan ibadah jauh dari tuntunan  dan pedoman Nabi. Salah satunya a-dalah tidak merapatkan dan meluruskan shaff saat melaksanakan shalat ber-jama’ah.

Fenomena ini bisa dilihat pada hampir sebagian besar masjid di tanah air kita. Bahkan, ada sebagian mereka yang menganggap aneh bila ada orang yang me-nunaikan shalat berjama’ah dengan merapatkan shaff. Yang lebih memilukan hati adanya pernyataan bahwa merapatkan shaff dapat mengurangi kekhusyu’an dalam shalat berjama’ah.

Padahal, adanya perintah dari Rasulullah untuk meluruskan shaff dan ancaman bagi yang memutuskan shaff. Rasulullah  bersabda,

((سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاَةِ))

“Luruskanlah shaff-shaff kalian, sesungguhnya meluruskan shaff merupakan kesempurnaan shalat.” (HR. Muslim).

Beliau  juga bersabda,

((وَلاَ تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهََُ))

“Janganlah kalian meninggalkan tempat kosong untuk setan. Barangsiapa yang menyambung shaff, maka Allah akan menyambungnya. Barangsiapa yang me-mutuskan shaff, maka Allah akan memutuskannya.” (HR. Abu Daud dan Ahmad)

Merapatkan dan meluruskan shaff bukanlah sekedar formalitas ritual tak bermakna, namun masalah ini memiliki efek positif bagi persatuan dan kesatuan umat. Efek inilah yang tak disadari dan dimengerti oleh mayoritas kaum muslimin.

Pada hadits di atas, Rasulullah  menjelaskan aspek batin akibat tidak me-rapatkan dan meluruskan shaff. Perselisihan, perseteruan, persengketaan, dan tidak bersatunya hati di atas satu kata antar umat Islam merupakan wujud nyata ada di hadapan kita akibat dari hal yang demikian. Bahkan dalam hadits yang lain, Rasulullah  bersabda,

لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ

“Hendaklah kalian meluruskan shaff-shaff kalian, atau Allah akan memalingkan wajah-wajah kalian.” (HR. Bukhari)

Imam Nawawi berkata dalam kitab Syarah Muslim tentang makna hadits di atas sebagai berikut, “Terjadinya permusuhan di antara kamu, perseteruan dan perselisihan, sebagaimana halnya perkataanmu, “Ekspresi wajah si fulan berubah terhadapku, saya melihat dari raut wajahnya kebencian kepadaku, hati dan sikap-nya berubah kepadaku.“ Hal ini tidak lain karena tidak lurusnya mereka di dalam shaff shalat sebagai bentuk dan simbol perbedaan mereka secara zhahir, dan perbedaan hal yang dzahir ini merupakan sebab timbulnya perbedaan dalam batin.”

Cobalah kita perhatikan secara seksama ! Mengapa merapatkan dan melu-ruskan shaff berakibat pada menyatukan dan menghimpun hati dalam bingkai ukhuwah?

Jawabannya adalah orang yang shalat saat merapatkan shaff menempelkan bahunya dengan bahu orang lain yang ada disampingnya, menempelkan kaki-nya dengan kaki temannya, menempelkan lututnya dengan lutut temannya, dan menempelkan kakinya dengan kaki temannya. Hal demikian menumbuhkan ikatan tali ukhuwah dan persatuan hati antar sesama orang yang menunaikan shalat berjama’ah. Persatuan aspek hati akan membuahkan persatuan aspek anggota badan.

Rapatkanlah dan luruskanlah shaff, tidakkah kalian merasa senang jika Allah  menyambung dan menyatukan hati-hati kalian? Janganlah kalian me-mutuskan shaff sehingga Allah akan memutuskan dan men-cerai-beraikan hati-hati kalian? Dan ketahuilah Allah menjadikan kemaslahatan umat terletak pada tangan kalian, entah umat itu menjadi kuat dan kokoh atau justru umat itu menjadi lemah dan bercerai-berai, maka jadikanlah umat Islam menjadi umat yang  kuat dan tegar, oleh karena itu hindarkanlah dari perseteruan dan kelemahan, dan segeralah untuk merapatkan shaff dan meluruskannya, karena dalam hal de-mikian mencerminkan sifat  keutuhan, kekuatan, dan persatuan.

Pelajaran yang Dapat Diambil dari Hadits di atas

  1. Perintah meluruskan dan merapatkan shaff.
  2. Urgensi meluruskan dan merapatkan shaff dalam shalat ber-jama’ah.
    1. Allah menyatukan dan menghimpun hati-hati orang yang merapatkan shaff.
    2. Allah memalingkan wajah bagi yang membelokkan shaff.
    3. Meluruskan shaff merupakan kesempurnaan shalat.

Oleh: Arifin, S.H.I

Majalah UMMATie Edisi Oktober 2009

Ramadhan Tinggal 10 Hari, Sudah Sampai Mana Bacaan Al Qur’an Kita?

Sunnah dalam bulan Ramadhan adalah membaca Al Qur’an. Karena waktu itu, Jibril dan Rasulullah melakukan tadarus Al Qur’an. Para Salaf pun telah melakukan hal serupa, lalu bagaimana dengan kita?

Hidayatullah.com–Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur`an. Bahkan Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya, bahwa di tiap tahunnya Jibril Alaihissalam membacakan Al Qur`an kepada Rasulullah SAW, dan itu dilakukan di tiap-tiap malam selama Ramadhan.

Oleh sebab itu, dengan berpedoman dengan hadits ini, Al Hafidz Ibnu Hajar berpendapat bahwa terus-menerus membaca Al Qur`an di bulan Ramadhan akan menambah kemulyaan bulan itu. (Fath Al Bari,9/52).

Karena itulah, para salaf amat memperhatikan dan “menggalakkan” amalan tilawah, dandalam bulan mulia ini.

Adalah Aswad bin Yazid An Nakha’i Al Kufi. Disebutkan dalam Hilyah Al Auliya (2/224) bahwa salah satu tabi’in ini mengkhatamkan Al Qur`an dalam bulan Ramadhan setiap dua hari, dan beliau tidur hanya di waktu antara maghrib dan isya, sedangkan di luar Ramadhan beliau menghatamkan Al Qur`an dalam waktu 6 hari.

Adapula Qatadah bin Diamah, dalam hari-hari “biasa”, tabi’in ini menghatamkan Al Qur`an sekali tiap pekan, akan tetapi tatkala Ramadhan tiba beliau menghatamkan Al Qur`an sekali dalam tiga hari, dan apabila datang sepuluh hari terakhir beliau menghatamkannya sekali dalam semalam .(Al Hilyah, 2/228).

Tabi’in lain, Abu Al Abbas Atha’ juga termasuk mereka yang “luar biasa” dalam tilawah. Di hari-hari biasa ia menghatamkan Al Qur`an sekali dalam sehari. Tapi di bulan Ramadhan, Abu Al Abbas mempu menghatamkan 3 kali dalam sehari. (Al Hilyah 10/302).

Manshur bin Zadan, termasuk tabi’in yang terekam amalannya di bulan diturunnya Al Qur`an ini. Hisham bin Hassan bercerita, bahwa di bulan Ramadhan, Manshur mampu menghatamkan Al Qur`an di antara shalat Maghrib dan Isya’, hal itu bisa beliau lakukan dengan cara mengakhirkan shalat Isya hingga seperempat malam berlalu. Dalam hari-hari biasapun beliau mampu menghatamkan Al Qur`an sekali dalam sahari semalam. (Al Hilyah, 3/57).

Sedangkan Abu Hanifah, dalam bulan Ramadhan juga mampu menghatamkan Al Qur’an dua kali dalam sehari. Sekali di siang hari, sekali di alam harinya. Bahkan Ibnu Mubarak mengatakan, “Abu Hanifah menghatamkan Al Qur’an dalam 2 rakaat” (Manaqib Al Imam Abi Hanifah, 1/241-242)

Imam As Syafi’i sendiri mampu menghatamkan Al Qur’an 60 kali dalam bulan Ramadhan. (Lathai`if Al Ma’arif, hal.400)

Lalu bagaimana dengan kita?

Puasa, Obat Mujarab Jiwa yang Tandus dan Gersang

Segala pujian hanya bagi Allah sungguh banyak keajaiban-keajaiban yang ditemukan dalam fenomena kehidupan manusia, disebabkan memang betul-betul aneh dan seolah tidak masuk aqal sebagaimana ajaibnya terjadinya kehidupan dimuka bumi

Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya (Tuhan) Yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. 41:39)

Bagaimana kita tidak terheran-heran dan ta’jub terhadap terciptanya kehidupan di muka bumi. Tempat yang dahulunya panas dan tandus, dalam proses demi proses terciptalah air, tanaman, hewan, dan manusia. Bahkan karagaman dan keteraturan berbagai makhluq yang ada benar-benar sesuatu yang ajaib dan benar-benar sulit dipercaya aqal.

Manusia yang berlumur dosa dan sering melampaui batas akan memiliki JIWA yang gersang yang tandus, JIWA yang tidak mau beribadah kepada Allah, yang lebih suka menyejajarkan JIWAnya dengan materi alias materialis atau juga atheis.

Dosa membuat JIWA manusia menjadi rendah, JIWA yang buta dan tuli, JIWA yang tidak lagi mampu mengenal Allah Tuhan Yang Maha Pencipta. Tidak akan lagi merasakan lezatnya beribadah kepada Allah, tidak mau lagi menta’ati aturan-aturan Allah dan bahkan terus berkiprah untuk menentang Allah. Hidupnya hanya untuk menumpuk-numpuk dosa, sehingga JIWAnya semakin panas dan gersang untuk menuju tempat abadi di neraka. Naudubillahi min dzalika.

Dan janganlah sekali-kali orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. (QS. 3:178)

Murka Allah kepada orang-orang yang menentang Allah demikian besar, namun tetap saja diberi kesempatan hidup hingga suatu waktu. Waktu yang masih diberikan inilah yang seharusnya digunakan untuk bertaubat dan merubah segala langkah-langkah salah yang telah ditempuhnya.

Puasa termasuk jalan ajaib untuk menghidupkan hati, sehingga iman yang hampir punah dan mati dapat segera disiram dengan taubat dan ibadah-ibadah yang menumbuhkan dan menyuburkan iman, sehingga dapat kembali menemukan ibadah kepada Allah adalah jalan hidup utama yang harus ditempuh dan ditekuni.

Banyak dosa-dosa yang bila bertumpuk-tumpuk akan menjadi besar dan menutup hati, perhatikan sabda Rasulullah yang artinya

Rasulullah Saw ditanya tentang sebab-sebab paling banyak yang memasukkan manusia ke surga. Beliau menjawab, “Ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang baik.” Beliau ditanya lagi, “Apa penyebab banyaknya manusia masuk neraka?” Rasulullah Saw menjawab, “mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban

Siapa yang memberi jaminan kepadaku untuk memelihara di antara rahangnya (mulut) dan di antara kedua pahanya (kemaluan) niscaya aku menjamin baginya surga. (HR. Bukhari)

Tanpa disadari kegersangan manusia di jaman hari ini banyak diawali dari suatu sebab yang keliatannya sangat sepele namun bila dibiarkan tumbuh berkembang dalam JIWA seseorang atau pula tumbuh di masyarakat maka akan menjadi sesuatu yang menggersangkan JIWA.

Pernahkah kita meneliti satu demi satu dosa-dosa yang dapat timbul yang disebabkan oleh penyimpangan perbuatan mulut dan kemaluan???, Ketidak mampuan manusia untuk menghindari segala penyimpangan mulut dan kemaluan merupakan dosa yang dianggap kecil namun membuahkan dosa yang membawa manusia menuju neraka.

Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS. 7:176)

Kelalaian dan ketidak waspadaan JIWA sering diawali oleh penyimpangan mulut, perut dan kemaluan. Kelalaian dalam beribadah kepada Allah diawali dari jatuhnya kwalitas JIWA akibat memperturutkan kesenangan mulut dan kemaluan, sehingga berkembang menjadi kelalaian-kelalaian yang berskala besar dengan dosa yang besar-besar dengan skala yang sangat luas

Bagaimana kamu apabila dilanda lima perkara? Kalau aku (Rasulullah SAW), aku berlindung kepada Allah agar tidak menimpa kamu atau kamu mengalaminya. (1) Jika perbuatan mesum dalam suatu kaum sudah dilakukan terang-terangan maka akan timbul wabah dan penyakit-penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu. (2) Jika suatu kaum menolak mengeluarkan zakat maka Allah akan menghentikan turunnya hujan. Kalau bukan karena binatang-binatang ternak tentu hujan tidak akan diturunkan sama sekali. (3) Jika suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan maka Allah akan menimpakan paceklik beberapa waktu, kesulitan pangan dan kezaliman penguasa. (4) Jika penguasa-penguasa mereka melaksanakan hukum yang bukan dari Allah maka Allah akan menguasakan musuh-musuh mereka untuk memerintah dan merampas harta kekayaan mereka. (5) Jika mereka menyia-nyiakan Kitabullah dan sunah Nabi maka Allah menjadikan permusuhan di antara mereka. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Puasa sebagai latihan bagi JIWA manusia untuk menahan penyimpangan mulut dan kemaluan. Sesuatu yang halal namun ditata kembali untuk digunakan pada jalan-jalan yang di ridhoi oleh Allah. Baik dalam menata ucapan dan perbuatan. (mta-online)

Begini nich Ramadhannya Anak Muda!

Bulan puasa memang seharusnya menjadi bulan yang asyik. Asyik untuk beribadah dan melakukan pedekate sama Allah. Tetapi ternyata, bagi sebagian besar pemuda dan remaja kita, asyiknya Ramadhan hanya berakhir dengan hura-hura semata. Duh kasihan kan? Pahala yang sedemikian luas hanya terbuang percuma.
Kalau dilihat nih, ternyata ada beberapa fenomena yang cukup membuat kita mengelus dada dan selalu bertanya, kenapa kayak gitu sih? Ini kan puasa?

Masalah Pakaian
Hum, ini kayaknya masalah yang cukup bikin pusing. Anak anak ABG meski bulan puasa tetep saja pakaiannya tidak ikutan puasa. Segala yang seksi, yang mini, yang memamerkan aurat ternyata masih saja ada. Mereka pede-pede saja memakainya seolah tanpa merasa dosa. Mereka tidak sadar, atau pura-pura tidak sadar, kalau pakaian mereka itu bisa bikin puasa kita berkurang pahalanya. Kok bisa kurang? Ya iya lah kalau kelamaan memandang mereka kan bisa berdosa karena tidak menundukkan pandangan. Akan lebih selamat, kalau mereka menghormati muslimin yang berpuasa dengan berpakaian sopan. Selain itu sehat bagi mata, juga sehat bagi harga dirinya sebagai makhluk hawa. Wah jadi ingat yang mau pakai bikini cuma pengen dapet gelar ratu sejagad ya, hum, di bulan ramadan lagi. Ampun, ampun deh…

Masalah Ngabuburit
Puasa itu laper nggak sih? Ya laper lah. Nah, karena laper inilah banyak remaja kita yang ingin menghibur diri dengan aneka macem kegiatan. Mereka melakukan banyak hal agar, rasa lapernya itu bisa terhibur sehingga tidak akan merasa laper lagi. Masalahnya adalah, pilihan kegiatannya itu sering kali tidak menambah keberkahan puasanya. Mereka pergi ke mall, melihat pemandangan indah. Gadis yang berlalu lalang. Atau sekedar belanja mata, alias hanya membelanjakan matanya melihat barang-barang mewah. Emang mau beli? Ya enggak sampai beli sih, karena mampunya cuma melihat saja. Hehehe..

Ada pula yang lebih memilih menghabiskan waktu di depan tv. Melihat tayangan yang monoton, kalau enggak lawak, filem kartun. Kalau bukan itu, pasti acara musik yang lama-lama bikin bosen.
Ada pula yang malah pergi ke warnet, pacaran, atau melakukan tindakan negatif lainnya. Kenapa ga baca Quran saja sih? Kan waktunya bisa sangat berpahala. Karena membaca satu huruf mendapatkan sepuluh kebaikan. Puasanya nggak batal, pahalanya malah semakin bertambah banyak. Enak tho?

Mercon, Dor!
Masalah satu ini juga sudah cukup membuat pusing. Aparat keamanan sudah merazia di banyak tempat, tapi tetep saja ada orang bermain mercon. Anehnya lagi, mereka membeli, menyalakannya, tapi merekalah orang yang pertama kali menutup telinganya. Aneh! Lalu buat apa mereka membunyikan suara Dor yang kenceng itu. Tidak lain dan tidak bukan karena mereka ingin mengganggu orang lain. Parah kan? Puasa malah ingin mengganggu orang dan bukan malah ingin memberi manfaat bagi orang lain. Memangnya mereka mau jadi teroris ya yang suka main bom. Harusnya mereka agak lebih dewasa dikit, bahwa orang lain itu juga butuh ketenangan. Jadi kalau mau mainan mercon mending di tengah lautan yang luas. Dibeli sendiri, dinyalai sendiri, dan dengerin sendiri. Jadi inget Thukul tuh, puas, puas, puas…

Asmara Subuh
Apa yang terjadi di subuh hari? Di saat jamaah pada khusuk mendengar kuliah subuh, pasangan muda-mudi justru asyik memadu cinta di pinggir sawah, kali dan jalanan raya. Mereka merayakan cintanya di bulan suci. Di bulan di mana para setan dibelenggu, namun malah berdua di tempat-tempat sepi menunggu pagi. Amboi, fenomena apa ini? Bukankah mereka seharusnya puasa, tidak hanya menahan lapar dan dahaga tapi juga menahan hasrat di dalam dada? Lalu buat apa mereka puasa kalau tangannya kemana-mana. Buat apa puasa kalau ternyata bermaksiat karena cinta? Lucu kan? Dibela-belain laper sama haus seharian, eh tenyata cuma buat maksiat kayak gitu. Sayang banget kan?

Yah itu semua sayangnya sudah menjadi tren dan budaya. Masyarakat juga sudah terlanjur menerimanya dan menganggapnya sebagai kewajaran saja.

Saatnya Mendekati Mereka

Inilah saatnya kita balik ke salafushalih. Kembali mengenal agama yang hanif, puasa yang barakah, dan Ramadan yang penuh keikhlasan. Kita kudu kreatif mengemas kegiatan di bulan Ramadhan yang islami, syar’i dan nggak bakalan bikin keki. Agar puasa kita penuh dengan amal-amal kesealihan dan bukan amal-amal yang penuh kesia-siaan.

Makanya kudu pinter meras otak mengemas acara Ramadan yang bagus-bagus di masjid. Jangan Cuma takjilan saja yang dipikiri, tetapi juga muatan dan pengemasan ceramah yang asyik buat anak muda. Karena bisa jadi persoalannya bukan pada kontennya, tetapi pada pengemasannya yang kurang menawan. Remaja perlu dikenalkan dengan mengisi waktu di bulan puasa dengan cara-cara cerdas. Menikmati setiap kedekatan hati dengan Sang Pemilik Hati. Mencari bekal ukhrawi dengan lantunan ayat suci, bersedekah dan shalat dengan sepenuh hati.

Remaja kayak kita ini tidak boleh ditinggalkan sendiri. Kita harus ditemani untuk melampaui bulan suci ini. Kita harus dikenalkan target-target amalan sebagaimana yang telah dilakukan oleh para sahabat Nabi. Jangan cuma bengong di rumah tanpa aktivitas, karena bulan suci ini sangatlah berarti. Makanya bro, jangan nunggu lama-lama untuk berubah dan memoles diri. Saatnya mengisi bulan suci dengan aksi nyata untuk agama kita. Bukan cuman senang-senang dan having fun ajah!

Oleh Burhan Sodiq (v-i)

Mempersoalkan Bid’ah

Sudah dijelaskan sebelumnya, arti dari kata Sunnah, dan pada kesempatan ini kita menyelami arti bid’ah. Bid’ah adalah semua aqidah, amal perbuatan atau peribadatan yang mengatasnamakan Islam tetapi tidak pernah disyari’atkan oleh Islam. Jadi, semua bentuk ritual keagamaan yang dilakukan untuk mengharapkan pahala dari Allah swt tetapi tidak ada dalam ajaran-ajaran Rasulullah saw, adalah bid’ah. Demikian pula, cara memahami dan menerapkan Islam yang berbeda dengan manhaj Rasulullah saw dan para sahabatnya adalah bid’ah.

Berikut ini beberapa hal yang berkaitan dengan bid’ah yang harus diketahui:

1. Dari segi berat dan ringannya, bid’ah terbagi dalam dua tingkatan, yaitu bid’ah mukaffiroh (bid’ah yang menjadikan pelakunya kafir) dan bid’ah ghoir mukaffiroh (bid’ah yang tidak menjadikan pelakunya kafir).

Pelaku bid’ah mukaffiroh, biasanya tidak disebut sebagai ahlul bid’ah, tetapi sudah termasuk kuffar (orang-orang kafir), seperti orang yang berdoa dan memohon kepada makhluk mengenai hal-hal yang semestinya hanya diminta kepada Allah swt saja, seperti meminta keturunan kepada kuburan-kuburan dan lain-lain. Sedangkan bid’ah ghoir mukaffiroh, pelakunya masih diakui sebagai muslim. Contohnya, orang yang merayakan tahun baru Islam.

2. Bid’ah dari segi bentuknya, terbagi menjadi dua macam, yaitu bid’ah haqiqiyah (bid’ah asli) atau murni, artinya bid’ah yang memang tidak ada asalnya sama sekali pada ajaran Islam (contohnya seperti merayakan tahun baru Islam) dan bid’ah idofiyah (bid’ah penambahan), yaitu bid’ah yang sebenarnya merupakan amal perbuatan yang asalnya syar’i tetapi ditambah-tambah, seperti berdzikir secara jama’ah.

Bid’ah dalam istilah syar’i hanya mencakup hal-hal yang berkaitan dengan agama (aqidah, peribadatan dan syari’at secara umum), dan tidak mencakup selain itu.

Suatu amal peribadatan bisa terkategorikan bid’ah manakala terpenuhi unsur-unsurnya.

Sebuah amal mempunyai beberapa unsur seperti: isi, waktu, cara, kadar dan lain-lainnya. Bid’ah mungkin bisa terjadi pada salah satu dari unsur-unsur tersebut atau semuanya. Contohnya berdzikir bersama-sama (dengan berbarengan) dan dengan suara yang keras. Berdzikir itu sendiri adalah sunnah dan isinya pun bisa sunnah, seperti istigfar atau kalimat tauhid, tetapi bila dilakukan dengan cara berbarengan maka hal ini terkategorikan bid’ah. Dalam hal ini bid’ah yang bercampur dengan sunnah dalam suatu amal peribadatan maka secara keseluruhan amal tersebut masuk dalam kategori bid’ah.

3. Bid’ah juga terbagi atas bid’ah aqidah dan bid’ah ‘amaliyah. Karena aqidah lebih penting dari amal jasmani, maka bid’ah pada aqidah pun lebih buruk dari bid’ah ‘amaliyah, bahkan kebanyakan bid’ah ‘amaliyah didorong oleh bid’ah aqidah.

Semua bid’ah dalam agama (Islam) adalah buruk dan sesat, tidak seperti yang dikatakan oleh sebagian orang bahwa bid’ah terbagi dua yaitu; bid’ah sayyiah (buruk) dan bid’ah hasanah (baik).

Keburukan Bid’ah

Dengan menyimak hadits-hadits Rasulullah saw dan perkataan para salafussoleh di bawah ini, kita akan lebih menyadari keburukan dan bahaya bid’ah.

Rasulullah saw bersabda:

“Berhati-hatilah kalian dari hal-hal yang baru, sesungguhnya setiap hal yang baru itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)

“Barangsiapa yang membuat hal-hal baru dalam agama ini, yang bukan bagian darinya, maka hal tersebut tertolak.” (HR. Bukhori)

“Sesungguhnya Allah telah mencegah taubat bagi orang yang mengerjakan bid’ah, sehingga ia meninggalkan bid’ahnya.” (HR. Thabrani dengan sanad yang hasan)

Imam Baihaqi dalam Sunanulkubro meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia berkata:

“Sesungguhnya perkara yang paling dibenci Allah swt adalah bid’ah, dan di antara bid’ah adalah i’tikaf di masjid-masjid yang ada di dalam rumah-rumah.”

Hasan Basri berkata:

“Allah tidak akan menerima puasa, shalat, haji dan umroh dari ahli bid’ah hingga ia meninggalkan bid’ahnya.”

Muhammad bin Aslam berkata:

“Barangsiapa yang menghormati ahlul bid’ah, maka sesungguhnya ia telah memberikan pertolongan untuk merobohkan Islam!”

Abu Ma’sar berkata:

“Aku bertanya kepada Ibrahim tentang sesuatu yang menyangkut hawa nafsu ini (bid’ah), kemudian ia berkata: “Allah tidak menjadikan sedikit kebaikan pun padanya. Bid’ah adalah suatu dorongan dari setan. Maka ikutilah agama yang murni!”

Ayub Sikhtiyani berkata:

“Tambah giat seorang ahlul bid’ah berbuat bid’ah, tambah jauh pula ia dari Allah.”

Sufyan Tsauriberkata:

“Bid’ah lebih disukai Iblis dari pada maksiat. Maksiat dapat diharapkan bertaubat orangnya, sedangkan bid’ah tidak diharapkan taubatnya.”

Fudhail bin ‘Iyad berkata:

“Apabila engkau melihat seorang ahlul bid’ah di jalan, tempuhlah olehmu jalan lain. Tidak ada suatu amal pun dari ahlul bid’ah yang sampai kepada Allah. Barangsiapa yang membantu seorang pelaku bid’ah, maka berarti dia telah membantu merobohkan Islam!”

Cukupkah hanya Niat?

Ketika sebagian orang melakukan bid’ah, mereka beralasan bahwa amal mereka dilakukan dengan niat yang baik, tidak bertujuan melawan syari’at, tidak mempunyai pikiran untuk mengoreksi agama, dan tidak terbersit dalam hati untuk melakukan bid’ah ! Bahkan sebagian mereka berdalil dengan hadits Nabi saw, “Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat” (Muttafaq Alaihi)

Padahal seharusnya hadits ini dipahami sebagai penjelasan tentang salah satu dari dua pilar dasar setiap amal, yaitu ikhlas dalam beramal dan jujur dalam batinnya sehingga yang selain Allah tidak meretas ke dalamnya.

Adapun pilar kedua adalah, bahwa setiap amal harus sesuai Sunnah Nabi saw, seperti dijelaskan dalam hadits, “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada keterangannya dari kami maka dia tertolak”. Dan demikian itulah kebenaran yang dituntut setiap orang untuk merealisasikan dalam setiap pekerjaan dan ucapannya.

Atas dasar ini, maka kedua hadits yang agung tersebut adalah sebagai pedoman agama, baik yang pokok maupun cabang, juga yang lahir dan yang batin. Dimana hadits, “Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat” sebagai timbangan amal yang batin. Sedangkan hadits “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak ada keterangannya dari kami maka dia tertolak” sebagai tolak ukur lahiriah setiap amal.

Dengan demikian, maka kedua hadits tersebut memberikan pengertian, bahwa setiap amal yang benar adalah bila dilakukan dengan ikhlas karena Allah swt dan mengikuti Rasulullah saw, yang keduanya merupakan syarat setiap ucapan dan amal yang lahir maupun yang batin.

Oleh karena itu, siapa yang ikhlas dalam setiap amalnya karena Allah dan sesuai sunnah Rasulullah saw, maka amalnya diterima, dan siapa yang tidak memenuhi dua hal tersebut atau salah satunya maka amalnya tertolak.

Dan demikian itulah yang dinyatakan oleh Fudhail bin Iyadh v ketika menafsirkan firman Allah : “Supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya” Beliau berkata, ‘Maksudnya, dia ikhlas dan benar dalam melakukannya. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima. Dan jika dia benar, tetapi tidak ikhlas maka amalnya juga tidak diterima. Adapun amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan karena Allah, sedang amal yang benar adalah bila dia sesuai dengan Sunnah Rasulullah.”

Ibnul Qayyim berkata, “Sebagian ulama salaf berkata, “Tidaklah suatu pekerjaan meskipun kecil melainkan dibentangkan kepadanya dua catatan. Mengapa dan bagaimana ? Yakni, mengapa kamu melakukan dan bagaimana kamu melakukan?

Pertanyaan pertama tentang alasan dan dorongan melakukan pekerjaan. Apakah karena ada interes tertentu dan tujuan dari berbagai tujuan dunia seperti ingin dipuji manusia atau takut kecaman mereka, atau ingin mendapatkan sesuatu yang dicintai secara cepat, atau menghindarkan sesuatu yang tidak disukai dengan cepat ? Ataukah yang mendorong melakukan pekerjaan itu karena untuk pengabdian kepada Allah dan mencari kecintaan-Nya serta untuk mendekatkan diri kepada Allah swt?

Artinya, pertanyaan pertama adalah, apakah kamu mengerjakan amal karena Allah, ataukah karena kepentingan diri sendiri dan hawa nafsu?

Adapun pertanyaan kedua tentang mengikuti Rasulullah saw dalam pengabdian itu. Artinya, apakah amal yang dikerjakan sesuai syari’at Allah yang disampaikan Rasul-Nya? Ataukah pekerjaan itu tidak disyari’atkan Allah dan tidak diridhai-Nya?

Pertanyaan pertama berkaitan dengan ikhlas ketika beramal, sedangkan yang kedua tentang mengikuti Sunnah. Sebab Allah tidak akan menerima amal kecuali memenuhi kedua syarat tersebut. Maka agar selamat dari pertanyaan pertama adalah dengan memurnikan keikhlasan. Sedang agar selamat dari pertanyaan kedua adalah dengan mengikuti Rasulullah saw dalam mengerjakan setiap amal. Jadi amal yang diterima adalah bila hatinya selamat dari keinginan yang bertentangan dengan ikhlas dan juga selamat dari hawa nafsu yang kontradiksi dengan mengikuti Sunnah”.

Kesimpulannya, bahwa sabda Nabi saw, “Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat” itu maksudnya, bahwa segala amal dapat berhasil tergantung pada niatnya. Ini adalah perintah untuk ikhlas dan mendatangkan niat dalam segala amal yang akan dilakukan oleh seseorang dengan sengaja, itulah yang menjadi sebab adanya amal dan pelaksanaannya.

Red.ummatie