VIDEO: Ribuan Warga Syi’ah Wuquf di Karbala

Seperti dikutip Eramuslim.com (bagi yang belum tahu ada baiknya membaca dulu berita ini dari  Eramuslim.com):

Sumber-sumber berita resmi Irak menyatakan bahwa ribuan warga Syi’ah dari Iran dan negara-negara Teluk melaksanakan wuquf di Karbala, sebagai pengganti wuquf di Arafah, Selasa (23/11).

Berikut ini kami mendapatkan video yang diposting di youtube.com yang menayangkan tawaf  mereka di kabah buatan mereka sendiri yang berada ditanah karbala irak. Walaupun video ini bukan video baru lagi yang telah di posting di youtube.com bahkan video ini sudah marak beredar beberapa tahun yang lalu.

Namun sebagi bentuk kepedulian kami terhadap perkembangan Islam khususnya di tanah air kami merasa perlu dan penting untuk menyampaikan masalah ini.

video diatas adalah pernyataan dari Imam besar Syiah yang menyatakan kedudukan dan keutamaan Karbala dibanding Kabah di Mekkah.

Video kedua ini menunjukkan mereka yang sedang wukuf di Kabah Karbala Irak dan kutipan pidato imam mereka tentang keutamaan dan kedudukan kabah.

Sebagai seorang muslim sudah selayaknya kita memperdalam lagi pengetahuan tentang agama ini agar tidak melegalkan dan menghalalkan paham-paham yang menghancurkan akidah islam termasuk pengetahuan tentang rukun islam. Barangsiapa merubah rukunnya berarti telah keluar dari Islam itu sendiri.

Peranan Media dalam Aktivitas Propaganda

Majalah UMMATie Edisi 01/th. 1 Rajab 1428/ Agustus 2007

Mengungkap Kebohongan Media Barat

Propaganda adalah sebuah pesan yang bersifat khusus yang ditujukan untuk menyebarkan sebuah agenda, filosofi atau pandangan terhadap suatu masalah. Biasanya propaganda sering digunakan di dalam konteks politik; terutama dalam upaya-upaya yang didukung oleh pemerintah atau kelompok politik.

Dan itulah yang diusung oleh musuh-musuh Islam, melalui media-media Barat (AS) mereka melancarkan propaganda dan membentuk opini-opini masyarakat yang berlawanan dengan fakta, serta menyajikan berita-berita yang bias mengenai Islam.
Tercantum di dalam Psychological Operations Field Manual No. 331 yang dipublikasikan pada bulan Agustus 1979 oleh Department of the Army Headquarters di Washington DC, salah satu alat untuk melancarkan operasi psikologi adalah propaganda media. Bahkan propaganda media juga diatur dalam Psychological Operations (PSYOP) Media Subcourse PO-0816 oleh The Army Institute for Professional Development, yang dipublikasikan pada tahun 1983.

Mengapa media dipilih dalam aktifitas propaganda?

Mc.Luhan, penulis buku Understanding Media: The Extensive of Man, menyebutkan bahwa media massa adalah perpanjangan alat indera kita. Dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang atau tempat yang belum pernah kita lihat atau belum pernah kita kunjungi secara langsung. Realitas yang ditampilkan media massa adalah realitas yang sudah diseleksi.

Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan mengesampingkan tokoh yang lainnya. Surat kabar pun, melalui proses yang disebut “gatekeeping” lebih banyak menyajikan berbagai berita tentang “darah dan aurat” daripada tentang contoh dan teladan.

Dan biasanya kita tidak bisa, atau bahkan tidak sempat untuk mengecek peristiwa-peristiwa yang disajikan media. Boleh dibilang, orang cenderung memperoleh informasi tersebut semata-mata berdasarkan pada apa yang dilaporkan media massa.

Sedangkan pada saat ini secara tidak sadar kebanyakan orang telah menjadi korban propaganda media-media Barat.

Kebohongan Media

Bukan apa yang mereka katakan, tetapi apa yang mereka tidak katakan. Bohong bermacam-macam bentuk dan ragamnya. Kebohongan mungkin terdapat dalam kebenaran parsial, fakta yang diseleksi, kutipan dan informasi yang ditempatkan di luar konteksnya, perspektif sejarah yang terpotong-potong, atau fakta yang diinterpretasikan secara salah. Dan memanipulasi publik bukanlah perkara sulit.

Jerry D. Gray mendefinisikan jurnalisme di dalam bukunya, “Jurnalisme sebagai penulisan yang dicirikan dengan menyajikan langsung faktafakta atau gambaran berbagai peristiwa tanpa upaya menginterpretasikan dan tanpa opini. Sedangkan berita merupakan sebuah laporan tentang peristiwa-peristiwa yang baru terjadi.”

Menyimpang dari definisi di atas, media berita tak selalu menyajikan laporan sesuai dengan faktanya. Bahkan mereka berani berbohong 100%, berbeda 180 derajat dengan fakta yang ada.

Sebagai contoh adalah, pelanggaran Majalah TIMES terhadap prinsip pemberitaan berimbang (cover both sides) dalam artikel berjudul “Confession of Terrorist Al-Qaeda” edisi 23 Desember 2002.

Pada edisi tersebut Abu Bakar Ba’asyir disebut TIMES sebagai pendiri MMI. Padahal, MMI didirikan oleh Kongres Mujahidin pada 5 Agustus 2000. Selain itu, pemberitaan yang ditulis Romesh Ratnesar itu juga menyebut Ba’asyir sebagai aktor intelektual di balik sejumlah peledakan bom di Indonesia dan Malaysia sejak 1999. Sumber informasi yang dipakai TIMES adalah kesaksian Umar Al-Faruq kepada Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA). Dikatakan, Umar Al-Faruq mengaku diperintah Ba’asyir untuk melakukan berbagai pengeboman, diantaranya di sejumlah gereja pada malam natal dan di Masjid Istiqlal pada 1999. Padahal, Mahkamah Agung sudah memutuskan, Ba’asyir tidak terkait dengan bom natal dan Istiqlal.

Majalah TIMES sudah melanggar prinsip pemberitaan berimbang (tidak ada cover both sides dan Ustadz Ba’asyir tidak pernah diwawancarai untuk konfirmasi) serta prinsip jurnalisme yaitu memberikan informasi akurat dan terpercaya yang dibutuhkan publik agar berfungsi dalam masyarakat sekarang ini.

Dan tidak hanya Majalah TIMES saja, banyak jaringan berita kabel maupun satelit di AS berperan dalam membohongi masyarakat internasional dan terkhusus warga Amerika sendiri untuk kepentingan Gedung Putih.

Amerika adalah negara tempat mayoritas orang dimanipulasi untuk mendukung kebijakan-kebijakan yang telah didesain untuk menipu mereka. Ini adalah tempat berlakunya prinsip menghalalkan segala cara, dan korupsi adalah falsafah pemerintahan.

Ungkapan seorang Maxwell King cukup menjadi bukti bahwa dunia penuh dengan kebohongan dan muslihat pemimpin Barat yang didukung media korporat yang didominasi kepentingan atau pihak tertentu sebagai alat propaganda yang hanya menyajikan sedikit fakta, yang tanpa disadari dibuat oleh media pemberitaan dan media dengan jangkau siar luas. Nyaris setiap hari corong-corong semacam TIME, CNN, MSNBC, FOX NEWS melansir berita “sepihak”. Tidak jarang muncul fenomena “jurnalisme stereotype” yang sudah lebih dulu memiliki asumsi dan abstraksi dalam membingkai isu atau fakta dengan bingkai yang dipengaruhi prasangka sehingga bias dan keliru dalam memahami Islam dan umat Islam. Tidak sedikit media massa secara sadar atau tidak, tergiring genderang yang ditabuh Amerika Serikat. Jika ditelusuri politik pemberitaannya hanya membidik Islam dan umat Islam sebagai potensi ancaman bagi kepentingannya.

Adhian Husaini mengatakan bahwa Barat mengontrol informasi dunia dan memproduk rata-rata enam juta kata per hari, sementara Timur (Islam) hanya mampu memproduk 500 ribu kata per hari. Dari perbandingan produksi kata melalui berbagai jenis media cetak, elektronik, dan dunia maya tampak jelas bahwa penyebaran nilai yang terus menerus dicangkokan ke benak manusia adalah nilai-nilai, doktrin, ideologi serta budaya Barat. Tengok jaringan informasi seperti CNN yang ditayangkan 24 jam terus-menerus melalui jaringan satelit yang bisa ditonton di seluruh pelosok dunia melakukan cuci otak tanpa henti. Media massa nasional pun lebih banyak merujuk kepada informasi yang diproduksi oleh kantor berita seperti UPI, Reuters, dan BBC. Tidak ada ceritanya media di Indonesia mengambil referensi dari As Sahab, Ar Rahmah, Al Muhajirun, atau secara mandiri mengembangkan informasi tanding.

Kepentingan Siapa?

Tercatat beberapa media yang berada di bawah kontrol Yahudi; The New York Times (terbit sejak 1941), The Wall Street Journal, dan The Washington Post. The Times (Inggris), The Daily Express, The News Chronicle, The Daily Mail, The Observer, The Mirror, koran The Sun dan The Times yang dimiliki Rupert Murdoch, mantan warga Australia yang pernah mendapat hadiah Bintang David, sebuah penghargaan tertinggi yang disampaikan oleh warga Yahudi-Israel. Selain itu ada juga Majalah Time, Newsweek, U.S. News & World Report. Di bawah payung perusahaan Time Warner Communication yang dipimpin seorang Yahudi bernama Gerald Levin, Majalah mingguan Time, mencapai sirkulasi hampir 4,1 juta. Newsweek, di bawah orang Yahudi bernama Katherine Meyer Graham telah memiliki sirkulasi mencapai hampir 3,2 juta eksemplar.

Fu`ad bin Sayyid Abdurrahman ar-Rifa’I dalam bukunya Yahudi dalam Informasi dan Organisasi, me-nunjukkan bagaimana kaum Yahu massa, perfilman, keuangan dan lembaga dunia. Kantor berita terbesar dunia, Reuters, dibangun keturunan Yahudi, Julius Reuters. Kantor berita besar lainnya, Associated Press, International News Service dan United Press International, juga dimiliki orang Yahudi. Bahkan, surat kabar yang tidak terlalu besar pun, seperti The Sunday Times, The Chicago Sun Times dan The City Magazine, tidak mereka lepaskan.

Tak salah jika George Gerbner dalam bukunya Mass Media and Human Communication Theory (1967) menyebutkan, “Mass Communication is the technologically and institutionally based production and distribution of the most broadly shared continous flow of messages in industrial societies” (Komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri).

Sumber:

  • Jerry D. Gray, Dosa-Dosa Media Amerika
  • Fu`ad bin Sayyid Abdurrahman ar-Rifa’i,  Yahudi dalam Informasi dan Organisasi
  • journalism.org

 

AS Jadi Negara Atheis?

Selamat datang, kaum Atheis! Itulah gambaran yang mulai terlihat di AS saat ini. Memang betul, di negara Paman Sam, gerakan tanpa Tuhan sedang menjamur dimana-mana.

Di Florida misalnya, dari hanya 5 orang atheis lima tahun lalu, sekarang jumlahnya mencapai 500 orang! Luar biasa. Itulah yang dikatakan oleh Bob Senatore, dari FLASH atau Florida Atheists and Secular Humanists, Rabu kemarin (26/08). “Kami tumbuh melalui lompatan dan ikatan,” tuturnya pada AFP.

Beberapa tahun ini, para kelompok atheis di AS memang melakukan segala cara untuk merekrut pengikut baru. Survai The American Religious Identification menyatakan bahwa dalam 18 tahun terakhir, orang yang mengaku “tak bertuhan” sudah mencapai 15% dari populasi penduduk AS. Di beberapa negara bagian seperti South Carolina, jumlah para atheis bahkan berlipat menjadi tiga kalinya. Universitas Trinity di Connecticut pun mengkaji bahwa pengikut atheis meningkat pesat.

Orang-orang meyakini bahwa maraknya pengikut atheis di AS dalam beberapa tahun belakangan ini dipicu oleh pemerintahan dan kebijakan mantan presiden AS George Bush. Sebagian lainnya mengatakan fenomena ini terjadi karena banyaknya buku anti-agama yang banyak beredar di era Bush. Seiiring dengan peningkatan jumlah penduduk AS yang atheis, begitu pula dengan tuntutan aspirasi mereka. Mereka menuntut pengakuan politik dan sosial. “Sikap kita adalah, ‘Jika kita tidak melakukan sesuatu sekarang, kita akan hidup di bawah sebuah teokrasi,” ujar Bos Senatore lagi.

Orang-orang atheis ini berhubungan satu sama lain melalui internet, menyenggarakan pertemuan resmi dan mengiklankannya lewat papan iklan dan di bus-bus. Dalam lingkup nasional, ada Secular Coalition untuk mewadahi semua organisasi anti-tuhan ini. Mereka menyebutkan bahwa pidato Obama dalam pelantikannyan sebagai ungkapan selama datang dan menyambung pada oang-orang atheis itu.

Saat ini, kelompok ini tengah melobi Kongres AS. “Kami membangun hubungan esensial dengan Kongress, dan kami punya pintu yang sama ke Gedung Putih.” Ujar Sean Faircloth, direktur eksekutif Secular Coalition for America.

“Murtad” Wal Iyadzubillah Dapat Suaka Setelah Pindah Agama

Seorang pria Afganistan, yang tiba di Inggris dalam sebuah jet yang dibajak, memperoleh suaka setelah pindah agama. Pria itu yang namanya tidak disebut itu menggunakan undang-undang hak asasi manusia demi alasan legal untuk mengalahkan Departemen Dalam Negeri Inggris yang hendak mendeportasinya.

Mantan pekerja hotel di Kabul itu mengaku akan dibunuh jika kembali ke negaranya setelah berganti agama. Hal ini berdasarkan hukum syariah. Pria itu merupakan penumpang pesawat Boeing 727 yang dibajak sembilan orang Afganistan pada Februari 2002 dan dipaksa terbang menuju Stansted, Essex, Inggris. Pria berusia 49 tahun dan beranak dua itu pindah agama lima tahun kemudian dan secara teratur pergi ke tempat ibadah dan kelas kitab suci di Hounslow, London barat.

Menurut Daily Mail, Rabu, pengacaranya mengatakan bahwa sebagai seorang yang murtad, dia khawatir akan menghadapi penganiayaan atau bahkan kematian jika kembali ke Afganistan. Pengadilan Banding untuk masalah Suaka dan Imigrasi mengatakan, perpindahannya ke agama lain telah menimbukan permusuhan dari orang Afganistan lain di London yang meludahinya di jalanan.

Dia diancam akan dibunuh oleh dua orang Afganistan yang serumah dengannya dan diperingatkan oleh yang lain bahwa dia akan terbunuh jika dia kembali ke Afganistan.

Pengacara Departemen Dalam Negeri Inggris berargumen bahwa pria itu harus dapat menjalankan keyakinannya jika dia telah berganti agama dan harus siap menerima risikonya. Namun, hakim mengatakan bahwa pulang ke rumah akan menempatkan pria itu dalam penyiksaan. Tindakan pemulangan ini berarti melanggar artikel 3 Konvensi Hak Asasi Manusia Eropa, yang melarang penyiksaan atau kekejaman atau penghukuman.

Para pembajak itu telah dihukum, tetapi kemudian dibebaskan pada tingkat banding. Tahun 2006, mereka diberi diskresi untuk tetap tinggal di Inggris karena Afganistan dinilai “tidak aman”.

“Iran Sebarkan Syiah Lewat Pemberontakan Yaman dan Negara Muslim Lainnya”

Lusinan ulama Saudi menyerukan untuk melawan “agresor” Syiah dengan tangan besi, mengecam apa yang Iran lakukan untuk “mendestabilkan” negara-negara Muslim atas latar belakang perang yang terjadi dengan pemberontak Syiah Yaman.

Pernyataan yang ditandatangani 46 ulama dan khatib senior ini menuduh Iran mengirimkan agen-agennya ke negara-negara Muslim dan mendukung mereka secara finansial maupun militer untuk mendestabilkan negara-negara itu dan menyebarkan Syiah.

“Proyek Iran adalah sebuah cara untuk mengganggu keamanan dan kestabilan, yang merupakan preseden berbahaya dan salah satu bentuk korupsi terhebat di dunia,” pernyataan itu memperingatkan.

“Karena itu, kaum Muslim harus waspada dan berhati-hati, memerangi arus Syiah dan menyebarkan doktrin Sunni.”

Para ulama itu juga menyerukan penghentian terhadap agresor Syiah, terutama jika mereka dipimpin oleh sebuah tangan Syiah yang berusaha memenangkan sebuah pagan baru di tanah suci.

Mereka menuduh Iran berusaha mengekspor doktrin Rafidite (“Rafidi” atau “penolak” adalah istilah yang digunakan oleh sejumlah Sunni untuk menghina kaum Syiah karena menolak kekhalifahan Abu Bakar dan Omar, menekankan hak Ali sebagai satu-satunya khalifah yang sah).

Di antara para penandatangan pernyataan itu adalah Sheikh Nasser bin Suleiman Omr, pengawas umum situs The Muslim, dan Sheikh Suleiman bin Hamad Awda, anggota fakultas di Universitas Qassim dan seorang imam serta khatib.

Rilis pernyataan itu bersamaan dengan peringatan yang dikeluarkan oleh sejumlah khatib sholat Jumat di Arab Saudi, mengecam “peran berbahaya” yang dimainkan oleh pemberontak Syiah Yaman (disebut juga Huthi) dalam perang mereka melawan pemerintahan.

Para khatib itu juga menganggap perang tentara Saudi melawan Huthi adalah “jihad demi Tuhan” melawan “geng penyusup” dan “kelompok yang menyimpang”.

Situs liberal Saudi, “mondiatna”, mempublikasikan sebuah artikel dari para penulis liberal yang menyerukan pembebasan sejumlah wanita Huthi yang ditahan terkait konflik bersenjata antara pasukan Saudi dan “penyusup” Huthi.

Namun, situs itu menghapus artikel tersebut setelah situs kantor berita Saudi yang pro-Syiah mempublikasikan sebuah laporan tentang seruan penangkapan.

Banyak jurnalis dan penulis yang menuduh – sejak dimulainya konflik bersenjata enam putaran antara pasukan Yaman dan pejuang Huthi bulan Agustus tahun lalu – Iran menyediakan dukungan logistik secara langsung, pelatihan dan senjata kepada pemberontak Yaman untuk meraih tujuan yang strategis, termasuk perluasan pengaruh di Tanduk Afrika dan Laut Merah.

Sejumlah figur terkenal Syiah, termasuk pemimpin moderat Sheikh Hassan bin Mussa al Saffar, mengecam “agresi” terhadap kerajaan dan menekankan dukungan penuh mereka kepada kepemimpinan melawan agresi dalam bentuk apa pun.

Meski demikian, banyak pembaca yang mempertanyakan loyalitas Syiah terhadap tanah airnya.

“Jangan percaya pada hal-hal ini. Waspadalah, putra-putra Semenanjung Arab, dari ancaman Iran,” ujar salah satu pembaca.

“Mereka memperlihatkan kebalikan dari apa yang mereka maksud. Berhati-hatilah terhadap para munafik.”

Banyak pembaca yang menolak perang Saudi atas Huthi. Salah satu dari mereka bertanya, “Mengapa kita membedakan dalam menangani sektarianisme ketika itu diterapkan pada diri kita saat kaum Syiah tinggal di Qatif dan Al Ihsa, dan ketika sektarianisme diterapkan pada Huthi atau Syiah Iran atau Syiah Mesir atau Syiah Iran?”

Yang lainnya menulis, “Pemerintah Saudi menutup Masjid-masjid kami dan mencegah kami melakukan sholat. Membela sektarianisme rezim terhadap Huthi atas nama patriotisme akan membuat kita menjadi korban pertama perang dan genosida sektarian.”

Bersamaan dengan perang melawan “penyusup” Huthi, situs jaringan berita Shiite Rasid melaporkan hampir setiap hari pihak keamanan Saudi menahan sejumlah pemuda dari komunitas Syiah di kawasan Timur yang didominasi kaum Syiah dengan tuduhan berpartisipasi dalam peringatan kelahiran Imam Al Hassan bulan September lalu.

Rasid juga melaporkan penutupan sejumlah Masjid Syiah dan pencegahan warga Syiah melakukan sholat berjamaah.

Saat operasi militer terus berlanjut melawan para “penyusup”, sebagian besar koran-koran Saudi terus mengecam kaum Huthi, memandang mereka sebagai afiliasi atau sekutu Iran.

Dengan judul “Kisah tak tersampaikan tentang Huthi dan persoalan lain,” penulis liberal Turki, Hamad, menanyakan, “Mengapa gerakan semacam itu bekerjasama dengan sebuah negara seperti Iran dengan mengorbankan kepentingan nasional?”

“Solusinya terletak pada satu poin utama. Saya rasa itu adalah inkubator semua solusi yang datang setelahnya: Sebuah negara modern yang menjauhkan kita dari konsep negara Arab tradisional, negara modern yang berdasarkan keadilan, kesetaraan, dan peraturan hukum dalam kerangka kerja kewarganegaraan yang sejajar, serta menangani para individu hanya berdasarkan kewarganegaraan,” ujar Hamad.

“Jika tidak, kekerasan atau jatuh ke tangan orang asing hanyalah soal waktu,” tambahnya. (s-m)

Setelah di Tinggal Pasukan AS, Warga Kaki Tangan AS Di Irak Mulai di Habisi Warganya Sendiri

FALLUJAH (SuaraMedia News) – Sinan al-Halabsa, 51, merencanakan untuk meninggalkan Fallujah setelah tentara AS menarik diri dari 25 pangkalan di wilayah tersebut, meninggalkan hanya 3 pangkalan yang tidak berhubungan dengan penduduk lokal.

Al-Halabsa, seorang pemimpin suku, telah menerima ancaman kematian dari penduduk setempat dan kelompok-kelompok militan sejak AS menarik diri dari wilayah itu pada pertengahan 2009 karena dukungannya untuk “musuh” selama dua tahun.

“Ketika saya memutuskan untuk mendukung pasukan AS, saya mengharapkan negara yang lebih baik, bebas dari teroris manapun,” katanya kepada IslamOnline.net.

“Saya bergabung dengan Dewan Kebangkitan berharap untuk mengusir kelompok yang menyerang warga sipil tak berdosa dari Anbar, tetapi semua upaya ini tidak dilihat dengan baik oleh penduduk setempat dan tidak dihargai oleh AS.”

Dewan Kebangkitan, atau kelompok-kelompok Sahwa, adalah kelompok paramiliter Sunni pro-pemerintah lokal yang memainkan peran penting dalam mengalahkan para militan yang ekstra tangguh.

Para pejuang, bekerja dengan dan didanai oleh tentara AS, mampu mendorong militan asing dari beberapa benteng di daerah berpenduduk Sunni.

“Sejak Dewan Kebangkitan dibentuk, niat kami adalah untuk membantu semua orang Irak, tapi sepertinya kami berubah menjadi penyerang,” kata Al-Halabsa.

Seperti banyak pemimpin Kebangkitan, ia telah menerima ancaman kematian.

“Saya harus mengirim keluarga saya ke Baghdad dan segera mereka akan pergi ke luar negeri,” katanya.

Irak tidak lagi aman bagi kami.”

Al-Halabsa tinggal di sebuah rumah besar di Fallujah dengan dua pengawal, seorang tukang kebun dan pembantu rumah tangga

Dia tidak meninggalkan rumah karena mobilnya dibakar pada dua bulan yang lalu saat mengunjungi sepupunya di pusat kota.

“Saya akan segera kehabisan uang dan tidak akan mampu menyewa pengawal. Saya hanya berharap untuk dapat meninggalkan negara itu sebelum keluarga saya juga kehilangan dukungan mereka.”

Al-Halabsa merasa dikhianati oleh Amerika.

“Mereka pergi, mereka membalikan punggungnya kepada kami dan tidak khawatir bahwa kami akan ditinggalkan tanpa perlindungan dan dengan ribuan musuh,” dia kesal.

“Jika kami membantu untuk membawa lebih banyak keamanan provinsi Anbar, sekarang kamilah yang menderita konsekuensinya, tanpa siapa pun untuk merawat kita.”

“AS telah mengkhianati kami,” kata Al-Halabsa.

“Mereka menjanjikan perlindungan dan sekarang kami ditinggalkan untuk menerima konsekuensi yang seharusnya mereka tanggung bersama kami.”

Ibraheem al-Dulaimi, yang dulu bekerja sebagai penerjemah bagi pasukan AS di Anbar, mengalami dilema yang sama.

“Ketika saya memutuskan bekerja sebagai penerjemah bagi pasukan AS di Anbar saya mendapat banyak janji-janji dan di antaranya adalah bahwa saya akan aman setelah mereka meninggalkan negara ini,” katanya kepada IOL.

“Saya diberitahu bahwa jika keamanan saya berada dalam bahaya, saya akan dibantu untuk meninggalkan negara itu.”

Al-Dulaimi sekarang sedang dipaksa untuk meninggalkan rumahnya dan tak satu pun dari teman-teman lama ASnya ada untuk membantu.

“Saya akan harus meninggalkan rumah saya dengan keluarga saya dan mencari tempat yang aman di Kurdistan.”

Pemuda Irak itu merasa dikhianati oleh AS.

“Saya sudah terbiasa seperti kebanyakan warga Irak di bawah situasi yang sama. Pemimpin suku, penerjemah, sopir, atau siapa saja yang suatu hari terlihat dengan tentara Amerika, sekarang adalah musuh-musuh penduduk setempat dan sasaran yang sempurna bagi kelompok-kelompok perlawanan.

“Saya hanya meminta untuk beberapa hari tambahan sebelum saya menyiapkan semua barang-barang saya dan meninggalkan Ramadi tanpa melihat ke belakang.”

Abu Ahmed, yang menolak untuk memberikan nama lengkap untuk alasan keamanan, tidak begitu beruntung.

“Putra saya yang berusia 23 tahun berusia diculik dua minggu setelah pasukan AS meninggalkan kawasan tersebut dan uang sebesar AS $ 20,000 diminta sebagai tebusan,” katanya kepada IOL.

“Dia membayar untuk sesuatu yang dia tentang sejak saya mulai bekerja dengan AS,” seru sang ayah.

“Saya seharusnya menjadi yang terbunuh, bukan dia.”

Abu Ahmed membawa keluarganya ke Baghdad dan mereka berencana untuk melarikan diri dari negeri itu setelah menjual rumah mereka.

Ia mencoba untuk meminta dukungan dari AS tetapi justru diberi tanggapan dingin.

“Mereka mengambil keuntungan dari kami. Kami memberi mereka perlindungan dan mendukung mereka bila diperlukan. Inilah yang kami dapatkan dari mereka.” (iw/io)

“Saya membayar uangnya beberapa jam setelah saya menerima telepon dan dua hari terakhir tubuhnya ditemukan dengan kepala terpenggal di pinggiran Ramadi dengan pesan yang ditulis di tubuhnya: ’Anak seorang pengkhianat.’” (s-m)

Sekte Padange Ati Dibubarkan, 25 Pengikut Ditobatkan

BLITAR (http://news.okezone.com)- Kegiatan ritual keyakinan aliran Padange Ati (PA) di Desa Ngaglik, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, secara resmi akan ditertibkan.

Sebanyak 25 orang pengikut PA yang merupakan sempalan dari Aliran Masuk Surga (AMS) pimpinan Suliyani asal Desa Jajar, Kecamatan Talun, akan ditobatkan.

Menurut keterangan Kepala Bakesbanglinmas Kabupaten Blitar Agus Pramono, pihaknya akan turun ke lapangan, mendatangi markas PA di Desa Ngaglik, bersama petugas Kejaksaan Negeri Blitar Senin (16/11/2009).

“Namun semuanya akan kita lakukan secara persuasif. Seluruh pengikutnya akan kita bina untuk kembali ke ajaran yang benar. Termasuk juga Jono, warga setempat yang rumahnya dijadikan tempat berkumpul,” ujar Agus kepada wartawan Minggu (15/11/2009).

Selain masukan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentang sekte AMS dan PA yang menyimpang, langkah tegas Kesbanglinmas mengacu pada pernyataan tertulis pimpinan AMS, Suliyani. Di atas kertas segel Suliyani menyatakan bersedia kembali ke jalan yang benar, sesuai dengan ajaran agama masing-masing.

Ajaran yang mengabaikan salat 5 waktu dan menilai haji di tanah suci sebagai pemborosan diakui sebagai kekeliruan. “Dengan pernyataan itu diharapkan para pengikut PA akan mengikuti langkah Suliyani yang dianggap sebagai imam mereka. Langkah ini juga untuk menunjukkan kepada warga yang resah, bahwa kami juga melangkah,” papar Agus.

Kasi Intel Kejari Blitar M Riza Wishnu mengakui jika sekte PA merupakan pecahan dari AMS. Menurut dia, aliran tersebut semacam kebatinan atau kepercayaan. Namun karena menimbulkan keresahan, maka pembinaan akan dilakukan. “Kita berharap mereka lapang dada kembali ke jalan agama yang diakui pemerintah,” ujarnya.

Kendati bersikap tegas, Riza mengaku belum menemukan aturan kelompok ini bisa dijerat secara hukum. Seperti diberitakan, MUI Kabupaten Blitar menilai sekte PA menyimpang. Seperti halnya ajaran AMS pimpinan Suliyani, pengikut ajaran ini mengabaikan salat 5 waktu, termasuk membayar Rp1 juta – Rp4juta untuk bisa masuk surga.