Perkembangan Studi al-Qur’an di Indonesia

Al- Qur’an adalah sumber utama hukum Islam sejak generasi Sahabat hingga kini, Meskipun mereka hidup di jaman dan tempat yang berbeda, namun hasil kajian yang dituangkan para ulama dalam kitab-kitab tafsirnya secara prinsip tidak jauh berbeda. Adanya beberapa perbedaan penafsiran di kalangan para ulama yang bermartabat lebih bersifat variatif dan bukan kontra-diktif. Sebab dalam menafsirkan ayat-ayat, mereka mengacu pada prinsip dan kaedah ‘Ulum al-Qur’an yang benar, yang diwariskan secara terpercaya dari generasi ke generasi. Perkembangan prinsip kajian al-Qur’an melalui metode sanad (mata rantai) dari ulama-ulama yang bermartabat senantiasa disandarkan pada konsep wahyu. Landasan sanad yang terbina dalam tradisi keilmuan Islam dengan sendirinya tidak memberi ruang bagi berkembangnya paham relativisme dan spekulasi akal yang tidak bertanggung jawab. Dalam sebuah atsar, Abu Hurairah  menuturkan: “Sesungguhnya ilmu ini (sanad) adalah agama. Oleh sebab itu, perhati-kanlah dari siapa kamu mengambil agamamu.”

Landasan sanad ini terjaga oleh tradisi ilmu yang mengakar kuat dalam masyarakat Islam hingga abad pertengahan. Pusat-pusat pembelajaran seperti masjid, halaqah (lingkar studi), madrasah, selalu penuhi penuntut ilmu. Bahkan di saat kondisi politik sedang kacau dan kerusuhan bermunculan di mana-mana, sejumlah ulama Muslim masih terus bermunculan dan memberikan konstribusinya.

Nasib Studi al-Qur’an Kini

Meskipun di sejumlah lembaga pendidikan Islam di Indonesia masih eksis memegang tradisi sanad dalam mengembangkan studi al-Qur’an, namun dibagian lain, justru kondisinya berbanding terbalik. Dengan alasan “objektivitas ilmiah”, netralitas hasil kajian yang tidak memihak dan menghilangkan nuansa ideologis, studi al-Qur’an dikembangkan secara liar. Tradisi sanad dianggap ketinggalan dan dipandang sebagai produk abad pertengahan yang statis dan bernuansa Islam klasik.

Sebagai gantinya, hasil kajian tokoh-tokoh orientalis dan liberal dijadikan rujukan utama dalam studi Islam. Dalam kacamata mereka, ajaran Islam seringkali dipaksa untuk berkompromi dengan realitas yang berkembang di masyarakat (sosiologis). Maka muncullah studi Islam berperspektif gender, syariat berbasis HAM, dan Quran untuk perempuan. Bukan sebaliknya, yakni Gender dalam perspektif Islam, HAM berbasis syariat, dan perempuan dalam al-Qur’an. Sebab ajaran-ajaran Islam tidak lagi dipandang sebagai acuan dasar dalam memahami realitas, tapi realitas dan akallah yang dinobatkan untuk menentukan corak Islam.

Buku “Pengarusutamaan Gender Dalam Kurikulum IAIN”, contoh kecil di antara gelombang pengeliruan studi Islam yang dilakukan para sarjana liberal. Buku terbit atas kerjasama satu perguruan tinggi Islam negeri di Indonesia dengan McGill CIDA.

Lebih lanjut dinyatakan bahwa: “Pendekatan dalam kuliah dilakukan sedapat mungkin berperspektif gender dengan mengemukakan berbagai contoh yang mendukung ke arah kesetaraan gender”. Sedangkan tujuan matakuliah ini di antaranya: “Mahasiswa akan dapat menjelaskan situasi dan kondisi historis saat ayat-ayat al-Qur’an diwahyukan sehingga mampu mengambil pesan moralnya”.

Dengan menyimak uraian di atas, maka dipahami bahwa ayat-ayat yang biasa dituding sebagai biang kezaliman dan penindasan terhadap perempuan harus ditafsiri ulang secara kontekstual. Sementara ayat-ayat yang mendukung paham kesetaraan gender harus ditafsirkan secara harfiyah, tekstual.

Sementara untuk Metodologi tafsir al-Qur’an yang menjadi salah satu topik perkuliahan, diarahkan mengkaji tafsir gaya Aminah Wadud. Seorang tokoh feminis liberal radikal yang tersohor berkat keberaniaannya tampil sebagai khatib dan imam shalat jumat dengan jama’ah campur baur antara laki-laki dan perempuan.

v Bahan rujukan memahami al-Qur’an

Liberalisasi al-Qur’an tidak dilakukan secara serampangan, tapi ia adalah sebuah konspirasi dan makar tingkat tinggi untuk merusak ajaran Islam dari dalam. Makar liberalisasi ini diprogram secara massif dan sistemik melalui kurikulum yang siap menghasilkan sarjana-sarjana Muslim yang qualified dalam mengelabui makna akidah dan syariat. Ungkapan ini mungkin dipandang bombastis, emosional dan provokatif. Tetapi kesan tersebut akan hilang jika mencermati buku-buku yang dijadikan bahan rujukan untuk mata uliah Ulum al-Qur’an I, di antaranya seperti Toward Understanding Islamic Law (Abdullahi Ahmad al-Naim), Wanita Dalam al-Qur’an (Aminah Wadud Muhsin), Perempuan Tertindas (Hamim Ilyas dkk), al-Kitab wa al-Qur’an (M. Syahrur), al-Risalah al-Saniyah (Mahmood Muhammad Toha), Mafhum al-Nas (Nasr Hamid Abu Zayd), Tafsir Kontekstual al-Qur’an (Taufiq Adnan Amal dan Syamsu Rizal Panggabean). Meskipun ada beberapa buku rujukan yang benar, namun jumlahnya sangat sedikit dan diletakkan di akhir.

Buku-buku rujukan yang kontroversial ini ditulis oleh para pemuja liberalisme radikal yang gemar mencetuskan pemikiran nyeleneh, bahkan beberapa di antaranya telah difatwa murtad, kabur dari negaranya dan ada yang dihukum mati. Kenyelenehan mereka jelas terlihat saat memunculkan gagasan bahwa al-Qur’an adalah produk budaya, mengingkari syari’at, batasan aurat yang relatif dan berubah-ubah, menuduh bahwa mushaf yang ada sekarang ini adalah produk rekayasa politik Utsman bin Affan , sehingga diusulkan menerbitkan al-Qur’an Edisi Kritis, menghalalkan homoseksual, memberi stigma bahwa ciri utama Islam fundamentalis adalah mereka yang menolak menerapkan metode Kristen dan Yahudi (hermeneutika) untuk memahami al-Qur’an, dan lain-lain.

Buku Aminah Wadud, wanita dan al-Qur’an (Quran and Women) misalnya, tidak hanya dijadikan rujukan matakuliah ‘Ulum al-Qur’an saja, tapi juga digunakan sebagai 5 matakuliah lainnya, seperti Ulum Hadits, Tafsir, Filsafat Hukum Islam, Masail Fiqh dan Aliran Modern Dalam Islam. Demikian halnya dengan karya Hamim Ilyas dkk, Perempuan Tertindas juga dijadikan rujukan untuk 6 mata kuliah, yaitu Ulum al-Qur’an, Ushul Fiqh, Fiqh, Masail Fiqh, Sejarah Peradaban Islam dan Ilmu Dakwah.

Ketimpangan seperti ini juga menjadi tradisi di banyak matakuliah kajian keislaman. Dengan menetapkan satu buku sebagai rujukan untuk bermacam-macam matakuliah, mengesankan bahwa liberalisasi studi Islam ternyata dilakukan secara tidak elegan dan toleran. Ia dipenuhi pemaksaan, jumud, penuh intrik dan ambisi pribadi. Sebut saja misalnya buku “Argumen Kesetaraan Gender” karya Nazaruddin Umar, dinobatkan sebagai rujukan untuk 4 mata kuliah, yaitu Ulum al-Hadits, Tafsir, Ushul Fiqh, Studi Tokoh Sastra Arab. Padahal penulisnya bukanlah seorang pakar sastra Arab dan tidak memiliki latar belakang di bidang ini. Di samping itu, buku ini juga tidak ada kaitan khusus dengan kajian ilmu Hadits, apalagi ilmu ushul fiqh.

Uniknya lagi buku Membina keluarga Mawaddah wa Rahmah dalam bingkai Sunah Nabi yang terbit atas kerjasama dengan Ford Foundation juga dijadikan sebagai rujukan untuk 3 matakuliah ‘Ulum al-Hadits, Hadits dan Ilmu Dakwah. Padahal buku ini banyak menolak hadits-hadits yang tidak sejalan dengan paham feminisme Barat. Sebagai contoh, di antara isu yang dibahas dalam buku ini adalah mengkritik Hadits Nabi tentang ciri-ciri wanita salehah. Tiga ciri kesalehan wanita seperti hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan al-Baihaqi, yaitu sikap menyenangkan pandangan suaminya, mematuhi perintahnya, dan menjaga kehormatan dirinya dan harta suaminya di saat suaminya pergi, malah dijadikan objek kemarahan. Baginya, Hadits ini dianggap tidak adil dan hanya berisi tuntutan sepihak terhadap perempuan.
Meskipun penulisnya mengakui bahwa hadits ini adalah Hadits yang sahih, tidak menyalahi al-Qur’an, tidak menyalahi amalan ulama salaf dan tidak bertentangan dengan akal sehat, tetapi penulisnya melarang kalau Hadits ini diamalkan apa adanya, secara semestinya dan tekstual. Sebaliknya, Hadits ini harus dipahami secara kontekstual-sosiologis. Karena kesalehan wanita itu relatif dan bisa berubah menurut tempat, zaman dan kebutuhan.

Penutup

Studi al-Qur’an adalah jantung studi Islam, karena memang semua ilmu keislaman bersumber darinya. Sifat kewahyuan al-Qur’an yang final dan universal, mempengaruhi karakter pendekatan studi al-Qur’an untuk tidak bisa dilepaskan begitu saja dari aspek-aspek wahyu dan iman. Jika saja Rasulullah saat menerima wahyu mengalami perubahan fisik yang luar biasa, misalnya beliau terlihat sangat takut dan minta diselimuti, terkadang dahi beliau bercucuran keringat padahal saat itu sedang musim dingin, terkadang nampak wajah beliau kemerah-merahan dengan suara yang tidak beraturan dan terkadang tubuhnya menjadi sangat berat, sampai-sampai paha Zayd bin Tsabit terasa mau patah ketika menahan kaki Rasulullah yang tiba-tiba kedatangan wahyu. Maka apakah layak seorang Muslim saat menggali kandungan al-Qur’an mencampakkan aspek kewahyuannya untuk ditukar dengan spekulasi akal yang tidak terarah dan permisif untuk disusupi aneka purba sangka? Tidakkah merusak studi al-Qur’an berarti sebuah konspirasi memutuskan umat dari akar khazanahnya?! Wallahu a’lam wa ahkam bi l-sawab.

Sumber: Dr. Adian Husaini (Studi al-Qur’an Yang Dikelirukan), Insistnet.

Sejarah Awal Munculnya Penyimpangan Akidah Sesat

Munculnya bid’ah tidaklah terjadi sekaligus, dan tidak pula di satu zaman tertentu, tetapi terjadi dalam beberapa marhalah (fase) dan tempat yang berjauhan, setidak-tidaknya ada 5 marhalah sejarah munculnya bid’ah.
Sampai pada tahun 37 hijriyah sejak hijrahnya Nabi bisa dikatakan bahwa marhalah ini (marhalah I) adalah marhalah keemasan di dalam umat Islam, ini adalah marhalah salimah yang tidak muncul satu bid’ah pun. Sehingga marhalah ini benar-benar menjadi qudwah bagi umat Islam seluruhnya dan dari sini lah Ahlussunnah mengambil sumber utamanya yaitu sumber dari Nabi dan para sahabatnya, dimana Alloh telah memilih dan mencatat mereka dalam kitab Taurat dan Injil sebelum mereka lahir, bahwa mereka akan mendampingi nabi Muhammad .
Inilah masa keemasan dimana jika semua orang ingin kembali kepada ajaran yang benar maka kembalilah kepada masa-masa ini. Walaupun tazkiyah Nabi tentang qurun terbaik sampai kepada qurun ketiga, namun yang dimaksud di sini adalah masa yang paling lurus. Marhalah selanjutnya juga menjadi pijakan, namun karena telah mulai terjadi penyimpangan maka kembalinya setelah marhalah ini adalah kepada pemahaman mayoriti ketika itu, karena penyimpangan masih terhitung minoritas.
Kemudian marhalah yang kedua, yaitu masa tahun ke 37 hijriyah hingga tahun ke 100 hijriyah. Pada marhalah ini, di saat masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib muncullah gembong bid’ah yang petama, dikarenakan efek konflik politik yang muncul dengan terbunuhnya Utsman bin Affan .
Pada masa ini terjadilah perbedaan ijtihad antara sahabat Nabi , sehingga muncullah peperangan antara dua belah pihak yaitu Ali bin Abi Thalib dan para pendukungnya berhadapan dengan Muawiyah dan para pendukungnya. Lalu terjadilah perdamaian antara kedua kubu tersebut. Namun justru dari titik-titik perdamaian ini muncul suatu golongan firqoh dlollah (aliran sesat) yang pertama yakni munculnya golongan Khowarij, yang disusul oleh golongan Syi’ah.
Golongan Khowarij adalah golongan yang mengkafirkan kedua kubu sahabat Nabi yang melakukan perdamaian. Sedangkan golongan Syi’ah adalah orang-orang yang menolong Ali bin Abi Thalib dan mengokohkannya. Walaupun pada akhirnya mereka berkhianat.
Selain kedua golongan tadi, pada marhalah ini juga muncul bid’ah yang lain yaitu Qodariyah kemudian di susul dengan Murji’ah.
Munculnya Khowarij bertepatan dengan kekhalifahan Ali bin Abi Thalib pada tahun 37 hijriyah yaitu ketika Ali bin Abi Thalib dan pendukungnya menerima tahkim dengan Muawiyah dan para pendukungnya dimana mereka masing-masing mengutus utusannya. Di pihak Ali bin Abi Thalib diutuslah Abu Musa al Asy’ari sedang di pihak Muawiyah diutuslah Amr bin al Ash . Di tengah-tengah kejadian ini muncullah dikalangan pendukung Ali bin Abi Thalib , orang-orang yang tidak menyetujui tahkim dengan perwakilan seperti itu dan mereka menyatakan bahwa, dengan melakukan demikian Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah telah berhukum kepada manusia dan bukan berhukum kepada Alloh . Kemudian mereka mendatangi Ali bin Abi Thalib dan menyerunya untuk bertobat. Mereka mengatakan bahwa mereka ketika itu telah kafir namun mereka telah bertobat kepada Alloh dan menyeru Ali bin Abi Thalib untuk bertobat dari perbuatannya.
Mereka memiliki landasan berpijak dari al Qur’an, namun pijakan yang mereka jadikan sebagai dalil dalam pemahamannya salah, yaitu ketika mereka membaca ayat al Qur’an surat al Maidah ayat 44:

”Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”
Kemudian mereka juga mengungkapkan ayat di dalam surat al Hujurat ketika dua golongan saling bertentangan maka harus diperangi golongan yang dzolim di antara mereka. Alloh berfirman yang artinya, “Maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Alloh.” (QS. Al Hujurat: 9). Dengan ayat di atas mereka berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib telah melanggar hukum Alloh ,dan harus diperangi. Maka jika tidak bertobat hukumnya menjadi kafir. Menurut pandangan mereka Ali bin Abi Thalib telah berhakim kepada manusia ketika mengutus Abu Musa al Asy’ari sedang di pihak Muawiyah mengutus Amr bin al Ash . Padahal Ali bin Abi Thalib telah memberi penjelasan kepada mereka untuk menghilangkan syubhat yang ada dalam memahami tahkim. Bahwa sesungguhnya ketika seseorang berhukum kepada Alloh bukan berarti langsung bertanya kepada al Qur’an tapi harus ada orang yang menyelenggarakan. Sebagaimana Alloh terangkan dalam surat an Nisa ayat 35, tentang konflik dua pihak antara suami dan istri, Alloh memberikan ketentuannya, yakni agar diutuslah hakim di antara dua pihak yaitu pihak suami dan istri.
Hal ini seperti yang dilakukan Ali bin Abi Thalib dengan mengutus Abu Musa al-Asy’ari serta Muawiyah dengan mengutus Amr bin Ash . Namun penjelasan ini tidak diterima oleh orang-orang Khowarij, mereka tetap terus dengan prinsip batilnya, dengan tetap mengkafirkan Ali bin Abi Thalib dan memeranginya. Bahkan lebih jauh lagi, orang-orang Khowarij juga mengkafirkan pelaku dosa besar. Karena kesalahan di dalam mengambil pemahaman dalil-dalil al Qur’an bahwa makna “” ini mengandung pengertian, baik kafir kecil maupun kafir besar, sedangkan mereka mengklaim bahwa ayat tersebut adalah total kafir besar dan semua ayat-ayat yang menyatakan kekufuran ini adalah kufur besar tanpa melihat qorinah-qorinah yang memalingkan dari kafir besar sehingga semua kalimat-kalimat itu tidak dibedakan dan dipukul rata maknanya.
Inilah dasar pemikiran sesat yang tumbuh pada sebagian kaum muslimin dimana hal ini terus berlanjut hingga saat ini. Sehingga masih ada orang yang ketika menemukan kata-kata kufur, langsung ditafsirkan sebagai kufur akbar yang mengeluarkan seseorang dari Islam dan otomatis pelakunya akan langsung kafir. Ini adalah pemikiran yang sangat berbahaya sekali.
Khowarij ini termasuk pokok pangkal golongan bid’ah yang menitis pada golongan-golongan lain berikutnya bahkan dalam perkembangannya berkembang prinsip-prinsip yang lain yang tidak hanya sekedar pengkafiran dalam hal siyasah.
Lalu yang berikutnya adalah Syi’ah. Kalimat Syi’ah dalam bahasa Arab at-tasyayu’ memiliki pengertian sangat umum yakni bermakna suatu dukungan atau pertolongan. Sehingga pada waktu itu dikenal dengan Syi’ah Ali bin Abi Thalib dan Syi’ah Muawiyah . Dan belum muncul sebagai firqoh dlollah (pemahaman sesat) hanya baru bersifat lughowi (bahasa) saja maka disebut Syi’ah Ali dan Syi’ah Muawiyah yang berarti pendukung Ali dan Muawiyah .
Dalam Syi’ah Ali ini pun masih bersifat lurus ketika itu. Hanya ada sebagian para sahabat berbeda pendapat tentang kemuliaan Ali dan Utsman , siapakah diantara mereka yang lebih mulia kedudukannya setelah Abu Bakar ash Shiddiq dan Umar bin al Khattab . Permasalahan ini menjadi dua blok yaitu mereka yang mendahulukan Ali dan yang mendahulukan Utsman , dimana mereka tidak berbeda pendapat untuk mendahulukan Abu Bakar dan Umar . Walaupun demikian, perbedaan pendapat ini tidak menimbulkan caci maki di antara kedua belah pihak.
Kemudian terjadilah perbedaan antara para sahabat tentang bagaimana menghukum pembunuh Utsman bin Affan . Sehingga singkatnya terjadi pertikaian antara pendukung Utsman bin Affan yang diwakili oleh Muawiyah dan para pendukungnya dengan Ali bin Abi Thalib dan pendukungnya. Sampai perkara ini terjadi belum ada kelompok Khowarij maupun Syi’ah.
Ketika Khowarij muncul, maka muncul pulalah Syi’ah sebagai lawan Khowarij. Dimana Khowarij mengkafirkan Ali bin Abi Thalib kemudian muncullah Syi’ah sebagai pendukung Ali bin Abi Thalib . Sebagaimana kita katakan tadi bahwa Syi’ah Ali pada waktu itu belum sampai pada derajat firqoh. Kemudian muncullah pemahaman Abdulloh bin Saba yang masuk Islam pada masa kekhalifahan Utsman dan membawa pemahaman yang dinukil di dalam kitab Taurat bahwa semua nabi memiliki wasiat dan Ali adalah wasiat Nabi Muhammad . Pemahaman ini disebarkan dengan gencar oleh Abdulloh bin Saba.
Jika kita lihat prinsip dasar pemikiran ini, maka pemikiran ini menjurus pada masalah kekhilafahan bahwa kekhilafahan Ali bin Abi Thalib adalah merupakan wasiat sebagaimana para nabi memiliki wasiat dan hal ini belum sampai pada pemikiran sesat yang lebih akut.
Kemudian pemikiran ini diserap oleh sebagian golongan pendukung (Syi’ah) Ali dimana mereka sebelumnya masih bersifat umum dan lurus dalam pemikirannya, karena kata Syi’ah disini masih bermakna umum yakni bermakna pendukung.
Kemudian Abdulloh bin Saba memunculkan kembali bibit-bibit pemikiran baru yangi lebih dahsyat dari sebelumnya. Yaitu bahwa wasiat keimamahan yang di wasiatkan kepada Ali dari Rosululloh ini benar-benar ter-nashkan padahal hal ini adalah dusta belaka. Disinilah mulai munculnya firqoh Syi’ah, dan alhamdulillah tidak ada satu pun sahabat yang terlibat dalam firqoh Syi’ah maupun Khowarij.
Ketika pertama kali muncul, Syi’ah sendiri telah berpecah dan dalam waktu yang cepat menjadi banyak sekali pemikiran-pemikiran. Bahkan hingga saat ini mereka menjadi golongan yang sangat ekstrim dan melampaui batas, telah keluar dari Islam. Hal ini diperkuat oleh fatwa-fatwa para ulama. Maka jika kita lihat Syi’ah saat ini sungguh sangat jauh berbeda dengan keadaan disaat awal-awal kemunculannya. Walaupun ketika kemunculannya pun sudah berbahaya. Lalu diperparah lagi dengan kepercayaan mereka yang ghuluw (berlebih-lebihan) sampai-sampai mengkultuskan Ali yaitu mengangkat Ali sampai kederajat ilahiyah (sifat ketuhanan).
Dalam perkembangan pemahaman dan pemikiran selanjutnya Syi’ah semakin jauh dari titik awal sumbernya, makin jauh keluar dari Islam, kecuali sedikit saja dari kalangan Syi’ah Zaidiyah. Hingga jika dikatakan lawan dari Sunniy (orang-orang yang komit kepada jalan Nabi ) adalah Syi’ah. Para ulama mengatakan mereka adalah golongan manusia paling dusta dalam kehidupan dunia ini.
Alhamdulillah kita pun telah menerbitkan buku tentang Syi’ah ini, hingga bisa mengkaji lebih jauh dan lebih dalam lagi, tentang bagaimana keadaan Syi’ah sekarang ini.
Demikianlah sejarah singkat munculnya firqoh dlollah pada abad pertama di marhalah kedua yang dimulai saat kekhilafahan Ali bin Abi Thalib dalam sejarah Islam.

Sesi Tanya Jawab
Tanya
Saya pernah berdiskusi dengan beberapa teman tentang berhukum dengan hukum selain Alloh (thoghut), ada pertanyaan, bagaimana dengan seseorang yang ikut berkecimpung dalam parlemen yang mana disitu jelas-jelas berlan-daskan hukum selain hukum Alloh , apakah mereka otomatis menjadi kafir?
Jawab
Perlu kita ketahui bahwa setiap ancaman kufur, tidak serta merta pelakunya menjadi kafir. Indonesia adalah Negara yang bukan berlandaskan hukum Islam dan ini diakui oleh semua orang, bahkan para penguasa sendiri tidak mau dikatakan Indonesia ini negara Islam. Ketika hukum disebuah negara bukan berlandaskan hukum Islam, bukan berarti bahwa semua orang yang ada di negara tersebut atau rakyatnya otomatis menjadi kafir. Hukum umum ketika diberlakukan pada perorangan maka ada yang sampai kepada tingkat kafir dan ada yang belum sampai tingkat kafir. Kita harus berhati-hati, jangan sampai mengatakan si fulan kafir tanpa ada hujah yang jelas. Di sini perlu ada fatwa yang valid dari mujtahid yang kompeten atau Qodhi (hakim) yang sah, mereka inilah yang berwenang menghukum, namun ketika tidak ada, maka hukumnya harus dikembalikan kepada hukum asal yaitu jika dia seorang muslim maka hukumnya sebagai muslim hingga jelas hukumnya dari pihak yang kompeten. Masalah ini juga termasuk hukum orang-orang yang masuk parlemen, dimana mereka terjatuh dalam jenis takwil atau ijtihad yang salah yang harus dianalisa.
Tanya
Apa saja penyebab perselisihan Muawiyah dan Ali ?
Jawab
Terbunuhnya Utsman bin Affan adalah karena persekongkolan. Persekong-kolan ini tidak lain bertujuan untuk menghancurkan Islam. Ketika Utsman terbunuh, maka Ali sebagai khalifah setelahnya sangat kesulitan untuk melakukan qishosh terhadap para pembunuh Utsman karena jumlahnya yang begitu banyak bahkan dikatakan sampai ribuan orang. Namun tidak sedikit pun Ali dengan sengaja melepaskan qishosh terhadap mereka, hanya saja keadaan yang sulit dan tidak memungkinkan untuk melaksana-kannya. Sedangkan disisi lain, Muawiyah ingin menuntut darah Utsman yang tertumpah karena ia masih bagian dari keluarganya. Dan tiada jalan lain bagi Muawiyah selain mendesak Ali sebagai khalifah pada saat itu untuk menegakkan qishosh terhadap para pembunuh Utsman . Jadi inilah yang menjadikan perbedaan pendapat dan ijtihad dari keduanya hingga menyeret pada pertikaian. Namun harus kita pahami bahwa keduanya ada dalam kebenaran, hanya Ali lebih dekat kepada kebenaran. Dan kita hendaknya tidak masuk dalam problem mereka. Apa yang kita baca dalam teks sejarah sangat minim untuk dapat mengetahui hakikatnya. Kita harus menempatkan mereka pada posisi yang mulia jangan sampai menuduh dengan tuduhan bathil karena mereka adalah para sahabat Nabi yang mulia yang memiliki kapasitas sebagai mujtahid. Walaupun sampai terjadi peperangan, namun sikap-sikap mereka (jika kita pelajari) di dalam peperangan dalam mempertahankan ijtihadnya sangat indah, mereka saling hormat dan lain-lain.

Karomah atau Ilmu Kesaktian?

Kita pastinya tidak asing lagi dengan istilah karomah yang biasanya dikaitkan atau dialamatkan kepada seseorang yang memilki ilmu tertentu, terutama ilmu agama. Lazimnya, karomah adalah bukti paling kuat bahwa seseorang yang diberikan karomah itu berstatus sebagai wali. Ini adalah cara pandang masyarakat pada umumnya. Artinya, karamah bisa disebut sebagai alat ukur bahwa orang yang bersangkutan, yakni yang disebut memiliki karomah itu, sebagai orang yang benar karena karamah selau dipercaya berasal dari Allah. Bukan dari yang lain.

Di beberapa daerah, terutama yang masih kental dengan unsur kepercayaan Hindu-Budha yang melebur dengan nilai-nilai ajaran Islam, karomah sangat berkaitan erat dengan kesaktian seseorang. Bahkan uniknya, karomah itu sudah menjadi disiplin ilmu tersendiri yang bisa dikaji. Bertentangan memang, mengingat dalam ajaran Islam dinyatakan bahwa karomah tidak lain adalah anugerah yang Allah berikan kepada orang beriman dan bertakwa. Tak u-bahnya seperti hadiah, karomah sejatinya tidak dicari sedemikian rupa, namun ia akan diberikannya kepada orang tersebut seiring dengan pengabdiannya kepada Islam, atas izin Allah.

Dalam nalar pikiran orang-orang yang mempelajari ilmu karomah diyakini bahwa pada diri setiap manusia mempunyai berbagai potensi dan kemampuan diri yang cemerlang. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan ‘membaca tanda-tanda ghaib’. Kemampuan tersebut adalah kemampuan yang berada di alam bawah sadar. Seperti halnya karomah, ia diyakini merupakan hasil dari kemampuan terpendam ma-nusia yang diolah dan dipelajari sedemikian rupa.

Menurut mereka, inti dari proses mendapatkan karomah ini adalah dengan menghadirkan sosok ‘kekuatan ghaib’ dalam diri. Jika dia seorang muslim, maka ‘kekuatan ghaib’ yang dimaksud adalah Allah. Artinya, dia harus ‘menghadirkan’ Allah dalam jiwa dan pikirannya sampai ia merasa bahwa dirinya telah melebur dengan Allah.

Meski hal ini tidak mungkin terjadi dalam bentuk fisik, namun bagi mereka yang mempercayai bahwa karomah bisa didapat dengan proses belajar tertentu, pastinya tidak ragu lagi bahwa meleburnya seseorang bersama Allah adalah cara untuk mendapatkan ka-ramah itu sendiri.

Ini sangat mirip dengan konsep wih-datul wujud atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah manunggaling kawula gusti. Memang tidak ada perbe-daan dalam konsep ini, karena hakikatnya keyakinan tersebut berawal dari konsep-konsep tauhid yang bathil, sebagaimana konsep wihdatul wujud yang dicetuskan oleh al-Hallaj dan Siti Jenar.

Dalam kajian selanjutnya, manusia yang sudah ‘melebur’ bersama Allah, seperti pendekar sakti yang tidak takut pada siapapun karena ia bersama Allah. Ia sadar bahwa kekuatan Allah akan mengalir dalam setiap gerakan tubuh-nya dan dalam aliran darah serta nafas-nya. Ia hanya berfokus pada satu titik, yakni mempertahankan kehadiran Allah dalam dirinya, dan tidak lagi berfokus pada lawan mainnya karena ia yakin musuhnya itu pasti kalah dengan sen-dirinya.

Ilmu-ilmu karomah

Mengingat bahwa karomah diyakini sebagai llmu tersendiri yang bisa didatangkan dari Empu-nya ilmu, yaitu Allah, maka ilmu karomah pun meluas definisi dan bagianbagiannya. Berikut adalah contoh beberapa ilmu karomah men-urut sudut pandang masyarakat umum:

Tenaga Dalam

Ilmu ini kadang dinamakan sebagai ilmu kanuragan, inner power, atau bio elektrik. Tenaga dalam adalah ilmu yang sebenarnya ada dalam setiap diri manusia dan ia tersimpan di bawah titik kesadaran manusia. Ia akan muncul jika manusia itu mengkaji dan mendalaminya.

Manfaat dari adanya tenaga dalam ini adalah untuk beladiri, menyembuh-kan suatu penyakit, pagar badan (ber-jaga-jaga dari serangan luar) dan lain sebagainya. Bicara soal tenaga dalam, sebenarnya para ‘ahli’ sekalipun masih menganggapnya misteri alias tidak mampu memetakan bagaimana cara kerja tenaga dalam pada tubuh manusia. Namun dari mereka banyak menyimpulkan bahwa tenaga dalam itu erat kaitannya dengan ‘ilmu bathin’ yang tentunya juga diperlukan ‘alat bantu ghaib’ yang berbeda dengan materi kasat mata.

Pukulan Maut

Kadang orang menyebutnya Ilmu Jurus Badar, Ilmu Dzul Fiqar (merujuk kepada nama pedang Rasulullah yang diberikan kepada Sahabat Ali), Ilmu Hizbul Barqi, atau Ilmu Pukulan Halilintar. Beragam nama itu merujuk pada satu konsep bahwa jenis ilmu ini merupakan perluasan dari ilmu tenaga dalam yang lebih berwujud fisik.

Mungkin kita pernah mendengar beberapa kisah orang yang mampu mengalahkan lawannya, bahkan hingga mati, hanya dengan satu pukulan saja. Ya, kisah ini mungkin benar jika yang bersangkutan mendalami ilmu pukulan maut ini. Biasanya jenis ilmu ini banyak dipelajari di berbagai perguruan silat, terutama persilatan tradisional. Ada juga beberapa ‘pelajar’ yang berasal dari luar pondok, seperti orang-orang awam yang biasanya punya po-sisi rawan, contohnya preman atau petugas keamanan.

Halimunan

Jenis ilmu ini kadang disebut ilmu hilang karena berfungsi menyembunyikan diri secara raga dari penglihatan musuh. Ilmu Halimunan dimanfaatkan bagi orang yang dikejar-kejar oleh seseorang atau kelompok orang yang berniat jahat. Dengan ilmu ini, orang yang mengamalkannya akan terbebas dari niat jahat itu. Misal, dia akan terbebas dari ilmu pelet, santet, atau penerawangan orang lain dari jarak jauh karena dirinya sudah tertutupi oleh ilmu halimun sehingga orang lain tidak bisa menembus dirinya.

Kaca Benggala

Yang satu ini kadang pula disebut sebagai Ilmu Terawang, maksudnya ilmu ini digunakan untuk menerawang seseorang atau sesuatu. Sangat dibutuhkan bagi orang yang sedang dalam kondisi bingung ketika menghadapi masalah. Yang mendalami Ilmu Kaca Benggala ini dengan sendirinya akan mampu melihat seseorang atau sesuatu dari jarak jauh dan bahkan mampu menerka kronologis suatu peristiwa dari masa lampau hingga yang akan datang.

Rawatan Limpas Bayang

Adapun ilmu ini sering disebut de-ngan teknik pengobatan jarak jauh. Hampir di seluruh perguruan tenaga dalam mengajarkan ilmu ini. Menurut ahli kebathilan, konsep ilmu rawatan limpas bayang ini ‘diperkuat’ dengan adanya dalil dari al-Qur’an yang ber-bunyi; “Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa pada kejadiannya, ia berkata : Siapakah yang menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah : “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. (Yasin: 78-79)

Terjemahan ayat ini mengandung pesan bahwa Allah mampu menghidupkan segala sesuatu yang tak pernah terpikir oleh manusia, sekalipun manusia adalah makhluk berpikir. Tulang belulang yang hancur lebur, amat mudah bagi Allah untuk menyatukan dan menghidupkannya kembali. Dari sini kemudian para ‘ahli’ mengkaji bahwa ayat tersebut bisa dijadikan sarana untuk melahirkan Ilmu Rawatan Limpas Bayang.

Sebenarnya, cukup banyak nama-nama jenis ilmu yang berkaitan dengan karomah. Sebut saja seperti Brajamusti, Saifi Angin, Hizib Inti Bumi, Hizib Nabi Sulaiman, Rawarontek, Pengasihan atau Pelet, dan lain sebagainya. Masing-masing dari jenis ilmu ini memiliki keunggulan tersendiri. Namun begitu, biasanya ilmu-ilmu tersebut menuntut beberapa hal seperti rutinitas melakukan amalan, pembayaran atau sering dinamai mahar dan pula ijazah (izin men-transfer ilmu).

Baha’i Sekte Sesat Baru Berkiblat Gunung Caramel di Israel

Sejumlah warga Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, diidentifikasi sebagai penganut aliran keyakinan bernama Baha’i.

Dengan sebuah Kitab Suci Akhdas yang berkiblat di Gunung Caramel, Israel, para pengikut ajaran ini meyakini Baha’i sebagai agama yang setara dengan agama yang disahkan pemerintah.

Untuk itu, sebagian pengikut ritual ini meminta pemerintah desa memasukkan nama Baha’i dalam Kartu Tanda Penduduk. Bahkan mereka juga berani membuat surat nikah sendiri untuk semua pengikut ajaranya.

Menurut keterangan Sekretaris MUI Kabupaten Tulungagung, Abu Sofyan Firojuddin, keberadaan kaum Baha’i ini telah meresahkan warga sekitarnya. Sebagian warga meminta pemerintah untuk melakukan penertiban.

“Sejauh ini kami memang mendapat laporan dari warga tentang aliran Baha’i. Namun kami belum bisa memastikan ajaran mereka sesat,” ujar Sofyan kepada wartawan.

Sebuah ajaran, kata Sofyan, bisa dikatakan sesat bila substansinya telah menistakan agama resmi yang diakui pemerintah.

Sementara itu, Sekte Baha’i yang diduga kuat berasal dari Israel tidak hanya memiliki kitab suci sendiri. Mereka juga memiliki dogma-dogma lain seperti, salat menghadap ke arah Gunung Caramel.

Sekretaris MUI Kabupaten Tulungagung, Abu Sofyan Firojuddin menyatakan perbedaan sekte Baha’i dengan agama Islam juga terlihat pada aturan salat. Umat Baha’i hanya bersalat sekali dalam sehari. Kemudian puasa di bulan Ramadan hanya 17 hari, dan arah kiblat dalam salat bukan di Ka’bah.

“Sampai saat ini kita masih melakukan kajian mendalam. Kita tidak bisa membubarkan seenaknya. Warga juga menuding mereka (Baha’i) telah kumpul kebo, karena telah menerbitkan surat nikah sendiri,” papar Abu Sofyan di Jawa Timur.

Informasi yang dihimpun, masuknya ajaran Baha’i ke wilayah Kabupaten Tulungagung berlangsung cukup lama. Ajaran yang agak nyleneh ini awalnya dibawa Slamet Riadi dan Sulur.

Saat ini keberadaanya telah berkembang pesat. Sedikitnya ada 13 tokoh Baha’i dengan jumlah pengikut sekitar 157 orang. Salah seorang tokoh ajaran Bahai Slamet Riyadi ketika ditemui menolak berkomentar. Ia juga menolak untuk difoto.

Kapolres mengaku sudah melakukan croos check ke lapangan terkait laporan warga setempat. Sebagai tindak lanjut, pihaknya telah merekomendasikan agar pihak-pihak yang berwenang turun tangan memberikan pembinaan.

“Kita sudah meminta Majelis Ulama Indonesia, Departemen Agama, dan Pemkab Tulungagung turun tangan mengambil langkah,” ujarnya.

Sementara itu, Keberadaan pengikut sekte Baha’i dengan kiblat Gunung Caramel Israel di Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung ditanggapi dingin Departemen Agama (Depag) setempat.

Menurut Kepala Seksi Urusan Agama Depag Kabupaten Tulungagung Akhsan Tohari, pihaknya tidak bisa mengambil langkah apapun, selama ajaran Baha’i tidak menyimpangi dogma agama yang diakui pemerintah.

Kendati belum sepenuhnya memahami, sepengetahuan Akhsan, dirinya tidak menemukan kesamaan ajaran Baha’i dengan dogma yang dianut umat Islam, Nasrani, Katolik, Hindhu, Budha, dan Konghucu.

“Mereka memiliki ajaran sendiri yang tidak sama dengan agama yang diakui pemerintah. Jadi tidak bisa dikatakan menyimpangi. Saya melihat mereka ini hanya aliran, bukan agama,” ujarnya kepada wartawan.

Yang bisa disikapi pada pemeluk Baha’i hanya terkait permintaan pencantuman agama Baha’i dalam KTP dan pembuatan surat nikah sendiri. Tindakan tersebut menurut Akhsan telah melanggar UU No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

Sebab, didalamnya sudah diatur dengan jelas, pernikahan muslim dilakukan di KUA dan non muslim di Kantor Catatan Sipil. Dan itu menjadi tugas kepolisian. “Depag dan MUI menyerahkan sepenuhnya masalah ini ke Kepolisian,” pungkasnya.(okz)

Mengenal Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

Siapa yang tidak kenal Syaikh Abdul Qadir al-Jailani? Sosok ulama yang satu ini memang cukup dikenal dalam literatur pemikiran dan khazanah ke-Islaman. Tak terkecuali bagi kaum muslimin di Indonesia, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani adalah ulama yang banyak berpengaruh dan banyak dijadikan rujukan dalam kitab-kitab agama Islam, terutama dalam bidang ilmu tashawuf.

Nama asli dari ulama karismatik ini adalah Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qadir. Seorang ahli sejarah Islam, Ibnul Imad al-Hanbali menyebutkan tentang nama lengkap Syaikh Abdul Qadir al-Jailani sebagai berikut, “(beliau adalah) Syaikh Abdul Qadir bin Abi Sha-lih bin Janaki Dausat bin Abi Abdillah Abdullah bin Yahya bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah bin Musa al-Huzy bin Abdullah al-Himsh bin al-Hasan bin al-Mutsanna bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib al-Jailany”. (Syadzarat adz-Dzahab, 4/198) Dari pen-jelasan ini, jelas bahwa Syaikh Abdul Qadir al-Jailani adalah keturunan dari Sahabat Ali bin Abi Thalib.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani lahir di Kota Jailan atau Kailan pada tahun 470 H/1077 M. Itulah kenapa di akhir nama beliau ditambahkan kata al-Jailani atau al-Kailani, yang berarti dari kawasan Jailan, yang kini bernama provinsi Mazandaran, Gilan, dan Golestan di Persia (Iran). (Lihat Mu’jam Al-Buldan, 4/13-16, oleh Abu Abdillah Yaqut bin Ab-dillah al-Hamawy)

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan Thariqat Qadiriyah

Saat usia 8 tahun, beliau sudah me-ninggalkan kota kelahirannya menuju Baghdad, yang saat itu Baghdad dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan. Selanjutnya pada tahun 521 H/1127 M, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mengajar dan menyampaikan fatwa-fatwa agama kepada masyarakat hingga beliau dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun, be-liau menghabiskan waktunya sebagai pengembara di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh besar yang harum namanya dalam dunia Islam.

Sejak itulah, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani disebut-sebut sebagai tokoh sufi yang mendirikan Tariqhat Qodiriyah, sebuah istilah yang tidak lain berasal dari namanya. Tariqhat ini terus berkem-bang dan banyak diminati oleh kaum muslimin. Meski Irak dan Syiria disebut sebagai pusat dari pergerakan Tariqhat ini, namun pengikutnya berasal dari belahan negara muslim lainnya, seperti Yaman, Turki, Mesir, India, hingga se-bagian Afrika dan Asia.

Perkembangan Tariqhat ini semakin melesat, terlebih pada abad ke ke 15 M. Di India misalnya, Tariqhat Qadiriyah berkembang luas setelah Muhammad Ghawsh (1517 M) memimpin Tariqhat ini. Dia juga mengaku sebagai keturunan dari Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Di Turki ada Ismail Rumi (1041 H/1631 M) yang diberi gelar mursyid kedua dari Tariqhat Qadiriyah. Adapun di Makkah, penyebaran Tariqhat Qodiriyah sudah bermula sejak 1180 H/1669 M.

Berbeda dengan beberapa Tariqhat lainnya, Tariqhat Qadiriyah dikenal sebagai Tariqhat yang luwes. Dalam pan-dangan shufi, seseorang yang sudah mencapai derajat mursyid (guru) tidak mesti harus mengikuti Tariqhat guru di atasnya lagi. Ia memiliki hak untuk memperluas Tariqhat Qadiriyah dengan membuat Tariqhat baru, asalkan sejalan dengan Tariqhat Qadiriyah.

Dari sifat keluwesannya ini, Tariqhat Qadiriyah memiliki banyak anak cabang yang masing-masing memiliki mursyid-nya. Sebut saja seperti Tariqhat Benawa yang berkembang pada abad ke-19, Tariqhat Ghawtsiyah (1517), Thariqhat Junaidiyah (1515 M), Thariqhat Kama-liyah (1584 M), Thariqhat Miyan Khei (1550 M), dan Thariqhat Qumaishiyah (1584), yagn semuanya berkembang di India. Di Turki terdapat Tariqhat Hin-diyah, Khulusiyah, Nawshahi, Rumiyah (1631 M), Nabulsiyah, dan Waslatiyyah. Adapun di Yaman ada Tariqhat Ahda-liyah, Asadiyah, Mushariyyah, ‘Urabiy-yah, Yafi’iyah (718-768 H/1316 M) dan Zayla’iyah. Sedangkan di Afrika terdapat Tariqhat Ammariyah, Bakka’iyah, Bu’aliyya, Manzaliyah dan Tariqhat Jilala. Thariqat Jilala ini adalah sebuah nama lain yang dialamatkan oleh masyarakat Maroko kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Adapun di Indonesia, Thariqat Qa-diriyah berkembang pesat yang berasal dari kawasan Makkah, Arab Saudi. Thariqat Qadiriyah menyebar ke Indonesia pada abad ke-16, khususnya di seluruh Pulau Jawa. Ada beberapa pesantren yang menjadi pusat pergerakan Thariqat Qadiriyah ini. Sebut saja seperti Pesan-tren Suryalaya Tasikmalaya (Jawa Ba-rat), Pesantren Mranggen (Jawa Tengah), dan Pesantren Tebuireng Jombang (Ja-wa Timur).

Sebagai informasi tambahan, orga-nisasi agama di Indonesia yang tidak bisa dilepaskan dari Thariqat Qadiriyah adalah Nahdhatul Ulama (NU) yang berdiri di Surabaya pada tahun 1926. Ada juga organisasi lain seperti al-Washliyah dan Thariqat Qadiriyah Naqsa-bandiyah yang merupakan organisasi resmi di Indonesia.

Karya-karya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

Berikut adalah beberapa kitab yang menjadi karya tulis beliau:

  1. Al-Ghunyah li Thalib Thariiq al-Haq fi al-Akhlaq wa al-Tashawuf wa al-Adab al-Islamiyah.
  2. Futuh al-Ghaib
  3. Al-Fath al-Rabbani wa al-Faidl al-Rahmani

Demikianlah, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani yang hidup dengan penuh pengabdiannya kepada Islam. Beliau wafat pada malam Sabtu ba’da maghrib di daerah Babul Azajwafat, Baghdad, pada tanggal 8 Rabiul Akhir 561 H / 1166 M. Jenazahnya dimakamkan di madrasahnya sendiri setelah disaksikan oleh ribuan jama’ah yang tak terhitung jumlahnya.

__________________________________________________________________

Klaim Keramat

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

Pada tulisan kali ini, kita akan sedikit menyimak beberapa kisah yang dialamatkan (ditujukan) kepada Syaikh Ab-dul Qadir al-Jailani. Kisah-kisah tersebut banyak tertulis di beberapa kitab dan cukup dikenal luas oleh kalangan kaum muslimin. Namun dalam hal ini, kita perlu tahu bahwa banyak dari kisah-kisah tersebut yang fiktif (tidak nyata kebenarannya).

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dan Kisah-Kisah Ajaibnya

Diceritakan oleh Muhammad bin al-Khidir bin al-Husaini bahwa ayahnya berkata,” Jika Syaikh Abdul Qadir al-Jailani memberikan pelajaran berbagai disiplin ilmu di majlisnya, maka perkataannya tak pernah terputus. Tidak ada seorangpun yang berani meludah, mendengus, berdehem, berbicara, maupun maju ke tengah majlis karena kharisma beliau.

Keagungannya membuat orang-orang yang hadir ikut berdiri jika beliau datang ke dalam majlisnya. Karismanya membuat semua orang hening ketika beliau memerintahkan mereka untuk diam sampai yang terdengar hanya hembusan nafas mereka. Tangan orang-orang yang hadir dalam majlisnya sampai bersentuhan dengan kaki orang lain. Beliau mengenali mereka satu persatu hanya dengan memegang tanpa harus melihat wajahnya.

Orang yang jauh sekalipun bisa men-dengar ucapan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Bahkan beliau bisa menebak isi hati seseorang dan memberi nasihat berdasarkan ucapan batin dalam diri-nya.

Diriwayatkan pula bahwa arwah pa-ra nabi berpusar mengelilingi majlis Syaikh Abdul Qadir al-Jailani baik di langit maupun di bumi bak angin yang berpusar di ufuk. Juga malaikat meng-hadiri majlisnya berkelompok demi kelompok.

Syaikh Abu Madyan bin Syuaib ber-kata, “Ketika aku bertemu dengan Al-Khidr, aku bertanya tentang para syaikh (wali Allah) dari barat sampai timur saat ini. Ketika aku bertanya tentang Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, dia (al-Khidir) berkata, “Beliau adalah imam golongan as-Shidq, hujjah bagi kaum ‘arif. Dia adalah roh dalam ma’rifah dan posi-sinya dibandingkan dengan para wali lainya adalah al-Qurbah (kedekatan).”

Dari Syaikh Muhammad bin Harawi, ia berkata, “Suatu hari ketika Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berbicara di ma-jlisnya, beliau terdiam beberapa saat kemudian berkata,” Jika aku meng-inginkan Allah swt mengirimkan burung hijau yang akan mendengarkan perka-taanku maka Ia akan mengabulkannya’. Sekejap kemudian majlis tersebut dipe-nuhi oleh burung berwarna hijau yang dapat dilihat oleh semua yang hadir’”.

Masih soal burung, suatu saat ada seekor burung yang melintas di atas majlis Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Kemudian beliau berkata, “Demi Allah yang disembah, jika aku mengatakan ‘matilah terpotong-potong’ kepada burung itu maka hal itu pasti terjadi”. Se-telah beliau selesai mengucapkannya, burung tersebut jatuh dalam keadaan mati terpotong-potong”.

Syaikh Baqa bin Bathu An-Nahri al-Makki berkata,“Ketika Syaikh Abdul Qadir al-Jailani berbicara di tangga per-tama kursinya, tiba-tiba perkataan beliau terputus dan beliau tidak sadarkan diri beberapa saat. Setelah sadar beliau langsung turun dari kursi dan kemudian kembali menaiki kursi tersebut dan duduk di tangga kedua. Dan aku menyak-sikan tangga pertama tersebut mema-njang sepanjang penglihatan dan di-lapisi sutera hijau. Telah duduklah di sana Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Saat itu Allah swt ber-tajalli (merupakan istilah tasawuf yang berarti ”penampakan diri Tuhan yang bersifat absolut dalam bentuk alam yang bersifat terbatas) sehingga membuat beliau miring dan hampir jatuh jika tidak dipegang oleh Rasulullah saw. Kemudian beliau tampak semakin menge-cil hingga sebesar burung, kemudian menjadi sangat besar dan kemudian semakin menjauh dariku”.

Ketika syaikh Baqa’ ditanya tentang penglihatannya kepada Rasulullah saw dan para sahabatnya, beliau berkata, “Semua itu adalah arwah mereka yang membentuk. Hanya mereka yang dia-nugerahi kekuatan saja yang dapat me-lihat mereka dalam bentuk jasad dan segala sifat fisik.”

Sedangkan saat beliau ditanya ten-tang Syaikh Abdul Qadir al-Jailani yang mengecil dan membesar, Syaikh Baqa’ berkata, “Tajalli pertama tidak bisa ditahan oleh orang biasa kecuali dengan pertolongan Nabi. Oleh karena itu Syaikh Abdul Qadir al-Jailani nyaris terjatuh. Sedangkan Tajalli kedua didasarkan pada sifat ke-Agungan yang berasal dari Yang Disifati, oleh karena itu beliau mengecil. Sedangkan tajalli ketiga di-dasari pada sifat ke-Maha Indahan Allah, oleh karena itu beliau membesar. Semua itu adalah anugerah Allah kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan sesungguhnya Allah memiliki anugerah yang a-gung”.

Syaikh Harawi berkata, “Aku mela-yani Syaikh Abdul Qadir al-Jailani selama 40 tahun, selama itu beliau se-lalu melaksanakan shalat subuh dengan wudhu shalat isya’. Jika beliau berha-dats, beliau segera memperbaharui wudhunya. Dan setelah shalat isya’ beliau masuk seorang diri ke dalam ruang khalwatnya dan tidak keluar hingga fajar.

Syaikh Ahmad Rifa’i berwasiat ke-pada keponakan-keponakannya, “Jika kalian tiba di Baghdad, dahulukan me-ngunjungi Syaikh Abdul Qadir al-Jailani jika beliau masih hidup. Atau menziarahi kuburnya apabila beliau sudah meninggal. Karena beliau telah mengambil janji Allah bahwa semua pemilik kondisi spiritual yang tidak menomor satukan beliau akan dicabut kondisi spiritual yang di-milikinya. Syaikh Abdul Qadir benar-benar merupakan kerugian begi mereka yang tidak melihatnya.”

Syaikh Umar al-Bazaar berkata, “Su-atu hari aku duduk di hadapan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dalam khalwatnya. Beliau berkata kepadaku, ‘Jaga punggungmu karena akan ada kucing yang jatuh di punggungmu’. Dalam hati aku berkata, ‘ Dari mana datangnya kucing? Tidak ada lubang di atas dan…..’ Se-belum selesai bicara, tiba-tiba seekor kucing jatuh ke punggungku. Kemudian beliau memukulkan tangannya ke dadaku dan aku mendapati cahaya terbit dari dalam dadaku bak mentari. Dan aku menemukan al-Haq pada saat itu.

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani ber-kata, “Ibadah haji pertamaku aku lakukan pada saat aku masih muda dan sedang melaksanakan Tajrid (pelepasan). Saat aku tiba di daerah Umm al-Qurn aku bertemu Syaikh Uday bin Musafir yang juga masih muda. ‘Mau kemada engkau?’ Tanya Syaikh Uday kepadaku. ‘Makkah Al-Musyarafah’, jawabku. ‘Apa engkau bersama seseorang?’ tanya Syaikh Uday kembali. ‘Aku sedang melaksanakan tajrid,’ jawabku.

Kemudian kami berdua melanjutkan perjalanan. Ditengah perjalanan kami berjumpa seorang wanita kurus dari Habsyi (Ethiopia). Dia berhenti di depanku dan memandangi wajahku lalu kemudian berkata, ‘Anak muda, dari manakah engkau?’ Aku menjawab, ‘O-rang Ajam (non-Arab) yang tinggal di Baghdad’. ‘Engkau telah membuatku lelah hari ini,’ sahutnya. ‘Kenapa?’ tanyaku. Kemudian wanita itu pun menjelaskan alasannya, ‘Satu jam yang lalu aku berada di Habsyi kemudian Allah menunjukkan hatimu kepadaku sekaligus anugerah-Nya kepadamu yang belum pernah aku saksikan diberikan-Nya kepada selain dirimu. Hal itu menyebabkan aku ingin mengenal dirimu. Hari ini aku ingin berjalan bersama kalian melewatkan malam bersama kalian’.

Lantas akupun berkata, ‘Itu merupakan kehormatan buat kami’. Setelah itu dia mengikuti kami berjalan di sisi lain wadi (aliran sungai gurun) tersebut. Ketika tiba waktu maghrib dan saat makan malam tiba, sebuah nampan turun dari langit yang berisi 6 potong roti beserta lauk pauknya. ‘Subhanallah segala puji dan syukur bagi Allah yang telah memuliakan aku dan tamuku’, ungkap perempuan tersebut.

Malam itu, setiap dari kami memakan dua potong roti. Selesai makan, datanglah tempat air dan kami meminum air yang kesegaran dan rasanya tidak ada di dunia ini. Setelah itu, perempuan itupun pergi meninggalkan kami.

Kisah selanjutnya adalah, ada seorang kafilah yang kehilangan 4 untanya di hutan. Kemudian ia teringat akan pesan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani bahwa jika dirinya mendapat kesulitan, maka diperintahkan untuk menyebut nama Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Kemudian kafilah itu menyebut nama Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Tiba-tiba, ada seorang berjubah putih di atas bukit dengan melambaikan tangan. Kafilah tersebut menuju sosok yang dimak-sud. Namun setelah sampai di atas bu-kit, sosok tersebut hilang dan malah ia menemukan ke 4 unta yang sedang dicarinya.

Demikianlah, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani beserta kisah-kisah hidup, ilmu, dan karamah yang ditujukan kepadanya.

Meyakinkan Orang Bodoh dalam 1 Menit

Assalaamu’alaikum,

Ini adalah debat yang terjadi antara aku dan seorang yang dungu tentang keyakinan kita, dan Alhamdulillah merupakan hal yang mudah untuk meyakinkannya.

Orang Bodoh: Kamu para salafi adalah para pelaku takfiri, bagaimana kalian bisa tega mengatakan seorang yang mengatakan “La ilaha illa Allah” sebagai seorang Kafir? Apakah kamu tidak takut kepada Allah? Hanya Allah yang tahu apa yang ada di dalam hati manusia. Kamu nggak bisa memanggil setiap orang dengan sebutan Kafir kecuali kamu tahu apa yang ada di hati mereka, dan ini adalah suatu hal yang tidak mungkin.

Aku: Okey, coba beritahu aku, jika seseorang berkata: “La ilaha illa Allah” sementara dia masih percaya bahwa yesus adalah anak Allah… akankah dia kita sebut sebagai seorang Muslim?

Orang Bodoh: Tidak, pastinya bukan lah..

Aku: Jadi kita menyadari bahwa seseorang yang mempunyai keyakinan Kufur adalah seorang Kafir, walaupun dia telah mengatakan Shahadah.. benar begitu?

Orang Bodoh: Ya, itu adalah benar.

Aku: Jadi.. Bagaimana tentang seseorang yang mengucap syahadah tetapi dia masih menghina Allah (swt) dan Islam.. apakah ini dianggap sebagai seorang Muslim?

Orang Bodoh: Tentu bukan.

Aku: Jadi kita menyadari bahwa seorang yang berkata Kufur dengan jelas adalah seorang Kafir, walaupun dia mengucap Syahadah, benar?

Orang Bodoh: Ya, itu adalah benar.

Aku: Dan bagaimana tentang seseorang yang telah mengucapkan Syahadah, tapi dia masih tak berdaya terhadap berhala, dan menginjak-injak Qur’an dengan sengaja.. apakah dia seorang Muslim?

Orang Bodoh: Tidak dia bukanlah Muslim.

Aku: Jadi kita menyadari bahwa seseorang yang melakukan tindakan Kekufuran adalah seorang Kafir, sekalipun dia mengucap Syahadah, benar?

Orang Bodoh: Ya, itu adalah benar.

Aku: Oleh karena itu kita menyadari bahwa tidak setiap orang yang mengucapkan “La ilaha illa Allah” adalah seorang Muslim.. jika dia melakukan Kekufuran, dia adalah seorang Kafir, dan pernyataan itu tidak akan membawa manfaat baginya.. Jadi mengapa kamu menyalahkan kami dengan memanggil mereka yang jatuh kepada kekufuran sebagai Kuffar?

Orang Bodoh: Lalu bagaimana kamu menjelaskan Hadith Usama bin Zaid (raa) ketika dia membunuh lelaki yang mengatakan “la ilaha illa Allah”?

Aku: Apakah lelaki itu menunjukkan Kekufuran setelah dia mengucapkan pernyataan itu?

Orang Bodoh: Nggak.

Aku: Jadi mengambilnya sebagai bukti menjadi invalid.. dan marilah aku mengingatkanmu tentang kisah Abu Bakr (raa) dengan kaum Murtaddeen.. mereka telah mengucapkan Shahadah, sholat, puasa.. tetapi tidak membayar Zakat.. SEMUA Sahabat tetap memanggil mereka sebagai kaum Murtaddeen.. karena mereka menunjukkan tindakan Kekufuran.

Orang Bodoh: Ya.. (Kemudian hal tersebut mengarahkan pembuktian bahwa para penguasa kita tengah melakukan Kekufuran secara jelas).

Sumber : Ar Rahmah (v-i)

Aliran Sesat Transfer Ilmu Agama Lewat Bersetubuh

Padepokan zikir Naqsabandiyah milik Sahrudin sudah dibakar warga Desa Sekong, Kecamatan Cimanuk, Kab. Pandeglang. Warga resah dengan aktivitas padepokan yang dinilai menyimpang. Lantas apa saja aktifitas sesat yang diajarkan padepokan tersebut?

Menurut penuturan warga setempat, Riyat (23), Sahrudin sering melakukan ritual yang tidak lazim diajarkan dalam agama Islam. Misalnya, Sahrudin melakukan pernikahan ghaib tanpa wali dan penghulu.

“Tak hanya itu saja Sahrudin sering menyetubuhi anak tirinya Wanti (20), dengan dalih mentransfer ilmu agama lewat udara dengan cara nikah gaib,” papar Riyat.

Pernikahan gaib itu juga diprotes “istri” Sahrudin, Ririn. Menurut pengakuan Kepala Desa Sekong, Wawan Gunawan, Ririn merasa dilecehkan oleh suaminya karena hubungan suami istri yang telah 5 tahun dijalaninya sampai saat ini hanya dilakukan dengan nikah ghaib, tanpa nikah di depan penghulu.

“Istri Sahrudin pun mengatakan kepada saya bahwa anaknya Wanti dari suaminya yang pertama (anak tiri Sahrudin) juga dinikahi secara ghaib,” papar Wawan.

Selain ajaran aneh tersebut, aktivitas padepokan Sahrudin juga dianggap mengganggu ketrentaman warga sekitar. Setiap kali melakukan ritual, jamaah zikir selalu berzikir dengan suara keras yang terdengar hingga di sekitar desa.

Menurut penuturan warga sekitar, para pengikut Sahrudin mayoritas berasal dari Jakarta. Bahkan, Sahrudin juga bukan warga asli desa setempat. Dia pendatang yang baru tinggal sekira empat tahun di Desa Sekong.

Sumber Okezone.com