Tahun I Edisi 11

Islam Kejawen


Sejarah Masuknya Islam ke Nusantara

Pada tahun 30 H atau 651 M, Khalifah Utsman ibn Affan mengirim delegasi ke Cina un-tuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu em-pat tahun ini, para utusan sempat sing-gah di Kepulauan Nusantara. Bebe-rapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah men-dirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pe-dagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusan-tara, adalah yang pertama sekali me-nerima agama Islam. Bahkan di Aceh-lah kerajaan Islam pertama di Indo-nesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pe-ngembara Muslim dari Maghribi. yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa kom-plek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis ang-ka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada zaman Kerajaan Singasari. Diperkira-kan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam pa-ra pedagang Arab.

Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman pendu-duk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 15 M, penduduk pribumi memeluk Is-lam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebab-kan saat itu kaum Muslimin sudah me-miliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya be-berapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini ber-darah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga dise-babkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam menga-takan bahwa kedatangan Islam bu-kanlah sebagai penakluk seperti hal-nya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan po-litik. Islam masuk ke Nusantara de-ngan cara yang benar-benar rahmatan lil’alamin.

Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, per-dagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi sema-kin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah ber-asal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar se-panjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penye-babnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah – terutama Belanda – me-nundukkan kerajaan Islam di Nusan-tara, mereka pasti menyodorkan per-janjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun sebelumnya. Keinginan kaum kolonialis untuk men-jauhkan ummat Islam Nusantara de-ngan akarnya juga terlihat dari ke-bijakan mereka yang mempersulit pem-bauran antara orang Arab dengan pribumi.

Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, me-mang sudah terlihat sifat rakus mereka ingin berkuasa. Apalagi mereka men-dapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama musuh mereka, sehingga se-mangat Perang Salib pun selalu diba-wa-bawa setiap kali mereka menun-dukkan suatu daerah. Dalam meme-rangi Islam mereka bekerja sama de-ngan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pela-yaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk mem-bangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pu-lau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertem-puran besar yang bersejarah ini di-pimpin oleh seorang putra Aceh ber-darah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fatahillah. Sebe-lum menjadi orang penting di tiga ke-rajaan Islam Jawa, yakni Demak, Ci-rebon dan Banten, Fatahillah sempat belajar di Makkah.

Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, na-mun di sisi lain membuat pendalaman tentang Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami ke-Islaman. Sedang-kan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra-Islam. Kalangan priyayi (bangsawan) yang dekat dengan Be-landa malah sudah terjangkiti pemi-kiran menyimpang dan gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terle-pas dari hal ini, ulama-ulama Nusan-tara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Banyak di an-tara mereka yang bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat ribuan syuhada Nu-santara yang gugur pada berbagai per-tempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Ma-laysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Ba-gus rangin), Perang Jawa (Dipone-goro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).

Virus Tasawuf Menyusupi Islam Kejawen

Setelah perang fisik yang dilakukan salibis-zionis gagal menghadapi kaum muslimin, mereka menggunakan taktik lain. Mereka sadar, apabila akidah kaum muslimin masih melekat erat dalam jiwa, tak akan pernah ada yang namanya kemenangan bagi mereka. Akhirnya mereka mengalihkan arah serangan pada penghancuran akidah dan keyakinan. Mereka campuraduk-kan segala macam keyakinan yang ada di masyarakat, salah satunya mas-yarakat Jawa. Dari sinilah muncul “Is-lam baru” atau “Islam Kejawen.”

Di antara tokoh yang paling ber-pengaruh terhadap kebijakan baru tentara salibis itu adalah Christian Snouck Hurgronje. Ia merupakan to-koh orientalis ahli muslihat yang meng-hancurkan Islam dari dalam dengan pura-pura masuk Islam. Pada tahun 1884 mengadakan petualangan ke jazirah Arab, dan menetap di Jeddah sejak Agustus 1884 hingga Februari 1885, sebagai persiapan menuju Me-kah, yang merupakan tujuan utama dari petualangannya. Snouck sampai di Mekah pada tanggal 22 Februari 1885 dengan menggunakan nama samaran Abdul Ghafar, karena me-mang Mekah tertutup untuk non-mus-lim. Dia menetap di Mekah selama enam bulan dan menghasilkan karya berjudul Makah. Namun akhirnya pada bulan Agustus, Snouck dipaksa keluar dari Mekah oleh konsul Prancis.

Selanjutnya, Tasawuf memegang peranan yang sangat penting bagi per-kembangan Islam di negeri ini, utama-nya di pulau Jawa. Belanda pun men-dukung apabila yang berkembang adalah Islam model tasawuf. Islam berkembang di pulau Jawa bukan di-landasi oleh ilmu pengetahuan seperti misalnya yang pernah terjadi di Eropa, melainkan melalui ajaran-ajaran ta-sawuf. Tasawuf dinilai memiliki “ke-miripan” dengan konsep pemahaman mistik orang Jawa, sehingga menjadi-kan tasawuf lebih mudah diterima. Jauh sebelum orang-orang Jawa me-ngenal ajaran tasawuf, mereka telah akrab dengan kebudayaan mereka sendiri yang terwarnai animisme dan dinamisme-nya di kalangan rakyat, serta Hinduisme-Budhisme di kalangan elit istana. Kebudayaan ini memiliki ciri halus dan sangat terbuka. Sifat khas yang seperti ini memungkinkan unsur-unsur luar tak begitu kesulitan untuk masuk ke dalamnya, melalui sinkretisasi dan akulturasi. Dengan cara inilah Islam di“proses” menjadi agama orang-orang Jawa, kemudian disandarkan pada dakwah para wali songo.

Dengan pola perkembangan yang seperti ini, Islam di Jawa memiliki ciri khasnya. Banyak upacara-upacara dan kegiatan-kegiatan ritualistik yang sebenarnya merupakan produk Ani-misme-Dinamisme-Hindhuisme-Bu-dhisme dipertahankan dan (hanya) dibingkai dengan nilai-nilai Islam. Se-perti dengan pemberian doa secara Islam dalam tradisi kenduri dan lain-lain. Nah, pembingkaian adat dan tradisi non-Islam (Animisme-Dinamis-me-Hindhuisme-Budhisme) dengan nilai-nilai Islam inilah yang kemudian melahirkan ciri khas Islam di Jawa sebagai “Islam-Kejawen”, atau sering disebut sebagai “Kejawen” saja.

Islam-Kejawen ini berkembang pe-sat manakala di pulau Jawa ini ber-munculan kerajaan-kerajaan Islam serta beralihnya pusat-pusat kerajaan ke daerah pedalaman, di mana sang raja yang non-Muslim kemudian ber-pindah mengikuti agama Islam. Di sinilah Islam berkembang menjadi agama rakyat. Sebab, konsep feodal-isme dalam masyarakat di Jawa me-niscayakan rakyat mengikuti apa yang dilakukan oleh rajanya, termasuk da-lam hal ini adalah agama yang dianut sang raja.

Lalu apa yang sebenarnya me-latarbelakangi pembingkaian adat dan tradisi non-Islam dengan nilai-nilai Islam (Islamisasi) tersebut bisa terlaksana? Ada empat hal yang me-latarbelakangi hal tersebut.

Pertama, warisan budaya Jawa yang halus dan mulia bisa dipertahan-kan dan dimasyarakatkan apabila dipadukan dengan unsur-unsur Islam.

Kedua, para pujangga dan sastrawan Jawa sangat memerlukan bahan-ba-han sebagai sumber utama dalam berkarya. Dan untuk ini mereka “hanya” bisa menyadap dari budaya pesan-tren ketika pada saat budaya hindhu-isme-budhisme telah terputus.

Ketiga, perlu untuk stabilitas, budaya dan politik antara tradisi pesantren de-ngan kejawen yang sangat berbeda.

Keempat, istana sebagai pelindung dan pendukung agama perlu mem-bantu untuk menerjemahkan syiar Islam, sehingga muncullah tradisi ma-uludan, sekaten dan lain-lain. Semen-tara terjadi islamisasi tradisi, ajaran-ajaran tasawuf pun berkembang se-cara intens. Pasalnya, ajaran-ajaran tasawuf yang berkembang di Jawa memiliki “kesamaan” dengan konsep mistisisme di kalangan para priyayi Jawa sendiri yang berupaya mem-pertahankan kepercayaan “raja titising Dewa” yang serba magis dan sarat dengan mitologi. Mistik, bagi kala-ngan priyayi Jawa, merupakan inti terdalam yang menjiwai dan mewarnai seluruh aspek kebudayaan Jawa tra-disional.
Inti ajaran ini adalah kepercayaan bahwa manusia tak bisa menjalin hubungan langsung secara pribadi dengan Tuhan dan alam ghaib kecuali dengan jalan meditasi. Hasil hubu-ngan langsung dengan Tuhan inilah yang menjadi kebanggaan dan kebe-saran serta kebebasan manusia. Ini-lah yang melahirkan konsep mistik Jawa “bersatunya hamba dengan Tu-han”. Dengan latar belakang semacam inilah, para pujangga Jawa seperti R. Ng. Ranggawarsita dan KGPAA Mangkunegara IV dan lain-lain, sangat aktif menyerap ajaran-ajaran tokoh-tokoh sufi yang beraliran “union-mistik” (Manunggaling Kawula lan Gusti), se-perti yang dikembangkan oleh Ibnu Arabi, Al-Hallaj, Abdul Karim al-Jili, Hamzah Fansuri dan lain-lain, bagi pengembangan ilmu-ilmu mistik Is-lam-Kejawen.

Ajaran-ajaran mistik ini bahkan kemudian menjadi intisari dari karya-karya sastra yang mereka hasilkan, seperti Serat Wirid Hidayat Jati, Serat Pamoring Kawula-Gusti, Suluk Saloka Jawa, Serat Wedhatama, Serat Cen-thini, dan lain-lain.

Karya-karya sastra Jawa yang ke-mudian lebih dikenal dengan Kepus-takaan Islam-Kejawen ini pada giliran-nya memiliki peranannya yang tidak kecil bagi perkembangan ajaran-aja-ran sufisme (tasawuf)-Jawa. Ajaran “Manunggaling Kawula-Gusti” menis-cayakan penggambaran Tuhan secara vulgar, di mana Tuhan digambarkan memiliki sifat-sifat sebagai manusia, dan sebaliknya, manusia dilukiskan memiliki sifat-sifat sebagai Tuhan. Uraian tentang Tuhan menjadi me-ngada-ada, sehingga pengertian Tu-han menjadi berbaur dengan penger-tian tentang manusia. Tuhan digam-barkan berada dalam diri manusia.

Pada akhirnya, ajaran tasawuf yang berkembang di Jawa dan sangat mewarnai kepustakaan Islam-Kejawen adalah apa yang disebut sebagai ta-sawuf-murni atau tasawuf-mistik.

Lalu apakah tujuan tasawuf yang demikian? Tujuannya ialah mencipta-kan kesadaran beriman kepada Tuhan dalam diri manusia. Dalam sejarah Islam, tasawuf yang (mirip) demikian ini yang “dikembangkan” oleh Ibnu Arabi, al-Hallaj  dan lain-lainnya. Dan (tasawuf yang demikian) ini, pun tetap dianut (sebagian kecil) umat Islam di dunia. Tasawuf yang demikian itu menyimpang dari nilai-nilai Islam.

Menurut kamus bahasa Inggris, is-tilah Kejawen adalah Javanism, Java-neseness; yang merupakan suatu cap deskriptif bagi unsur-unsur kebuda-yaan Jawa yang dianggap sebagai hakikat Jawa dan yang mendefinisikan-nya sebagai suatu kategori khas. Ja-vanisme yaitu agama besarta panda-ngan hidup orang Jawa yang mene-kankan ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan, sikap nrima ter-hadap segala peristiwa yang terjadi sambil menempatkan individu di ba-wah masyarakat dan masyarakat di bawah semesta alam.

Orang Jawa percaya bahwa Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan. Pusat yang dimak-sud di sini adalah yang dapat memberi-kan penghidupan, keseimbangan, dan kestabilan, yang dapat juga memberi kehidupan dan penghubung dengan dunia atas. Pandangan orang Jawa yang demikian biasa disebut Kawula lan Gusti, yaitu pandangan yang ber-anggapan bahwa kewajiban moral ma-nusia adalah mencapai harmoni de-ngan kekuatan terakhir dan pada ke-satuan terakhir itulah manusia me-nyerahkan diri secara total selaku ham-ba terhadap Sang Pencipta.

Di antara falsafah kehidupan ke-jawen adalah kawruh bejo yaitu meng-gapai kesempurnaan dan kebahagia-an sejati. Seseorang bisa mencapai kawruh bejo harus melalui beberapa tahap yaitu Mulat saliro artinya mawas diri, tahu jati diri pribadi, Tepo saliro yaitu berempati pada nasib orang lain, Nanding pribadi yaitu membanding-kan dengan orang lain agar bisa ber-lomba lebih unggul, Ngukur pribadi yaitu mengukur orang lain dengan pertamanya mengukur diri sendiri, dan Mawas diri yaitu memahami ke-adaan diri sejujur-jujurnya.

Falsafah Jawa juga berbicara ten-tang sikap-sikap kepemimpinan yang wajib dijadikan pegangan para pe-mimpin sehingga bisa menjadi pemim-pin yang baik. Falsafah ini terang-kum dalam konsep falsafah asta brata yaitu delapan ajaran utama tentang kepemimpinan Jawa yang merupakan petunjuk Sri Rama kepada adiknya, yang akan dinobatkan menjadi raja ayodya. Asta Brata disimbolkan de-ngan sifat-sifat mulia dari alam semes-ta yang patut dijadikan pedoman bagi setiap pemimpin.

Delapan ajaran tersebut adalah Laku hambeging Indro (hujan) yaitu mengusahakan kemakmuran rakyat dan setiap tindakan membawa kese-jukan, Yomo (Dewa Yama) yaitu be-rani menegakkan keadilan menurut hukum yang berlaku, Mendung yaitu menyatukan segala sesuatu agar ber-guna, adil, memberikan ganjaran be-rupa hujan dan hukuman dengan pe-tir dan kilat. Suryo (Matahari) yaitu memberikan semangat dan menjadi sumber energi, sabar, tajam, dan ter-arah dalam bekerja, Chondro (Bulan) yaitu mampu menerangi rakyat yang bodoh dan miskin dengan menampil-kan wajah yang sejuk, Maruto (angin) yaitu selalu berada di tengah-tengah rakyat dan memberikan kesegaran. Bumi yaitu mampu menjadi teladan dan landasan berpijak untuk kesejah-teraan rakyat, Baruno (Air, Samudra) yaitu berwawasan luas, arif, dan me-ngatasi masalah dengan bijaksana dan pemaaf laksana air, serta Agni (Api) yaitu memberikan semangat ke-pada rakyat untuk terus membangun.

Di antara falsafah Jawa yang lain adalah Sama bedho dono dendho yang berarti persamaan, kesejahte-raan, menjalankan hukum seadil-adil-nya dan Komo arto dharmo mukso yaitu keinginan pada dunia harus di-kontrol dan harus digunakan untuk berbakti kepada manusia, dengan be-gitu bisa mencapai kesempurnaan.

Ajaran dan kebudayaan Islam me-ngalir sangat deras dari Arab dan Ti-mur Tengah sehingga memberi warna yang sangat kental terhadap kebuda-yaan Jawa.

Islam masuk ke Jawa melalui akul-turasi damai karena para pendakwah Islam yang datang ke Jawa adalah para santri, ulama dan pedagang bu-kan para prajurit perang sehingga sa-lah satu prakteknya adalah dengan melakukan perkawinan. Selain itu juga didukung oleh sifat tenggang rasa dari orang Jawa sendiri yang mudah me-nerima sesuatu dari luar.

Dalam perjalanan sejarahnya aga-ma Islam telah mengubah wajah dan kiblat orang Jawa, namun karena kuat-nya tradisi, ajaran Islam yang mereka terima itu terakulturasi dan bercam-pur dengan tradisi. Islam yang telah terpadu dengan tradisi itulah yang kemudian menjadi ajaran khas Jawa (Islam Kejawen).

red.ummatie

Tahun I Edisi 10

Para Penghujat Islam


Seolah tak pernah mengenal le-lah, musuh-musuh Islam tanpa henti menebar dustanya, meng-hujat Islam sebagai agama yang me-ngajarkan terorisme dan penindas Hak Asasi Manusia (HAM). Gelombang propaganda menentang Islam me-nerjang keras dengan beragam cara. Ada yang melalui pernyataan lisan-lisan kotor mereka seperti: Johannes (±652-750) adalah orang yang paling awal menganggap Rasulullah saw se-bagai nabi palsu, diikuti Pastor Bede (673-735), Peter the Venerable (1049-1156) se-orang kepala biara Cluny di Prancis, Ricoldo, Martin Luther (1483-1546) Paus Benediktus dan masih banyak lagi.

Ada yang melalui goresan pena seperti buku Islam and Terrorism, Is-lamic Invasion, The Myth of Islamic Tolerance, Islam Unveiled, Prophet of Doom, Why I am Not a Muslim, dan yang lainnya. Juga banyak tulisan di internet berisikan pandangan serupa, yang mudah diakses dan dibaca di seluruh dunia.

Ada yang berupa film-film terutama produksi mesin propaganda Yahudi, Hollywood. Industri hiburan ini di-topang dengan keluasan jaringan me-dia massa dan kantor berita dunia yang semuanya nyaris memojokkan Islam. Film-film itu antara lain: Ekso-dus (1960), Cast a Giant Shadow (1966), Network (1976), Black Sun-day (1977), Iron Eagle (1986), Death Before Dishonor (1987), True Lies (1994), Eraser Delta Force, Top Gun dan masih banyak lagi yang lain. Film bersegmentasi anak-anak pun tidak lepas dari psywar (perang psikologi) yang dilakukan Yahudi terhadap Is-lam, yang diwujudkan dalam film kartun buatan Walt Disney. Sebagai misal, film Aladdin. Dalam film ani-masi tentang cerita 1001 malam ini, selain ditampilkan pakaian yang ti-dak sopan dan merusak akhlak, juga digambarkan secara ngeri adanya hukum potong tangan yang dilakukan secara sembarangan. Film terhangat adalah apa yang telah dirilis oleh po-litikus Belanda Geert Wilders, ‘Fitna’. Tujuannya memperburuk image aga-ma yang begitu mulia ini. Semua upa-ya tersebut bernada sama; Islam di-analogikan dengan ‘virus’ yang bisa membuat orang normal menjadi eks-trem dan berbahaya.

Al-Qur’an dipandang sebagai bu-ku yang meracuni pemikiran manusia menjadi terbelakang, tidak toleran, serta penuh kebencian dan permusuhan terhadap semua orang yang berbeda agama. Al-Qur`an dituduh mengajar-kan kebohongan dan pembunuhan.

Nabi Muhammad saw, teladan bagi setiap Muslim, yang namanya disebut-sebut setiap saat dalam doa maupun shalat, difitnah dengan digambarkan sebagai seorang yang mengajarkan kekerasan.

Islam mereka pandang rendah stan-dar moralnya karena dinilai kurang menghargai nyawa manusia. Umat Islam yang menjalankan ajaran dasar agamanya tidak jarang dipandang sebagai seorang ekstremis dan cikal bakal teroris yang harus selalu diwas-padai dan dicurigai sebagai seorang yang bersalah. Seakan-akan motto keadilan “asas praduga tak bersalah” tidak berlaku buat orang Islam. Yang terjadi malah sebaliknya, “asas praduga bersalah”.

Belanda misalnya, dikenal sebagai negara yang serba boleh. Pelacuran legal. Gay dan lesbi boleh menikah. Menghujat Tuhan dihukum, tapi meng-hujat Islam dibiarkan. Blasphemy, itulah istilah untuk menghujat Tuhan. Termasuk Tuhan dalam bentuk gam-bargambar atau patung yang dianggap suci.

Seolah berebut tenar, ada juga se-seorang yang mengaku Islam namun mencela agama yang dipeluknya sen-diri. Mereka menghujat Islam lalu men-dapat berbagai pujian dan undangan, khususnya dari Negara-negara Barat! Cara-cara seperti ini dilakukan Irshad Manji, seorang warga Muslim asal Ka-nada yang kini tinggal di Belanda. Dia begitu tenar setelah gagasannya yang pernah disampaikan bahwa cende-kiawan Barat seharusnya tidak takut lagi mengkritik Islam. Manji begitu te-nar dan dipuja sebagai pahlawan di dunia Barat karena kritik agresif me-reka terhadap Islam, tetapi mereka dihujat di dunia Muslim.

Irsyad Manji adalah seorang aktivis yang juga penganut lesbianisme. Bagi pers asing, Manji dianggap ‘seorang provokator berjalan untuk Islam tra-disional’. Tahun 2003 ia mempubli-kasikan bukunya “The Trouble with Islam Today”, yang merupakan kritik tajam terhadap pelanggaran hak-hak perempuan dan kelompok minoritas agama lainnya atas nama Islam. Tak urung, buku ini banyak mendapat pujian Barat.

Ayaan Hirsi Ali, wanita asal Somalia, pun meniti jalan serupa. Ia datang ke Belanda sebagai pengungsi me-minta perlindungan pemerintah se-telah dengan kasar memaki-maki Islam sebagai agama yang melakukan ke-kerasan dan penindasan terhadap kaum perempuan. Dengan mudah ia mendapatkan kewarga-negaraan Belanda, malah ia terpilih menjadi anggota parlemen. Namanya bertam-bah terkenal setelah menulis buku oto-biografi berjudul Infidel (kafir) yang isinya adalah kumpulan caci-makinya terhadap Islam. Buku itu laris manis berkat dipublikasi besar-besaran oleh media massa, dan beredar di toko buku kelas atas di Jakarta.

Setelah menyatakan keluar dari Islam, Ayaan berteman dengan se-orang sutradara film, Theo Van Gogh. Mereka kemudian mempersiapkan sebuah film pendek berjudul Submis-sion (Ketaatan). Isinya menistakan al-Qur’an. Ayat-ayat al-Qur’an dijadi-kan hiasan tato pada seorang perem-puan yang berbaju tembus pandang. Theo Van Gogh, sang sutradara, di-temukan tak lagi bernyawa pada No-vember 2004. Sebuah balasan pem-buka atas apa yang ia lakukan.

Di tanah air, orang-orang seperti ini mendapat tempatnya di JIL dan ormas semisalnya. Demi mendapat pujian orang-orang kafir, mereka rela menjual kehormatan agamanya.

Salah satunya, Siti Musdah Mulia, dosen Universitas Negeri Syarif Hida-yatullah (UIN) Jakarta, dengan berani-nya membolehkan homoseksual. Da-lam sebuah diskusi di Jakarta, ia me-ngatakan: “Menarik sekali membaca ayat-ayat al-Qur’an soal hidup berpa-sangan (QS. ar-Rum: 21; QS. adz-Dzariyat: 49 dan QS. Yasin: 36) di sana tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah soal gen-der (jenis kelamin sosial). Artinya, ber-pasangan itu tidak mesti dalam konteks hetero, melainkan bisa homo bisa lesbi.” Naudzubillah! Inilah pernyataan dalam upaya penghancuran Islam.

Metode dalam menghujat Islam

Mereka memiliki metode-metode yang biasa mereka gunakan dalam menyebarkan propaganda. Mohamad Ridha, Pengurus Islamic Society of Greater Portland North America me-nyebutkan di antaranya:

Metode pertama yang sering dijum-pai adalah penggunaan informasi dari sumber-sumber yang tidak jelas dasar-nya. Misalnya, banyak dari kalangan anti-Islam mengutip pernyataan dari kalangan orientalis maupun ulama Islam yang langsung dijadikan premis yang dianggap valid untuk mendukung tuduhan mereka tanpa dijelaskan da-sar-dasar argumentasinya.

Contohnya, untuk menunjukkan bahwa Islam tidak mengenal toleransi beragama untuk menafikan ayat-ayat al-Qur’an tentang toleransi (seperti la ikraha fiddin, lakum dinukum wa li-yadin) mereka mengutip pendapat beberapa ulama Muslim yang menga-takan ‘’ayat-ayat toleransi’’ sudah di nasakh (dibatalkan hukumnya) de-ngan ‘’ayat-ayat pedang (perang)’’.

Seharusnya mereka menyadari bahwa pendapat siapapun mengenai Islam sekalipun dikeluarkan oleh me-reka yang berstatus ulama, argumen-tasinya harus berdasarkan sumber-sumber yang diakui, yakni al-Qur’an dan Hadits shahih Nabi saw. Apalagi, ini berhubungan dengan nasikh dan mansukh yang jelas harus ada kete-rangan langsung dari Nab saw. Tanpa ada dasar-dasar ini, pernyataan ulama hanya bisa diakui sebagai pendapat atau interpretasi pribadi, yang mungkin saja dikeluarkan dalam konteks dan situasi tertentu di zamannya.

Metode kedua adalah penggunaan sumber-sumber sejarah yang tidak terjamin keotentikannya. Untuk meng-hujat Nabi saw kalangan anti-Islam bia-sanya mengutip kisah yang bisa di-temui di dalam kitab-kitab sirah Nabi dan tarikh Islam, seperti Ibnu Ishaq, Ibnu Sa’ad, dan Thabari, tanpa mem-pedulikan status kesahihan riwayat kisah tersebut.

Seharusnya mereka mengetahui bahwa kitab-kitab ini berbeda dengan kitab-kitab Hadits yang bisa dijumpai rantai periwayatannya dari informasi yang dicatat, sehingga bisa diteliti sta-tus keshahihannya. Imam Thabari sendiri menjelaskan dalam muqad-dimah kitab tarikhnya bahwa ia me-masukkan semua berita yang didengar-nya tanpa menyaring kembali kesa-hihan periwayatannya. Sayangnya, penjelasan beliau sebagaimana pen-jelasan ahli-ahli sejarah Islam lainnya tidak dipedulikan oleh kalangan anti-Islam ini.

Metode ketiga adalah penggunaan informasi yang parsial, tidak utuh, yang dijelaskan out of context, meski-pun dari sumber-sumber yang sahih. Karena tidak mengandung informasi yang menunjukkan konteks dan fakta yang benar, kutipan-kutipan yang parsial cenderung menyebabkan ke-salahan dalam mengambil kesimpulan.

Ini bisa kita lihat ketika mereka me-ngutip potongan kisah-kisah kehidupan Nabi saw yang diseleksi untuk menghujat beliau.

Contoh lainnya dapat dilihat ke-tika tidak dikutipnya ayat-ayat al-Quran, Hadits Nabi ataupun kisah-kisah da-lam shirah, yang menggambarkan kemuliaan ajaran Islam atau sifat-si-fat agung dan tanda-tanda kerasulan Nabi saw. Padahal, semua ini sama-sama ada dalam kitab-kitab yang me-reka gunakan untuk menghujat ‘ke-burukan moral’ Islam dan Nabi.

Metode keempat adalah penggu-naan standar ganda dalam menghujat Islam dan Nabi. Ini biasanya dilakukan oleh kalangan anti Islam dari golo-ngan Kristen fundamentalis. Contoh-nya Nabi saw dituduh nabi palsu de-ngan alasan beliau melakukan pe-perangan dan beristri banyak. Pada-hal, dalam kitab suci mereka sendiri didapati kisah para Nabi yang berpe-rang dan yang memiliki banyak istri.

Metode kelima adalah pengaburan sejarah Islam. Islam dituduh sebagai sumber keterbelakangan dan kemun-duran. Padahal jelas sejarah menun-jukkan kemajuan peradaban Islam jauh sebelum majunya peradaban di Barat.

Islam dituduh pula sebagai penye-bab sikap tidak toleran terhadap me-reka yang berbeda agama. Padahal sejarah jelas menunjukkan bahwa umat Islam dapat hidup berdamping-an dengan umat lainnya sejak za-man Nabi saw di Madinah. Sejarah juga menunjukkan bahwa ketika dilancar-kan inquisition di Spanyol pada abad pertengahan, berbondong-bondong orang Yahudi lari keluar Spanyol dan diberikan perlindungan di dalam ke-khalifahan Islam. Ini menunjukkan anti-Semit tidak dikenal di dalam Is-lam seperti yang sering dituduhkan.

Metode keenam adalah penggu-naan generalisasi. Ini biasanya dikait-kan dengan peristiwa kekerasan atau-pun terorisme yang terjadi dalam per-golakan politik dunia Islam. Perbuatan sekelompok kecil orang Islam yang menyimpang dari ajaran Islam dinilai mewakili semua orang Islam, atau di-identikkan dengan ajarannya dan con-toh dari Nabinya.

Seharusnya mereka sadar bahwa menilai suatu agama tidak bisa dilihat dari perbuatan pemeluknya, tapi di-lihat dari ajaran agama tersebut. Meski-pun terorisme jelas dilarang dalam Islam dan mayoritas umat Islam me-ngutuknya, kalangan anti-Islam tetap menyebarkan propaganda mereka bahwa Islam dan Muslim mendukung terorisme.

Peran ulama

Menghadapi tantangan merebak-nya propaganda anti-Islam, para ula-ma sangat diharapkan berperan aktif dalam menjawab tuduhan-tuduhan tersebut dengan informasi dan argu-mentasi yang benar dan jelas. Selain ulama, pemerintah diharapkan pula dapat berperan aktif dengan usaha-usaha diplomasi serta mampu me-nunjukkan ketegasan sikap terhadap pihak-pihak yang mengobarkan ke-bencian dan permusuhan terhadap Islam dan umatnya.

Demikian pula, umat Islam diharap-kan menuntut ilmu Islam secara be-nar dan utuh, serta tetap menunjuk-kan sikap kritis terhadap usaha-usa-ha penyebaran propaganda anti-Is-lam dengan berpegang teguh pada nilai-nilai mulia Islam yang rahma-tan lil ‘alamin. Kita semua menyadari bahwa dakwah yang paling efektif ada-lah da’wah sebagaimana dicontoh-kan oleh junjungan kita yang mulia, Nabi Muhammad saw.

red.ummatie

Tahun I Edisi 09

Di Balik Ilmu Tenaga Dalam


Betapa takjubnya kita ketika melihat seseorang yang tidak dapat terluka ketika ditebas senjata tajam, tidak terluka ketika disiram dengan minyak panas, bisa menyembuhkan penyakit hanya dengan sentuhan, melalui telefon dan juga email, bisa melindungi diri sendiri dari mara bahaya, bisa menangkal hu-jan, bisa menemukan barang hilang, bisa memukul lawannya dari jarak yang cukup jauh dan tanpa menyentuh sedikitpun lawannya, dan sederet kelebihan dari tenaga dalam yang dimiliki seseorang. Namun, apa sebenarnya tenaga dalam itu?

Di tengah masyarakat kita, kini men-jamur berbagai perguruan tenaga da-lam yang menjanjikan beragam kesak-tian mandraguna, kemampuan me-ngobati berbagai penyakit ringan mau-pun berat, dan berbagai kelebihan lain-nya. Dikemas dalam berbagai atraksi kesaktian di televisi, dibumbui dengan wirid-wirid dan bacaan-bacaan ayat tertentu, dan diiklankan secara luas melalui media massa, cetak dan elek-tronik.

Sihir Berjudul “Tenaga Dalam”

Berbagai macam teori dibuat un-tuk mengelabui orang awam sehingga dapat diterima masyarakat. Mereka mengatakan bahwa tenaga dalam ada-lah satu aliran tenaga yang memang terdapat dalam tubuh manusia. Ia akan mengaktifkan sel darah putih dan sel darah merah untuk menghasilkan satu getaran saraf yang akan mewujudkan tenaga di luar kemampuan biasa. Te-naga baru ini mereka sebut ‘super po-wer.’

Teori lain untuk melegitimasi tenaga dalam adalah: Pertama, para praktisi tenaga dalam menjadikan senam per-napasan untuk membangkitkan tenaga dalam, kemudian menyajikan konsep-nya secara ilmiah. Hal ini dilakukan agar bisa membujuk masyarakat yang cukup terpelajar agar mau ikut per-guruan mereka. Kedua, tenaga da-lam dikaitkan dengan alam ghaib, sa-sarannya adalah masyarakat yang ma-sih suka dengan hal-hal yang berbau klenik dan benuansa supranatural.

Mengilmiahkan Tenaga Dalam

Pertama: mereka mengatakan bah-wa tenaga dalam berasal dari impuls listrik yang dihasilkan oleh ATP (ade-nosine triphosphate) sebagai senyawa yang menyimpan energi tubuh, terjadi akibat pembakaran oksigen dalam tu-buh. Dalam sel, energi digunakan un-tuk mensintesis molekul baru, kontraksi otot, konduksi saraf, menghasilkan ra-diasi energi yang menghasilkan pan-caran sinar. Medan listrik dapat diper-besar hingga menghasilkan energi lis-trik tubuh (bioelektris) bila elektron bergerak lebih cepat secara teratur. Energi atau tenaga dalam inilah yang diolah dan dikembangkan para ahli tenaga dalam untuk menyembuhkan penyakit. Mereka berpendapat, “Segala yang ada di alam semesta merupakan manifestasi energi, seperti gravitasi, dan gelombang magnet, serta energi matahari.”

Kedua: tenaga dalam adalah ener-gi biolistrik tubuh yang diolah dengan senam pernapasan hingga voltase bio-listrik tubuh meningkat lebih besar dari normal. Setiap listrik akan menghasilkan medan listrik yang besar jika dirang-sang dengan menyedot napas, lalu ditahan di dada atau perut, maka me-dan biolistrik akan membesar.

Menurut dua teori yang hampir sa-ma ini, orang yang beremosi tinggi ma-ka voltase biolistriknya akan naik dan berarti medan biolistriknya memancar lebih besar dari biasanya. Sesuai de-ngan hukum alam, listrik yang bermua-tan sejenis akan saling tolak-menolak. Begitu juga dengan biolistrik manusia, bila dikontakkan akan saling tolak-menolak. Maka dengan niat dan kon-sentrasi, mereka bisa mementalkan musuh yang emosi, dengan medan biolistrik mereka yang lebih besar kare-na sudah dilatih.

Tenaga Dalam Sebagai Ilmu Karamah

Tenaga dalam yang dikaitkan de-ngan ilmu karamah, ditujukan bagi orang-orang yang memiliki keyakinan kuat dengan hal-hal yang bersifat ghaib dan masyarakat yang mempercayai klenik. Jika dia beragama Islam, maka akan dikatakan bahwa tenaga dalam tersebut berasal dari para wali, atau dari kekuatan khadam. Jika beragama Hindu, Budha atau Taoisme, maka tenaga dalam berasal dari kekuatan puja mantra para dewa-dewi, tenaga dalam berasal dari energi prana, chi, atau ki yang dihisap dan dikumpulkan ke cakra solar pleksus. Tenaga dalam berasal dari cosmik negatif cakra dasar dan kosmik positif cakra mahkota, te-naga dalam berasal dari energi kun-dalini.

Terkadang perguruan tenaga da-lam menggunakan dua macam pen-dekatan sekaligus untuk dapat menarik minat seluruh anggota masyarakat dari berbagai macam tingkat strata kehidupan atau pun dari berbagai ma-cam agama dan kepercayaan agar dapat masuk menjadi anggota per-guruan.

Perguruan senam pernapasan te-naga dalam terbagi dalam dua aliran.

Pertama, bernafaskan keagamaan yang bersifat ekslusif –(hanya agama dan kepercayaan tertentu yang dapat menjadi anggotanya). Biasanya meng-gunakan ritual keagamaan sebelum dan pada saat latihan tenaga dalam. Jika perguruan tenaga dalam tersebut berbasis agama Islam, akan mewajib-kan anggotanya menggunakan ama-lan, wirid dan puasa selama mem-pelajari tenaga dalam. Jika perguruan tenaga dalam itu berbasis agama Hin-du, Budha atau Thaoisme maka meng-gunakan puja mantra pada dewa-dewi atau Budha, membakar hio dan lain sebagainya.

Kedua, yang berbasis senam dan olah nafas saja tanpa ada unsur eks-klusifisme agama di dalamnya, hingga semua agama masuk menjadi anggota perguruan. Dalam pelaksanaan latihan-nya boleh menggabungkan dengan ritual agama yang diyakininya.

Di antara tujuan perguruan tenaga dalam ketika mengajarkan senam per-napasan adalah:

1.      Penyebaran ajaran agama atau kepercayaan tertentu.

2.      Mengajarkan teknik-teknik tenaga dalam untuk perlindungan diri, kesehatan tubuh, baik secara fisik, psikis ataupun spiritual.

3.      Mempererat tali persaudaraan.

4.      Tujuan bisnis semata, terkadang merugikan anggotanya dengan persyaratan yang memberatkan secara finansial dan lain sebagai-nya.

Cara Membangkitkan Tenaga Dalam

Kaidah yang pertama adalah per-nafasan. Kedua, pembinaan kekuatan pikiran. Akan tetapi sebelum itu se-seorang perlu dibukakan cakranya terlebih dahulu oleh seorang guru yang memiliki tenaga dalam yang besar.

Asas membangkitkan tenaga dalam antara lain:

Pertama, keyakinan. Ketika sese-orang hendak belajar tenaga dalam, harus memiliki keyakinan tentang ada-nya tenaga dalam. Cara menumbuh-kan keyakinan ini adalah dengan mem-berikan sugesti pada diri sendiri.

Kedua, konsentrasi. Yaitu melupa-kan segala masalah-masalah kedunia-an menuju satu hal saja.

Ketiga, kemauan. Karena dengan kemauan yang kuat inilah seseorang akan kotinyu dalam mempelajari te-naga dalam.

Keempat, ketekunan. Ketekunan dalam latihan akan semakin memudah-kan seseorang mendapatkan tenaga dalam.

Kelima, keajaiban pikiran. Salah satu efek tenaga dalam, sebagaimana yang diakui para praktisinya, adalah bisa menajamkan pikiran. Bahkan yang lebih ekstrim, bisa mengendalikan pikiran orang lain dan mengetahui hal-hal ghaib.

Kesesatan Tenaga Dalam

Sering kali khalayak ramai ber-tanya. Apakah tenaga dalam itu be-nar-benar ada? Apakah tenaga da-lam itu murni olah tubuh atau ada unsur makhluk halus di dalamnya? Apakah tenaga dalam itu bisa mem-buat kita sehat baik secara fisik dan psikis? Apakah tenaga dalam bisa meningkatkan spiritualitas kita? Sesuai-kah senam pernapasan tenaga dalam itu dengan syari’at Islam?

Terkadang kita tertipu dengan is-tilah tenaga dalam yang rancu pen-jabarannya. Jika ‘tenaga dalam’ yang dimaksud adalah hasil pembakaran zat-zat makanan dalam tubuh hingga menjadi energi untuk kekuatan dan kelangsungan kesehatan tubuh, itu bisa kita terima, karena pengistilahan ‘tenaga dalam’ tersebut adalah energi yang didapat dari zat-zat makanan yang kita makan tanpa ada unsur me-tafisika. Akan tetapi jika tenaga dalam tersebut bisa mementalkan orang, bisa membuat kebal, bisa meringankan tu-buh, bisa menyakiti orang lain lewat gerak dan fungsi jurus yang telah kita latih, tentu berbeda jauh dan tidak bisa disamakan dengan ‘tenaga dalam’ dari hasil “pembakaran” zat-zat ma-kanan.

Begitu pula dengan istilah tenaga dalam yang berasal dari energi listrik tubuh, ini pun sebuah penipuan. Teori tubuh kita mempunyai impuls-impuls listrik sejauh ini memang telah dibukti-kan oleh ahli biologi modern, dengan impuls-impuls listriklah syaraf-syaraf dapat bekerja dengan baik untuk me-nyampaikan pesan dari tubuh ke otak dan sebaliknya. Tetapi, jika dikatakan bahwa senam pernapasan bisa me-lipatgandakan energi listrik tubuh hing-ga bisa menjadi ‘tenaga dalam,’ maka ini terlalu mengada-ada dan mencari pembenaran saja. Sebab, seluruh kerja sistem fisiologis dalam tubuh selalu berada pada keseimbangan. Sistem kerja impuls listrik atau syaraf tubuh manusia tidak bisa direkayasa lagi dan sama sekali tidak ada penelitian ilmiah yang bisa membuktikan bahwa listrik tubuh bisa direkayasa untuk memen-talkan seseorang, kecuali hanya du-gaan belaka.

Pemanfaatan energi ghaib yang di-istilahkan dengan tenaga prana, chi, ki, manna, ruah, energi Ilahi atau ka-ramah dari luar tubuh yang kita serap untuk memperoleh tenaga dalam dari hasil pernapasan, harus kita koreksi kebenarannya. Sekarang ini sudah ada yang berusaha untuk bisa mem-buktikan atau mengklaim eksistensi energi ghaib, melihat aura bahkan ruh dengan menggunakan peralatan mo-dern, seperti dengan menggunakan foto aura.

Di Grand ITC Permata Hijau, Ja-karta Selatan, ada toko bertuliskan “Xing Passion Reflexiology & Aroma-therapy”. Toko itu mempunyai Aura Video Station dari Jerman seharga se-kitar US$ 25.000 (dengan kurs seka-rang sekitar Rp 225 juta). Harga terse-but termasuk satu paket software leng-kap dengan beberapa peranti tamba-han, seperti kartu PC dan kamera. Ca-ra penggunaannya, tubuh seseorang harus menghadap ke arah sebuah ka-mera di atas layar monitor, lalu se-luruh ujung jari dimasukkan ke se-buah alat berbentuk seperti telapak tangan. Alat tersebut terbuat dari lo-gam dan langsung terhubung ke PC.

Setelah software Aura Video Sta-tion diaktifkan, wajah dan aura lang-sung terlihat. Tidak hanya itu, cakra yang ada dalam diri seseorang pun nampak. Apakah benar suatu hakikat bahwa Aura Video Station bisa mem-buktikan bahwa yang nampak pada layar monitor adalah aura atau lapisan tubuh bahkan cakra-cakra manusia?

Kajian ilmu pengetahuan meta-fisika sekarang ini mengenai lapisan tubuh halus, aura tubuh, atau sinar energi adalah asumsi lama tentang teori sinar yang telah dibantah oleh Albert Einstein dengan teori relatifitas-nya, sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Abdul Muhsin Shalih di dalam bukunya al-Insan al-Hair baina al-Ilam al-Khurafah. Beliau menyajikan argumentasi-argumentasi ilmiah de-ngan dilengkapi foto yang mengung-kapkan bahwa perkiraan berhasilnya foto aura dalam memotret atau melihat ruh adalah kesalahan atau bentuk pe-nipuan ilmiah. Sebenarnya pengilmia-han tenaga dalam hanyalah kamuflase pelegitimasian agar bisa diterima oleh halayak ramai.

Kemampuan ajaib yang dimiliki seseorang yang berlatih tenaga dalam seperti kebal, bisa mematahkan besi dragon, memecahkan botol yang su-dah diisi air, menaiki kertas koran dan aktraksi-atraksi lainnya terbagi tiga. Pertama, hanya berdasarkan trik-trik semata. Kedua, memang menggunakan unsur makhluk ghoib (jin). Ketiga, ga-bungan di antara keduanya.

Setiap aliran tenaga dalam mem-punyai gerakan dasar yang sama dan terbagi dalam 10 jurus, dalam sepuluh jurus itu bisa digabung dan dijadikan jurus baru. Dapat disimpulkan bahwa senam pernapasan tenaga dalam mem-punyai asal usul yang sama, walaupun dalam setiap aliran tenaga dalam mengklaim sumber ajaran tenaga da-lamnya berbeda-beda dan saling meng-unggulkan setiap alirannya masing-masing.

Ada syubhat bahwa setelah masuk dan berlatih senam pernapasan tenaga dalam, tubuh menjadi sehat, secara psikis menjadi lebih tenang dan lebih dekat pada Tuhan.

Dengan berlatih senam yang meng-gunakan olah pernapasan, tubuh kita memang menjadi sehat karena mema-tikan unsur negatif seperti virus dan bakteri, menetralkan zat kimia dalam tumbuh, serta membantu memper-lancar suplai oksigen ke sel syaraf se-hingga sel dapat berfungsi semestinya. Sel syaraf yang sehat berperan penting dalam mengaktifkan organ dan sel tu-buh lainnya, dengan tubuh yang sehat maka kita akan bisa berfikir dengan jernih, dengan berkumpulnya bersama anggota masyarakat lain tentunya se-cara psikis juga kita lebih sehat karena bisa bersosialisasi dengan baik ter-hadap anggota masyarakat yang sama-sama ikut senam pernapasan.

Akan tetapi senam pernapasan sangat luas pengertiannya, seperti jo-ging atau lari pagi, senam kesegaran jasmani, jalan santai dengan meng-gerak-gerakkan tubuh lalu menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan-nya pelan-pelan tentu menyehatkan. Sedangkan jika berlatih senam per-napasan tenaga dalam selain ingin mendapatkan kesehatan dan disertai dengan niat mendapatkan suatu ke-kuatan tertentu yang bersifat ghaib, hal inilah yang mesti diwaspadai. Haki-kat keghoiban hanya milik Allah se-mata dan hanya diberitakan kepada Rasul yang diridoi-Nya. Allah l me-nyatakan dalam firmannya:

”(Dia adalah Tuhan) Yang Me-ngetahui yang ghoib,maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghoib itu itu kecuali ke-pada Rasul yang diridoi-Nya,maka sesungguhnya Dia mengadakan pen-jagaan (malaikat) di hadapan dan di-belakangnya.”(QS. Jin: 26-27)

Dari penjelasan ayat ini maka jika kita melakukan senam pernapasan dengan niat untuk mendapatkan ke-kuatan ghaib, seperti berlatih jurus satu untuk membuat benteng diri, ju-rus dua untuk menundukkan lawan, jurus tiga untuk mementalkan lawan, jurus empat untuk membuka pagar betis lawan, jurus lima untuk memu-tarkan lawan, jurus enam untuk me-ngunci lawan, jurus tujuh untuk me-narik lawan atau menarik sesuatu yang bersifat ghaib, jurus delapan untuk mematikan lawan jurus sembilan un-tuk membuka pagar ghoib lawan, ju-rus sepuluh untuk menarik energi alam semesta dan dari fungsi jurus-jurus itu dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan sesuai dengan ke-hendak penggunanya, semua itu ada-lah prilaku bid’ah dan sangat menyesat-kan.

Ketika meniatkan diri untuk me-narik kekuatan tertentu pada saat me-narik nafas dengan gerak jurus, mena-han nafas dengan niat mengumpulkan atau membentuk suatu jenis energi atau kekuatan ghoib entah itu diistilah-kan dengan Energi Ilahi, prana, chi, ki, bioenergi, karomah dan yang lain-nya, maka pada saat itulah kita sadar atau tidak sadar membuka diri untuk dimasuki unsur makhluk ghoib, kho-dam, hantu siulian (dalam aliran te-naga dalam Cina dikatakan bahwa hantu siulian dapat membantu mem-peroleh kekuatan ghaib). Hingga makh-luk itu membantu manusia sesuai de-ngan fungsi jurus yang diinginkannya. Dan inilah salah satu bentuk sihir se-bagaimana Ibnul Qoyyim v mengata-kan: “Sihir adalah persenyawaan dari berbagai pengaruh ruh-ruh jahat dan interaksi kekuatan-kekuatan alam de-ngannya.” (Zadul maad: IV/127)

Maksudnya adalah makhluk-halus itu masuk ke tubuh manusia dan mem-bantu menjalankan sihir melalui pra-sarana alam seperti udara, aliran darah, reaksi fisiologis tubuh dari rekayasa ilmiah yang dilakukan jin dan setan. Hal ini bisa dilihat pada seseorang yang mempunyai ilmu kebal dengan bantuan jin dalam merekayasa dan memadatkan molekul tubuh manusia.

Aturan Main dalam Menggunakan Tenaga Dalam Diantaranya Adalah:

1.    Latihannya harus menggunakan emosi.

Rahasia mereka ketika memprak-tekkan tenaga dalam adalah musuh-nya harus marah, sebab dengan ma-rah tersebut syaithan bisa masuk da-lam tubuh musuhnya sehingga bisa dipengaruhi jurus tenaga dalam, bu-kan karena listrik tubuh, energi yang dipancarkan ataupun alasan-alasan lainnya.

Hal ini diperkuat oleh pernyataan para praktisi tenaga dalam bahwa ju-rus akan berfungsi penuh dan sem-purna jika lawan dalam keadaan emo-si. Jadi bukan karena energi tenaga dalam musuh yang sedang emosi da-pat ditaklukkan dengan fungsi jurus-jurus tertentu, tetapi khodam (jin) ju-rus itulah yang langsung merasuk ke-dalam tubuh lawannya yang sedang dalam keadaan emosi menuju otak-nya hingga lawannya bisa dia per-mainkan dengan fungsi jurus tenaga dalam.

2.    Ketika latihan, mereka sering ti-dak sadar, terutama ketika sedang mempraktekkan jurus mereka, bia-sanya ada pada jurus putar, atau pada saat diharuskan emosi untuk praktek tenaga dalam.

Hal ini sama saja dengan sengaja membuat diri menjadi tidak sadar (alias mabuk), dan hal ini tidak dibe-narkan dalam Islam, sebab Islam me-nganjurkan kita untuk senantiasa men-jaga akal kita sehingga bisa senantiasa berdzikir kepada Allah swt.

3. Kadang disertai dengan puasa mutih (tidak boleh makan kecuali yang putih-putih), pati geni dan pro-sesi puasa bid’ah lainnya.

Hal ini tidak ada syari’atnya da-lam Islam. Atau untuk menjaga ilmu-nya dia harus menghindari panta-ngan-pantangan tertentu yang sebe-narnya hal itu dihalalkan baginya se-belum dia memiliki ilmu tenaga da-lam tersebut. Dan ini berarti meng-haramkan yang dihalalkan Allah swt.

Sebuah Nasihat

Pernapasan tenaga dalam dengan niat hanya untuk kesehatan, bisa men-jerumuskan ke dalam kesyirikan. Hal ini lebih besar mudharatnya daripada kebaikannya. Walaupun ada pergu-ruan tenaga dalam yang mengiklan-kan dirinya hanya untuk kesehatan, tetapi tetap saja ada meditasi energi, penyaluran energi dan pasti diselingi praktek-praktek atraksi tenaga dalam.

Masih banyak senam pernapasan lain seperti senam kesegaran jasmani, senam jantung, joging, lari pagi, fitnes, yang jauh lebih aman dari kesyirikan jika niat kita belajar senam perna-pasan hanya ingin sehat. Jika ada alasan ingin berlatih tenaga dalam untuk melindungi diri, apakah kita tidak mengkaji lagi doa-doa dan dzi-kir Rasulullah saw untuk memohon per-lindungan dari segala mara bahaya yang hal itu selaras dengan akidah?

red.ummatie

Tahun I Edisi 08

Rotary Club

Zionisme Berkedok Kemanusiaan

Sejarah Rotary Club

Pada tahun 1905 di Chicago, Ame-rika Serikat, berdiri sebuah perkum-pulan yang-notabene-bergerak untuk memberikan jasa kemanusiaan, mem-bangun kesadaran etika yang tinggi dan menciptakan kebersamaan juga kedamaian. Anggotanya terdiri dari para pemimpin bisnis dan kaum pro-fesional. Misinya terangkum dalam motto, “Service Above Self” (Pelaya-nan kepada yang lain lebih utama dari-pada kepentingan diri sendiri).

Paul Harris, pendiri yang juga se-orang pengacara, dibantu kawan-ka-wannya sanggup membawa perkum-pulan tersebut dari tataran komunitas lokal menjadi organisasi yang bertaraf internasional, hanya dalam jangka waktu 6 tahun sejak didirikan. Itulah Rotary Club (RC).

Tahun 1911, RC memindahkan pusat kegiatannya ke Dublin, Irlandia. Tahun 1921 RC membuka cabang (distrik) di Madrid, Spanyol. Di tahun yang sama pula berdiri cabang RC di Palestina. Disusul Maroko dan Alja-zair pada tahun 1930. Perkembangan ini dibarengi dengan meningkatnya jumlah anggota. Terhitung hingga ta-hun 1947 anggota RC telah menca-pai 327.000 orang. Pada periode 2006-2007 membengkak menjadi, kurang-lebih,1.200.000 anggota yang tersebar di 168 negara.

RC merupakan organisasi tanpa sekretariat. Keanggotaannya hanya terbatas melalui undangan dari se-orang Rotarian (sebutan bagi anggota RC) kepada para pemimpin bisnis dan profesional yang bekerja dalam berbagai bidang. Setiap klub hanya mempunyai satu anggota yang me-wakili satu bidang pekerjaan.

Rotary Club Indonesia

Rotary Club pertama di Indonesia didirikan pada tahun 1927 di Yogya-karta. Hingga tahun 1941 telah ada 26 klub dengan 219 anggota. Kegia-tan Rotary dihentikan pada masa Pe-rang Dunia II dan dilanjutkan kembali pada tahun 1946.

Hingga tahun 1961 jumlah klub mencapai 17 dengan anggota sebe-sar 533 orang. Kegiatan klub kembali terhenti dari tahun 1961-1970. Sejak saat itu, Distrik 3400 (sebagaimana Rotary Club Indonesia dikenal) telah berkembang hingga mempunyai 87 klub dan 1.850 anggota.

Seorang tokoh Rotary Club (RC) Indonesia, yang jika dilihat namanya, niscaya ia seorang Muslim. Orang ter-sebut adalah ”Governor 1992 Inter-national District 3400” TR. Tjoet Rah-man. Dalam rubrik Komentar majalah Tempo (18 Juli 1992), Tjoet Rahman mencoba meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa Rotary Club adalah murni sebuah organisasi kemanusia-an dan tidak ada kaitan dengan free-masonry.

Tjoet Rahman menjelaskan, Motto RC: Service above self, bakti tanpa pamrih. Caranya bukan seperti sin-terklas yang mengedrop harta untuk orang-orang miskin, melainkan me-lalui empat alternatif:

1. Club Service, bertujuan mening-katkan persahabatan antar ang-gota.

2. Vocational Service, kegiatan yang antara lain meningkatkan etik ker-ja, menghargai pekerjaan yang berguna, dan memanfaatkan pe-ngetahuan dan ketrampilan indi-vidu untuk mengatasi kesulitan masyarakat.

3. Community Service, kegiatan yang dapat memperbaiki cara dan taraf hidup masyarakat.

4. International Service, menjalin kerjasama dengan Rotary Club di seluruh dunia.

Jadi, usaha RC bukan hanya seke-dar menjadi sinterklas. Dan tanggung-jawabnya terlalu berat untuk ”para kapitalis yang hobinya berhura-hura”. Tjoet Rahman hendak mengesankan bahwa organisasinya itu eksklusif.

Padahal di daerah, pengusaha yang sudah bangkrut pun diterima menjadi anggota. Di jakarta pun banyak pen-siunan pegawai negeri yang jadi ang-gota RC. RC, sebagaimana Lions Club, berupaya mencari anggota se-banyak-banyaknya untuk dijadikan target audiences, sasaran propaganda Zionis.

Mereka yang berperilaku anob, sok kebarat-baratan, merupakan sasaran empuk jaringan Rotary dan Lions Club International. Untuk kemudian pada tingkat tertentu, tanpa atau de-ngan kesadaran yang bersangkutan menjadi bagian dari network lobi Ya-hudi.

Antara Rotary Club dan Gerakan Freemasonry.

Sebagian kaum muslimin mungkin asing dengan Freemasonry, atau de-ngan RC itu sendiri, hingga tidak bisa menemukan hubungan antara kedua-nya. Akibatnya bisa timbul penola-kan atas eksistensi, atau paling tidak, menganggap bahwa keduanya ada-lah organisasi yang berdiri sendiri, terpisah satu dengan lainnya. Memang secara logika, tidak mungkin sebuah lembaga kemanusiaan tanpa pandang bulu seperti RC berafiliasi dengan se-buah organisasi pendengki semacam Freemasonry. Sebuah organisasi yang sejarahnya banyak dilumuri oleh da-rah kaum muslimin.

Untuk membuktikan bahwa RC dan Freemasonry adalah setali tiga uang, maka kita perlu mengetahui le-bih dulu apa itu Freemasonry. Sekilas saja, Freemasonry adalah gerakan ra-hasia tertua (namun beberapa tahun belakangan ini mereka sudah berani muncul ke permukaan) yang masih eksis hingga kini. Awalnya hanyalah sebuah gerakan bathiniah. Namun pas-ca kepemimpinan Nabi Sulaiman, Bani Israil menjadi bulan-bulanan ke-rajaan-kerajaan lain. Silih berganti penjajah datang merongrong bangsa Israil, mulai dari Assiria, Babilonia, Masedonia hingga Romawi. Penja-jahan membuat banyak dari mereka terpaksa keluar dari negerinya. Penin-dasan ini mengakibatkan Freema-sonry berubah menjadi gerakan po-litik pembebasan.

Lalu apa hubungannya dengan RC?! Kita awali dari ditugaskannya seorang Freemason asal Jerman ber-nama Tasfaac pada tahun 1784, untuk menyusun kembali program Weiz Ho-wigt (seorang pendeta Kristen terke-muka dan profesor Theologi pada universitas Angold Stadt di Jerman. Murtad dari agamanya, kemudian mengikuti faham Atheisme. Lalu to-koh-tokoh Yahudi Jerman memutus-kan Weiz Howight sebagai seorang cendekiawan yang paling tepat untuk dimanfaatkan, demi kepentingan Ya-hudi). Kemudian program tersebut dituangkan dalam bentuk buku yang diberi nama “Program Asli yang Unik.” Program ini sendiri digulirkan untuk menguasai dunia, yaitu dengan me-letakkan paham Atheisme dan meng-hancurkan seluruh umat manusia de-ngan cara menyalakan api peperangan.

Buku tersebut kemudian dikirim melalui utusan khusus kepada bebe-rapa tokoh Yahudi di Paris, Perancis. Ditengah perjalanan, di sebuah kota kecil antara Frankfurt dan Paris, sang utusan tewas tersambar petir. Ketika mengadakan pemeriksaan, pasukan keamanan mendapati dokumen pen-ting tersebut di kantong mantelnya. Dokumen tersebut segera disampai-kan kepada yang berwajib di kerajaan Jerman.

Penguasa Jerman mempelajari dokumen tersebut dengan penuh per-hatian. Sadar akan bahaya yang me-ngancam, pemerintah Jerman segera mengeluarkan instruksi kepada pasu-kan keamanan untuk menduduki sa-rang Freemasonry The Grand Eastern Lodge. Demikian pula nama-nama yang terdapat dalam dokumen ter-sebut tidak luput dari penggerebekan pasukan keamanan. Di kediaman me-reka itu pula ditemukan dokumen penting lainnya mengenai program Yahudi.

Peristiwa kebocoran rahasia ini di-jadikan pelajaran berharga oleh per-kumpulan konspirasi Yahudi. Mereka merubah alur strategi. Kegiatan mereka selanjutnya banyak dialihkan ke da-lam perkumpulan Freemasonry yang lain, yang disebut The Blue Masonry, dengan tujuan mendirikan sebuah or-ganisasi Masonry di dalam Masonry itu sendiri. Maka muncullah RC. Untuk menutupi rencana jahatnya, dibung-kuslah RC dengan kain kemanusiaan.

Berkaca dari peristiwa kebocoran itu pula, Freemasonry melakukan se-leksi ketat dalam merekrut anggota. Begitu pula dengan RC. Walaupun tidak seketat induknya, tetap saja ke-anggotaan tidak bisa didapat hanya sekedar mengisi formulir dan memba-yar biaya administrasi.

Dari sisi filosofi, RC dan Freema-sonry, sama. Dalam Khoms Kanon (Asas Freemasonry), salah satunya berbunyi; “Gerakan Freemasonry ada-lah gerakan kemanusiaan. Dengan Freemasonry manusia dapat tolong-menolong dalam kebaikan tanpa mem-bedakan ras, agama, suku dan paham. Freemasonry adalah lembaga kema-nusiaan yang menyeru kepada etika dan keutamaan. Freemasonry menye-rukan kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan.” Asas ini biasa disebut dengan Humanisme.

Pernyataan dibawah ini jelas sama dengan asas Humanisme. Dikutip dari situs http://www.rotaryd3400.org, situs RC Indonesia, disebutkan; “Rotary adalah tentang manusia yang mencintai se-sama, siapapun dan dimanapun mereka. Rotary memungkinkan kita mengekspresikan cinta kasih kita dan membagikannya.” Kemudian di harian “Kedaulatan Rakyat” terbitan 10 De-sember 2007 tertulis, “Sebagai organi-sasi sosial nirlaba dengan jaringan in-ternasional antar Rotary Club diseluruh dunia saling bekerja sama untuk mem-bantu di bidang kemanusiaan tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras dan golongan.”

Asas Humanisme diterapkan tidak lain adalah untuk mengikis loyalitas terhadap agama, mengubur karak-teristik bangsa-bangsa. Dampaknya, pribadi-pribadi akan kehilangan iden-titas dan harga diri serta hidup dalam kebimbangan. “Humanisme harus kita jadikan sebagai tujuan selain dari Allah. Jadikan kemanusiaan itu sebagai Tu-han untuk disembah. Bentuklah etika kemanusiaan sebagai pengganti etika agama. Tidaklah cukup bagi kita (Ya-hudi) hanya mengalahkan mereka (para pemeluk agama) dan periba-datannya dengan humanisme sejati, melainkan dengan humanisme harus dapat memusnahkan mereka itu” (No-tulen Kongres Freemasonry Begardo 1911 dalam Asrar Masuniah)

Keterkaitan RC dengan Freema-sonry semakin nyata tatkala pendiri-nya, Paul Harris, ternyata seorang Yahudi. Walaupun dia pernah me-nyanggah keterlibatannya dalam Free-masonry, tapi dia tak bisa menyangkal kalau dia terdaftar sebagai anggota Liberty Masonic Lodge #301 (Rumah ritual/pertemuan Freemasonry). Dan banyak pula Rotarian pada masa-masa awal berdirinya adalah seorang Freemason. Begitu juga dengan pia-gam-piagam RC, banyak tersimpan di gedung-gedung dan kuil Mason.

Larangan Bergabung Menjadi Anggota RC

Bagi orang awam, RC tidak lebih dari sebuah perkumpulan yang uni-versal, peduli dengan kemanusiaan, dan ingin memajukan kesejahteraan dan perdamaian tanpa membedakan ras dan agama.

Untuk menyelamatkan umat dari cengkraman Yahudi, para fuqoha (ulama) mengeluarkan fatwa larangan orang-orang Islam untuk bergabung dengan Rotary Club. Fatwa ini dike-luarkan tanggal 15 Juli 1978 dalam muktamar yang diselenggarakan di Makkah.

Fatwa al-Mujammal al-Fiqhi Seputar Hukum bergabung Kepada Gerakan Freemasonry

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga dilimpahkan ke-pada Rasulullah, keluarga besar, para shahabat serta orang-orang yang berjalan di bawah petunjuk beliau. Amma ba’du.

Berdasarkan sejumlah tulisan dan teks yang telah diteliti darinya, al-Mu-jamma’ telah mendapatkan gambaran yang jelas dan tak dapat diragukan lagi sebagai berikut.

…sampai kepada….

[10]. Organisasi ini (Freemasonry) memiliki banyak cabang yang mema-kai nama-nama lainnya untuk menge-coh dan mengalihkan perhatian orang sehingga ia bisa melakukan aktifitas-aktifitasnya dibawah nama-nama yang beragam tersebut tanpa mendapatkan penentangan. Cabang-cabang terse-lubung dengan nama-nama yang be-ragam tersebut, di antaranya orga-nisasi hitam, Rotary Club, Lion Club, dan prinsip-prinsip serta aktifitas-ak-tifitas busuk lainnya yang bertenta-ngan dan bertolak belakang secara total dengan kaidah-kaidah Islam.

Oleh karena itu dan berdasarkan informasi-informasi lain yang rinci tentang kegiatan freemasonry, bahaya-nya yang besar, pengelabuannya yang demikian busuk dan tujuan-tu-juannya yang licik, al-Mujamma’ al-Fiqhiy memutuskan untuk mengang-gap Freemasonry sebagai organisasi paling berbahaya yang merusak Islam dan kaum Muslimin. Demikian pula, siapa saja yang berafiliasi kepadanya secara sadar akan hakikat dan tujuan-tujuannya maka dia telah kafir terha-dap Islam dan menyelisihi para pe-nganutnya. Wallahu Waliy At-Taufiq.. (Kumpulan Fatwa Islam dari sejum-lah Ulama, Jilid 1, hal, 115-117)

Larangan untuk bergabung dengan klub tersebut ternyata tidak dikeluar-kan oleh para fuqoha dari kalangan Islam saja, namun juga dilakukan pula oleh Dewan Agung Vatikan pada tang-gal 20 Desember 1950. Bahkan, pada tahun 1981 dikeluarkan larangan yang lebih keras dengan menyatakan bahwa orang-orang yang bergabung dalam perkumpulan freemasonry atau orga-nisasi lainnya yang serupa (RC, Lion Club, B’Nai Birth Club, dll) merupa-kan sikap yang memusuhi gereja dan tidak menerima larangan gereja. (M. Fahim Amin, Darul Fikri al-Ara-bi: 1991) *

Tahun I Edisi 07

‘Tentara Salib Bayaran’ di Irak


Apa yang terbesit di benak kita ji-ka kita mendengar istilah tentara ba-yaran? Bisa dipastikan sebagian be-sar dari kita pasti membayangkan tentara bayaran hanya ada di film-film laga saja. Lalu, siapa yang menyangka kalau ternyata tentara bayaran ada di dunia nyata? Begitu profesional, terorganisir, serta telah menjadi bis-nis raksasa!

A

hmed Haithem Ahmed mung-kin tak menyangka hidupnya akan berakhir tragis. Sebelah kiri kepalanya hancur diterjang pe-luru ketika melintasi Nisour Square, Baghdad. Mohassin Kadhim, ibunda Ahmed, yang duduk di sebelahnya tidak dapat berbuat apa-apa selain berteriak, “Anakku, anakku! Tolong! Tolong!” Sejurus kemudian, Mohas-sin yang sedang memeluk Ahmed pun tertembak.

Para personel Blackwater, korpo-rasi penyedia jasa keamanan asal AS, dengan membabi-buta menembaki mobil yang dikendarai oleh Ahmed dan Mohassin. Ditemukan 40 lubang peluru di badan mobil tersebut. Pada klimaksnya, seorang personel Black-water tanpa sungkan melemparkan granat ke mobil tersebut. Bum!

Selain Ahmed dan Mohassin, ter-dapat 15 korban lainnya yang me-ninggal dunia dan sekitar 24 orang mengalami luka-luka. Insiden yang terjadi pada hari Minggu, 16 September 2007, ini kemudian membakar amarah, tidak hanya warga sipil, ta-pi juga pejabat tinggi pemerintah Irak.

Perang AS di berbagai negara, se-perti di Irak dan Afghanistan, bukan semata-mata karena alasan perang melawan terorisme. Perang itu juga menjadi ladang bisnis perusahaan senjata dan perusahaan jasa tentara bayaran. Bahkan perusahaan jasa tentara bayaran tersebut merupakan perwujudan dari penerapan ideologi Kristen konservatif, pendukung Pe-rang Salib. Seorang penulis bernama Jeremy Scahill mengupasnya dalam bukunya yang menjadi best seller. Selain Scahill, sebenarnya sudah banyak penulis yang mengupas tentang bisnis perang” dan agenda yang tersembunyi di dalamnya, yang melibat-kan negara-negara besar seperti AS dan sekutunya.

Dalam buku terbarunya berjudul Blackwater: The Rise of the World’s Most Powerful Mercenary Army” (Blackwater: Bangkitnya Kekuatan Tentara Bayaran Terkuat di Dunia), Scahill mengungkap keterlibatan Blackwater, perusahaan jasa tentara bayaran dan persenjataan swasta terbesar di AS dengan para theoconistilah bagi orang-orang yang meng-anut ideologi konservatif berdasarkan pada keyakinan bahwa agama seharusnya memegang peranan penting dalam membuat keputusan publik- dan pasukan milisi Kristen Sovereign Military Order of Malta (SMOM) di berbagai wilayah konflik di dunia.

Menurut istilah ensiklopedi Wiki-pedia, theocon mengacu pada ang-gota-anggota sayap Kristen, khusus-nya mereka yang menganut ideolo-gi sintesis elemen-elemen seperti pa-ham konservatisme sosial dan kalang-an orang-orang Amerika serta kalang-an penganut Kristen konservatif.

Scahill dalam bukunya menulis, perusahaan yang berbasis di Caroli-na Utara ini, memimpikan perusaha-an mereka menjadi perusahaan jasa kurir semacam FedEx, bagi operasi-operasi pertahanan dan keamanan AS. Mimpi itu nampaknya sudah terwujud karena saat ini Blackwater, sudah mendapatkan kontrak, terkait aktivitas perang di Irak dari pemerintah AS. Nilai kontraknya pun terbilang fantastis, mencapai 500 juta dollar AS atau 4,5 triliun rupiah. Angka ini belum termasuk “anggaran rahasia” pemerintah AS untuk kontrak-kontrak antara Blackwater dengan agen-agen intelijen AS.

Selain dari pihak pemerintah AS, Blackwater juga mendapat kontrak dari Departemen Luar Negeri AS se-besar 300 juta dollar atau 2,7 triliun rupiah. Pada tahun 2003, perusaha-an jasa tentara bayaran ini bahkan mendapat kontrak tanpa melalui ten-der dari Deplu AS untuk operasi per-lindungan terhadap Paul Bremer, wa-kil pemerintah AS di Irak.

Jejak Blackwater

Blackwater Inc. adalah salah satu dari sedikitnya 28 korporasi penyedia jasa keamanan swasta di Irak. Korporasi ini dikontrak oleh Departemen Luar Negeri AS untuk melindungi pe-jabat maupun pebisnis AS yang me-ngunjungi Irak. Menurut Scahill, Blackwater mengerahkan ribuan tentara yang sangat terlatih ke Irak dan Af-ghanistan. Berdasarkan laporan bu-lan Mei 2007, diketahui bahwa Black-water mempekerjakan sekitar 1000 personel, yang terdiri dari 744 warga AS, 231 warga negara ketiga, dan 12 warga Irak.

Perhatian publik, khususnya di AS, mulai tertuju ke Blackwater ketika korporasi ini ditugaskan untuk men-jaga keamanan L. Paul Bremer III, mantan diplomat AS yang menjadi pejabat Coalition Provisional Autho-rity (CPA). Nilai kontrak untuk men-jaga keamanan orang kepercayaan Presiden AS George W. Bush ini ada-lah 21 juta dollar AS atau 189 miliar rupiah.

Jumlah nilai kontrak bisnis yang berhasil diraih Blackwater dari peme-rintah AS sejak 2001 mencapai 1 miliar dollar AS. Sebuah nilai kontrak bisnis dan keuntungan yang mereka dulang dari kantong pajak rakyat AS dan tangis derita rakyat Irak. Tidak mengherankan apabila banyak ana-lis politik dan masyarakat AS yang mencibir Blackwater dan korporasi lain di Irak, seperti Bechtel Groups serta Kellogg, Brown & Root (KBR), dengan sebutan The War Profiteers (Pengambil Keuntungan Perang).

Sorotan terhadap Blackwater pun kembali mencuat ketika empat tentara bayarannya menjadi korban penyergapan pejuang Irak pada bulan Maret tahun 2004. Media-media massa menyebut mereka sebagai tentara AS tanpa senjata, yang sedang me-ngantarkan logistik ke markas militer AS. Keempat tentara itu dibunuh de-ngan cara dibakar dan tubuhnya di-gantung selama berjam-jam di sebuah jembatan di kota Fallujah. Peristiwa inilah yang memicu aksi serangan balas dendam besar-besaran “pasukan” AS ke kota Fallujah.

Pada saat itu, pemerintah dan media massa AS memanfaatkan momentum Fallujah itu untuk membentuk opini publik tentang ketidakberadaban pejuang Irak. Lalu mereka berusaha meraih simpati dan dukungan masyarakat terhadap kebijakan Ope-rasi Pembebasan Irak. Namun, pan-dangan berbeda justru diutarakan oleh para anggota keluarga korban peristiwa Fallujah, dalam film doku-menter “Irak for Sale: The War Pro-fiteers” garapan Robert Greenwald. Mereka bercerita bahwa kesalahan sebenarnya terletak pada korporasi Blackwater itu sendiri yang tidak memperhatikan jaminan keamanan kerja para pegawainya.

Dalam insiden 16 September, terungkap bahwa Blackwater melakukan penembakan terhadap warga si-pil Irak. Dilaporkan lebih dari 17 war-ga meninggal dunia. Anggota Komi-te untuk Reformasi Pemerintah Kongres AS Henry Waxman mengeluar-kan laporan lain tentang rekaman aktivitas tidak terpuji Blackwater di Irak. Waxman melaporkan bahwa Black-water sebenarnya sudah seringkali terlibat dalam insiden baku tembak dengan warga sipil Irak, tepatnya 195 kali. Sebanyak 163 insiden di antara-nya diawali oleh tembakan dari pihak personel Blackwater.

Data lain dari laporan komisi in-vestigasi pemerintah Irak juga me-nyebutkan bahwa Blackwater telah membunuh 38 warga sipil Irak dan melukai sekitar 50 lainnya sejak ta-hun 2003. Fakta ini terasa pahit mengingat tidak ada satu pun per-sonel Blackwater yang diseret ke me-ja hijau untuk kejahatan yang mere-ka lakukan.

Saat ini, “Cakar Blackwater” (lo-go korporasi) masih tetap mengeruk pundi-pundi uang di Irak. Tidak la-ma setelah insiden 16 September, personel Blackwater masih terlihat berkeliaran di Baghdad meski Perda-na Menteri Irak Nuri al-Maliki sudah mencabut izin operasi korporasi ter-sebut. Mirembe Nantongo, juru bicara Kedutaan Besar Amerika Serikat di Irak, memberikan keterangan bah-wa Blackwater kembali diperkenan-kan bekerja dalam misi yang terbatas setelah pihak AS berkonsultasi dengan pemerintah Irak (Tempo Interaktif, 21/09).

Mengatasnamakan Demokrasi dan Kebebasan

Perusahaan Blackwater didirikan pada tahun 1996 dan menjadi salah satu perusahaan jasa militer swasta terbesar di dunia. Perusahaan ini, me-nurut Scahill, memiliki 20 pesa-wat tempur dan 20 ribu tentara yang siap dikirim kapan saja sesuai pesanan.

Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS melaporkan, perusahaan-perusa-haan kontraktor swasta, seperti Black-water, merupakan “kekuatan” kedua AS di Irak. Saat ini, sedikitnya ada 48 ribu tentara bayaran yang berope-rasi di Negeri 1001 Malam itu. Banyak tentara bayaran yang tewas di tangan mujahidin. Data tentara bayaran yang tewas di Irak ini tidak masuk dalam data Pentagon.

Pendiri dan pemimpin Blackwater adalah Erik Prince. Prince adalah se-orang pendukung perang salib mo-dern. Dia sangat kaya dan merupa-kan sumber uang utama bagi Presiden George W. Bush. Sejak 1998, Prince mendonasikan sekitar 200 ribu dollar atau sekitar 1,8 triliun rupiah untuk kandidat presiden dari Partai Republik.

Sosok Prince adalah bukti betapa kuatnya kalangan fundamentalis Kris-ten dan Neocon secara politik. Pe-ngaruh kalangan ini sangat kental dalam menentukan kebijakan perang, dengan mengatasnamakan ‘kebeba-san’ dan ‘demokrasi’.

Neocon adalah kelompok pemikir di Amerika yang mayoritas keturunan Yahudi. Mereka menginginkan agar Amerika menjadi penguasa dunia satu-satunya dengan cara apa pun, termasuk menggunakan kekuatan senjata. Afghanistan dan Irak adalah korban mereka. Mereka dijuluki kaum Hawkish, karena kegemaran mereka menghasut Amerika untuk berperang.

Prince juga punya koneksi dengan kelompok-kelompok Kristen konser-vatif dan ikut membiayai organisasi-organisasi sayap kiri lewat yayasan Freiheit Foundation. Prince, selalu mengaitkan misi-misi perusahaan-nya dengan gerakan theocon.

Setiap orang membawa senjata, seperti Nabi Jeremiah membangun kembali kuil di Israel -pedang di tangan yang satu dan kulir di tangan satunya lagi,” demikian pernyataan yang pernah dilontarkan Prince.

Penulis Jacob Heilbrunn dalam artikelnya berjudul ”Neocon vs Theo-con” pada tahun 1996 menyatakan bahwa, “Para theocon, juga berargu-mentasi bahwa Amerika berakar pada ide tersebut, namun mereka meyakini bahwa ide itu sebenarnya ide-ide Kristen.“

Ideologi Perang Salib

Schahill, dalam bukunya juga me-ngupas tentang keterlibatan para ekse-kutif di Blackwater sebagai anggota dari milisi sebuah ordo dalam keya-kinan Kristen bernama Sovereign Military Order of Malta (SMOM).

Sejumlah eksekutif senior Black-water seperti Joseph Schmitz, bukan hanya penganut fanatis ideologi theo-con tapi juga anggota dari Sovereign Miltary Order of Malta, pasukan milisi Kristen yang misinya mempertahan-kan wilayah-wilayah perang Salib yang berhasil direbut umat Islam,” tulis Scahill.

Sebelum bergabung dengan Black-water sebagai Kepala Operasi dan anggota Dewan Umum pada tahun 2005, Schmitz mengatur semua kon-trak operasi militer di Irak dan Afgha-nistan. Schmitz adalah mantan inspek-tur jenderal di Pentagon, pada tahun-tahun pertama perang AS di Irak.

Pasukan milisi Sovereign Military Order of Malta awalnya adalah orga-nisasi sosial Kristen di al-Quds, muncul pada tahun 1080. Tugasnya mem-berikan bantuan bagi warga miskin dan peziarah yang datang ke Kota Suci itu, termasuk yang menderita sakit.

Setelah penaklukkan al-Quds pada 1095-era Perang Salib pertama- or-ganisasi ini menjadi Ordo Militer Ka-tolik. Setelah umat Islam berhasil me-rebut al-Quds, Ordo ini beroperasi dari wilayah Rhodesia, kemudian pin-dah ke Malta, dibawah kekuasaan kaum Sicilia di Spanyol. Para anggota Ordo Militer Katolik ini dikenal sebagaiPejuang Sukarelawan” yang mem-bantu pasukan Perang Salib menye-rang negara-negara Muslim di sepan-jang pesisir Italia, termasuk Tunisia, Libya dan Maroko.

Ordo Sovereign Military Order of Malta, sekarang memiliki negara sendiri bernama Malta yang berlokasi di Roma dan diakui oleh sekitar 50 negara di dunia. Sampai sekarang, Ordo ini di-duga masih melakukan misi-misi misio-naris di negara-negara yang sedang dilanda konflik, seperti Darfur di Su-dan, dengan berkedok sebagai orga-nisasi bantuan sosial.

Para anggota Ordo ini disumpah, yang berbunyi, ”Saya akan meleng-kapi diri saya sendiri dengan senjata dan amunisi, bahwa saya harus siap sedia ketika mendapat perintah, atau ketika saya dikomando untuk mem-bela gereja, baik secara individu mau-pun dengan pasukan milisi Paus.

The War Profiters

Keberadaan Blackwater di Irak semakin menandai perkembangan industri global tentara bayaran. Da-lam dekade terakhir ini terdapat tren berdirinya privatized military firms (PMFs) atau firma-firma militer swasta atau tentara bayaran. Selain Black-water, ada korporasi DynCorp Inter-national, TRW, Sandline, Executive Outcomes, MPRI, Vinnell, dll.

P.W. Singer, penulis Corporate Warrior (2003), menjelaskan bahwa tren PMFs ini membawa perubahan dalam hal “bagaimana bisnis perang, konflik militer, dan semua kebutuhan militer lainnya dijalankan”.

Saat ini, terdapat kecenderungan bahwa pemerintah AS lebih senang mengirimkan armada tentara swasta dibandingkan tentara reguler. Hal itu tentu dilatari sedikitnya dua pertimbangan strategis, tentunya setelah faktor penetrasi kalangan bisnis itu sendiri ke dalam pemerintah;

Pertama, dari sudut negara, peng-gunaan jasa PMFs memiliki nilai lebih dalam hal menjalankan operasi ke-amanan/militer, yakni efisiensi. Con-tohnya adalah seperti yang dipraktek-kan oleh Blackwater selama ini dan DynCorp yang meraih kontrak bisnis sebesar 1,9 miliar dollar AS atau 17 triliun rupiah untuk melatih polisi Irak. Pendek kata, pemerintah hanya ingin “tahu beres.”

Kedua, pemerintah bisa memini-malisir protes masyarakat mengenai penggunaan tentara reguler untuk kepentingan negara. Berbeda dengan tentara reguler, personel PMFs me-mang bekerja berdasarkan kebutuhan customer dan siap menanggung se-gala macam resiko pekerjaan –termasuk tewas ketika tugas. Jadi se-orang personel PMFs dituntut untuk memiliki kesadaran akan hal itu.

Dalam spektrum pandangan kritis, banyak analis ekonomi-politik yang berkesimpulan bahwa fenomena tren PMFs ini melahirkan praktek ekonomi yang disebut “bisnis perang”. o

Referensi:

wikipedia; eramuslim; aftermath; tempo; Blackwater dan Bisnis Perang, Muhamad Haripin

Tahun I Edisi 06

Aliran Sesat Kian Menjamur

S

ekian abad yang lalu, Rasulul-lah pernah mengingatkan kaum muslimin akan datang-nya suatu waktu yang penuh dengan penyimpangan-penyimpangan aga-ma. Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa ummat beliau akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Seluruh golongan tersebut berada da-lam neraka kecuali satu golongan, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Maraknya aliran-aliran sesat di In-donesia memang bukan hal yang ba-ru. Aliran-aliran ini ada yang berasal dari luar seperti Syi’ah dan Ahmadiy-yah, serta ada juga yang produk da-lam negeri seperti aliran Lia Eden (Sa-lamullah), al-Qiyadah al-Islamiyyah dan lain-lain. Aliran-aliran ini telah menyebar dan menyesatkan masya-rakat.

Sebagai contoh, belakangan ini ki-ta dihebohkan dengan aliran al-Qiya-dah al-Islamiyyah. Aliran ini merubah dua kalimat syahadat dan meyakini ada nabi baru setelah Nabi Muham-mad. MUI telah mengeluarkan fat-wa sesat terhadap aliran ini. Setelah diselidiki, ternyata aliran al- Qiyadah al-Islamiyyah telah lama berdiri dan memiliki jumlah pengikut yang ba-nyak. Bahkan, gerakan mereka terse-bar di lembaga-lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi di Indonesia.

Beberapa Aliran Sesat di Indonesia

A. Al-Qiyadah al-Islamiyyah

Aliran ini dinyatakan sesat karena:

1. Menghilangkan Rukun Islam.

Aliran al-Qiyadah al-Islamiyyah menolak rukun Islam karena mereka menganggap bahwa saat ini adalah fase Makkah. Artinya, mereka meya-kini bahwa shalat, puasa, zakat, dan haji belum saatnya diwajibkan.

2. Merubah Syahadat.

Mereka telah merubah dua kali-mat syahadat yang merupakan rukun pertama dalam Islam. Inilah syahadat versi mereka:

“Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna al-masiih al-maw’uud rasulullah”.

3. Meyakini ada nabi baru setelah Rasulullah.

Ahmad Mushaddiq, selaku pemim-pin aliran ini mengaku dirinya sebagai al-Masih al-Maw’ud sekaligus nabi baru. Hal ini dinyatakannya setelah ia bertapa dan mendapatkan wahyu di salah satu kawasan di Bogor.

Hal ini tertulis jelas dalam buku ‘Ruhul Qudus yang turun kepada al-Masih al-Maw’ud’, edisi pertama 2007, hlm. 182. Dalam buku ini tertulis:

“Aku al-Masih al-Maw’ud menjadi syahid Allah bagi kalian, orang-orang yang mengimaniku, dan aku telah menjelaskan kepada kalian tentang sunnah-Nya dan rencana-rencana-Nya di dalam hidup dan kehidupan ini sehingga dengan memahami sun-nah dan rencana-rencana-Nya itu ka-lian dapat berjalan dengan pasti di bawah bimbingan-Nya.”

“… Dan aku juga memerintahkan ke-pada katib agar mempersiapkan se-buah acara di Ummul Qura’ bagi pa-ra sahabat untuk menjadi syahid ba-gi kerasulan al-Masih al-Maw’ud, te-tapi katib mengusulkan agar acara-nya diadakan di Gunung Bunder sa-ja, akupun menyetujuinya, di malam yang ketigapuluh tiga, tiga hari men-jelang empat puluh hari aku ber-ta-hannuts (menyepi), kembali aku ber-mimpi, di dalam mimpi itu aku dilan-tik menjadi rasul Allah dengan disak-sikan para sahabat.”

4. Menganggap kafir setiap orang yang tidak masuk ke dalam kelom-poknya atau menolak kenabian pemimpin mereka.

5. Menggantikan kewajiban shalat li-ma waktu dengan shalat malam saja.

6. Menebus setiap dosa-dosa yang mereka lakukan dengan sejumlah uang yang dikenal dengan istilah penebusan dosa.

Aliran sesat ini telah menerbitkan bukunya yang berjudul ‘Tafsir wa Ta’-wil’. Dalam buku tersebut, mereka menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an se-kehendak mereka. Dalam tulisan ini, kami akan paparkan beberapa con-toh dari penyimpangan tafsir yang mereka lakukan. Di antaranya adalah:

· Menafsirkan ‘Bahtera Nabi Nuh sebagai simbol dari organisasi dakwah beliau dan bukan kapal yang sesung-guhnya.

Allah  berfirman:

“Lalu Kami wahyukan kepadanya (Nuh), ‘Buatlah bahtera dibawah pe-ngawasan dan petunjuk Kami.” (al-Mu’minuun: 27)

Mereka mengatakan bahwa kapal adalah amtsal (permisalan) dari ke-pemimpinan, yaitu sarana organisa-si dakwah yang dikendalikan oleh Nuh sebagai nahkoda. Keluarga Nuh adalah orang-orang mukmin yang beserta beliau, sedangkan binatang ternak yang dimasukkan berpasang-pasangan adalah perumpamaan dari umat yang mengikuti beliau. Lautan yang dimaksud adalah bangsa Nabi Nuh yang musyrik itu. (Tafsir wa ta’-wil hal. 43).

· Menafsirkan para malaikat yang memikul ‘Arasy sebagai para mas’ul (penanggungjawab) yang telah tersu-sun dalam tujuh tingkatan struktur dan kekuasaan di bumi. (Tafsir wa ta’-wil hal. 24).

· Menafsirkan as-Saaq (betis) pada surat al-Qalam ayat 42 dengan rasa takut akan azab Allah pada hari kia-mat. (Tafsir wa ta’wil hal. 18).

· Mengingkari pengambilan persak-sian anak cucu Adam atas ketuhan-an Allah yang merupakan penafsiran dari surat al-‘Araf ayat 172.

Selain kesesatan dalam buku tafsir yang mereka terbitkan, banyak para pengikut al-Qiyadah al-Islamiyyah yang memiliki pemahaman inkarus sunnah (menolak hadits). Mereka me-nolak keabsahan hadits-hadits Rasu-lullah. Sebagai contoh mereka ber-kata, ” Kitab al-Qur’anul Karim ada-lah sebuah kitab yang dipelihara dan dijamin keotentikannya oleh Allah, tidak demikian halnya dengan hadits-hadits.”

Selain itu, apa yang diajarkan oleh kelompok al-Qiyadah al-Islamiyyah ini, ternyata tidak hanya mengutip ayat-ayat al-Quran saja. Mereka juga mengajarkan paham-paham Kristen. Bahkan, mereka banyak mengutip dan mendasarkan ajarannya pada In-jil. Mereka memahami bahwa ajaran yang dibawa Musa, Yesus, dan Ah-mad (Nabi Muhammad) adalah sa-ma karena memiliki sumber ajaran yang sama pula (dari Allah). Bahkan, di dalam Islam ada konsep trinitas se-bagaimana dalam ajaran Kristen (!!).

Demikianlah, mereka mencam-puradukkan ajaran. Banyak lagi ajar-an-ajaran yang mereka tanamkan ke-pada para pengikutnya dengan mem-berikan pemahaman yang menyesat-kan. Mereka tidak segan-segan me-nyatakan, “Sebetulnya ajaran Yesus sama dengan ajaran Islam.”

B. Hidup di Balik Hidup

Aliran Hidup di Balik Hidup (HDH) ini sudah berkembang sejak tahun 1940 di Cirebon, Jawa Barat. Mu-hammad Kusnan adalah pendiri da-ri aliran ini. Namun, saat ini yang menjabat sebagai pemimpin aliran Hidup di Balik Hidup sepeninggal Kusnan adalah Mudjoni yang kini tinggal di Bekasi.

Masyarakat setempat sudah mera-sa risih dengan pemahaman dan ak-tivitas kelompok Hidup di Balik Hidup ini. Menurut pengawasan masyara-kat, aliran ini sesat dan menyesatkan karena ada beberapa keyakinan yang menyimpang dari ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah. Syaifudin, selaku ke-pada Desa Sigong, Lemahabang, me-nuturkan bahwa aliran ini telah mere-sahkan warga dan meminta agar pa-ra alim ulama segera memposesnya.

Aliran Hidup di Balik Hidup me-miliki sebuah buku panduan. Dalam buku itu diceritakan tentang cara atau praktik beribadah dan cerita ten-tang asal-usul aliran Hidup di Balik Hidup.

Buku itu memuat beberapa ajar-an yang menyimpang dari pemaham-an Islam. Disebutkan bahwa Kusnan, selaku pendiri aliran Hidup di Balik Hidup, pernah ditemui oleh dua ma-laikat yang membersihkan dadanya di sebuah danau. Peristiwa itu dise-butkan terjadi ketika Kusnan berumur sepuluh tahun.

Bahkan, dijelaskan bahwa Kusnan pernah mengalami perjalanan ghaib menuju surga dan neraka serta me-nemui semua nabi sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad.

C. Amanat Keagungan Ilahi

AKI atau Amanat Keagungan Ilahi adalah aliran baru yang muncul di Desa Jatirejo, Nganjuk.

Diterangkan bahwa aliran ini te-lah ada sejak tiga tahun yang lalu. Se-jauh pengawasan masyarakat setem-pat, aliran ini masih mempercayai Allah sebagai Tuhan. Namun, hal yang ganjil adalah keterbukaan aliran ter-sebut pada agama lain bahkan kepa-da yang tidak beragama sekalipun.

Mereka membuka diri dalam me-nerima semua agama. Dalam Prose-dur Tetap (Protap) yang mereka su-sun, disediakan doa-doa untuk um-mat Islam dan Kristen.

Dari informasi yang diperoleh, aliran ini tidak mewajibkan shalat li-ma waktu. Mereka juga meyakini bah-wa thawaf bisa dilakukan dengan ca-ra mengitari Kabupaten Nganjuk de-ngan menggunakan mobil dan ber-pakaian putih-putih.

Menurut masyarakat setempat, pa-ra penganut aliran ini tidak begitu pe-duli dengan syiar-syiar Islam seperti jilbab bagi kaum perempuan. Keba-nyakan perempuan dari pengikut AKI tidak mengenakan jilbab dan hanya mengenakan pakaian sebagaimana masyarakat umum.

D. Wahidiyah

Majelis Ulama Indonesia Kabupa-ten Tasikmalaya, Jawa Barat, me-ngeluarkan fatwa bahwa ajaran Wa-hidiyah yang berkembang di Desa Sumahmadu Taraju, sesat dan me-nyesatkan. Salah satu ajarannya yang menjadi dasar kesesatan aliran ini adalah keyakinannya pada Ghauts Haadzaz Zaman yang bisa mencabut iman seseorang.

Fatwa sesat ini keluar setelah dila-kukan penelitian oleh Komisi Fatwa MUI Kab. Tasikmalaya. Menurut ke-terangan Ketua Umum MUI setempat, KH. Dudung Abdul Halim, MA, alir-an Wahidiyah ini menyalahi ajaran al-Qur’an dan al-Hadits.

Mengenai ajaran Wahidiyah sen-diri, mereka percaya bahwa setiap zaman selalu ada Ghauts yang mem-bimbingnya. Dalam dunia tasawuf, ada suatu kepercayaan tentang ke-beradaan Ghauts yang diangkat oleh Allah sebagai wasilah (perantara) ke-pada-Nya. Para waliyullah, termasuk Wali Abdal dan Quthub, senantiasa meminta kepada Allah untuk kesela-matan ummat dan alam raya ini.

Memang, dalam buku-buku Wa-hidiyah tidak pernah ditegaskan sia-pakah sebenarnya Ghauts itu sendi-ri. Namun, menurut sebagian peng-amal ajaran Wahidiyah, Mu’allif Sha-lawat itu sendiri yaitu Mbah Abdul Madjid yang menjadi Ghauts di za-man sekarang. Meskipun penetapan ini hanya sebatas husnudzan saja, mereka yakin bahwa prasangka me-reka memiliki dasar-dasar yang be-nar.

Aliran ini memiliki shalawat ter-sendiri yang mereka namai Shalawat Wahidiyah. Shalawat ini menjadi amalan khusus bagi para pengikut Wahidiyah.

Saat ini, aliran Wahidiyah memi-liki struktur organisasi yang rapi. Di Indonesia sendiri dikenal dengan Pe-nyiar Shalawat Wahidiyah (PWS). Perkembangannya tidak hanya seba-tas dalam negeri saja. Aliran ini ber-kembang juga di luar negeri.

E. Islam Hakekok

Aliran yang disebut dengan nama Islam Hakekok ini telah lama ber-kembang di sekitar Tangerang. Pena-maan hakekok sendiri berasal dari ba-hasa Arab yang berarti hakikat. Me-mang, gaungnya ajaran Islam Heke-kok tidak seheboh aliran-aliran sesat lainnya seperti al-Qiyadah al-Islamiy-yah. Tapi, aliran ini sudah memiliki banyak pengikut terutama di kawas-an Tangerang dan sekitarnya.

MUI Kabupaten Tangerang telah mengeluarkan fatwa sesatnya ajaran Islam Hakekok.

Sejauh data yang berhasil dihim-pun, aliran ini tidak mewajibkan sha-lat lima waktu kepada pengikutnya. Mereka meyakini bahwa ibadah sha-lat cukup dilaksanakan dengan ber-doa di dalam hati saja.

Demikian pula dengan ibadah Ra-madhan, mereka tidak mewajibkan puasa. Bagi mereka, ibadah ini cukup dilakukan dengan niat dan berdoa di dalam hati tanpa harus menahan di-ri dari lapar dan dahaga.

F. Al-Qur’an Suci

Maraknya kasus mahasiswa yang hilang atau pergi begitu saja tanpa se-pengetahuan orang tua, disiyalir me-miliki indikasi keterkaitan dengan aliran al-Qur’an. Di lain tempat se-perti Pekanbaru dan Medan, nama lain dari aliran al-Qur’an Suci adalah al-Haq.

MUI Pekanbaru sudah mengeluar-kan fatwa bahwa aliran ini sesat dan menyesatkan. Setelah diselidik lebih jauh, ternyata aliran ini menyebar pertama kali di Medan. Kemudian aliran tersebut disebarkan ke bebe-rapa daerah di Jawa dan Sumatera. Sedangkan pemimpinya saat ini ber-asal dari salah satu kota besar di Ja-wa Tengah.

Hedi Muhammad, Ketua Tim In-vestigasi Aliran Sesat (TIAS) menga-takan bahwa aliran al-Qur’an dan al-Haq memang memiliki prinsip ajar-an yang sama. Ia menambahkan bah-wa aliran ini hanya melakukan iba-dah shalat sekali dalam sehari dan peralihan ibadah puasa menjadi pem-bayaran sejumlan uang.

Hal ini terungkap setelah diada-kan penelitian lapangan dan peng-akuan sejumlah korban. Saat ini, akti-fitas masih difokuskan untuk mencari korban-korban yang hilang tanpa je-jak, terlebih kebanyakan dari mere-ka adalah mahasiswa.

G. Ajaran Nabi Perempuan

Seorang wanita asal Madiun, Rus-miyati binti Sawabi Sastrawijaya, mengaku sebagai nabi sekaligus pang-lima perang untuk melawan pasukan iblis. Menurut pengakuannya, ia di-tunjuk sebagai ratu adil dan juru se-lamat yang ditunggu-tunggu ummat manusia.

Pengakuannya ini berdasarkan mimpi-mimpi yang dianggap sebagai petunjuk atau ilmu dari langit. Mimpi-mimpi itu ia tuangkan dalam tujuh bundel naskah. Majelis Ulama Indo-nesia Kota Madiun langsung turun ta-ngan setelah Rusmiyati melapor ke-pada pihak MUI untuk mendapat le-gitimasi atau pengakuan resmi atas ajarannya itu. Selanjutnya, MUI Ko-ta Madiun mengeluarkan fatwa la-rangan penyebaran aliran Nabi Pe-rempun ini.

Ajarannya tertuang dalam tujuh naskah tersebut yang berjudul “Falsa-fah Pancasila Obor Perdamaian Du-nia.” Dalam ajaran itu terdapat isi ten-tang falsafah Pancasila untuk perda-maian dunia, landasan dasar mence-gah kekerasan, mengatasi korupsi, menangani generasi muda yang ku-rang beruntung, mengatasi zina dan sumber hukum undang-undang anti-pornografi.

Menurut pengakuannya, ia telah tiga kali diwisuda. Pertama, sebagai ratu adil pada hari selasa, tanggal 30 Mei 2006, setelah Yogyakarta digun-cang gempa. Kedua, sebagai juru se-lamat di saat peringatan hari lahirnya Nabi Isa pada tanggal 25 Desember 2006. Ketiga, sebagai pemimpin wa-nita yang mendapat petunjuk oleh Tuhan Yang Maha Esa, pada tanggal 20 Mei 2007.

Dalam setiap peperangan, lanjut Rusmiyati, ia dibekali dengan Pusa-ka Trisula bermata tiga yang di setiap ujung kanannya adalah semua kitab suci, ujung kirinya adalah falsafah Pancasila dan puncaknya adalah Tu-han Yang Maha Esa. Ia mengakui bahwa ia telah mendapatkan ‘wahyu’ sejak tahun 1982 dan telah menye-barkan ajarannya ke beberapa orang dan kelompok.

H. Syiah

Aliran sesat ini memang bukan barang baru. Ia telah muncul sejak belasan abad yang silam. Namun, ca-kar pergerakannya masih dirasa sam-pai saat ini. Terlebih, penyebarannya semakin cepat dan luas hingga ma-suk ke bumi nusantara. Terbukti ba-nyaknya penerbit dan lembaga yang mengusung paham Syi’ah seperti Pe-nerbit Mizan Bandung, Yayasan al-Muntazhar Jakarta, Ikatan Pemuda Ahlu Bait (IPAN) Bogor, dan lain se-bagainya.

Setidaknya ada beberapa point yang menjadi alasan bahwa Syiah adalah aliran sesat dan menyesatkan. Point tersebut adalah:

1. Menolak al-Qur’an mushaf Uts-mani dengan keyakinannya bahwa al-Qur’an yang sah adalah al-Qur’an mushaf Fathimah. Al-Qur’an mereka ini tiga kali lebih tebal dan ia akan kembali hadir ke dunia dengan di-bawa oleh Imam mereka yang kedua belas,  yaitu Imam Mahdi versi mere-ka.

2. Hanya menerima hadits-hadits Rasulullah  yang diriwayatkan oleh ahlul bait dan sebagian sahabat yang pro khalifah Ali bin Abi Thalib.

3. Mencela dan mengkafirkan bebe-rapa sahabat Nabi  seperti Abu Ba-kar, Umar dan Utsman.

4. Menyakini bahwa Ali bin Abi Tha-lib dan imam-iman mereka adalah ma’shum (terbebas dari dosa).

5. Menghalalkan nikah mut’ah atau kawin kontrak.

6. Menyakini bahwa kota Kufah, Kar-bala (Irak), dan Qum (Iran) adalah tanah suci yang lebih utama daripa- da Makkah.

Itulah sebagian dari ajaran Syiah yang sesat dan menyesatkan.

I. Ahmadiyah

Aliran yang disebarkan oleh Mir-za Ghulam Ahmad ini mendapat tem-pat di Indonesia. Sang pendusta da-ri India itu mengaku dirinya sebagai nabi. Oleh karena itu, wajar jika alir-an Ahmadiyah ini mendapat respon yang kuat dari ummat Islam.

Di Indonesia, Ahmadiyah sudah lama berdiri. Walaupun demikian, MUI mengeluarkan fatwa sesatnya aliran ini. Bahkan, para tokoh agama memobilisasi ummat Islam untuk ber-sama-sama menghancurkan setiap tempat penyebaran dakwah Ahma-diyah.

Ini adalah beberapa prinsip ajar-an Ahmadiyah:

1. Meyakini bahwa tuhan mereka memiliki sifat-sifat seperti manusia seperti tidur, makan, shalat, puasa, beristri, dan lain sebagainya (Maha Suci Allah dari tuduhan mereka).

2. Meyakini bahwa kenabian belum berakhir dan Muhammad bukanlah nabi terakhir.

3. Memiliki kitab suci sendiri yang bernama at-Tadzkirah.

4. Menganggap bahwa kota Qadiyan di India adalah kota suci seperti Mak-kah. Kota itu juga dijadikan sebagai tempat ibadah haji bagi mereka.

5. Berpendapat bahwa taat kepada pemerintahan Inggris adalah separuh dari agama.

J. Lia Eden

Aliran Lia Eden atau Salamullah adalah aliran yang sudah dinyatakan sesat oleh MUI. Aliran ini didirikan oleh seorang ibu yang bernama Lia Aminudin. Ia menyatakan bahwa di-rinya telah mendapat wahyu dari Tu-han melalui Malaikat Jibril pada tang-gal 1 Oktober 1997. Sosok yang di-anggap malaikat itu menyuruhnya un-tuk menggali mata air di Jalan Maho-ni. Tempat bertuah itulah yang ke-mudian diberi nama Salamullah.

Pada tanggal 18 Agustus 1998, ia memproklamirkan dirinya sebagai Imam Mahdi dan anaknya, Ahmad Mukti, sebagai Nabi Isa. Selanjutnya, pada tanggal 24 Juni 2000, Lia me-nyatakan Salamullah sebagai agama baru.

Dalam ajarannya, Salamullah me-madukan antara Islam dan Kristen. Ajarannya menghalalkan daging ba-bi dan setuju sekali dengan shalat dua bahasa. Selain itu, Lia Eden juga mengangkat Muhammad Abdurrah-man sebagai sosok reinkarnasi Nabi Muhammad. Ia juga diangkat se-bagai Imam Besar Jam’ah Lia Eden).

K. Tijaniyah

Thariqat Tijaniyah ini didirikan oleh Syaikh Ahmad at-Tijani yang nama lengkapnya adalah Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin al-Mukh-tar at-Tijani.

Thariqat ini berkembang di ka-wasan utara Afrika, Jazirah Arab, Eropa (terutama Prancis), dan seba-gian wilayah Asia. Di Indonesia sen-diri, aliran ini mendapatkan reaksi pe-nolakan dari aliran thariqat lain kare-na ajarannya yang menyatakan bah-wa pengikut aliran Tijaniyah beserta tujuh generasi keturunannya akan di-perlakukan secara khusus pada hari kiamat nanti dan diharamkan berhu-bungan dengan guru pembimbing da-ri aliran thariqat lain.

Ini adalah beberapa kepercayaan dan ritual thariqat Tijaniyah:

1.Membaca beberapa dzikir terten-tu untuk bersatu dengan ruh Nabi.

2.Meyakini bahwa mereka memili-ki alam barzakh tersendiri.

3.Akan masuk surga bersama Rasu-lullah  dalam rombongan pertama.

4.Menempatkan posisi Syaikh at-Ti-jani sebagai penutup para wali dan bisa memberikan syafaat di akhirat kelak.

5.Meyakini bahwa pahala Shalawat Fatih bisa menandingi pahala baca-an al-Qur’an.

L. NII

Negara Islam Indonesia atau NII adalah kelompok pergerakan yang diploklamirkan pada tanggal 7 Agus-tus 1949 oleh Sekarmadji Marijan Kar-tosoewirjo. Ia sendiri adalah pemim-pin pergerakan ini.

NII bertujuan mendirikan negara Islam di bumi Indonesia. Namun da-lam praktiknya, terdapat beberapa penyimpangan seperti:

1. Terdapat penyimpangan tentang makna tauhid, seperti mengikuti pe-mahaman Asy’ariyah yang mentak-wilkan Asmaa’ was Shifaat.

2. Mengkafirkan siapapun yang tidak masuk ke dalam kelompok mereka.

3. Seorang anak berhak mengambil harta orang tuanya jika orang tuanya tersebut tidak masuk NII.

M. JIL

Aliran ini kian ramai diperbincang-kan. Pemahaman Jaringan Islam Li-beral atau JIL telah dianggap sesat oleh MUI.

Mereka adalah benalu yang dita-nam oleh orang-orang Barat yang sa-ngat membenci Islam.

JIL didanai langsung oleh The Asia Foundation (TAF). TAF adalah lem-baga yang memiliki misi pluralisme dan liberalisasi agama. Tak aneh jika tokoh-tokoh JIL selalu mengusung paham pluralisme dan liberalisme agama, seperti menyatakan bahwa semua agama benar, menolak pene-gakan syariat Islam, menolak kewa-jiban berjilbab bagi perempuan, meng-kritisi pembagian hak waris, meragu-kan keabsahan al-Qur’an dan al-Ha-dits, serta lebih mengusung ide-ide kaum orientalis.

Itulah beberapa aliran sesat yang telah menodai kesucian Islam dan menyesatkan banyak orang. Merebak-nya aliran-aliran sesat tersebut tentu-nya menuntut kewaspadaan seluruh umat Islam. o

Tahun I Edisi 05

Animisme Seruan Syaitan

T

entang batilnya paham animis-me dan dinasmisme tidaklah memerlukan penjelasan yang panjang. Cukup untuk menunjukkan kebatilannya dengan mengungkap-kan kepercayaan dan jalan pikiran paham tersebut. Tetapi yang perlu di-sanggah di sini ialah perkataan se-bagian ahli sejarah yang berkata bah-wa animisme adalah asal-usul aga-ma di muka bumi. Artinya, keyakin-an yang pertama kali ada di muka bumi ini adalah keyakinan syirik (me-nyekutukan Allah).

Pendapat ini dilontarkan oleh se-bagian ahli sejarah Barat yang tidak membaca kitab suci al-Qur’an. Se-hingga tidaklah aneh, karena mere-ka tidak memiliki kitab suci yang men-jelaskan hakikat segala sesuatu. Te-tapi yang aneh adalah pendapat ter-sebut diikuti oleh sebagian peneliti muslim seperti Abbas Mahmud al-‘Aqqad. Ia berkata dalam bukunya “Allah”, sebuah buku yang memba-has tentang sejarah akidah ketuhan-an, bahwa manusia mengalami per-kembangan dalam keyakinannya. Bermula dari keyakinan yang primi-tif lalu berkembang sedikit demi se-dikit menjadi sebuah agama yang utuh. Ia berpendapat bahwa perkem-bangan manusia dalam hal akidah sama persis dengan perkembangan-nya dalam ilmu pengetahuan.

Pendapat ini jelas batil dan me-nyalahi nash-nash al-Qur’an. Sebab, al-Qur’an menceritakan kepada kita bahwa agama manusia yang perta-ma, yaitu Adam, adalah Islam. Sejak mula diciptakan, Adam te-lah mengenal Tuhannya dan tidak menyembah selain Allah. Demi-kian pula dengan anak cucu Adam, mereka semuanya menyembah Tuhan yang satu dan tidak menye-kutukan-Nya dengan suatu apapun. Hal ini berlangsung sampai sepuluh kurun atau sepuluh abad. Baru pa-da zaman nabi Nuh p terjadi pe-nyimpangan serius dalam masalah akidah. Manusia mulai menyekutu-kan Allah dengan berhala-berhala mati. Inilah kesyirikan yang pertama kali di muka bumi. Allah berfirman:

“Manusia itu adalah ummat yang sa-tu. (Setelah timbul perselisihan), ma-ka Allah mengutus para nabi, seba-gai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.” (QS. Al-Baqa-rah: 213).

Maksud dari perkataan Allah “Manusia itu adalah ummat yang sa-tu.” ialah umat yang satu dalam tau-hid.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ab-dullah bin ‘Abbas bahwa ia ber-kata, “Antara Nabi Adam dan Nabi Nuh adalah sepuluh kurun, mereka semua di atas syariat yang haq. Lalu setelah itu mereka berselisih… kemu-dian Allah  mengutus para nabi un-tuk menyampaikan kabar gembira dan peringatan.”

Ibnu Katsir berkata, “Pendapat Ibnu ‘Abbas di atas adalah pendapat yang paling benar dan paling kuat sanadnya. Karena, manusia seluruh-nya dahulu mengikuti millah (agama) Adam hingga datanglah masa di-mana manusia menyembah patung-patung. Kemudian diutuslah Nuh ke tengah-tengah mereka.” (Taisiirul ‘Aliyyil Qadiir, jilid I, hlm. 171).

Asal Mula Kesesatan

Satu hal yang perlu ditegaskan di sini ialah, tidak ada di muka bumi ini satu kitab yang menjelaskan tentang sejarah akidah dengan benar selain Kitabullah (al-Qur’an). Sedangkan il-mu manusia tidak mungkin mampu menjelaskan sisi ini secara memuas-kan. Ini disebabkan oleh beberapa faktor:

1. Apa yang diketahui oleh para ah-li tentang sejarah manusia lima ribu tahun yang silam sangatlah sedikit. Tidak banyak fakta-fakta yang bisa diungkap dari sejarah manusia lima puluh abad yang lalu. Apalagi sepuluh ribu tahun yang lalu (seratus abad silam). Sa-ngat-sangat sedikit sekali yang bi-sa diungkap. Sedangkan sejarah yang terjadi sebelum itu maka ia adalah misteri yang sama sekali tidak diketahui oleh manusia.

Jadi, ilmu sejarah yang banyak di-banggakan oleh manusia itu sebenar-nya tidak lebih dari pisau tumpul yang sama sekali tidak mampu membedah masa lalu yang sangat jauh. Banyak di antara rekaman sejarah itu yang tidak lain adalah teori-teori dan pra-duga-praduga yang tidak berdasar-kan bukti. Mirip dengan teori Darwin, yang semula dianggap ilmiah tetapi kemudian terbukti tidak lain hanya khayal yang diilmiahkan.

2. Dokumen-dokumen sejarah yang diwarisi oleh manusia, sebagian besarnya telah tercampur dengan kebatilan. Siapa yang bisa men-jamin bahwa dokumen-dokumen tertulis tersebut (baik yang tertu-lis di atas kertas, tulang, batu, dan sebagainya) dapat dijamin kebe-narannya? Untuk mencari tahu tentang sejarah hakiki seorang to-koh yang hidup di abad ini saja sudah sangat sulit. Ini karena ba-nyak fakta-fakta yang digelapkan atau diputarbalikkan. Lalu bagai-mana dengan sejarah yang ter-jadi sejak awal mula manusia?!

3. Sebagian dari sejarah yang ter-kait dengan keyakinan manusia pertama, tidak terjadi di bumi te-tapi di langit (yakni sebelum di-turunkannya Adam p ke bumi). Oleh karena itu, tidak ada yang bisa membekali kita tentang se-jarah yang benar, yang tidak me-ngandung distorsi (pembiasan), selain Allah. Hal ini karena:

“Sesungguhnya Allah tidak ada se-suatu-pun yang tersembunyi bagi-Nya di bumi maupun di langit.” (QS. Ali Imran: 5)

Allah  mengkhabarkan kepada kita bahwa Dia telah menciptakan Adam  dengan penciptaan yang sempurna lalu Dia tiupkan kepada Adam dari ruh-Nya. Setelah itu Dia menempatkan Adam di surga-Nya. Kemudian datanglah syaitan menggodanya untuk memakan buah yang dilarang Allah. Lalu Adam terpedaya oleh bisikannya dan mendurhakai Rabbnya. Maka Allah pun menurunkannya dari surga ke bumi. Namun sebelum Adam diturunkan, Allah telah berjanji un-tuk menurunkan petunjuk-Nya kepa-da Adam dan keturunannya, agar dengan petunjuk tersebut manusia mengenal Tuhannya dan jalan menu-ju ridho-Nya. Allah berfirman:

“Turunlah kalian dari surga itu! Ke-mudian jika datang kepada kalian pe-tunjuk-Ku, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mere-ka itu penghuni neraka; mereka ke-kal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 38-39)

Allah juga berfirman:

“Turunlah kamu berdua dari surga, sebagian kalian menjadi musuh se-bagian yang lain. Lalu jika datang ke-pada kalian petunjuk-Ku, maka ba-rangsiapa yang mengikuti petunjuk-Kemudian niscaya ia tidak akan ter-sesat dan celaka. Sedangkan barang-siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya bagi-nya ke-hidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.’ Berkatalah ia: ‘Ya Rabbku, mengapa Engkau meng-himpunku dalam keadaan buta pa-dahal aku dahulunya seorang yang melihat?’ Allah menjawab, ‘Demikian-lah, telah datang kepadamu ayat-ayat Ku, lalu engkau melupakannya, maka begitu pula pada hari ini eng-kau dilupakan.” (QS. Thaahaa: 123-126)

Telah dijelaskan di atas, bahwa Adam  dan sepuluh generasi se-telahnya berada di atas millah (aga-ma) yang haq. Penyimpangan aki-dah pertama baru terjadi pada zaman Nabi Nuh. Kemudian diutuslah Nuh untuk mengembalikan me-reka kepada tauhid yang murni. Se-telah Nabi Nuh berdakwah sela-ma sembilan ratus lima puluh tahun, maka mereka yang tetap bersikukuh di atas kesyirikan dimusnahkan oleh Allah dengan banjir besar yang membersihkan bumi ini dari orang-orang yang musyrik. Yang tinggal se-telah itu hanyalah orang-orang ber-iman.

Kemudian, ketika manusia me-nyimpang sekali lagi dari tauhid, Allah pun mengutus rasul-Nya untuk meluruskan penyimpangan mereka. Allah berfirman:

“Kemudian Kami jadikan sesudah mereka umat yang lain. Lalu Kami utus kepada mereka seorang rasul da-ri kalangan mereka sendiri (yang ber-kata): “Sembahlah Allah yang sekali-kali tidak ada sesembahan selain-Nya. Maka mengapa kalian tidak bertaq-wa (kepada-Nya)?” (QS. Al-Mu’-minun: 31-32)

Demikianlah kasih sayang Allah dan perhatian-Nya kepada Bani Adam. Setiap kali mereka tersesat dan menyimpang, Dia turunkan kepada mereka petunjuk-Nya dan Dia utus seorang rasul dari sisi-Nya.

“Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami secara ber-turut-turut. Tiap kali seorang rasul datang kepada umatnya, mereka men-dustakannya, maka Kami susulkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain dan Kami jadikan mereka buah mulut  (pembicaraan buruk ma-nusia), maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman itu.” (QS. Al-Mu’minun: 44)

Demikianlah sejarah umat manu-sia yang sebenarnya, yaitu sebuah pertarungan panjang antara haq dan batil. Antara para rasul yang me-nyampaikan petunjuk Ilahi dan kaum-nya yang menolak tauhid serta ber-pegang teguh kepada ajaran nenek moyang.

Allah berfirman:

“Belumkah sampai kepada kalian be-rita orang-orang sebelum kalian (yai-tu) kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang yang sesudah mereka? Tidak ada yang mengetahui tentang mereka selain Allah.Telah datang ke-pada mereka rasul-rasul (yang mem-bawa) bukti-bukti yang nyata lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian) seraya berkata, ‘Sesungguhnya kami meng-ingkari apa yang kalian sampaikan (kepada kami), dan sesungguhnya ka-mi benar-benar dalam keraguan yang menggelisahkan tentang apa yang kalian serukan.’ Berkata rasul-rasul mereka, “Apakah ada keraguan ten-tang  Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kalian untuk memberi ampunan kepada kalian dari dosa-dosa kalian dan menangguhkan (sik-saan) sampai masa yang ditentukan.’ Mereka berkata, ‘Kalian tidak lain ha-nyalah manusia seperti kami juga. Kalian hanya ingin menghalang-ha-langi kami untuk menyembah apa yang disembah oleh nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepa-da kami bukti yang nyata.” (QS. Ib-rahim: 9-10)

Jadi, tidak ada suatu bangsa-pun yang tidak diutus kepada mereka se-orang rasul. Allah berfirman:

“Dan tidak ada suatu umatpun me-lainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan (rasul).” (QS. Fa-athir: 24)

Oleh karena itu, kita tidak menge-tahui nama-nama semua rasul yang telah diutus oleh Allah.

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ce-ritakan kepadamu dan di antara me-reka ada (pula) yang tidak Kami ce-ritakan kepadamu.” (QS. Al-Mu’min: 78)

Di antara buktinya adalah, umat-umat yang kelak dilempar ke dalam neraka jahannam, mereka semua mengakui bahwa telah sampai kepa-da mereka peringatan rasul.

Allah berfirman:

“Hampir-hampir (neraka) itu ter-pecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya se-kumpulan (orang-orang kafir), ma-laikat penjaga neraka itu bertanya kepada mereka: ‘Apakah belum per-nah datang kepada kalian (di dunia) seorang pemberi peringatan (rasul)?’ Mereka menjawab: ‘Benar ada, sung-guh telah datang kepada kami se-orang pemberi peringatan, akan te-tapi kami mendustakannya dan ka-mi katakan: ‘Allah tidak menurunkan sesuatu apapun; dan kalian tidak lain hanyalah dalam kesesatan yang be-sar.” (QS. Al-Mulk: 8-9)

Kesimpulannya, paham animis-me dan dinamisme muncul karena umat manusia menyimpang dari dak-wah para rasul.

Asal Usul Animisme

Setelah jelas bagi kita bahwa aga-ma yang pertama kali ada di muka bumi ini adalah Islam, agama tauhid, maka kemudian timbul suatu perta-nyaan, “Dari manakah datangnya paham animisme dan dinamisme itu?”

Rasulullah meriwayatkan da-lam sebuah hadits qudsi, firman Allah berikut:

Sesungguhnya Aku menciptakan se-luruh hamba-hamba-Ku dalam ke-adaan hanif (cenderung kepada tau-hid), maka kemudian datanglah syai-tan-syaitan kepada mereka lalu me-nyesatkan mereka dari agama yang benar, syaitan-syaitan itu mengha-ramkan bagi mereka apa yang Aku halalkan dan menyuruh mereka un-tuk menyekutukan Aku dengan se-suatu yang tidak pernah Aku perin-tahkan.” (HR. Muslim)

Jadi, sebenarnya syaitan-lah yang memberikan inspirasi kepada manu-sia untuk mengagungkan roh-roh atau meyakini kekuatan-kekuatan ghaib yang terdapat dalam benda-benda seperti pohon, batu, matahari, api, dan sebagainya. Tidak ada satu jalan pun yang menyimpang dari tau-hid melainkan syaitan ada di ujung jalan tersebut untuk menyeru agar manusia meniti jalan itu.

Abdullah bin Mas’ud berkata:

Suatu ketika Rasulullah menggaris suatu garis lurus kemudian bersabda: ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian be-liau membuat beberapa garis ke sam-ping kanan dan kiri-nya, dan bersab-da: ‘Ini adalah jalan-jalan yang lain, di setiap jalannya ada syaitan yang menyeru kepadanya!’, kemudian be-liau membaca firman Allah: ‘Inilah ja-lan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lainnya niscaya akan me-nyimpangkan kalian dari jalan-Nya.” (QS. al-An’aam: 153)” (HR. Bukha-ri, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Syaitan sangat berkepentingan agar sebagian besar manusia menem-puh jalan-jalan kesyirikan. Dia ber-usaha keras tanpa mengenal lelah un-tuk menarik pengikut sebanyak-ba-nyaknya dalam rangka memperban-yak teman di neraka jahannam. Se-hingga, orang-orang yang menyem-bah selain Allah sebenarnya me-reka tidak lain menyembah syaitan. Karena, syaitan-lah yang menghias-kan kepada mereka penyembahan terhadap berhala-berhala tersebut.

Oleh karena itu, Allah mempe-ringatkan anak cucu Adam de-ngan firman-Nya:

“Bukankah Aku telah berpesan ke-pada kalian wahai Bani Adam, ja-nganlah kalian menyembah syaitan! Sesungguhnya syaitan itu adalah mu-suh yang nyata bagi kalian. Dan hen-daklah kalian menyembah-Ku sema-ta. Inilah jalan yang lurus. Sesung-guhnya syaitan itu telah menyesat-kan sebagian besar dari kalian, ma-ka apakah kalian tidak berfikir?” (QS. Yaasiin: 60-62) 1