Israel Bantai Gaza, Arab Bisa Apa?

Untuk kesekian kalinya dunia Arab tak mampu berbuat apa-apa kecuali hanya melontarkan kecaman, kutukan dan imbauan untuk saling bergandeng tangan menghadapi kekejaman Zionis Israel. Apa sebenarnya yang dapat mereka perbuat?

Yang jelas tak cukup hanya dengan kecaman atau kutukan, tapi dunia Arab harus benar-benar bersatu untuk memberikan tekanan politik dan ekonomi, bila tak mampu melalui jalur militer.

Coba lihat reaksi dari dunia Arab ketika pasukan udara Israel membombardir sejumlah fasilitas pertahanan Hamas di Jalur Gaza yang menewaskan lebih dari 200 orang, Sabtu (27/12). Mereka hanya bereaksi dengan melontarkan protes dan seruan aksi balasan atas kebengisan Israel. Tapi apakah sikap itu mewakili seluruh dunia Arab? Sepertinya tidak seperti itu, mereka yang bereaksi keras hanyalah negara-negara yang selama ini berseberangan sikap dengan Barat.

Meskipun Liga Arab menyerukan pertemuan para menlu negara-negara Arab pada Rabu mendatang (31/12) untuk fokus menanggapi serangan udara Israel, kata ketua Liga Arab Amr Moussa. Namun, banyak orang menerka hasil pertemuan itu hanyalah akan menghasilkan keputusan atau kebijakan basa-basi tanpa tindakan yang nyata untuk memukul negeri Yahudi itu.

Begitu juga dengan sikap Mesir, yang ditunjukkan oleh Menlu Ahmed Aboul Gheit. Ia hanya menyampaikan dua cita atas jatuhnya korban warga Palestina dalam serangan Israel itu. Ungkapan belasungkawa Mesir itu dinilai sejumlah kalangan hanya sebagai menutupi rasa malu dan bersalah, karena merekalah yang menjembatani hingga tercapainya gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang habis masa berlakunya Jumat pekan lalu.

Kairo juga berjanji untuk membuka perbatasan Mesir dengan Gaza di Rafah untuk memberikan kesempatan warga Palestina yang menjadi korban keganasan Israel itu berobat ke Mesir.

“Sekarang saatnya semua bergandengan tangan dengan rakyat Palestina dan menghentikan aksi militer membabi buta ini,” seru Gheit.

Dari situ tampak Mesir mencoba menutupi kesalahannya menutup perbatasan dengan Gaza, sehingga menyebabkan 1,5 juta rakyat Palestina di wilayah yang dikuasai Hamas itu bagai sansak hidup dan rentan terhadap serangan Israel. Itulah sebabnya, setelah serangan terjadi, dunia Arab mengecam peran Mesir bersama Israel yang memblokade Jalur Gaza menyusul naiknya Hamas sebagai penguasa wilayah itu pada Juni 2007.

Di Lebanon, sekitar 4.000 pengunjukrasa turun ke jalan menuju kamp pengungsian di kawasan selatan negara itu untuk menyampaikan kecaman atas serangan itu secara umum dan khusus terhadap peran Mesir yang ikut memblokade Gaza.

“Hosni Mubarak, Anda adalah agen Amerika, Anda pengkhianat!” teriak pengunjukrasa. Mereka juga mendesak kelompok Hizbullah untuk segera menyerang Israel.

Sementara PM Lebanon Fuad Saniora menggambarkan serangan Israel itu sebagai tindakan kriminal. Begitu juga dengan kelompok Hizbullah yang menyebut serangan itu sebagai kejahatan perang dan pembantaian dan mereka juga mengritik Arab yang tak mampu berbuat apa-apa atas kebiadaban Zionis itu.

Nah, tampak sekali kegamangan di antara bangsa Arab sendiri dalam merespons tindakan Israel. Tak ada target yang jelas yang akan dibahas dalam pertemuan para menlu Arab itu, kecuali hanyalah pernyataan sikap tanpa disertai tindakan nyata. Padahal, negara-negara di kawasan Teluk itu memiliki kekuatan maha besar untuk menekan Israel dan kroninya, Amerika Serikat, yaitu minyak.

Dengan kondisi ekonomi Barat yang mulai kelimpungan, seharusnya dapat dimanfaatkan bagi Arab untuk ’memainkan’ harga sebagai negosiasi atas penyelesaian konflik Israel-Palestina. Bukan malah mengikuti irama permainan Amerika dan Israel, dengan terus menekan Palestina demi mewujudkan ambisi menguasai emas hitam di kawasan panas itu.

Jika Arab sepakat untuk menghentikan atau memangkas dengan drastis pasokan minyak ke pasar dunia, tak dapat dibayangkan kesulitan yang akan dihadapi negara-negara maju di Barat, meski imbasnya juga akan memukul ekonomi global. Tapi setidaknya kerugian terbesar akan dialami AS dan konco-konconya.

Arab juga harus segera menyatukan sikap dan melakukan pendekatan dengan tim Presiden terpilih AS Barack Obama, karena sekitar dua pekan lagi pemerintahan George W Bush akan berakhir. Dan yang paling penting adalah sikap Presiden Palestina Mahmoud Abbas, yang tidak hanya mengikuti permainan AS dan Israel demi memberikan keuntungan kepada kelompoknya, Fatah, tanpa melibatkan Hamas dalam menentukan nasib bangsa dan negara Palestina.

Tanpa sikap yang merangkul seluruh rakyat Palestina dan tanpa persatuan yang hakiki di kalangan negara-negara Arab dalam menghadapi Israel, jangan harap negara Yahudi itu jeri untuk menyerang Hamas atau kelompok-kelompok lainnya di negeri tetangganya itu (inilah.com)

PERNYATAAN HASMI TERKAIT SERANGAN BIADAB ISRAEL KE JALUR GAZA PALESTINA

Menyikapi serangan brutal  Israel terhadap muslim palestina di jalur Gaza pada hari sabtu, 27 Desember 2008 yang berlangsung hingga saat ini, yang menyebabkan kematian lebih dari 300 muslim palestina, ribuan orang terluka dan ratusan ribu mengungsi. Maka dengan ini kami HASMI menyatakan :

1.    Mengutuk dan mengecam aksi kebiadaban Israel terhadap saudara-saudara muslim kami di Palestina. Kami menganggap Perbuatan ini sama saja dengan menyerang kaum muslimin di berbagai penjuru dunia

2.    Mendukung sepenuhnya HAMAS dan faksi-faksi perlawanan islami  di sana untuk melanjutkan amal jihadnya sebagai perlawanan terhadap kezhaliman dan penjajahan Israel sampai keluarnya kaum Yahudi dari bumi islam Palestina

3.    Menyerukan kepada setiap muslimin di seluruh Indonesia agar dapat membantu muslim palestina dengan bantuan maksimal seperti penggalangan dana, obat-obatan, pangan dan bantuan-bantuan lainnya yang sangat diperlukan muslimin Palestina dan menyalurkannya pada lembaga-lembaga sosial islami terpercaya

4.    Mengajak seluruh kaum muslimin untuk mendoakan saudara-saudara palestina dan melaksanakan Qunut Nazilah setiap sholat lima waktu

5.    Menyeru dan mengajk kaum muslimin di Indonesia untuk waspada terhadap makar Yahudi dan ikut serta dalam kegiatan dakwah amar ma’ruf Nahyu mungkar sebagai bentuk kepedulian terhadap islam dan muslimin.
Demikanlah pernyataan kami semoga Allah senantiasa melindungi dan memenangkan kaum muslimin di seluruh dunia. Amin

Bogor, 30 desember 2008 / 2 Muharram 1430 H
Ketua DPP Hasmi

Abu Jundi Syaifuddin

Edisi 01 s.d. Edisi 12

Edisi 01

EDISI 01

Edisi 02

EDISI 02

Edisi 03

EDISI 03

Edisi 04

EDISI 04

Edisi 05

EDISI 05

Edisi 06

EDISI 06

Edisi 07

EDISI 07

Edisi 08

EDISI 08

Edisi 09

EDISI 09

Edisi 10

EDISI 10

Edisi 11

EDISI 11

Edisi 12

EDISI 12

Jadwal Puasa Sunnah di Tahun 2009

kalendernya-blog

Ketika Islam melarang berpuasa pada hari-hari tertentu, maka Islam pun menganjurkan kepada umatnya agar berpuasa pada hari-hari yang Rasulullah saw  sendiri biasa melakukannya. Berikut adalah jadwal ‘Puasa Sunnah’ sesuai penanggalan Masehi tahun 2009.

Semoga manfaat.

1. Puasa tiap hari Senin dan Kamis

2. Puasa 3 (tiga) hari setiap bulan – ’shaumul biidh’ –
Yakni pada tanggal 13.14.15 – penanggalan Islam – (saat bulan purnama).
– 10, 11, 12 Januari 2009 / Muharram 1430 H
– 9, 10, 11 Februari 2009 / Shafar 1430 H
– 10, 11, 12 Maret 2009/ Rabi’ul Awwal 1430 H
– 9, 10, 11 April 2009/ Rabi’ul Akhir 1430 H
– 9, 10, 11 Mei 2009/ Jumadil Awwal 1430 H
– 7, 8, 9 Juni 2009/ Jumadil Akhir 1430 H
– 6, 7, 8 Juli 2009/ Rajab 1430 H
– 4, 5, 6 Agustus 2009/ Sya’ban 1430 H

Puasa Ramadhan 1430 H : 22 Agustus 2009 – 19 September 2009.

– 2, 3, 4 Oktober 2009/ Syawwal 1430 H
– 1, 2, 3 November 2009/ Dzulqa’idah 1430 H
– 1, 2 Desember 2009/Dzulhijjah 1430 H.
30 November 2009 bertepatan dengan hari tasyriq – 13 Dzulhijjah 1430 H.
Hari tasyriq tidak diperkenankan berpuasa.

3. Puasa 1/3 (sepertiga) bulan – Yakni di bulan Dzulhijjah.
Antara 18 November 2009 – 17 Desember 2009/ Dzulhijjah 1430 H
Puasa tanggal 9 Dzulhijjah (Arafah) bagi selain orang yang melaksanakan haji.
Yakni : 26 November 2009/ 9 Dzulhijjah 1430 H

Tidak diperkenankan berpuasa :
Hari Idul Adha – 10 Dzulhijjah/ 27 November 2009
Hari tasyriq – 11, 12, 13 Dzulhijjah/ 28, 29, 30 November 2009/ Dzulhijjah 1430 H

4. Puasa bulan Muharram – ‘Asyura’ selama 3 (tiga) hari – tanggal 9,10,11 Muharram.
Sangat dianjurkan tanggal 9 dan 10 ( Tasu’a dan ‘Asyura )
Yakni : 6, 7 dan 8 Januari 2009/ Muharram 1430 H.
26, 27, 27 Desember 2009/ Muharram 1431 H

5. Puasa pada sebagian bulan Sya’ban.
Antara 23 Juli – 21 Agustus 2009.

6. Puasa 6 hari pada bulan Syawwal.
Antara 21 September – 19 Oktober 2009.
Tidak diperkenankan puasa pada 1 Syawwal – 20 September 2009.

7. Puasa Daud – berpuasa berselang-seling.
Berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari

Jadwal puasa Sunnah di tahun 2009 bisa Anda dapatkan dengan menghubungi Radio Fajri FM

Tahun I Edisi 12

Perlukah Memiliki Jiwa

Nasionalisme

Sebuah surat ditujukan kepada umat Islam di seluruh dunia. Surat dari seorang wanita yang terpenjara bersama wanita-wanita lainnya nun jauh di negeri “1001 malam”. Surat yang menorehkan penderitaan yang tak terperikan. Bukan mengharap belas kasih dari orang-orang yang masih dianggapnya sebagai saudara, tetapi surat berupa seruan kepedulian agar umat Islam di belahan dunia lain mampu menjawab pertanyaan Allah swt di akhirat kelak atas diamnya mereka terhadap penderitaan saudara-saudara seiman akibat penindasan kaum kuffar.

Nilai-nilai kebangsaan semakin luntur. Hak sesama manusia semakin diabaikan. Loyalitas warga negara patut dipertanyakan. Serta sejumlah argumen lain yang menggambarkan realitas bangsa ini.

Inilah penilaian sebagian orang terhadap bangsa ini. Penilaian yang terutama tertuju kepada orang-orang tertentu yang cenderung merugikan orang lain. Meskipun penilaian ini bersifat umum, namun mereka yang “pasif” seolah-olah tidak termasuk hitungan untuk dinilai jiwa kebang-saannya. Ini baru satu tinjauan ter-hadap bangsa ini.

Di tengah-tengah himpitan ekonomi, keterpurukan iman, dan sebagai-nya, tampaknya kurang bijak apabila kita  menilai identitas seseorang hanya sebatas rasa kebangsaannya. Sebagaimana halnya para koruptor yang mengkhianati bangsa ini, para penjahat ‘kelas teri’ pun sesungguhnya tidak luput dari berbagai penilaian identitas. Kenyataan ini tidak bisa dipungkiri, yaitu menilai manusia sebatas kontribusi dan jasanya terhadap manusia lain, sehingga apabila seseorang tidak merugikan orang lain, maka ia dinilai baik, tak peduli meskipun ia merusak dirinya sendiri. Bukankah konsep seperti ini timpang? Bagaimana mungkin seseorang hanya butuh dinilai oleh orang lain bukan oleh Allah swt, hanya memperjuangkan hak-hak manusia tanpa peduli dengan hak Allah swt, hanya loyal terhadap nilai-nilai buatan manusia sedangkan ia mengabaikan nilai-nilai Ilahiyah?

Pada dasarnya, setiap manusia butuh suatu ikatan yang dapat menjamin diri dan lingkungannya dalam keadaan “aman”. Keamanan yang didambakan selama menjalani kehidupan ini, dan harapan keamanan setelah mati.

Bagi seorang muslim, ikatan satu-satunya yang menjamin keamanan dan keselamatan adalah akidah Islamiyah. Satu-satunya ikatan yang ‘direkomendasikan’ oleh Allah swt, Pencipta dan Pemilik alam semesta. Satu-satunya ikatan yang telah diemban oleh para nabi dan rasul.

Lantas, bagaimana dengan ikatan lain yang menyelisihi ikatan akidah Islamiyah ini? Bagaimana dengan paham nasionalisme yang terkadang dipertentangkan dengan Islam?

Terlepas dari kecurigaan-kecurigaan yang mungkin ada, berbagai konsep kebangsaan telah ditawarkan oleh para bangsawan sejak zaman dahulu. Penganutnya pun tidak sedikit. Ikatan jahiliyah di masa pra-Islam telah mengokohkan orang-orang Quraisy sebagai bangsa yang disegani. Atau di belahan bumi lainnya, suatu ikatan kebang-saan telah menorehkan “kejayaan” bagi mereka. Jauh sebelum itu pun, pada berbagai kaum (seperti kaum Aad danTsamud) kebanggaan telah melekat pada diri mereka karena keunggulan yang mereka miliki. Juga kurun sejak abad ke-15 M, berbagai bangsa telah “membuktikan kedigjayaannya” dalam percaturan dunia dengan mengusung nilai-nilai kebangsaan.

Paham Nasionalisme

Secara umum, nasionalisme diterjemahkan sebagai;  “suatu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (da-lam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.”

Pengertian tersebut tidak mem-atasi makna lain yang cakupannya lebih parsial. Sekadar menyebutkan, bentuk-bentuk nasionalisme tersebut adalah; yang pertama nasionalisme kewarganegaraan (atau nasionalisme sipil), yaitu sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh legalitas politik dari penyertaan aktif rakyatnya, “kehendak rakyat”; “perwakilan politik”. Yang kedua Nasionalisme etnis, yaitu sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh legalitas politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat. Yang ketiga Nasionalisme romantik, (juga disebut nasionalisme organik, nasionalisme identitas) adalah lanjutan dari nasionalisme etnis dimana negara memperoleh legalitas politik secara “organik” hasil dari bangsa atau ras; menurut semangat romantisme. Yang keempat Nasionalisme Budaya, yaitu sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh legalitas politik dari bu-daya bersama dan bukannya “sifat keturunan” seperti warna kulit, ras dan sebagainya. Yang kelima Nasionalisme kenegaraan, yaitu variasi nasionalisme kewarganegaraan, yang digabungkan dengan nasionalisme etnis. Perasaan nasionalistik sedemikian kuat sehingga mengatasi hak universal dan kebebasan. Kejayaan suatu negeri itu selalu kontras dan berkonflik dengan prinsip masyarakat demokrasi. Yang keenam Nasionalisme agama, yaitu sejenis nasional-isme dimana negara memperoleh legitimasi politik dari persamaan agama. Walaupun begitu, pada umumnya nasionalisme etnis dicampuradukkan dengan nasionalisme keagamaan. Misalnya, di Irlandia semangat nasionalisme bersumber dari persamaan agama mereka yaitu Katolik; nasionalisme di India seperti yang dianut oleh pengikut partai BJP bersumber dari agama Hindu.

Terlepas dari bentuknya yang beragam, satu hal yang pasti bahwa nasionalisme merupakan konsensus yang dibuat oleh sekelompok orang (besar maupun kecil) dengan landasan kesamaan persepsi terhadap konsep kehidupan.

Sekadar mengingatkan, pada awal abad ke-20 M, kelahiran nasionalisme telah diwarnai oleh dua perang dunia yang menelan korban jutaan jiwa serta kerugian ekonomi dan sosial yang luar biasa akibat pertentangan antar kelompok manusia yang dibatasi oleh sebuah konsep bernama bangsa, yang ditopang oleh ideologi nasionalisme. Dalam pandangan sekuler pun nasionalisme dianggap sebagai penemuan sosial yang paling menakjubkan dalam perjalanan sejarah manusia, paling tidak dalam seratus tahun terakhir. Menurut mereka, tak ada satu pun ruang sosial di muka bumi yang lepas dari pengaruh ideologi ini. Tanpa nasionalisme, lajur sejarah manusia akan berbeda sama sekali. Berakhirnya Perang Dingin dan semakin merebaknya gagasan dan budaya globalisme (internasionalisme) pada dekade 1990-an hingga sekarang, khususnya dengan adanya teknologi komunikasi dan informasi yang berkembang dengan sangat akseleratif (pesat), tidak dengan serta-merta membawa lagu kematian bagi nasionalisme. Sebaliknya, narasi-narasi nasionalisme menjadi semakin intensif dalam berbagai interaksi dan transaksi sosial, politik, dan ekonomi internasional, baik di kalangan negara maju, seperti Amerika Serikat (khususnya pasca tragedi WTC), Jerman, dan Perancis, maupun di kalangan negara Dunia Ketiga, seperti India, China, Brasil, dan Indonesia.

Isu Nasionalisme

Kekhawatiran akan merosotnya nasionalisme dan terjadinya disintegrasi nasional merupakan isu nasionalisme yang paling hebat. Di tengah wacana mengenai nasionalisme, isu disintegrasi nasional seolah mendapat ancaman dari berbagai arah.  Di an-taranya adalah mengaitkan realitas negara dengan bangsa. Juga mengkaitkan realitas berbangsa dengan beragama.

Dikatakan, sejarah perjuangan bangsa ini tidak menemukan perten-tangan antara nasionalisme dengan Islam karena dua tokoh nasional; Soekarno yang nasionalis berguru kepada H.O.S .Tjokroaminoto yang “Islamis”. Kabarnya, mereka tidak men-dudukkan dua paham ini secara diametral, namun merangkumnya menjadi satu pemahaman. Seandainya pun demikian, hal tersebut tetaplah berasal dari sumber yang berbeda, dan secara asasi memiliki karakteristik masing-masing. Selanjutnya, identitas seseorang pun seringkali dinilai secara terpisah antara nasionalis dan Islamis. Artinya, penilaian ini merujuk pada landasan dan parameter yang tidak sama. Selain itu – faktanya – banyak kalangan yang cenderung mencampuradukkan antara nilai Ila-hiyah dengan nilai insaniah. Dari sinilah seseorang seringkali dihadapkan pada pertanyaan; “apa perbedaan mendasar antara nasionalisme dan Islam?

Di antara sekian jawaban, salah satunya mengatakan bahwa nasionalisme tidak menerima konsensus selain dari konsensus nasional. Sebaliknya, Islam tidak menerima konsensus selain dari konsensus Islam. Dalam hal inilah apabila terjadi perbedaan paham maka di antara keduanya dianggap bertentangan.

Memang permasalahan ini tidak mudah dikompromikan. Keduanya memiliki doktrin yang secara konseptual berbeda. Nasionalisme memiliki doktrin kebangsaan sedangkan Islam memiliki doktrin ketuhanan.

Doktrin kebangsaan yang dianut nasionalisme (bentuk nasionalisme kewarganegaraan sebagaimana pengertian umum) mengacu kepada sejumlah aturan yang mengikat warga negaranya. Konsensus yang dibangun berdasarkan kehendak rakyat dan per-wakilan politik untuk menangani berbagai persoalan warga negaranya. Kebijakan yang dihasilkan merupakan kebijakan yang meniadakan nilaini-lai lain selain nilai kebangsaan. Seperti kebijakan ekonomi, politik, sosial, budaya, dan lain-lain terlahir dari kesepakatan “rakyat” melalui perwakilannya (dewan perwakilan rakyat). Termasuk dalam urusan beragama, diperlukan adanya musyawarah untuk membolehkan atau melarang suatu keyakinan tertentu. Apabila suatu bangsa menganut keyakinan yang berbeda, maka perbedaan itu ditetapkan sebagai konsensus yang pengamalannya diserahkan kepada pemeluk keyakinan tersebut.

Realitas berbangsa di seantero jagad memandang pemahaman kebang-saan sebagai hal yang wajar dan rasional. Terlebih lagi apabila kita melihat doktrin nasionalisme tetap mem-bolehkan penganut beragama menjalankan aktivitas ibadahnya masing-masing. Namun, apabila kita cermati, dari sini pula muncul ide penyatuan agama. Ide ini muncul karena isu disintegrasi nasional dipicu oleh pertentangan agama dalam suatu wilayah nasional. Inilah faktor yang dianggap oleh kalangan nasionalis-liberalis se-bagai “virus” yang mengancam stabilitas nasional. Kalaupun isu ini masih prematur untuk terealisasi sebagai suatu konsensus, tetapi tidak serta merta hilang dalam agenda penyatuan agama. Sebenarnya kita pun perlu mempertanyakan i’tikad para pionir ide ini. Bagaimana mungkin mereka mengurusi agama sedangkan mereka tidak mengakui agama (Islam) sebagai ikatan yang fundamental dalam menangani segala urusan?

Masih dengan isu disintegrasi nasional, bukankah polemik yang melanda umat ini sebagian besar berkutat pada urusan dunia, urusan bermegah-megahan, berlomba-lomba dalam memperbanyak harta, dan seterusnya? Bukankah para pelaku disintegrasi nasional adalah para ko-ruptor, para penyuap dan penerima suap, para boneka yang rela diper-mainkan oleh kekuatan asing demi sejumlah imbalan? Bukankah kekayaan yang terkandung di bumi ini terkuras habis oleh para penjajah hingga zaman sekarang? Bukankah terlepasnya Timor-Timur dari NKRI merupakan bukti hilangnya kekuatan nasional terhadap pengaruh asing?

Terlepas dari itu semua, apabila kita menilai secara jernih berbagai isu pertentangan antara Islam dan nasionalisme, sebenarnya prioritas menilai ketimpangan yang terjadi bukanlah semata faktor nasionalisme atau trans-nasionalisme atau pun in-ternasionalisme. Memang akan sangat panjang membicarakan masalah ini. Tidak cukup dengan sekali pembicaraan singkat, perlu kajian komprehensif untuk memahami konsep dan realitas kehidupan berbangsa. Jadi, kita pun harus membatasi permasalahan ini pada hal pokok di antara hal-hal penting lainnya.

Dalam hal ini, kita perlu menimbang kesadaran umat (Islam) ketika dihadapkan pada persoalan ini. Perlukah seorang muslim memiliki jiwa nasionalisme? Idealnya, kita tidak berkutat pada sesuatu yang menjadi isu umum. Bahkan untuk menjawab pertanyaan ini dengan konsep nasionalisme agama pun tidaklah tepat. Karena nasionalisme agama bukanlah agama itu sendiri. Ia hanyalah kesa-maan agama yang “kebetulan” terhimpun dalam suatu wilayah kemudian dibuatlah konsensus di atasnya. Sedangkan agama (Islam) bukanlah dibangun berdasarkan kesamaan agama yang ada di suatu wilayah tertentu, akan tetapi dibangun berdasarkan keyakinan yang benar terhadap Allah swt dan Rasul-Nya saw, serta memegang teguh dan menjaga kemurnian Islam. Bukankah berbagai aliran Islam satu sama lain tidak dapat dipersatukan? Bukankah sunny dan syi’ah tidak mungkin bersatu walaupun (kabarnya) warga Irak saat ini mengusung nilai-nilai kebangsaan? (kenyataannya, banyak pengaruh yang sengaja ingin mengubur kemurnian Islam [Sunny] di sana).

Dari sedikit kasus saja kita mengetahui bahwa yang terjadi di berbagai belahan bumi bukanlah semata menyatukan label “Islam”, justru yang terpenting adalah meninjau keyakinan ber-Islam umat Islamnya, sudah benarkah keIslaman mereka?

Isu nasionalisme lain yang juga mencuat, terkait dengan tingkat kehi-dupan (sosial-ekonomi) masyarakat. Lantaran kondisi ekonomi yang morat-marit, nasionalisme seseorang bisa luntur, demikian penilaian sebagian pakar terhadap rasa kebangsaan seseorang. Artinya, apabila rakyat sejahtera (sosial-ekonominya) maka menebal pulalah rasa kebangsaannya. Pada kasus lain, jiwa nasionalisme di kalangan anak muda dinilai luntur karena pengaruh globalisasi dan tayangan media massa. Sehingga kedua hal ini (kemiskinan dan globalisasi) dianggap sebagai faktor penyebab disintegrasi nasional. Mengapa orang-orang tidak bertanya kepada para penjarah kekayaan negeri ini?

Perbedaan Mendasar

Dari sejumlah argumentasi di atas, kita dapat menemukan perbedaan mendasar antara nasionalisme dan Islam. Sebagai suatu konsep (konsen-sus), nasionalisme merupakan produk manusia, sedangkan Islam merupakan wahyu Allah swt. Di sinilah perbedaan yang signifikan. Wahyu Ilahi ditujukan kepada semua manusia agar memeluk Islam dan secara khusus kepada orang-orang beriman untuk dijadikan ikatan dalam seluruh sendi kehidupannya.

Kaum muslimin adalah satu kesa-tuan, yang diikat oleh kesamaan aqidah (iman), Allah swt berfirman, “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Adapun realitas bangsa dan suku bukanlah untuk dibanggakan. Inilah ketentuan Allah swt kepada kita. Jangankan membanggakan suku atau bangsa, membanggakan keluarga pun tidak akan bermanfaat apabila tidak diikat dengan akidah Islamiyah yang benar. Allah swt berfirman,  “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya; sekalipun orang-orang itu adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka.” (QS. Al-Mujadilah: 22)

Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kalian ashabiyah Jahiliyah dan kebanggaan dengan nenek moyang. Sesungguhnya yang ada hanyalah seorang mukmin yang bertakwa atau pendurhaka yang tercela. Manusia adalah anak cucu Adam, dan Adam diciptakan dari tanah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang Ajam ke-cuali dengan takwa” (HR. Tirmidzi)

Islam telah memuliakan Salman al Farisi, seorang berbangsa Persi. Kekufuran telah menghinakan Abu Lahab, seorang bangsawan mulia. Dan Allah swt memerintahkan agar kita bergabung dengan orang-orang beriman. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang benar” (QS. At-Tau-bah : 119)

Politik dunia telah menggiring umat Islam kepada ashabiyah (fanatisme) darah, ras, dan tanah air serta mereka percaya itu sebagai perkara ilmiah, realita yang diakui dan fakta yang pasti, sehingga mereka tidak bisa lagi menghindar daripadanya. Mereka terus menyanyikan dan menghidupkan syi’ar-syi’arnya serta bangga dengan masa sebelum kedatangan Islam, padahal itulah masa Jahiliyah.

Allah swt berfirman, “Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian da-hulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara” (QS. Ali-Imran :103).

red.ummatie

Tahun I Edisi 11

Islam Kejawen


Sejarah Masuknya Islam ke Nusantara

Pada tahun 30 H atau 651 M, Khalifah Utsman ibn Affan mengirim delegasi ke Cina un-tuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu em-pat tahun ini, para utusan sempat sing-gah di Kepulauan Nusantara. Bebe-rapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah men-dirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pe-dagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusan-tara, adalah yang pertama sekali me-nerima agama Islam. Bahkan di Aceh-lah kerajaan Islam pertama di Indo-nesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pe-ngembara Muslim dari Maghribi. yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa kom-plek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis ang-ka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada zaman Kerajaan Singasari. Diperkira-kan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam pa-ra pedagang Arab.

Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman pendu-duk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 15 M, penduduk pribumi memeluk Is-lam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebab-kan saat itu kaum Muslimin sudah me-miliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya be-berapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini ber-darah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga dise-babkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam menga-takan bahwa kedatangan Islam bu-kanlah sebagai penakluk seperti hal-nya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan po-litik. Islam masuk ke Nusantara de-ngan cara yang benar-benar rahmatan lil’alamin.

Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, per-dagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi sema-kin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah ber-asal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar se-panjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penye-babnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah – terutama Belanda – me-nundukkan kerajaan Islam di Nusan-tara, mereka pasti menyodorkan per-janjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun sebelumnya. Keinginan kaum kolonialis untuk men-jauhkan ummat Islam Nusantara de-ngan akarnya juga terlihat dari ke-bijakan mereka yang mempersulit pem-bauran antara orang Arab dengan pribumi.

Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, me-mang sudah terlihat sifat rakus mereka ingin berkuasa. Apalagi mereka men-dapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama musuh mereka, sehingga se-mangat Perang Salib pun selalu diba-wa-bawa setiap kali mereka menun-dukkan suatu daerah. Dalam meme-rangi Islam mereka bekerja sama de-ngan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pela-yaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk mem-bangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pu-lau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertem-puran besar yang bersejarah ini di-pimpin oleh seorang putra Aceh ber-darah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fatahillah. Sebe-lum menjadi orang penting di tiga ke-rajaan Islam Jawa, yakni Demak, Ci-rebon dan Banten, Fatahillah sempat belajar di Makkah.

Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, na-mun di sisi lain membuat pendalaman tentang Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami ke-Islaman. Sedang-kan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra-Islam. Kalangan priyayi (bangsawan) yang dekat dengan Be-landa malah sudah terjangkiti pemi-kiran menyimpang dan gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terle-pas dari hal ini, ulama-ulama Nusan-tara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Banyak di an-tara mereka yang bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat ribuan syuhada Nu-santara yang gugur pada berbagai per-tempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Ma-laysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Ba-gus rangin), Perang Jawa (Dipone-goro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).

Virus Tasawuf Menyusupi Islam Kejawen

Setelah perang fisik yang dilakukan salibis-zionis gagal menghadapi kaum muslimin, mereka menggunakan taktik lain. Mereka sadar, apabila akidah kaum muslimin masih melekat erat dalam jiwa, tak akan pernah ada yang namanya kemenangan bagi mereka. Akhirnya mereka mengalihkan arah serangan pada penghancuran akidah dan keyakinan. Mereka campuraduk-kan segala macam keyakinan yang ada di masyarakat, salah satunya mas-yarakat Jawa. Dari sinilah muncul “Is-lam baru” atau “Islam Kejawen.”

Di antara tokoh yang paling ber-pengaruh terhadap kebijakan baru tentara salibis itu adalah Christian Snouck Hurgronje. Ia merupakan to-koh orientalis ahli muslihat yang meng-hancurkan Islam dari dalam dengan pura-pura masuk Islam. Pada tahun 1884 mengadakan petualangan ke jazirah Arab, dan menetap di Jeddah sejak Agustus 1884 hingga Februari 1885, sebagai persiapan menuju Me-kah, yang merupakan tujuan utama dari petualangannya. Snouck sampai di Mekah pada tanggal 22 Februari 1885 dengan menggunakan nama samaran Abdul Ghafar, karena me-mang Mekah tertutup untuk non-mus-lim. Dia menetap di Mekah selama enam bulan dan menghasilkan karya berjudul Makah. Namun akhirnya pada bulan Agustus, Snouck dipaksa keluar dari Mekah oleh konsul Prancis.

Selanjutnya, Tasawuf memegang peranan yang sangat penting bagi per-kembangan Islam di negeri ini, utama-nya di pulau Jawa. Belanda pun men-dukung apabila yang berkembang adalah Islam model tasawuf. Islam berkembang di pulau Jawa bukan di-landasi oleh ilmu pengetahuan seperti misalnya yang pernah terjadi di Eropa, melainkan melalui ajaran-ajaran ta-sawuf. Tasawuf dinilai memiliki “ke-miripan” dengan konsep pemahaman mistik orang Jawa, sehingga menjadi-kan tasawuf lebih mudah diterima. Jauh sebelum orang-orang Jawa me-ngenal ajaran tasawuf, mereka telah akrab dengan kebudayaan mereka sendiri yang terwarnai animisme dan dinamisme-nya di kalangan rakyat, serta Hinduisme-Budhisme di kalangan elit istana. Kebudayaan ini memiliki ciri halus dan sangat terbuka. Sifat khas yang seperti ini memungkinkan unsur-unsur luar tak begitu kesulitan untuk masuk ke dalamnya, melalui sinkretisasi dan akulturasi. Dengan cara inilah Islam di“proses” menjadi agama orang-orang Jawa, kemudian disandarkan pada dakwah para wali songo.

Dengan pola perkembangan yang seperti ini, Islam di Jawa memiliki ciri khasnya. Banyak upacara-upacara dan kegiatan-kegiatan ritualistik yang sebenarnya merupakan produk Ani-misme-Dinamisme-Hindhuisme-Bu-dhisme dipertahankan dan (hanya) dibingkai dengan nilai-nilai Islam. Se-perti dengan pemberian doa secara Islam dalam tradisi kenduri dan lain-lain. Nah, pembingkaian adat dan tradisi non-Islam (Animisme-Dinamis-me-Hindhuisme-Budhisme) dengan nilai-nilai Islam inilah yang kemudian melahirkan ciri khas Islam di Jawa sebagai “Islam-Kejawen”, atau sering disebut sebagai “Kejawen” saja.

Islam-Kejawen ini berkembang pe-sat manakala di pulau Jawa ini ber-munculan kerajaan-kerajaan Islam serta beralihnya pusat-pusat kerajaan ke daerah pedalaman, di mana sang raja yang non-Muslim kemudian ber-pindah mengikuti agama Islam. Di sinilah Islam berkembang menjadi agama rakyat. Sebab, konsep feodal-isme dalam masyarakat di Jawa me-niscayakan rakyat mengikuti apa yang dilakukan oleh rajanya, termasuk da-lam hal ini adalah agama yang dianut sang raja.

Lalu apa yang sebenarnya me-latarbelakangi pembingkaian adat dan tradisi non-Islam dengan nilai-nilai Islam (Islamisasi) tersebut bisa terlaksana? Ada empat hal yang me-latarbelakangi hal tersebut.

Pertama, warisan budaya Jawa yang halus dan mulia bisa dipertahan-kan dan dimasyarakatkan apabila dipadukan dengan unsur-unsur Islam.

Kedua, para pujangga dan sastrawan Jawa sangat memerlukan bahan-ba-han sebagai sumber utama dalam berkarya. Dan untuk ini mereka “hanya” bisa menyadap dari budaya pesan-tren ketika pada saat budaya hindhu-isme-budhisme telah terputus.

Ketiga, perlu untuk stabilitas, budaya dan politik antara tradisi pesantren de-ngan kejawen yang sangat berbeda.

Keempat, istana sebagai pelindung dan pendukung agama perlu mem-bantu untuk menerjemahkan syiar Islam, sehingga muncullah tradisi ma-uludan, sekaten dan lain-lain. Semen-tara terjadi islamisasi tradisi, ajaran-ajaran tasawuf pun berkembang se-cara intens. Pasalnya, ajaran-ajaran tasawuf yang berkembang di Jawa memiliki “kesamaan” dengan konsep mistisisme di kalangan para priyayi Jawa sendiri yang berupaya mem-pertahankan kepercayaan “raja titising Dewa” yang serba magis dan sarat dengan mitologi. Mistik, bagi kala-ngan priyayi Jawa, merupakan inti terdalam yang menjiwai dan mewarnai seluruh aspek kebudayaan Jawa tra-disional.
Inti ajaran ini adalah kepercayaan bahwa manusia tak bisa menjalin hubungan langsung secara pribadi dengan Tuhan dan alam ghaib kecuali dengan jalan meditasi. Hasil hubu-ngan langsung dengan Tuhan inilah yang menjadi kebanggaan dan kebe-saran serta kebebasan manusia. Ini-lah yang melahirkan konsep mistik Jawa “bersatunya hamba dengan Tu-han”. Dengan latar belakang semacam inilah, para pujangga Jawa seperti R. Ng. Ranggawarsita dan KGPAA Mangkunegara IV dan lain-lain, sangat aktif menyerap ajaran-ajaran tokoh-tokoh sufi yang beraliran “union-mistik” (Manunggaling Kawula lan Gusti), se-perti yang dikembangkan oleh Ibnu Arabi, Al-Hallaj, Abdul Karim al-Jili, Hamzah Fansuri dan lain-lain, bagi pengembangan ilmu-ilmu mistik Is-lam-Kejawen.

Ajaran-ajaran mistik ini bahkan kemudian menjadi intisari dari karya-karya sastra yang mereka hasilkan, seperti Serat Wirid Hidayat Jati, Serat Pamoring Kawula-Gusti, Suluk Saloka Jawa, Serat Wedhatama, Serat Cen-thini, dan lain-lain.

Karya-karya sastra Jawa yang ke-mudian lebih dikenal dengan Kepus-takaan Islam-Kejawen ini pada giliran-nya memiliki peranannya yang tidak kecil bagi perkembangan ajaran-aja-ran sufisme (tasawuf)-Jawa. Ajaran “Manunggaling Kawula-Gusti” menis-cayakan penggambaran Tuhan secara vulgar, di mana Tuhan digambarkan memiliki sifat-sifat sebagai manusia, dan sebaliknya, manusia dilukiskan memiliki sifat-sifat sebagai Tuhan. Uraian tentang Tuhan menjadi me-ngada-ada, sehingga pengertian Tu-han menjadi berbaur dengan penger-tian tentang manusia. Tuhan digam-barkan berada dalam diri manusia.

Pada akhirnya, ajaran tasawuf yang berkembang di Jawa dan sangat mewarnai kepustakaan Islam-Kejawen adalah apa yang disebut sebagai ta-sawuf-murni atau tasawuf-mistik.

Lalu apakah tujuan tasawuf yang demikian? Tujuannya ialah mencipta-kan kesadaran beriman kepada Tuhan dalam diri manusia. Dalam sejarah Islam, tasawuf yang (mirip) demikian ini yang “dikembangkan” oleh Ibnu Arabi, al-Hallaj  dan lain-lainnya. Dan (tasawuf yang demikian) ini, pun tetap dianut (sebagian kecil) umat Islam di dunia. Tasawuf yang demikian itu menyimpang dari nilai-nilai Islam.

Menurut kamus bahasa Inggris, is-tilah Kejawen adalah Javanism, Java-neseness; yang merupakan suatu cap deskriptif bagi unsur-unsur kebuda-yaan Jawa yang dianggap sebagai hakikat Jawa dan yang mendefinisikan-nya sebagai suatu kategori khas. Ja-vanisme yaitu agama besarta panda-ngan hidup orang Jawa yang mene-kankan ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan, sikap nrima ter-hadap segala peristiwa yang terjadi sambil menempatkan individu di ba-wah masyarakat dan masyarakat di bawah semesta alam.

Orang Jawa percaya bahwa Tuhan adalah pusat alam semesta dan pusat segala kehidupan. Pusat yang dimak-sud di sini adalah yang dapat memberi-kan penghidupan, keseimbangan, dan kestabilan, yang dapat juga memberi kehidupan dan penghubung dengan dunia atas. Pandangan orang Jawa yang demikian biasa disebut Kawula lan Gusti, yaitu pandangan yang ber-anggapan bahwa kewajiban moral ma-nusia adalah mencapai harmoni de-ngan kekuatan terakhir dan pada ke-satuan terakhir itulah manusia me-nyerahkan diri secara total selaku ham-ba terhadap Sang Pencipta.

Di antara falsafah kehidupan ke-jawen adalah kawruh bejo yaitu meng-gapai kesempurnaan dan kebahagia-an sejati. Seseorang bisa mencapai kawruh bejo harus melalui beberapa tahap yaitu Mulat saliro artinya mawas diri, tahu jati diri pribadi, Tepo saliro yaitu berempati pada nasib orang lain, Nanding pribadi yaitu membanding-kan dengan orang lain agar bisa ber-lomba lebih unggul, Ngukur pribadi yaitu mengukur orang lain dengan pertamanya mengukur diri sendiri, dan Mawas diri yaitu memahami ke-adaan diri sejujur-jujurnya.

Falsafah Jawa juga berbicara ten-tang sikap-sikap kepemimpinan yang wajib dijadikan pegangan para pe-mimpin sehingga bisa menjadi pemim-pin yang baik. Falsafah ini terang-kum dalam konsep falsafah asta brata yaitu delapan ajaran utama tentang kepemimpinan Jawa yang merupakan petunjuk Sri Rama kepada adiknya, yang akan dinobatkan menjadi raja ayodya. Asta Brata disimbolkan de-ngan sifat-sifat mulia dari alam semes-ta yang patut dijadikan pedoman bagi setiap pemimpin.

Delapan ajaran tersebut adalah Laku hambeging Indro (hujan) yaitu mengusahakan kemakmuran rakyat dan setiap tindakan membawa kese-jukan, Yomo (Dewa Yama) yaitu be-rani menegakkan keadilan menurut hukum yang berlaku, Mendung yaitu menyatukan segala sesuatu agar ber-guna, adil, memberikan ganjaran be-rupa hujan dan hukuman dengan pe-tir dan kilat. Suryo (Matahari) yaitu memberikan semangat dan menjadi sumber energi, sabar, tajam, dan ter-arah dalam bekerja, Chondro (Bulan) yaitu mampu menerangi rakyat yang bodoh dan miskin dengan menampil-kan wajah yang sejuk, Maruto (angin) yaitu selalu berada di tengah-tengah rakyat dan memberikan kesegaran. Bumi yaitu mampu menjadi teladan dan landasan berpijak untuk kesejah-teraan rakyat, Baruno (Air, Samudra) yaitu berwawasan luas, arif, dan me-ngatasi masalah dengan bijaksana dan pemaaf laksana air, serta Agni (Api) yaitu memberikan semangat ke-pada rakyat untuk terus membangun.

Di antara falsafah Jawa yang lain adalah Sama bedho dono dendho yang berarti persamaan, kesejahte-raan, menjalankan hukum seadil-adil-nya dan Komo arto dharmo mukso yaitu keinginan pada dunia harus di-kontrol dan harus digunakan untuk berbakti kepada manusia, dengan be-gitu bisa mencapai kesempurnaan.

Ajaran dan kebudayaan Islam me-ngalir sangat deras dari Arab dan Ti-mur Tengah sehingga memberi warna yang sangat kental terhadap kebuda-yaan Jawa.

Islam masuk ke Jawa melalui akul-turasi damai karena para pendakwah Islam yang datang ke Jawa adalah para santri, ulama dan pedagang bu-kan para prajurit perang sehingga sa-lah satu prakteknya adalah dengan melakukan perkawinan. Selain itu juga didukung oleh sifat tenggang rasa dari orang Jawa sendiri yang mudah me-nerima sesuatu dari luar.

Dalam perjalanan sejarahnya aga-ma Islam telah mengubah wajah dan kiblat orang Jawa, namun karena kuat-nya tradisi, ajaran Islam yang mereka terima itu terakulturasi dan bercam-pur dengan tradisi. Islam yang telah terpadu dengan tradisi itulah yang kemudian menjadi ajaran khas Jawa (Islam Kejawen).

red.ummatie

Tahun I Edisi 10

Para Penghujat Islam


Seolah tak pernah mengenal le-lah, musuh-musuh Islam tanpa henti menebar dustanya, meng-hujat Islam sebagai agama yang me-ngajarkan terorisme dan penindas Hak Asasi Manusia (HAM). Gelombang propaganda menentang Islam me-nerjang keras dengan beragam cara. Ada yang melalui pernyataan lisan-lisan kotor mereka seperti: Johannes (±652-750) adalah orang yang paling awal menganggap Rasulullah saw se-bagai nabi palsu, diikuti Pastor Bede (673-735), Peter the Venerable (1049-1156) se-orang kepala biara Cluny di Prancis, Ricoldo, Martin Luther (1483-1546) Paus Benediktus dan masih banyak lagi.

Ada yang melalui goresan pena seperti buku Islam and Terrorism, Is-lamic Invasion, The Myth of Islamic Tolerance, Islam Unveiled, Prophet of Doom, Why I am Not a Muslim, dan yang lainnya. Juga banyak tulisan di internet berisikan pandangan serupa, yang mudah diakses dan dibaca di seluruh dunia.

Ada yang berupa film-film terutama produksi mesin propaganda Yahudi, Hollywood. Industri hiburan ini di-topang dengan keluasan jaringan me-dia massa dan kantor berita dunia yang semuanya nyaris memojokkan Islam. Film-film itu antara lain: Ekso-dus (1960), Cast a Giant Shadow (1966), Network (1976), Black Sun-day (1977), Iron Eagle (1986), Death Before Dishonor (1987), True Lies (1994), Eraser Delta Force, Top Gun dan masih banyak lagi yang lain. Film bersegmentasi anak-anak pun tidak lepas dari psywar (perang psikologi) yang dilakukan Yahudi terhadap Is-lam, yang diwujudkan dalam film kartun buatan Walt Disney. Sebagai misal, film Aladdin. Dalam film ani-masi tentang cerita 1001 malam ini, selain ditampilkan pakaian yang ti-dak sopan dan merusak akhlak, juga digambarkan secara ngeri adanya hukum potong tangan yang dilakukan secara sembarangan. Film terhangat adalah apa yang telah dirilis oleh po-litikus Belanda Geert Wilders, ‘Fitna’. Tujuannya memperburuk image aga-ma yang begitu mulia ini. Semua upa-ya tersebut bernada sama; Islam di-analogikan dengan ‘virus’ yang bisa membuat orang normal menjadi eks-trem dan berbahaya.

Al-Qur’an dipandang sebagai bu-ku yang meracuni pemikiran manusia menjadi terbelakang, tidak toleran, serta penuh kebencian dan permusuhan terhadap semua orang yang berbeda agama. Al-Qur`an dituduh mengajar-kan kebohongan dan pembunuhan.

Nabi Muhammad saw, teladan bagi setiap Muslim, yang namanya disebut-sebut setiap saat dalam doa maupun shalat, difitnah dengan digambarkan sebagai seorang yang mengajarkan kekerasan.

Islam mereka pandang rendah stan-dar moralnya karena dinilai kurang menghargai nyawa manusia. Umat Islam yang menjalankan ajaran dasar agamanya tidak jarang dipandang sebagai seorang ekstremis dan cikal bakal teroris yang harus selalu diwas-padai dan dicurigai sebagai seorang yang bersalah. Seakan-akan motto keadilan “asas praduga tak bersalah” tidak berlaku buat orang Islam. Yang terjadi malah sebaliknya, “asas praduga bersalah”.

Belanda misalnya, dikenal sebagai negara yang serba boleh. Pelacuran legal. Gay dan lesbi boleh menikah. Menghujat Tuhan dihukum, tapi meng-hujat Islam dibiarkan. Blasphemy, itulah istilah untuk menghujat Tuhan. Termasuk Tuhan dalam bentuk gam-bargambar atau patung yang dianggap suci.

Seolah berebut tenar, ada juga se-seorang yang mengaku Islam namun mencela agama yang dipeluknya sen-diri. Mereka menghujat Islam lalu men-dapat berbagai pujian dan undangan, khususnya dari Negara-negara Barat! Cara-cara seperti ini dilakukan Irshad Manji, seorang warga Muslim asal Ka-nada yang kini tinggal di Belanda. Dia begitu tenar setelah gagasannya yang pernah disampaikan bahwa cende-kiawan Barat seharusnya tidak takut lagi mengkritik Islam. Manji begitu te-nar dan dipuja sebagai pahlawan di dunia Barat karena kritik agresif me-reka terhadap Islam, tetapi mereka dihujat di dunia Muslim.

Irsyad Manji adalah seorang aktivis yang juga penganut lesbianisme. Bagi pers asing, Manji dianggap ‘seorang provokator berjalan untuk Islam tra-disional’. Tahun 2003 ia mempubli-kasikan bukunya “The Trouble with Islam Today”, yang merupakan kritik tajam terhadap pelanggaran hak-hak perempuan dan kelompok minoritas agama lainnya atas nama Islam. Tak urung, buku ini banyak mendapat pujian Barat.

Ayaan Hirsi Ali, wanita asal Somalia, pun meniti jalan serupa. Ia datang ke Belanda sebagai pengungsi me-minta perlindungan pemerintah se-telah dengan kasar memaki-maki Islam sebagai agama yang melakukan ke-kerasan dan penindasan terhadap kaum perempuan. Dengan mudah ia mendapatkan kewarga-negaraan Belanda, malah ia terpilih menjadi anggota parlemen. Namanya bertam-bah terkenal setelah menulis buku oto-biografi berjudul Infidel (kafir) yang isinya adalah kumpulan caci-makinya terhadap Islam. Buku itu laris manis berkat dipublikasi besar-besaran oleh media massa, dan beredar di toko buku kelas atas di Jakarta.

Setelah menyatakan keluar dari Islam, Ayaan berteman dengan se-orang sutradara film, Theo Van Gogh. Mereka kemudian mempersiapkan sebuah film pendek berjudul Submis-sion (Ketaatan). Isinya menistakan al-Qur’an. Ayat-ayat al-Qur’an dijadi-kan hiasan tato pada seorang perem-puan yang berbaju tembus pandang. Theo Van Gogh, sang sutradara, di-temukan tak lagi bernyawa pada No-vember 2004. Sebuah balasan pem-buka atas apa yang ia lakukan.

Di tanah air, orang-orang seperti ini mendapat tempatnya di JIL dan ormas semisalnya. Demi mendapat pujian orang-orang kafir, mereka rela menjual kehormatan agamanya.

Salah satunya, Siti Musdah Mulia, dosen Universitas Negeri Syarif Hida-yatullah (UIN) Jakarta, dengan berani-nya membolehkan homoseksual. Da-lam sebuah diskusi di Jakarta, ia me-ngatakan: “Menarik sekali membaca ayat-ayat al-Qur’an soal hidup berpa-sangan (QS. ar-Rum: 21; QS. adz-Dzariyat: 49 dan QS. Yasin: 36) di sana tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah soal gen-der (jenis kelamin sosial). Artinya, ber-pasangan itu tidak mesti dalam konteks hetero, melainkan bisa homo bisa lesbi.” Naudzubillah! Inilah pernyataan dalam upaya penghancuran Islam.

Metode dalam menghujat Islam

Mereka memiliki metode-metode yang biasa mereka gunakan dalam menyebarkan propaganda. Mohamad Ridha, Pengurus Islamic Society of Greater Portland North America me-nyebutkan di antaranya:

Metode pertama yang sering dijum-pai adalah penggunaan informasi dari sumber-sumber yang tidak jelas dasar-nya. Misalnya, banyak dari kalangan anti-Islam mengutip pernyataan dari kalangan orientalis maupun ulama Islam yang langsung dijadikan premis yang dianggap valid untuk mendukung tuduhan mereka tanpa dijelaskan da-sar-dasar argumentasinya.

Contohnya, untuk menunjukkan bahwa Islam tidak mengenal toleransi beragama untuk menafikan ayat-ayat al-Qur’an tentang toleransi (seperti la ikraha fiddin, lakum dinukum wa li-yadin) mereka mengutip pendapat beberapa ulama Muslim yang menga-takan ‘’ayat-ayat toleransi’’ sudah di nasakh (dibatalkan hukumnya) de-ngan ‘’ayat-ayat pedang (perang)’’.

Seharusnya mereka menyadari bahwa pendapat siapapun mengenai Islam sekalipun dikeluarkan oleh me-reka yang berstatus ulama, argumen-tasinya harus berdasarkan sumber-sumber yang diakui, yakni al-Qur’an dan Hadits shahih Nabi saw. Apalagi, ini berhubungan dengan nasikh dan mansukh yang jelas harus ada kete-rangan langsung dari Nab saw. Tanpa ada dasar-dasar ini, pernyataan ulama hanya bisa diakui sebagai pendapat atau interpretasi pribadi, yang mungkin saja dikeluarkan dalam konteks dan situasi tertentu di zamannya.

Metode kedua adalah penggunaan sumber-sumber sejarah yang tidak terjamin keotentikannya. Untuk meng-hujat Nabi saw kalangan anti-Islam bia-sanya mengutip kisah yang bisa di-temui di dalam kitab-kitab sirah Nabi dan tarikh Islam, seperti Ibnu Ishaq, Ibnu Sa’ad, dan Thabari, tanpa mem-pedulikan status kesahihan riwayat kisah tersebut.

Seharusnya mereka mengetahui bahwa kitab-kitab ini berbeda dengan kitab-kitab Hadits yang bisa dijumpai rantai periwayatannya dari informasi yang dicatat, sehingga bisa diteliti sta-tus keshahihannya. Imam Thabari sendiri menjelaskan dalam muqad-dimah kitab tarikhnya bahwa ia me-masukkan semua berita yang didengar-nya tanpa menyaring kembali kesa-hihan periwayatannya. Sayangnya, penjelasan beliau sebagaimana pen-jelasan ahli-ahli sejarah Islam lainnya tidak dipedulikan oleh kalangan anti-Islam ini.

Metode ketiga adalah penggunaan informasi yang parsial, tidak utuh, yang dijelaskan out of context, meski-pun dari sumber-sumber yang sahih. Karena tidak mengandung informasi yang menunjukkan konteks dan fakta yang benar, kutipan-kutipan yang parsial cenderung menyebabkan ke-salahan dalam mengambil kesimpulan.

Ini bisa kita lihat ketika mereka me-ngutip potongan kisah-kisah kehidupan Nabi saw yang diseleksi untuk menghujat beliau.

Contoh lainnya dapat dilihat ke-tika tidak dikutipnya ayat-ayat al-Quran, Hadits Nabi ataupun kisah-kisah da-lam shirah, yang menggambarkan kemuliaan ajaran Islam atau sifat-si-fat agung dan tanda-tanda kerasulan Nabi saw. Padahal, semua ini sama-sama ada dalam kitab-kitab yang me-reka gunakan untuk menghujat ‘ke-burukan moral’ Islam dan Nabi.

Metode keempat adalah penggu-naan standar ganda dalam menghujat Islam dan Nabi. Ini biasanya dilakukan oleh kalangan anti Islam dari golo-ngan Kristen fundamentalis. Contoh-nya Nabi saw dituduh nabi palsu de-ngan alasan beliau melakukan pe-perangan dan beristri banyak. Pada-hal, dalam kitab suci mereka sendiri didapati kisah para Nabi yang berpe-rang dan yang memiliki banyak istri.

Metode kelima adalah pengaburan sejarah Islam. Islam dituduh sebagai sumber keterbelakangan dan kemun-duran. Padahal jelas sejarah menun-jukkan kemajuan peradaban Islam jauh sebelum majunya peradaban di Barat.

Islam dituduh pula sebagai penye-bab sikap tidak toleran terhadap me-reka yang berbeda agama. Padahal sejarah jelas menunjukkan bahwa umat Islam dapat hidup berdamping-an dengan umat lainnya sejak za-man Nabi saw di Madinah. Sejarah juga menunjukkan bahwa ketika dilancar-kan inquisition di Spanyol pada abad pertengahan, berbondong-bondong orang Yahudi lari keluar Spanyol dan diberikan perlindungan di dalam ke-khalifahan Islam. Ini menunjukkan anti-Semit tidak dikenal di dalam Is-lam seperti yang sering dituduhkan.

Metode keenam adalah penggu-naan generalisasi. Ini biasanya dikait-kan dengan peristiwa kekerasan atau-pun terorisme yang terjadi dalam per-golakan politik dunia Islam. Perbuatan sekelompok kecil orang Islam yang menyimpang dari ajaran Islam dinilai mewakili semua orang Islam, atau di-identikkan dengan ajarannya dan con-toh dari Nabinya.

Seharusnya mereka sadar bahwa menilai suatu agama tidak bisa dilihat dari perbuatan pemeluknya, tapi di-lihat dari ajaran agama tersebut. Meski-pun terorisme jelas dilarang dalam Islam dan mayoritas umat Islam me-ngutuknya, kalangan anti-Islam tetap menyebarkan propaganda mereka bahwa Islam dan Muslim mendukung terorisme.

Peran ulama

Menghadapi tantangan merebak-nya propaganda anti-Islam, para ula-ma sangat diharapkan berperan aktif dalam menjawab tuduhan-tuduhan tersebut dengan informasi dan argu-mentasi yang benar dan jelas. Selain ulama, pemerintah diharapkan pula dapat berperan aktif dengan usaha-usaha diplomasi serta mampu me-nunjukkan ketegasan sikap terhadap pihak-pihak yang mengobarkan ke-bencian dan permusuhan terhadap Islam dan umatnya.

Demikian pula, umat Islam diharap-kan menuntut ilmu Islam secara be-nar dan utuh, serta tetap menunjuk-kan sikap kritis terhadap usaha-usa-ha penyebaran propaganda anti-Is-lam dengan berpegang teguh pada nilai-nilai mulia Islam yang rahma-tan lil ‘alamin. Kita semua menyadari bahwa dakwah yang paling efektif ada-lah da’wah sebagaimana dicontoh-kan oleh junjungan kita yang mulia, Nabi Muhammad saw.

red.ummatie